Moshi2!! XD
Hyaaa~ maap minna, gara2 nonton DVD Ben10, jadi suka telat bikin nya..XD
Akhirnya chapter ni w buat juga..^^
Kayanya ni bakal jadi fic teraneh sedunia deh -lebay mode on-
Oke, kaya biasa, Enjoy Please!
Chapter Two:
Where Are We?
"Ngh.." Rukia tersadar dari pingsannya dan membuka matanya.
"Dimana ini.." Rukia berdiri dengan lemas dan menyandarkan sebelah tangannya pada dinding. Kemudian dia menengok ke kiri dan ke kanan.
Rukia berada di sebuah lorong yang amat besar dengan dindingnya yang berwarna krem.
'Dimana Ichigo?' pikir Rukia.
Kemudian dia mendengar suara ribut-ribut dari arah sampingnya. Di samping tempat Rukia bersandar, ada ruangan "Ruang Musik Tiga", di antara dua daun pintunya yang besar terdapat celah asal suara ribut itu.
'Mungkinkah Ichigo ada disitu?' Rukia membuka salah satu daun pintu yang besar itu. Kemudian keluarlah beberapa kelopak mawar, seperti menyambut kedatangannya dari awal. Ketika Rukia masuk, berderetlah 6 cowo keren yang sedang berpose.
"Irrashaimase." kata mereka bersamaan.
Lalu, seorang laki-laki dengan rambut pirang dan tingginya yang semampai, seperti yang kita tahu, si Tamaki Suou, mendatangi Rukia dengan pedenya sambil membawa bunga mawar.
"Selamat datang, wahai kucing kecil yang tersesat." Tamaki menyodorkan setangkai mawar merah -kok kaya lagu ya- di depan mata Rukia.
"Siapa kau?" tanya Rukia. Rupanya Rukia gak terkena rayuan gombalnya si Tamaki narsis nan bego itu -dihajar Tamaki fans-
"Baru kali ini ada yang gak terkena rayuannya Tama selain Haruhi." kata si Hitachiin brother itu, Hikaru dan Kaoru.
"Maksud kalian?" tanya Haruhi heran.
"Ya begitulah." si kembar mulai menggelandoti Haruhi dan menusuk-nusuk pipi Haruhi dengan jari telunjuk mereka.
"Ini dimana?" tanya Rukia.
"Dimanapun kita berada tak masalah nona kecil, sekarang hanya tinggal kita berdua saja.." Tamaki mulai ngerayu lagi.
DUAK! Rukia menendang muka Tamaki.
"Wow.." si kembar hanya kagum dan bertepuk tangan, baru kali ini ada cewe yang bener-bener gak terpengaruh rayuannya Tamaki.
"Jangan bercanda! Aku tanya, dimana ini?!" Rukia emosi.
"Ini di Ruang Host Club Ouran High School!" Honey-senpai mendatangi Rukia sambil membawa boneka kelincinya dan senyum-senyum.
"Ha? Ouran High School..jangan-jangan.." Rukia mulai berpikir dengan meletakkan jarinya di dagu layaknya detektif.
"Kenapa?" tanya Honey-senpai dengan lugunya.
"Ah..tidak..eh? Kelinci!! Wuah! Lucunya! Boleh aku memeluknya?" Rukia senang melihat ada boneka kelinci.
"Tentu, silahkan!" Honey-senpai meminjamkan boneka kelincinya untuk dipeluk Rukia.
"Ah! Bukan saatnya untuk ini, bagaimana cara aku kembali??" Rukia mengembalikan boneka itu ke Honey-senpai.
"Kembali?" tanya Haruhi.
"Ya. Kembali. Rumahku di kota Karakura." jawab Rukia.
"Kota Karakura? Memangnya ada ya?" tanya Hikaru.
Kaoru cuma geleng-geleng.
