Chaos © SachiMalff

Disc : they belong to themselves

Warning : yaoi

.

.

.

.

3 April 2009—

"—oh, baiklah. Sampai ketemu di sana. Iya, aku juga mencintaimu." –dan telepon dimatikan.

Tak lama, sang empu bernama lengkap Kim Jongin itu kembali berkutat pada ponselnya, mengetikkan sebuah nomor telepon.

/"Baru sepuluh menit yang lalu kau menghubungiku. Ada apa lagi, Jongin-ah?"/

Jongin tertawa mendengar suara merdu itu lagi. "Apa aku mengganggu?"

/"Kalau aku bilang iya, apa itu bisa menghentikanmu untuk tak meneleponku sepuluh menit sekali?"/ jawab Kyungsoo jenaka.

Jongin menarik sudut bibirnya untuk mengulas senyum, kemudian melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. "Aku akan sampai di sana dalam lima menit. Kau ada di rumah bungamu, kan?"

Terdengar suara seperti Kyungsoo sedang berteriak dan memarahi seseorang, sebelum akhirnya ia kembali pada pembicaraannya dengan Jongin. /"Ah—iya. Kau bisa kesini."/

"Aku perlu membawa sesuatu? Mungkin cemilan untuk Luhan?" tawar Jongin.

Kyungsoo, di seberang telepon, tertawa nyaring. /"Dia sedang murung. Mungkin menunggu pangeran berkuda putihnya. Bisa kaubawakan Sehun?"/

Jongin mendengus mengetahui fakta bahwa sepasang manusia berjenis kelamin sama itu begitu menggelikan. "Sehun sedang ada pelatihan bisnis dengan pamannya."

/"Aku tahu. Aku hanya bercanda. Well—kau bisa bawakan beberapa snack untuk kami."/

Jongin mengangguk. "Baiklah. Aku akan segera kesana."

/"Bye, Jongin."/

Dan telepon dimatikan. Kali ini, dengan senyuman.

Lalu disinilah Jongin limabelas menit setelahnya. Berdiri dengan dua plastik putih penuh dengan camilan di depan rumah bunga Kyungsoo. Tak apa. Ia tak keberatan. Toh Kyungsoo yang menyuruhnya.

Sebelum ia mengetuk pintu, manik hazel-nya sudah menangkap sosok Kyungsoo yang berdiri di dalam sana, menghadap kearahnya di depan pintu. Senyum manis itu masih sama seperti pertama kali mereka bertemu, tak pernah gagal menjadi candu yang adiktif bagi Jongin untuk ikut tersenyum.

"Masuklah," kata Kyungsoo sesaat setelah ia membuka pintu itu. Jongin tersenyum sambil menggumamkan terimakasih, lalu mengekor Kyungsoo yang berjalan masuk. Jongin banyak membuang senyumnya setelah ia mengenal Kyungsoo, memang.

"Perlu kubantu membawakannya? Itu terlihat kebanyakan."

"Tak usah," jawab Jongin. Lalu mereka berdua bertatapan sambil saling melempar senyum, hingga akhirnya Kyungsoo duluan yang membuang pandang. Malu-malu seperti biasa. Dan Jongin tak bisa menahan tawa kecilnya.

Mereka berjalan berdampingan di antara tatanan pot yang berjajar di atas dan bawah, menciptakan harmoni tersendiri ketika tubuh mereka berdua melewati bunga-bunga yang memang sedang mekar. Hawa sejuk terasa karena memang itu adalah rumah bunga. Kyungsoo sengaja menghabiskan jutaan hanya untuk membuatnya dan mengatur suhu agar sesuai dengan bunga-bunganya.

Jongin serasa berada di tempat terindah di hidupnya.

