Chapter 1 : I will punish you. So, behave..
Jongin memutuskan untuk tidak mengikuti seluruh pelajaran yang ada setelah istirahat. Ia bersembunyi di ruang rapat OSIS yang akhir-akhir ini jarang digunakan karena anggota OSIS yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Jongin sengaja menghindari teman-teman sekelompoknya tanpa alasan yang jelas. Namun, meski begitu ia menyalahkan Sehun yang membuatnya merasa aneh seperti ini.
Jongin duduk di pojokan ruangan dekat jendela yang terbuka lebar. Ia meniupkan asap rokok yang kemudian menyebar di sekitarnya. Jongin tidak tahu apa yang Sehun inginkan darinya. Jujur saja, permainan bajingan itu benar-benar licik kali ini. Mengapa ia tidak memukulnya saja jika ingin memperingatinya? Mengapa ia harus mencium dirinya yang jelas-jelas tidak tertarik kepada sesama jenis?
Apa dia pikir aku ini gay? Jongin mencebik jijik dengan pemikirannya sendiri. Seorang Kim Jongin tidak memiliki tampang gay sama sekali. Selain itu, apa reputasinya sebagai seorang playboy tidak memperjelas orientasi seksualnya?
Suara pintu yang dibuka dan langkah kaki seseorang membuat Jongin nyaris melonjak kaget. Ia tidak takut dengan siapa orang yang akan menegurnya atau mengusirnya keluar. Hal semacam itu bukan masalah besar baginya sekalipun guru lah yang menendang dirinya keluar dari ruangan ini. Namun, yang membuat dirinya merasa sedikit cemas adalah jika orang yang datang masuk ke dalam ruangan itu ternyata Oh Sehun.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat mengarah kepada dirinya. Jongin yang duduk di lantai bersandar pada tembok hanya terdiam dengan sepuntung rokok diapit oleh dua jarinya. Matanya tertuju pada sepasang sepatu yang berdiri di belakang meja yang menghalangi dirinya. Orang itu mungkin dapat melihatnya sekarang. Namun, sampai beberapa detik berlalu orang itu tidak kunjung menegur dirinya.
Jongin memberanikan dirinya untuk mengangkat kepala dan melihat siapa orang itu. Matanya langsung membulat saat melihat seringai dibibir orang itu. Tepat seperti dugaannya, seorang Oh Sehun, bajingan yang tadi menciumnya dan membuatnya duduk di atas pangkuannya, berdiri dengan congkak menatapnya rendah.
"Sudah kuduga, kau bolos lagi." Gumam Sehun. Seringai masih merekah dibibir Sehun membuat Jongin ingin menjejalkan ujung puntung rokok ditangannya ke bibir cowok itu.
Jongin hanya terdiam enggan untuk meladeninya. Ia kembali meniupkan asap rokok sengaja memancing amarah Sehun. Kening Sehun mengerut. Seringai dibibirnya hilang digantikan oleh ekspresi dingin diwajahnya. Jongin berusaha mengacuhkan perubahan pada cowok itu. "Jangan merokok di sini. Atau merokok dimana pun." Larangnya lebih terdengar seperti perintah yang memaksa untuk dilakukan. Kali ini, giliran kening Jongin yang mengerut.
"Urusi urusanmu sendiri. Aku tidak akan berhenti merokok hanya karena larangan bodohmu." Cibir Jongin. Kemudian, ia bangkit berdiri dan kembali sengaja meniupkan asap rokok. Kali ini, ia meniupkannya tepat di depan wajah Sehun. Sehun memejamkan matanya saat asap rokok menyerang wajahnya. Jongin menarik seringai menganggap dirinya telah menang.
Saat Sehun membuka matanya, tangan cowok itu langsung mencengkram kedua tangan Jongin dan menariknya mendekat. Jongin yang kaget hanya terdiam bingung lalu memasang wajah 'what-the-fuck-man?'. Sehun tidak menghiraukan ekspresi kagetnya dan hanya menatap cowok itu tajam. "Aku tidak ingin melukaimu. Tapi, jika kau terus membangkang. Aku tidak merasa keberatan untuk menampar bokongmu dengan penggaris kayu sebagai hukuman pertamamu." Meja yang membatasi jarak di antara mereka bahkan terasa seperti tidak ada. Wajah Sehun dengan Jongin begitu dekat hingga Jongin dapat mengetahui apa warna mata cowok itu.
