*Happy Reading!*
Kise Ryouta adalah seorang anak berusia 12 tahun. Sejak umurnya 8 tahun, ia sudah menjadi seorang model cilik di sebuah majalah khusus anak-anak. Kise menjadi model karena faktor keluarganya. Ayahnya adalah seorang produser majalah khusus anak-anak dan remaja. Ibunya adalah seorang designer pakaian dan memiliki butik. Kakak pertamanya adalah seorang fotografer profesional. Sedangkan kakak keduanya adalah seorang model.
Mari kesampingkan kisah tentang Kise yang menjadi model. Cerita ini tidak akan menceritakan tentang asal usul kenapa Kise menjadi seorang model, melainkan tentang butik milik ibu Kise.
Kise sangat bangga dengan ibunya. Ibunya adalah seorang designer profesional yang membuatnya berhasil memiliki butik pribadi yang terkenal di Jepang. Butiknya sudah memiliki beberapa cabang. Namun, butik yang paling Kise suka adalah butik yang ada di Tokyo. Terkadang, Kise main ke butik itu saat ibunya sedang sibuk. Kise bermaksud menemani ibunya atau membantu beberapa pekerjaan ibunya. Ibunya sendiri tidak merasa terganggu tiap kali Kise datang ke butiknya. Malah ia senang. Ibunya tidak merasa kesepian karena ada Kise di butiknya. Ya, walaupun terkadang Kise sangat berisik karena celotehannya yang panjang lebar dan suaranya yang melengking itu.
Butik milik Ibu Kise yang ada di Tokyo memiliki nuansa seperti rumahnya sendiri. Butik itu memang dirancang seperti itu agar Ibu Kise merasa betah bekerja disana. Selain itu, butik itu memiliki dua lantai, dimana di lantai kedua terdapat sebuah kamar tidur yang sering digunakan Ibu Kise jika ia sedang lembur ataupun digunakan untuk karyawan yang ikut lembur bersamanya atau keluarganya yang datang menginap dan menemaninya.
Kise menyukai butik itu bukan hanya karena bangunan itu terasa nyaman baginya, namun juga karena di butik tersebut terdapat sesuatu yang menarik. Butik ibunya itu memiliki sebuah manekin khusus yang berbeda dengan manekin yang lainnya. Manekin itu memiliki tubuh dan wajah yang benar-benar mirip seperti manusia. Wajahnya cantik. Tubuhnya seksi. Rambutnya dan matanya berwarna sama, yaitu pink. Ibunya selalu memperlakukan manekin itu dengan khusus dan berbeda dengan manekin lainnya. Manekin itu juga selalu dibersihkan setiap harinya. Ia juga selalu dikenakan pakaian terbaik yang dirancang langsung oleh ibunya. Kata ibunya, manekin itu mudah hancur, karena itu manekin tersebut tidak diletakkan di sembarang tempat. Manekin itu diletakkan dalam sebuah lemari kaca agar tidak ada sembarang orang menyentuhnya. Yang boleh merawat manekin tersebut hanya Ibu Kise dan asisten pribadinya, Nyonya Aomine.
Selama Kise berkunjung ke butik itu, Kise tidak pernah mendengar sesuatu ataupun mengalami kejadian yang aneh di butik itu. Sampai suatu hari, teman sekelasnya, Aomine Daiki—anak asisten pribadi Ibu Kise— bercerita tentang sesuatu yang tidak mengenakan dari butik tersebut.
"Kau tau, Kise? Saat aku ikut menginap dengan ibuku yang kerja lembur di butik ibumu, aku bertemu dengan seorang kakak yang sangat cantik. Tubuhnya seksi sekali. Kalau tidak salah, ukuran dadanya cup-F," oke, obrolan ini mungkin terlalu erotis untuk anak semuda Aomine dan Kise. Ya, Aomine memang sudah ero sejak kecil sih.
"Rambut dan matanya berwarna pink. Suaranya juga lembut sekali. Dia memakai sebuah gaun berwarna pink bermoti bunga mawar dan sakura. Dia juga baik dan ramah padaku. Dia mengajakku bicara dan cerita. Dia juga berjanji padaku untuk membelikanku es krim," Aomine bercerita dengan seru. Keempat temannya asyik mendengarkan. Termasuk Kise.
