Dia sudah berdiri tigapuluh menit di dekat pintu gerbang. Tas ransel yang beratnya tidak seberapa ia geletakkan di bawah kakinya, pegal juga menenteng benda itu. Walaupun Kenichi sudah mengingatkan berkali-kali, teman satu timnya selalu membuatnya menunggu. Bukan masalah lama tidaknya, namun jika hal ini tetap dibiarkan maka timnya menjadi tidak disiplin.

Dua menit Kenichi menggerutu, seorang gadis melompat terjun dari dahan pohon. Mengibarkan rambut perak panjangnya yang ia gerai.

"Kau menunggu lama?" Kasumi datang dengan penampilan biasanya. Berjalan mendekati ketua timnya yang terlihat merengut.

"Tigapuluh dua menit duapuluh sembilan detik." Ucap Kenichi sakarstik. Mereka seharusnya sudah berangkat sekarang.

"Jangan terlalu kaku, kaichou." Satu tepukan mendarat di pundak Kenichi. Cengiran tipis ikut andil menghiasi wajah gadis itu. Merayu lebih tepatnya.

"Bukankah aku sudah bilang untuk datang jam tujuh, kenapa baru datang sekarang?" Dan mulailah, kuliah pagi dari Kenichi yang sangat Kasumi hindari. Gadis itu sangat membutuhkan satu temannya lagi untuk menemaninya, enak saja hanya dirinya yang dapat omelan dari chunin muda itu. Tidak beberapa lama saat Kenichi masih menyelesaikan separuh materi pembelajarannya, datang seorang anak laki-laki yang merupakan anggota terakhir dari tim. Nafasnya tersengal karena berlari.

"Akhirnya datang juga." Kenichi menatap tajam Hideki, berharap dengan tatapan itu ia bisa sedikit menakutinya.

"Warui. Aku bangun kesiangan." Alasan yang semakin mengobarkan bara api. Bukannya tertolong, alasan yang baru dua detik lalu ia ucapkan malah semakin mengancam keselamatannya.

Kasumi lebih memilih sedikit menjauh, menjauh dari kedua nakama–nya yang sekarang tengah kejar-kejaran seperti di film.

.

.

.

Ore no Koto Chapter 2

Pairing: Sasuhina

Warning: Semi-canon, alur cepet, typo, dan masing banyak kekurangan lainnya

Don't Like, Don't Read

.

.

.

Tim mereka adalah tim khusus. Entah apa maksud sang nanadaime Hokage mempertemukan mereka di kelompok yang sama. Dimulai dari keturunan langsung rokudaime, seorang Morino, dan juga chunin muda yang baru saja diangkat. Usia mereka sama, bahkan dulu mereka satu akademi. Namun berbeda dengan si kapten tim yang hanya menempuh dua tahun saja.

Tidak ada sensei seperti di tim lainnya. Hanya beberapa kali saja ada seorang pendamping yang mendampingi, itupun bisa dihitung dengan jari. Selebihnya tim yang berisikian dua genin itu melakukan misi bertiga.

Ketiga bocah berusia dua belasan itu duduk berhadapan, mendiskusikan strategi yang mereka lakukan untuk misi kali ini. Hanya misi simpel dengan rank-B, menjaga rombongan pedagang yang melewati jurang Ame. Dalam minggu ini mereka mendapat tiga misi berturut-turut. Membuat tiga remaja itu belum mendapat libur sama sekali. Sehingga Kenichi tidak terlalu memarahi tentang keterlambatan Hideki kali ini.

"Kasumi kau jaga bagian depan, jika kau melihat sesuatu langsung lapor padaku." Kasumi hanya mengangguk mendengar bagiannya. Dari rencana yang mereka sepakati, posnya lah yang dirasa paling aman.

Hideki mendapat bagian tengah, dimana barang-barang dengan nilai berharga diangkut. Bocah jabrik itu juga setuju-setuju saja dengan bagiannya, malahan terlihat senang. Sedang Kenichi mendapat bagian paling tidak enak. Menjaga buritan. Dimana risiko diserang paling tinggi, namun hanya sang kapten saja yang bisa diandalkan jika sewaktu-waktu terjadi penyerangan. Bukannya kedua nakama–nya tidak sanggup, bukan, mereka bisa juga mengatasinya namun tidak sebagus dirinya. Hideki yang pasti akan panik duluan atau malah Kasumi yang akan maju duluan.

