Disclaimer: Hiro Mashima
Soul Mate Of Half-Devil Create by Minako-chan Namikaze
Pair: Lucy. H & Natsu. D
.
Enjoy for read this chapter!
.
.
Aku menatap penuh penasaran ke arah wanita berambut putih di depanku. Setelah berdebat dengan laki-laki yang baru kuketahui bernama Natsu itu, entah aku mendapat keberanian dari mana, aku langsung saja mencekiknya hingga dia harus terpaksa keluar dari kamar ini dan meninggalkanku sendirian. Setelah dia pergi, beberapa detik kemudian, masuklah wanita berambut putih ini dan dia memberikanku pakaian sebab pakaianku 5 hari yang lalu hangus terbakar karena alasan yang menurutku tidak masuk akal.
"Nama saya Mirajane Strauss. Saya ke sini karena disuruh Tuan Muda untuk menjelaskan semuanya pada Nona Lucy." Wanita ini tersenyum ramah ke arahku.
Aku balas tersenyum. "Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Panggil saja aku Lucy."
"Maaf, tapi rasanya tidak sopan bagi saya untuk memanggil Soulmate tuan muda dengan nama kecilnya." ungkap Mira.
Aku langsung meringis kesal mendengarnya. "Baiklah, baiklah. Bolehkah aku bertanya apa itu Soulmate? Kenapa itu begitu mempengaruhi keadaanku sekarang?" tanyaku malas.
"Baiklah. Akan saya jelaskan. Begini, sebenarnya kami adalah iblis modern, kehidupan kami sama seperti manusia, hanya saja umur kami lebih lama, usia terlama kami sekitar 10.000 tahun."
Aku membulatkan mataku tak percaya. "Se-sepuluh ribu tahun?!"
Mira mengangguk. "Ya. Sebenarnya kami bisa hidup lebih lama dari itu, tapi kami harus mengambil 1000 jiwa manusia agar bisa mengisi umur kami yang hilang." jelas Mira.
Aku meneguk ludah. "Dengan kata lain, kalian memakan jiwa manusia agar kalian bisa hidup abadi?!"
Mira meringis mendengarnya. "Bisa dibilang begitu. Tapi, sekarang kami tidak lagi melakukan hal itu. Pengambilan 1000 jiwa sudah dilarang dan itu hanya dilakukan oleh iblis kuno. Kami adalah iblis modern. Kami adalah generasi baru yang berhasil menyingkirkan aliran jahat itu. Namun, meskipun iblis kuno sudah disingkirkan, tetap ada sebagian iblis yang masih mendukung dan sangat ingin membangkitkan pemerintahan kuno dulu. Kami menyebutnya Black-Devil. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena raja iblis sudah membentuk sebuah pertahanan yang dipimpin oleh jendral kepercayaannya. Mereka yang mencoba melawan ataupun menghianati kami, akan segera dimusnahkan saat itu juga." ucap Mira dengan raut serius.
Aku terhenyak mendengar cerita Mira. "La-Lalu, a-apa hubungan semua itu dengan Soulmate yang tadi kutanyakan?" tanyaku.
"Oh, benar. Aku lupa tentang hal itu. Sebenarnya sih tidak berhubungan sama sekali. Hanya saja, kami masih memberlakukan proses pengambilan jiwa manusia untuk mengisi energi kami yang kosong akibat suatu hal. Tapi, hal itu hanya diperbolehkan jika si iblis itu terjepit dalam situasi genting dan tidak punya pilihan lain. Umumnya, setiap manusia yang diambil jiwanya akan langsung mati dan jasadnya akan dibawa ke sini untuk di sucikan. Tapi, ada juga manusia yang tidak akan mati jika nyawanya di ambil..."
"Dan itu adalah Soulmate yang terjadi padaku sekarang?" tebakku.
Mira mengangguk. "Pengambilan soulmate ada 3 macam. Yang pertama Soul Retrieval, yaitu pengambilan seluruh jiwa manusia yang bertujuan untuk mengobati luka atau mengisi energi kami yang sudah habis.
