"Sasuke?" Yang dipanggil menoleh kearah suara wanita di depan pintu, ini bukan film horor kok lagian ini masih siang.
Perempuan berambut pinku panjang tergerai tersenyum manis kearahnya, bajunya terusan berwarna putih motif bungan mawar, "Belum selesai?" wangi tubuhnya tercium seharum bunga melati, sekali lagi ini bukan cerita horor.
"Sebentar lagi. Naruto sudah datang?" Sasuke menumpuk buku-buku yang tadi berjatuhan, Sakura hanya membalas dengan gumaman, mata hijaunya melirik foto yang ada diatas meja. Wanita itu tersenyum dan ingatannya masih bisa terbayang dengan jelas.
"Perut Hinata makin besar, aku jadi ingin hamil juga," ia mengelus perutnya iri dengan Hinata yang sedang hamil enam bulan. Sasuke terkekeh, "Wanita hamil itu makin cantik, benar kan Sasuke?"
Sakura membantu mengunci pintu kemudian mengikuti Sasuke dari belakang, menatap punggung lebar yang semakin jauh meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Bahkan setelah mereka punya anak, Sasuke yang sekarang tetaplah Sasuke yang dulu.
Sakura meremat tangannya mencoba melampiaskan emosi rasa masa lalu.
.
.;.
.;. The Guardian Part 2 .;.
.;. Kamiya Chizuru presents .;.
.;. Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga Fanfiction .;.
.;. Naruto © Masashi Kishimoto .;.
.;. Warning : Typos, AU, Bullying, Plot Twist .;.
.;. Pairing : SasuHina, slight NaruSaku, slight Naruhina, slight SasuSaku .;.
.;. DON'T LIKE DON'T READ .;.
.;.
.
Setelah kejadian kemarin, Hinata masih belum paham jika kondisinya tidak aman. Gangguan minor hanya dianggap ulah jahil teman-temannya yang dia sendiri pun tidak tahu apa sebabnya. Bersyukur masih minggu-minggu pertama sekolah, belum ada ulangan, kuis ataupun pe er. Hinata berangkat sekolah dengan perasaan hampa. Tidak ada lagi Naruto yang menjemput kemudian berangkat bersama, tidak ada orang yang ia buatkan bekalnya, tidak ada yang bertengkar di pagi hari gara-gara hal sepele.
Sasuke mungkin merasakan hal yang sama. Naruto yang bisa dibilang teman satu-satunya tidak lagi bisa mengganggu kehidupan Sasuke.
Loker sepatu miliknya tepat dibawah kotak sepatu Sasuke tapi hampir tidak pernah mereka bertemu saat pulang ataupun berangkat. Hinata mengambil sepatunya dan memasukkan kakinya tanpa prasangka, emang apa sih yang bisa-
"Itte…"
-paku payung. Hinata mendesah sedih, siapa yang meninggalkan paku payung di sepatunya? Klub mading lupa menaruhnya? Kira-kira begitulah pikiran Hinata. Karena klub yang sering memakai pin up semacam ini hanya klub mading. Dengan hati-hati dan teliti Hinata mengambil satu persatu dan membungkusnya kedalam plastik kecil bekas permen yupi jeruk lalu meletakannya di dinding mading.
Beberapa siswa yang melihatnya mengira Hinata sedang membagi permen gratis, tapi begitu dilihat lebih dekat terlihat pin up warna-warni, bukannya permen yupi.
"Ohayou~"
Ada beberapa siswa yang sudah berangkat dan duduk ditempatnya masing-masing tapi tidak ada satupun yang menjawab. Hinata positif thingking, mungkin tadi suaranya terlalu kecil atau telinga mereka yang sudah tuli sebelum masanya. Ia duduk di kursinya sendiri lalu mengambil light novel Kuroko No Basuke keluaran terbaru, dalam damai dia membaca, sesekali tersenyum simpun membaca kebodohan pasangan Aomine dan Kagami, itu novel BL ternyata.
Duk.
Hinata melirik ke arah samping, sudah ada Sasuke dan sekotak rokok di mejanya. "Apa?" merasa risih telalu diperhatikan perempuan, Sasuke menyalak tanpa perasaan. Ia menggeleng, poninya bergerak kanan kiri, lucu.
"Aku punya permen yupi, Sasuke-kun mau?"
Beruntung death glare Sasuke tidak bisa membunuh orang ataupun menyalakan amaterasu, Hinata mengambil dua permen di sakunya, mengulurkan tangannya pada Sasuke.
