Selalu, terlalu banyak pilihan dalam hidup…

.

.

an Hetalia FanFiction

..

Snow Over Me

..

..

.

Antonio Fernandez Carriedo

Bella Maes

Krasivanya Braginski

Lovino Vargas

Alfred F. Jones

.

.


"Katya! Katya kau mau kemana?"

"Aku harus pergi Toni,"

"Sekarang? Kenapa terburu-buru? Ayo kita main ayunan lagi!"

"Toni, aku tak bisa…"

"Kau bilang kau akan jadi temanku selamanya!"

"Aku memang temanmu,"

"Seorang teman takkan saling meninggalkan seperti ini!"

"Toni kau harus mengerti, keluargaku…"

"Ya! Aku sangat mengerti, keluargamu bangsawan yang terkenal, dan aku hanya rakyat biasa!"

Anak lelaki itu berlari meninggalkan temannya. "Bilang saja kalau kau malu berteman denganku!" Kemudian ia menghilang di balik pepohonan.

Suhu Madrid saat itu cukup dingin. Sedingin hati Katya yang ditinggal pergi sahabatnya.

"…bukan bangsawan Toni, mereka…"

..

.

Lagi-lagi mimpi itu datang menghampiriku.

.

Antonio mungkin mengira dirinya telah berada di surga jika bukan karena bunyi teratur dari elektrokardiogram yang berada di samping ranjangnya. Pandangannya menyapu sekeliling. Dan benar saja, ia sedang dirawat di sebuah ruangan penuh alat-alat medis rupanya. Spekulasi pertamanya, ia tengah berada di ruang ICU. Betapa tidak, Antonio ingat betul malam sebelumnya merupakan mimpi buruk terbesar baginya. Perkelahian yang tak berhasil ia menangkan itu tak hanya meremukkan tubuhnya, namun juga hatinya.

Di sofa mungil di sisi kanan ranjang, duduk seorang wanita dengan kepala yang bersandar para dinding. Nampaknya, wanita itu sedang tertidur pulas. Antonio tak dapat menangkap dengan baik wujud sosok itu, pandanganya masih terasa kabur. Namun, siapa lagi selain Bella yang mampu berada di sisinya disaat seperti ini. Dengan segenap tenaga yang dimilikinya Antonio berusaha memanggil wanita itu.

"Bella…" rintihnya pelan. Namun, wanita itu tetap bergeming di posisinya.

Sang Spaniard masih berusaha. Ia mencari tombol bel yang dapat ditekannya untuk memanggil perawat. Barangkali kedatangan perawat dapat membuat Bella tersadar akan kepulihan dirinya dari koma yang singkat. Tombol itu ternyata ada, tepat berada di samping kanan kepalanya.

Baru saja Antonio hendak menekannya, sang wanita terbangun.

"ANTONIO?" pekiknya terkejut. Ia mendekati ranjang Antonio dan segera memeluknya.

Tunggu dulu…

Wanita ini, logat khasnya, dan suara indahnya. Antonio sangat mengenalnya. Bahkan aroma Rozovyi dari Novaya Zarya yang selalu melekat pada tubuh wanita ini.

Mana mungkin ia ada disini?

Antonio terus mengerjap hingga pandangannya cukup membaik. Setidaknya untuk memastikan siapa sebenarnya sosok wanita ini. Mungkinkah spekulasinya melenceng begitu jauh, hingga ia tak bisa lagi membedakan antara wanita satu dengan wanita lainnya?

Kini pandangannya mulai jelas, seharusnya wanita itu adalah…

"Anya?" gumam Antonio penuh tanya.

Ternyata spekulasinya salah besar.

Lupakan.

.

Anya? Mengapa dia yang ada disini? Bukankah seharusnya Bella? bukankah seharusnya Bella?

Pertanyaan itu terus bergema di telinganya. Ya, bukankah seharusnya Bella? Ia sekarat, dan berhasil lolos dari maut, dan bukankah seharusnya Bella yang mendampinginya di saat-saat seperti ini? Antonio begitu kecewa dengan ketidakhadiran Bella. Bahkan sangat dalam. Ingin sekali rasanya ketika ia membuka mata tadi, yang ditemukannya adalah sepasang iris hijau milik Bella.

