BEHIND THE APPLE TREE
.
.
.
Author : Ciervo Azul
Title : Behind The Apple Tree
Genre : Fantsy-Romance-Drama
Length : 2 of ?
Cast :
Luhan
Sehun
Others
Warning :
AS (Age Switch as always)
GS (Genderswitch)
NC(Nanti ya)
Summary :
Sehun, namja mungil berusia enam tahun. Dunianya yang semula hanya dipenuhi mainan dan susu berubah semenjak ia menemukan sesosok gadis manis yang lebih tua darinya di belakang pohon apel di taman sang halmeoni. Dan saat ia dewasa, ia kembali ke sana mencari sosok sang gadis manis yang tak berubah sedikitpun.
.
.
.
Luhan's POV
Semua sudah berubah, ya hampir semua. Hanya diriku yang tidak bisa berubah. Tidak ada yang bisa membantuku keluar dari tempat terkutuk ini, begitu pikirku sampai sebuah keluarga membali tempat ini. Secercah harapan kembali bisa kurasakan, aku hanya perlu menunggu. Ya, menunggu waktu yang tepat. Kutatap seorang bayi laki-laki dalam gendongan ibunya, dia sangat tampan. Matanya bersinar dengan pancaran kebahagiaan, tidak seperti diriku yang menderita.
"Sehunnie chagi..." bibir tipisnya mengulas sebuah senyum kala nama indahnya terdengar. Sepasang mata kecil itu menatapku, ya. Sehun menatapku. Tangannya mencoba menggapai wajahku namun, tangan ibunya terlebih dahulu menangkap tangan mungil itu. Aku lupa, ini belum saatnya. Aku selalu berada di sisi Sehun sejak ia lahir, apapun yang ia lakukan aku akan selalu bersamanya dengan satu syarat, Sehun berada di kawasan rumah ini. Selebihnya aku tidak bisa berada di dekatnya.
Hari berganti menjadi minggu, minggu berganti menjadi bulan, bulan berganti menjadi tahun. Usia Sehun sudah menginjak tiga tahun. Wajahnya semakin tampan, aku tahu dia mencariku. Tetapi aku tak ingin ia dijauhi karena keberadaanku, seperti anak pemilik rumah ini sebelum-sebelumnya. Aku tidak mau kehilangan Sehun. Sehun memiliki keluarga yang lengkap, hangat dan saling menyayangi. Tidak seperti keluargaku yang membiarkanku terkurung di tempat ini. Kami sangat berbeda, tapi kurasa hanya dirinyalah yang bisa membantuku.
Hari itu adalah hari terburuk untukku karena Sehun dan orangtuanya harus pergi ke tempat yang kudengar bernama Seoul, tempat di mana aku tak bisa bersamanya, di mana ia akan hidup tanpa pengawasanku. Mungkin aku terlalu banyak berharap padanya, ya. Bahkan ia belum merasakan keberadaanku.
.
.::. Behind The Apple Tree .::.
.
Aku tidak bisa berbohong, aku sangat merindukan Sehun. Senyumnya, suaranya, tawanya, wajahnya ahh dia pasti sudah besar sekarang. Tingginya pasti sudah bertambah, wajahnya pasti semakin tampan. Kabar baiknya, besok ia akan kembali ke sini untuk berlibur, begitu yang kudengar dari pembicaraan nenek dan ibunya di telepon tadi, Sehunku, milikku, namja-ku akan kembali. Aku harus membuatnya menyadari keberadaanku, bagaimanapun reaksinya aku harus menampakkan diriku.
Keesokkan harinya saat matahari mulai menampakkan keberadaannya, kudengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah megah itu. Aku menatap anak bermata tajam itu dengan mata berbinar.
"Ahh Sehunnie sudah besar hmm?" ucap nenek Sehun sembari memeluk namja itu dengan penuh kerinduan.
"Annyeong halmeoni..." Sehun tersenyum dengan girang. Tak berapa lama setelah melepas rindu mereka memasuki rumah dan dengan senang hati aku mengikuti Sehunku, berdiri di sudut ruangan agar tidak terlihat. Kulihat mereka bercengkrama dengan hangat sesekali Sehun memandang ke arahku dan aku tersenyum, ia melambaikan tangannya membuat orang-orang di sekitarnya menyerngit tidak mengerti.
"Apa yang kau lakukan, sayang?" ibu Sehun bertanya dengan heran.
"Aku hanya melambaikan tanganku pada noona yang berdiri di sana" Sehun menjawab sembari menunjuk tempatku berdiri, semua orang memandang tak percaya pada Sehun.
"Sehunnie, di sana tidak ada siapa-siapa, sayang." ujar sang nenek dengan lembut, Sehun menyerngit.
"Tetapi aku melihatnya di sa-" Sehun memandang sudut ruangan tempatku berdiri tadi dengan tatapan bingung.
"Sudahlah, mungkin kau terlalu lelah Sehun-ah" ujar sang ayah mencoba meyakinkan yang dibalas anggukkan setuju oleh Sehun.
"Hahh selalu seperti ini... Semoga Sehun tidak seperti yang sebelum-sebelumnya" aku hanya bisa berharap dan berharap.
...
Sore haripun tiba, Sehun meninggalkan para orang dewasa yang sibuk dengan urusan masing-masing itu. Aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya, banyak spekulasi yang berkecamuk dipikiranku. Sayangnya spekulasi negative-lah yang mendominasi. Sehun mulai memasuki taman bunga yang terletak di sebelah pohon apel tempatku berdiri, aku sengaja bersembunyi darinya. Entah sudah berapa lama aku tidak bicara pada manusia dan sekarang aku menjadi gugup karenanya. Sehun semakin mendekatkan langkahnya ke pohon apel, jantungku tak bisa berdetak dengan normal.
"Sekarang atau kau akan kehilangan lagi Luhan" aku bergumam sejenak lalu menampakkan diriku dari balik pohon apel.
"Hai, Sehun~" sapaku sembari mengulas sebuah senyum, Sehun memandangku dengan wajah terkejutnya yang tampan.
"O-oh, Hai... Dari mana kau tahu namaku?" tanyanya dengan heran, aku terkekeh sejenak.
"Aku mengenalmu sejak kau lahir" kembali kuberikan senyuman terbaikku padanya.
"Bagaimana bisa?" kini ia terbelalak tak percaya. Baru saja aku akan menjawab pertanyaannya namun, suara sang ibu mengambil alih perhatiannya dan seketika itu aku kembali bersembunyi.
"Sehunnie... Kau di mana, nak?" ujar ibu Sehun sembari memasuki taman.
"Di sini eomma" jawab Sehun sembari menatap ibunya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ayo masuk ke dalam" ibu Sehun mensejajarkan tinggi mereka lalu mengusap rambut Sehun dengan sayang.
"Ada seorang noona yan-" Sehun mencoba menunjukkan keberadaanku pada ibunya namun nihil, aku terlanjur bersembunyi dari hadapannya.
"Noona? Di mana, nak? Sudahlah, ayo cepat masuk" ujar ibu Sehun dengan ekspresi waspadanya.
"Tapi tadi benar ada noona, eomma!" Sehun mencoba menjelaskan.
"Kau hanya kelelahan, Sehun" ucap ibu Sehun sembari membawa Sehun ke dalam rumah dan Sehun hanya menurut melangkahkan kakinya menuju rumah dengan wajah kesalnya. Aku masih bersembunyi di balik pohon dengan pikiran-pikiran negative-ku.
"Tolonglah... Aku tidak mau menunggu lebih lama dari ini" mohonku pada Tuhan.
...
Bulan dan bintang mulai menampakkan keberadaannya di langit malam yang gelap, seperti yang selalu terjadi aku hanya sendiri di belakan pohon apel. Merasa bosan dengan hal itu, aku mulai memasuki rumah megah itu. Aku mencari kamar tempat Sehun berada, agak sulit memang tetapi dengan bantuan dari para pelayan yang membicarakan sang tuan muda mereka akupun tahu di mana kamar Sehun. Setelah kurasa tak ada orang di lorong kamar Sehu, akupun memasuki kamarnya dengan mudah karena pintunya tak terkunci. Ya, aku membuka pintunya dan asal kalian tahu aku bukan hantu.
KRIET
BLAM
Bunyi kedua pintu yang terbuka dan tertutup secara bersamaan, siapa lagi pelakunya kalau bukan aku dan Sehun. Piyama berwarna biru dengan motif beruang membuat Sehun terlihat sangat menggemaskan malam ini, aku mengulas senyum sembari menutup pintu. Sehun terdiam, ia memperhatikanku dengan seksama. Ia membuatku risih, sungguh.
