A Naruto's Fanfiction : Based on Masashi Kishimoto–san's Manga and Anime and Inspirated by Masami Morio–san's Manga
.
Seorang Young Lady dari keluarga Weinddrass mendapatkan hadiah dari Tuhan setelah semua orang yang berikatan dengannya kembali pada–Nya.
Sesosok manusia yang ternyata robot beridentitaskan nama Sasuke Gorria-Freckle, robot yang tak akan bisa berekspresi dan ternyata hanya membutuhkan Alkohol dan Cokelat untuk energinya.
Sasuke Gorria-Freckle telah bersumpah untuk selalu mematuhi perintah dari Young Lady–nya, Naruko Geel-Weinddrass –seorang gadis yang memiliki senyum yang bisa membangkitkan musim semi di kediaman Weinddrass.
.
Title : His Young Lady
Genre : Romance, Drama, Western
Rate : T
Pair : Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruko ( Female Naruto )
Warn(s) : Out Of Character (i am sorry), Cross Gender, Pedophile/Lollicon, AU , Typo (s), Gaje T^T
Clue (s)
Uchiha Sasuke ( Sasuke Gorria-Freckle ) : 20 years old
Uzumaki Naruko ( Naruko Geel-Weinddrass) : 12 years old
.
Keesokan paginya, Naruko Geel-Weinddrass bangun dengan perasaan yang nyaman dan... hangat. Ada kehangatan yang membungkus pergelangan tangannya–sesuatu yang telah lama tak dirasakannya. Dia mengerjapkan kedua matanya untuk memperjelas potret nyata akan sosok yang ada di dekatnya.
Sasuke tidur sambil menundukkan kepalanya dan terduduk di sisi ranjangnya. Di sampingnya. Sambil menggenggam jemari tangan kanannya.
Naruko memandangi wajah tampan Sasuke dari samping. Dia mengagumi garis wajah milik robot itu. Tegas dan dingin. Kemudian Naruko mengalihkan pandangannya ke bulu mata yang melindungi kedua bola mata berwarna kelam itu.
Sungguh sama seperti manusia.
Semuanya terlihat begitu pas dan serasi untuk seorang robot seperti Sasuke. Dan entah kenapa, Naruko sangat nyaman jika Sasuke ada di dekatnya.
Perlahan, kelopak mata yang membungkus mata hitam kelam milik Sasuke membuka. Naruko terkejut karena tiba-tiba sosok yang dipandanginya sedari tadi terbangun.
Sasuke menolehkan kepalanya kepada sosok yang memiliki garis wajah elok tersebut.
Dengan jarak yang tak bisa dibilang jauh, Naruko dapat merasakan tatapan Sasuke dalam jangkau pandang dekat. Wajahnya terasa panas... nona muda keluarga Weinddrass ini tak pernah sedekat ini oleh lawan jenisnya.
Tentu saja, umurnya masih dua belas tahun. Belum pada saatnya, Naruko mengenal hal-hal yang selalu menyelebungi dunia orang dewasa.
Nona muda ini masih murni dan polos.
"Se–selamat pagi, Sasuke," sapa Naruko terbata karena wajahnya mulai memanas. Tak lupa senyum manis tersungging di wajahnya.
Dengan pelan, Sasuke meraih dan mengecup jemari tangan Naruko sambil memejamkan matanya.
"Selamat pagi, Nona Naruko."
Walaupun dia merasa malu dengan perlakuan Sasuke, Naruko tersenyum lebar melihat betapa Sasuke menjaganya semalam, menenangkannya, mengatakan bahwa dia tidak sendirian.
'Mungkin... aku bisa percaya padanya. Iya 'kan, Kek?'
.
.
Setelah mandi dan membersihkan diri, Naruko menuju ruang makan untuk sarapan. Gaun selutut berwarna hitam berenda putih menghiasi tubuh mungilnya. Helai rambut pirang-keemasannya yang masih sebatas leher dibiarkannya tergerai.
Sebenarnya dia sama sekali tidak berselera untuk sarapan. Alasannya satu, she was afraid. Meski dia yakin bahwa orang-orang yang ada di rumah–kastil–ini tak akan pernah meracuninya.
