Hai, semua! Anne datang lagi. Ini chapter ke duanya.

Thanks yang sudah review, ya. Nggak perlu lama-lama deh. Aku langsung cus aja :)

Happy reading!


Bangsal khusus anak di St. Mungo kini ramai dengan keluarga Weasley. Tampak sekali segerombolan orang dengan warna rambut merah jahe mengerubungi sebuah ranjang dengan seorang anak berambut sama sedang tertidur di atasnya.

"Sebentar lagi hasil introgasi pihak kesatuan penyidik selesai. Kita tunggu hasilnya apakah Yaxley Jr benar ada di bawah pengaruh sihir atau tidak," kata Ron menjelaskan pada Harry yang sejak tadi hanya bisa terdiam sepeti berpikir sesuatu.

Harry datang ke St. Mungo dengan menggendong Lily yang pingsan. Putrinya itu pucat dengan bibir membiru dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Hanya ia sendirian menjaga Lily di sana karena Harry sendiri lupa untuk mengabari istrinya tentang masalah ini. Ia terlanjur panik.

Sebagian dari keluarga, satu persatu meminta ijin pulang. Kecuali Molly dan Arthur masih setia menjaga cucunya yang belum juga sadar. Menurut Healer yang menanganinya, efek mantra Cruciatus yang diterima Lily sangatlah kuat.

Lily menerima serangan mantra itu lebih dari tiga kali. Ditambah lagi, kondisi tubuh Lily yang lelah setelah berolahraga dan kekuatan sihirnya yang masih sangat lemah. "Beberapa rusuk Lily patah. Paru-parunya juga lemah. Kami sudah memberikan beberapa ramuan penguat untuk penyembuhan organ dalamnya. Bersabarlah, Mr. Potter. Lily akan baik-baik saja." pesan Healer dari bagian spesialis anak.

Tak berselang lama setelah kepulangan George dan Angelina, seorang pria bertubuh tinggi semampai berjubah coklat Auror masuk ke bangsal Lily. Beberapa pasien anakyang ditunggu oleh keluarganya tampak ketakutan melihat ada Auror masuk. Kehadiran Harry tidak begitu ditakuti meski Harry adalah ketua karena memang ia sedang berpenampilan santai.

Hansen Newmark, salah satu anak buah tim Auror Harry datang menghadapnya. Hansen menganggukkan kepalanya memberi hormat. "Selamat sore, Sir. Hasil tim penyidik dengan tersangka Yaxley Jr telah selesai," kata Hansen mendahului

"Aku rasa kita bicarakan di luar saja, Hansen. Tidak enak dengan pasien yang lain," pinta Harry sedikit berbisik.

Ron baru menyadari jika pandangan beberapa orang di sana terpusat pada Hansen yang tampak mengerikan dengan jubah yang dikenakannya. "Kau betul Harry, aku tak mau mereka jantungan melihat ada Auror siap menangkap pelahap maut di ruang rawat anak,"

Dengan penuh rasa hormat, Harry meminta ijin keluar pada ayah dan ibu mertuanya, "pergilah, nak. Biar kami yang menjaga Lily," pinta Molly mempersilakan Harry dan yang lain untuk meninggalkan ruangan.

"Aku masih ingin di sini, Harry. Aku mau ada di sisi Lily saat ia sadar nanti," pesan Ginny menolak tawaran Harry. Harry mengangguk mengerti perasaan sang istri.

"Ahh, Hermione. Bisakah kau ikut, mungkin kami bisa membutuhkan saranmu,"

"Kalau aku mampu, tentu saja bisa, Harry!"


"Yaxley Jr memang sedang dalam pengaruh sihir ramuan polyjuice, namun ternyata ia juga terpengaruh kutukan Imperius. Mantranya hilang beberapa menit setelah kami memasukkan Yaxley Jr ke dalam selnya." Jelas Hansen kepada Harry, Ron, dan Hermione sesampainya mereka di halaman belakang St Mungo yang sepi. Mereka tak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh orang lain.

Harry terkejut mendengar hasil laporan anak buahnya itu, "itu artinya ada orang lain yang mengendalikannya?" sambung Harry mengambil kesimpulan singkat.

