KAU INGIN AKU JADI APA?!
YunJae Fanfiction
By:
Kuminosuki
Genre:
Romance, Shounen-ai
Rated:
T
Pairing:
Jung Yunho & Kim Jaejoong
Warning:
Cerita ini mengandung unsur Shounen-ai, jadi bagi kalian yang tidak suka, dimohon untuk tidak melanjutkan. Cerita ini adalah fiksi, sebagian juga nyata, jadi jika ada kesamaan dalam cerita, tempat dan penokohan, maka itu hanya kebetulan semata.
Bacalah cerita ini minimal 30 centimeter dari layar dan diharapkan Anda membacanya ditempat yang terang.
Terima kasih dan Selamat membaca.
-Kuminosuki-
Chapter 02
.
.
.
"Jika aku menawarkan sebuah kesepakatan denganmu, apa kau akan menerimanya?" Tanya Yunho.
"Tergantung." Jawab Jaejoong. "Memangnya, pekerjaan apa yang ingin kau tawarkan?"
Yunho terdiam sejenak, sepertinya dia tengah menyusun kalimat agar tidak menyinggung perasaan laki-laki didepannya itu. Tak lama, Yunho pun menarik nafas dan berkata,
"Aku ingin kau menjadi teman jalanku."
"…"
"…"
"…"
"Em… Jaejoong-ssi?"
"Kau tadi bilang apa? Kau ingin aku jadi apa?" Tanya Jaejoong dengan nada tak percaya. Jaejoong merasa tadi dia salah dengar, ya, mungkin dia salah dengar. Oleh karena itu, dia butuh pengulangan.
"Aku… aku ingin kau jadi teman jalanku, Jaejoong-ssi."
Jaejoong melebarkan matanya, bahkan mulutnya sudah terbuka lebar, jika saja ini adalah sebuah tayangan animasi, mungkin rahang Jaejoong sudah terjatuh membentur lantai dibawahnya.
"Um…Ja-Jaejoo.."
"Apa itu sebuah pekerjaan?" Jaejoong masih menatap Yunho dengan ekspresi yang sama. "Kau…kau meminta ku untuk menjadi teman jalanmu? Apa kau sedang mengajakku berkencan, Yunho-ssi?"
What the – Ah! Demi keluarganya yang telah hancur, Jaejoong tidak percaya ini. Pria aneh yang dia sangka polos itu mengajaknya apa?!
Jangan salahkan Jaejoong yang mulai berpikiran negative terhadap pria berwajah sendu di depannya itu. Teman kampusnya banyak yang menyimpang, walaupun Jaejoong tidak anti dengan hal itu, tapi tetap saja, dia sedikit tidak terima jika dia harus menceburkan diri kedalamnya. Permintaan laki-laki bermata sipit itu cukup membuatnya bingung dan merinding, dia pernah beberapa kali mendapati temannya mengucapkan hal serupa.
Walau pun banyak yang mengira Jaejoong adalah gay, namun Jaejoong masih sangat yakin jika dia lebih berhasrat kepada wanita dibandingkan pria.
"Ah…Jaejoong-ssi,"
"Tidak Yunho-ssi! Maaf, lebih baik kau cari orang lain saja! Aku tidak bisa! Aku bukan gay!" Jaejoong menggelengkan kepalanya sambil menatap Yunho dengan pandangan tidak suka.
Yunho mengeryitkan jidatnya, mata sipitnya terus menatap laki-laki didepannya. Jadi… apa dia telah salah ucap lagi? Tapi, bukankah Yunho hanya mengajaknya jalan? Lalu, apa hubungannya dengan gay?
"Maaf… Jaejoong-ssi…"
"Yunho-ssi! Aku pikir kau orang aneh yang polos. Tapi kenapa? Kenapa aku?"
"Jaejoong-ssi, sepertinya kita,"
"Aku tidak bisa. Kau memang tampan, tapi aku tidak bisa Yunho-ssi, aku bukan penyuka sesama pria."
"Iya, aku tahu, karena itu,"
"Aku menghargai mu Yunho-ssi, sungguh, tapi aku tidak bisa. Aku permisi, aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal!" Jaejoong segera bergegas untuk beranjak dari sana.
"Ah! Tu..Tunggu dulu, Jaejoong-ssi!"
