Suatu pagi, di SMA Konoha Gakure.

"Selamat PAGI!" seru Ino menyambut hari pertama masuk liburan tengah semester dengan semangat 45.

"Pa—" Ketiga teman Ino yang berencana untuk untuk membalas seruan Ino terhenti. Karena sosok yang sedang melangkah ke bangkunya itu bukan lagi bersurai pirang, namun ungu!

"Ino, rambutmu dicat?" tanya Tenten memecahkan keheningan.

Ino mengangguk. "Iya!" jawabnya riang.

"Pe, permanen?" tanya Hinata.

"Tentu saja tidak! Sebulan lagi akan luntur, kok," jawab Ino ringan.

"Kau mengecatnya di salon mana?" tanya Karin.

TENG! TENG!

Pembicaraan mereka terputus oleh bunyi bel yang menjadi pertanda masuknya pelajaran. Seluruh murid segera duduk di bangkunya masing-masing.

"Tenten, kau tidak duduk di sebelahku?" tanya Ino.

"Tidak, sebenarnya aku dan Neji baru saja jadian," jawabTenten sambil tersenyum pada Ino. "San aku ingin duduk bersamanya. Tidak apa-apa kan, Ino?"

"Tentu saja! Selamat, ya!" balas Ino dengan riang. Dirinya membayangkan bahwa ia bisa menarik PJ*Pajak Jadian* dari mereka berdua.

GREK!

Suara pintu yang terbuka membuat kelas X A menjadi benar-benar hening. Kakashi-sensei, sang wali kelas melangkah masuk.

"Anak-anak, kalian kedatangan murid baru dari SMA Suna Gakure," ujar Kakashi-sensei. "Masuklah, Sabaku."

DEG!

Sabaku? Jangan-jangan, Ino menerka-nerka.

Gaara melangkah masuk. Langkahnya yang macho dalam sekejap membuat para gadis menjerit-jerit, menjerit dalam hati tentunya.

Huh! Pasti nanti akan terbentuk fans club-nya Sabaku, pikir Shikamaru malas.

"Perkenalkan, namaku Sabaku No Gaara," ucap Gaara malas.

"Gaara, silahkan duduk di sebelahnya Ino," ujar Kakashi-sensei.

"Ino? Yamanaka Ino?" tanya Gaara, ia mengangkat alisnya yang tak ada.

"Kalian sudah saling kenal?" Kakashi-sensei memandangi Ino dan Gaara bergantian.

"Kami berasal dari SMP yang sama," jawab Ino cepat, takut Gaara akan berkata yang tidak-tidak. Dari sekelilingnya, Ino dapat merasakan hawa membunuh dari para calon fan girls Gaara.

Gaara melangkah mendekati Ino dan duduk di sebelahnya.

Jantung Ino berdegup kencang. Apakah Gaara masih ingat kejadian hari itu? pikirnya panik.

"Baiklah, pelajaran dimulai …"

-O-O-O-

INO'S POV

"Akhirnya hari ini berakhir, juga," desahku lega.

"Memangnya ada apa?" tanya Gaara sambil tetap membereskan barang-barangnya.

Aku terkejut dan menjawab dengan terbata-bata, "A-aku hanya merasa lelah, ja-jadi aku lega karena setelah ini dapat beristirahat," ucapku. Duh, Ino! Sejak kapan cara bicaramu gampang terbata-bata seperti Hinata! rutukku dalam hati.

Gaara mengangkat alisnya. "Kalau begitu, sampai jumpa," balasnya sembari melangkah pergi.

Aku menatap punggung Gaara sampai ia menghilang di balik pintu. Dengan lesu, aku mengalihkan pandangan ke barang-barangku yang berantakan dan mulai membereskannya.

-O-O-O-

GAARA'S POV

Aku mengempaskan tubuhku ke kasur yang empuk.

"Hhh… kira-kira dia ada di mana, ya?" Aku menggumam.

Saat aku terbangun waktu itu. Aku hanya ingat bahwa aku mabuk setelah putus dengan Sakura. Aku tahu ada seorang gadis yang menghampiriku. Tapi aku hanya ingat dia berambut pirang.

"Astaga, aku harus mencarinya mulai dari mana?" Aku mengeluh.

Aku bangkit dan memandang sekelilingku, sebuah kamar yang kondisinya nahas bagaikan Titanic alias kapal hancur.

"Sepertinya aku membereskan ini," gumamku.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan mulai membereskan kamar. Kurapikan buku-buku yang berserakan. Kurapikan meja belajar yang penuh barang-barang. Kurapikan tempat tidur yang berantakan.

Dan saat aku mengganti seprai, mataku menangkap sehelai rambut berwarna pirang. Aku segera mengambilnya. Aku mulai berpikir. "Sepertinya gadis itu yang membawaku kemari," gumamku. "Berarti, ia mengenalku."