(A/N: Kota Karakura itu cuma kota fiksi hasil bang Tite Kubo)
Rukia menepuk kepalanya. 'Ya ampun..aku lupa kalau aku sedang berada di dunia Ouran High School Host Club..mereka tidak mungkin tahu soal Karakura..' pikir Rukia.
"Ku rasa kau bisa kembali." kata Kyouya, si kacamata itu.
"Benarkah?" tanya Rukia.
"Ya. Tapi kau harus membayar 120 juta yen untuk naik helikopter pribadiku." Kyouya senyum dengan senyum setannya.
GLEK! 'Darimana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu?' Rukia keringat dingin.
"Daripada memikirkan itu, bagaimana kalau kita menikmati waktu kita berdua di taman mawar merah, Hime-sama?" Tamaki meraih tangan Rukia dan mengecupnya. Rupanya dia sudah bangkit dari kubur.
Rukia sedikit blushing.
"Eh? A-apa sih yang kau bicarakan?" Rukia menarik tangannya.
"Aku membicarakan tentang dirimu yang imut ini, Hime." Tamaki memegang dagu Rukia dan mendekatkan wajahnya.
"A-aku.." Rukia sudah tak berdaya kalau Tamaki udah begitu. Jaraknya ya ampun astaganaga....stgah centi!
"Ah, Tama-chan, kurasa kau perlu berhenti menggodanya!" seru Honey-senpai sambil makan kue di mejanya dengan Mori, si besar yang menjadi pengawalnya Honey-senpai.
"Maksud senpai?" tanya Tamaki sambil menoleh ke Honey-senpai.
"Itu!" Honey-senpai menunjuk sosok besar dibelakangnya dengan rambutnya yang berwarna oranya jabrik.
"TEME!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, HAH?!?!?!?!?" bentak Ichigo.
"G-GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Tamaki mundur ketakutan dengan gaya lebaynya.
"Ichigo, jangan begitu!" Rukia mencegah Ichigo yang bersiap untuk menghajar Tamaki yang meringkuk ketakutan.
"Ugh.." keluh Ichigo. "Kenapa sih kamu membela dia?"
"Dia kan tidak bersalah.." jawab Rukia.
"Tapi dia kan menggodamu.." kata Ichigo.
"Memang apa salahnya?" Rukia berkacak pinggang.
Ichigo membungkuk lalu memegang wajah Rukia dengan kedua tangannya dan mendekatkan keningnya ke kening Rukia.
"Aku ini termasuk cowo yang cemburuan, kau tahu? Kalau kau digoda oleh laki-laki lain tentu saja aku akan marah." Ichigo tersenyum lembut.
"Maaf.." kata Rukia. Kemudian Ichigo memeluknya. "Ya. Tidak apa-apa." Ichigo mencium rambut Rukia.
"Tama, kayanya kau perlu mengganti rayuanmu itu." kata Hikaru menggoda Tamaki yang manusianya menjadi putih.
"Ya. Kau perlu menggantinya, kalau tidak kau bisa berakhir di kuburan." lanjut Kaoru.
"Kalian itu, jangan menggoda dia." Haruhi membela.
"Jadi Haruhi membela ayah??" Tamaki menatap Haruhi dengan puppy eyes nya.
"Sebenarnya aku cuma kasihan padamu." jawab Haruhi jujur.
Tamaki meringkuk di pojokan lagi.
"Hei, kalian itu siapa?" tanya Ichigo yang masih meluk Rukia.
"Kami adalah Host Club di Ouran High School ini." jawab Haruhi.
"Host Club?" Ichigo terkejut seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Haruhi.
"Hei, Rukia, jangan-jangan kita.." bisik Ichigo pada Rukia.
"Ya, kita masuk ke dalam komik ini. Sepertinya karena tanda segi enam itu." balas Rukia sambil berbisik juga.
"Bagaimana cara kita kembali?" tanya Ichigo.
"Aku juga tidak tahu!" jawab Rukia.
