TITLE : I DON'T BELIEVE IT
CAST : Kim Jong In
Oh Sehun, dll
Author : Kim Nunzzy
RATE : T
GENRE : Romance, Humor (maybe-")
WARNING!: BOYXBOY, YAOI, TYPO(s), Alur berantakan.
DON'T LIKE = DON'T READ.
NO BASH (cinta damai saya :v)
.
.
.
Happy Reading :)
.
.
- Pukul 4.00 sore
-Jongin Side-
.
.
Setelah membantu eommanya membawa barang belanjaan yang jumlah nya bisa di bilang lumayan banyak, itu sedikit membuat bahu Jongin sakit tadi siang. Sekarang sudah mendingan. Jongin menghembuskan nafasnya kasar. Ia bosan saat ini. Ia butuh eommanya untuk menemaninya saat ini.
"Uwaaaaaaaa! Eommmaaaaaaaaaaaaaaaa!" Teriak Jongin dari kamarnya.
Eommanya kaget mendengar teriakan Jongin itu. Dengan sigap eomma Jongin mematikan kompor nya, lalu melangkah cepat menuju kamar Jongin dan membukanya secara kasar
Bisa dilihat Jongin sedang duduk tenang di tengah kasurnya
Eommanya panik menghampirinya.
"Kau kenapa nak?" Tanya eommanya yang saat ini sedang khawatir sambil berusaha untuk menstabilkan deru nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari terbirit-birit tadi.
"Aku minta ijin nanti jam stengah enam malam, keluar boleh?"
"Aiyoyoooo! Kau hanya berteriak memanggil eomma lalu bertanya hal ini?! Tunggu-tunggu, ini Malam minggu bukan? Dan kau... Keluar? Kau kencan huh?! Sejak kapan kau memiliki Yeojachingu? Kenapa tidak dibawa kerumah? Apa dia cantik? Apa kau punya fotonya? Aku harus memberitahu appamu tentang ini! " Cerocos eomma Jongin.
Jongin hanya memutar bola matanya jengah dengan sikap kepo eommanya yang terlalu berlebihan ini.
"Aku belum mempunyai yeojachingu eomma, tapi aku akan mendapatkan namjachingu" jawab Jongin sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Kau.. err... Gay?" Tanya eomma Jongin ragu. Sangat ragu.
"Ne" jawab Jongin singkat, jelas, padat. Jujur lebih baik bukan?
"Sejak kapan?!" Tanya eommanya lagi.
"Sejak aku mengenal SeHun, Oh SeHun. Itu loh eomma, yang pernah kerumah waktu itu. Rambutnya berwarna-warni seperti pelangi, kulitnya yang putih seperti susu, bibirnya yang mungil, manis, imut, baik. Segala-galanya ada pada SeHun." Jelas Jongin.
Eommanya mengangguk mengerti.
"Apa dia sudah menjadi namjachingu mu? Kalau sudah, kau jadi apa? Seme? Atau uke? Eomma berharap kau jadi seme nak, dia terlalu cantik dan pantas menjadi uke." Heboh eomma Jongin.
"Ani. Belum eomma," ujar Jongin dengan nada memelas.
"Jadi, nanti malam aku akan menyatakan perasaanku. Eomma, do'akan, ne?" Sambung Jongin sambil menatap eommanya dengan tatapan memohon.
"Ah, ne, ne. Kau beri dia kejutan" balas eommanya sambil mengelus kepala anak kesayangannya itu.
"Kejutan? Seperti apa eomma?"Jongin tak mengerti.
"Kau beri dia kejutan, seperti appa mu saat dulu. Memberi eomma kejutan dengan cara memberi eomma bunga mawar putih dan cincin saat itu. Aaahh, eomma teringat masa lalu, saat-saat muda yang indaah,, ohhh,, oiyaa, kau jangan memberinya bunga! Dia namja bukan? Beri dia kejutan yang lain,, Eomma mau masak dulu untuk makan malam yang sempat tertunda karena teriakan bodohmu itu. Semoga berhasiil~" di saat itulah eommanya hilang daribalik pintu kamarnya.
