Cihui, update chapter 2! Chapter ini berjudul 'Where Am I', yah kalo dari judul chapter sih tentu udah tahu dong ya, isinya apa *di tendang*

At first, Kingi mau jawab beberapa review yang ada di chapter yang lalu! :3

Hatake Liana: Aduh gomenasai, Kakashi-nya belum muncul di sini, masih nama aja.. . Tapi pasti ntar Kingi munculin kalau waktunya udah pas. Tenang aja, sesuai summary, semua karakter bakal muncul, kok! Yang karakter karakter umum ya, kalau kayak Haku gitu, kayaknya enggak deh. Hehe~

Yarai Yarai Chan: Bakal keren? Amin! Kingi usahain supaya ceritanya tetep keren XDD

Ruvina No Ookami Hime: Iya, soalnya dulu Kingi pernah sok-sok-an jadi backpacker ngarungin Jakarta dari ujung ke ujung tanpa orangtua, dan transportasi utamanya cuma busway sama bajaj. Jadi kalo sedikit-sedikit, hapal lah jalan di Jakarta.. *belagu banget* XD Eh? Engga pake gue-elu ya? Soalnya Kingi punya temen temen disana semua ngomongnya gue-elu sih, jadi Kingi kira semua gitu ^^ Emm, soal typo, Kingi gak gitu merhatiin juga. Alhamdulillah deh kalo enggak ada, wkwkwk. Iya maaf, cacat banget deskripsinya, jadi bikin bingung antara Shippuden atau enggak, maaf ya..

Zaaa-Chan: Ini bukan yang Shippuden... Buat yang chapter ini. Kalo chapter ke depan depanya lagi, enggak tahu deh, bisa tiba-tiba jadi Shippuden lho :pp

Love-Amethyst: Yap, ini adventure banget kok! Romance-nya ada, tapi mungkin dikit, karena Kingi enggak jago bikin romance *jujur*

Twingklypurp: Iya, itu ceritanya asli. Hihi. Mungkin mereka juga pengen ikutan Cosplay? XDD

Enjoy, minna!


.

Phantasm

By Kingi Dawn, 2010

Chapter 2: Where Am I

.


"…Aya.. Aya..!"

Aku mendengar sebuah suara yang memanggilku pelan.

"Gimana nih? Kok dia enggak bangun bangun sih?"

"Lo sih, ninggalin dia sendirian di sini!"

"Lo yang salah juga, gue kira kan lo yang nemenin dia."

Aku membuka mataku. Terlalu terang. Rasa-rasanya ini cahaya lampu. Hal yang pertama kulihat adalah wajah Olla.

"Akhirnya lo bangun juga, Ya! Engga tahu deh bakalan gimana kita-kita di apain sama ortu lo kalo lo tetep pingsan!" komentar Tisa.

Aku bangun, dan duduk, mengamati sekitarku. Ternyata backstage panggung. Terdengar suara-suara yang masih riuh di luar sana. Berarti acara masih berjalan.

"Kok tiba-tiba lo bisa pingsan gitu sih? Bingung kita jadinya.." kata Olla. Aku menggeleng. Sebenarnya aku juga bingung. Kenapa bisa pingsan, ya? Hal yang terakhir kuingat itu.. Aku melihat Sasuke.. Tunggu.. Sasuke yang mana? Yang cosplayer? Lho, kok aku jadi bingung? Memang Sasuke ada berapa versi? Sebentar, tadi itu bukan yang Shippuden, berarti Sasuke yang biasanya.

Aku tambah pusing memikirkan hal itu. Perlahan, aku berdiri.

"Acaranya belum selesai kan? Balik, yuk." kataku.

"Bentar lagi pengumuman pemenang Cosplayers. Lo yakin udah oke?" tanya Tisa, wajahnya prihatin.

"Iya, udah oke kok. Aku tunggu di bawah panggung ya," aku berjalan ke bawah panggung, berbaur dengan lautan manusia kembali.

