A Fanfic Written by
intoTITAHtion
Dedicate to
Harukaze a.k.a Tya
.
.
.
Olvidar Que
Second Part
Malam telah menunjukkan Pukul tujuh dan gadis berambut bergelombang itu masih saja membalik-balik selembar kertas yang ia genggam –bingung. Ia telah tiba di depan sebuah rumah sederhana itu –yang ia yakini— adalah rumah Yunho. Ia mematung sesaat di dalam mobil. Ia bingung harus melakukan apa. Bagaimana jika yang akan diperkenalkan Yunho padanya adalah kekasihnya? Jika itu terjadi, maka ia harus berbuat apa?
Dengan membulatkan tekad, ia akhirnya melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah yang –diyakininya— adalah rumah Yunho. Dan benar saja, begitu ia memencet bel, pria berkulit kecoklatan itu pun muncul dan memersilahkan dirinya untuk masuk.
"Ah, akhirnya kau datang juga. Silakan masuk!" dengan sebuah senyum yang tersungging di bibirnya, Yunho memersilahkan gadis itu masuk. Isseul mengekor Yunho dari belakang.
Mata Isseul membulat tak percaya ketika melihat seorang anak lelaki berparas cantik menyuguhkan makan malam kepadanya. Inikah orang yang dimaksud oleh Yunho? Orang yang sangat dicintainya? Dan ia adalah… Pria?. Isseul mengamati Jaejoong dari atas ke bawah. Memastikan bahwa pria berusia lebih muda dua tahun darinya itu tak memiliki dua tonjolan pada dadanya. Ya, tak salah lagi! Ia adalah pria!
"Hai, noona. Naneun Kim Jaejoong imnida…" pria cantik yang ternyata bernama Jaejoong itu memperkenalkan diri pada Isseul. Ia tak hanya cantik, suaranya juga merdu.
"Isseul imnida…" gadis itu menjawab dengan singkat dan melemparkan senyum kecil pada Jaejoong yang ada di hadapannya saat ini.
Tak lama kemudian, Yunho ikut berkumpul bersama keduanya. Ia memilih untuk duduk disamping Jaejoong. Saat acara makan malam yang sederhana itu berlangsung, Isseul tak henti-hentinya memerhatikan dua orang pria yang ada di hadapannya saat ini. Ia menangkap ada sesuatu yang tak wajar pada cara Yunho menatap Jaejoong, pada cara pria itu member i perhatian pada Jaejoong. Pada segalanya. Tunggu, apakah ada yang salah disini? Apakah ia telah melewatkan banyak cerita tentang Yunho?
Beberapa menit berlalu dan ketiga anak manusia itu telah menyelesaikan acara makan mereka. Jaejoong berdiri dan hendak membereskannya.
"Biar aku bantu," Yunho yang melihat Jaejoong berdiri, spontan ikut berdiri seraya membantunya membawakan beberapa piring di tangannya.
"Aku bisa sendiri, Hyung.." Jaejoong menolak dan Yunho pun kembali pada posisinya semula. Isseul menelan ludah melihat kejadian ini.
Setelah memastikan bahwa Jaejoong telah berada di dapur, Isseul mendekat ke arah Yunho. Ia ingin menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengusik batinnya.
"Yunho-ah, apakah dia orang yang sangat kau cintai?"
Hening.
Yunho menarik napas dalam-dalam.
"Aku…Sejujurnya tak tahu apa yang aku rasakan padanya. Dia tiba-tiba datang saat hatiku sedang kosong dan mengisinya. Mengisi lubang yang menganga lebar di hatiku.."
Jeda sesaat.
"Bohong jika aku mencintainya sebagai adik, selama lebih dari belasan tahun tinggal bersamanya. Bohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak mencintainya sebagai laki-laki…" Yunho mengucapkan kalimat-kalimat itu pada Isseul dan menundukkan wajahnya.