Sehun melepaskan cengkramannya pada tangan Jongin. Lalu, ia mengambil puntung rokok dijari cowok itu dan membuangnya keluar jendela. Jongin hanya terdiam masih tidak mengerti akan apa yang baru saja terjadi. Cowok ini benar-benar gila, pikir Jongin.
"Kau gay?"
Diluar dugaan Jongin, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya. Sehun balik menatapnya dengan tatapan yang tidak setajam sebelumnya. Aura aneh yang tadi sempat menguasai cowok itu tampak meluntur. Sehun terlihat.. normal kembali? Jongin menggelengkan kepalanya, mengutuki kebodohan dirinya dan juga pemikirannya sendiri.
"Aku tidak memiliki label untuk orientasiku. Aku menyukai wanita dan juga pria.. selama mereka mau berada di bawah kontrolku." Jawab Sehun membuat Jongin semakin tidak mengerti. Jongin tampak semakin kebingungan dan jujur saja, Sehun menikmati ekspresi bodoh cowok itu. "Kau tidak ingin menonjokku setelah apa yang kukatakan barusan?" Lanjut Sehun.
Jongin berhenti memikirkan jawaban aneh cowok itu lalu beralih menatapnya. Ia menatap Sehun cukup lama dan semakin membuat Sehun merasa sulit untuk menahan kedutan dibibirnya. Tidak dirinya sangka, akan semudah ini 'mematahkan' seorang Kim Jongin.
"Ah, yah, kau benar. Seharusnya, aku memukulmu." Gumam Jongin pelan.
Sehun kembali menarik seringai dibibirnya. Ia yakin Jongin tidak akan meninju wajahnya.
Namun, diluar perkiraannya ketika ia sedang lengah. Jongin langsung kembali memberikan tinjuan ke arah wajahnya dan kali ini berhasil membuat hidungnya mengeluarkan darah. And damn, tinjuan cowok itu lebih keras daripada sebelumnya. Sehun berusaha menahan keseimbangan tubuhnya karena tidak ingin terjatuh dan semakin mempermalukan dirinya.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Jongin berjalan cepat keluar dari ruangan osis dan sengaja membanting pintu sekeras mungkin.
Di dalam pikirannya, ia sudah menyusun bagaimana cara untuk menjatuhkan bajingan yang diam-diam memiliki potensi sebagai rapist itu.
Jongin berjalan menuju parkiran sekolah. Ia memutuskan untuk mengunjungi salah satu sahabat terbaiknya yang ia percaya dapat membantunya menjatuhkan Oh Sehun. Jongin naik ke atas motornya, memakai helm hitam miliknya lalu menyalakan mesin. Beberapa detik kemudian, motor sport-nya sudah melintas keluar dari area sekolah. Satpam yang bertugas di gerbang sekolah bahkan tidak menegurnya karena teguran pun tampaknya sia-sia untuk bocah satu itu.
.
.
Sehun tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba tertarik untuk menghancurkan 'pertahanan' seorang Kim Jongin.. atau bahkan mempertimbangkannya sebagai pengganti Luhan.
Sehun berjalan menyusuri lorong sekolah menuju ruang OSIS yang tidak jauh dari ruangan rapat. Ia membuka pintu ruangan dan seperti dugaannya ada beberapa anggota OSIS yang membolos di dalam sana. Tawa mereka langsung mereda ketika melihat siapa yang menutup pintu ruangan. Mereka langsung membeku dan terlihat benar-benar gugup saat Sehun berjalan melewati mereka menuju mejanya di pojok ruangan.
Sehun malas menegur mereka semua dan lebih memilih untuk memikirkan masalahnya sendiri. Ia tidak boleh menginginkan Jongin. Ada beribu alasan mengapa ia tidak boleh mendekatinya. Namun, sisi dominant-nya membuat seluruh alasan itu tampak seperti lelucon. Sehun memijat pelipis matanya sambil memejamkan mata. Ia merasa lelah hanya dengan memikirkan bibir Jongin yang mungkin akan terasa nikmat jika berada di ujung-
"Sehun."
Sehun langsung membuka matanya, membuyarkan segala macam imajinasinya tentang Jongin. Seorang gadis bernama Jinah berdiri di hadapannya tampak "cemas" melihat kondisinya. Gadis itu duduk di ujung meja Sehun membuat Sehun dapat melihat jelas bentuk dadanya serta paha mulusnya. Gadis itu pasti sengaja menampilkan tubuhnya di hadapan Sehun. Sehun mulai memikirkan mengapa gadis murahan ini bisa masuk ke dalam organisasi elit seperti OSIS. "Are you okay?" Tanyanya sambil mengelus pipi Sehun.