"Kenapa?" tanyaku memecah keheningan di antara kami.
"Kau..." Sehun memicingkan matanya kearahku. Aku hanya bisa mengerjap menunggunya melanjutkan kata-katanya.
"Kau itu apa?" lanjutnya. Entah untuk keberapa kalinya aku mengulas senyum di bibirku hari ini.
"Aku bukan hantu, tenang saja. Tetapi..."
"Tetapi?" tanyanya penuh selidik.
"Hanya kau yang bisa melihatku" ucapku dengan mantap dan Sehun membelalakkan matanya untuk kedua kali di hadapanku.
"Jinjja? Ahh arra, siapa namamu?" ia bertanya dengan nada bicara yang lebih bersahabat.
"Luhan" jawabku sembari memegang erat gaunku, kutundukkan wajahku menatap lantai. Aku malu.
"Nama yang cantik" ucapnya, aku memberanikan diri untuk menatap Sehun yang tersenyum dengan manis dan tampan.
BLUSH
Seketika pipiku memerah, hal yang aneh. Belum pernah ada yang bisa membuatku semalu dan sebahagia ini. Apakah Sehun adalah orangnya? Kuharap dialah orangnya. Kulihat Sehun duduk di pinggir ranjangnya. Dia menatapku sembari tersenyum dan aku hanya berharap Sehun tak melakukan itu karena senyumnya membuat jantungku berpacu dengan tidak normal.
"Kemarilah noona, jangan hanya berdiri di situ" ujar Sehun sembari menepuk bagian kosong di sampingnya. Tanpa membuang waktu aku duduk di sebelahnya.
"Noona..." suara polos khas anak kecil itu memasuki telingaku.
"Ne?"
"Sebenarnya kau itu apa? Apa kau hantu?" tanyanya sembari dengan ekspresi bingung khas anak kecil. Aku terkekeh lalu menggeleng.
"Oh iya, tadi kau 'kan bisa membuka pintu. Jadi kau apa noona?" tanyanya lagi.
"Aku..."
CKLEK
Pintu terbuka dan menampakkan wajah seorang pria dewasa tampan yang mirip dengan Sehun, ya dia ayah Sehun.
"Sehun-ah belum tidur hmm?" ayah Sehun mulai memasuki kamar itu lalu mengambil tempatku untuk duduk dan dengan cepat aku bangun dari dudukku. Sehun menatapku seolah memintaku untuk jangan pergi.
"Aku akan tetap di sini" ucapku membuatnya tersenyum.
"Sehun-ah... Kau belum menjawab pertanyaan appa"
"Oh... Aku baru saja akan tidur, appa" jawab Sehun dengan cepat.
"Baguslah. Oh ya, tadi eomma bilang kau bertemu dengan noona itu lagi ya?" ayah Sehun dengan nada bersahabat, aku menggeleng kuat dan Sehun menyerngit karenanya.
"A-ani, benar kata eomma. Aku hanya kelelahan appa" ucap dengan nada tak yakin, sang ayah hanya mengangguk mengerti.
"Kalau ada sesuatu bilang saja pada appa" ujar ayah Sehun sembari mengusak rambut anaknya.
"Ne, appa" jawab Sehun sembari tersenyum.
"Kajja tidurlah" ayah Sehun membawa Sehun dalam rengkuhannya lalu meletakkan tubuh mungil Sehun di tengah ranjang lalu menyelimuti tubuh sang anak sebatas dada. Tak lupa mengecup kening Sehun kemudian beranjak keluar kamar setelah mematikan lampu kamar Sehun.
"Noona..."
"N-ne?"
"Kau tidak tidur?" Sehun menatapku penuh tanya dan aku hanya bisa menggeleng.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa tidur"
"Kenapa?"
"Hmm kau tahu... Tidur sendirian itu..." aku tak bisa berbicara seperti biasa, entah kenapa.
"Kemarilah..." Sehun menggeser posisi tidurnya dari di tengah tempat tidur ke samping, menyisahkan sebuah tempat kosong untukku.
"M-maksudmu?"
"Noona bilang tidak bisa tidur karena tidur sendirian, jadi tidurlah denganku agar noonabisa tidur" Sehun tersenyum tulus, aku memekik girang dalam hati. Sehun orang baik, ahh tidak dia sangat baik.
"Ayo noona, ini sudah malam" ucapnya sembari menguap, dia sudah mengantuk. Tanpa berkata apapun aku segera mengambil tempat sebelah Sehun. Kami saling bertatapan, Sehun berbalik dan mengambil sesuatu dari nakasnya. Sebuah boneka yang lucu, Sehun memeluknya dengan erat.
"Selamat malam, noona" ucapnya lalu memejamkan kedua matanya.
"Selamat malam, Sehun" untuk pertama kali setelah sekian lama aku bisa tidur di malam hari.
...
Author's POV
Di tempat lain tepatnya di kamar seberang kamar Sehun, ayah dan ibunya masih terjaga sembari bercakap-cakap. Keduanya tidak bisa berhenti membicarakan keganjalan pada anaknya hari ini.
"Kau tahu 'kan Sehunnie tidak biasanya begini" ibu Sehun berkata dengan nada khawatir.
"Aku tahu sayang, Sehun memang tidak pernah begini sebelumnya" ayah Sehun mencoba menenangkan.
"Sudah kubilang 'kan sejak pertama datang ke rumah ini perasaanku tidak enak dan sekarang terbukti"
"Sayang sudahlah... Sehun sudah bilang kalau dia hanya kelelahan. Kurasa tak ada lagi yang perlu kita khawatirkan"
"Hahh kuharap begitu" ibu Sehun mencoba menutup matanya, sementara ayah Sehun masih terjaga. Ditatapnya buku kusam yang ia temukan tiga tahun lalu.
"Apa anak itu benar ada?" gumamnya lalu memasukkan buku kusam dengan tulisan nama Luhan di sudut kiri cover buku itu ke dalam laci nakas, memejamkan matanya lalu ikut tertidur.
.
.::. Behind The Apple Tree .::.
.
Sudah hampir seminggu ini Luhan dan Sehun terus bersama, keduanya seperti sepasang kakak beradik yang sangat akrab. Namun, ada sesuatu yang janggal di mata setiap orang saat melihat Sehun berbicara pada Luhan. Ya, Sehun seolah berbicara sendiri. Awalnya hanya beberapa pelayan yang melihat Sehun berbicara sendiri sampai seorang pelayan melapor pada ibu Sehun. Betapa terkejutnya sang ibu mendengar hal itu, sejak pertama kali ayah Sehun membawanya datang ke sana ia sudah merasakan hal aneh. Bukan tanpa alasan, ibu Sehun adalah seorang indigo yang bisa melihat merasakan keberadaan mahluk halus dan semacamnya.
Sudah beberapa cara ibunya lakukan agar bisa menghilangkan ke-indigo-annya itu dan akhirnya berhasil tetapi, saat ayah Sehun membawanya ke rumah keluarga Oh itu dirinya kembali merasakan hal sama seperti yang terjadi saat dirinya masih seorang indigo. Saat tahu dirinya hamil, nyonya Oh hanya bisa memohon pada Tuhan agar di kandungannya tidak mendapat kelebihan sepertinya yang pernah membuat ia dijauhi karena dianggap aneh oleh teman-temannya. Semua berjalan seperti keinginannya sampai hari sebelum Sehun membicarakan tentang seorang noona yang berkeliaran di rumah itu.
"Noona tenang saja, Sehun akan selalu bersama noona. Jadinoonatidak akan sendirian lagi"
"Benarkah?" Sehun mengangguk yakin.
"Ne, namja sejati tidak akan ingkar janji" ujar Sehun sembari memberikan jari kelingkingnya. Luhan tersenyum, ia menautkan kelingkingnya pada kelingking Sehun.
"Janji tidak boleh diingkari" ujar Luhan sembari menggoyangkan tautan jari mereka.
"Janji tidak akan diingkari" keduanya tersenyum satu sama lain.
"Noona, ayo makan bersama. Aku akan membawakan makanan ke kamar" ujar Sehun dengan penuh semangat, Luhan tersenyum lalu menggeleng.
"Kenapa? Apa noona tidak makan?"
"Aku hanya bisa memakan apel dari pohon ini..." ucap Luhan.
"Arraseo, kalau begitu aku akan merawat pohon apel ini agarnoonatidak kehabisan makanan" seru Sehun dengan semangat.