Yunho berusaha menahan Jaejoong yang sepertinya salah paham dengan perkataannya. Dia bahkan harus menahan malu akibat tatapan beberapa pelanggan café. Yunho dan Jaejoong sudah seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan salah satunya pergi dengan keterpaksaan. Well, makin gila.
"Jaejoong-ssi, aku rasa ada kesalahpahaman diantara kita. Aku akan menjelaskannya, aku mohon duduk dulu." Mohon Yunho.
Jaejoong mengatur nafasnya, yang entah kenapa begitu memburu, rasa tidak percaya dan kecewa yang muncul tiba-tiba membuat emosinya sedikit menanjak. Jaejoong sendiri tidak paham dengan apa yang dirasakannya, dia hanya… well… merasa risih, mungkin.
Sementara itu, Yunho yang menahan tangan Jaejoong mencoba untuk membuat atmosfir yang terasa aneh disekitar mereka menghilang. Pria berwajah sendu itu menatap Jaejoong dengan mata sipitnya.
"Jaejoong-ssi, aku mohon." Pinta Yunho.
Jaejoong menghela nafasnya dan berbalik. Laki-laki itu kembali duduk di tempatnya dan menatap Yunho dengan mata bulatnya, menanti penjelasan dari pria berwajah sendu itu. Yunho menghela nafas lega, dia tersenyum kecil sebelum duduk.
"Aku rasa aku telah salah berucap, aku mohon maaf, Jaejoong-ssi." Yunho sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk permintaan maaf. Jaejoong hanya bisa menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Tangan kanannya terangkat untuk memijat pangkal hidungnya, tiba-tiba Jaejoong merasa pusing dan lelah. Dia sendiri juga merasa sedikit malu sebenarnya, begitu mudah dia menaikkan emosinya, mungkin Jaejoong harus berdiam dan menenangkan pikirannya dulu lalu mendengarkan penjelasan dari pria asing – yang tiba-tiba menawarkan sesuatu yang 'bukan pekerjaan' – menurut Jaejoong.
"Aku juga, maaf jika aku tiba-tiba sedikit emosi, aku hanya… sedikit risih." Ujar Jaejoong.
"Aku tidak keberatan jika kau memarahiku. Terkadang ucapanku memang membuat orang lain kebingungan." Yunho menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, hal itu dilakukannya untuk menyalurkan rasa canggungnya saja.
Mata sipitnya kembali melirik Jaejoong yang terus menatapnya. Yunho berdehem sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Aku… aku tidak tahu kata mana yang sudah membuatmu salah paham Jaejoong-ssi, tapi sungguh, aku tidak pernah menganggapmu seorang gay. Aku… aku juga bukan. Aku hanya sedang bosan, dan aku butuh teman, karena itu, aku ingin kau menjadi teman jalan.."
"Itu dia!" potong Jaejoong dengan wajah datarnya. Yunho menatapnya tidak mengerti.
"Maaf?"
"Harusnya kau bilang saja jika kau ingin aku menemanimu berjalan-jalan."
"…" Yunho terdiam, bingung. "Em… aku memang bermaksud seperti itu Jaejoong-ssi."
"Kalimatmu sebelumnya seperti mengajakku untuk berkencan, Yunho-ssi."
Yunho mengeryitkan alisnya, "Be..benarkah?"
"Iya."
Yunho menganggukkan kepalanya pelan, "Baiklah, maafkan aku jika kata-kataku itu membuatmu tidak nyaman. Tapi aku sungguh-sungguh, aku akan membayar waktu mu, berapa pun kamu mau, asalkan kau mau jalan…ah, maksudku menemaniku."
"Yunho-ssi, aku rasa itu bukanlah sebuah pekerjaan. Aku tidak.."
"Ini pekerjaan kok. Di Jepang banyak yang seperti itu. Disana bahkan ada agen yang menyiapkan teman ken..ah, maksud ku teman jalan. Iya, begitu."
Jaejoong menyipitkan matanya agar terkesan tajam, namun tingkahnya itu malah membuatnya semakin menarik. Baiklah, Jaejoong memang pernah melihat berita tentang pekerjaan seperti itu dan paling banyak dilakukan oleh remaja-remaja Jepang yang tidak punya pasangan atau yang kesepian.
Yang kesepian…
Yang kesepi –
But, wait, tunggu!