MC masih sibuk cuap-cuap ngambil Door Prize, tapi aku bahkan enggak berniat mengamati karcis masukku—yang mungkin saja memenangkan salah satu hadiahnya. Aku benar benar penasaran kenapa aku bisa pingsan. Padahal yang terakhir kali kulihat kan.. Sasuke yang tersenyum sinis. Itu saja. Lalu, ruangan ini rasanya berputar.. Dan.. Aku enggak ingat lagi apa yang terjadi.

Hari yang benar-benar aneh.

Aku menoleh ke kiri dan kanan, berharap ada yang menyediakan minuman. Tidak ada. Parah. Aku keluar dari kerumunan manusia, dan mencari cafe atau tempat yang menjual minuman terdekat.

Itu dia! Aku melihat logo Jiko di kejauhan. Saat aku ingin beranjak menuju Jiko, tiba-tiba suasana riuh. Mungkin MC telah mengumumkan pemenang Door Prize utamanya, atau entahlah, aku tidak peduli. Yang aku inginkan sekarang hanya minuman. Apa saja. Lebih enak Green Tea atau Strawberry Float, ya?

Tiba-tiba saja, seseorang menyandung kakiku.

"Huwa!" aku sempat berteriak saat akan membentur lantai.

Setelah itu, gelap.

XD

XD

XD

...

"Hmm.. Halo? Tes, tes. Hei, Teme, kamu aja deh yang bangunin orang ini."

Sebuah suara kembali bergema di dalam kepalaku.

"Enak saja menyuruhku, Usuratonkachi. Aku tidak ada urusan dengan ini semua. Kau yang harus tanggung jawab, tahu!"

"Grrr...! Dasar Teme! Bantu temanmu ini dong!"

"Sejak kapan kita teman?"

"Argh! Aku benci kau!"

"Baguslah, kalau begitu, aku tidak bertepuk sebelah tangan."

Aku membuka mata. Sinar yang benar benar silau. Tapi rasanya hangat, berarti ini sinar matahari.

Aku berusaha mengucek mata, dan membuka mata lebih lebar agar bisa melihat dengan jelas.

Langit biru yang luas, awan yang putih, Naruto yang berkelahi dengan Sasuke versi sebelum Shippuden, atap-atap rumah Konoha,..

HAH?

Aku tersentak dan cepat cepat bangun. Kulihat, Sasuke dan Naruto berdiri di depanku.

Karena aku yakin mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia, jadi aku menggunakan Bahasa Jepang-ku yang pas-pas-an.

A/N Note: (Mulai sekarang, dialog di bawah adalah percakapan dalam Bahasa Jepang)

"I-ini dimana?" tanyaku singkat. Speechless, tepatnya.

"Konoha Gakure. Kau bukan seorang ninja, ya? Pakaianmu aneh!" komentar Naruto. Aku melirik diriku dari atas sampai ke bawah. Benar juga. Konoha. Dan pakaianku seperti orang-orang Jakarta pada umumnya.

'Ini pasti mimpi.' pikirku.

'Mana mungkin Naruto nyata, apalagi aku masuk ke dunianya.'

'Nah, kalau begitu hal pertama yang bisa kulakukan sekarang adalah, membangunkan diriku dari semua fantasi ini'

Aku mencubit lenganku kuat-kuat.

Sakit.

"What the hell going on here..?" teriakku, mulai panik. Aku tidak peduli apakah ini mimpi atau bukan, yang pasti sekarang aku tersesat dalam sebuah dunia antah berantah. Parah. Aku tidak pernah menganggap Naruto nyata. Itu kan, cuma manga buatan Masashi Kishimoto dan sekarang aku stuck di dalam dunianya!

"Oi Teme, kau tahu tidak, dia bicara bahasa apa?" Naruto berkomentar. Sasuke mengangkat bahunya.

"Kau yang tanggung jawab, siapa suruh berusaha membangunkannya." jawab Sasuke tak peduli.

"Jadi kau bermasud melewatinya begitu saja, hah? Dasar berdarah dingin, bodoh!" olok Naruto. Sasuke hanya tersenyum sinis.