Tujuan utama Kenichi menempatkan Kasumi pada bagian depan bukan semata-mata memberi gadis itu tempat teraman, melainkan mata coklat itu selalu saja awas dengan bahaya. Lalu Hideki juga tidak akan terlalu panik jika berada di tengah, Morino junior itu selalu saja khawatir dengan sesuatu hal yang belum mesti terjadi. Namun dengan adanya itu, ada beberapa bahaya yang bisa mereka deteksi lebih awal.

Saat mereka datang, hari sudah beranjak sore. Para pedagang sudah siap sedari tadi. Tidak seperti yang tertera dalam gulungan misi, mata hitam Kenichi menangkap ada enam buah kereta tambahan, menjadikannya ada tigabelas kereta.

"Kalian baru datang." Pria berkumis dengan tubuh tambun memasang tampang kesalnya.

"Maaf. Ada sedikit kendala tadi." Kenichi menundukkan kepala diikuti dengan kedua temannya. Tapi tidak sedalam Hideki.

Setelah berbincang-bincang sebentar, Kenichi memutuskan untuk berangkat. Perjalanan dari desa kecil itu ke Ame membutuhkan waktu sepuluh jam, jadi jika tidak ada halangan rombongan itu akan sampai dini hari.

Tiga atau empat jam sudah Kenichi beserta timnya mengawal rombongan itu. Tidak ada tanda-tanda yang mengindikasi kalau mereka diikuti ataupun terjadi penyerangan, mengingat beberapa saat yang lalu mereka mulai memasuki daerah yang rawan. Ditambah hujan mulai mengguyur deras.

Jarak pandangnya hanya sepuluh meter, itupun tidak jelas. Membuat dia harus memasang mata dalam mode supertajam. Anjing kuchiyose milik Kasumi juga tidak terlalu membantu dalam keadaan cuaca seperti ini.

Dari arah depan telinga Kenichi menangkap suara keras, longsoran batu yang sangat tidak biasa. Mungkinkah?

"Kenichi! Kita diserang!" Itu suara teriakan Kasumi. Nadanya melengking tinggi, menembus suara derasnya hujan.

Kenichi langsung melompat ke atas gerobak barang. Meneliti apa yang terjadi di depan. Sekelompok nuke–nin yang berdiri di atas longsoran batu. Akibat tumpukan batu dan tanah itu, satu-satunya jalan terputus. Membuat rombongan itu terjebak, tak bisa kemana-mana karena sebelah kiri mereka adalah jurang yang dalam.

Takut kalau tiba-tiba bagian belakang diserang, Kenichi tetap siaga pada posisinya. Namun melihat Kasumi dan Hideki yang mulai terpojok membuat Kenichi berpikir ulang. Dengan cepat, posisi Kenichi berada di bagian depan sekarang. Membantu melawan komplotan ninja yang menyerang mereka.

"Kasumi! Bawa semuanya pergi. Dan kau, Hideki, bantu mereka membawa gerobak menjauh dari sini. Biar aku yang akan melawan mereka."

Kasumi tahu tidak ada waktu bagi mereka untuk berdebat, maka dengan berat hati Kasumi berlari menjauh untuk menggiring para pedagang untuk segera pergi. Tidak semua pedagang yang ada adalah laki-laki, ada perempuan dan juga anak-anak. Membuat kemanan mereka menjadi prioritas utama. Hideki juga sebenarnya enggan meninggalkan sang ketua, tapi berhubung mereka ditugaskan untuk menjaga keduanya membuat ia harus angkat kaki dari tempat itu. Meninggalkan salah satu teman baiknya melawan belasan nuke–nin sendirian.

...

Suara senjata yang beradu dan juga suara jeritan terdengar cukup lama. Mengalahkan belasan orang tidak semudah yang Kenichi pikirkan, apalagi mereka semua adalah ninja, dengan jurus yang berbeda tiap orangnya namun dengan elemen yang sama. Air. Pantas saja mereka bisa membuat longsor batu dengan hebat, mereka menggunakan jurus air untuk membuat batu yang ada disekeliling menjadi erosi.