Yang kedua, yaitu Special Soul Retrieval. Pengambilan ini bertujuan untuk menambah umur kami yang telah hilang menjadi bertambah 10.000 tahun lagi dengan cara memakan 1000 jiwa manusia, tapi tenang saja, metode ini sudah dilarang dan bagi yang melakukannya akan dikenakan hukuman berat.
Lalu yang ketiga, Soulmate Retrieval. Yaitu Soulmate yang hanya bisa dilakukan kepada manusia yang jiwanya cocok dengan jiwa iblis yang akan menjadi pasangannya. Pengambilan ini hanya mengambil sebagian jiwa manusia itu saja, dan jiwa manusia itu akan menyatu dengan jiwa iblis yang melakukan metode itu padanya. Tidak hanya itu, pengambilan ini juga disebut pertukaran jiwa..." jelas Mira.
Aku menaikkan sebelah alisku. "Maksudnya?"
"Maksudnya, tidak hanya jiwa manusia yang tersedot dan tercampur dalam tubuh iblis, tetapi sebagian jiwa iblis juga ikut tercampur ke dalam tubuh manusia itu." jawab Mira sambil tersenyum manis.
"Apa?! Jadi di dalam tubuhku bernaung sebagian jiwa iblis menyebalkan tadi?!" Aku menatap tubuhku tak percaya.
"Tepat sekali. Dan aku mengucapkan selamat pada nona karena berhasil menjadi Soulmate-nya Tuan Muda. Tuan muda sangat sensitif terhadap perempuan, dia tidak peduli dengan iblis-iblis cantik yang berusaha mendekatinya. Bahkan pernah dia beberapa kali membakar para gadis yang mencoba menyentuhnya. Ah, aku jadi berpikir, apakah Tuan muda tidak akan pernah menikah kalau dia terus bersikap seperti ini? Aku selalu ingin menggendong anak-anak Tuan muda." Mira memegang pipinya dengan salah satu tangannya. Lalu dia menatapku dengan senang. "Tapi, aku bersyukur karena nona mampu membuat Tuan muda tertarik, bahkan menjadikan Anda sebagai Soulmate-nya. Saya berharap, Anda bisa cepat-cepat hamil dan melahirkan bayi yang lucu-lucu!"
Aku menatapnya tak percaya. Apa katanya? Bayi? Aku? Melahirkan bayi?
"Apa? Maksudnya, aku harus melahirkan anak dari iblis menyebalkan tadi?" Aku menunjuk diriku sendiri.
Mira memiringkan kepalanya. "Lho? Bukannya seharusnya begitu? Anda 'kan Soulmate-nya yang berarti Anda adalah istrinya, jadi sudah seharusnya—"
"Stop! Berhenti dulu di situ!" Aku menahan kedua tanganku di depan dada, mencoba menghentikan ucapan gila wanita di depanku. "Mira-san, begini. Aku ini baru 17 tahun, masih sekolah, dan masih ingin melihat masa depanku yang cerah. Mencari laki-laki yang benar-benar kucintai untuk menjadi suamiku, dan bukannya laki-laki yang tidak kukenal yang dengan seenaknya menjadikanku Soulmate atau apalah itu! Aku tidak mau!" teriakku, emosi.
"Ah, tenang dulu, Nona. Saya juga tidak mengerti alasan Tuan muda menjadikan Anda yang notabenenya seorang manusia sebagai Soulmatenya. Karena saya tahu persis kalau Tuan muda sangat membenci manusia. Tapi... 5 hari yang lalu, Tuan muda datang menghampiri saya dan meminta saya untuk mengobati Anda yang terluka parah akibat ledakan. Saya bisa melihat raut kepedulian di wajah Tuan muda. Saya bahkan tidak bisa mempercayai pendengaran saya sendiri mendengar Tuan muda menyuruh saya untuk menaruh tubuh Anda di kamarnya." jelas Mira.