Dan mereka sampai pada sebuah ruangan di mana di dalamnya penuh dengan bunga yang mekar alami di tanah yang terselimuti rumput-rumput yang terpangkas rapi, yang tentu saja sudah Jongin hapal karena ia memang sering kesini. Jongin mengernyit tajam ketika ia melihat beberapa orang sedang bercanda di atas rumput saat ia menatap lewat pintu kaca di sana. Yang ia tahu hanya Luhan. Selebihnya, orang-orang yang tak ia kenal.

Menyadari keheranan yang tampak jelas di wajah Jongin, Kyungsoo lalu berbisik pelan. "Teman-temanku."

Jongin menoleh sebentar kearah Kyungsoo di samping kanannya, kemudian nyengir seperti biasa.

Tangan mungil Kyungsoo terulur untuk membuka pintu di depannya.

Dan keduanya masuk kedalam beriringan. Dengan Jongin di belakang sembari membawa dua plastik besar berisi makanan.

Semua teman Kyungsoo menoleh ketika Kyungsoo menyapa. Dan ketika Jongin berhenti di sisi Kyungsoo, semua pandangan teralih padanya.

Kyungsoo menarik ujung kaos Jongin dan menyeretnya untuk berkumpul bersama yang lain yang sedang duduk-duduk di atas rumput.

Ketika Jongin dan Kyungsoo membaur, satu persatu teman Kyungsoo berkerumun untuk mengajaknya berkenalan.

Yang Jongin tahu, di sana ada teman-teman Kyungsoo bernama Jongdae, Baekhyun, Chanyeol, Minseok, Junmyeon, Yixing, Tao, dan Kris. Ia bisa mengingat mereka dalam sekejap karena tampilan mereka yang begitu berbeda.

Jongdae dengan senyum lebar dan wajah kotak, mewarnai rambutnya dengan warna cokelat karamel. Baekhyun yang paling berisik, menjabat tangan Jongin dengan menggoyang-goyangkannya keras, mempunyai wajah seperti anak SMP, mewarnai rambutnya dengan warna magenta. Chanyeol, pemuda tinggi besar dengan senyum lima jari dan mata bersinar-sinar, dengan rambut merah bata cerah. Lalu Minseok adalah yang paling pendiam. Wajahnya bahkan sebelas duabelas dengan Kyungsoo, imut seperti bayi. Fakta terbaru adalah Jongdae sepertinya terlihat menyukainya. Junmyeon yang paling rapi. Ia mengenakan kaus polo dan celana dari bahan katun, terlihat seperti orang normal di antara lainnya. Yixing adalah teman Kyungsoo dari China, merupakan teman SMA Luhan, dengan dimple dalam di kedua pipi. Ia terlihat begitu dekat dengan Junmyeon. Mereka bahkan tak begitu menghiraukan kehadiran Jongin, dan langsung kembali ke dunia mereka sendiri dengan buku di atas rumput. Lalu Tao adalah pemuda dengan lingkar mata yang tercetak jelas, mewarnai rambutnya dengan pirang mentereng. Sedangkan Kris—Kyungsoo bilang ia dan Tao adalah sepasang kekasih, sama seperti Luhan dan Sehun—adalah pemuda tinggi dengan alis tebal. Wajahnya sekilas terlihat dingin dan menyeramkan, namun ketika melihat Tao, sinar di matanya berubah menjadi kehangatan tak terperi. Lalu Luhan sedang mengamati bunga daffodil di ujung sana, dekat kumpulan mawar putih. Ia terlihat mengacuhkan Jongin.

Baekhyun sibuk membongkar isi plastik yang dibawa Jongin bersama dengan Tao dan Chen. Sedangkan Chanyeol berusaha menggeret tangan Luhan untuk ikut berkumpul. Kyungsoo pergi membuat minuman untuk mereka semua beberapa menit yang lalu, diikuti Minseok dan Yixing. Sedangkan Junmyeon dan Krisberkutat dengan ponsel mereka di sisi lain ruangan.

Jongin tertawa melihat bagaimana Baekhyun dan Chen membuka camilan-camilan yang ia bawa, sementara Tao hanya melihat dengan ekspresi sedih. Ia bilang, "Kris ge melarangku makan camilan berperisa tinggi."