Sesampainya di ruang makan yang terlampau besar untuk dihuni seorang diri itu, Naruko melihat Bibi pelayan yang selalu merawatnya sejak kecil menangis sambil terisak. Sebuah sapu tangan berwarna violet membantunya untuk menghapus bulir air mata yang menetes ke wajah tuanya.
Saat melihat nona–nya masuk, Bibi itu langsung menghampiri Naruko sambil menggenggam kedua bahu mungil Naruko. Ada ekspresi kecewa, marah, namun lebih banyak rasa sedih di mata cokelat milik Bibi itu.
"Mulai sekarang... anda akan makan makanan yang sama dengan kami, Nona!"
"E–eh?"
"Kenapa Nona tidak bilang kalau Nona takut kalau makanan Nona ada yang meracuni?" tanya Bibi itu sambil terisak pelan.
Naruko tersentak. Dia bercerita hal ini hanya pada satu orang. Naruko memandangi Sasuke yang sedang berdiri seakan tak tahu apa-apa di dekat jendela.
"Maaf, Bi," kata Naruko menyesal.
"Setidaknya Nona dapat menceritakan apa yang Nona resahkan pada kami," kata Bibi itu sambil merangkul erat tubuh mungil sang Nona. Dihapusnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Naruko membalas pelukan Bibi Pelayan yang sudah seperti ibu kedua baginya itu.
"Maaf ya Bi. Maaf telah membuat kalian semua khawatir," lirih Naruko.
'Sasuke'
"Dasar nona Naruko inii, jangan menanggung semuanya sendirian..." seru si Bibi sambil menarik kedua sisi wajah Naruko.
"Iya, Bi. Iya."
'...Terima kasih.'
Dan satu kekhawatiran nona Weinddrass telah lenyap, setelah satu hari seorang robot tanpa ekspresi, hanya makan cokelat dan alkohol dan beraura dingin datang ke kehidupannya.
.
.
Pada siang hari, di kediaman Weinddrass adalah waktu belajar untuk Naruko. Dia tidak bisa sekolah di sekolah biasa. Bukan karena gengsi atau harga diri, namun ini menyangkut nyawa seluruh orang yang ada di sekolah itu.
Mengingat bahwa Naruko Geel-Weinddrass ini adalah pewaris tunggal atas nama keluarga yang disandangnya, tentu akan banyak yang mengincar nyawanya agar warisan itu lepas dari tangan Naruko.
"Hai, Naruko. Senang sekali bisa melihatmu lagi," sapa seorang wanita yang memiliki rambut merah dan mengenakan kacamata.
"Sama-sama, Karin," balas Naruko sambil tersenyum lebar.
Saat ingin memulai pelajaran, wanita yang bernama Karin itu terkejut melihat sosok tampan yang berdiri di samping Naruko.
"Waah, tampan sekali! Namamu siapa? Kamu umur berapa? Masih single 'kan?" tanya Karin bertubi-tubi sambil berjalan mendekati Sasuke. Dia terlalu senang menemukan lelaki dewasa tampan di rumah muridnya ini–pikirnya
"..."
"Ah, malam ini kita pergi dansa yuuk!" ajak Karin dengan antusias.
Naruko yang mendengarnya terkejut.
'Jangan... jangan pergi, Sasuke.'
Karin semakin mendekati Sasuke dan meletakkan telunjuknya di depan bibir Sasuke.
"Malam itu waktunya orang dewasa untuk bersenang-senang 'kan?"
'Aku tidak mau. Jangan pergi ... kau hanya milikku, Sasuke.'
"Tidak bisa, Miss."
"Eh, kenapa?"
Sasuke mendekati Naruko kemudian menyentuh sisi wajah itu.
"Karena seluruh waktu saya hanya milik Nona Naruko," bisik Sasuke sambil mengecup pipi Naruko.
Reaksi yang terjadi : Karin menutup mulutnya dan Naruko–lagi-lagi–hanya bisa berkata 'Bodoh!' sambil berlari keluar dengan menutup wajah manisnya yang mulai memerah.
"Sasuke bodoh! Menyebalkaan!" gerutu Naruko sambil mencoba menenangkan dadanya yang mulai berdebar dan dia tak mengerti apa sebabnya.
Rupanya... nona muda ini belum mengerti kalau dia sudah terjerat pesona sang robot yang bertugas menjadi bodyguard untuknya.
.
.
"Ada apa Nona?"