"Apa aku terlihat seperti penikmat gula?"
"Eh?" Hinata tersikap, "Ini rasa jeruk, kok. Ga manis." Dibilang sengaja memang sengaja, siapa tahu begitu Sasuke bakalan suka rasa jeruk jadi kemarin pas pulang sekolah Hinata sempet-sempetin mampir konbini beli sebungkus sedang permen yupi rasa jeruk isi 20 biji yang terbungkus plastik yang lebih kecil.
Bingung menuju galau, Sasuke suka jeruk. Darimana perempuan aneh itu tahu? Sasuke ragu ingin mengambilnya langsung dari tangan Hinata. Tahu kalau Sasuke punya harga diri tinggi, Hinata mengalah dan meletakannya diatas meja Sasuke.
"A-"
"Douitta," Hinata kembali membaca bukunya, diam-diam perempuan itu tersenyum senang, pagi-pagi sudah terasa segar melihat wajar Sasuke yang sebenarnya tampan tapi sayang dingin, kan ga enak rasanya. Coba kalau Sasuke bisa lebih hangat sedikit, Hinata rela nyolong cabe rawit punya klub kebun dan menikmati setiap jengkal tubuh Sasuke, eh emang Sasuke ini sejenis gorengan?
.;. The Guardian © Kamiya Chizuru .;.
Sasuke menyelesaikan lari keliling lapangan paling awal, tubuhnya mandi keringat dan seragam olahraganya juga basah di beberapa tempat, mengunggu yang lain menyelesaikan tracknya Sasuke duduk selonjor dibawah pohon rindang dan meminum air mineral. Sambil menyeka keringat di sekitar wajahnya, Sasuke melihat perempuan itu duduk disamping guru masih dengan memakai seragamnya –bukan baju olahraga.
Sadar dilihat orang, Hinata tersenyum kearah Sasuke dan dibalas tatapan tajam dan raut wajah tidak peduli. Hinata jadi bingung, dia salah apa sampai Sasuke segalak itu padanya. Apa mungkin permen yupinya tidak enak?
Pelajaran P.E hari ini pun hal tragis menimpanya, seragam bersih habis disetrika semalam tiba-tiba berwarna hitam akibat tumpahan tinta. Sensei hanya tahu Hinata tidak membawa seragam olahraganya karena lupa dan sebagai hukuman Hinata harus mengumpulkan essay dengan tema 'Kebun Ku'. Sebagai Hyuuga, pandangan terhadap Hinata tidak jauh-jauh dari kebun teh berpuluh-puluh hektar.
Seakan dewa keberuntungaanya sedang cuti hari ini, ketika pulangpun sepatu Hinata entah hilang kemana. Ia sudah mencarinya hingga sekolah sepi , jam lima lebih dua puluh Hinata pulang dengan sepatu kelas. Nanti bisa dia cuci kalau kotor, untung ada sepatu cadangan juga di rumah.
Naruto belum menghubunginya hari ini, katanya laki-laki itu sedang MOS di kampus dan bakal jarang menghubungi Hinata sementara waktu. Sebagai pacar yang baik, Hinata sih iya-iya saja.
"Kenapa sepatumu?"
Ia berjengit mendengar suara rendah dibelakangnya, "Sa-Sasuke-kun?"
"Hn,"
"Ettou, tidak apa-apa hanya lupa… ganti sepatu tadi, hehehe." Hinata berusaha ceria atau bisa dibilang bertingkah bodoh.
Sasuke menyesal sudah peduli, orang bodoh macam Hinata hanya membuang tenaganya sia-sia, bahkan hanya untuk menyapa dan bertanya. Dia berjalan mendahului Hinata tanpa pamit ataupun sekedar melambaikan tangan, Sasuke berbelok ke arah kompleks rumahnya.
.;.
Beberapa hari setelahnya adalah hari tenang bagi Hinata, tidak ada gangguan yang membuatnya susah. Malang tidak dapat di tolak, tadi pagi sudah lupa minum susu cokelat dan sekarang di sepatunya ada yang bergerak-gerak.
Kebetulan, ini sungguh kebetulan Sasuke berangkat lebih pagi dan bertemu dengan Hinata di loker sepatu. Laki-laki itu hanya menunggu Hinata selesai mengambil sepatunya, memasangnya lalu pergi. Tapi yang ia lihat justru wajah pucat dan bibir yang bergetar, lokernya sudah terbuka dari tadi tapi tidak juga mengambil sepatunya.