-O-O-O-

Temari menekan bel pintu rumah Gaara. Gaara memang tinggal sendirian karena ia paling tidak suka kebisingan, terutama pada kakak perempuannya yang cerewet. Gaara membuka pintu, wajahnya menjadi masam melihat siapa yang datang.

"Ada apa kau kemari?" tanya Gaara.

"Aku hanya ingin meminjam novel, Gaara," jawab Temari. Ia sangat gemas pada adiknya yang satu ini. Temari menahan diri untuk tidak menyubit pipi Gaara. Ia takut Gaara tak kan meminjamkannya novel lagi.

"Masuklah," Gaara membalikkan tubuh dan berjalan menuju kamarnya. Temari mengikutinya.

"Jadi, bagaimana? Kau akan memperkenalkan pacarmu padaku atau tidak?" Temari memulai percakapan.

"Aku tidak punya pacar!" bentak Gaara, jemarinya mengambil sebuah novel di rak meja.

"Tapi—" ucapan Temari terputus karena Gaara mendorong Temari keluar dari rumahnya, meraih tangan Temari, menaruh novel di tangan Temari, dan membanting pintu keras-keras.

BRAK!

Temari hanya dapat menghela nafas melihat kelakuan adiknya.

-O-O-O-

Gaara menggeram di balik pintu.

Temari sialan! umpatnya dalam hati. Mengingatkanku pada Sakura, saja. Sudah susah payah aku hampir melupakannya, tapi kenapa malah diingatkan!

Gaara membuka laci meja kamarnya, mengambil sebuah kotak mungil dan membukanya, sehelai rambut pirang milik Ino —yang tentu saja Gaara tidak mengetahui milik siapa—. Gaara menggenggam rambut itu dan amarahnya berangsur-angsur hilang.

"Sepertinya aku memang harus mencarimu," gumam Gaara lirih.

-O-O-O-

Tenten terperangah mendengar cerita Ino. Tadi Ino datang ke rumahnya dan berkata bahwa ia ingin menceritakan sesuatu.

"Tenten, aku harus bagaimana?" tanya Ino dengan raut khawatir.

"Kau…"

Hm?" Ino mendekatkan telinganya.

"Kau…"

"Aku apa, Tenten?" tanya Ino penasaran.

"Kau dan Gaara sudah tidur bersama?!" jerit Tenten.

Ino sweatdrop. Sepertinya ada yang salah di otaknya Tenten, pikirnya.

Sambil mengusap-usap telinganya yang sakit, Ino berseru kesal, " Yang benar saja! Mana aku mau!"

"He.. he.. siapa tahu saja," goda Tenten.

Ino memutar bola matanya.

"Iya, aku mengerti keadaanmu. Gaara sepertinya tidak menyadari bahwa itu kamu kan?" tanya Tenten.

"Iya, sih. Dia tidak bereaksi apa-apa tadi pagi," Ino merenung.

"Berarti kau aman!" seru Tenten. "Dia tidak mengingatmu. Lalu, apa yang kau khawatirkan?"

"Tidak mengingatku?" bisik Ino, pandangannya menerawang.

"Ino?" panggil Tenten.

Ino tidak mendengar, pandangannya masih menerawang.

"Ino!" panggil Tenten lagi.

Ino tersentak. "Ada apa, Tenten?"

Tenten memandang Ino dengan penuh selidik.

"Kau menyukai Gaara."

-O-O-O-

INO'S POV

Aku menyukai Gaara? Aku termenung. Kakiku menyusuri jalan setapak di taman kota.

"Braak!"

"Aduh!"

Aku jatuh terduduk dan mengaduh.

"Kau tidak apa-apa?"

Aku mengangkat wajah dan terbelalak memandang sang penabrak, Gaara.

-O-O-O-

GAARA'S POV

Gadis itu terbelalak, iris aquamarine-nya bertemu dengan jade milikku.

"Hei?" tegurku.

"Eh, ah, apa?" matanya berkedip-kedip, sepertinya kesadarannya sudah kembali.

"Mau sampai kapan kau seperti itu?" kataku dingin.

Ino segera berdiri, semburat merah muncul di pipinya.

Manis, refleks aku berpikir. Aku tersadar dan menggelengkan kepala. Apa yang barusan kupikirkan? Wajahku memanas. "Dah," ucapku sebelum berbalik. Aku segera melangkah pergi sebelum Ino menyadari rona merah yang meguasai wajahku.

-O-O-O-

Ino bengong. Tidak menyangka bahwa ia akan mendapat tanggapan super dingin dari Gaara. Ino teringat kembali perkataan Tenten. "Aku menyukai Gaara? Yang benar saja," rutuk Ino.

-O-O-O-

GAARA'S POV

Waktu berlalu. Hampir sebulan berlalu sejak hari itu. Aku berkali-kali mengunjungi klub itu dan tak berhasil menemukan gadis yang kucari. Aku malah bertemu Ino, gadis berambut ungu itu.

Aku tersentak. Ungu? pikirku. Seingatku, dulu rambut Ino tidak berwarna ungu. Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku harus mencari tahu…


To Be Continue