"Ah, Sasuke. Ayo ke sini!" kata Naruko sambil menepuk sofa yang dia duduki.
"Apakah anda memanggil saya?"
"Iya, Karin ingin bertemu denganmu. Temui dia ya," kata Naruko sambil menggembungkan kedua pipinya.
"Tapi–"
"Sudahlah. Nggak apa kok! Oh ya, anggap saja semua perintahnya adalah perintahku ya!"
Setelah terdiam beberapa detik, Sasuke mengangguk mengerti. Dia berdiri dari sofa kemudian menghampiri Karin yang sedang berdiri di dekat pintu keluar.
Di belakangnya, Naruko memperhatikan kedua sosok di depannya itu. Dia mengintip dari dinding pembatas ruang tamu dan ruang belajarnya.
Naruko melihat Karin berbisik pada Sasuke. Hati Naruko terasa panas saat melihat Sasuke–nya diperlakukan seperti itu. Padahal dia sendiri yang memberi perintah pada Sasuke untuk mematuhi segala perintah Karin.
Tiba-tiba, Sasuke mendekatkan wajahnya pada Karin. Membuat Naruko terperangah.
Sasuke mencium Karin bahkan sampai lebih dari beberapa menit.
Naruko hanya bisa melongo melihat hal yang seharusnya tak boleh dilihatnya. Kemudian dia melihat Karin yang tersungkur jatuh namun ditahan oleh Sasuke. Sasuke mengangkat Karin dengan gaya seperti menggendong pengantinnya.
Naruko tidak tahan lagi. Kepala dan hatinya terasa panas, sesak, dan pusing secara bersamaan. Dirogohnya kalung yang menjadi alat penghubungnya dengan Sasuke.
"SASUKE! KEMBALI KE SINI! INI PERINTAH!" perintah Naruko sambil berteriak. Ada kumpulan air di pelupuk matanya namun tak jatuh. Menandakan bahwa dia menahan emosi dengan kuat.
"Baik," kata Sasuke sambil menurunkan Karin yang masih pingsan di atas sofa.
"Saya belum menyelesaikan semua perintah Miss Karin, Nona."
"Aku cabut kata-kataku tadi!" kata Naruko sambil bersungut.
"A –apa yang kau lakukan sampai Karin pingsan begitu?" tanya Naruko dengan wajah yang sangat merah.
"Ciuman."
"Hanya itu?"
"Ciuman untuk orang dewasa, Nona. Belum waktunya bagi Nona untuk mengetahuinya," kata Sasuke pelan.
"Huuh, jadi aku masih anak kecil, begitu?"
Hening.
"Apakah anda ingin mencobanya?" tanya Sasuke langsung.
BLUSH
"Bo–bodoh! Dasar robot bodoooh! Pergi sanaa!"
Naruko berlari keluar menuju taman keluarganya yang dirawat dengan sangat baik oleh tukang kebunnya. Di sana dia duduk dan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
"Sasuke bodooh! Bodoh!"
"Kenapa mencium Karin siih?" sungut Naruko sambil membayangkan kembali Sasuke yang sedang mencium Karin.
"Huuh, katanya hanya akan ada untukku, katanya akan selalu berada di sisiku. Dasar Sasuke bodoh!"
Naruko merengut.
"Ciuman Sasuke... rasanya pasti seperti rasa cokelat brandy. Pahit..." gumam Naruko. Kemudian dia menepuk keras pipinya karena dia tanpa sadar malah membayangkan hal-hal yang memalukan menurutnya.
"Ah! Sudahlah! Bibi akan panik jika aku tak datang untuk makan siang sekarang!" kata Naruko sambil membersihkan bajunya.
Tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang menutup mulutnya. Naruko terkejut kemudian dia meronta, namun sayang kekuatan orang yang membekapnya terlalu kuat.
"Sasu..."
Sasuke yang berada di dalam ruangan baca mendengar suara pelan dari kalungnya. Kemudian sedetik kemudian dia sudah bangkit dari tempat duduknya dan segera melaju menuju sumber suara itu.
Didapatinya nona mudanya sedang digendong dengan paksa oleh seorang lelaki bertubuh besar. Dia segera berlari dan menuju lelaki itu. Dengan cepat ditendangnya pinggang lelaki itu sampai jatuh tersungkur. Sebelum lelaki itu jatuh, direnggutnya Naruko dari gendongan penculik itu.