Sementara Jongin hanya diam tercengang menyadari sikap eommanya yang berbeda dari eomma teman-temannya. Eomma-nya itu sangat lebay dan terlalu dramatis.
'Kalau bukan bunga, apa? Boneka? Kurasa itu tidak buruk. Bukankah di sebelah sini ada Toko Boneka,? Baiklah aku kesana' batin Jongin dan langsung beranjak pergi keluar dari kamarnya. Tak lupa membawa dompetnya
"Eommaa! Aku keluar sebentar!" Teriak Jongin supaya eomma nya mendengar teriakan nya.
Jongin keluar rumah menuju toko itu sambil berjalan kaki dan memakai pakaian seadanya. Rumah Jongin terletak di pinggir jalan raya. Tentu saja dekat sekali dengan toko.
Tak lama kemudian, Jongin sudah sampai di toko itu. Setelah masuk, ia menunduk membalas sambutan dari pelayan di toko itu. Dia memilah-milih mana yang bagus menurut nya. Pandangannya terhenti pada sosok boneka Rilakkuma berukuran sedang. Setelah membayarnya, Jongin langsung pulang dengan membawa boneka itu,
.
CKLEK
.
Jongin baru saja sampai langsung mendapatkan eomma-nya sedang berkacak pinggang di depan pintu.
"Kemana kau?" Tanya eommanya
"aku sudah memberitahumu eomma, kau saja yang terlalu asik dengan spatula-mu" ucap Jongin
"Benarkah?" Gumam eommanya, tapi dapat di dengar Jongin.
Jongin tak mempedulikannya. Dia langsung masuk kekamarnya, dan bersiap-siap.
Setelah semuanya selesai, Jongin melirik ke arah jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kanan-nya.
Pukul 05.01
"Hampir terlambat" gumam nya. Dan langsung keluar dari kamarnya sambil membawa boneka Rilakkuma yang di beli-nya di toko sebelah tadi..
"Eommaa, appaaa! Aku pergi duluuu, ppai ppaaaaaaii" setelah memberitahu apa dan eommanya, Jongin keluar dari rumahnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama setelah itu, mobil itu melesat pergi.
.
.
"Kenapa anak itu?" Tanya appa Jongin pada istrinya.
"Dia sedang jatuh cinta" balas eomma Jongin, lalu menghampiri suami-nya yang duduk di ruang tamu.
"Oh, apa dia cantik?" Tanya appa Jongin -lagi.
"ne, dia cantik dan tampan" jawab eomma Jongin enteng sambil menuangkan teh di cangkirnya.
Sejenak appa Jongin terdiam. 'Cantik dan tampan'
"Jangan bilang, anak kita yang satu itu, gay." Ujar appa Jongin. Sedikit penekanan di akhir kalimat nya.
"Ya, dia gay." Balas eomma Jongin tanpa ragu.
"APA?!"
.
.
.
- Pukul 5.01
-Sehun Side
"Hyung, apa aku pantas memakai baju ini?" Tanya Sehun.
Kris mendongak menatap Sehun intens.
"tidak buruk juga." Komentar Kris. Lalu mengalihkan pandangannya pada Novel yang dibacanya tadi.
Kedua orang tua Sehun tersenyum melihat perilaku anaknya itu.
Lalu, Sehun pergi kekamarnya lagi, ini untuk ke dua puluh kali-nya Sehun berganti baju mencari yang pas dan menarik untuknya "Lumayan" gumamnya.
Setelah itu, dia keluar kamarnya lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya dan Sepupunya itu.
"Eomma, Appa, Hyung, aku pergi dulu ne? Ppai ppai" setelah meminta berpamitan, Sehun langsung melesat pergi keluar dari rumahnya. Karena terburu-buru, Sehun sedikit berlari kecil.
"Hey, Sehun! Mobilmu sedang rusakkan?!" Teriak appanya, tapi tak didengar oleh Sehun.
.
.
BRAKK!
.
Sehuh membuka pintu kasar.