Semenjak di akademi dulu, dia hanya mempelajari jurus-jurus dasar. Tidak ada jurus khusus yang dia pelajari seperti Kasumi dengan chidori–nya atau Hideki dengan elemen tanahnya. Hanya berbekal beberapa kertas peledak dan juga kunai di kantong belakangnya, Kenichi lulus ujian chunin pertamanya. Membuatnya menjadi chunin termuda di angkatannya.

Namun gelar genin ataupun chunin tidak banyak membantu dalam kondisinya sekarang. Hanya keterampilan ataupun kemampuan yang benar-benar bisa membantunya untuk menghindari serangan yang bertubi-tubi. Semprotan air yang besar berhasil mengenai kaki kirinya, membuat tubuhnya tidak seimbang dan terjatuh.

Bruakk

Untung saja lumpur menjadi tempat pendaratannya, rasa sakit akibat terjatuh menjadi sedikit berkurang. Tapi bukan waktunya untuk menghela nafas, ada sebuah pedang berkarat yang kini melayang ke lehernya. Untungnya Kenichi segera sadar, kunai yang ia ambil cepat menghalang pedang itu memutus tenggorokannya.

Dirinya sudah dikepung delapan orang yang siap dengan jurusnya masing-masing. Mata Kenichi berkedip pelan untuk menghilangkan tetesan air hujan, sekalian menunggu tempo yang tepat untuk kembali menyerang.

Ingat genangan lumpur yang Kenichi tempati saat ini? Tanah yang bercampur air itu tiba-tiba mengeras, memerangkap tubuh bagian bawahnya.

"Sial." Kenichi sangat jarang mengumpat.

"Berhentilah melawan, bocah. Kau tahu kalau kau kalah jumlah." Menurut Kenichi dia akan melakukan hal yang dikatakan orang itu? Tidak. Dia akan terus menggeliat melepaskan diri.

"Dia lucu sekali. Bergerak seperti cacing kepanasan." Salah satu dari mereka tertawa, kemudian diikuti oleh beberapa orang lainnya. Kenichi memasang mata tajamnya.

"Tapi harus aku akui bocah. Kau hebat bisa bertahan sampai selama ini." Ya, biasanya kawanan nuke–nin itu hanya perlu waktu belasan menit saja untuk melumpuhkan target.

"Karena kami terlalu bersenang-senang, kami jadi lupa dengan tujuan utama kami." Menjarah kawanan pedagang maksudnya, Kenichi paham. Dengan sekali anggukan dua orang melesat pergi atas perintahnya, membuat hanya ada delapan orang yang ada di sekeliling Kenichi saat ini.

"Kalian pikir dengan mengirim dua orang, kalian bisa mengalahkan nakamaku?" Kenichi terkekeh pelan diikuti dengan senyum miring.

"Kau terlalu percaya diri, kaichou. Dua orang suruhanku bukanlah ninja biasa."

"Dan kedua temanku juga tidak bisa disebut dengan biasa." Kenichi tidak berbohong, kedua temannya tidak akan kalah hanya karena melawan dua ninja kacangan seperti mereka. Mengingat elemen yang dimiliki Kasumi. Sungguh jenius orang yang mengirim mereka untuk misi kali ini.

Mendengar Kenichi berkata demikian, tidak membuat pria besar itu senang. Maju lebih dekat dan memukul kepala Kenichi keras.

Duakk

Darah segar merembes keluar dari pelipis kanannya. Tidak hanya sekali, laki-laki itu memukulinya berkali-kali. Diikuti dengan beberapa orang lain, kini tubuh remaja itu dipenuhi luka. Bahkan mereka tidak lagi menggunakan tangan kosong, kunai dan beberapa benda tajam lain berhasil mengoyak dagingnya hingga robek.

...

Sial!

Seharusnya aku tidak lengah tadi. Kenapa bisa-bisanya aku malah terjebak di lumpur bodoh ini, alih-alih mengalahkan kawanan ninja itu. Sekarang sebagai imbasnya, keselamatan kedua teman dan para pedagang itu yang menjadi taruhan. Tapi aku yakin Kasumi dan Hideki pasti bisa melawan mereka.