"Namanya Momoi Satsuki. Saat aku sedang asyik-asyiknya mengobrol, aku dipanggil oleh ibuku. Ibuku menyuruhku untuk segera kembali tidur. Saat aku menoleh untuk mengucapkan selamat tidur, kakak itu tiba-tiba saja menghilang," Kise mengernyit. Teman-teman yang lain masih serius mendengarkan.
"Keesekkan harinya, saat aku tanya pada ibuku dan ibumu tentang kakak bernama Momoi Satsuki itu, mereka menjawab tidak tau. Kata mereka, di butik itu tidak ada karyawan yang namanya Momoi Satsuki. Mereka berpikir aku sedang mengkhayal atau bermimpi. Padahal, aku yakin sekali kalau yang semalam kualami itu bukanlah mimpi."
"Lalu, saat aku sedang melihat-lihat gaun-gaun rancangan ibumu, aku melihat sebuah patung cantik yang disimpan di lemari kaca. Saat kuperhatikan, ternyata patung itu mirip sekali dengan si kakak. Aku langsung memberitahukan ibu kalau patung itulah yang bergerak mengajakku bicara. Tapi ibuku tidak percaya. Ibumu juga. Tidak ada satupun yang percaya padaku. Akhirnya aku marah dan aku langsung pulang. Sejak saat itu, aku tidak mau datang ke butik ibumu lagi. Aku takut ketemu sama kakak itu lagi."
Semuanya terdiam karena cerita panjang lebar Aomine. Beberapa diantaranya ada yang bingung. Ada juga yang ketakutan. Termasuk Kise. Kise itu anak yang cengeng dan penakut. Ia mudah menangis dan takut karena hal-hal sepele. Tapi, Kise tau kalau di butik ibunya itu tidak mungkin ada hantu. Setiap pagi, ibunya dan para karyawannya selalu melantunkan doa sebelum mereka membuka butik agar butik tersebut dilindungi oleh Tuhan. Karena itu, Kise tidak mau percaya dengan cerita Aomine.
"Jadi, menurut Aomine-kun, kakak cantik itu adalah hantu?" tanya Kuroko.
"Iya Tetsu."
"Jam berapa kau bertemu dengannya Daiki?" tanya Akashi.
"Sekitar jam 3 pagi."
"Oh, pantas saja." Midorima mengangguk mengerti sambil menaikkan kacamatanya yang tidak melorot. "Jam segitu kan memang waktunya keluar para hantu."
Aomine, Kuroko, dan Kise langsung merinding mendengarnya. Namun, Kise langsung membantah.
"Mana mungkin di butik ibuku ada hantu-ssu! Ibuku selalu mendoakan butiknya agar dilindungi-ssu!. Tidak mungkin hantu bisa datang-ssu!" bantah Kise.
"Hantu bisa datang kapan saja, Kise. Tidak ada yang tidak mungkin," balas Aomine.
"Akan kubuktikan kalau di butik ibuku tidak ada hantu-ssu!"
"Coba saja buktikan."
Malam harinya Kise langsung datang ke butik ibunya untuk membuktikan cerita Aomine tidak benar. Kebetulan ibunya sedang lembur malam itu, jadi Kise bisa sekalian ikut menginap dengan ibunya.
Kise menunggu hingga tengah malam, namun hantu itu tidak kunjung datang. Ibunya sudah menyuruhnya untuk segera tidur. Kise tidak bisa membantahnya. Akhirnya, Kise pun tertidur.
Pukul 3 pagi, Kise terbangun karena ingin buang air kecil. Ia mengendap-endap keluar dari kamar agar tidak mengganggu tidur ibunya.
Kamar mandi hanya terletak di lantai satu. Mau tidak mau Kise harus turun. Kise sebenarnya takut sendirian, namun ia tidak jika harus membangunkan ibunya yang tampaknya sangat kelelahan. Kise pun memberanikan dirinya ke kamar mandi sendirian.