CHU
"Gomawo, Sehunnie. Kau yang terbaik" ujar Luhan lalu mengecup pipi Sehun, membuat diameter mata namja kecil itu bertambah. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat Sehun berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi" ucap nyonya Oh, ibu Sehun sudah tidak bisa mengulur waktu untuk membawa Sehun pulang. Siang harinya saat Sehun sedang makan siang di ruang makan bersama neneknya, ayah dan ibunya terlibat dalam pembicaraan menyangkut dirinya.
"Kita harus membawa Sehun pulang!" ujar ibu Sehun dengan nada tinggi.
"Hey, tenangkan dirimu sayang... Sehun akan baik-baik saja, okay?" ujar ayah Sehun mencoba menenangkan sang istri.
"Tidak... Aku tidak bisa tenang jika anakku mendadak menjadi seorang indigo" nyonya Oh memasuki kamar Sehun dan dengan tergesa ia mengambil koper Sehun lalu memasukkan baju-baju Sehun yang berada di dalam lemari.
"Hahh kita belum melihatnya sendiri bukan? Jika kau ingin pulang dan tidak nyaman di sini katakan saja, jangan membawa-bawa Sehun sebagai alasan" nyonya Oh menghentikan kegiatannya, ia menatap wajah sang suami dengan tatapan tak percaya.
"Alasan katamu? Kau tidak lihat Sehun sering menyendiri di taman akhir-akhir ini?"
"Mungkin dia suka tanaman"
"Awalnya aku juga berpikir seperti itu tetapi, setelah melihat Sehun bicara sendiri di taman tadi pagi aku tidak bisa menganggapnya sesuatu yang wajar" tuan Oh tercengang di tempat.
"Kita pulang sore ini juga. Jika kau masih ingin di sini aku dan Sehun bisa pulang terlebih dahulu" ucap nyonya Oh final.
"Baiklah, kita pulang sore ini" ujar tuan Oh setuju.
Sore itu saat Sehun belum bangun dari tidur siangnya sang ayah membawa tubuh mungilnya ke dalam mobil setelah sebelumnya berpamitan pada kedua orang tua tuan Oh. Luhan yang baru saja akan menemui Sehun hanya bisa menatap mobil hitam yang telah keluar dari pekarangan rumah megah itu dengan sendu. Mata rusanya sudah berkaca-kaca.
"Hiks... Sehunnie... Kenapa kau pergi?" Luhan menangis sejadi-jadinya. Ini bukan yang pertama baginya, ini yang kesekian kali penolongnya pergi.
...
Setelah kepergian Sehun gadis bermata rusa itu hanya bisa menangis dan menangis di belakang pohon apel. Tak ada kegiatan lain yang bisa ia lakukan, ia tak punya tujuan untuk bebas lagi. Kebebasannya sudah terkubur dalam-dalam. Ia selalu bertanya-tanya apa salahnya pada sang ibu sampai ia dikurung di ruang bawah tanah saat perang dan setelah perang usai ia terbangun dengan biasa. Ya, tidak ada yang berubah darinya, gaun putih selutut yang membalut tubuh mungilnya, rambut karamelnya yang ikal panjang. Namun, saat ia keluar dari ruang bawah tanah ia bertemu seorang anak dan mencoba menyapanya tetapi nihil, tak ada tanggapan dari anak itu maupun orang-orang lain yang melewati rumahnya.
"Kenapa mama tidak membawaku saat itu? Kenapa ia meninggalkanku sendiri di sini? Kenapa?" Luhan terduduk di belakang pohon sembari memeluk lututnya. Butiran kristal bening berlomba-lomba keluar dari sepasang mata indahnya. Sedih memang tetapi, Luhan tidak bisa memungkiri bahwa ia mempercayai janji Sehun. Setiap kali ia mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah, Luhan dengan segera akan melihat siapa yang datang. Walau tak satupun orang yang keluar dari mobil itu adalah Sehun. Setiap malam ia habiskan dengan menangis, seolah ia dilahirkan untuk menangis.
Suatu hari Luhan melihat nenek Sehun yang sudah rentan pingsan, beberapa pelayan mengerubuninya lalu salah seorang pelayan pria mengangkat tubuh rapuh itu ke kamarnya. Beberapa pelayan mengikuti untuk membantu dan yang lain diam di tempat, mereka masih sibuk berbicara satu sama lain.
"Kurasa nyonya besar merindukan anak dan cucunya" ujar salah seorang pelayan berseru.
"Benar, apa lagi yang akan kau harapkan kalau kau sudah di usia senja? Tentu saja perhatian dan kasih sayang dari anak dan cucu" pelayan lain membenarkan.
"Baiklah, aku akan menghubungi tuan Oh"
Mendengar kata cucu, otak Luhan dengan cepat mencernanya bahwa ia akan bertemu dengan Sehunnya cepat atau lambat.
...
Seoul
Seorang pria tampan dengan kulit seputih susu sedang sibuk memperhatikan pohon apel yang ia tanam sejak kepulangannya ke Seoul empat belas tahun silam. Ia sangat amat ingin bertemu gadis manis yang selalu berada di pikirannya, cinta pertamanya. Beberapa bulan setelah kembali ke Seoul, Sehun meminta untuk dimasukkan dalam kelas menggambar dengan tujuan utama menggambar wajah gadis cantik bernama Luhan. Pikiran Sehun tak pernah lepas dari Luhan, gadis manis bermata rusa, berbibir cherrydan rambut karamel ikalnya. Sehun tak pernah bisa melupakan gadis itu. Sehun bertekad kuat untuk menjadi pria mapan dan mandiri yang tidak lagi bergantung pada kedua orang tuanya, sehingga suatu hari nanti ia bisa membawa Luhan keluar dari rumah neneknya.
Ia ingin membuktikan pada ibunya bahwa Luhan itu nyata, bukan sekedar khayalannya. Meski sekarang ia harus berpura-pura tidak tahu siapa itu Luhan, demi menghindari pertemuan dengan pskiater pilihan ibunya. Sehun cukup menutup diri di sekolah, bukan berarti ia tidak punya teman ia punya bahkan banyak. Hanya saja para setiap harinya pasti Sehun akan menemukan surat cinta, coklat dan kue kering di dalam locker-nya, belum lagi pernyataan cinta yang dijadwalkan Kai atau Kim Jongin –sahabat Sehun- pada setiap akhir pekan. Seperti yang sudah-sudah, semua gadis yang menyatakan perasaannya pada Sehun akan menangis setelah mendengar jawaban dari Sehun. Ya, Sehun hanya menutup diri pada perempuan.
"Sehun-ah" seru Kai saat memasuki halaman belakang kediaman keluarga Oh.
"Hmm?" Sehun duduk sebuah di kursi taman lima meter di depan pohon apelnya, sesekali ia menatap buku sketsanya yang bergambarkan seorang gadis cantik yang ia buat saat usianya enam tahun.
SRETT
Dengan sekali tarik Kai mengambil buku sketsa Sehun yang sudah penuh berisi wajah cantik seorang gadis. Kai tidak bisa berekspresi biasa seperti Sehun yang selalu memasang wajah pocker face-nya.
"Kau kenapa? Cepat kembalikan bukuku" ujar Sehun dengan santai sembari menadahkan tangannya pada Kai.
"Kau seorang pedophile?" tanya Kai sembari memandangi gadis dalam sketsa Sehun membuat pria bermarga Oh itu menyerngit.
"Apa maksudmu?" tanya Sehun tak mengerti.
"Gadis ini terlihat lebih muda dari kita dan kau memandangi gambar gadis ini dengan tatapan... Aneh" Sehun mengulum sebuah senyum di bibirnya.
"Kau tahu alasanku selalu menolak yeoja-yeoja yang menyatakan perasaannya padaku 'kan?" Sehun merebut kembali buku sketsanya dari tangan Kai.
"Karena kau mencintai gadis lain, cinta pertamamu itu 'kan?" tanya Kai meyakinkan dan Sehun mengangguk.
"Gadis di gambar ini adalah cinta pertamaku" ujar Sehun dengan penuh keyakinan.
"Lalu di mana gadis itu sekarang?"
"Di suatu tempat yang tidak boleh kudatangi" lirih Sehun sembari tersenyum kecut.
"Dia belum mati 'kan?" tanya Kai hati-hati.
"Entahlah, sudah lebih dari separuh usiaku kami tidak bertemu" ucap Sehun sembari mengangkat bahunya.