Jaejoong kembali berpikir, di lihat dari sudut pandang manapun, laki-laki di depannya itu bukanlah tipe laki-laki yang tidak mungkin tidak memiliki teman, apalagi tampangnya jauh sekali dari kata jelek, dia tampan – benar-benar tampan jika Jaejoong boleh akui. Cara bicaranya pun ramah walau kadang membingungkan. Wajah sendu yang diperlihatkan laki-laki itu sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya, malah itu membuatnya semakin menarik, membuat orang lain penasaran tentang dirinya.
Jadi, apa hanya karena 'bosan', laki-laki itu ingin 'menyewa' Jaejoong sebagai teman?
….. Apa menurut kalian itu masuk akal?
…..
"Yunho-ssi, kau.. tidak punya niat aneh-aneh terhadapku kan?" Tanya Jaejoong.
"Hah? Ti..tidak ada! Sama sekali tidak ada Jaejoong-ssi! Aku sungguh tidak mempunyai niat buruk kepadamu! Sungguh!" balas Yunho, kedua tangannya bergerak-gerak di depan dada, membantunya menyerukan maksudnya.
"Hm… tapi…" Jaejoong melipat kedua tangannya di depan dada dan menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. "Kenapa harus aku? Bukankah seharusnya kau mencari seorang gadis Yunho-ssi? Bukan pria."
Yunho tidak langsung menjawab, laki-laki itu tengah berpikir, sama seperti sebelumnya, dia tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang akan menyinggung Jaejoong lagi. Dengan sabar Jaejoong pun ikut diam, menunggu hingga Yunho membuka mulutnya.
"Entahlah, aku hanya merasa jika aku bisa cocok denganmu. Maksudku… ya… mungkin kita bisa akrab dan berteman baik. Saat pertama melihatmu tadi aku sudah merasa tertarik, dan berbicara denganmu membuatku merasa nyaman, jadi aku pikir kau adalah orang yang tepat, Jaejoong-ssi." Ujar Yunho sambil tersenyum kecil.
Kedua alis Jaejoong terangkat tinggi, bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya meremang.
"Er… entah kenapa ucapanmu itu membuatku benar-benar merinding, Yunho-ssi."
"Eh?!"
"Ck, ah… tapi sudahlah." Jaejoong menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku memang sedang butuh uang, dan… aku mau saja meneima 'pekerjaan' itu, asalkan kau tidak berbuat aneh-aneh tehadapku. Apa benar kita hanya berjalan-jalan saja? Tidak ada yang lebih bukan?"
Yunho menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, "Tidak ada, sungguh hanya sebatas menemaniku beraktifitas." Jawab Yunho.
Jaejoong mengagguk singkat, "Lalu, berapa harga yag kau tawarkan?"
Jaejoong sedikit meringis saat mengucapkan kalimat itu. Jaejoong merasa sudah seperti pelayan plus-plus yang menawarkan diri kepada para lelaki mesum. Hah… jika saja dia tidak kepepet dan bingung dalam mencari kerja, Jaejoong pasti akan menolak. Tapi… pekerjaan ini juga cukup enak, karena tugasnya hanyalah menemani, jalan-jalan dan pastinya semua biaya konsumsi ditanggung oleh Yunho.
"Bagaimana jika seribu USD untuk setiap pertemuan?" usul Yunho.
"Ha? Se—seribu USD?" Tanya Jaejoong dengan ekspresi kaget.
Yunho mengangguk kalem. "Bagaimana?"
"Mau! Aku mau!" seru Jaejoong dengan wajah bahagia.
Dan Yunho tersenyum.
.
.
.
-TBC-
Selamat malam, aku Kumi. Terima kasih untuk review teman-teman di Chap kemarin, maaf Kumi tidak balas, tapi Kumi senang, dari sekian ratus orang yang melihat cerita ini, kalian lah yang bersedia menuliskan komentar kalian. Selanjutnya mohon bantuannya lagi.
Um...satu lagi, hitungan Dollar anggap aja pakai hitungan klo di Rupiah-kan ya, Kumi gak tau sih klo Dollar di Won kan jadi berapa.
Dan semoga saja Chap kali ini tidak terlalu mengecewakan, Kumi memang selalu bikin cerita yang pendek.
.
Terima kasih bagi pembaca yang telah mengunjungi cerita Kumi. Silahkan bagi yang ingin memberikan saran dan kritiknya, yang gak mau juga gak apa-apa, gak dipaksa kok, karena kalian sudah baca aja, Kumi sudah senang.
Bye, Semoga hari kalian menyenangkan!