"OH! APPA, AKU TIDAK INGAT MOBILKU RUSAAK! BAGAIMANA INII?! AKU TAKUT TERLAMBAAT!" histeris Sehun
"Appamu sudah memberitahumu tapi kau tidak dengar sayang" ucap eommanya.
"Begini saja. Pakai mobil appa. Ohh yaa! Appa takut kamu ngebut. Jadi biarkan Kris mengantarmu." Jelas appanya.
"Tapi, appaaa" wajah Sehun memelas
"Tidak ada tapi-tapian Sehun! Kris cepat antar Sehun. Ini kontak mobilnya" ujar appanya sembari menyerahkan kontak mobilnya kepada Kris.
Kris hanya pasrah. Dia tidak mungkin menolak bukan?
"Ayo hyung! Cepaat!" Omel Sehun sambil menarik tangan Kris. Kris hanya pasrah lagi.
.
- pukul 05.13
.
"Ramai juga" Gumam Jongin. Dia sudah sampai di taman tempat biasanya dia berkumpul dengan teman-temannya. Tapi, kali ini hanya bersama Sehun . Berduaan. Ya, berduaan. Oohh, apa yang ia lakukan bersama Sehun nantiii?
"Ck. Otak macam apa ini?" Kesalnya sambil memukul kepalanya sendiri berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran kotornya.
Lalu ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat. Berusaha mencari tempat duduk yang kosong. Dan, dia menemukannya.
Dia sedikit berlari untuk mendapatkan tempat duduk itu. Supaya tidak kalah cepat dengan yang lain.
BRUKK-
Dia langsung mendudukkan dirinya. Takut-takut ada yang mendahuluinya.
"Sssh" dia meringis kesakitan karena terlalu kasar tadi. Boneka Riliakkuma-nya ia letakkan di mobilnya dulu. Nanti akan di berikan pada Sehun saat menyatakan perasaannya.
Jongin melirik ke arah jam tangannya.
- Pukul 05.20
"Semoga Sehun datang" batinnya.
.
.
"Lebih cepat hyung!" Teriak Sehun histeris.
"Ini sudah cepat Sehunnie" jawab Kris enteng.
"Ck." Sehun berdecak sebal dan mem'pout'kan bibirnya, terkesan lucu memang. Inilah Sehun yang sesungguhnya. Di depan orang yang tak dikenal sok cool dan dingin. Tapi,- Lupakan lupakan lupakan :v
"YAK! KE KANAAAN! KAU SALAH JALAN HYUNG!" Cerocos Sehun sambil menjambak rambutnya sendiri.
Kris memundurkan mobilnya dan berbalik ke arah yang dimaksud Sehun
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di taman tempat yang dimaksud Sehun. Dengan cepat, Kris memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah disediakan.
Setelah Kris selesai memarkirkan mobilnya. Sehun langsung membuka pintu mobilnya dan berlari ke arah taman.
Sehun langsung mengedarkan pandangannya berusaha mencari Jongin. Pandangannya berhenti pada sosok namja yang sedang memainkan jarinya. Jongin, ya Kim Jong In
"Tampan" batin Sehun. Sehun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung menghampiri Sehun. Setelah cukup dekat, sebuah ide terlintas di pikirannya. Dia berjalan menghampiri Jongin yang masih fokus pada jari-jarinya yang ia mainkan.
GREP
Sehun menutup mata Jongin dari belakang.
Jongin hanya tersenyum, dia tau yang menutup matanya itu adalah Sehun.
Kris yang sedari tadi ada disamping mereka berdua hanya memandang mereka datar -entah sejak kapan.
Jongin memegang kedua tangan Sehun dan di genggamnya kedua tangan Sehun yang masih setia menutupi kedua matanya.
Hangat. Itu yang di rasakannya. Sehun juga merasa begitu. "Oh SeHun" ucap Jongin.
Sehun langsung mengambil alih tangannya. "Haha, kau benar" ucap Sehun lalu mendudukkan dirinya di samping Jongin. Jongin hanya tersenyum dan seketika senyumnya hilang mendapati sosok asing di depannya.
