Update, 08 November 2016:

Disclaimers, isi dan peringatan sama seperti di chapter 1. 2,5k+ words, tidak termasuk notes. I don't own the cover image.

Pairing(s): HijiGin (Hijikata Toushirou/Sakata Gintoki). OkiKagu for next chapter.

Tambahan peringatan: Light Boys Love; a little bit violences; plot twist; death chara (hanya untuk OC/figuran). Jangan bilang saya tidak memperingatkan kalian. Tidak menerima apresiasi negatif atas semua hal yang sudah saya peringatkan.

Somehow, enjoy! :)


.

#

.


Chapter 2

Kodokan Dojo tampak ramai dengan suara-suara yang membaur jadi satu. Semua orang yang hadir untuk merayakan ulang tahun Shimura Tae memancarkan ekspresi senang. Berbeda dengan satu orang. Siapa lagi kalau bukan Sakata Gintoki yang alasan kedatangannya tidak bisa datang langsung ditolak mentah-mentah dengan senyuman manis Otae; yang kebanyakan orang sudah tahu dibalik senyuman itu tersimpan kekejaman.

Tak hanya sampai di situ. Gintoki harus rela berhutang hanya untuk membeli kado ulang tahun untuk gadis ber-ponytail itu.

"Gin-san, jangan lupa datang ke rumah dengan sapu tangan bermerek Bitch sebagai kado ulang tahunku, ya?"

Kalimat yang diucapkan dengan nada manis tapi penuh ancaman dan satu kepalan tangan yang teracung itu berhasil membuat Gintoki membeku. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran. Jika diberi pilihan, Gintoki lebih memilih melawan ribuan Amanto* saat perang di masa lalunya ketimbang berhadapan one-on-one dengan saudari Shinpachi itu. Bayangkan saja, kekuatan tersembunyi gadis itu sanggup membuat lelaki mana pun babak belur hingga merengang nyawa. Anehnya, gadis yang bekerja sebagai hostess itu lumayan populer di kalangan laki-laki, bahkan sampai punya stalker pribadi bernama Kondou Isao.

"Otae-chan, otanjoubi omedetou*." Suara Yagyu Kyubei yang baru datang menarik atensi orang-orang di ruangan itu. Penerus klan Yagyu yang sejak kecil dibesarkan sebagai laki-laki dan punya perasaan terlarang pada Otae. Kado besar yang dibawanya diulurkan pada gadis yang disukainya.

Otae tersenyum tulus, "Arigatou*, Kyu-chan." Pelukan eratnya membuat pipi Kyubei merona dan diam-diam tersenyum persis seperti om-om mesum.

Pesta kecil-kecilan itu akhirnya dimulai. Otae, Kyubei, dan teman-teman gadis Otae terlihat seru membicarakan sesuatu. Shinpachi dan Kagura bersaing memakan kue terbanyak; keduanya beruntung karena dark matter buatan Otae sengaja ditiadakan khusus untuk hari ini saja. Gintoki menarik nafas panjang, sebelum meraih sepiring mochi* dan satu botol sake di atas meja; berusaha melupakan nasib sialnya hari ini dengan mabuk.

.

. .

Jam sebelas malam tepat. Gintoki memutuskan untuk pulang meski pesta itu belum selesai. Melihat kondisi Gintoki yang sudah mabuk, Shinpachi khawatir, dan meminta pria itu untuk menginap saja di rumah mereka.

"Hah~? Siapa yang kau bilang mabuk, Pattsuan~? Aku masih sanggup berjalan sendiri ke rumah~" Walau bibirnya berkata seperti itu, tapi dari jalannya yang oleng kiri-kanan saat menuju pintu, Shinpachi sudah bisa membayangkan Gintoki akan berakhir dengan tidur di dekat tempat sampah, di bawah jembatan, atau di tempat-tempat tak wajar yang lain.

"Baiklah, Gin-san." Shinpachi tak memaksa lagi, "Hati-hati di jalan." Satu tangannya melambai-lambai di udara, saat mengantar pria itu dari depan pintu utama rumahnya.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan memang, karena jalanan sudah lengang dengan kendaraan. Jadi, persentase Gintoki akan mengalami kecelakaan karena berjalan di tengah jalan sangat kecil. Tetapi jika masih ada pejalan kakinya yang melewati pria itu, pasti akan saling bertubrukkan.