Aku menolehkan pandanganku ke sekeliling penjuru kamar. Jadi ini adalah kamar Natsu? Tu-tunggu! Berarti setiap malam aku selalu tidur dengannya, dong?!
"Ini sudah yang ke-4 kalinya seorang manusia menjadi Soulmate iblis. Tapi, manusia-manusia itu malah menghianati iblis yang menjadi pasangannya. Jadi, itulah sebabnya kami tidak mau berurusan dengan manusia lagi. Tapi, kuharap Anda tidak menghianati Tuan muda seperti manusia-manusia sebelumnya!"
Aku bisa merasakan sebuah tekanan besar yang menusuk kulitku yang berasal dari tubuh wanita di depanku. Memangnya apa yang akan kulakukan pada si iblis bodoh itu? Menghianatinya? Memangnya aku mencintainya?
"T-Tentu saja aku tidak akan melakukannya. Lagipula, Mira-san, ini cuma sebuah kecelakaan hingga aku menjadi Soulmate-nya. Saat itu, Natsu tengah terluka parah dan terdesak. Dia berniat mengambil jiwaku untuk memulihkan tenaganya, tapi dia salah melakukan metode. Itu saja. Tidak lebih. Jadi, dia sama sekali tidak berniat menjadikanku Soulmatenya." jelasku sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Ara? Aku ragu kalau memang seperti itu kenyataannya." Mira menatapku dengan polos.
Apa maksudnya itu?
"P-Pokoknya aku ingin bertanya dulu. Bagaimana cara menghapus kontrak Soulmate ini?" tanyaku. Aku ingin bebas.
"Kontrak ini tidak bisa dihapuskan begitu saja, kecuali Tuan Muda sendiri yang menghapusnya." jawab Mira.
Aku segera berdiri dari dudukku. "Baiklah, aku hanya perlu mencari Natsu dan menyuruhnya membatalkan kontrak ini bukan?" tanpa menunggu jawaban dari Mira, aku segera berlari menuju pintu. Kubuka pintu itu dan segera berlarian keluar. Namun, ada yang aneh. Aku seperti melayang di udara, dan kakiku tidak menapak di lantai. Aku segera tersentak menyadari kalau aku memang sedang melayang di udara!
"WUAAAA! AKU JATUHHH!" teriakku, panik. Aku mengibas-ngibaskan kedua tanganku, berusaha untuk kembali ke atas. Tapi, percuma. Aku malah semakin cepat terjun ke bawah! Oh, tidak! Di bawahku terdapat sungai api yang kelihatan sangat panas! Apa ini akhir dari hidupku?
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang melingkari pinggangku. Dan baru kusadari, kalau aku mengambang di udara. Aku menoleh ke belakang, dan mendapati Mira tengah memegangiku dengan erat.
"Nona! Anda baik-baik saja?" tanya Mira.
Aku mengangguk, belum sepenuhnya lepas dari rasa syok.
Mira segera membawaku ke atas dan memasukkanku lagi ke kamar.
"Maaf, saya lupa mengatakan kalau di sini bukanlah bumi. Ini adalah Neraka. Dan kita sedang berada di daratan mengambang yang paling tinggi." jelas Mira dengan raut wajah bersalah.
"Apa? Neraka?!" tanyaku tidak percaya. Astaga! Apa aku terlalu banyak dosa sehingga aku dikirim ke sini?!
Mira mengangguk. "Ya. Ini adalah Neraka modern. Tempat tinggal para iblis. Dunia kami." jawab Mira.
Aku hanya terduduk di lantai. Ini terlalu sulit diterima akal pikiran. "Hah. Kupikir aku perlu waktu untuk mencerna semuanya." gumamku.
"Anda kelihatan muram. Bagaimana kalau saya mengantarkan Anda untuk melihat Tuan Muda berlatih?" tawar Mira.