"Eh, dia Kris. Sepupuku. Dia bekerja di Canada dan menyempatkan diri untuk berlibur ke Korea." Sehun menjelaskan semuanya, menyadari Jongin sedang menatap Kris dengan tatapan asing menurutnya.
Kris mengulurkan tangan kanannya "Wu Yi Fan imnida. Kau bisa memanggilku Kris" ucapnya di sertai senyuman. Jongin juga membalas uluran tangan Kris " Kim Jong In imnida" dan membalas senyuman Kris
"Ehem, Aku, pergi dari sini, takut-takut mengganggu kalian, haha. Senang bertemu denganmu Jongin-ssi. Ah, Sehun jika nanti kau sudah mau pulang, hubungi aku." Seketika Kris menghilang dari hadapan mereka.
Hening
"Ehem, jadi, ada apa?" Tanya Sehun berusaha memecahkan keheningan tersebut.
DEG
Jongin terlalu takut untuk mengatakannya, Ia terlalu takut kehilangan Sehun-nya. Ia takut hubungan persahabatannya akan pecah karena ini. Bagaimana pun, ia bukan pengecut. Yang terpenting, dia sudah berusaha. Serahkan hasilnya pada Tuhan.
"Jongin?" Sehun bingung dengan Jongin yang sedang menggenggam tangannya sendiri. Jongin,. gugup? Entahlah, Sehun tak tau itu.
"Berjanjilah untuk tak meninggalkan ku, apa pun yang terjadi di antara kita." Ucap Jongin.
"Eh? Apa maksudmu mengatakan itu.? Tentu saja aku tak akan meninggalkan mu." Jawab Sehun polos.
"Tunggu disini" setelah itu, Jongin menuju parkiran mengambil sesuatu. Tak lama kemudian-
"Saranghae Oh Sehun, Aku, aku, mencintaimu. Would you be mine?" Ujar Jongin sambil menggerakkan boneka Rilakkuma-nya, Seolah boneka itu yang berbicara.
Sedangkan Sehun? Dia hanya mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna apa yang dikatakan Jongin barusan, 'Saranghae', 'aku mencintaimu', 'would you be mine'.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
4 detik..
Loading...
Done!
DEG
DEG
Yap. Sehun berhasil mencerna apa yang di katakan Jongin. Nafas Sehun memburu saat ini. Ia terkejut, terlalu senang, tak menyangka. Perasaannya campur aduk saat ini.
"Baiklah, Sehunna. Kau bisa menjawabnya setela-"
"Nado Saranghae Jongin." Potong Sehun sambil memejamkan matanya. Menggenggam tangannya kuat-kuat. Berusaha menghilangkan rasa sesak di dada kirinya. Ia punya penyakit jantung? Bukan. Ia terlalu bahagia saat ini.
Sedangkan Jongin, ia langsung merengkuh tubuh Sehun. Pikiran-pikiran negative-nya seperti Sehun akan menolak nya, Sehun meninggalkannya. Kini sudah sirna. Karena Sehun menerimanya, dan tak akan meninggalkannya. 'I DON'T BELIEVE IT!' batin Jongin.
Sehun hanya diam. Perlahan tangannya ia lingkarkan di bahu Jongin membalas pelukannya.
Okay, lihat nasib boneka Rilakkuma yang tak di hiraukan. Boneka itu duduk di kursi taman. Menyaksikan dua orang yang duduk tadi kini sedang berdiri berpelukan.
Ehm, boneka benda mati bukan? Jadi, dia tak melihat ini -_-
Kembali pada dua orang yang sedang berpelukan itu. Tanpa sadar, ada sepasang mata yang menyaksikan pemandangan itu. Orang itu tersenyum. Sebenarnya di balik senyumnya itu ia merasa sakit hati. Kenapa? Ia meratapi nasibnya yang masih jomblo. Ckckckck.
Tiba-tiba terlintas ide jahil di otak Kris. Sebuah seringaian terpampang jelas di bibir Kris. Ia mengambil handphone nya dan menelfon Sehun
.
Tuut tuut
.