"Hei cepatlah," Suara rendah Sasuke mengagetkan Hinata, wajahnya semakin pucat.
"Kyaaa!"
Brugh!
Kaget.
Sasuke kaget tiba-tiba diterjang perempuan selain Sakura, berbeda dengan pacarnya gadis ini punya sesuatu yang lebih mengganjal di bagian dada, sial. Sasuke blushing ditempeli benda aduhai itu.
"Hiks, takut… menjijikan… hiks." Ia terus mengulang-ulang kalimat itu di pelukan errr Sasuke.
Mata oniks itu paham setelah melihat kodok hijau meloncat keluar dari sepatu Hinata, rupanya dia ini takut dengan kodok. Pasrah menjadi sandaran atau bahkan lap ingus Hinata, Sasuke masih belum mau bergerak. Dia lebih memilih diam dan menunggu sampai dia tenang dan pergi dari tubuhnya, beberapa siswa yang lewat ikut-ikut diam, lebih tepatnya penasaran. Tapi ada juga yang diam-diam mengambil foto mereka sambil cekikikan.
Beberapa menit kemudian si bodoh sadar dengan posisinya, "Go-go-go-gomeeeeennnnnn yooo….."
Astaga, Sasuke menepuk jidat.
Kenapa juga harus menangis sih?
"Huwaaaaa….. huwaaaaaa uhuhuhuhu huuuu srrrooott huhuhuhu srooott… gomeeennnn…"
Lihat tampangnya, airmata yang tumpah, ingus yang menjijikan dan bibir yang bergetar. Tanpa menambahkan perasaan cinta, Sasuke tahu wajah seperti ini cukup menggoda,
Untuk lebih dibuat menangis,
Lebih keras lagi.
Ini di sekolah, Sasuke menampar dirinya sendiri di dalam hati dan dia sudah punya pacar! Kalau dia memang ingin dia bisa memintanya pada Sakura. Tapi, semesum apapun Sasuke yang kadang hobi nonton bokepnya kambuh, tapi belum sekalipun pernah mengajak pacarnya berbuat yang di larang agama. Sasuke masih bisa memikirkan resiko kalau-kalau menghamili anak orang padahal dirinya belum mampu secara materi, ck ck ck dewasa sekali si bungsu ini.
Tetapi rasa-rasanya si Hinata ini adalah godaan terbesar 'adik'nya.
Rumput tetangga emang lebih hijau bung!
Selesai menangis dibarengi bel masuk yang berbunyi, Sasuke entah mengapa mengantar Hinata ke UKS agar dia lebih tenang akibat seekor kodok kurang ajar nongkrong di sepatunya. Hinata pun masih enggan memakai sepatunya.
"Pakai sepatuku, ukuran kita sama." Sasuke mencopot sepatunya dan dipakaikan untuk Hinata, dia sendiri memakai sepatu bekas kodok.
"Un, Arigatou, Sasuke-kun."
"Hn."
Mereka berduapun ke kelas bersama-sama.
.;. The Guardian © Kamiya Chizuru .;.
Sabtu sore, setelah beberapa kali ada halangan Naruto akhirnya ada waktu berkencan dengan pacar dan sahabat-sahabatnya. Di sebuah family restaurant, dua parfait coklat dan jeruk ada di depan Hinata dan Naruto, segelas es kopi di depan Sakura dan secangkir espresso dinikmati oleh Sasuke.
"Bagaimana kuliahmu, Naruto-kun?"
"Woah menyenangkan sekali, banyak orang dari luar kota. Ada juga dosen rapper lho." Rame, kalau ada Naruto pasti rame. Sakura ikut tertawa dan ikut membanggakan teman-teman kuliahnya juga dan menganggap mata kuliah semester satu terlalu mudah baginya, tidak heran Sakura kan jenius.
Hinata menyendok parfait jeruknya sambil tersenyum menanggapi ocehan duo NaruSaku sambil di selingi jitakan karena Naruto memuji kakak kelas yang cantik-cantik, diteriaki bodoh karena tidak memikirkan perasaan Hinata. Yang di sebut namanya hanya tertawa renyah dan memaklumi kalau Naruto orang yang supel dan ceplas-ceplos, "Sasuke-kun?"
Sasuke yang tadinya hanya menatap ke luar menoleh kearah Hinata yang duduk di sampingnya, "Hn?"
"Mau coba?" Sesendok eskrim dan bulir jeruk ada dihadapannya, Sasuke tergoda.
