Naruto © Masashi Kishimoto

Miss Ekonomis © Lala Yoichi

Warning:

Fic abal, gaje, typo bertebaran, garing, ide pasaran,

judul tidak sesuai dengan isi dan lain-lain.

Don't Like Don't Read.

But review, please? #plakk :v

Happy reading~

.

.

.

Kantin merupakan tempat yang selalu ramai saat jam istirahat tiba. Sama seperti siang ini, banyak sekali murid yang berbondong-bondong datang untuk memenuhi asupan energi mereka yang seharian ini telah dikeluarkan atau hanya sekedar mengobrol dengan teman. Di tengah keramaian dan kebisingan yang tercipta, terlihat dua sosok gadis yang tengah duduk anteng di sudut kantin. Sudah 5 menit lamanya seorang gadis cantik berambut pirang panjang dan iris mata berwarna baby blue yang mirip sekali dengan salah satu mainan favorit bagi anak perempuan, sebut saja namanya Sukirman? Sujiman? Suki- ah sudahlah, memandang gadis berhelaian soft pink yang tengah santai menyantap soft cake strawberry dengan pandangan menuntut. Merasa diperhatikan Sakura menghentikan kegiatan makannya dan memandang balik gadis bungsu keturunan Yamanaka itu.

"Kau tidak makan, Ino? Jangan terlalu sering diet, karena itu tak akan mengubah apapun, kau tahu? Kau tetap saja gendut seperti babi." ucapan polos itu meluncur begitu saja dari bibir peach Sakura yang kembali sibuk melahap soft cake. Mendengar itu membuat perempatan kecil muncul di kening Yamanaka Ino, nama gadis berambut pirang yang duduk di depan Sakura. Karena tidak mendapat jawaban dari gadis di depannya membuat Sakura menghentikan kegiatan makannya untuk yang kedua kali. Wajahnya merengut heran dan sedetik kemudian emeraldnya berbinar cerah.

"Kau sungguh tidak mau? Ya sudah, untuk ku saja ya?" belum sempat jemari lentik Sakura menyentuh mangkuk salad milik Ino, jemari lentik lainnya menampik tangannya keras.

"Itaii, itaiii... kenapa kau memukul ku?!"

"Jangan seenaknya mengambil makanan orang lain,Jidat!" teriak Ino dengan nada bersungut-sungut. Sudah cukup dengan sebutan babi, dia tidak akan menyerahkan saladnya juga. Sakura mengerucutkan bibirnya lucu dan mengusap pelan tangannya yang menjadi korban keganasan Ino.

"Kau hanya diam dan tidak segera memakan saladmu. Aku kira kau sedang diet, jadi aku ambil saja daripada mubazir. Kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan." gerutu Sakura seperti anak kecil.

"Huft..." Ino menghela nafas panjang, melihat itu membuat Sakura mengubah posisi duduknya menjadi di samping Ino.

"Kau kenapa? Apa kau sakit,Ino?" tanya Sakura cemas, karena tak seperti biasanya sahabat pirangnya itu menjadi sosok yang begitu pendiam hari ini. Ino menggeleng pelan, kemudian baby bluenya menatap lurus emerald Sakura.

"Kau-"

"Aku…"

"Kau-"

"Aku…?"

"Ka-!"

"Ak-"

"Jangan menyelaku terus, Jidat! Aku belum selesai berbicara…!" teriak Ino gemas, karena sedari tadi Sakura selalu menyela sehingga dia tidak bisa menyelesaikan perkataannya. Sakura tertegun sebentar, matanya berkedip beberapa kali sebelum dia kembali mengeluarkan suaranya.

"E… um… baiklah." Ino menghela nafas perlahan. Entah kenapa dia sering sekali menghela nafas setiap kali berada di dekat sahabat pinknya itu.

"Kau pacaran ya dengan Sasuke?!" tanya Ino to the point.

"Tidak!" jawab Sakura cepat.

"Kalau aku berpacaran dengan seseorang, kau adalah orang pertama yang akan ku beri tahu." tambahnya. Ino mengangguk pelan dan dalam hati dia membenarkan perkataan Sakura. Mana mungkin Sakura menyembunyikan hal semacam itu darinya. Apalagi sahabat pecinta soft cakenya itu bukanlah tipe orang yang bisa menahan perasaannya. Saat dia senang atau sedih, dia pasti akan segera datang pada Ino dan menceritakannya.

"Jadi itu hanya gossip?"

"Tentu saja!" sahut Sakura dengan wajah yang begitu meyakinkan. Ino mendengus menahan tawa. Lihat, betapa lucunya ekspresi gadis yang tengah duduk di sampingnya sekarang. Dan perlahan dengusan itu berubah menjadi sebuah senyuman lembut. Sakura adalah gadis yang masih polos dan dia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, jadi dia merasa harus mengawasi setiap gerak-gerik yang Sakura lakukan. Apalagi jika itu sudah berhubungan dengan laki-laki, dia tidak akan membiarkan sembarangan laki-laki mendekati Sakura. Karena dia tidak ingin adik kecilnya terluka.