"Kalian sedang apa?" Honey-senpai tiba-tiba mendatangi Ichigo dan Rukia yang lagi asik bisik-bisikan.
"A..anu..apa ada tanda berbentuk segi enam di sekitar sini?" tanya Rukia.
"Segi enam?" Honey-senpai berbalik ke belakang dan bertanya pada yang lain. "Di sekolah kita ada tanda segi enam tidak?"
"Segi enam?" tanya si kembar.
"Segi enam.." kata Mori-senpai sambil berpikir.
"Segi enam......" Haruhi meletakkan tangannya di dagu.
Tamaki tidak berpikir, tapi masih meringkuk ketakutan.
"Ah! Aku tahu!" Haruhi menepukkan tangan kanannya yang terkepal di telapak tangan kirinya.
"Kau tahu?!" tanya Ichigo semangat.
"Dimana??" tanya Rukia tak sabaran.
"Ada di—" ucapan Haruhi terpotong ketika para perempuan murid sekolah itu masuk ke dalam.
"Wah, gawat! Tamu-tamu mulai datang! Kita bicarakan nanti ya!" Haruhi bersiap pergi ke arah tamu-tamu.
"Tunggu dulu! Kami harus kembali!" Ichigo menahan tangan Haruhi.
"Gimana kalau kau kerja sebentar di host kami ini? Baru kami akan memberitahu dimana tanda segi enam tersebut." Kyouya mendatangi Ichigo sambil membawa papan yang biasanya dia pakai untuk menulis.
"Jangan bercanda! Aku tidak mau!" Ichigo menolak dan melepaskan tangan Haruhi.
"Kalau begitu, kau harus cari sendiri. Kami sibuk dengan tamu-tamu kami ini. Bagaimana?" Kyouya menawarkan tawaran.
"Aku tidak mau! Ayo, Rukia!" Ichigo menarik tangan Rukia dan bermaksud keluar dari ruangan itu.
"Ichigo! Kurasa kau harus menerima tawarannya." seru Rukia.
"Kenapa?!" tanya Ichigo kesal.
"Siapa tahu tanda itu kecil dan kita akan semakin lama untuk mencarinya di sekolah yang luas ini!! Kalau kau menerima tawarannya, kita akan semakin mudah mencarinya! Semakin cepat semakin mudah, Ichigo!!" omel Rukia.
"Ugh.." Ichigo menatap Rukia dengan muka jengkel, kelihatannya Rukia bersikeras.
"Baik..aku terima tawaranmu.." kata Ichigo lemas.
Rukia kelihatan puas.
"Baiklah kalau begitu..ehmm...siapa namamu?" tanya Kyouya.
"Aku Kurosaki Ichigo, dia Kuchiki Rukia." Ichigo menunjuk dirinya sendiri dan Rukia.
"Tuan Kurosaki, silahkan ke meja yang di sana, layani mereka." Kyouya menunjuk satu meja yang ada beberapa anak perempuan sedang berbicara.
"Aku harus ngapain?" tanya Ichigo bingung. Selama ini dia hanya membaca komik itu, tapi tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Ichigo hanya tertawa-tawa saja melihat tingkah mereka.
"Hanya mengajak mereka ngobrol saja. Kalau mereka tanya-tanya tentang hobi atau apa, kau jawab saja asal-asalan." lanjut Kyouya.
"Eh..o..oh..ya sudah..Rukia, aku pergi dulu ya.." Ichigo pamit pada Rukia dan pergi melambaikan tangan sebelum akhirnya Ichigo berbalik dan duduk di meja itu.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Rukia pada Kyouya.
"O iya, kau tidak bisa menjadi host..Tamaki! Dia harus ngapain?" Kyouya memanggil Tamaki yang sudah berbaur dengan cewe-cewe.
"Haruhi!" Tamaki menjentikkan jarinya. "Kau temani dia selama kita melayani tamu-tamu." suruh Tamaki.