"Hn." Tak acuh memang sudah menjadi sifat Sasuke, dengan tenang dia menerima –memakan eskrim yang Hinata tawarkan. Ia tersenyum Sasuke sudah tidak cuek padanya, padahal dia juga sudah menyiapkan mental kalau-kalau Sasuke justru membentaknya.
Sakura terdiam, baru kali ini sepanjang mereka berpacaran Sasukenya menunjukkan eskpresi tanpa pertahanan, terlihat lebih lepas dan nyaman. Sejak kapan mereka sedekat ini? Berbeda dengan Naruto yang pura-pura tidak melihat, tangannya dibawah meja menggenggam tangan Sakura mencoba menyalurkan kekuatan dan ketabahan.
.
Mobil berwarna hitam itu terhenti disebuah area perumahan, disebuah rumah bernomer 7 bercat hijau dan kuning mirip eskrim melon campur lemon.
"Apa kau curiga mereka selingkuh di belakang kita?"
"Entah. Aku tidak pernah berpikir Hinata tipe orang yang seperti itu."
"Tapi sejak kapan mereka dekat?"
Naruto mencoba berpikir dan akhirnya tidak mengingat sedikitpun kedekatan mereka saat masih di SMA. "Entahlah Sakura-chan." Mereka masih diam, Sakura belum mau turun dan masuk kedalam rumah begitu juga dengan Naruto yang masih ingin menikmati kebersamaan mereka lebih lama.
Ia terbiasana naik kereta kemana-mana, tahu pacarnya selalu sibuk entah dengan urusan apa, Hinata tidak pernah mengeluh pulang sendiri. Tapi, ia tidak sendiri sekarang walaupun berjauhan, ada sosok Sasuke yang berdiri di dekat pintu keluar sambil menyumpalkan earphone di kedua kupingnya.
Selama perjalanan pulang Hinata tahu dia diikuti, tapi tidak ingin sok bawa perasaan. Dia hanya menganggap kebetulan orang itu ada urusan di sekitar rumahnya. Sampai ia berhenti di depan rumah dan laki-laki itupun berhenti tidak jauh darinya.
"Oyasumi."
"Hn."
.;. The Guardian © Kamiya Chizuru .;.
Tepatnya kapan ketika mereka mulai berbagi bekal, berada dalam satu kelompok praktikum dan olahraga hingga pulang bersama. Tidak ada satupun diantara keduanya yang ingat, semuanya mengalir begitu saja.
Kabar keretakan hubungan Hinata dan Naruto beredar luas sejak kedekatan mereka. Tidak ada yang keberatan melihat keduanya sering terlihat berdua. Bullying terhenti sementara waktu, Hinata lega ia tidak harus bermasalah lagi dengan sepatu.
Hinata ataupun Sasuke tidak sadar jika cinta itu datang karena terbiasa.
Terbiasa diabaikan pacarnya,
Terbiasa sendirian sama dengan jomblo pada umumnya.
"Sakura? Eum mungkin sekitar dua minggu kami tidak bertemu."
Mereka ada di taman belakang sekolah yang penuh pohon rindang, tempat favorit tidur siang atau cuman mengisi waktu luang –ketika kebanyakan siswa belajar ada beberapa pemalas yang lebih suka bermain layang-layang.
Hinata tidak membolos, Sasuke juga sudah mengurangi kebiasaannya dan berubah menjadi murid polos. Mereka berdua selesai makan siang, dessert Hinata beruba puding belang dan Sasuke lebih suka merokok dekat ilalang.
Ia sedikit frustasi, Naruto susah dihubungi, kotak emailnya sepi. Sebulan sudah Naruto beralasan sibuk kuliah, acara klub peneliti sawah hingga belalang sembah, Hinata baru tahu jika pacarnya banyak ulah. Seperti kebanyakan pacar, Hinata hanya ingin waktu Naruto barang seventar.
"Kau bisa kerumahnya kan, kalau kangen?" Sasuke menginjak putung rokoknya sampai benar-benar padam. Hinata belum selesai melamun, belum bisa menangkap ucapan Sasuke dengan betul.
"Aku tidak terbiasa… ke tempat laki-laki." Laki-laki disitu mendesah maklum.
"Aku antar." Lagian tempat Naruto lumayan dekat dengan tempat Sakura, sekalian saja. Kemarin si pinku berlabel siswa teladan request kue pancong deket sekolah, sekalian dibawain biar dikata pacar yang baik. Sasuke selalu sadar kok kalau dia sering ga meratiin Sakura secara mesra.