"Kata 'bodoh' itu lebih pas untukmu." jawabnya santai.

"UAPAAAH?"

"A-ano.. Maaf mengganggu pertengkaran kalian.. Eh.. Ini di... K-konoha Gakure kan? Emm.. Apa kalian tahu jalan pulangku?" tanyaku terang-terangan. Memang pertanyaan ini sangat bodoh sebenarnya, karena aku ada di dalam keadaan yang tidak bisa membedakan antara realita dan mimpi.

"Jalan pulangmu? Memangnya rumahmu di desa mana?" Naruto malah balik bertanya.

"J-jakarta.." jawabku, tambah bodoh.

"Jakarta? Belum pernah dengar. Bukan aliansi Konoha ya, Teme?" tanya Naruto. Sasuke lagi-lagi hanya mengangkat bahunya.

"Aku hanya ingin mengingatkanmu, Dobe. Mengapa tidak kita bawa dia saja ke kediaman Hokage? Masalah selesai"

"Benar juga! Baiklah, ayo kuantar kau ke tempat Hokage!" kata Naruto, berjalan cepat.

Aku menoleh ke kiri dan kanan. Bangunan-bangunan tinggi dengan desain yang apik, udara yang masih segar dan hutan hijau yang terhampar dimana mana. Benar-benar Konoha. Aku mulai berjalan mengikuti Naruto, mengamati tebing yang terpampang dengan 4 pahatan muka. Hokage Pertama, Kedua, Ketiga dan Keempat. Berarti ini belum zamannya Tsunade. Sebenarnya sekarang ini jilid berapa ya?

"Kalian sudah ujian Chuunin?" tanyaku, untuk memastikan aku ada di waktu kapan.

"Belum. Kakashi-sensei sih sudah memberikan kartu peserta Chuunin kemarin, tapi ujiannya kan baru di mulai 3 hari lagi" jawab Naruto.

Oh. Berarti sekarang ini aku ada di dimensi Naruto, setelah pulang dari Negara Nami, insiden Haku dan Zabuza.

"Jadi, kalian mau ikut ujian itu?" tanyaku lagi.

"Begitulah! Tapi entah kenapa kemarin setelah mendapat kartu ujian itu, Sakura tidak seperti biasanya, ya kan, Teme?" Naruto menoleh ke arah Sasuke.

Sasuke hanya diam saja.

"Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu ya? Kalau namaku..."

"Uzumaki Naruto." potongku. Wajahnya terlihat agak kaget.

"Dan Sasuke Uchiha." Sasuke mendongakkan kepalanya, walaupun berusaha tetap santai, ia terlihat agak kaget juga.

"Hahaha! Ternyata aku terkenal ya, di Negara.. Mana itu? Jakarta Gakure?" Naruto merasa bangga.

"Kira-kira seperti itu. Memang terkenal kok, kalian semua, bukan hanya Naruto saja. By the way, namaku Aya. Panggil saja begitu" kataku memperkenalkan diri.

"Aya, ya. Nama yang bagus! Itu, kediaman Hokage sudah kelihatan!"

Seperti kata Naruto, gedung tempat tinggal Hokage ketiga itu sudah terlihat, tepat di bawah tebing pahatan wajah itu. Aku berdecak kagum. Kapan lagi bisa sampai ke sini? Pasti tidak ada orang lain yang seberuntung aku. Masalahnya.. Aku tidak mungkin selamanya tinggal di sini. Begini-begini juga, keluargaku pasti khawatir kalau aku tidak pulang pulang berhari-hari. Tisa juga, Olla juga,..

Mendadak, aku sudah kangen dengan mereka.

Aku memasuki kediaman Hokage, bertemu dengan Izumo dan Kotetsu yang sedang membawa banyak berkas di tangga.

"Kau bawa orang darimana, Naruto?" tanya Izumo heran.