"Dia kan bukan suamimu," timpal Baekhyun, sibuk menjilati sisa bumbu di jarinya, menghiraukan tatapan memelas Tao.

"Tapi dia pacarku," jawab Tao pelan.

Baekhyun mengangkat bahunya. "Chanyeol juga pacarku, but he never gave a shit about that."

Jongin membelalakkan matanya lebar-lebar. "Kalian berpacaran?"

Baekhyun mendelik tak suka pada Jongin. "Yeah. Kenapa? Kau homophobic?"

Pemuda Kim itu terlihat menggeleng pelan. "Tidak."

"Tentu saja. Bukankah Jongin terlihat menyukai Kyungsoo?" timpal Luhan yang baru saja berhasil digeret oleh Chanyeol untuk bergabung.

Jongin menyipit berbahaya kearahnya. "Bukan begitu. Sehun dan Luhan temanku. Dan aku tak pernah mempermasalahkannya. Hanya saja, kau dan Chanyeol tak sedekat Kris dan Tao."

Baekhyun melirik Chanyeol dan mereka tertawa berdua.

"Kami mencintai dengan cara kami sendiri. Berbeda dengan rusa ini dan si cadel yang selalu lovey dovey lalu akhirnya marahan," kata Chanyeol sambil tertawa bersama kekasihnya.

Luhan menatap tajam kearah Chanyeol, kemudian meninju perutnya. Namun itu tak menghentikan tawa si bocah besar. Jongin ikut tertawa mengingat bahwa apa yang dikatakan Chanyeol memang benar adanya.

"Dia benar, Luhan. Dia seratus persen benar," kata Jongin.

Luhan memutar bola matanya bosan. "Mati kau, Jongin. Kudoakan Kyungsoo tak mencintaimu balik."

"Kyungsoo tak mencintai siapa?"

Semua yang berkumpul di sana menoleh kearah pintu masuk. Di sana mereka mendapati Kyungsoo, Minseok dan Yixing telah datang dengan tiga baki dengan beberapa gelas berisi kopi.

Jongdae buru-buru bangkit dan berniat membantu Minseok, dan itu membuat duo Chanyeol-Baekhyun mendengus mencela.

"Dia sering melakukan pendekatan, namun belum juga berhasil," bisik Baekhyun pada Jongin.

"Aku mendengarmu, Byun." Jongdae mendelik tajam pada Baekhyun dengan baki di kedua tangannya.

Junmyeon dan Kris bergabung bersama mereka. Kesebelas anak itu duduk bersama di tengah taman buatan Kyungsoo.

"Apa tadi kalian membicarakanku?" tanya Kyungsoo sambil menata cangkir-cangkir yang mereka bawa.

Baekhyun menahan tawa ketika Jongin melirik tajam kearah Luhan yang terlalu acuh.

"Tidak."

"Iya."

Jongin makin menyipit berbahaya ketika Luhan malah mengatakan iya.

Kyungsoo berhenti dari kegiatannya, kemudian memandang Jongin dna Luhan bergantian. "Siapa yang benar?"

"Aku."

"Aku."

Lagi-lagi Jongin menatap Luhan tajam. Dan baru saja Jongin ingin buka mulut, Tao malah duluan berbicara.

"Tadi Luhan hyung berdoa semoga Kyungsoo hyung tak balik mencintai Jongin hyung."

Hening.

Kris dan Junmyeon menatap Tao malas, sementara yang lain—kecuali Kyungsoo—menepuk jidat mereka masing-masing.

"Kris—pacarmu sungguh polos."

"Atau bodoh?" timpal Chen.

Kris menatap tajam Chen yang akhirnya melempar cengiran bodohnya, membuat Minseok disebelahnya memutar mata jengah.

"A-apa?"

Baekhyun mendesah malas. "Plis deh Kyung, reaksimu telat."