Apalah Sasuke, belum punya pengalaman, nama Romantis tidak tercantum di akte kelahiran.
.
Naruto memilih tinggal terpisah dari orang tuanya, begitu pula Sakura. Bukannya ngekos biar banyak temannya mereka justru ngontrak rumah biar ga terganggu belajarnya. Orang tua sih iya-iya aja, toh duit juga ada. Mereka sudah dewasa, kenyataan bahwa kedua orang tua mereka menyukai keduanya bersama-sama dengan arti yang berbeda-beda, syarat letak tempat yang dekat satu sama lain harus ada tanpa tolakkan. Naruto ataupun Sakura beruntung, keduanya menemukan tempat kontrakan yang hanya berjarak lima meter satu sama lain.
Sasuke pernah ke tempat Sakura, belajar judulnya tapi malah berakhir main PS. Tidak ada ciuman, pelukan atau anu-anuan. Sasuke bagai aseksual tanpa pernah berpikir kotor dengan Sakura sebagai tokoh utama.
Sekantong kue lapis lengkap dengan arem-arem isi ayam dibawa Hinata, niatnya sekalian aja dia bawa buat Naruto. Karena tadi kue pancongnya habis, Sasuke batal membawa apa-apa. Yasudah, bukan rejeki Sakura.
Sasuke menekan bel berkali-kali tapi tepat tidak nampak batang hidung Naruto. Mencoba membuka pintu, siapa tahu tidak terkunci. Dan ternyata pintu langsung terbuka pada tekanan pertama, mereka berdua perpandangan mengirim sinyal tanpa suara.
"Masuk?"
"Aku takut."
"Takut kenapa?"
"Ntar dikira maling."
"Maling masa ganteng?" Buk! Hinata menabok bahu Sasuke, ia merona. Sasuke narsis itu lain cerita, setelah mengenal beberapa lama ternyata Sasuke lumayan pede juga dengan tampangnya. Waow Hinata terkejut saat itu.
Akhirnya keduanya masuk setelah Hinata menggumamkan kata permisi perlahan-lahan. Sasuke mah cuek, nyelonong begitu masuk ke kamar Naruto yang letaknya hanya beberapa meter dari pintu masuk, Hinata diam setelah Sasuke memberi isyarat tetap disini biar Naruto ku panggilkan.
Pintu kamar Naruto terbuka sedikit, Sasuke mendorongnya pelan. Ia terdiam, mematung tanpa ungkapan. Merasa ada yang tidak beres, Hinata langsung menyusul Sasuke ingin tahu kenapa laki-laki itu terlihat kaku.
"Sasuke… kun?" Hinata mencolek Sasuke kemudian ikut mengintip kedalam kamar.
Suara desahan terdengar merdu, decitan ranjang terhenti pada kondisi ambigu, "Ah, Narutoohh kenapa berhen…. ti?"
Hening.
"Hinata?"
"Heh? Sasuke?"
"Omae…"
.;.
.;.
Tibici
.;.
Thanks to : sasuhinagaalover, hwang ahbo, aindri961, line-chan shl, fleur choi, ucsahyhi, nonono,sandara, ashura darkname, chintyarosita, rahmi, hanhuw, yuka, sasuhina, bettyarinda c. b, pinky lav145. Karena umumnya pada bilang lanjut, ya ini yah lanjutannya. Kalaupun ada yang mau komen panjang juga ga masalah kok saya suka bacanya, yang ga bisa ngereview ga perlu les tambahan kalau mau ngeriview, cukup sediain keikhlasan aja buat ngeklik tombol review dan utarakan apa yang anda pikirkan? Kalau speechless? Makasih udah mau baca.
A/N Hai hallo, domo minna-san~~~ genki? Ah akhirnya lanjut juga ya…. Saya mengakui ff ini banyak kurangnya, typonya, gajenya atau mungkin banyak kalimat tidak pas di penempatannya, saya akui itu ada yang sengaja dan tidak disengaja. Nulis bukan perkara sempat tidak sempat kalau saya bilang. Maaf kalau ada yang nungguin. Ini spesial ga pake telor karena ayamnya pada makan pil kb. Nah, REVIEW/SARAN/KRITIK/PERTANYAAN dipersilahkan.
Arigatou.
Sign,
Zuru janai, Chizuru da.
08 September 2015, 02:57 PM, 9 pages, 2498 words.