Suara-suara anjing menggonggong terdengar bersahutan saat Gintoki melewati jalan yang tak ada pencahayaan dari tiang lampu jalanan. Beberapa meter sebelum mencapai perempatan jalan, sosok seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah timur sontak membuat langkah Gintoki berhenti. Kedua matanya menyipit. Ternyata sosok itu memakai seragam polisi Shinsengumi. Tapi yang membuatnya tampak aneh—

"Oi, oi, kenapa kau memakai Jack O'Lantern itu di atas kepalamu, hah~? Apa sekarang benda itu sedang tren di markas kalian~?" komentar Gintoki dengan nada jelas-jelas menyindir.

Tak ada respon. Emosi Gintoki langsung terpancing.

"Heh! Kau pikir aku akan takut padamu? Cepat copot Jack O'Lantern itu dari kepalamu!"

Lagi-lagi, tak ada respon. Gintoki mengeram, sebelum mendekat dengan langkah menghentak. Pedang kayu yang tersampir di pinggangnya ditarik. Tebasan secepat kilatnya membuat Jack O'Lantern itu akhirnya terlepas dari atas kepala. Namun ternyata—

BRUK!

Tubuh anggota Shinsengumi itu ambruk di jalan dengan kondisi tanpa kepala. Ternyata, Jack O'Lantern yang dipakainya itu sebagai pengganti kepalanya... yang memang sudah tak ada.

Wajah Gintoki seketika pucat pasi. Kondisi mabuknya mendadak hilang diganti oleh kesadaran penuh.

Tawa misterius tiba-tiba terdengar. Jack O'Lantern yang tergeletak di jalan berputar sendiri, menatap Gintoki dengan matanya yang merah menyala dan bibir menyeringai mengeluarkan darah.

"GYAAAAA...!"

Tanpa buang waktu, Gintoki berbalik dan berlari secepatnya dari tempat itu. Berdoa dalam hati agar ia tak diikuti. Jangan melihat ke belakang, jangan melihat ke belakang, jangan melihat ke belakang, bibirnya terus merapal tanpa jeda. Hingga di persimpangan jalan saat berpapasan dengan seseorang, Gintoki langsung melompat dan memeluknya dengan erat tanpa berpikir dua kali.

"Tatsukete kudasai*!"

"Oi, Teme!"

Seketika Gintoki mematung, saat mendengar suara berat menyebalkan yang sudah dihafalnya di luar kepala. Kedua lengannya yang memeluk leher mengendur. Dengan jarak yang hanya terpaut sejengkal jari, Gintoki bisa melihat wajah jengkel Hijikata Toushirou dengan bibir yang terselip rokok.

Gintoki mengerjap. "Ah, Oogushi-kun?"

"Siapa itu Oogushi-kun?!" Telapak tangan Hijikata langsung menjauhkan wajah Gintoki. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini, hah?"

"Aku berniat pulang ke rumah, kemudian tadi—" kalimat Gintoki urung tuntas, begitu kembali teringat kejadian mengerikan yang dialaminya beberapa saat yang lalu.

Hijikata yang pada dasarnya tidak mau berurusan dengan Gintoki—yang sudah dilabelnya sebagai 'Pembuat Masalah' itu—langsung berjalan pergi dengan cuek tanpa mendengar kelanjutan. Patrolinya malam ini baru saja selesai, dan ia berniat kembali ke markas untuk beristirahat.

"Chottomatte*!" Panik, sekaligus takut jikalau labu menyeramkan tadi akan mengikutinya, Gintoki buru-buru mengekori Hijikata. "Bisakah aku meminta bantuan? Antarkan aku sampai ke rumah."

"Hah?" Hijikata mendelik, "Kau pikir aku ini pengawalmu? Pulang saja sana sendiri!"

"Onegai*?" Kedua tangan Gintoki langsung mengatup di depan dada. Tatapan matanya yang biasanya seperti ikan mati bahkan sengaja dibuat memelas agar wakil komandan Shinsengumi itu mengabulkan permintaannya.

"Tidak." Penolakan tegas tanpa ada basa-basi.