Jongin terlihat gugup, kemudian tanpa aba-aba dan tanpa memproses di dalam otaknya, ia kembali buka suara. "Luhan hanya bercanda, jangan dipikirkan."

Dan—apakah Jongin tak salah lihat? Sepertinya raut wajah Kyungsoo berubah menjadi sendu. Oh, mungkin Jongin cuma behalusinasi.

Sejam mereka lalui dengan obrolan hangat. Sesekali, Baekhyun dan Chanyeol akan menggoda Tao, dan berakhir dengan Kris yang memarahi mereka setelah mendengar rengekan kekasihnya. Atau Chen yang selalu berusaha mendapat perhatian Minseok yang terlihat tak ingin merespon. Ada juga Luhan yang seperti ingin cepat-cepat berganti hari dan menemui Sehun kekasihnya. Junmyeon dan Yixing yang larut dalam obrolan pribadi mereka, dan Jongin serta Kyungsoo yang hanya diam memperhatikan.

Lambat laun mereka mulai tersedot dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Kyungsoo menemukan saat seperti ini untuk memeriksa berkeliling, menikmati anak-anaknya yang tumbuh mekar. Perlahan ia bangkit dari duduknya, dan itu membuat Jongin yang berada di sebelahnya terperanjat kaget.

Kyungsoo berjalan pelan mengitari ruangan itu, Jongin bergegas menyusulnya. Dan pergerakan Jongin membuat Kyungsoo menoleh kebelakang.

Mau karena tahu mengikuti lelaki satunya, Jongin menggaruk tengkuknya. "Boleh aku ikut?"

Kyungsoo tertawa, meninggalkan gejolak aneh dalam lambung Jongin. Pemuda mungil itu mengangguk sembari memberi isyarat pada Jongin untuk mengikutinya.

Kyungsoo berjalan ke sisi kanan ruangan, dan Jongin dengan setia mengekor. Tangan mungilnya terulur untuk menyentuh bunga anggrek yang merangkak naik ke udara, menentang gravitasi dengan keindahannya.

"Kau punya teman-teman yang mengagumkan."

Kyungsoo tersenyum tanpa menoleh dari bunganya, kemudian mengangguk pelan. "Mereka keluarga keduaku sejak orangtuaku meninggal."

"Apa mereka memang sering kesini?"

Kyungsoo lagi-lagi mengangguk. "Setiap kali mereka butuh hiburan, mereka akan kesini dan berkumpul seperti saat ini."

Jongin diam-diam mengagumi sosok Kyungsoo yang memang penuh dengan aura positif itu. Mungkin karena bunga-bunga yang ada di sana memberi kesan menentramkan, atau—karena Kyungsoo sendiri? Entah, Jongin saat ini tak mau tahu.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari kegiatan membersihkan kotoran di kelopak anggreknya. Ia mengernyit bingung pada Jongin, namun kemudian tersenyum dan mengangguk kecil.

Jongin pada awalnya ragu untuk menanyakannya, tapi ini adalah pertanyaan yang sudah sejak lama bergelanyut dalam pikiran dan benaknya. Maka, saat itu, ia berdehem kecil sebelum bertanya.

"Kau—kenapa kau mau melakukan ini semua?"

Kyungsoo cukup pintar untuk tahu apa maksud pertanyaan Jongin. Ia tersenyum kecil, kemudian beranjak dari sana ke sisi lain ruangan.

Ketika ia berjalan dan Jongin mengikuti di sampingnya, ia menjawab.

"Aku sudah pernah cerita, bukan, kalau aku bekerja sebagai pemasok bunga hidup, dan sesekali, aku melakukan eksperimen dengan bunga-bunga ini, seperti menciptakan warna baru perpaduan dari warna bunga lain?"

Jongin mengangguk. "Tapi—bukankah awalnya kau ingin menjadi guru?"

Kyungsoo tertawa kecil, lalu mengulum senyum. "Kau benar."

Jongin tak menyela, ia rasa Kyungsoo masih ingin lanjut berbicara.