Itu dia! Akhirnya ada sedikit harapan untuk kebebasanku!
Aku segera mengangguk setuju.
"Ah, satu lagi. Kalau saja kontrak Anda dan Tuan muda dihapus, berarti Anda akan langsung kembali ke wujud Anda semula. Dan bisa saja menjadi lebih buruk lagi." ucap Mira.
Aku segera terdiam mendengarnya. Lebih buruk lagi? Maksudnya aku akan bertambah jelek begitu? Apakah tubuhku akan menjadi semakin memendek dan gigi-gigiku akan berubah bentuk? Tidak! Tidak! Tidak!
Aku hanya bisa diam mematung, tidak tahu harus bicara apa. Mira membentangkan sayap hitamnya, yang baru kusadari berbentuk seperti sayap kelelawar. Apa semua iblis memiliki sayap seperti ini? Dan Mira pun segera memelukku dan menerbangkanku melewati sungai lahar panas ini menuju tempat latihan Natsu.
XXX
"Wah, benar juga, kekuatanmu tiba-tiba meningkat." ucap seorang pria berambut biru kepada pria berambut pink di depannya. Mata cokelatnya tak henti-hentinya menatap takjub sebuah bola besar dengan kilatan petir di telapak tangan Natsu. "Kau bahkan bisa membuat bola sebesar ini hanya dengan satu tangan." komentar Jellal.
Natsu hanya diam menatap bola energi yang di tangan kanannya itu. Dan dengan sekali gerakan, dia melemparkan bola itu ke sembarang arah dan bola itu melaju cepat dan menghancurkan sebuah daratan mengapung yang cukup besar.
Jellal menatap tak percaya daratan yang besarnya sekitar 3 kali tubuh ikan paus itu langsung hancur menjadi debu setelah terkena serangan Natsu.
"Hebat. Sejak kapan aku menjadi sekuat ini?" Natsu menatap tangannya dengan tatapan bingung.
Jellal menatap Natsu sambil memegangi dagunya. "Aku pikir ini mungkin berkaitan dengan gadis yang kau selamatkan itu." ucap Jellal.
"Hah?" Natsu menatap Jellal dengan bingung.
"Mungkin saja jiwa yang kau ambil itu sejenis jiwa yang spesial, atau dengan kata lain, jiwa yang bersih. Yang mampu mensucikan api iblis di dalam dirimu dan mengubahnya menjadi api suci yang mampu menghancurkan musuhmu yang berhati jahat. Karena iblis takut akan kesucian, kemungkinan besar setiap iblis yang terkena seranganmu pasti akan musnah dengan seketika. Jujur saja, aku bahkan sesak nafas berada di dekat bola apimu tadi." opini Jellal.
"Hah? Maksudmu jiwa gadis itulah yang sudah membuatku sekuat ini?" tanya Natsu.
Jellal mengangguk.
Natsu terdiam cukup lama mendengarnya. Kemudian menyeringai misterius. "Gadis itu cukup menarik rupanya." gumanya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu menarik kerah bajunya. Dan orang itu adalah gadis yang sedang mereka bicarakan!
XXX
Aku mencengkram kerah pria pink ini begitu mataku menangkap bayangannya. Dia menatapku dengan mata terbelalak kaget.
"Kau! Kembalikan aku ke duniaku!" teriakku di depan wajahnya.
"Hah?" dia menatapku tidak percaya, tatapannya seolah mengatakan kalau aku ini bicara dalam bahasa alien.
Aku menatapnya kesal. "Kau tidak bisa bahasa manusia, ya? Kubilang, kembalikan aku ke duniaku!" aku memaki-makinya dengan kasar. Namun, dia sama sekali tidak terlihat gentar, dan malah membalas perkataanku dengan senyuman sinisnya. Dan entah sejak kapan, keadaannya menjadi membalik dengan Natsu yang mencengkram pergelangan tanganku dan mendorong tubuhku ke belakang. Dan kini tubuhku terhimpit oleh pohon kering di belakangku dan tubuh Natsu yang menghimpitku dari depan.