"Kau tahu, Yunho-ah…" Isseul membuka suaranya. Dan suara gadis itu terdengar bergetar di telinga Yunho.
Jeda sesaat.
"Banyak pria datang dan pergi dalam kehidupanku. Tapi dari dulu sampai sekarang, hanya kaulah yang aku cintai. Tak ada pria lain. Sungguh,"
Isseul menghela napas panjang dan berusaha untuk tidak menangis.
"Tak bisakah aku mengisi hatimu yang kosong untuk kedua kalinya, Yunho-ah?" Isseul merapatkan tubuhnya pada Yunho. Mencengkeram dada pria itu pelan.
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Seharusnya sejak awal kau tidak meninggalkan lubang di hatiku. Anggap saja ini adalah balasan untukmu yang sudah meninggalkanku dulu…" Yunho berujar pelan dan tersenyum ringan pada Isseul. Hati gadis itu tertohok mendengar ucapan Yunho barusan. Ternyata ia salah. Ia sudah tak berarti apapun lagi untuk Yunho.
"Kau benar. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu dan membiarkanmu bertemu dengan Kim Jaejoong…" Gadis itu mengangkat wajahnya dan berusaha berujar dengan nada datar.
Gadis itu meringkuk dalam kamar apartemennya yang luas. Ia menangis tersedu-sedu sendirian. Tak ada lagi orang yang manjadi tumpuan hidupnya saat ini. Ia pun menatap foto masa kecil antara dirinya dan Yunho yang terbingkai indah di meja sebelah tempat tidurnya. Ia meremas foto itu pelan sambil merasakan sesak di dadanya. Yunho benar, tidak seharusnya ia meninggalkan pria itu sendirian.
'Anggap saja ini adalah balasan untukmu yang sudah meninggalkanku dulu' Kalimat itu terus menggema di telinga Isseul. Dadanya terasa sakit.
Saat ia memutuskan untuk pulang dari rumah Yunho tadi, pria itu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun padanya. Ia membiarkan gadis itu pergi dari hadapannya untuk kedua kalinya. Barangkali Tuhan menggariskan pertemuannya dengan Yunho, sebagai balasan atas kesalahan Isseul di masa lalu. Entahlah. Ia enggan berpikir.
Can you hear my heart always calling for you, lovin' you?
My heart keeps waiting there for you,
Waiting for you to open it
And I hope you'll realize that this person loves you
Please, I hope you'll know.
Someday
(Someday)
Semenjak pertemuan pertama mereka –setelah sekian lama terpisah— Isseul semakin sering mengunjungi Yunho. Ia bahkan tak memedulikan sekalipun pria itu telah mengatakan bahwa dirinya tak mencintai Isseul lagi. Sekalipun Isseul bukan menjadi pemilik dari separuh hatinya. Tak apa, gadis itu rela.
Hari sudah mulai malam dan Jaejoong pulang terlambat. Yunho yang menunggunya selama tiga jam di depan pintu, memasang muka kesal dan pria cantik di hadapannya itu hanya tersenyum manis, seolah tanpa dosa.
"Darimana saja, kau?" Yunho yang ekspresi wajahnya susah dilukiskan dengan kata-kata.
"Aku baru mengajak SooYoung jalan-jalan. Hyung tahu SooYoung, kan? Gadis yang pernah kuceritakan padamu waktu itu! Aku sudah resmi berpacaran dengannya, kau tahu itu hyung?" Kim Jaejoong terus saja menyerocos. Tak memedulikan ekspresi wajah Yunho yang sedari tadi menahan amarah. Apalagi mendengar bahwa ia telah berpacaran dengan seorang gadis.
"Kau tidak boleh berpacaran dengan jalang itu!" Suara Yunho tiba-tiba meninggi. Ia berujar sambil menggebrak meja makan. Tempat dia dan Jaejoong beada. Pria cantik yang ada di hadapannya itu menautkan kedua alisnya bingung. Bingung dengan reaksi Yunho yang tak pernah diduganya. Selama ini, hyungnya itu tak pernah sekalipun berkata sekasar itu padanya.