"Aku memang awalnya bercita-cita menjadi guru taman kanak-kanak," jeda, "aku suka anak kecil."

"Kau memang berhati baik," sela Jongin.

Mata mereka bersirobok dalam diam, dan memunculkan senyum dari masing-masing bibir.

"Sejak aku kecil, bahkan sebelum orangtuaku meninggal saat aku berusia sepuluh tahun, aku selalu kesepian. Aku bahkan hanya punya beberapa teman. Baekhyun dan Luhan adalah teman masa kecilku," lanjut Kyungsoo sambil menatap Luhan yang sedang berbicara entah apa dengan Tao, dan Baekhyun yang sedang meniup-niup telinga Chanyeol yang kegelian. Hal itu membuat seulas senyum kembali mampir di wajah Kyungsoo.

"Luhan dan Baekhyun selalu datang kerumah untuk bermain bersamaku. Dan pada suatu saat, ketika kami beranjak dewasa. Saat itu kami duduk di bangku SMP. Aku dan Baekhyun mencintai seorang perempuan yang sama. Namanya Kaishio Hie Yuka. Gadis dengan aksen dan wajah Jepang, rambut kuncir dua, mata sipit dan hidung yang selalu mengerut saat tertawa. Yuka menyukai bunga. Ketika mengetahui hal tersebut, aku dan Baekhyun bersaing secara sehat untuk mendapatkan Yuka. Kami berusaha menanam bunga terbaik untuk diberikan padanya saat pesta dansa perpisahan sekolah."

Kyungsoo berhenti bicara, tangannya kembali terulur untuk membelai bunganya yang lain. Jongin mengikuti arah pandang Kyungsoo, kemudian merasakan kehangatan yang terpancar dari sosok di sebelahnya tersebut.

"Setiap hari, Baekhyun dan aku datang ke kebun belakang rumahku untuk merawat bunga kami. Saat itu Baekhyun menanam lily dan aku daffodil. Aku merawat bungaku hampir setiap saat. Menyayanginya seperti adik kecilku sendiri, karena memang aku anak tunggal, dan tak ada yang mau memperhatikanku sedari dulu. Aku menyayangi daffodil kecilku. Sampai pada suatu saat, bunga kami mekar sempurna. Lily putih Baekhyun mekar dengan anggun, begitupula dengan daffodil milikku."

Jongin masih memperhatikan, tak mau menyela kalimat Kyungsoo.

"Namun saking sayangnya aku dengan bungaku, aku enggan memetiknya. Dan hari perpisahan sekolah tiba. Aku tidak hadir karena aku tak punya teman kencan. Aku menangis bersama daffodilku di belakang rumah. Dan apa kau bisa menebak kelanjutannya?"

Kyungsoo menoleh pada Jongin, dan si pemuda Kim hanya menggeleng kecil.

Kyungsoo menatap lurus pada Baekhyun dan Chanyeol yang sedang bercanda. "Baekhyun datang kerumahku. Memelukku. Ia datang bersama Luhan. Baekhyun bilang ia tak jadi meminta Yuka untuk jadi kekasihnya, karena jika aku tak bahagia, maka Baekhyun dan Luhan juga takkan bahagia."

"Mereka terdengar begitu baik."

Kyungsoo mengangguk. "Baekhyun adalah jelmaan periwinkle."

"Peri—apa?"

Kyungsoo terkekeh pelan. Ia menggenggam tangan Jongin untuk menuju keluar ruangan. Mengabaikan dentum jantungnya sendiri yang heboh bertalu-talu, Jongin mengikuti dibelakang dengan patuh. Mereka berhenti pada sebuah pot berisi bunga yang Jongin tak tahu apa itu. Ia baru melihatnya sekali ini.

"Periwinkle namanya," kata Kyungsoo, "Baekhyun adalah periwinkle."

Jongin mengangkat alisnya tinggi.