"Kalau begitu datangi saja dia. Lagi pula kenapa kau tidak boleh datang ke sana? Dan lagi lebih dari sepuluh tahun? Oh man,pantas saja kau terlihat seperti mayat hidup selama ini. Bahkan sehari saja aku tidak bertemu dengan Kyungsoo rasanya aku sudah mau mati" ucap Kai panjang lebar.
"Sehun-ah, cepat bersiap. Kita akan ke rumah halmeoni" ayah Sehun menginterupsi.
"Ru-rumah halmeoni?" tanya Sehun meyakinkan.
"Ne!" seru sang ayah dari dalam rumah.
"Aku akan menemuinya!" ujar Sehun dengan ekspresi kelewat senang membuat Kai yang melihatnya tak habis pikir.
"Kau menyukai sepupumu?" tanya Kai mengambil kesimpulan.
"Luhan bukan sepupuku, jika aku bisa membawanya ke sini dia akan menjadi istriku" seru Sehun meninggalkan Kai dengan tanda tanya bersar tentang Luhan.
"Dia memang aneh..." gumam Kai saat melihat Sehun berlari meninggalkan halaman belakang dengan beberapa lompatan di langkahnya.
.
.::. Behind The Apple Tree .::.
.
Sehun's POV
Setelah perjalanan selama tiga jam melalui jalur darat akhirnya aku bisa sampai di rumah halmeoni. Aku tak langsung ke rumah halmeoni karena aku, appa dan eomma terlebih dahulu pergi ke rumah sakit. Aku tak bisa percaya apa yang tadi lalu appa bicarakan.
"Sehun-ah, appa dan eomma akan berjaga di rumah sakit. Kau bisa beristirahat di rumah halmeoni jika kau lelah"
Itu terdengar seperti angin surga untukku karena aku bisa dengan leluasa bertemu dengan Luhanku. Cinta pertamaku yang tak pernah bisa kulupakan. Tetapi keramaian di taman rumahhalmeonimembuatku tersulut emosi.
"Apa yang kalian lakukan?" pekikku dengan nyaring membuat tiga orang namja dewasa yang sedang mengepung pohon apel kesayanganku dengan gergaji berbalik menatapku.
"Menebang pohon apel ini, apa ada masalah anak muda?" tanya salah seorang dari mereka. Seketika memoriku tentang Luhan terulang kembali.
"Aku hanya bisa memakan apel dari pohon ini..."
Jika pohon apel itu di tebang maka Luhan tidak bisa hidup, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan pernah.
"Pergilah, jangan sentuh pohon apel itu apapun alasannya" teriakku pada mereka.
"Yak memang kau siapa?" tanya namja yang lain dengan nada tak bersahabat. Baru saja aku akan memakinya tetapi, sebuah suara menginterupsi pertikaian kami.
"Tuan muda..."
"Ahh Park ahjussi, tolong bilang pada mereka untuk tidak menebang pohon apel ini" ujarku dengan nada kemenangan.
"B-baik, tuan muda..." Park ahjussi memberi hormat padaku dan segera menjelaskan siapa diriku pada ketiga orang di sana. Ketiganya segera meminta maaf sembari membungkuk berulang kali padaku lalu pergi.
"Siapa yang memerintahkan mereka untuk menebang pohon ini,ahjussi?" tanyaku dengan nada geram sementara Parkahjussitertegun lalu menjawab.
"Saya sendiri, tuan muda..."
"Wae?" tanyaku tak habis pikir.
"Pohon itu sudah tua dan tak terawat jadi saya pikir..."
"Pohon ini akan baik-baik saja, aku sendiri yang akan merawatnya. Pergilah..." perintahku sembari menatapnya tajam, dengan cepat ia memasuki rumah mungkin karena takut padaku. Ah aku tak peduli. Kutatap pohon itu dengan seksama, tak bisa kupungkiri pohon ini memang tidak terawat. Buahnya hanya sedikit, rantingnyapun sudah rapuh sementara daunnya sudah berwarna jingga kekuningan.
"Apa dia masih ada?" gumamku ragu.
"Hahh... Entah kau hanya hayalan atau bukan tetapi, kuharap kau masih di sini noona" ucapku sembari mendekati pohon itu, berharap cinta pertamaku akan muncul di balik pohon itu seperti kejadian empat belas tahun silam. Lima belas menit sudah aku berdiri di depan pohon ini namun, sosok gadis pujaanku tidak juga menampakkan dirinya.
"Ternyata kau hanya hayalanku saja..." lirihku lalu berbalik arah menatap rumah halmeoni.
"Apa kau Sehun?" sebuah suara yang tak asing di telingaku terdengar dengan sangat jelas. Dengan cepat aku kembali menghadap pohon apel itu dan betapa terkejut dan senangnya diriku saat melihat sosok itu, walau baru rambut dan wajahnya saja yang ia tampakkan dari balik pohon aku sudah yakin kalau itu Luhan.
"Ya, noona. Ini aku, Sehun" jawabku dengan girang. Ia menyerngit, mata indahnya menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Noona? Bahkan sekarang kau lebih tua dariku oppa" jawabnya sembari memperlihatkan tubuh mungilnya yang tak berubah sedikitpun sejak empat belas tahun yang lalu, tubuh mungil gadis yang kuperkirakan sekitar tiga belas tahun.
"K-kau benar-benar ada?" tanyaku sembari mendekatinya.
"Ya, begitulah" ujarnya sembari mengulum senyum manis yang sangat kurindukan. Aku tak bisa menahan diri untuk memeluk tubuhnya. Dengan gerakan cepat tubuh mungilnya sudah berada dalam rengkuhanku, Luhan membalas pelukkanku dengan tak kalah erat.
...
Sekarang kami sudah berada di kamarku, kamar yang sama di mana kami pernah tidur bersama. Hahh aku sangat merindukan malam itu.
"Kau tidak bertambah besar, manis?" ujarku sembari merenggangkan pelukkanku. Luhan menatapku dengan tatapan sendu.
"Aku memang tidak akan berubah..." lirihnya sembari tersenyum kecut, kuusap pipi mulusnya dengan sayang.
"Kenapa?" tanyaku pelan.
"Sudah begitu peraturannya..." jawabnya sembari mengindikkan bahunya.
CHU
Kukecup keningnya dengan lembut, kutangkup kedua belah pipinya yang lebih tirus dari sebelumnya.
"Ikutlah denganku ke Seoul" ajakku sembari menatap mata indahnya.
"Aku tidak bisa..." dengan cepat ia menatap ke arah lain.
"Kenapa?"
"Aku masih terkurung, Sehun..."
"Terkurung?" Luhan mengangguk dengan wajah muramnya.
"Bagaimanapun caranya aku akan membebaskanmu" ujarku dengan tegas dan yakin membuat Luhan kembali menatapku.
"Kau yakin?" tanyanya dengan ragu.
"Aku sangat yakin" jawabku sembari mengangguk.
"Ayo kita ke ruang bawah tanah"
.
.::. Behind The Apple Tree .::.
.
Dear, my angel behind the apple tree
Aku sangat merindukanmu. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Luhanku. Sekalipun mereka mencoba menghilangkanmu dalam ingatanku. Aku tahu ini gila dan karena kau, aku rela menjadi gila, sayang. Entah ini surat keberapa yang kutulis setelah enam tahun kepergianmu, aku hanya ingin kau tahu aku sangat merindukanmu. Apa aku salah membuktikan cintaku padamu dengan bercinta, sampai kau bagai lenyap ditelan bumi setelahnya? Tenanglah, Lu... Aku masih percaya kau akan kembali kepelukanku secepatnya.
Your true love, a man inside the house
Itulah isi Surat yang Jongin temukan di kamar sang sahabat. Surat berisi harapan –yang menurut seorang Kim Jongin adalah harapan kosong- namja berkulit pucat yang sedang tertidur lelap di siang hari. Untunglah ini akhir pekan, jika tidak sang ayah dari si pucat sudah pasti menghubungi namja bermarga Kim yang sedang menyaksikan seberapa sulitnya sang sahabat untuk lepas dari gadis –yang lagi-lagi menurut Kim Jongin, hanya- khayalannya. Kondisi seorang Oh Sehun –si namja pucat- saat ini cukup menyedihkan. Kenapa hanya cukup? Karena ia masih menjalani hidupnya seperti manusia pada umumnya. Makan, mandi, bekerja dan selebihnya ia gunakan untuk tidur, tak jarang Jongin menemukan Sehun tertidur di penthouse sembari mengigaukan satu nama. Luhan, cinta pertama dan mungkin terakhirnya. Miris memang, karena ia sendiri sangat sering berganti pasangan yang artinya bertolak belakang dengan Sehun. Tidak jarang Jongin mengajak –atau memaksa lebih tepatnya- si pucat menemaninya menghabiskan malam di Pub, namun hasilnya? Sehun akan mendepak si kulit gelap dari penthouse-nya tanpa sepatah katapun, setelah kehilangan gadisnya enam tahun silam Sehun memegang teguh prinsip talkless do more.