"Benarkah senpai?" tanya Haruhi.
"Ya!" jawab Tamaki singkat.
"Kalau begitu, ehmm..siapa namamu?" tanya Haruhi sambil mendatangi Rukia.
"Aku Kuchiki Rukia, panggil saja Rukia." Rukia mengulurkan tangannya dan Haruhi membalasnya.
"Aku Fujioka Haruhi, panggil saja Haruhi. Ayo, ikut aku."
"Ya."
_Rukia-Agehanami021093_
"Kurosaki-kun, hobi mu apa?" tanya seorang cewe, sebut saja A.
"Ehmm..hanya baca komik dan tidur saja." jawab Ichigo.
"Kurosaki-kun sejak kapan bergabung dengan Host Club ini?" tanya cewe yang lainnya, B.
"Tadi, baru saja."
"Kurosaki-kun suka makan apa?" tanya yang lainnya lagi, C.
"Hmm..mungkin semacam takoyaki dan anmitsu.."
(A/N: Author kurang tahu Ichigo suka makanan apa T.T)
"Takoyaki?" tanya si cewe A.
"Apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya." lanjut si cewe B.
"Aku juga tidak tahu Anmitsu.." kata cewe C.
"Eh? Kalian tidak tahu?" tanya Ichigo heran. 'Cewe-cewe kaya kok tidak tahu makanan sederhana itu? Apa karena biasanya mereka makan makanan yang serba mahal?' pikir Ichigo.
"Ehmm..takoyaki itu makanan yang berbentuk bulat seperti ini, di dalamnya terdapat kakki gurita dan dicampur dengan kecap dan rumput laut..lalu anmitsu itu adalah manisan dari selai kacang dan buah yang dicampur dengan sirup.." jelas Ichigo.
"Kurosaki-kun tahu banyak ya!" seru cewe C.
"Ah, tidak juga." Ichigo tersipu malu.
Dari balik kursi, Rukia yang melihat Ichigo sedikit cemburu. 'Kenapa dia tersipu begitu sih? Huuuuhhh...' keluh Rukia dalam hati.
"Ah, Rukia-san tidak perlu sampai begitu, kami hanya melayani tamu-tamu tanpa melakukan hal-hal yang gak penting." Haruhi sedikit tertawa kecil melihat tingkah Rukia.
"Gak penting?" Rukia menatap Haruhi dengan wajah tidak percaya. "Jadi, itu apa?" Rukia menunjuk ke arah depannya.
"Maksudnya a—Gyaaaa!!" Haruhi teriak karena si Hitachiin Brother atau si kembar itu melakukan aksi homonya di depan cewe-cewe.
"Eh..ehm..i-itu hanya.." Haruhi gelagapan menjelaskan keadaan itu.
"Itu hanya servis dari kami saja sebagai host." tiba-tiba Kyouya datang menolong Haruhi.
"Begitukah?" Rukia menaikkan sebelah alis matanya.
"Ya. Kami tidak akan melakukan hal-hal seperti *** dan pe*******an" jawab Kyouya yakin.
"Oh.." Rukia cuma bisa ber-oho-ria aja.
Rukia kembali duduk dan menengguk teh mawarnya itu.
"Rukia-san, sebenarnya kamu darimana? Kenapa ada disini?" tanya Haruhi memulai pembicaraan.
"Aku dari Kota Karakura, sudah kubilang kan..hanya saja, ketika kami membaca komik tentang kalian ini, kami tersedot masuk dan akhirnya sampailah disini.." cerita Rukia.
"Ehmm..aku kurang mengerti, tapi intinya ini bukan dunia kalian kan?" tanya Haruhi sambil meneguk tehnya.
"Ya, kurang lebih begitu..kurasa kami bisa kembali kalau kami menemukan tanda segi enam tersebut.." jawab Rukia lemas.