Urat pertigaan muncul di pipi Gintoki dan berkedut-kedut. Habis sudah kesabarannya.

"Polisi macam apa kau? Ada warga sipil yang meminta bantuan tapi ditolak!"

"Asal kau tahu saja! Kami polisi khusus Shinsengumi bukanlah orang konyol yang melakukan segala pekerjaan sepertimu, Yorozuya!"

"Berani sekali kau menghina pekerjaanku, dasar maling pajak!"

"Pekerjaan anehmu memang layak untuk dihina!"

"Dasar anjing Bakufu* busuk!"

"Dasar keriting bodoh!"

Adu verbal yang setengah tarik urat itu terus berlangsung, hingga keduanya sampai di depan markas Shinsengumi. Gintoki baru tersadar kalau jaraknya ke rumah malah semakin jauh. Setetes keringat dingin meluncur jatuh dari dahi. Membayangkan labu menyeramkan itu bertemu dengannya lagi di jalanan pulang, apalagi sudah hampir tengah malam begini, Gintoki tak ada pilihan lain.

"Ano—Hijikata-kun, lupakan saja permintaanku tadi. Bolehkah aku menginap di markas kalian?" Nada suaranya berubah manis, karena memang ada maunya.

Satu alis Hijikata terangkat sarkatis, "Aku masih belum lupa kalau tadi kau menyebut kami ini maling pajak dan anjing Bakufu busuk. Jadi, pergilah!"

Gintoki membatu. Gawat. Apa dia berlutut saja agar bisa diizinkan menginap?

"Oh, Danna*. Apa yang kau lakukan di sini?"

Pria bersurai perak itu nyaris menangis bahagia melihat Okita Sougo yang berjalan menuju markas. "Okita-kun~!" Pupil crimson berbinar-binar melihat sosok penyelamatnya. "Bisakah aku meminta bantuanmu? Tolong antarkan aku sampai ke rumah."

Kedua alis Okita sontak terangkat. "Kenapa Danna tidak menginap saja di markas kami? Aku lelah karena sejak sore tadi berpatroli."

Hijikata mendengus. Padahal jelas-jelas kerjaan kapten divisi satu itu hanya tidur, saat ia tak sengaja menemukannya terlentang di kursi taman.

"Sou ka*...," Gintoki lagi-lagi tak ada pilihan, "baiklah, kalau begitu aku menginap dan pulang besok pagi."

"Ayo masuk, Danna. Jangan sungkan," ajak Okita sambil berjalan lebih dulu.

Gintoki mengangguk, setelah sebelumnya ia memeletkan lidah ke arah Hijikata untuk mengejek.

Wakil komandan Shinsengumi itu melotot dan baru melangkah masuk, setelah duo sadis itu sudah hilang dari pandangannya.

.

. .

"Apa? Danna melihat salah satu anggota Shinsengumi memakai Jack O'Lantern di atas kepalanya?"

Gintoki mengangguk-angguk. Terpaksa ia menceritakan kejadian di jalan tadi pada kapten muda di depannya sebagai alasan kenapa ia takut pulang ke rumah sendiri, dan lebih memilih menginap.

Kekehan geli meluncur dari bibir Okita. "Sebenarnya, Danna, beberapa hari terakhir ini di markas kami juga mengalami bencana. Satu per satu anggota dari divisi tiga tewas terbunuh dengan kepala yang hilang dari tempat kejadian perkara." Tumpukkan foto di atas meja kerjanya diambil untuk ditunjukkan pada pria bersurai perak yang duduk bersila di sampingnya. "Lihat, Danna. Ini foto-foto mereka yang sudah tewas. Anehnya, di samping mayat mereka selalu ada Jack O'Lantern. Kami masih menyelidiki siapa pembunuhnya."

Wajah Gintoki memucat. Rasa mualnya mendadak naik ke pangkal tenggorokan. Buru-buru ia berlari ke luar kamar Okita dan mengeluarkan isi perutnya. Penyebab ia muntah sebagian karena melihat foto-foto berdarah itu, dan sebagian besarnya karena sake yang ditelannya tadi di rumah Otae.

"Danna, daijoubu desuka*?" tanya Okita, sembari mengurut punggung pria bersurai perak itu.