"Baiklah. Aku tidak melarangmu untuk pacaran, tapi jika kau sedang dekat dengan laki-laki, kau harus menceritakannya padaku. Apa kau mengerti?"

"Saku mengerti,Mama… Saku janji!" ucap Sakura dengan cengiran lebarnya. Ino berakting seolah-olah dia adalah seorang Ibu yang begitu bangga pada anaknya, tangan kanannya mengusap-usap lembut kepala pink milik Sakura.

"Anak baik."

"Um… Mama, boleh Saku bertanya sesuatu?" Ino melepas sentuhan tangannya pada puncak kepala Sakura. Kedua alisnya Ia naikkan ke atas.

"Tentu saja."

"Sasuke itu siapa?"

'DOENG' seketika Ino memukul pelan keningnya dengan telapak tangan. Dia baru mengingat sesuatu, walaupun Sakura terlihat sempurna sebagai seorang gadis cantik dan pintar, tapi tetap saja dia mempunyai kekurangan. Dia begitu mudah lupa dengan nama seseorang yang jarang berinteraksi dengannya. Untuk kesekian kalinya Ino kembali menghela nafas.

"Dasar …"

.

.

.

Pulang Sekolah di sepanjang koridor kelas yang ramai, tampak dua orang sejoli sahabat yang mempunyai warna rambut yang begitu kontras berjalan beriringan. Yang satu berwarna hitam gelap, satunya lagi berwarna kuning terang. Yang berwarna hitam gelap berbentuk seperti bo*sensor*ng ayam, yang berwarna kuning terang seperti durian matang. Si kepala durian memukul bahu pemuda yang mempunyai kepala mirip bo*sensor*ng ayam dengan keras.

'PLAK'

'Aaargh. Dasar Baka-dobe sialan! Dia tidak sadar apa pukulannya seperti pukulan gorilla! Akan aku adukan pada Kaa-san nanti!' gerutu pemuda berambut hitam dalam hati, walaupun batinnya mengucapkan sumpah serapah untuk pemuda berambut kuning, tapi anehnya ekspresi pemuda itu tetap saja datar.

"Hoi,Teme! Ku dengar kau sedang dekat ya dengan benang merahku?" ucap pemuda berambut kuning terang, Uzumaki Naruto, dengan pandangan menuntut. Sasuke menaikkan satu alisnya.

"Hn?" seakan mengerti maksud dari gumaman tidak jelas Sasuke, Naruto yang sudah berteman dengan pemuda itu sejak mereka masih orok pun segera menjawab.

"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Sakura-chan!"

'Cih, benang merah palamu peyang?! Sakura itu benang merahku,Dobe. Jangan bermimpi mendapatkannya!' ucap inner Sasuke sinis. Ck ck

"Hn." jawab Sasuke cuek.

"Sejak kapan kalian saling bicara? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?!" protes Naruto. Dia merasa terkhianati, sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudara sepihaknya –karena Sasuke selalu menolak untuk menjadi saud aranya– ternyata sangat tega menusuk dia dari belakang. Dan itu membuat hatinya sakit. Hatinya seperti diiris-iris menggunakan pisau berkarat, lalu lukanya yang menganga ditaburi garam dan perasan jeruk lemon. Tidak lupa saus tomat atau saus sambal juga boleh ditambahkan, sesuai selera. Eh?

"Tadi pagi..."

"Kau beruntung sekali ya, aku benar-benar iri denganmu." gerutu Naruto tidak terima, dia merasa Kami-sama sangat tidak adil padanya.

"Kau selalu saja mendapatkan sesuatu dengan mudah… bahkan Sakura-chan…" gumam Naruto sambil tersenyum miring, mata biru Naruto yang selalu terlihat cerah sejenak meredup. Mereka berjalan dalam diam saat menuruni tangga menuju lantai 1. Hingga suara Sasuke memecahnya.

"Tch, sudahlah, Dobe! Tadi pagi itu hanya kebetulan. Saat mobilku mogok, Sakura datang dan menawariku untuk berangkat bersama." decak Sasuke kesal. Mendengar celotehan Naruto memang sangat mengganggu bagi Sasuke, tapi melihat Naruto dengan wajah sedihnya itu terasa jauh lebih mengganggu.

"Jadi… kalian tidak pacaran?"

"Walaupun aku sangat menginginkan itu terjadi, tapi untuk saat ini kami tidak pacaran. Belum." mendengar kata 'tidak' dari mulut Sasuke membuat mood Naruto langsung naik dengan drastis.

"Yatta! Terima kasih, Kami-sama! Engkau masih memberiku kesempatan!" teriak Naruto girang sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas. Sasuke hanya mendengus melihat sifat sahabatnya yang begitu berlebihan.

"Haha… aku senang, akhirnya kau jujur tentang perasaanmu,Teme. Walaupun itu artinya kita akan menjadi rival, tapi itu lebih baik daripada kau menjadi musuh dalam selimut."