"Jakarta Gakure! Pakaiannya aneh, kan? Hahaha!" jawab Naruto. Hentikan. Pakaianku sebenarnya tidak seaneh itu. Memang sih, di zaman seperti ini pasti belum ada Sneakers dan celana Jeans. Dan namanya bukan Jakarta Gakure, jelas-jelas Jakarta itu sama sekali bukan desa—tapi—ah, sudahlah! Biarkan saja. Mulai saat ini namaku Aya, datang dari Jakarta Gakure tahun 2011. Oke.

Naruto membuka pintu seenaknya. Sasuke bergumam seperti 'Coba ketuk pintu dulu, dasar Usuratonkachi'.

Saat masuk ke dalam ruangan, kulihat beberapa Jounin yang sedang duduk sambil mengerjakan banyak berkas berkas yang bertumpuk, masing masing di samping mereka terdapat secangkir kopi.

Di meja yang paling depan dan paling berukuran besar, duduklah Hokage ketiga, yang memakai topi dan jubah kerja Hokage. Wajahnya sudah tua—tentu saja, sedang mengisap cerutu. Ia tersenyum begitu melihat kedatangan kami bertiga. Aku membalas senyumannya.

"Wah.. Ada apa, sampai-sampai 2 anggota kelompok 7 datang ke sini? Apakah ingin memprotes peraturan ujian Chuunin..?" katanya, masih dengan nada ramah.

"Tidak, tidak, bukan itu! Aku dan Tem—maksudku, Sasuke. Di jalan tadi menemukan orang ini" kata Naruto sambil menarikku ke depan Hokage ketiga. Hokage ketiga melihatku, dari atas sampai ke bawah. Kutebak, pasti sebentar lagi dia akan bilang..

"Pakaianmu aneh sekali. Darimana kau berasal?" tanya Hokage ketiga. Walaupun aku orang asing, ia tidak menggunakan kata-kata yang terkesan menyelidik, dan tetap ramah.

"Jakarta. M-mungkin anda tidak pernah dengar, err... Tapi dari situlah saya berasal" jawabku, berusaha sesopan mungkin.

"Benar, aku tidak pernah dengar. Tapi yang aku tahu, auramu tidak menunjukkan kalau kau musuh negara kami. Bagaimana kau bisa sampai ke sini?" Hokage ketiga mulai mempertanyakan hal yang sebenarnya juga ingin aku tanyakan.

Bagaimana? Aku juga ingin tahu bagaimana! Lorong waktu? Dimensi? Mesin Waktu? Amigos Siempre? Doraemon? Segala hal yang ajaib berputar-putar di dalam kepalaku. Bingung harus menjawab apa, aku menggeleng.

"Maaf, saya juga tidak tahu bagaimana bisa sampai ke sini, err.. Dan saya juga tidak punya kenalan maupun tempat tinggal, jadi..."

"Oh, kau hilang ingatan? Kalau begitu, Hayate, berikan ini pada Ichiraku" suruh Hokage ketiga kepada salah satu Jounin yang sedang bekerja. Hokage menulis sesuatu di kertas, kemudian menyerahkannya pada Hayate. Jounin itu mengangguk, dan langsung keluar dari ruangan.

"Bukan hilang ingatan—saya masih normal, maksud saya.."

"Kau tertarik ikut ujian Chuunin?" potong Hokage ketiga, tidak mengindahkan pertanyaanku.

"Eh? Tidak, saya.. Ehmm.. Apa itu namanya.. Saya.. bahkan belum Genin. Saya.. bukan ninja."

Ternyata jawabanku membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengangkat kepalanya dan memandang tajam ke arahku.

"Benarkah? Aku baru pertama kali bertemu dengan orang seunik kau. Siapa namamu?" Hokage ketiga bertanya lagi.

"Aya. Naya Rakita"

"Genma, cari Naya Rakita." suruh Hokage ketiga. Seorang Jounin mengangguk dan keluar lagi dari ruangan.

Cari? Apanya yang di cari? Sepertinya kedatanganku membuat semua orang di dalam gedung ini repot, ya?