Gintoki menggeleng, wajahnya masih sedikit pucat. "Boleh aku minta air putih?" Tenggorokannya terasa kering setelah muntah.

"Matte, akan kuambil di dapur."

Sepeninggal kapten divisi satu itu, Gintoki menyandarkan punggungnya di dinding terdekat. Kedua matanya terpejam. Keheningan yang mendominasi membuat kedua telinganya bisa mendengar langkah kaki berat yang berjalan mendekat. Mungkin itu Okita, pikirnya sambil membuka mata. Tetapi ternyata, dari pintu geser yang terbuka sedikit, sosok misterius bermata merah yang berdiri di luar tampak mengintip.

Sesaat jantung Gintoki nyaris berhenti. Nafasnya tersangkut di tenggorokan. Sekujur tubuhnya mendadak gemetar ketakutan. Itu jelas bukan Okita. Otaknya memperingatkan agar segera lari.

"GYAAAAA...!" Keluar dari pintu geser lewat arah yang lain, Gintoki langsung berlari terbirit-birit sambil menjerit ketakutan. Tak ada seorang pun di koridor yang dilewatinya, karena memang semua anggota Shinsengumi sudah terlelap.

Tanpa sadar kedua kaki Gintoki berlari menuju kamar Hijikata. Pintu geser dibuka tanpa izin dari si pemilik kamar. Melihat wakil komandan itu sudah tidur di bawah selimut tebal, Gintoki menerjang tiba-tiba.

"HIJIKATA-KUN!"

Mimpi indah Hijikata yang sedang berenang di lautan mayones mendadak lenyap saat ia terjaga. Melihat Gintoki yang duduk di atas perutnya, wakil komandan Shinsengumi itu langsung menarik kerah depannya dan melemparnya ke samping.

"Apa yang kau lakukan, Teme?! Apa kau tidak lihat aku sudah tidur?" Urat-urat bermunculan di matanya yang melotot tajam.

"Hijikata-kun..." Gintoki merangkak mendekat seperti kucing yang tak ingin dibuang oleh majikannya. "Kumohon biarkan aku tidur di sampingmu."

"Jangan harap! Tidur sana di kamar Sougo!"

"Hidoi*! Aku tidak mau tidur di kamarnya setelah melihat sosok menyeramkan!"

"Itu pasti hanya imajinasimu, karena kau mabuk!"

"Aku sudah tidak mabuk!"

Hijikata tak peduli, dan kembali menarik selimutnya untuk tidur. Tanpa diduga, Gintoki menyusup ke dalam selimut. Alhasil, keduanya jadi saling adu gulat.

"Teme, mau sampai kapan kau mengganggu tidurku?!"

"Aku tidak akan mengganggu. Cukup biarkan aku tidur di sebelahmu!"

Siulan panjang tiba-tiba terdengar dari arah pintu. Hijikata dan Gintoki menoleh bersamaan. Ternyata yang bersiul itu Okita. Tunggu, sejak kapan dia berdiri di situ?

"Danna, Hijikata-san, jangan buat mata suciku jadi ternodai dengan adegan homo kalian."

Posisi kedua pria itu memang bisa membuat orang lain salah paham. Di mana Hijikata terlihat menindih Gintoki dengan kedua tangan di samping kepala. Wakil komandan Shinsengumi itu kembali menoleh ke arah pria bersurai perak yang ada di bawahnya. Keduanya saling pandang.

Satu, dua, ti—

BUK!

Pipi kiri Gintoki ditonjok tiba-tiba, hingga pria itu terguling-guling menjauh dari atas futon*.

"Domestic violence!" Gintoki meraung sambil memegang bekas pukulan di pipinya.

Hijikata mendengus, tangannya yang masih terkepal teracung ke arah si korban pemukulan. "Apa kau mau kuberi bonus lagi, hah?"

Dengan lebay, Gintoki menopang satu tangannya di dinding terdekat sambil menyeka air matanya dengan sapu tangan—yang entah didapatnya dari mana. "Aku tuh tidak bisa diginiin~"

Okita sontak membekap mulutnya dengan satu tangan, mati-matian menahan tawanya melihat opera sabun murahan yang sedang diperankan oleh Gintoki dan Hijikata.