"A-Apa yang kaulakukan? Lepaskan aku!" teriakku.
Dia semakin melebarkan senyuman iblisnya. "Hn. Kalau aku tidak mau, apa yang akan kaulakukan?" tanyanya, menantang.
"Apa? Kau breng—" Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku, karena ada sesuatu yang menyumpal mulutku. Dan baru kusadari kalau pria di depanku ini tengah menempelkan bibirnya di bibirku! Lagi!
Aku segera berontak, mencoba melepaskan diri darinya. Tapi, ciumannya terasa memabukkanku hingga aku hanya bisa diam mematung seperti orang bodoh.
Natsu melepaskan ciumannya dan menatapku dengan senyuman sombongnya. "Hn. Lihat 'kan? Kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa padahal aku hanya menciummu. Apa yang kaulakukan nanti jika aku melakukan 'hal' lebih padamu?" dia berbisik di samping telingaku.
"Kau... Kau iblis terbrengsek yang pernah kutemui!" desisku.
"Benarkah? Memangnya sudah berapa iblis yang pernah kautemui?" tanyanya pelan di telingaku. Aku baru sadar kalau dia sudah menempelkan bibirnya di lekukan telingaku. Sontak aku segera memalingkan wajahku, menjauhi bibir seksinya. Meskipun aku ingin di sentuh bibir seksinya, tetap saja aku harus menjaga harga diri.
"Kumohon, kembalikan aku ke tempat asalku." pintaku, pelan.
Dia memegang daguku dan memaksa mataku untuk menatap ke arah mata onyxnya. "Aku tidak bisa melakukannya. Karena... Aku masih membutuhkanmu." ucapnya. Dia kembali mendekatkan wajahnya. "Luce, aku menginginkan sesuatu di dalam dirimu..." bisiknya.
Aku tersentak mendengarnya. Dan dengan amarah yang meluap-luap dan sudah tidak bisa ditahan lagi, aku pun menginjak kakinya dengan sekuat tenaga dan amarah yang kumiliki.
Dia langsung berteriak layaknya seorang perempuan. Dia menatapku tajam dengan mata merahnya. Begitu, jadi kalau dia marah, matanya akan berubah jadi merah, ya? Aku balik menatapnya tajam dengan mata karamelku. Kupasang raut wajah galak yang pernah kupraktekkan di cermin, seharusnya berhasil jika wajahku masih jelek seperti dulu. Aku tidak tahu hasil seperi apa yang kudapatkan dari wajah yang tengah kupasang ini, yang jelas pria di depanku ini tampak tak terlihat gentar sedikitpun. Sial! Ternyata tidak berhasil!
"Kau brengseeeekkk!" Aku berteriak di depan wajahnya. Dia tampak kaget mendengar teriakanku yang memekakkan telinga ini.
"Hey! Kau mau membunuhku dengan suara cemprengmu itu, hah?!" Dia berteriak kesal.
"Kuharap suaraku benar-benar bisa membunuhmu! Tapi, kupikir kau tidak akan bisa terbunuh semudah itu kalau aku tidak mencekikmu secara langsung!" sahutku sengit.
"A-Apa katamu?!" Dia memperlihatkan raut wajah syok. Tampaknya dia kembali teringat kejadian beberapa jam lalu, di mana aku mencekiknya sekuat-kuatnya hingga wajahnya membiru.
Mendengus kesal, aku segera membalikkan tubuhku dan berjalan menjauhinya. Tapi, lagi-lagi kecerobohan selalu saja menempel padaku sehingga aku lagi-lagi terjatuh dari daratan mengapung ini ke sungai panas di bawah sana.
"KYAAAAAAAAAAA!"
"Nona Lucy!" Mira keburu menangkapku sebelum aku habis terpanggang di lautan api ini.