Dan beralih lagi pada tubuhku yang masih saja tidak bergerak sesenti pun. Darah yang mengalir keluar semakin membuat kesadaranku menghilang. Kepalaku pusing, pikiranku juga tidak berjalan semestinya gara-gara hal itu. Semakin lama kelopak mataku terasa berat, menuntut untuk segera menyembunyikan pupil hitamku.

Ingin sekali aku meledakkan tempat ini jika kertas peledakku tidak basah. Atau ikut menggenggam kunai dan melukai mereka satu per satu, namun mengingat kedua tanganku juga terendam dalam di lumpur membuatku tidak bisa melakukannya.

Apa ini yang mereka sebut dengan akhir?

Apa mungkin aku juga akan berakhir seperti kakek atau orang-orang di desa?

Kakek, ya?

Pengorbanannya akan sia-sia jika aku hanya berdiam diri. Tidak hanya kakek, kematian orang-orang di desajuga. Mendapat kekuatan dari mana, aku menggigit kunai yang hendak menancap di wajah sebelah kiriku. Menangkap kuat dengan gigiku hingga besi itu retak. Mata yang semula sayu, kini menatap tajam orang yang memegang senjata itu.

...

"Cih. Kurang sedikit saja, dia masih melawan." Salah satu laki-laki dengan pakaian kulit menarik kunainya yang berada di mulut sang korban.

Buagh

Satu tinju mendarat di pipi putih Kenichi. Membuat gigitan pada kunai itu terlepas, lagipula pukulan kuat itu menghempaskan tubuh Kenichi. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari bocah duabelas tahun itu.

"Aku sudah muak. Akan aku habisi dia." Pedang panjang yang masih berada di sarungnya ditarik cepat. Mengacung tegak, bersiap menebas leher yang berwana merah karena darah.

Kelopak mata Kenichi tidak menutup. Malah hitam pekatnya menatap orang itu tanpa berkedip. Kenichi tahu apa yang akan terjadi tidak lama lagi. Kemungkinan besar kepalanya akan terpisah dari tubuhnya, itu artinya ia akan benar-benar berakhir.

Jika memang ia berakhir disini–mati, delapan orang ini akan langsung pergi untuk mengejar para pedagang beserta kedua temannya. Dan bisa dipastikan Kasumi dan Hideki akan kesulitan mengingat mereka juga perlu menjaga banyak orang.

Memikirkan kedua nakama–nya, entah kenapa pikiran Kenichi memutar kenangan dulu.

...

"Kita kedatangan teman baru hari ini. Ayo perkenalkan dirimu."

"..."

"Tidak perlu malu. Katakan saja siapa namamu, ne."

"..."

"Mungkin dia bisu!"

"Hahahahahahaha!"

"Hideki! Jangan bicara begitu."

"Habisnya dia tidak bicara sih. Pasti dia bisu."

"Ke-nichi."

"Ha?!"

"Kenichi."

"Kenichi, ya? Baiklah, kau bisa duduk di...hm...Ah! Kau bisa duduk di sebelah Kasumi. Kasumi angkat tanganmu supaya Kenichi tahu."

...

"Sugoi, Kasumi-chan. Semua kunainya tepat mengenai titik tengahnya." Seorang gadis berkuncir dua menatap kagum teman perempuannya. Tidak ada satupun kunai yang menancap di luar garis merah. Tidak seperti miliknya.

"Hm." Hanya itu tanggapan Kasumi. Kalau hanya melempar kunai, ayahnya mengharuskan dirinya untuk berlatih tiap hari.

"Wah! Kenichi-kun juga hebat." Kasumi menoleh, mata coklatnya menatap teman barunya. Sama seperti miliknya, tidak ada satupun kunai yang meleset. Bibir Kasumi naik beberapa senti, anak baru itu langsung berhasil dilemparan pertamanya. Tapi mendadak senyum itu luntur saat melihat Hideki mencak-mencak tidak jelas pada Kenichi.

...

"Kau tidak pulang?"

Kenichi mendongak, lututnya yang bergetas ia tutupi dengan memeluknya erat. Senja membuat wajah anak itu menghitam, hingga Kenichi tidak mengenali siapa yang mengajaknya bicara. Tapi dari suara datarnya Kenichi tahu itu suara teman satu bangkunya. Dengan cepat Kenichi menyeka sisa air mata yang masih tertinggal di pipinya, ia tidak mau ada anak perempuan yang memanggilnya cengeng.