"Ya, aku baik-baik saja." Sehun memalingkan wajahnya berusaha menghindari tangan gadis itu.
Selama Sehun bersekolah di sini, tidak ada satu pun rumor yang beredar tentang kedekatan dirinya dengan seseorang. Sehun selalu digambarkan sebagai sosok pendiam yang diidamkan seluruh siswi dan bahkan siswa. Mereka menganggap Sehun adalah sosok yang sempurna yang mereka pikir tidak memiliki cela sedikit pun.
Namun, pada kenyataannya.. Sehun jauh dari kata sempurna. Ia suka melihat seseorang terluka. Ia suka memerintah seseorang dan mengendalikannya. Ia jauh dari kesempurnaan dan hanya dirinya yang mengetahui itu.
"Jauhkan tanganmu dariku." Titah Sehun membuat gadis itu langsung menarik tangannya. Sehun melirik dirinya dengan tatapan tajam yang berhasil membuat gadis itu beranjak dari posisinya. Tanpa bicara sepatah kata pun, gadis itu berjalan menjauh darinya hingga bahkan keluar dari ruangan.
Mungkin, gadis itu berlari menuju toilet untuk menangisi dirinya. Sehun memutar matanya. Masa bodoh, sesungguhnya ia sama sekali tidak perduli.
Sehun membuka lembar kerjanya dan mulai mengecek susunan acara maupun pengeluaran OSIS bulan ini. Beberapa anggota OSIS yang melihat kejadian barusan melirik dirinya penasaran, namun tidak satu pun dari mereka yang berani menanyakan apa yang berada di dalam pikiran mereka kepada Sehun. Sehun mengerjakan tugasnya dengan serius. Ia tidak main-main dalam mengerjakan sesuatu. Ia selalu menaruh seluruh fokusnya kepada satu objek maupun subjek yang "dimainkannya".
Dan kali ini, seluruh fokusnya hanya tertuju kepada Jongin – calon yang sempurna untuk dijadikan mainan baru olehnya.
.
.
Jongin melempar dirinya ke atas ranjang Chanyeol. Sementara, temannya itu tampak masih asyik memainkan game Outlast di komputernya. Hari ini Chanyeol kembali menambah jumlah absensinya dengan alasan ia bangun kesiangan. Sejauh ini, itu adalah alasan terjujur dan paling masuk akal yang pernah Jongin dengar dari mulut Chanyeol.
"Hei, Chanyeol." Panggil Jongin pelan.
"Apa?" Mata Chanyeol masih terpaut pada layar komputer. Jemarinya tidak berhenti bermain di atas keyboard dan sesekali berada di atas mouse komputer.
"Aku ingin besok kita semua berkumpul di halaman belakang sekolah."
"Untuk apa?"
"Aku ingin kalian semua membantuku menghajar Oh Sehun." Mendengar jawaban Jongin itu, Chanyeol langsung berhenti menggerakkan mouse-nya. Ia menghentikan game tersebut lalu berbalik menghadap Jongin dengan wajah bingung. "Kau ada masalah apa dengan Sehun?" Tanyanya penasaran.
Aneh. Tiba-tiba saja, Jongin ingin menghajar Oh Sehun tanpa berpikir apa konsekuensi yang akan didapatnya jika Sehun melapor kepada kepala sekolah atau ada seseorang yang memergoki mereka. Chanyeol tahu kalau Jongin tidak pernah menyukai Oh Sehun. Karena dirinya sendiri pun kurang begitu menyukai cowok sok cool dan misterius itu. Chanyeol merasa tersaingi setiap Sehun berada di sekitarnya. Mendadak, Chanyeol merasa dirinya tidak jauh berbeda dengan nerd yang tidak pernah dipandang oleh para gadis di sekolahnya.
"Bukan urusanmu." Jawab Jongin sedikit ketus. There's must be something wrong, duga Chanyeol dalam hati. Jongin tidak sebodoh yang orang lain perkirakan. Cowok itu adalah pemikir yang kritis dan juga skeptis. Ia selalu memikirkan setiap konsekuensi yang akan ditanggungnya nanti sebelum melakukan sesuatu.
Jika saja Jongin mau menggunakan otaknya, mungkin ia bisa mendapat peringkat di kelas dan masuk ke dalam organisasi elit macam OSIS.
"Oke. Kalau kau tidak ingin memberitahuku, aku pun akan mencoba untuk tidak perduli."
Ketika Chanyeol hendak melanjutkan permainannya, Jongin langsung membuka mulut membuat tangannya membeku di atas mouse komputer. "Sehun menciumku hari ini."