Menyadari kebingungan pemuda di sisinya, Kyungsoo kembali berbicara. "Baekhyun dan Luhan adalah sahabat terbaikku. Dan aku selalu menyamakan mereka dengan periwinkle. Periwinkle, bunga ini, adalah perlambang kesetiakawanan."

Jongin mengangguk mengerti. "Jadi setiap bunga di sini punya makna?"

Kyungsoo mendengus kecil. "Tentu saja. Semuanya bisa menggambarkan kepribadian seseorang."

"Benarkah?"

Kyungsoo mengangguk. "Baekhyun juga jelmaan tulip. Bunga tulip adalah bunga paling ceria. Bocah berisik itu takkan menyia-nyiakan satu detikpun dihidupnya untuk bermuram durja. Sama seperti Chanyeol. Sepasang kekasih tolol itu adalah jelmaan tulip sesungguhnya. Cinta mereka juga layaknya tulip. Sederhana namun mengagumkan."

Jongin mengangguk dan mengiyakan dalam hati. Dari mereka semua, kedua lelaki itu memang yang paling heboh.

"Lalu Luhan adalah mawar. Dia sulit dipahami. Bahkan untuk orang seperti Sehun. Aku tahu benar Luhan. Ia sebenarnya orang yang baik. Hanya saja, ia terlalu sulit untuk dimengerti. Luhan sama sepertiku, kesepian. Orangtuanya meninggalkannya untuk pergi ke China, dan dia hidup hanya dengan kakaknya. Hal itu membuat Luhan begitu kesepian. Dan orang yang bisa ia gunakan untuk bergantung adalah Sehun."

"Kau sangat benar."

"Dan Sehun adalah magnolia, satu-satunya kecantikan yang bisa mengimbangi sadisnya mawar dan duri yang ia miliki."

"Ceritakan padaku yang lainnya," pinta Jongin.

Kyungsoo tersenyum kecil, kemudian lanjut berjalan ke sisi yang lain.

"Junmyeon adalah bunga matahari. Kenalilah Junmyeon hyung lebih jauh dan kau akan menemukan fakta bahwa ia adalah lelaki tangguh yang akan selalu mengejar kemana matahari membawa sinarnya. Namun akan selalu ada Yixing, si sakura yang malu-malu. Yixing akan selalu mengimbangi stereotip Junmyeon yang perfeksionis. Mereka pasangan yang hebat."

"Mereka terlihat sangat cocok sebagai pasangan."

"Mereka memang pasangan."

Jongin tak bisa lebih terkejut dari itu. "Benarkah?"

Kyungsoo tertawa keras. "Tentu saja."

"Wow. Aku bahkan tak bisa menyadarinya sejelas Tao dan Kris hyung."

Kyungsoo mengangguk, kemudian berjalan lurus, menghampiri lautan bunga lain. "Lalu ada Jongdae si bunga fern. Ia adalah pemuda dengan seribu keahlian dan juga seribu kepercayaan diri. Tapi juga ada Minseok si jonquil yang pemalu."

Jongin tersenyum mengetahui fakta bahwa semua teman-teman Kyungsoo seperti itu.

"Kemudian Kris hyung yang seperti bunga poppy dan bunga narcissus. Dan entah kenapa, saat aku melihat Tao, aku selalu ingat akan bunga ini," kata Kyungsoo sambil menunjuk satu bunga di depannya, "bunga primrose. Seakan Tao takkan bisa hidup normal jika tak ada Kris di sampingnya."

Jongin menunggu Kyungsoo yang sedang meniup kelopak bunga primrose. Dan tanpa ia sadari, sebuah pertanyaan meluncur keluar dari mulutnya.

"Kemudian bagaimana denganku?"

Kyungsoo menegakkan tubuhnya, menatap Jongin dengan mata yang mengedip lucu. Jongin memiringkan kepalanya dan mengangkat alis.

Kyungsoo tersentak sadar, kemudian memandang bunga di sekitarnya. Kepalanya menengok sana sini, sementara otaknya memutar penuh, memikirkan bunga apa yang pantas untuk Jongin.