"Antonio, bagaimana perasaan…"

"Dimana Bella?" potong sang Spaniard terhadap pertanyaan Anya.

"Umm, well..."

"Sudahkah kau memberitahunya aku ada disini? Dia pasti sangat khawatir…"

"Bella sedang…"

"Dimana Bella, Anya?"

"Dia…"

Anya memutar akalnya, mencari-cari alasan yang tepat mengapa wanita pujaan Antonio itu tak berada disini. Tentu Anya telah menghubunginya berkali-kali, namun tak ada jawaban. Ia juga telah menyuruh Alfred untuk menjeput Bella, namun tak ada siapa-siapa disana. Anya tak habis pikir akan apa yang tengah dilakukan wanita asal Belgia tersebut di malam tahun baru.

Memang tak adil rasanya ketika kau telah menyelamatkan nyawa seseorang, dan hanya ini kau dapat. Sebuah cacian karena kau bukan pahlawan yang tepat. Sosok yang tak diinginkan kehadirannya oleh sang korban. Dan tanpa sedikitpun terucap terima kasih, orang yang kau selamatkan berlari pada pahlawan lain. Yang bila kau perhatikan lagi, hanya tebar pesona dengan omong kosong yang tak berdasar. Bila aku menjadi Anya, ah lupakan, wanita ini terlampau seperti wonder women berhati malaikat.

"Dia sedang mencari waffle, Antonio," lanjut Anya tanpa keraguan sedikit pun. Senyuman kembali mengembang di wajahnya yang elok.

Antonio kembali merelaks-kan tubuhnya. "Ia baru saja pergi?"

"Ya, baru saja,"

Setelah berhasil meyakinkan Antonio, Anya segera meraih ponselnya. Ia mengirim pesan singkat pada Alfred perihal cerita yang baru saja dikarangnya. Barangkali Alfred menemukan Bella, ia bisa segera membuat karangan ini semakin menguat, dan bahkan berubah menjadi fakta.

Ada balasan dari Alfred.

"Got it, by the way, aku mendapat kabar tentang keberadaan Bella. Ia tak jauh dari sini, kau tahu? Ia berada di apartemen Vargas semalaman."

Hati Anya mencelos.


.

19:25 pm sebelum tahun baru.

Lovino yang sudah menanggalkan seragam dinasnya mengemudi dengan sangat hati-hati melewati jalanan yang beku karena salju. Bila ia lengah,satu detik saja, mungkin dirinya dan penumpang cantik yang ada disebelahnya berakhir di instalasi gawat darurat rumah sakit. Tentu saja ia tak menginginkan hal itu terjadi.

Kini jalanan yang menanjak curam membawa mereka ke puncak sebuah bukit yang tak jauh dari New York. Hanya membutuhkan waktu setengah jam bila memasang kecepatan 120 mph. Well, tapi Lovino tak berani mengemudi sekencang itu bila ada Bella di sampingnya.

Lovino dan Bella bisa dibilang telah saling mengenal sejak lama. Bahkan jauh sebelum Antonio mengenali Bella. Dahulu, mereka adalah sepasang remaja yang saling jatuh cinta di tanah kelahiran waffle tersebut. Kemudian, takdir memisahkan mereka. Lovino yang bercita-cita menjadi anggota NYPD, akhirnya terbang ke Amerika. Dan Bella, ia menetap di Belgia hingga keluarga Maes dan Carriedo memutuskan untuk melangsungkan perjodohan di antara anak-anak mereka.

"Lieverd, kemana kau akan membawaku?" tanya Bella ketika jalanan berhenti menanjak dan terlihat lebih stabil.

Lovino hanya tersenyum simpul.

"Kau senang sekali memberi kejutan, yah?"

Lovino sedikit tergelak, "In un luogo che le stelle saranno raggiungerci," jawabnya sangat halus.

"Kau masih ingat rupanya…" gumam Bella sebari mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Jalan yang mereka tengah lalui menembus hutan-hutan pinus yang rapat dan gelap. Tapi hanya di tempat gelap –lah cahaya redup yang indah itu dapat terlihat.