Lelaki yang jatuh tersungkur tadi terkejut mendapat mulut pistol yang sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Nona Naruko, tutup mata anda," kata Sasuke sambil mencoba menutup kedua bola mata Naruko.
Sasuke bersiap menekan pelatuk untuk menghabisi lelaki kurang ajar yang berani menyentuh nona mudanya ini.
"Ja –jangan! Sasuke hentikan!" teriak Naruko sambil mencoba melepaskan tangan Sasuke dari wajahnya.
"Saya akan menembak dalam hitungan ketiga," desis Sasuke dengan wajah dinginnya.
"Sasuke! Ini perintah!"
"Satu..."
"Jangan lakukan itu, Sasuke!"
"Dua..."
"Tidak... "
"Ti–"
"Sasuke akan jadi pembunuh nanti! Kumohon jangan lakukan itu... hiks,"
DOR DOR DOR
Naruko menutup matanya rapat-rapat. Kemudian samar-samar didengarnya Sasuke berkata 'Pergi. Sekarang.' Dengan suara dinginnya yang khas.
Naruko membuka matanya perlahan dan mendapati lelaki tadi bangun dan berlari terbirit-birit. Mata birunya menatap wajah Sasuke yang sudah kembali tenang.
Ada rasa lega yang menyelusup di hatinya. Dia bersyukur Sasuke tidak jadi menembak orang tadi.
"Nona Naruko!" teriak orang–banyak orang–yang menyerbunya dengan cepat.
"Bibi! Semuanya!" Naruko berteriak sambil berlari kemudian memeluk wanita tua yang dipanggilnya Bibi itu.
"Syukurlah anda baik-baik saja, Nonaa," kata mereka semua.
"Iyaa, aku takut sekali, Bi. Huwee..."
"Nona... sudahlah. Ah iya, kami dengar sesuatu dari Tuan Sasuke," kata seorang supir pada Naruko.
"Eh?"
"Katanya, anda dengar dari Tuan Besar kalau orang tua anda diracuni 'kan? "
"I–iya."
"Bukan begitu, Nona. Mereka murni kecelakaan," kata seorang koki.
"Iya, mereka terlalu terburu-buru dalam melakukan perjalanan ke rumah sakit. Saat itu mereka sedang mengalami gangguan pencernaan yang parah!" sambung Bibi itu.
"Anda tertipu oleh tingkah Tuan Besar, Nona Naruko," balas sang tukang kebun.
"E–eeh? Benarkah?" Naruko sungguh terkejut atas kenyataan yang diterimanya ini.
Entah dia harus senang atau apa. Yang pasti, dia merasakan kelegaan saat mengetahui kebenarannya.
Tak jauh dari kerumunan Naruko dan seluruh 'keluarganya', Sasuke mendengar derap langkah seseorang mendekat padanya. Tanpa menoleh dia sudah tahu siapa yang datang.
"Sasuke, ada apa?" tanya Inspektur Kepolisian, Kakashi von d'Argent.
"Ada yang berusaha menculik Nona Naruko."
"Hah?"
"Hn."
Dan Sasuke menjauh dari Kakashi saat melihat Naruko kembali sendirian saat kerumunan tadi diminta Naruko untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing.
"Ah, Inspektur. Dia itu kan..." seorang polisi menunjuk ke arah Sasuke.
"Hm, Sasuke Gorria-Freckle."
"Hah? Yang sungguhan?"
"Tentu saja,"
"Dia si pemegang nilai tertinggi untuk praktek dan pengetahuan di Sekolah Kepolisian itu kan?"
"Ya. Dia adalah Lelaki yang sama sekali tidak memiliki perasaan dan nafsu akan kekuasaan, uang dan nama baik. Maka dari itu dia tidak lulus dari persyaratan yang diajukan untuk menjadi seorang polisi."
.
"Ah! Sasuke!" seru Naruko saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
"Iya?"
"Tidak apa-apa, aku sudah tahu kalau itu kau. Baumu seperti bau cokelat yang manisss," kata Naruko sambil tersenyum lebar.
"Anda terluka?"
Naruko menggeleng keras.
.
"Suatu hari, ada seorang Kakek Jutawan yang datang ke kantor dan meminta seorang bodyguard untuk menjaga cucunya. Dan rupanya pekerjaan ini cocok sekali untuknya," jelas Kakashi panjang lebar pada polisi di sampingnya.