"Kenapa, hyung? Dia anak baik-baik," Jaejoong mencoba memelankan suaranya. Mencegah terjadi pertengkaran yang lebih hebat lagi.
"…." Yunho tak menjawab. Ia bingung harus menjawab apa. Rahangnya mengeras.
"Jawab aku, hyung!" Jaejoong mendekatkan wajahnya pada Yunho. Menanti jawaban dari pria berkulit kecoklatan itu.
"Karena…."
Jeda sesaat.
"Karena… Tak ada yang boleh kau lihat, selain AKU. Hanya AKU yang boleh memilikimu. Terserah kau mau bilang apa, yang jelas aku tak mau dianggap kakak lagi olehmu…" akhirnya kata-kata laknat itu turun begitu saja dari kerongkongan Yunho. Jaejoong mematung mendengar perkataan seseorang yang telah dianggap hyung-nya itu.
"Hyung… A..Apa yang kau…? Jaejoong tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Ia memundurkan tubuhnya menjauhi Yunho. Namun pria berkulit kecoklatan itu memegangi kedua lengan Jaejoong, menempelkannya erat di dadanya.
"Aku mencintaimu. Sejak dulu. Tak ada orang lain selain kau…" Yunho mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong. Bahkan kini, pria cantik itu dapat merasakan embusan napas dari orang yang selama ini dianggap sebagai kakaknya itu.
"Hentikan, Hyung! Kumohon! Ini salah!" Jaejoong meronta tatkala Yunho mulai menyerang dirinya lebih ganas, memegang daerah-daerah sensitifnya. Tiba-tiba memori yang telah ia kubur dalam-dalam muncul lagi. Saat dimana ia masih berusia lima tahun dan ayah tirinya berusaha untuk menyetubuinya. Kejadian itu hampir sama persis seperti apa yang dilakukan Yunho padanya.
Tanpa sepengetahuan Yunho, tangan Jaejoong meraih vas bunga yang terletak diatas meja kecil, di dekat tempat Yunho mencumbu dirinya. Dan tanpa ragu, ia memukulkan vas bunga itu tepat di atas kepala Yunho. Pria berkulit kecoklatan itu pun terjatuh menahan sakit. Jaejoong pun menjauh darinya.
"H..Hyung…" Dengan ragu-ragu Jaejoong mendekati Yunho yang memegangi kepalanya yang mengeluarkan banyak darah.
"Jangan dekati aku… Pergilah bersama orang yang kau cintai. Aku tak apa. Sungguh," Yunho berujar pelan sambil menatap mata Jaejoong yang berkaca-kaca. Tanpa disadari, Jaejoong bukan hanya telah menyakiti fisik Yunho, tapi juga hatinya. Ia telah menyakiti hati orang yang selama ini menjadi tumpuan dalam hidupnya. Orang yang tanpa ia duga menyimpan perasaan padanya sekian lama.
"Ma..Maafkan aku, hyung…" Jaejoong mengucapkan kalimat itu sambil berlari keluar. Ia masih takut melihat wajah Yunho. Ketika mengingat apa yang dilakukan pria itu barusan, bayangan masa lalunya terus menghantuinya. Sehingga Jaejoong memutuskan untuk menenangkan dirinya sebentar di rumah Yoochun. Setidaknya setelah ia merasa nyaman.
Hari sudah sangat larut dan pria itu berjalan di tengah jalanan yang sepi sambil terus memegangi kepalanya yang berdarah-darah. Mungkin ini balasan baginya, yang telah mencampakkan orang yang benar-benar mencintai dirinya sejak dulu. Apakah ia sudah terlambat untuk kembali pada gadis itu. Ia mengeluarkan posel dari saku celananya dan menekan nomor Isseul.