Hansen mengangguk. "Benar, Sir. Dan setelah kami mencoba masuk dalam ingatannya, kami menemukan satu sosok berjubah hitam sedang mendekati Yaxley Jr dan memperdaya dengan mantra-mantra. Kami tak tahu pasti dia siapa, wajahnya tak terlihat,"

Dalam penyelidikan pihak Auror, sesaat setelah Yaxley Jr sadar di dalam sel tahananya, gelagat anak mantan pelahap maut itu seperti orang linglung. Yaxley Jr berteriak-teriak seperti mencari seseorang. Menggerak-gerakkan jeruji tahanannya sambil berkata,

"'Aku akan membantumu, di mana kau sekarang?' Begitu yang dikatakannya. Ia mengaku, ada seseorang yang menemuinya dan menceritakan kisah bahagia keluarga anda, sir, yang rupanya.. sangat berbeda jauh dengan keadaannya.

Yaxley Jr juga mengatakan, orang yang menemuinya itu ingin merusak kebahagaiaan anda karena iri. Ia menjanjikan Yaxley Jr dengan kebebasan." Kata Hansen dengan sangat rinci.

Hermione perlahan mengerti maksud cerita Hansen. "Kebebasan adalah barang paling berharga untuk tawanan Azkaban, pantas saja ia mau membantunya. Tapi.. apa kalian tahu orang misterius itu laki-laki atau perempuan?" tanya Hermione.

"Jelasnya kami tidak tahu, Mrs. Weasley. Tapi menurut mereka yang membaca memori Yaxley Jr, orang yang mendatanginya memiliki suara yang terdengar seperti.. wanita,"

Hanya wanita dengan niat jelas yang berani masuk menyelinap ke dalam Azkaban. Meskipun Azkaban kini tak lagi dijaga oleh dementor, penjara bagi para penjahan sihir itu tetaplah jadi tempat yang sulit sekali ditembus penjagaannya. Berbagai mantra-mantra perlindungan dipasang di seluruh area Azkaban. "Itu tandanya, orang misterius itu memiliki kekuatan sihir yang sangat kuat, Harry," bisik Hermione sangat amat pelan. Sampai akhirnya ia sadar ada seseorang yang melintas di dekat mereka, "TIARAP!"

Dusss! Serangan tak terduga datang hampir membahayakan nyawa Harry dan yang lainnya, untung saja meleset sehingga mengenai pot bunga hingga pecah

"Stupefy!" Hermione menyerang seorang pria berseragam petugas medis yang hampir saja membahayakan nyawa mereka. Ia kalah cepat dengan serangan Hermione sebelum mengeluarkan serangan kedua.

Harry, Hansen, dan Ron langsung mendekat pada tubuh yang tersungkur itu. "Kau hebat, Mione!" puji Ron.

"Aku sudah melihat gelagat anehnya sejak kita mulai berbicara di sini," kata Hermione ikut mendekat.

Harry tampak mengeluarkan tongkatnya setelah Hansen siap memegang tangan pria itu. "Finite!" rapal Harry dengan mengayunkan tongkatnya. Seketika wajah si pria berubah dari ekspresi datar menjadi panik ketakutan.

"Harry Potter?! Ahh ada apa ini? Apa yang anda semua lakukan?"

"Kau tadi terpengaruh sihir, kau hampir saja melukai kami. Siapa yang terakhir kau temui?" Ron mulai geram dengan situasi yang ada, Harry coba menenangkan si pria yang diketahu bernama Adam. "Maafkan kami sudah melukaimu, tapi tindakanmu tadi hampir saja membunuh kami karena kau sedang terpengaruh mantra kutukan. Kalau kau bersedia, katakan siapa yang terakhir menemuimu sebelum kau sadar sekarang?" pinta Harry dengan sopan. Ia paham dengan kondisi pria itu.

"Aku tak tahu, aku baru saja keluar dari ruang penyimpanan ramuan sampai aku mendengar ada suara wanita yang memanggilku meminta tolong. Saat aku berbalik.. aku sudah tak ingat lagi, sir,"

Tak jauh dari tempat mereka berkumpul terdengar suara dentuman cukup keras dari arah lorong sempit sisi bagunan, "seperti ada yang ber-Apparate," Ron lantas berlari mencari tahu dengan tongkat siap di tangannya.

"Harry! Kemarilah!"

Suara Ron terdengar seperti orang panik. "Ada ap—"

Ron menunjuk sebuah kertas yang tergeletak di tengah bekas hamburan debu.

Selamat menikmati kehancuranku, Potter!

- Tbc -


Sudah mulai ada petunjuk, nih, siapa pelakunya. Ada yang sudah bisa tebak?

Reviewnya teman-teman! :)

Thanks,

Anne xo