Kemudian mereka memandangi sosok Sasuke dan majikannya yang sedang berbicara tak jauh dari mereka.
.
"Hei, apa ciuman Sasuke rasanya sama seperti cokelat?" tanya Naruko polos.
"... Anda ingin mencobanya?"
"A–"
Naruko mendapati tangan Sasuke menyentuh dagunya. Sasuke menarik dagu itu pelan agar wajah Naruko mendekat padanya. Didekatkannya bibirnya pada bibir nona mudanya itu.
"Kyaaa!" teriak Naruko sambil mendorong tubuh Sasuke.
"Dasar robot mesum!" Naruko menjulurkan lidahnya sebelum dia berlari kencang sambil menutupi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus itu.
.
"Haha, Sasuke benar-benar lelaki yang beruntung," kata Kakashi saat melihat Naruko mendorong tubuh Sasuke.
"Benar sekali, Inspektur."
Dan yang membuat Kakashi terperangah adalah sebuah senyum terlukis di wajah dingin milik Sasuke saat melihat Young Lady–nya berlari kencang.
Tapi sesaat kemudian, dia ikut tersenyum juga.
Sasuke Gorria-Freckle, lelaki yang dijuluki sebagai robot karena sama sekali tak memiliki perasaan dan keinginan, sekarang dapat tersenyum.
Tentu saja, karena dia sudah menemukan majikan yang dapat menyentuh hatinya sedikit demi sedikit.
Majikannya...seorang gadis kecil berumur 12 tahun yang bernama Naruko Geel-Weinddrass.
To Be Continued
R/N
Saya sudah update, Minna-sama ^^ Nah, sekarang sudah bisa menebak Sasuke itu robot atau bukan? ;)
Sebelumnya maaf jika ada kesamaan alur dan kesamaan cerita. Saya sedang tergila-gila pada komik buatan Masami Morio-san, dan saya membuat fic ini dengan membayangkan Sasuke dan Naruto sebagai tokoh dalam komik beliau. Jadi begitulah. Untuk fic kali ini sama sekali bukan ide murni saya ^^
Terima kasih kepada semua yang sudah memberikan saya semangat lewat review kalian. Terima kasih.. semoga kalian masih bersedia untuk membagi semangat itu lagi pada saya ^^
Best Smile, Rin
Balasan Review :
Dark Dobe :
Iyaa.. saya sedang ingin membayangkan Sasuke yang suka cokelat , hehe. Dark Dobe-san, terima kasih atas perbaikan genre untuk fic ini ya :D Sudah saya ganti jadi Western nih.. Kasih tau dong, rin harus manggil anda apa.. *pundung*
Terima kasih banyak atas semua semangat yang anda berikan pada rin lewat review :D
AshuraDaiMaOu :
Lama kah update saya ini, Ashura-san? ^^ Hehe, apakah alur fic ini begitu mudah anda tebak? *plak* Terima kasih atas semangat yang anda berikan pada saya ^^
Riri-chan :
Aiih, lama tak jumpa, Riri-chan! :D Ehe, bagi saya Naruto adalah sosok laki-laki untuk Sasuke dan Naruko adalah sosok perempuan untuk Sasuke *ditabok* Maaf ya sickness lama updet, rin sedang kehilangan rasa sakit untuk menulisnya T^T *alasan* *Plak*
Terima kasih banyak untuk semangatnya, Riri-chan :D
Matsuo Emi :
Hehe, rin is back! *halah*
Iya, apakah updetan saya lama?
terima kasih atas semua semangatnya, Emi-san :D
Vii-san :
rin minta maaf karena tidak menulis nama Vii-san di Sickness.. Rin kira Vii-san sudah pergi dan lupa pada rin T^T *ditabok*
Maaf ya, Vii-san..
Terima kasih untuk semangatnyaa :')
Terima Kasih untuk Runa Meido, Raris, Ayano Hatake atas Alertnya untuk Fic ini T^T
Terima kasih juga kepada Meiko Namikaze, Runa Meido, ukkychan, Ly-chan and Anata Kiyoshi untuk Fave-nya T^T
saya sungguh merasa terhormat, sungguh x')
ARIGATOU MINNA-SAMA :')