"Apa kau selalu sendirian disini?" Pertanyaan sebelumnya belum terjawab dan Kasumi malah menambah lagi pertanyaannya.

"Aku sedang malas pulang. Boleh aku di sini?" Kenichi mengangguk pelan.

Kasumi ikutan duduk, jaraknya tidak terlalu dekat. Sengaja agar Kenichi mengira dia tidak melihat air matanya yang masih tersisa.

"Ayahku pasti menyuruhku latihan kalau aku pulang." Mulut Kasumi bicara begitu saja, ia sendiri tidak tahu mengapa ia bicara begitu. Padahal selama ini tidak pernah menceritakan kesehariannya pada teman-temannya.

"Dan aku tidak suka hal itu." Kasumi memainkan kakinya yang menggantung. "Aku lebih memilih membaca daripada harus melompat kesana kemari."

"Kalau kau." Kasumi menoleh pada Kenichi yang juga menatapnya. "Apa yang kau suka?"

"Tidak ada." Kenichi menenggelamkan kepalanya lagi, seperti kura-kura.

"Kau suka berlatih jurus?" Gadis itu masih saja berusaha mengajak Kenichi bicara. Saat pertama kali mata coklat bersirobok dengan hitam pekat, Kasumi tahu ada kesedihan yang tergambar jelas dari sana.

Gelengan yang Kasumi dapati.

"Kenapa? Padahal kau langsung bisa saat berlatih tadi." Kasumi dibuat takjub dengan jurus Kenichi yang sempurna saat berlatih bunshin. Membuat mereka berdua menjadi yang pertama menguasai.

"Jurus hanya digunakan untuk melukai." Ucap Kenichi tanpa tenaga. Suaranya masih terdengar serak akibat menangis.

"Itu tidak benar. Ayahku bilang alasan kita belajar jurus adalah untuk melindungi." Hanya kalimat itu yang Kasumi tangkap dari ajaran sang ayah, selebihnya ia tidak memperhatikan.

"Melindungi?"

"Benar, melindungi."

"Melindungi diri sendiri?"

"Tidak. Tidak hanya diri kita, tapi juga orang lain."

"Orang lain siapa?"

"Hm...orang yang berharga bagi kita."

...

Kelopak mata Kenichi terbuka, menampilkan mata hitam yang berubah menjadi merah. Tiga koma menghiasi setiap pupilnya. Membuat para kawanan yang melihat pemandangan itu mundur seketika. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak tahu apa makna merah itu, hanya satu klan di Konoha yang memiliki ciri khas itu. Dan sepertinya Uchiha Sasuke bukanlah satu-satunya ninja yang memiliki mata merah menyala itusharingan.

Lumpur yang mengekang tubuh anak laki-laki itu berubah menjadi cairan lagi. Entah karena si sharingan kecil bisa melepaskan diri atau karena si pembuat jurus tengah ketakutan hingga tanpa sadar melepas jurusnya. Yang jelas sekarang ninja Konoha itu telah terbebas dan menghilang dari tempat itu. Hal ini membuat kedelapan orang itu kebingungan mencari keberadaannya.

Jrass

Satu kepala terlepas dari tubuhnya. Kemudian bayangan itu menghilang lagi di gelapnya pohon-pohon. Gerakannya yang lincah membuat tujuh orang itu tidak bisa menyeimbangi. Akibatnya satu persatu kepala ninja itu mulai terlepas, menyisakan satu orang terakhir yang sepertinya akan menjadi mainan bagi monster kecil itu.

...

Shikamaru hanya iseng-iseng saja membuka laporan misi yang menumpuk di ruangan Hokage. Kebanyakan belum diperiksa, melihat tanggal dan tahun yang tertera, menunjukkan pada saat pelantikan Hokage baru. Mungkin saat itu tidak ada satupun orang yang memeriksanya.

Tidak mau dianggap pegawai yang memakan gaji buta, Shikamaru dengan sangat terpaksa memeriksa satu persatu. Tidak banyak, hanya limabelas gulungan saja. Tapi saat ia mengambil gulungan kesepuluh, mata sipitnya menemukan satu kata yang membuat ia harus membaca berulang-ulang. Sayangnya usahanya yang sudah kedelapan kali tetap tidak membuat arti tulisan itu berubah.

