Hello~ I'm coming back :)

Gimana ceritanya? Seru? Atau tidak? Rrrhh.. Reviews, and I'll make it better than before. I promise.

Um, Yeah, let's read the second chapter of "The Reason I Love You", a Naruto fanfiction.

Replies for reviews:

-Dewi Natalia: Maaf yaaa~ Kemarin itu lagi 'in progress' xD jadi belom sempet ke-post. Lagian aku juga masih latian posting stories. gomen na sai~ *peluk cium dari tice-chan

-Sugar Princess71: Huwaaa Doumo arigatou gozaimasu atas kritik dan sarannyaa~ Alurnya emang sengaja aku buat cepat xD hehehe. Tapi kalo itu agak mengganggu, nanti aku perlambat lagi alurnya yaah~ Oh masalah greget yaa? Hehe masih first chapter sih, jadi belom aku masukkin 'greget'nyaa. Makasih banyaaakk *cium basah*

Let's read my story, and don't forget to review it~!


Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s)

Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)

Happy Reading :)

.

.

.

.

ALITTLE BIT CLOSER


Sudah seminggu sejak Naruto pergi ke Sunagakure untuk melaksanakan program pertukaran pelajar dengan Sasuke Uchiha, laki-laki bermata hitam onyx, dengan rambut 'pantat ayam' berwarna raven, wajah tampan, dan kulit seputih kapas. Laki-laki yang pernah mengatakan aku bermata indah dan manis. Keadaan di kelas yang sudah buruk semakin buruk dengan kehadiran Sasuke. Ada tiga hal yang membuatku muak dengan kehadirannya.

Pertama, aku tak dapat berjumpa dengan sahabatku, Naruto Uzumaki.

Kedua, suasana kelas yang tidak lagi kondusif dengan―selalu―adanya teriakan-teriakan dari perempuan-perempuan genit di kelasku.

dan ketiga, karena Sasuke mulai menghantui hidupku dengan selalu menempel denganku tiap waktu di sekolah.

Seperti saat ini.

"Hinata-chan, temani aku makan yuk!" seru Sasuke sembari melemparkan senyum imutnya kepadaku.

"Sudah berapa kali aku mengatakan 'jangan memanggil nama depanku', Teme?" bentakku kesal. Hanya keluarga, teman perempuanku, dan Naruto Uzumaki yang boleh memanggilku 'Hinata'.

"Aku tidak peduli, Dobe. Cepat temani aku!" paksa Sasuke sambil menarik tanganku dengan tangan kirinya yang tidak menenteng tas bekal.

Aku menyerah dan menghela napas. "Hn," sahutku akhirnya.

Sasuke pun menggiring aku menuju atap sekolah yang hampir tidak pernah didatangi oleh siswa Konoha High School. Aku menyukai tempat ini. Tempat ini begitu sunyi dan menenangkan. Sudah beberapa kali aku dan Naruto ke tempat ini untuk 'berkomunikasi'. Komunikasi yang kami lakukan tidak seperti yang biasa orang lain lakukan. Biasanya kami cukup dengan saling menggenggam tangan, menatap mata satu sama lain, atau dengan senyuman yang berarti banyak.

"Hah.. Tempat yang sangat menyenangkan. Bukankah begitu, Hinata-chan?" tanya Sasuke saat kami sudah mendapatkan tempat untuk duduk.

"Hn," sahutku lagi.'

Aku melihat Sasuke menggembungkan pipi tirusnya dan keningnya berkerut. Kurasa ia sedang kesal denganku. Aku menatapnya masih dengan pandangan stoic yang memuakkan.

"Hinata Dobe! Kapan kau akan menyahuti ucapanku dengan sewajarnya?" tanya Sasuke sembari membuka kotak makannya.

"Entah," jawabku. Aku mulai memakan bento yang kubawa dengan sepasang sumpit.

"Ayolah, Hinata-chan... perlukah aku menciummu dahulu, baru kau akan menyahut dengan ramah?" tanya Sasuke.

Aku tengah asyik memakan Bentoku dan berkutat dalam khayalanku. Ucapan Sasuke bagai angin lalu di otakku, sehingga tanpa sadar aku menyahut malas, "Hn."

Dan detik berikutnya, bibir Sasuke mendarat di pipi kananku.


Malam ini aku benar-benar tak bisa tidur. Berkali-kali kucoba memejamkan mataku dan memaksa diriku turun ke alam bawah sadarku. Namun hasilnya nihil. Semakin aku mencoba tidur, semakin aku tidak mengantuk.

Bayang-bayang Sasuke saat menciumku kembali berkelebat dalam pikiranku.

Aku menggelengkan kepala keras-keras.

Tidak. Aku tidak boleh membayangkan orang bernama Sasuke Uchiha itu. Karena bukan dia yang aku cintai. Aku hanya mencintai Naruto Uzumaki.

Hanya Naruto.

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan meraih ponsel yang aku letakkan di atas meja belajarku. Ada pesan singkat.

From: The saphire one

Hai Hinata-chan. Bagaimana kabarmu? Kau masih ingat janjiku kan? hehe.

Aku tersenyum menatap pesan itu, dan segera membalasnya.

To: The saphire one

Tentu saja aku masih mengingatnya, Naruto-kun. Bagaimana di Suna?

Aku menanti balasannya, namun setelah setengah jam aku menunggunya, balasan darinya tak kunjung datang. Mendadak aku merasa khawatir. Entah apa alasanku mengkhawatirkan keadaan Naruto hanya karena ia tidak membalas pesan singkatku. Padahal itu merupakan makanan sehari-hariku sejak aku mengenal dan mulai dekat dengannya, karena 'penyakit tidur-saat-berhubungan-lewat-ponsel'nya itu.