"Mahluk gila" gumam Jongin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya saat membaca surat yang Sehun buat.
"Luhan..." kembali dengan tanpa sadar Sehun mengigaukan nama itu, Jongin yang melihat ekspresi terluka di wajah tampan teman seperjuangannya merasa sedikit iba. Karena sudah enam tahun lamanya namja tinggi itu mengigau dan selama itu pula ia harus membuat janji dengan seorang psikolog yang pastinya diatur oleh sang eomma. Namun pertemuannya dengan sang psikolog tidak berdampak apa-apa untuknya. Kesimpulan yang ditemukan adalah Sehun depresi akibat kehilangan orang yang ia cintai dan itu belum berubah hingga saat ini.
"Sehun-ah... Irreona! Ini sudah siang" ujar Jongin sembari menarik-narik rambut Sehun dengan jahil dan berdampak cukup besar. Mata setajam elang itu terbuka perlahan lalu mengerjap beberapa kali sebelum kesadarannya terkumpul dengan sempurna.
"Apa yang kau lakukan di sini?" kalimat dingin itu yang pertama keluar dari bibir tipis sang tuan rumah saat melihat sahabat sejak kecilnya sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
"Eomma-mu memintaku untuk mengajakmu keluar" jawab namja di hadapannya dengan senyum lebar.
"Dia pikir berapa usiaku sampai harus pergi ditemani pitt hitam" gumam Sehun dengan pelan namun masih bisa terdengar oleh Jongin.
"Yak! Apa kau bilang? Kalau aku pitt hitam lalu kau apa? Santa yang menjalani program diet, begitu?" Sehun tak menanggapi kata-kata Jongin, ia lebih memilih masuk ke kamar mandi.
BLAM
"Aish... Anak ini!" Jongin hampir saja menjadi korban pembantingan pintu oleh teman pucatnya saat ia tengah bicara panjang lebar sembari membuntuti pemilik sang penthouse. Baru saja ia akan meneriaki Sehun namun digagalkan oleh panggilan dari seseorang.
"Yeoboseyo, imo?"
"..."
"Ne, aku akan membawanya ke tempat yang jauh dari penthouse"
"..."
"Masih di sekitar Seoul"
"..."
"Hari ini dia cukup menurut"
"..."
"Entahlah mungkin dia sudah bosan memberontak"
"..."
"Sampai sore? Baiklah akan kuusahakan"
PIP
Sambunganpun terputus.
CKLEK
"Apa yang eomma-ku bilang?" Sehun yang keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya dan jangan lupakan rambut basahnya tapi sayangnya yang melihat Sehun sekarang adalah Jongin dengan tatapan tak berminat.
"Katanya aku harus membawamu keluar penthouse" jawabnya apa adanya. Sementara Sehun sudah berada dalam walking closet dan keluar dengan kaos putih lengan pendek dan boxer hitamnya. Jongin menatapnya dengan mata membulat.
"Aku tahu ini musim panas, tapi kau masih cukup waras 'kan untuk setidaknya keluar rumah dengan celana jeans?" Sehun menaikkan sebelah alisnya sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Siapa yang bilang aku akan keluar denganmu?" ucapnya dengan dingin, Jongin sudah siap menjawab namun namja di hadapannya sudah melenggang pergi ke ruang tv.
"Yak! Aku belum selesai bicara, Oh!" pekik Jongin dengan kesal. Sehun yang mendengar pekikan Jongin langsung menutup kedua telinganya.
"Sudah kubilang jangan tidur dengan jalang-jalang di Pub. Kau tetap tidak mau mendengarku, teriakan mereka menular padamu kau tahu? Dan itu MENG-GANG-GU" Sehun menekankan kata terakhir dalam kalimatnya.
...
Seorang yeoja paruh baya memandang yeoja muda di hadapannya dengan tatapan menilai. Cantik. Itulah kata pertama yang terlintas dibenak yeoja bermarga Oh yang telah memutuskan memilih sendiri maid yang akan bekerja di penthouse sang anak yang nyatanya tidak mau diurusi oleh siapapun.
"Jadi namamu Luna?" tanya nyonya Oh pada yeoja di hadapannya sembari mengulas senyum.
"Ne" jawab sang yeoja yang diketahui bernama Luna tersebut lalu balas tersenyum.
"Kau masih siswi Senior High School 'kan? Kenapa kau sudah ingin bekerja?" ada rasa penasaran yang amat tinggi akan hal ini. Seharusnya seorang anak yang bahkan belum lulus SHS masih menjadi tanggungan orang tuanya dan tidak boleh bekerja dengan pekerjaan ini.
"Ne, saya masih seorang pelajar. Saya seorang pendatang, nyonya. Saya datang dari Jepang dan saya datang ke Korea untuk mencari eomma saya dan pastinya itu membutuhkan biaya lebih karena itu saya membutuhkan pekerjaan ini" nyonya Oh mengangguk mendengar penuturan Luna lalu mengangguk.
"Bagaimana dengan appa-mu?" pertanyaan nyonya Oh membuat Luna menunduk sedih.
"Dia... Pergi dengan wanita lain, ahjumma" dan jawaban itu menggerakkan hati nyonya Oh untuk bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh rapuh di depannya dengan sesekali mengusap pundak Luna dengan iba.
"Bekerjalah mulai sore ini dan aku akan membantumu mencari eomma-mu" ucapan nyonya Oh membuat Luna mengulum senyumnya dengan berat hati.
...
Lotte World. Tempat –laknat menurut Sehun- yang harus ia datangi dengan seretan paksa dari namja bermarga Kim di sampingnya. Setelah acara pemakaian paksa celana jeans sobek-sobek yang terlihat lebih layak untuk dipakai seorang Oh Sehun untuk keluar dari guanya –penthouse-. Sudah pukul tiga sore yang berarti sudah empat jam kedua namja berkulit kontras ini habiskan dengan berjalan beriringan tanpa niatan menaiki satupun wahana yang ada. Inilah sebabnya Sehun mengatakan ini tempat laknat, Lotte World akan menjadi tempat paling indah jika ia datang ke sana bersama Luhan karena itu memang salah satu tempat menyenangkan untuk berkencan. Tapi yang terjadi sekarang ia harus pergi ke tempat ini dengan seorang namja dan itu Jongin, yang sedari tadi merangkulnya sepanjang jalan –dengan tujuan agar Sehun tidak kabur- dan beberapa kali mengajaknya mengambil gambar bersama tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap mereka seolah menuding mereka pasangan sesama jenis. Sehun melepas rangkulan Jongin yang hampir mencekik lehernya lalu berjalan cepat menuju pintu keluar.
"YAK SEHUN-AH!" dengan sedikit berlari akhirnya Jongin dapat menyusul Sehun yang wajahnya sudah ditekuk sejak ia memakai celana jeans.
"Hey, itu yang namanya pasangan gay sedang berseteru ya?" celetuk seorang yeoja dengan suara yang tidak bisa dikatakan pelan pada temannya sembari menunjuk Sehun dan Jongin dan membuat kedua namja itu menjadi pusat perhatian pengunjung Lotte World. Pose mereka yang mana Jongin sedang menggenggam tangan Sehun dan wajah Sehun yang tertekuk seolah-olah Jongin ingin meminta maaf pada Sehun yang sedang merajuk.
"Enyah kau Kim Jongin" kalimat dingin itu seolah membenarkan asumsi para pengunjung yang sejak tadi berbisik-bisik sembari membicarakan mereka.
"Hey, adik kecil. Kami teman baik dan temanku sedang marah karena dia belum memiliki pacar, jadi jangan membuat orang berpikir yang tidak-tidak ya" ujar Jongin dengan tegas lalu mengambil langkah seribu sebelum kehilangan jejak Sehun yang sedang dalam mood buruk.
...
CKLEK
Pintu penthouse itu terbuka menandakan sang pemilik rumah sudah kembali kekediamannya diikuti sahabat gelapnya yang sekarang sedang didorong paksa untuk tidak masuk ke dalam.
"ENYAH KAU KKAMJONG!" murka Sehun sembari mendorong-dorong wajah namja bermarga Kim itu kembali keluar pintu.