Setelah selesai dari kamar mandi, Kise tidak sengaja melewati lemari kaca yang biasanya menyimpan manekin khusus. Saat Kise melihatnya, lemari itu kosong. Tidak ada manekin khusus kesayangan ibunya di dalam sana. Saat Kise akan kembali ke kamar untuk bertanya pada ibunya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Kise menoleh dan mendapati seorang wanita cantik dengan gaun pink bermotif bunga sakura dan mawar sedang berdiri sambil tersenyum kepadanya. Penampilannya mirip seperti yang diceritakan oleh Aomine. Kise mulai gemetaran. Ia takut kalau wanita yang berdiri dihadapannya ini ternyata hantu seperti yang diceritakan Aomine.
"Ada apa adik kecil? Kenapa kau terlihat takut?" suaranya terdengar sangat lembut, membuat Kise tidak yakin kalau wanita di depannya ini adalah hantu.
"A-ano… Kakak ini siapa? K-kenapa bisa masuk kesini? Lalu, kenapa kau juga memakai gaun buatan ibu-ssu?" tanya Kise. Ia sedikit gelagapan karena takut.
"Aku adalah salah satu model yang dipilih ibumu. Aku sedang mencoba gaun ini karena besok gaun ini akan dipamerkan di pameran busana," jawab si wanita.
"O-oh…" Kise menjawab singkat. Tapi ia masih penasaran.
"A-ano… kau ini bukan hantu kan?"
Wanita itu tertawa. Tawanya sangat elegan dan cantik.
"Tentu saja bukan. Kau lihat kakiku menapak di lantai kan? Lagipula, mana ada hantu di butik yang selalu didoakan ini?"
"Bisa saja ada kan? Soalnya temanku pernah cerita kalau di butik ibuku ini ada hantunya."
"Jangan percaya. Mungkin, temanmu hanya iseng menakutimu."
Benar juga. Untuk apa Kise takut. Butik ini sudah dilindungi, jadi tidak mungkin ada hantu yang bisa masuk ke butik ini. Lagipula, wanita di depannya ini sangat baik. Tidak mungkin dia hantu kan?
"Hahaha. Kakak benar juga. Ya sudah, aku mau balik ke kamar dulu ya. Aku mau tidur. Besok kalau kita ketemu lagi, kita ngobrol lagi ya," ujar Kise.
"Ha'i. Oyasuminasai, Ryouta-kun."
"Oyasumi." Kise berbalik hendak menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti karena ia mengingat sesuatu.
"Oh ya, Kak. Apa kau tau kemana manekin kesayangan ibu? Kenapa manekin itu tidak ada di lemari?" tanya Kise.
"Entahlah. Mungkin dia sedang jalan-jalan ke suatu tempat. Sekarang kan pukul 3 pagi. Sekarang adalah waktunya untuk bebas."
Kise melongo karena tidak mengerti dengan perkataan wanita itu. Namun, saat wanita itu berbalik dan menunjukkan bagian belakang kepalanya, Kise bisa melihatnya. Bagian belakang kepala wanita itu hancur sampai menunjukkan otaknya.
Kise hampir saja muntah. Ia lari terbirit-birit ke kamarnya sambil menangis saking takutnya.
Mulai hari itu, Kise tidak mau lagi datang ke butik ibunya, baik saat pagi, siang, sore, apalagi malam hari. Karena kejadian itu, Kise jadi trauma terhadap manekin dan hampir selalu berteriak ketakutan setiap kali melihat manekin. Kise juga menyesal karena tidak mempercayai ucapan Aomine.
"Tuh, kan. Kubilang juga apa. Hantu itu memang ada."
"Ya. Kau benar. Kuharap ibuku segera membuang manekin itu."
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Mannequin
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Story © Yuuki Azusa
Rated : T
Genre : Horor x berbagai genre lainnya
Cast : Kise Ryouta, Momoi Satsuki, Aomine Daiki, Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuurou, Midorima Shintarou
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Yap! Kembali lagi dengan fic 3AM. Kali ini chap 2 nya original story dariku. Wordsnya lebih panjang. Aku nekad bikin fic ini karena saat sendirian dirumah, malam-malam lagi. Jadi feel seremnya kerasa—padahal ficnya sama sekali gak seram—.
Btw, akasih buat yg udah baca, ngefavs dan follows ceritaku. Seperti biasa, aku inta review kalian karena review akan sangat mebantu kelanjutan cerita ini. Terima kasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya!~