.
.
.
"Mianhae mianhae hajima, naega chora haeji janha ppalgan yeppeun ipsul-" Taeyang Eyes, Nose, Lips.
Sehun tau itu adalah bunyi handphone nya. Sehun melepaskan pelukannya dan mengambil handphone nya.
Dengan tak rela Jongin juga melepaskan pelukannya. Siapa pun orang itu, Jongin benci dia. Mengganggu moment-nya bersama Sehun. 'Sial' gerutunya.
"Yeoboseyo. Kris hyung."
'...'
"Ne,"
'...'
"Ne ne ne ne"
PIIP
Sambungan terputus. Sehun menoleh menatap Jongin "Eum, aku, aku harus pulang. Ini sudah malam" ujarnya gugup.
"Hm" gumam Jongin sambil mencondongkan kepala nya dan mengarahkan pipi kanannya dan menunjuknya dengan jari telunjuknya.
Sehun mengerti. Sontak ia membulatkan matanya. "Yak! Ini tempat umum!" Sungut Sehun
"Oooo. Berarti kalo ga di tempat umum, boleh 'lebih' kan?" Goda Jongin sambil mengedipkan sebelah matanya di sertai seringaian yang mengerikan.
"Dasar mesum! Aku menyesal menerimamu! Aku membencimu!" Maki Sehun dan pergi dari situ. Ia mengerti apa itu 'lebih'.
"AKU JUGA MENCINTAIMU SEHUNNA!" Teriak Jongin yang masih berdiri di tempatnya. Sehun yang masih belum berada jauh dari taman, bisa mendengar itu. Sejenak ia berhenti melangkah, dan tersenyum kecil. Setelah itu, ia sedikit berlari menuju tempat parkiran.
..
..
..
..
-BLAM!-
Suara pintu ditutup sedikit kencang."Eommaaaa! Appaaaa! Aku pulaaaang~~!" Kalian bisa menebak siapa itu.
"Jongin! Ada apa denganmu?!" Bentak Appanya. Tentu saja, tadi ia meminum teh-nya yang hangat, di saat teh-nya sampai di tenggorokan, suara cempreng itu membuatnya tersedak.
Jongin tak menggubris pertanyaan ayahnya di meja makan. Ia menghampiri eomma-nya dan memeluknya senang.
"Aish! Hampir saja piringnya jatuh dan pecah!" Bentak eomma Jongin.
"Hehe, eomma, aku senaang sekali saat ini. Eomma Ingin tahu?" Tanya-nya berbinar-binar.
"Tidak" singkat, jelas, padat.
"Eommaa~" rengeknya sambil mengikuti eomma-nya menuju meja makan menghampiri appa-nya.
"Jangan bilang kalau kau mencintai seorang pria juga" ujar appa-nya tajam.
"Bahkan aku memacari seorang pria, appa" jawab Jongin acuh.
"KAU GILA?!" appa-nya kaget setengah hidup (setengah mati udah mainstream *digamvar readers*)
"Tidak" jawab Jongin tenang. Tak menyadari jika ada singa buas yang siap menerkam dan mencabik-cabiknya. Ya, ini perumpamaan yang berlebihan =-=
"Aish! Sudahlah. Kau dulu juga seperti itu. Kau tak ingat? Jika bukan karena-ku, kau sudah menikah dengan pria -itu-" jelas Eomma Jongin.
Appa Jongin bungkam menahan malu. Sedangkan Jongin? hanya menahan tawanya.
.
.
THE END
.
.
A/N: Duh, maaf ya, kalo Endingnya kurang memuaskan T^T kalo masih ada kesalahan mohon maklumi '-')/ Makasih buat sarannya, Sangat membantu. Author lagi ada masalah. Jadi, lama apdetnya, Do'ain moga masalahnya author cepet kelar ya? Saranghae readers :*
BIG THANKS TO:
Kin Ocean, , ohhhrika, Nagisa Kitagawa. mrblackJ, , , HanbiJung, daddykaimommysehun, Istrinya Sehun Bininya Kai, Zelobysehuna