"YAK! BIARKAN AKU MASUK, AKU BUTUH MINUM MIJA!" seru Jongin dengan sisa tenaganya karena sedari tadi ia belum sempat minum, tadinya saat di jalan mereka memang singga ke mini market karena Jongin ingin membeli air mineral dan Sehun dengan prinsip talkless do more-nya berdiam diri saat Jongin mengajaknya masuk. Dan ketika Jongin akan membayar minumannya di kasir, entah hantu apa yang merasuki teman seputih temboknya di sore hari itu karena Sehun sudah berada di kursi pengmudi lalu menyalakan mesin mobil dan mobil Jongin berjalan keluar area parkir mini market. Hal itu membuat Jongin lagi-lagi harus berlari mengejar mobilnya sendiri dan melupakan minuman yang telah ia bayar tadi.
"BELI DI BAWAH" teriak Sehun untuk terakhir kalinya karena sudah berhasil menutup rapat pintu dengan posisi Jongin berada di luar penthouse-nya.
"Mengganggu saja" gumam Sehun sembari membalikkan tubuh tingginya yang langsung berhadapan dengan yeoja yang selama enam tahun ia cari keberadaannya. Mata tajamnya tak berkedip menatap cinta pertamanya seolah yeoja itu akan menghilang jika ia berkedip. Yeoja mungil dengan seragam maid itu memberi hormat kepada tuannya lalu mengulum sebuah senyum manis yang selalu menghantui mimpi-mimpi sang tuan.
"Selamat sore, tuan. Nama saya Xi Luna, saya ditugaskan oleh nyonya Oh untuk berkerja di sini sebagai maid anda. Mohon bantuannya" Sehun sama sekali tidak mendengarkan perkenalan sang yeoja. Dengan gerakan cepat ditariknya tangan yeoja bermarga Xi itu agar masuk ke dalam dekapan hangatnya.
"Jangan pernah pergi lagi dariku" ucap Sehun dengan suara bergetar membuat yeoja di hadapannya menyerngit heran. Sehun melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah cantik Luna dengan tatapan rindu yang membuat yeoja bermata rusa itu merona saat ditatap oleh tuannya yang tampan.
"Apa yang tu– HMPTTT" Sehun memotong ucapan Luna dengan ciuman dalam yang sarat akan kerinduan.
.
.::. Behind The Apple Tree .::.
.
Kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu berada di ranjang nyaman milik namja yang berstatus sebagai tuan. Bukan karena keinginan keduanya melainkan paksaan dari si mata tajam yang sekarang menatap si mata rusa dengan pancaran kebahagian. Rasanya ini adalah puncak kebahagian dalam hidupnya, orang yang ia cintai, orang yang ia tunggu selama bertahun-tahun lamanya akhirnya berada di sampingnya.
"Tu-tuan, aku tidak bisa tidur di tempat ini. Ini kamar tuan, aku bisa tidur di sofa" cicit Luna dengan hati-hati. Namja dengan ketampanan luar biasa di sampingnya hanya menggeleng tidak setuju atas ucapan yeoja lebih muda darinya itu.
"Di penthouse ini hanya ada dua ruangan, kamarku dan gudang. Yang pasti aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa sementara ranjangku bisa ditiduri enam orang" ucap Sehun sembari mengusap pipi Luna yang merah merona karena terpesona pada tuannya.
"Ta-tapi, tuan kit– "
"Sttt jangan protes, anggap ini perintah pertama yang kuberikan padamu, manis. Sekarang kita tidur" ajaknya lalu memiringkan tubuh tinggi tegaknya menghadap si mata rusa yang sudah memakai gaun tidur pemberian tuannya yang sengaja dibeli beberapa tahun belakangan dengan niat ia ingin Luhan memakainya di malam kedua mereka.
"Tuan, aku hanya maid-mu bukan kekasihmu. Jadi kumohon jangan lakukan ini" pinta Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Sehun menyerngit bingung atas ucapan itu.
"Memang aku ingin melakukan apa?" tanyanya dengan polos. Membuat Luna menjadi salah tingkah karena sudah berpikiran yang macam-macam atas tuannya.
"Jangan bilang kau berpikir aku akan menggagahimu lagi. Sejujurnya aku sangat ingin tetapi kelihatannya kau belum mengingatku, jadi tidur bersama tidak ada salahnya, bukan?" Luna tampak shock sekaligus malu saat mendengar penuturan tuannya. Ia sangat yakin mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu dan bagaimana bisa tuannya berkata ia pernah mengagahinya? Luna berani bersumpah selaput keperawanannya belum dibobol oleh siapapun, apalagi namja tampan namun aneh di hadapannya ini.
"Apa yang anda bicarakan tuan, aku tidak mengerti" aku Luna sembari membawa tubuhnya bagun dari ranjang sang tuan namun lengan kekar tuannya dengan cepat menarik dirinya kembali tertidur berhadapan dengan Sehun. Detak jantung Luna berpacu dengan tak beraturan, hatinya menghangat ketika tubuh mungilnya kembali didekap erat oleh namja bermarga Oh itu. Wajahnya yang tadi merona sekarang berubah menjadi semerah tomat akibat posisi keduanya yang mana wajah Sehun bersandar pada kedua dadanya dan salah satu lengan kekarnya diletakkan di pinggang ramping Luna dengan mata yang sudah tertutup. Seharusnya ia marah karena kelakuan tuannya tetapi ucapan nyonya Oh tadi siang membuatnya tak tega.
"Dia putraku satu-satunya, ia depresi sejak enam tahun lalu. Ia bilang yeoja yang ia sukai pergi meninggalkannya. Bahkan aku belum pernah melihat rupa yeoja yang ia sukai tetapi aku tahu putraku pasti sangat menyayangi yeoja itu sampai ia tidak mau dijodohkan dan berkencan dengan yeoja manapun. Karena kedepresiannya ia tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Sering kali saat aku datang ke sana, aku menemukan banyak bungkus ramyun di tempat sampahnya bahkan sampai keluar. Di dalam lemari pendingin juga aku hanya menemukan tumpukan softdrink. Dia tidak suka diatur, dan itu membuatku dan juga appanya sangat sedih. Semoga kau bisa mengatur pola makan dan kebersihan penthouse-nya dengan baik" kalimat panjang lebar yang keluar dari bibir nyonya Oh yang masih tergiang di ingatan Luna. Manik rusanya menatap namja dewasa dengan wajah bak dewa yang nyatanya sudah terlelap pulas. Sebuah senyum mengembang di kedua belah bibir pink alaminya saat melihat wajah damai tuannya. Tangan halusnya memberi beberapa usapan lembut di bagian belakang kepala namja berkulit pucat itu. Sementara sang namja bermarga Oh itu memimpikan kejadian enam tahun lalu di mana ia membuktikan cintanya dengan menggagahi Luhan.
TUK
Suara pintu rahasia menuju ruang bawah tanah yang baru saja dibuka. Tempanya tak asing karena ini adalah tempat di mana ia menemukan Luhan untuk pertama kalinya, tepat di belakang pohon apel. Saat kedua anak manusia ini memasuki pintu yang hanya sebesar empat petak lantai, hal pertama yang mereka temui adalah tangga menurun yang dilapisi keramik kualitas tinggi. Buktinya hingga saat ini tangga itu masih terlihat bagus.
TLAK
Luhan menyalakan saklar lampu sehingga jalan di depan mereka dapat terlihat dengan jelas.
"Oppa, bisa tolong tutup pintunya? Aku takut ada orang yang masuk" pinta Luhan yang sudah sampai di dasar lantai pada Sehun yang masih setengah jalan menuruni tangga. Setelah mengangguk paham Sehun segera menutup akses keluar mereka dan tak lupa menguncinya dengan kunci yang sempat diberikan Luhan kepadanya.
"Ini ruang bawah tanah yang mengagumkan" aku Sehun saat melihat ke sekitarnya. Ruang bawah tanah itu sangat luas sama luasnya dengan kebun belakang rumah nenek Sehun. Kaki jenjangnya mengikuti langkah Luhan yang memimpin di depannya.
"Papa tiriku seorang arsitek, dia yang membangun rumah ini" ujar Luhan saat berhenti di depan bingkai foto yang cukup besar memamerkan wajah lima orang di sana. Dua orang dewasa dan tiga yeoja yang salah satunya adalah Luhan.
"Kurasa wajahnya tak asing" Sehun memicingkan mata tajamnya sembari mengingat wajah satu-satunya namja di dalam foto.
"Steve Lee" jawab Luhan.