"Ya, Yunho-ah. Mengapa menelepon malam-malam begini? Kau mengganggu tidurku, kau tahu?" Suara gadis itu menggema dengan indah di telinga Yunho. Ia tersenyum kecil, sambil terus berjalan dan memegangi kepalanya yang berdarah.
"Kau sedang di rumah?"
"Ya. Memangnya kenapa? Kau mau datang kemari?"
"Aku… Akan kembali padamu. Kumohon, tunggulah aku…" Yunho berujar pelan dan saat itulah gadis yang ada di ujung telepon itu tak sanggup berkata-kata. Ia tak menyangka bahwa pada akhirnya Yunho akan kembali padanya.
Bruaaaaakkkk
Sebuah container yang melaju dengan kecepatan kencang membuat tubuh pria berkulit kecoklatan itu terpental hingga beberapa meter. Tulang dadanya retak, namun ia masih sempat bernapas. Orang-orang pun mengerubunginya.
"Aku akan kembali padamu, Isseul-ah. Tunggu aku, kumohon," itulah kata terakhir yang masih sempat ia ucapkan, sebelum pada akhirnya meninggal dunia.
Gadis berambut panjang bergelombang itu tampak cantik dengan gaun hitam panjang yang ia kenakan saat ini. Rambut ikal panjang yang dibiarkan terurai pun, dipermainkan oleh angin. Kesana-kemari. Ia diam saja dan tetap membiarkan angin itu mempermainkan rambut ikalnya. Tak apa. Ia sudah biasa dipermainkan. Hingga ia tak merasakan apapun lagi. Kebal. Mati rasa.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak gadis itu dengan ragu. Gadis itu tak menoleh. Seolah tak sudi merespon sentuhan pria cantik itu, ia tetap saja diam sambil memadangi aliran sungai yang deras, yang mengalir di bawah jembatan kecil, tempat ia berpijak saat ini.
"Noona… Maafkan aku. Aku mohon," Suara pria berparas cantik itu mendadak menjadi parau. Menahan deru air mata yang mungkin saja bisa keluar saat ia mengucapkan untaian kata tadi pada gadis manis yang memunggunginya saat ini. Pria cantik itu pun meremas pegangan besi pada tepi jembatan. Mencoba meredam rasa sakit yang menghujam hatinya.
"…" Hening. Tak ada respon dari gadis manis berambut ikal bergelombang itu. Ia kemudian berbalik, melangkahkan kakinya hendak beranjak dari tempatnya.
"Maaf, aku minta maaf… Kumohon maafkan aku…" sang pria cantik akhirnya bersimpuh di kaki gadis yang hatinya telah hancur itu. Pria itu terus saja merapal kata yang sama. Ia tetap merapal maaf, hingga kata itu kini tiada artinya lagi. Terlambat.
"Semuanya sudah terlambat. Tak ada yang perlu dimaafkan lagi…" gadis itu berujar pelan.
"…Tapi setidaknya sebelum meninggal, ia telah membuat keputusan yang bagus. Yaitu kembali pada noona," Jaejoong berujar dengan lirih, tak berani menatap gadis yang berada di belakangnya.
"…." Gadis itu pergi dan tak menjawab sepatah kata pun.
I'm lost, I'm vain
I'll never be the same
Without you…
I can't look, I'm so blind
I lost my heart, I lost my mind
Without You…
(Without You – David Guetta ft Usher )
Setiap malam, gadis berambut hitam bergelombang itu berjalan tanpa tujuan di jalanan tempat Yunho meninggal. Ketika jalanan itu sepi, ia berteriak agar pria itu kembali. Ia terus menunggu Yunho, seperti yang terakhir kali diucapkan pria itu padanya.
"Aku… Akan kembali padamu. Kumohon, tunggulah aku…"
Jaejoong yang iba melihat keadaan Isseul pun sering menasihati gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu untuk melanjutkan hidupnya dan melupakan Yunho. Karena bagaimanapun juga, sekeras apapun ia memohon, hal itu akan sia-sia. Karena Yunho telah mati. Ia telah meninggalkan dunia ini.