"Nah.. Sambil menunggu Genma dan Ichiraku, bagaimana kalau kita minum teh dulu? Kalian duduk saja disana, sebentar lagi teh dan senbei-nya juga datang."

Sasuke dan Naruto langsung duduk di sofa terdekat, sementara aku memilih duduk di depan meja Hokage, sambil melihat-lihat ruangan itu.

Tiba tiba, salah satu jounin yang bernama Genma memasuki ruangan lagi, membawa sebuah gulungan kertas.

"Bagaimana? Ketemu?" tanya Hokage ketiga. Genma mengangguk sambil mengacungkan gulungan, kemudian membukanya.

"Naya Rakita, 13 tahun, pindah ke Konoha dari Kirigakure 5 bulan lalu. Lulus sebagai Genin dari Konoha Gakuen, tapi belum terdaftar untuk mengikuti ujian Chuunin"

HAH?

"E-eh. Tunggu sebentar, itu sepertinya bukan punya saya.. Saya hanya remaja biasa yang.."

"Kalau begitu, tambahkan namanya ke daftar ujian"

"Anu, Sarutobi-sama! Saya..."

"Tapi semua kelompok sudah pas berisikan 3 orang Genin. Dia ini mau di masukkan kemana?" tanya Genma. Daritadi omonganku di potong terus.

"Kalau begitu, atas spesialisasi-ku, tambahkan dia ke suatu kelompok, supaya adil, panggil semua peserta ujian Chuunin kemari. Akan aku undi."

Keputusan Hokage ketiga rupanya membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget bukan main. Baru kali ini Hokage mau memberikan hak spesialisasinya untuk seorang perempuan tidak di kenal. Terlebih Naruto dan Sasuke, mereka juga tak menyangka keputusan itu akan menjadi sebegini jauhnya.

Aku menggigit bagian bawah bibirku. Rupanya kedatanganku memang membuat repot hampir semua orang. Terlebih lagi, aku di amanatkan untuk mengikuti ujian Chuunin. Mustahil. Bagaimana caranya? Aku bukan ninja. Tidak punya cakra, tidak punya Ninjutsu, Genjutsu ataupun Taijutsu. Apalagi, ujian Chuunin kan, 3 hari lagi. Terlalu sebentar untuk memulai latihan. Tidak, tidak mungkin. Aku hanya akan merepotkan 3 orang lainnya yang akan sekelompok denganku.

"Aya-chan! Masuk kelompokku saja ya!" teriak Naruto dari sofa. Aku bahkan tidak menoleh ke arahnya. Kepalaku pening, segala macam pikiran berputar-putar.

"Heh, dasar bodoh Dobe, kau kan sudah dengar kata Hokage, semuanya akan di undi." rutuk Sasuke.

Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini...?

XD

XD

XD

Aku berpindah posisi, duduk di pojok ruangan, memeluk lutut. Seluruh peserta ujian Chuunin sudah hadir. Ruangan mendadak sumpek, apalagi lengkap dengan guru pembimbing masing-masing. Aku melihat mereka dari belakang satu persatu.

"Tujuanku mengumpulkan kalian di sini adalah, terjadinya perubahan aturan untuk ujian Chuunin mendatang." Hokage ketiga berdehem, lalu melanjutkan pidatonya.

"Hari ini aku kedatangan seorang gadis kecil yang datang dari Jakarta Gakure—" semua menoleh ke arahku, pelan. Aku mendengar beberapa bisikan yang kira kira bergumam seperti ini, 'Jakarta itu dimana ya?'

"Dan langsung saja pada intinya, aku berniat memasukkan dia ke dalam salah satu kelompok kalian yang sudah di bentuk." akhirnya Hokage mengakhiri bicaranya.

"Eh? Bukankah kami sudah cukup 3 orang? Kalau nanti ada 1 kelompok yang berisi 4 orang, bukankah itu kurang adil untuk yang lain?" ujar Ino. Benar. Jadi tolonglah, jangan sampai aku benar-benar di ikutkan dalam ujian Chuunin, batinku.