Chanyeol langsung berbalik menghadap dirinya dan mulutnya menganga lebar. "WHAT?! WHAT THE FUCK, MAN? Kau pasti bercanda!"
"Brengsek! Mana mungkin aku bercanda? Seandainya ini adalah sebuah candaan, aku juga tidak akan pernah menggunakannya. Kau tahu kan kalau aku masih menyukai dada besar milik Hyuna." Protes Jongin. Kini, cowok itu bangun dan duduk di atas ranjang Chanyeol. Ia memelototi Chanyeol membuat cowok tertawa canggung.
"Hehe, sorry man. Habisnya, tidak mungkin Sehun itu gay! Setahuku, cowok gay itu gayanya tidak seperti Sehun. Maksudku, kau tahu lah mereka seperti apa." Chanyeol terlihat begitu canggung melebihi tawanya barusan. Cowok itu memainkan matanya memutarnya ke kiri dan kanan.
"Aku juga tidak tahu. Tapi, intinya dia menciumku dan aku ingin memberikan pelajaran kepadanya!"
"Tapi, kalau kita menghajarnya besok. Kau sudah tahu apa konsekuensinya, kan? Sebaiknya, kita mencari cara lain untuk menghancurkannya." Sanggah Chanyeol mendapat anggukkan dari Jongin. "Kau bisa menggunakan cerita gay-mu itu untuk menghancurkan reputasi Sehun."
Jongin mendengus keras mendengar saran Chanyeol. Cerita gay-mu?! "Aku bukan gay." Jongin mendelik tajam ke arahnya. Chanyeol nyengir sambil mengangkat dua jarinya tanda ia hanya bercanda. "Tapi, siapa yang mau memercayaiku? Semua orang di sekolah menganggap Sehun itu seperti dewa mereka yang begitu suci dan tidak bercela." Jongin ingin muntah saat menyebut Sehun yang selama ini dianggap suci dan selalu benar. Tsk, apanya yang suci dan selalu benar? Cowok itu benar-benar mesum dan memiliki potensi besar untuk menjadi seorang pemerkosa.
"Kalau begitu, kita harus memikirkan cara lain. Tapi, sebelumnya ayo kita makan dulu. Lapar nih!"
Jongin langsung melemparkan kotak tisiu yang entah mengapa berada di atas ranjang ke arah Chanyeol. Chanyeol langsung menghindar dari lemparan Jongin dan tertawa layaknya orang gila menuju pintu kamarnya. "Kau mau ikut makan, tidak?" Tawar Chanyeol. Cowok itu menyembulkan setengah badannya sebelum menutup pintu.
"Nanti, aku akan menyusul."
Chanyeol mengangguk lalu menutup pintu. Selang beberapa detik, ponsel Jongin berbunyi dan nomor tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Jongin segera membuka pesan itu tanpa ada rasa curiga.
Kau jadi tidak datang ke rumahku malam ini? – Hani.
Jongin terdiam cukup lama. Ia mulai menimbang-nimbang keuntungan serta kerugian yang didapatnya jika ia menuruti ajakan Hani itu. Keuntungannya, ia akan berhubungan seks dengan salah satu cewek paling hot di sekolah. Kerugiannya, bisa saja ia bertemu Sehun dan bajingan itu akan melakukan hal yang lebih aneh lagi kepadanya. Jongin memikirkan pilihannya untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, dia mengetikkan balasan untuk Hani.
Sehun ada di rumah?
Lima detik kemudian, Jongin menerima balasan dari Hani.
Malam ini, dia ada urusan dengan temannya. Entahlah siapa, bukan urusanmu dan aku. Soo, are you in? – Hani.
Senyuman langsung merekah dibibir Jongin. Tanpa ada rasa ragu di dalam dirinya, ia mengetik jawaban untuk ajakan Hani itu.
I'm in, Baby. I'm ready to be INside you.
.
.
Rin's note :
OMG! Sorry for late update.. aku sibuk banget sekolah! Beberapa minggu ini full ulangan, penelitian sosial, dan tugas-tugas lainnya. Nasib sekolah di sekolah beginian hehe
Anyways, Hani yang jadi adik Sehun itu bisa adalah EXID's Hani yang cantiknya yaampun gak ketulangan kekekk.. Sorry ya for short chap! Dijamin next week bakal lebih panjang and hotter than before deh
Buat fanfic lainnya, masih dalam proses nih.. aku harap bisa update soon karena aku juga ogah ngegantungin readersku
P.S If you want to ask anything just ask me on my askfm = ferineee #promo