"Apa ya? Akasia blossom? Bittersweet? Azalea? Geranium? Flax? Duh—apa ya? Aku bingung."

Jongin tertawa ketika Kyungsoo menggaruk kepalanya bingung. Tangannya terulur untuk mengacak surai hitam lelaki di sebelahnya. Dan hal itu mampu membuat Kyungsoo terperanjat kaget, namun pada akhirnya, ia tersenyum juga. Menikmati sentuhan lembut Jongin yang mampir di bagian utara tubuhnya. Kedua netra beda warna itu saling memandang penuh perhatian, sampai satu dari keduanya menjadi bermuka merah karena pandangan itu terlalu intens. Buru-buru Jongin menarik tangannya dengan kikuk.

"Lalu..."

Jongin mendongak menatap Kyungsoo.

"...kalau kaupikir-pikir, aku—bunga apa?"

Butuh waktu beberapa detik agar Jongin mampu menerima dan memproses apa yang dikatakan pemuda mungil di sampingnya.

Jongin menengadahkan pandangannya, menilik satu persatu bunga yang ada di sana. Kalau boleh jujur, Jongin hanya tahu beberapa nama bunga di sini. Banyak yang bahkan, baru sekali ini ia lihat. Seperti peri—apalah itu tadi, daffodil, carno—carni—carnation! Yak! Pokoknya itulah.

Dan otak Jongin langsung memproses keras ketika pupil hazel-nya menangkap salah satu bunga di ujung ruangan. Matanya berbinar cerah ketika salah satu ingatannya berkelebat di kepala, memutar memori masa lalu saat ia pertama kali melihat bunga tersebut, sepuluh tahun silam, bersama ibu tercinta di sebuah sore cerah. Berwarna merah seperti darah, merekah sempurna seperti melawan udara, tumbuh mungil nan menggemaskan seolah ia akan terluka jika tak disentuh, menggerombol layaknya bayi-bayi mungil yang kehausan kasih sayang. Kelopaknya yang selembut beludru tak mampu tersaingi oleh kehangatan lain. Perlambang keindahan sesungguhnya. Lebih dari itu, ia tahu makna sesungguhnya yang dibawa sang bunga.

Mantap, ia menjawab. Dengan manik tajam yang beralih menatap Kyungsoo tepat di obsidian hitam pekatnya.

"Gloxinia."

Kyungsoo terperanjat kaget.

Ya—karena mereka sama-sama tahu apa yang dibawa sang bunga, apa yang coba mereka hanturkan. Karena lebih dari itu semua, Kyungsoo tahu apa maksud Jongin menyamakannya dengan Gloxinia.

.

.

.

Saat ini, 29 April 2014

Jongin masih berbaring tenang di sisi Kyungsoo. Memeluk pinggang kekasihnya seakan tak ada hari lain untuk memeluknya lagi. Proteksi sekuat bunga jonquil itu mampu membuat Kyungsoo tersenyum menatap kekasihnya yang nampak sangat polos di matanya.

"Bukalah matamu, Jongin-ah."

Jongin menurut. Kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit, mengatur cahaya yang datang dari luar, mengerjap lucu. "Apa?"

"Kau harus membuka matamu."

"Aku hanya ingin menyesap aromamu, lalu mematrinya dalam ingatanku," jawab Jongin.

Kyungsoo tertawa sambil mengusap pelan rambut pemuda Kim itu. "Kau kekanakan. Aku takkan kemana-mana."

"Kau takkan kemana-mana, lalu bagaimana jika aku yang pergi?"

Kyungsoo berpikir sejenak. "Well—aku yang akan mengejarmu."

"Walau aku ke Italy, Perancis, Alabama?"

Kyungsoo mengangguk. "Walau keujung dunia."

Keduanya tertawa. Tawa hangat semerdu lantunan harpa dan nyanyian lullaby ibu terkasih. Membagi kebahagiaan hanya lewat tutur kata.

"Kyungsoo..."

"Hmm?"