"Ingat?"

"Ingat bahwa aku begitu memuja langit malam yang penuh bintang…"

Keduanya tersenyum mengenang masa lalu yang indah itu.

Beberapa bulan yang lalu, Antonio menyadari bahwa ia meninggalkan ponselnya di rumah, ia yang saat itu tengah bertugas bersama Lovino segera kembali untuk mengambil ponsel yang tertinggal. Dari situlah pertemuan antara Lovino dan Bella terjadi.

Awalnya, kedua insan yang sudah lama tak bertemu itu ragu satu sama lain. Namun, ikatan kuat yang mereka rasakan ketika bertemu, membuat keduanya sepakat untuk mengadakan pertemuan lagi di lain hari. Pertemuan itu terus berlanjut tatkala keduanya menemukan kebenaran yang mereka cari. Kebenaran bahwa Bella adalah gadis yang dirindukan Lovino selama ini. Dan Lovino yang dirindui Bella sepanjang hidupnya.

Tentu saja pertemuan demi pertemuan yang mereka lakukan tak diketahui Antonio.

"Aku tak mengerti pada Antonio, Lieverd,"

"Tak mengerti kenapa?" jawab Lovino yang masih sibuk mengemudikan sedan putih miliknya membelah jalanan sepi menuju puncak bukit.

Kini jalanan semakin curam. Namun di ujung kelokan-kelokan yang mereka lalui, telah nampak jalanan yang lebih datar. Yang artinya, mereka akan segera tiba di tempat yang dituju.

"Padahal, aku pernah memberitahu Antonio tentang kecintaanku pada langit yang bertabur bintang, namun entah karena alasan apa, dia selalu memberiku sunset…"

"Berapa kali kau memberitahunya?"

"Satu kali, seperti yang aku lakukan padamu dulu,"

Senyum kemenangan menghiasi wajah Lovino.

"Lupakan dia sejenak, Bella, dan nikmati kilauan cahaya bintang yang gemerlap menaungi kita…" ujar Lovino seraya membuka moonroof yang berada di atas mereka. Membuat cahaya bulan menyinari kabin mobil yang gelap. Seketika atap mobil bagaikan dihiasi wallpaper langit malam.

"Lieverd! Indah sekali…"

Lovino hanya tergelak ketika melihat Bella yang begitu kegirangan.

Kini mereka tiba di puncak bukit. Puncak itu tak ditumbuhi pohon sama sekali. Ia terbentang luas dan membuat pemandangan sekeliling menjadi bersih. Sejauh mata memandang hanya padang alang-alang dan lapisan putih salju yang memenuhi tanah. Sedangkan bila menengadahkan sedikit pandangan ke atas, lautan di angkasa tengah memamerkan berjuta-juta koleksi bintang yang selama ini disembunyikannya.

Tak ada siapapun disana. Kecuali mereka berdua dan sejuta kenangan tentang masa lalu. Lovino menepikan sedan putihnya. Ia segera keluar dan membukakan pintu untuk Bella.

"Aku harap kau menikmati pertunjukan bintangnya, Tuan Putri…" Pria itu menuntun Bella keluar, seraya mempersilahkannya duduk diatas pembatas kayu.

"Ini hadiah terindah yang pernah aku terima, Lieverd," puji Bella.

Sungguh, ia sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan langit malam padanya. Berjuta-juta cahaya mungil di lautan hitam itu bagaikan mimpi-mimpinya. Redup namun mempesona. Pusat dari itu semua adalah cahaya bulan yang penuh kesucian. Meski saat ini tak purnama, namun cahaya itu tetap yang paling cemerlang.

"Bella…" ujar Lovino di tengah kesunyian yang melanda.

Bella menoleh padanya, "Ada apa?"

Pria itu ragu dengan apa yang ingin disampaikannya dan bagaimana cara menyampaikannya. Bertahun-tahun ynag lalu ia memang pernah mengucapkan kata-kata ini pada Bella. Itu dulu, ketika ia dan Bella sama-sama menjadi seorang remaja di tengah hangatnya kota Brussel. Namun sekarang semuanya berbeda, terutama karena telah melingkar cincin emas di jari manis Bella.