Aku menghembuskan nafas lega. "Arigatou, Mira-san." ucapku.
Mira mengangguk. "Lebih baik saya membawa Anda kembali ke kamar saja. Anda terlihat kacau hari ini sampai-sampai terjatuh dua kali." ucapnya.
Oh, untunglah dia tidak menyadari kalau aku ini orang yang ceroboh. Aku mengangguk lemas dan Mira pun membawaku kembali ke kamar.
XXX
Jellal menghampiri Natsu yang tengah tersenyum misterius sambil menatap kepergian Lucy.
"Natsu, apa kau benar-benar akan melepaskan gadis itu setelah dia sadarkan diri seperti yang kau bilang 4 hari yang lalu?" tanya Jellal.
Natsu mendengus melalui hidungnya. "Hn. Aku pikir aku berubah pikiran. Gadis itu terlalu menarik untuk dilepaskan begitu saja." jawab Natsu sambil menjilat bibir bawahnya.
"Kau menginginkan kekuatan gadis itu?" Tanya Jellal dengan wajah datar. Namun, Natsu tampak mengabaikannya dan malah semakin memperlebar seringaiannya.
"Hmm... Manis. Rasanya seperti Vanila." komentar Natsu, merasakan rasa manis di bibirnya. Jellal hanya menggelengkan kepala mendengar penuturan Natsu.
XXX
"Nona Lucy, apa Anda lapar? Bagaimana kalau saya membawakan makanan untuk Anda?" tawar Mira.
Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil. "Ya. Boleh juga. Kebetulan aku sangat lapar. Ah, dan lagi. Kumohon jangan terlalu formal padaku. Jujur, itu sangat menggangguku." ungkapku.
Mira tampak terkejut mendengarnya. "Ah, maafkan saya telah membuat Anda menjadi tidak nyaman begini."
Aku meringis mendengarnya. "Yah, karena itu tidak usah menggunakan bahasa yang terlalu sopan begitu."
Mira membungkukkan tubuhnya. "Dimengerti. Kalau begitu, aku permisi dulu untuk mengambilkan makanan nona." ucap Mira.
Aku mengangguk, dan Mira pun pergi keluar kamar. Aku kembali mengalihkan pandanganku keluar jendela. Hebat. Aku baru menyadari kalau tempat ini benar-benar menakjubkan. Langit berwarna ungu tanpa bintang dan matahari tampak sangat besar dan dekat, tapi anehnya aku sama sekali tidak merasakan panas sedikitpun. Apa ini pengaruh dari sebagian jiwa iblis Natsu di tubuhku? Mungkin.
Lalu, di mana-mana terdapat daratan tanah yang mengambang di udara. Dan aku bisa melihat sebuah kota besar di daratan atau mungkin bisa kusebut pulau mengambang? Kota itu sungguh menakjubkan. Gedung-gedungnya yang menjulang tinggi dengan bentuk tidak biasa. Dan warna lampunya juga berwarna ungu dan merah. Di atas kota itu, aku bisa melihat para iblis berterbangan ke segala arah. Dan di samping pulau itu, ada juga pulau-pulau besar lain yang berisi kota-kota menakjubkan lainnya. Aku tidak menyangka Neraka bisa sebagus ini. Apa ini yang mereka sebut Neraka modern?
Cklek.
Itu pasti Mira. Aku segera menoleh untuk menatap Mira yang membawa makananku, tapi yang kulakukan selanjutnya hanyalah terpaku di tempat. Mulutku menganga lebar dan mataku menatap tak percaya sosok Natsu di depanku. Bukan, bukan pria aneh pink itu yang membuatku syok, melainkan benda yang sedang dibawanya itu...
"Apa itu?" Aku menunjuk sesuatu yang dibawanya.
Dia melihat benda di tangannya. "Ini? Tentu saja ini makan malammu." jawabnya, santai.
"Apa?! Makananku? Maksudmu aku harus memakan makanan menjijikkan itu?" Aku menatapnya tak percaya.