"Ayo kita kembali memutar chaos."

Kyungsoo mengulum senyum. "Apalagi yang mau kauubah?"

Jongin mengeratkan pelukannya, lalu kembali memejamkan mata. Ia menghirup aroma leher Kyungsoo yang seperti bayi dan wangi citrus, lalu mendekatkan kepalanya untuk dapat merasakan hawa hangat.

"Aku ingin mengubah satu detik di hidup kita yang lalu."

"Bagian mananya?"

"Lima tahun yang lalu, saat kita bertemu di rumah kacamu lagi. Saat itu pertama kalinya aku bertemu dengan Baekhyun dan yang lain."

Kyungsoo mendengarkan dengan seksama.

"Aku ingin mengubah masa di mana Soojung yang lagi-lagi terlambat menemuiku. Dan itu harusnya tidak terjadi."

Kyungsoo mengangguk pelan sebagai tanda ia masih mendengarkan.

"Seharusnya jika ia tak telat datang, aku takkan ke rumah bungamu. Lalu aku takkan bertemu dengan Baekhyun yang lain. Lalu aku takkan belajar apa itu kebersamaan. Atau aku takkan terjerat terlalu dalam padamu. Aku takkan pernah tahu arti-arti bunga."

"..."

"Lalu aku takkan pernah tahu kalau kau—adalah jelmaan gloxinia. Seharusnya aku takkan pernah sadar kau gloxinia sesungguhnya jika saja Soojung tak terlambat hari itu. Sesungguhnya, itu semua takkan terjadi."

Benar. Itu semua tak sehausnya terjadi.

"Aku tak harus menyadari bahwa kau gloxinia, Kyungsoo."

"Benar."

"Seharusnya, hari itu tak kuucapkan kata cinta setelahnya."

Kyungsoo menelan senyum pahit. Ya—kata cinta itu tak seharusnya terucap di bibir Jongin dan juga Kyungsoo. Tak seharusnya perasaan aneh mereka menjamur subur.

"Seharusnya kita tak seperti ini."

Kyungsoo mengangguk, sementara Jongin masih mengeratkan pelukan dengan kelopak yang tertutup rapat. Suaranya bergetar, seperti menahan tangis.

"Seharusnya kita tak bersama sejak awal, dan takkan ada yang tersakiti."

"Kau benar—takkan ada yang tersakiti jika awalnya kita tak pernah bertemu."

Jongin mengangguk mengiyakan. "Karena sekali aku mencintai, aku takkan mudah untuk berhenti."

begitu pula denganku, Jongin-ah.

"Aku takut terlalu banyak pihak yang sakit hati akan hubungan kita ini."

aku juga sakit hati.

"Banyak pihak yang kemudian memutuskan untuk menghentikan langkah kita ini."

sejujurnya, aku juga.

"Seharusnya kita memang tak bersama."

rasanya sakit ketika kau mengatakannya.

"Kyungsoo—bisakah aku memutar masa lalu dan mengacaukan chaos?"

jangan. Bahkan aku tak pernah menyesal bertemu denganmu, Jongin-ah.

"Aku ingin sekali mengubah keadaan ini."

tapi aku tidak.

Namun, yang keluar dari bibir Kyungsoo adalah kalimat lain.

"Aku—

—juga ingin mengubah semuanya, Jongin-ah."

Kim Jongin dan Do Kyungsoo sering berandai, jika saja mereka bisa mengubah satu detik kejadian lima tahun yang lalu. Jika saja mereka bisa mengacaukan chaos. Jika saja, jika saja, jika saja.

Kim Jongin memang pandai berandai dalam diam. Sedangkan Do Kyungsoo pandai bertindak. Maka dari itu, Jongin akan selalu berandai dan mengembangkan angannya, sementara Kyungsoo beranjak memperbaiki keadaan yang sudah dari awal salah. Mereka menjadi satu kesatuan yang mengacaukan semesta dalam imaji mereka sendiri.

.

.

.

tbc