Tapi kali ini berbeda. Aku merasakan ada hal buruk yang terjadi. Hal buruk yang akan menimpaku. Aku menggeleng kuat-kuat untuk mengenyahkan segala pemikiran negatif dalam benakku, dan berusaha berpikir positif. Mungkin ia ketiduran atau kehabisan pulsa karena kita berada di dua negara yang berbeda. Aku pun memutuskan untuk meletakkan ponselku dan berjalan menuju tempat tidurku, berbaring, dan mencoba sekali lagi untuk tertidur. Dan kali ini aku berhasil.


"Ohayou, Hinata-chan!" sapa Sasuke yang sudah menempatkan diri di bangku sebelahku. Aku meliriknya sekilas dan kembali berfokus pada buku pelajaran di tanganku.

"Hn," sahutku masih sambil membolak-balik halaman bukuku. Jujur saja, aku hanya berpura-pura membacanya, untuk mengalihkan perhatianku darinya.

"Kau belajar? Oh, apakah ada ulangan?" tanya Sasuke panik.

"Tidak," jawabku singkat.

"Mengapa kau belajar, Dobe?" Sasuke kembali mengeluarkan panggilan menyebalkan itu kepadaku.

Aku menghela napas tidak sabar dan menoleh ke arah Sasuke untuk menjawab, "Apakah aku boleh belajar hanya jika ada ulangan, Teme?"

"Ya," ucap Sasuke, "Hey! Kau ingat janjimu?"

"Janji?" tanyaku dengan kening berkerut.

Sasuke menghela napas dengan tidak sabar, lalu ia menjawab, "Kau bilang kau akan menyahutiku dengan ramah jika aku sudah menciummu! Dan aku sudah melakukannya, Baka Hinata!"

Aku mengerutkan kening sambil berpikir. Memoriku pun berputar pada kejadian kemarin.

"Ayolah, Hinata-chan... perlukah aku menciummu dahulu, baru kau akan menyahut dengan ramah?"

"Hn,"

Seketika itu juga aku terkesiap dan menatap Sasuke dengan tatapan tajam, lalu aku berkata dengan tergagap, "Uchiha, i-itu tidak seperti y-yang kau pikirkan, Teme! Aku, eh, maksudku, aku sedang makan bento saat itu dan ya aku menjawabnya dengan... dengan―" ucapanku terhenti saat aku melihat Sasuke tersenyum dengan alis terangkat.

"Aku tidak peduli, Dobe,"

Aku mendengus kesal dan mulai beranjak dari tempat dudukku untuk pergi ke luar kelas. Langkahku diiringi tawa sarkastik dari bibir Sasuke, dan aku mendengarnya sampai aku tiba di tengah koridor, tempat beberapa anak perempuan sedang berkumpul. Mereka menatapku dengan pandangan merendahkan.

"Tak kusangka anak seorang Hiashi Hyuuga akan dengan mudahnya mendekatkan diri pada laki-laki asing," ucap seseorang―anak satu kelasku―yang kuketahui bernama Sakura Haruno. Gadis berambut soft pink itu menatapku sambil mengernyitkan hidung dengan jijik.

"Murah sekali, ya?" timpal satu orang lain dengan rambut dicepol dua dan tampang oriental.

Ucapan terakhir dari Tenten disambut dengan tawa anak perempuan yang lainnya.

Aku tidak menanggapi perkataan mereka. Tetapi tidak juga tinggal diam. Aku berjalan ke depan mereka dan menatap mereka semua dengan stoic. Mereka tampak berbisik-bisik salah tingkah. Mereka―mungkin―berpikir aku akan takut dan melarikan diri. Namun mereka salah. Aku paling benci diperlakukan seperti ini. Dan satu-satunya yang bisa aku lakukan hanyalah menatap mereka tanpa ekspresi sampai mereka pergi.

Dan benar dugaanku. Mereka pergi menjauhiku.

Pantas aku tidak punya teman.


Aku berjalan menuju aula untuk mengikuti klub teater. Yah, memang aneh jika seorang stoic sepertiku mengikuti klub teater. Namun, aku memang menyukai teater. Karena hanya dengan ini aku bisa menjadi ekspresif di panggung.

Saat aku mulai membuka pintu aula, seseorang memanggilku, "Hinata Dobe!"

Aku mendengus dan memutar bola mata karena aku tahu siapa yang memanggilku.

"Nan desu ka?" bentakku kesal.

"Mengapa kau begitu galak padaku, Hinata-chan? Bukankah aku sudah menciummu?" tanya Sasuke dengan ekspresi bodohnya.

Aku lagi-lagi mendengus kesal dengan bola mata berputar sempurna. "Sudahlah, Teme. Aku ingin mengikuti kegiatan klub! Bisakah kau tidak meng―" ucapanku terhenti karena ponsel di tanganku bergetar. Aku pun mengalihkan perhatianku pada layar ponsel yang menampilkan adanya sebuah pesan singkat dari Naruto.

Seketika itu juga senyumanku mengembang.

Aku pun membukanya dan terkejut dengan pesan yang dikirim Naruto―yang merupakan balasan dari pesanku yang terakhir.

From: The saphire one

Aku baik-baik saja di Suna, Hinata-chan! Um, masalah janjiku waktu itu..
Maaf, aku tidak akan menepatinya

To be continued.


Muihihihi~ maaf yaa kalo ceritanya mengandung 'gajeness' yang sangat amat banyak sekali banget. Maklum, pemula xD

Dan makasih yang udah mau review atau sekedar membacanya. Tice sudah senang kalau ada yang membacanya :')

Yah, lagi-lagi aku hanya bisa berharap kalian menyukai fanfiction-ku Y_Y

Review please~ without your reviews, my stories are nothing :)

"Never stop trying to be better, and better."

-Anonymous Hyuuga-