"Oi, Teme..." urat pertigaan di pipi Hijikata berkedut-kedut, waktu tidurnya jadi terbuang sia-sia karena si keriting perak itu. "Cepat pergi dari kamarku, sebelum tulang-tulangmu kupatahkan dan kuberikan pada anjing liar di luar sana."

Melihat keterdiaman Gintoki, terpaksa Hijikata memilih alternatif lain. Kerah belakang baju pria bersurai perak itu ditarik, kemudian diseretnya keluar dari kamar. Kedua telinganya sengaja ditulikan saat Gintoki kembali memohon-mohon agar bisa tidur bersama. Setelah melemparnya keluar, pintu geser kembali ditutup dari dalam dengan kasar.

.

. .

Sepanjang malam, Gintoki tidak bisa memejamkan matanya karena terpaksa tidur di kamar Okita. Kedua matanya terus mengawasi pintu geser yang terhubung dengan koridor luar, takut jika ia tertidur, makhluk menyeramkan itu tiba-tiba sudah di sampingnya. Hingga menjelang pagi, saat Okita akhirnya terbangun, Gintoki baru bisa memejamkan matanya.

"Biarkan aku tidur beberapa jam, karena semalam aku mengalami insomnia," kata Gintoki setengah bohong, sebelum ia terlelap.

Okita akhirnya membiarkan Gintoki tidur di kamarnya dan mulai melakukan rutinitas paginya. Setelah membasuh muka dan menggosok gigi, pakaian tidurnya diganti dengan seragam kerja. Dengan mulut menguap, kedua kakinya melangkah ke ruang pertemuan untuk rapat pagi.

Kondou, selaku komandan Shinsengumi tak kelihatan batang hidungnya di rapat pagi. Sejak dua hari yang lalu dia memang sedang pergi ke kampung halaman, katanya untuk mengurus sesuatu. Makanya Hijikata yang mendapat wewenang penuh untuk mengontrol anggota-anggota Shinsengumi.

Satu per satu kapten dari setiap divisi berdatangan ke ruang pertemuan. Hijikata sudah ada di ruangan itu paling pertama dan terlihat sedang sibuk membaca beberapa laporan dari Yamazaki.

"Ohayou*," sapa Okita saat melewati pintu dan langsung menuju meja dan tempat duduknya. "Harada-san, apa flumu masih belum sembuh?" tanyanya dengan satu alis terangkat.

Kapten dari divisi sepuluh yang berkepala botak itu mengangguk tanpa suara. Masker yang menutup mulut dan hidungnya memang belum dilepaskan sejak beberapa hari yang lalu. Tak lama kemudian, Shimaru Saito yang datang paling terakhir dan langsung menuju tempatnya.

Sepasang mata Okita menatap pria yang memiliki rambut afro berwarna oranye. Ada yang berbeda dengan kapten divisi tiga itu. Tapi sebelum bibir Okita terbuka untuk berkata, suara berat Hijikata terdengar memulai rapat.

.

. .

Rapat pagi itu akhirnya berakhir. Satu per satu ke luar dari ruang pertemuan, hingga menyisakan Hijikata, Okita, dan Shimaru.

"Shimaru nii-san," hengkang dari tempat duduknya, Okita berjalan mendekat ke arah pria yang dekat dengannya itu. "Saat kuperhatikan, ada yang berbeda darimu..."

Hijikata menoleh. Merasa tertarik mendengar pembicaraan yang hanya satu arah itu. Entah bagaimana Okita bisa tahu isi pikiran Shimaru, padahal pria itu hanya bisa berkata 'Z'. Shimaru memang pendiam dan misterius; dia hanya terbuka saat menulis di buku hariannya. Sampai sekarang belum ada yang berhasil membuat si afro oranye itu bicara panjang-lebar, kecuali Okita yang bisa mengerti; mungkin mereka bicara lewat telepati.

"Oya, jadi Shimaru nii-san tidak menyadarinya?" Tuh, kan. Okita hanya bicara tanpa ada balasan dari si afro. "Baiklah, akan kuberi tahu." Kapten muda itu membungkuk dan berkata, "Poni Shimaru nii-san sudah panjang, kenapa tidak digunting? Apa mau kutemani ke salon?"

Gubrak!