"Ck, apa-apaan itu!" protes Sasuke tidak terima karena dianggap sebagai musuh dalam selimut selama ini oleh Naruto. Naruto hanya menjulurkan lidahnya menanggapi protes dari Sasuke.

"Hehe… Oh iya, tadi Itachi-nii menelfon ku katanya mobilmu sedang ada di bengkel sekarang, jadi dia menyuruhku untuk mengantarmu pulang." sambung Naruto dengan cengiran lima jarinya.

"Ck, dia pikir aku ini bayi apa… aku bisa pulang sendiri,Dobe." ucap Sasuke dengan wajah kesal.

"Hei,Teme… kau tidak boleh begitu, Itachi-nii itu saaayang padamu. Dia melakukan itu karena dia ingin kau sampai rumah dengan selamat." ucap Naruto sok dewasa. Sasuke hanya memutar onyxnya bosan mendengar ceramah singkat dari Naruto.

'Selamat? Apa kau bercanda, Baka aniki?' gerutu Sasuke dalam hati. Tanpa terasa langkah kaki mereka sudah membawa mereka sampai di tempat parkir.

"Sasuke… disini!" teriak seorang gadis berambut gulali yang ada di tempat parkir, tangannya melambai-lambai sambil membawa secarik kertas kecil yang bertuliskan nama 'Uchiha Sasuke'. Ya, jadi dia langsung menulis nama itu setelah sahabat cantiknya memberitahukan siapa itu Sasuke, saat itu juga dia teringat janjinya dengan pemuda tampan itu. Teriakan sang gadis yang cukup kencang membuat kedua pemuda yang baru saja menginjakan kaki di tempat parkir itu menoleh ke sumber suara. Naruto menaikkan sebelah alisnya.

"He? Sakura-chan...?" gumamnya heran. Sakura berlari kecil ke arah Sasuke dan Naruto berada.

"Sasuke, apa kau jadi pulang bersama ku?" tanya Sakura dengan wajah polosnya. Nah, itulah janji mereka berdua, pulang bersama. Tentu saja setelah Sasuke melemparkan beberapa alasan palsu kepada Sakura seperti, sopirnya pulang kampung lah, kakaknya lari dari rumah lah, mobil Naruto kena begal lah, dan alasan palsu lainnya. Sasuke tidak langsung menjawab, dia melirik ke arah Naruto yang menatapnya penuh selidik. Kemudian beralih menatap gadis musim seminya. Apa? Gadis musim seminya?

"Tentu saja..." jawab Sasuke enteng. Naruto mendengus.

"Katanya bukan bayi dan bisa pulang sendiri…" sindir Naruto. Sasuke memutar bola matanya dan Sakura menatap bingung ke arah dua pemuda di hadapannya.

"Ayo…!" Sasuke menarik tangan Sakura dan meninggalkan Naruto sendirian.

"E'eh...? " Sakura terkejut dengan tarikan Sasuke yang hampir saja membuatnya terjatuh, lalu dia menatap Naruto.

"Sampai jumpa Kiba-san...!" pamit Sakura sambil tersenyum manis, tak lupa dia juga melambaikan tangan mungilnya kepada Naruto. Senyuman Sakura membuat pipi Naruto memerah dan memanas. Tapi tiba-tiba saja rona merah di pipinya menghilang dalam sekejap saat dia mulai menyadari sesuatu.

"Kiba-san?"

.

.

.

Tbc.

Waktunya balas ripiuw! :D

Aoza: Ini sudah lanjut. Makasih sudah ripiuw. Lagi? :D

Ipong: Ini sudah lanjut. Hehe makasih. Semoga tidak mengecewakan. Ripiuw lagi? :D

Miuna: Ini settingnya di Konoha o.o *plakk* hehe, iya terima kasih infonya Miuna-san, tapi untuk di fic ini anggap saja berboncengan itu legal. wkwk *ditendang* terima kasih atas ripiuw nya. Lagi? :D

Aurian: iya, aku juga merasa begitu. Mungkin karena kebawa dari Authornya yang masih polos *o* (hapus history fic rate M di hp dan pc) *dilemparsendal* hehe.. terima kasih sudah ripiuw. Lagi? :D

Terima kasih untuk Suket alang alang, YOktf, bandung girl, GaemSJ, Little pinky mouse, An Style, hanazono yuri, yantif390, Afisa UchirunoSS, Floral White, mantika mochi, Kuchiki Mikan, dan roseraina yang sudah review. Balasan cek PM, please.

Terima kasih juga untuk yang sudah fav dan follow. Aaa.. kalian semua membuatku merasa diakui. Saya terharu T.T *alaymodeon* #plakk :D

Hah, sebenarnya fic ini sudah jadi sejak dua hari yang lalu, tapi saya terlalu ragu untuk update. Saya merasa gagal T.T fic ini terasa maksa dan garing. *curcol*

Akhir kata dari saya,

Review? :D