"Hey! Apa yang kausebut menjijikkan? Ini adalah makanan kesukaanku!" serunya tidak terima.
"Seberapa menjijikkannya dirimu sampai-sampai kau menyukai makanan menjijikkan itu?" Aku menatapnya dengan jijik.
"Heh! Kau harus mencicipinya! Ini benar-benar enak! Lagipula, semua iblis di Neraka ini menyukai makanan ini!" perintahnya.
"Tidak mau! Aku tidak sudi memakan makanan mengerikan ini. Aku tidak mau muntah di tempat. Dan apa ini? Benda bulat-bulat dan kenyal ini?" Aku mengaduk-aduk makanan di tangannya dengan sendok.
"Bodoh! Itu mata serigala liar! Begitu saja tidak tahu," jawab Natsu.
Mendengarnya, aku terpaksa harus menahan dirinya agar tidak muntah. "Maksudmu ini sup mata para serigala liar?" tanyaku, memastikan.
Natsu mengangguk. "Benar. Ini salah satu makanan berkelas di sini. Kau beruntung bisa mencicipi ini."
Beruntung gigimu! Makanan berkelas katamu?! Lalu makanan biasanya bakal seburuk apa?!
"Tidak! Menjijikkan! Kau makan saja sendiri!" Aku memalingkan wajahku.
"Apa?! Kalau kau tidak mau memakannya, maka aku yang akan membuatmu memakannya."
"Eh?" Aku baru saja hendak menatapnya dengan bingung, tapi gerakan pria di depanku sangat cepat sehingga lagi-lagi aku tidak dapat menyadari kalau dia mendorongku hingga terjatuh di atas tempat tidur. Aku meronta mencoba melepaskan diri, tapi tangan pria ini mengcengkram kuat pergelangan tanganku, bahkan tubuhku sudah terkunci rapat oleh kakinya.
"Lepaskan! Apapun yang kaulakukan, aku tidak akan sekalipun memakan makanan mengerikan itu!" teriakku.
Dia mendecih sebal. "Cih, selama aku hidup 517 tahun, baru kutemui manusia secerewet dan seaneh kau!" ucapnya.
"Siapa yang kau sebut aneh?! Tidak ada manusia yang sudi memakan makanan menjijikkan favoritmu itu!" sahutku, merasa terhina.
"Kau sudah bukan manusia lagi. Sekarang kau setengah iblis." ucapnya, yang langsung membuat mataku membelalak kaget.
"A-apa? Setengah iblis?" tanyaku tak percaya.
"Cih, mungkin cuma seperempat iblis." ucapnya, terlihat bertambah kesal.
"Apa maksudmu? Mau dilihat bagaimanapun, aku tetaplah manusia!" teriakku lagi.
Dia tampak gusar mendengar teriakkanku yang sudah kesekian kalinya. "Akan kubuktikan kalau kau mempunyai jiwa iblis..." ucapnya.
"Eh?" Dan aku tak sanggup berkata-kata karena lagi-lagi pria di depanku ini kembali menciumku, dan kali ini dia melakukannya dengan ganas.
"Hmmmpph! Mmm!" Aku mencoba melepaskan tanganku dari cengkramannya, namun yang ada, pegangannya malah semakin kuat mencengkram lenganku.
Aku memejamkan mataku erat, berusaha untuk tetap sadar dan tidak terbuai dengan ciumannya yang mematikan ini. Natsu memaksa mulutku untuk terbuka, tapi aku langsung membungkam mulutku rapat-rapat. Dia tetap tidak menyerah, dan tetap memaksa mulutku untuk terbuka menggunakan lidahnya. Dan akhirnya karena terlalu lama membungkam, mulutku menjadi kaku ditambah lagi ciuman Natsu benar-benar sudah memabukkanku. Dan akhirnya dengan terpaksa aku membuka mulutku dan saat itu juga Natsu dengan secepat kilat memasukan sesuatu ke dalam mulutku.