Epilogue
2 years later…
Hari ini sudah dua tahun semenjak kau pergi meninggalkan aku. Meninggalkan Jaejoong. Dan aku masih belum dapat menyatukan serpihan-serpihan hatiku yang telah hancur karenamu. Kanapa waktu itu kau memintaku untuk menunggumu? Apa kau akan benar-benar kembali padaku? Sudah dua tahun aku menunggumu, dan kau tidak juga kembali. Dasar bodoh! Kenapa kau tidak kembali?
Aku sekarang mengerti, mengapa tuhan memertemukan kita lagi. Karena ia ingin aku menebus segalanya padamu. Menebus segala kesalahanku padamu di masa lalu, agar kau bisa kembali pada-Nya diiringi rasa kehilanganku. Ya, diiringi rasa kehilangan. Mungkin sama seperti apa yang kau rasakan saat aku meninggalkanmu dulu.
Apa kau bisa melihatku yang sedang bersimpuh di samping 'rumah baru'mu? Apakah kau bisa melihatku menangis setiap malam, karenamu? Mungkin setelah ini aku tak bisa sering membersihkan 'rumah baru'mu dan membawakanmu seikat bunga lagi. Tapi tenang saja, aku sudah meminta Jaejoong untuk melakukannya selagi aku tak ada disini. Bukankah kau mencintainya juga?
Hari ini aku akan kembali ke Paris. Jaejoong mengatakan padaku, bahwa aku harus melupakanmu. Bocah ingusan itu tak tahu, betapa sering aku mencoba untuk melupakanmu, tapi aku selalu tak bisa. Tapi dua tahun telah berlalu dan aku tak mungkin terus menunggumu. Aku memiliki hidpku sendiri, bodoh!
"Selamat tinggal, Yunho-ah" entah sudah berapa kali aku mengucapkan kalimat itu, hingga kini ketika mengucapkan salam perpisahan, tak sebegitu menyakitkan lagi seperti dulu . Aku pun berdiri. Beranjak menjauhi pemakaman Yunho. Menutup lembaran kisah yang telah tertulis dengan indah. Dan saat itulah, kisah cinta antara Yunho dan Isseul berakhir.
~Menunggumu tak membuatmu kembali
Merindukanmu tak membuatmu kembali
Kulupakan saja, biar semua tak pernah kembali~
(Andrei Aksana)
END
A/N:
Happy birthday
Saengil Chukkae Hamnida
Otanjubi omedetou
Selamat ulang tahun buat Tya, teman di dunia mayaku, yang sudah aku anggap seperti temanku sendiri. Terimakasih buat segalanya. Terimakasih telah menjadi teman di dunia mayaku yang paling baik. Terimakasih sudah sering membuatkan aku fanfic, terimakasih sering menggila(?) bersamaku, terimakasih buat segalanya! Semoga di ulang tahun yang ke-30 ini *plak* *diinjek*
Semoga di ulang tahunmu yang entah keberapa ini(?), Gusti Allah selalu bersamamu. Semoga kamu dimudahkan dalam menghadapi Ujian Nasional nanti dan bisa masuk perguruan tinggi yang kamu inginkan. Semoga kamu juga diberi kesehatan. Aminn.
karena ceritanya terlalu panjang, saya memutuskan untuk membuat fanfic ini menjadi dua bagian. Maaf kalau ceritanya sedikit aneh dan feel-nya kurang dapat. Akhir-akhir ini saya jarang menulis, jadi lupa cara untuk menulis(?)
Terimakasih buat semua yang sudah baca fanfic ini. Semoga amal dan ibadahnya diterima disisi Tuhan YME *plak*
Akhir kata, Jangan lupa meninggalkan jejak setelah membacanya.
Best Regards,
intoTITAHtion
NB: Judul bisa ditranslate di google XD