"Apa yang ingin kau katakan, Lieverd?"

Lovino menengadahkan pandangannya ke arah bintang-bintang.

"Aku tahu apa yang selama ini kita lakukan salah, aku tahu aku telah mengkhianati kepercayaan sahabat karibku, namun aku tak mengerti akan keinginan hati ini, Bella,"

"Bolehkah aku tahu keinginan hatimu itu, Lieverd?"

"Entahlah…" Lovino menghela nafas panjang.

"Aku ingin memilikimu lagi, ti amore…"

Bella tertegun sesaat. Sejurus kemudian, cahaya bulan yang menimpa wajahnya membuat lelehan air mata berkilau bagai cahaya cemerlang yang mengikuti komet.

….


..

Anya berada tepat di luar ruang ICU tempat Antonio dirawat. Ia tengah menunggu kedatangan Bella sejak beberapa jam yang lalu. Meskipun kini hatinya dipenuhi kebencian akan wanita itu, namun Anya tetap tak ingin Antonio tahu akan kebenaran yang digenggamnya saat ini. Ia tak ingin Antonio semakin hancur karena kenyataan yang harus dihadapi. Bagaimana pun caranya, Anya ingin melindungi Antonio dengan semua yang ia punya.

"Anya!"

Panggilan itu membuat Anya menoleh. Sosok yang pertama ditangkap manik violetnya adalah Alfred. Kemudian, dua orang yang berjalan di belakang Alfred pastilah Bella dan Lovino. Seperti yang biasa dilihatnya, wanita Belgia itu tersenyum riang seperti tak terjadi apa-apa. Anya berusaha keras untuk memendam emosinya.

"Selamat pagi, Anya! Selamat tahun baru!" sapa Bella yang langsung memeluk Anya dengan penuh kehangatan.

Anya membalas pelukan itu dengan dingin. "Ya, kembali," jawabnya tak bernada.

Tiba-tiba Bella memanfaatkan posisi itu untuk membisikkan sesuatu ke pendengaran Anya. Sejujurnya Anya sedikit terkejut, namun ia yakin, sepandai-pandainya tupai meloncat pasti akan jatuh juga. Kehangatan dan manisnya sikap Bella lambat laun akan terasa hambar dan palsu juga. Bahkan mungkin terasa pahit.

"Aku tahu kau mengetahui hal itu, Krasivanya, tapi aku mohon…"

"Kau tak perlu memohon," balas Anya sebari membuat jarak diantara mereka.

"Antonio sedang tertidur pulas, tapi kau bebas membangunkannya kapan pun kau mau… Bella," ujar Anya tersenyum semanis yang ia bisa.

Gadis bersurai platinum itu segera pergi meninggalkan ketiga orang di belakangnya. Ia tak menoleh lagi ke belakang, tak mau lagi.

Maka pagi itu, Krasivanya segera menyembunyikan sisi lemah dirinya dari publik. Ia mengemudikan SUV –nya membelah jalanan meninggalkan New York menuju sebuah villa kayu kecil di tengah hutan pinus. Hanya disini ia mendapatkan kedamaian dan kepulihan dari semua mimpi buruk yang dialaminya. Mimpi buruk tentang keluarga dan kakaknya yang ia tinggalkan demi mengejar sebuah kenangan masa lalu yang tak pasti. Di tempat ini, Anya mencurahkan semua keluh kesah yang selalu menghantuinya di New York.

Bahkan setelah ia berhasil menemukan orang yang dicarinya, kebenaran tak terungkap semudah yang ia kira.

.

.

Sekali kau salah memilih jalan, kau akan terjerumus selamanya…

.

To be continue…

.


Baiklah, ini semakin berbumbu telenovela-_-

bila ada yang ingin disampaikan perihal fiction ini silahkan me review, saya akan dengan senang hati menerimannya..

dah, oh, maafkan saya bila banyak kerancuan dan typo yang ditemukan disini :)

terima kasih sudah membaca :)

-Warmlatte-