"Semangatlah, aku tahu dimana keberadaan tanda itu, tapi untuk sementara, kau istirahat saja disini.." Haruhi tersenyum.
"Ya, kurasa aku harus rileks dulu seperti Ichigo."
"Pacarmu?"
"Eh? I..iya.." Rukia blushing mode on.
Haruhi cuma tersenyum.
"Kau cewe kan?" tanya Rukia.
"Eh?!" Haruhi kaget.
"Jangan bohong, dari wajahmu saja sudah ketahuan kalau kau itu cewe."
"Yah..bisa dibilang begitu.."
Padahal dalam hati Rukia bilang 'kalau aku gak baca komiknya, aku sangat yakin kalau dia itu cowo'
"Sampai jam berapa kalian melayani tamu-tamu seperti ini?" tanya Rukia.
"Kami hanya buka saat istirahat saja, jadi kami tutup saat istirahat selesai dan kembali ke kelas masing-masing. Lama waktu istirahat kami 1 jam, dan digunakan anak-anak perempuan untuk berkunjung ke sini.." jelas Haruhi.
"Oh.."
KRRIIIIIIIIIING!!!!
"Ah, bel sekolah berbunyi, istirahat kami selesai." kata Haruhi.
"Lalu kami bagaimana?" tanya Rukia.
"Sebentar. Tamaki-senpai! Mereka bagaimana?" tanya Haruhi pada Tamaki.
"Kalau begitu kalian ke taman bunga itu saja, tinggal turun dari sini dan lurus saja." Tamaki terburu-buru.
"Hei! Bagaimana dengan tanda segi enamnya?!" protes Ichigo saat mereka buru-buru mau pergi.
"Nanti saja! Kami mau masuk kelas dulu!" jawab Tamaki.
"Hei! Tung—"
BLAM! Seluruh anggota Host Club sudah keluar dari ruangan itu.
"Ah! Sial!"
"Sudahlah Ichigo, mereka kan juga sibuk, cepat atau lambat mereka pasti akan memberitahu kita." Rukia membetulkan terusannya yang berwarna putih dengan motif bunga sakura yang sedari tadi terlipat. Dia memakai sepatu datar dan berwarna merah muda.
"Tapi kan—" Ichigo yang saat ini memakai kaus warna hitam dengan jaket bertopi tangan buntung dan celana jeans dengan rantai dan kantong di bagian sebelah kaki kirinya merasa dia harus pergi saat itu juga.
"Sst.." Rukia menaruh jari telunjuknya yang mungil di bibir Ichigo. "Kita ke taman bunga itu saja ya?" bujuk Rukia.
"Y-ya.." Ichigo akhirnya menuruti kemauan Rukia dan pergi ke taman bunga yang ada dihalaman Ouran High School itu. Tentu saja, dengan bergandengan tangan..
-To Be Continued-
Hyaaa~ akhirnya selesai juga chapter dua ini..sebetulnya rada sudah untuk mengeluarkan kebodohan Tamaki dan kawan2 disini..hehe
Yah..mungkin fic ini agak ngebosenin soalnya w kurang berbakat dengan humor..dan w juga tidak mencantumkan humor di genrenya itu loh~
Trus w juga bingung nih, rayuannya Tamaki itu, biasanya penuh dengan omong kosong dan hanya rayuan tak berguna doang tuh omongannya -ditendang Tamaki fans- rada2 bingung gimana bikinnya, hehehe
Pingin masukin tokoh BLEACH lain juga nih..ada yang mau usul mau dimasukkin siapa?
Kalo mau usul, ketik seperti yang di bawah ini:
Nama tokoh BLEACH_gimana caranya bisa masuk ke komik itu
Oke deh~
Review please! Klik yang berwarna ijo2 di bawah ini, kalau anda tidak melihatnya, maka saya yakin, anda harus memakai kacamata..XD -ditendang-
Salam, Rukia-Agehanami021093