Bagaimana bisa Konoha kecolongan tentang informasi sepenting ini. Langkah tergesa yang sangat Shikamaru hindari harus dia gunakan untuk segera menemui sang pemimpin desa. Dimana laki-laki pirang itu disaat ia menemukan satu fakta yang pasti akan mengejutkan jinchuriki–mungkin tidak hanya dia, tapi seluruh desa, bahkan akan menyebar ke desa lain.

Gulungan yang Shikamaru remat erat berisikan tentang informasi pengguna sharingan baru, yang artinya ada lagi keturunan Uchiha yang masih hidup selain orang itu.

...

Sharingannya telah aktif saat ia mendeteksi ada pertempuran di sekitarnya. Langkahnya panjang-panjang agar segera sampai ke tempat perkara. Ia tidak seperti dulu lagi, membiarkan orang-orang dihabisi di depan matanya. Apalagi dari kejauhan ia bisa menangkap bagaimana orang dengan tubuh pendek itu menebas satu persatu leher hingga memisahkan kepalanya.

Sayangnya saat ia sampai, semua orang yang hendak ia selamatkan terkapar mengenaskan di tanah berlumpur dengan cairan merah darah. Dan sepertinya sang pelaku pergi begitu saja setelah menumpas delapan orang ini. Atau tidak.

Meskipun samar, Sasuke masih bisa merasakan keberadaan seseorang yang tidak jauh darinya meskipun lemah. Dengan mengikuti jejak darah yang memasuki lebatnya hutan, Sasuke mendapati seorang bocah tergeletak tak berdaya di bawah pohon dengan tangan yang menutupi lubang menganga di perutnya.

Nafasnya terlihat putus-putus, sekarat sepertinya. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Sasuke, melainkan matanya. Walaupun kelopaknya hampir menutup seluruhnya, warna merahnya tidak bisa mengelabui mata tajam Sasuke. Apalagi dengan satu koma yang berhasil ia kenali.

Sasuke hendak menyentuh pundak bocah itu, jika saja tubuh itu tidak menghilang dan berakhir berada di belakangnya. Mengayunkan kunai yang hendak ditancapkan pada kepala berisi rambut jabriknya.

Hal seperti ini sudah sering Sasuke alami, tidak kaget jika ada sejata tajam yang mengacung tidak jauh dari kepalanya. Tapi tidak dengan pengguna sharingan baru dengan tiga tomoe–nya. Serangan yang sangat mudah dibaca bagi Sasuke, hanya serangan ngawur yang tidak terarah. Maka dengan sekali serangan, Sasuke melumpuhkan bocah yang tidak ia ketahui namanya. Memukul tengkungnya dengan keras hingga kesadarannya hilang.

Sasuke dengan sigap menangkap tubuhnya yang lemas, membuatnya sedikit mengeryitkan dahinya akibat melihat ikat kepala yang sangat dikenalinya.

Tsk.

Konoha harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Tapi sepertinya ia harus menyimpan itu untuk nanti, cairan merah kental yang mulai merembes ke pakaiannya harus lebih dulu ditangani dan juga luka-luka di tubuh kecil ini.

TBC

.

.

.

.

.

.

halo minna-san, ketemu lagi dengan saya, kali ini saya putuskan untuk cepat-cepat meng-update OnK. biar cepet selesai gitu, maksudnya. langsung saja balasan review:

HipHipHuraHura : tenang saja akan saya lanjutkan kok, terima kasih banyak :D

shiroi tensi : terima kasih, saya baca2 OnK yang dulu alurnya kacau banget makanya saya buat ulang

Miyuchin2307 : untuk sementara saya akan fokus fic ini dulu, tapi tenang the crown sedikit2 udah saya tulis lanjutannya

Sushimakipark : untuk versi remake-nya bahasa jepangnya akan saya buat sedikit, itupun yang common aja

Byubbyun : iya, akan saya usahakan untuk cepat-cepat update, 'mungkin' seminggu sekali jika saya tidak sibuk

onyxlave14 : aye sir!

NurmalaPrieska : saya usahakan untuk cepat :D

Ana : hanya sedikit dari konsep yang saya ubah, selebihnya tetap

terima kasih untuk para readers yang sudah review, fave, dan follow

jaa adios