"Ah iya, Steve Lee. Jadi dia papa tirimu? Kudengar dari harabeoji keluarganya yang tinggal di sini diserang tentara Korea utara untuk dijadikan benteng" mendengar penuturan Sehun membuat Luhan mengerti.
"Jadi begitu kejadiannya..." lirihnya.
"Tapi kenapa mereka tidak membawaku pergi?" sambungnya lagi. Secara naluriah Sehun mendekap yeoja manis itu untuk menenangkannya. Luhan tidak menangis. Ia hanya kecewa dan bingung. Dan yang ia mau sekarang hanya ikut bersama Sehun ke Seoul sebagai manusia.
"Hmm Lu, ini jalan buntu?" tanya Sehun memecah keheningan di antara mereka berdua, karena sejak tadi mereka hanya berjalan menyusuri lorong ruang bawah tanah yang berujung di sini. Di dinding yang bergantungkan sebuah bingkai foto keluarga Lee.
"Ini pintu masuk rahasianya, oppa" ujar Luhan sembari mendongak menatap Sehun dengan senyum manisnya.
"Bagaimana membukanya?" Sehun menyerngit bingung dan Luhan terkekeh karenanya.
"Perhatikan" Luhan menyentuh wajahnya di dalam foto dengan ibu jarinya dan seketika dinding itu terbelah menjadi dua bagian kira-kira sekitar tiga meter ke masing-masing sisi, bagaikan pintu utama yang terbuka.
"Ini keren" puji Sehun dengan wajah terkesima. Lengan putihnya dibawa Luhan memasuki ruangan baru di dalam dinding. Seketika pintu itu menutup dengan sendirinya. Ruangan baru ini seperti sebuah ruang tamu dengan beberapa kursi dan meja antik tak lupa lukisan-lukisan indah yang menggantung pada dinding. Ada tiga buah pintu dengan ukiran yang berbeda-beda satu dengan yang lain.
"Itu ruang apa?" jari telunjuk Sehun mengarah ke pintu di depannya.
"Itu kamar Soojung, kita ke kamarku saja ya" ajak Luhan sembari menarik lengan Sehun dengan lembut ke pintu di ujung kiri. Setelah masuk ke dalam mata tajam Sehun disuguhi warna pink di mana-mana. Mulai dari cat kamarnya hingga lantai kamarnya berwarna pink walau berbeda corak. Luhan mendudukkan dirinya di atas ranjang nyamannya yang lama tak ia tempati. Ia menepuk sisi kosong di sebelahnya untuk Sehun duduki.
"Jadi, apa yang terjadi padamu? Dan siapa Soojung?" tanya Sehun penasaran setelah mengambil posisi bersebelahan dengan Luhan.
"Soojung itu eonnie tiriku, anak mama Qian... Dia mama tiriku" Sehun menunggu dengan rasa penasaran yang membuncah dalam hati.
"Papaku orang Canada-Cina, dia menjadi Jendral dan sering pergi untuk perang sampai ia tak kembali karena kalah di medan perang. Sementara mama kandungku sudah meninggal saat melahirkanku, saat usiaku lima tahun papa pulang dengan seorang yeoja dan seorang anak yang saat besar kuketahui sebagai mama dan eonnie tiriku. Mereka sangat baik padaku bahkan saat papa meninggal dan tidak ada yang mau merawatku mama masih mau membawaku bersamanya ke Prancis. Mama bilang ia akan berkerja dengan temannya makanya aku dan Soojung harus ikut. Seminggu lamanya mama tidak pulang ke rumah. Aku dan Soojung sangat takut terjadi apa-apa dengan mama. Tiba-tiba seorang ahjussi yang kurasa orang kaya datang ke rumah kami untuk menjemputku dan Soojung bertemu dengan mama. Karena sangat mengkhawatirkan mama akhirnya kami ikut dengannya dan tertidur saat dalam perjalanan. Saat terbangun aku sudah berada di sebuah pesawat, di sana ada mama dan Soojung. Ahjussi itu juga ada, dia sangat baik padaku dan Soojung. Mama terlihat bahagia bersamanya. Kami mendarat di Korea, tempat ayah Soojung berada tapi kami tidak ingin mengunjunginya kami pergi ke rumah ahjussi yang kuketahui bernama Steve Lee. Kami tinggal di rumah ini dengan nyaman dan aman tentunya. Sebulan setelah kami pindah ke mari mama dan Steve ahjussi menikah. Banyak pelayan yang berbisik-bisik bahwa mama dulu dibeli oleh papa Steve karena dibohongi temannya, tapi aku meresa beruntung akan hal itu karena berkat itu mereka bisa bertemu dan mama tidak harus bekerja lagi. Papa Steve menyayangiku dan Soojung seperti anak kandungnya meski ia dan mama telah memiliki anak, namanya Michele tetapi papa Steve tidak berubah. Sampai malam itu datang. Aku, Soojung dan Michele yang masih balita harus berada di ruang bawah tanah karena menurut papa di atas tidak aman. Aku tertidur hingga pagi tiba. Mungkin tidurku terlalu lelap sampai saat aku keluar dari kamarku tak ada satupun orang di sana, baik Soojung maupun Michele yang terakhir kali masih berada di ruang bawah tanah. Aku keluar dari sini dan melihat seseorang prajurit berada di pintu gerbang rumah ini, aku memanggilnya bahkan menghampirinya tetapi dia tidak menghiraukanku sampai saat aku berpapasan dengannya dia tetap menghiraukanku seolah aku tak ada di sana" Luhan menjeda sesaat.
"Aku kembali ke ruang bawah tanah, tepatnya kamarku. Dan yang aku temukan adalah tubuhku sendiri yang hampir menghilang dan di saat yang bersamaan tulisan itu..." telunjuknya mengarah pada dinding di belakang Sehun yang berisikan tulisan.
"Temukan cinta sejatimu dan pastikan dia bisa membuktikan cintanya padamu maka kehidupanmu akan kembali" baca Sehun dengan seksama lalu menatap Luhan.
"Oppa, apa kau mencintaiku?" tanya Luhan dengan wajah putus asanya. Sehun mengangguk dengan yakin.
"Tentu saja, Lu" ujarnya tanpa rasa ragu.
"Kalau begitu buktikan agar aku bisa mendapat kehidupanku kembali" pinta Luhan sembari menggenggam tangan besar Sehun dengan tangan mungilnya. Sehun berpikir sejenak bagaimana ia harus membuktikan cintanya dan satu-satunya yang terbesit di kepalanya adalah bercinta.
NC AREA
"Buka pakaianmu, Lu" itu kalimat pertama yang Sehun lontarkan pada Luhan. Yeoja lugunya dengan menurut membuka pakaiannya hingga tersisa pakaian dalamnya saja. Mata tajam Sehun memperhatikan setiap lekuk tubuh Luhan tanpa berkedip, ia menyimpannya dalam ingatan terindahnya.
"O-oppa, apa yang akan kita lakukan?" tanya Luhan gugup karena ditatapi Sehun dengan tatapan seolah sang namja akan memakannya hidup-hidup. Sehun memamerkan smirk-nya sebelum memeluk Luhan erat lalu membuka pengait bra pengganggu yang menutupi pemandangannya.
KLEK
"Aku akan membuktikan cintaku, sayang" bisiknya tepat di telinga Luhan, membuat yeoja berusia tiga belas tahun itu merona malu. Telapak tangan besar itu menyusuri punggung putih mulus bebas penghalang milik Luhan dengan gerakan halus yang memabukkan, sedangkan tangan bebasnya membuang bra putih itu entah kemana. Sehun mendudukkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya di hadapan Luhan yang masih setia berdiri di depannya. Mensejajarkan bibir tipisnya dengan puting merah kecoklatan milik yeojanya yang sangat menggoda. Kulum. Hisap. Gigit. Remas. Berkali-kali dilakukan oleh Sehun untuk mempersiapkan yeoja mungilnya dan juga memanjakan bibirnya.
"Eunghh" leguhan pertama gadisnya keluar dengan merdu di telinga namja bermarga Oh itu. Sehun tersenyum disela hisapannya. Salah satu tangannya sibuk meremas payudara Luhan yang ukurannya lumayan untuk yeoja seumurannya sementara tangannya yang bebas ia selibkan di selangkangan Luhan lalu tiga jemarinya menekan bagian selatan yeoja bermata rusa itu dengan gerakan menggoda dari luar underwear-nya.