Hijikata jatuh dengan kepala lebih dulu dalam imajinatif. Apa-apaan itu?! Ternyata pembicaraan mereka tidak penting. Seperti gadis-gadis yang gemar bergosip.

Shimaru tiba-tiba berdiri. Pria dengan masker yang menutupi hampir sebagian wajahnya itu menatap Okita. Dari isyarat matanya kelihatannya ia memang butuh bantuan kapten divisi satu itu untuk menemaninya ke salon. Padahal lebih cepat kalau digunting sendiri. Tapi karena sudah lama hidup di kota, Shimaru juga ingin pergi ke salon untuk menata rambutnya seperti lelaki lain. Okita sebenarnya gemas dan ingin menyarankan pria afro itu agar mengunting rambutnya jadi model mohawk.

"Oi, matte, Sougo," cegat Hijikata, sebelum kedua pria itu meninggalkan ruang pertemuan. "Di mana laporanmu? Cepat kumpulkan sekarang."

"Ah, ada di dalam kamarku..." Okita berkata sambil berlalu, "Ambil saja sendiri." Suara meremehkannya sengaja memancing emosi Hijikata yang memang bertemperamen pendek.

"Matte, kora!"

Namun Okita tak mengacuhkan dan pergi bersama Shimaru. Hijikata mengeram tertahan. Terpaksa, ia bangkit berdiri dan menuju kamar Okita. Begitu melewati pertigaan koridor, Hijikata dikejutkan oleh sesosok mayat yang tergeletak di dinding. Lagi-lagi, mayat salah satu anggota Shinsengumi yang tanpa kepala. Dari darah segar yang masih terlihat di sekitar mayat, sepertinya belum lama dia dibunuh.

Kedua mata Hijikata menajam saat ia menangkap jejak kaki berdarah di koridor, yang ternyata mengarah pada kamar Okita. Begitu pintu geser dibuka, wajah Hijikata seketika mengeras. Pupil navy-nya mengecil. Pedang kayu yang bersimbah darah itu adalah alat bukti yang kuat.

"Jadi, kau pelaku pembunuhan di markas kami, Yorozuya?"

.

.

.


Bersambung...


Glosarium (hanya untuk kata-kata Bahasa Jepang di fanfiksi ini):

Amanto: Alien yang datang ke bumi (di cerita Gintama)

Otanjoubi omedetou: Selamat ulang tahun

Arigatou: Terima kasih

Mochi: kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat

Tatsukete kudasai: Selamatkan aku

Chottomatte: Tunggu sebentar

Onegai: Kumohon

Bakufu: pemerintahan boneka Amanto

Danna: Tuan; Pemilik toko/usaha

Sou ka: Begitu ya

Daijoubu desuka: Apa kau baik-baik saja

Hidoi: Kejam/Jahat

Futon: jenis perangkat tidur tradisional Jepang yang digelar di atas tatami. Satu set futon terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut.

Ohayou: Selamat pagi

(Btw, saya juga sudah menambahkan glosarium di chapter 1, ya. ^^)


Jeanne's notes:

Terima kasih bagi kalian yg sudah meninggalkan apresiasi (baik itu review, fave, follow) di chapter 1:

yukitsune89; Hijikata Rinki; ginraku; Kazeshi Rei-chan; dona. tan. 144; Akasuna Yuri Chan; Miss Royal.

Reviewer yg login sudah saya balas via PM. ^^


Untuk yg mengharapkan momen OkiKagu, maaf karena chapter ini belum ada. Nanti di chapter depan, ya. ^^

HijiGin juga sengaja saya buat sebatas Light BL.

Saya gagal membuat horor dan malah jatuh ke humor, kayaknya.

Untuk karakteristik, saya berusaha agar para karakter yg saya gunakan di fanfiksi ini tidak terlalu OOC dan masih in chara seperti di cerita aslinya.

Last...

Saya mau tanya bagi author mau pun reader yang sudah lama berada di fandom Gintama ini. Apakah di fandom ini ada semacam perayaan untuk 'HijiGin day / All*Gin day' khusus untuk Indonesia? Kalau ada, tolong sharing infonya di PM, ya. Terima kasih.

Oke. Sampai jumpa di chapter 3. :)