"Ini spesialisasiku. Lagipula, menurutku bertambah 1 orang tidak masalah. Apa kalian akan merasa lebih lemah dari kelompok yang beranggotakan 4 orang? Tidak, bukan?" tanya Hokage. Semua menggeleng.

Ya ampun! Masa' aksi protesnya hanya segitu saja? Tolong!

"Tapi kalau Hokage-sama sampai mengeluarkan spesialisasinya, berarti orang ini sangat hebat, dong?" potong Sakura.

Yak, bagus. Kalian akan tahu kalau aku tidak bisa apa-apa nanti.

Hokage hanya tersenyum.

"Genma, ambil botol dan kertas itu. Maaf merepotkanmu, tapi bisakah kau memotong dan menggulung kertas menjadi 5 bagian?"

Genma melakukan perintahnya.

"Baiklah, ini sistem undian. Siapa yang mendapat kertas yang berisi simbol titik, akan kutambahkan anggotanya menjadi 4 orang"

Hokage mengocok botol yang berisi kertas itu, seperti sistem arisan.

Aku berdoa agar mendapat kelompok yang baik. Kalau bisa, kelompok Hinata atau kelompok Naruto saja. Orangnya baik-baik. Ya ampun. Sisanya enggak deh. Apalagi kalau sekelompok dengan Neji yang sifatnya masih sebelum komik jilid 12, bicara tentang takdir dan sombongnya minta ampun. Bisa habis aku dengannya.

Hokage ketiga menumpahkan kertas-kertas itu ke atas meja.

"Silakan ambil" ujar Hokage ketiga. Perwakilan kelompok—Kiba, Gaara, Neji, Sasuke dan Shikamaru masing-masing merogoh kertas.

Raut wajah mereka tidak berubah, tetapi Hokage tersenyum lagi, ia sudah tahu kelompok siapa yang akan di tambah anggotanya.

"Sudah tahu ya, siapa yang akan di tambahkan anggotanya." katanya.

Semua masih diam.

"Aya, kesini" panggil Hokage.

Aku merasa jantungku seperti mau copot saat Hokage memanggilku. Apalagi di lihati banyak orang begini. Aku merasa keringat dinginku mengucur. Padahal aku tidak pernah nervous kalau bertemu dengan orang baru. Tapi kalau begini sih, ceritanya lain lagi.

Aku berdiri sejajar dengan Sakura, berusaha memberanikan diri mengangkat kepalaku dan menatap mata Hokage.

Tok tok.

Keberanianku langsung runtuh lagi.

Hayate muncul di ambang pintu. Hokage melihat ke arahnya. Ia hanya mengangguk pasti.

"Aya, dengar. Karena penyakit hilang ingatanmu—"

"Saya tidak.."

"Jadi mulai hari ini kau akan tinggal menumpang di kedai Ichiraku Ramen. Orangnya baik, dan dia juga punya anak perempuan bernama Ayame. Kau akan aman di sana sampai ingatanmu tentang tempat tinggal dan jati dirimu kembali."

"Maaf, tapi.."

"Nanti Naruto akan mengantarmu kesana setelah ini." potong Hokage. Aku diam. Paling tidak sedikit lega, aku sudah mendapatkan tempat tinggal. Ichiraku Ramen? Ayame? Sama sekali tidak jelek! Aku sudah tidak sabar ingin mencoba ramennya yang terkenal enak di Konoha ini. Kalau melihat Naruto memakannya dengan lahap di animenya atau di komik, aku selalu kepingin.

"Jadi, seperti kataku, semua sudah mengambil undiannya tadi.." kata Hokage. Aku meneguk ludah. Inilah keputusan akan kematianku.

"Dan sudah di putuskan, kau akan masuk kelompok—"

:: To Be Continued ::


Muhahahaha! Selesai! Kingi tahu bersambungnya nyebelin banget, tapi Kingi emang maunya begitu, supaya ceritanya mengalir dengan enak nantinya, di chapter 3.

Oke, mohon reviewnya dong? :)