"Ohh-PPAHH" cairan kental membasahi bagian selatan Luhan yang menandakan dirinya telah orgasme. Sehun yang tak mau bermain cepat memilih untuk melakukan foreplay yang lebih lama karena ini yang pertama untuk yeoja tercintanya. Sehun menarik underwear Luhan hingga setengah bagian bokongnya terekspose lalu dengan jahil ditariknya karet underwear Luhan.
CTAK
"Auhh" desahan kesakitan berlapis nikmat akibat pertemuan karet underwear dengan bokong kenyal Luhan itu membuat libido Sehun memuncak. Adiknya sudah menegang di bawah sana. Namun hal itu tidak dihiraukan Sehun karena yang terpenting adalah kenikmatan yang dirasakan Luhan akibat foreplay-nya.
"Menikmatinya, sayang?" tanya Sehun setelah melepas kulumannya di kedua dada Luhan dan di saat bersamaan ia menarik underwear Luhan hingga sang yeoja jatuh terbaring di ranjangnya dengan posisi yang sangat amat menggoda. Kedua buah dadanya yang berguncang, rambut coklat madu panjangnya yang tergerai tak beraturan, sepasang mata rusa yang menatap Sehun dengan tatapan sayu, dan jangan lupakan kedua kakinya yang mengangkang lebar –setelah Sehun berhasil melepaskan satu-satunya kain di tubuh yeojanya- memperlihatkan pusat kenikmatannya yang merah menggoda dan berkedut manja seolah minta dipuaskan. Dengan penuh semangat kemenangan Sehun segera menundukkan tubuhnya dan membawa wajahnya ke liang vagina yang ia klaim sebagai miliknya. Lidah Sehun berputar-putar menggoda dinding-dinding vagina Luhan yang ketat dan hangat, daging tak bertulang itu menelusup ke bagian terdalam sang yeoja.
"Nghhh oppa... Kenapa ini sangat nikmathh?" Sehun ber-smirk-ria mengedengar pekikan kenikmatan Luhan dan cengkraman kedua paha mulus yeojanya yang menahan kepala Sehun agar tidak beranjak dari liangnya.
"Nyahh di situ oppa" desah Luhan dengan kencang sembari meremas-remas sprai-nya yang sudah tak berbentuk saat lidah Sehun dengan lihai menyentuh g-spotnya dengan telak.
"Ahhh ahh oppahhh" Luhan kembali merasakan orgasmenya untuk kedua kalinya. Dirasa cengkraman paha Luhan mengendur Sehun segera bangkit dan membuka semua kain yang melekat di tubuhnya. Penis dengan ukuran luar biasa miliknya sudah tegak dan keras minta dipuaskan. Luhan bangun dari posisinya dan mendudukkan diri tepat di depan penis Sehun yang ukurannya membuat ia terkejut.
"Senang dengan apa yang kau lihat, sayang?" tanya Sehun sembari salah satu tangan nakalnya mencubit puting tegang Luhan yang menggemaskan.
"Eumhh oppa"leguh Luhan dengan manja.
"Puaskan dia, sayang" pinta Sehun sembari mengarahkan penis tegangnya pada mulut kecil Luhan yang sudah berada dua centi di depannya.
"Bagaimana caranya, oppa?" tanya Luhan sembari mendongak menatap Sehun dengan bingung.
"Kulum. Hisap dan mainkan seluruh bagiannya dengan tanganmu sampai cairan putih keluar maka kau berhasil memuaskannya" jelas Sehun dengan senyuman menenangkan bagi Luhan. Yeoja manis itu mengangguk mengerti lalu mulai memasukkan kejantanan Sehun yang luar biasa ke dalam goa hangatnya. Nyaman, hangat dan menggairahkan. Itulah tiga kata yang Sehun deskripsikan untuk mulut kecil Luhan. Jemari lentik Luhan meraba halus setiap inci kejantanan Sehun dengan memabukkan. Sesekali Luhan yang penasaran dengan bola kembar yang menggantung dikedua sisi milik Sehun mengarahkan tangannya dan meremas-remasnya membuat sang empunya memejamkan matanya dan mendesah kenikmatan.
"Shhh kau sangat pintar, sayanghh" Sehun mendongakkan kepalanya menikmati permainan mulut Luhan namun ia belum mendapatkan orgasmenya. Luhan masih amatir. Dan Sehun akan membunuh siapa saja yang membuat Luhan menjadi ahli jikalau itu bukan dirinya. Dengan gerakan cepat Sehun melepaskan penisnya dari mulut Luhan membuat yeoja itu mendongak.
"Kita lakukan yang lebih nikmat" ujar Sehun sembari membawa Luhan bangun dari duduknya.
"Berpeganglah pada headboard dan menungging" tanpa banyak tanya Luhan menuruti perkataan Sehun.
PLAK
PLAK
"Ahhh appo" pekik Luhan saat Sehun menampar kedua bongkahan kenyalnya yang sangat menggoda hingga warnanya berubah dari putih menjadi merah.
"Kau sangat sexy, sayang" sang yeoja manis merona mendengar ucapan namja pucatnya. Sehun memajukan tubuhnya dan merunduk mengikuti lekukan tubuh Luhan di bawahnya. Sehun membuka bongkahan itu lalu mengarahkan kejantanannya yang mulai menggoda bagian luar liang vagina Luhan.
"Oppahhh" Luhan meleguh menikmati kejantanan Sehun yang kesulitan memasuki liangnya karena Luhan terlalu tegang. Tidak putus akal, Sehun meremas kedua buah dada yeojanya dan mencubiti puting mungilnya.
"Bersiaplah sayang, ini akan sedikit sakit di awal tapi akan menjadi nikmat setelahnya" ujar Sehun lalu mengecup pelipis Luhan lama di saat yang bersamaan Sehun memasukkan penisnya dalam sekali hentakkan agar yeojanya tidak mengerang kesakitan terlalu lama.
"Shhh kau sempit sayang" ujar Sehun saat dinding vagina Luhan kembali menegang.
SLESH
"Oppahh keluarkan! Oppa keluarkan! Ini sangat sakit hiks" Luhan menangis saat selaput keperawanannya disobek oleh penis Sehun.
"Stttt gwenchana, Lu... Ini tidak akan lama" Sehun menenangkan Luhan dengan kecupan-kecupan ringan di punggung, pundak, pelipis, pipi, dan tentunya bibir. Saat merasa Luhan sudah terbiasa Sehun mengusap pinggang sang yeoja dan berbisik.
"Boleh kita teruskan?" dan anggukan penuh keyakinan itu membawa penis Sehun keluar masuk dengan nikmat. Desahan mereka bersaut-sautan, mengekspresikan seberapa mereka menikmati malam panjang ini. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lebih dari empat kali mereka melakukannya sampai kedua anak manusia berbeda kelamin itu ambruk akibat lelah.
"Saranghae, Luhan" Sehun mengusap wajah lelah yeojanya dengan sayang yang dibalas senyuman manis dari sang yeoja.
"Nado saranghae, oppa" dan keduanya terlelap hingga pagi tiba.
...
Luna menatap ponselnya yang bergetar di atas nakas dan layarnya menyala menandakan ada pesan atau panggilan dari seseorang. Untung posisi tidurnya tidak terlalu jauh dari nakas jadi yeoja bermata rusa itu bisa menggapai ponselnya. Ada panggilan yang harus ia terima, Luna mengawasi tuannya yang bisa tampak tertidur dengan sangat lelap sehingga ia tidak perlu melakukan pergerakan yang bisa mengganggu tidur namja di sampingnya ini.
"Yeoboseyo, Cheolie"
"..."
"Ya, noona sudah sampai di Korea sejak seminggu yang lalu"
"..."
"Noona tidak bisa menggunakan uang papa, dia bisa melacak noona"
"..."
"Noona sudah mendapat pekerjaan yang gajinya lumayan untuk uang sekolah"
"..."
"Mulai besok noona sudah pindah ke sekolahmu"
"..."
"Jangan terlalu dekat pada noona saat di sekolah dan ingat, jangan panggil noona dengan Xiao Lu. Nama samaranku Luna"
.
.
.
TBC
:: Author's note ::
Gua revisi, berhubung kemarin ada yang bilang kurang panjang jadi ya gua satuin aja. Jadi nanti chap 3 up date isinya dari chap baru yang lebih panjang. Berlaku buat semua ff gua. Eh kecuali yang two shots wkwk.
.::. Behind The Apple Tree .::.
05:04 W.I.B.
Tangerang, 19/03/16
06:16 W.I.B.
Tangerang, 19/03/16
20:22 W.I.B.
[REVISI] Tangerang, 10/05/16
23:18 W.I.B.