Aku mengunyah sesuatu itu dengan pelan. Merasa kenikmatan akibat rasa yang begitu lezat yang baru saja dicicipi oleh lidahku. Hmm... Kenyal dan bulat... Enak... Tunggu! Kalau tidak salah, ini kan...
"Bagaimana? Enak 'kan?" tanya Natsu menunjukkan senyum kemenangannya. Dia menjilat bibirnya dengan penuh rasa puas.
Aku menganga lebar menyadari apa yang baru saja kumakan. Aku langsung berusaha memuntahkan apa yang baru saja kumakan, tapi sialnya benda menjijikkan itu sudah masuk ke dalam perutku dan mungkin saja sudah memulai proses pencernaannya.
"Sudahlah. Tidak perlu malu-malu sampai mau memuntahkannya kembali. Aku tahu kau menyukainya."
Aku segera menatap tajam pria menyebalkan di depanku ini. Dia... Dia benar-benar membangkitkan hasratku untuk membunuhnya!
Dan kembali, terdengar teriakkan kesakitan dari dalam kamar itu.
Bersambung...
AN: Hai Minna! Hehe, saya sengaja update cepat karena melihat fanfic ini direspon dengan sangat bagus oleh kalian! Gimana chapter 2 nya? Membosankan, ya? Emang sih... Habis aku ngetiknya sambil buru-buru sih... Oh iya, aku cuma mau memperingatkan, kalau di fanfic ini bakal ada banyak adegan ciumannya. Karena apa? Karena Natsu bakal sering mengambil energi Lucy melalui proses Mouth-to-Mouth.. Hehe, if you know what i mean..
Ya udah, saya mau jawab review dulu dari para pembaca! XD
Runming: Makasih! Oke, ni dah lanjut! XD
Namikaze Resta: Haha, Arigatou! XD
zuryuteki: Ni dah lanjut! Maaf kalo chapter ini gak seru seperti harapan kamu... :(
Kazehaya Sakazuki: Oke, ni dah kulanjutin. The World is Over-nya masih dalam proses imajinasi(?)
karinalu: Haha, makasih! Iya dong, jadi apapun itu, Natsu bakal tetap dongdong! XD
Natsu itu iblis setengah manusia, dan benar sekali dia gak mau ngaku kalau dia punya sebagian jiwa manusia... Oke, You're Not Her Father sedang dalam proses pembuatan... Makasih dah ngereview! :D
Trollshima: Haha, makasih! XD
Mmm... Akan saya pertimbangkan saran Anda. Soalnya menurutku mata merah menyala lebih cocok sama Natsu yang berjiwa iblis XD
Reka amelia: Wah, karena request You're Not Her Father lebih banyak, jadi aku ngelanjutin yang itu dulu… Gomen ya… :(
MajoLy. Tail: Aku dah baca fiction kamu, dan gpp kok! Malah cerita di fanfic kamu lebih seru dari fictionku ini... Lagian, gak bakal dibilang niru kok karena cerita kita bener2 beda. Haha, You're not Her Father sedang dalam proses pengetikan.
juanda. blepotan: Anime Sekirei itu kalo gak salah tentang harem, kan?
R2A: Makasih! Saya senang kamu muji fiction ini! Oke, You're Not Her Father sedang dalam proses pembuatan... :D
ghinapink: Sebenernya aku dah dapat sih ide buat sequel Falling for The Cell Phone Stranger, tapi idenya dipakai buat bahan cerita fanfic collab saya. Tentang pembuatan film gitu... Tapi, pasti suatu saat saya dapet ide buat bikin sequelnya, karena saya sendiri juga kepengen bikin sequel. Makasih udah nyemangatin! XD
santika widya: Haha, makasih banget udah mau baca dan menyukai semua cerita yang kubuat! Tentunya bakal terus lanjut dong. Eh, karena request You're Not Her Father lebih banyak, jadi aku ngerjain yang itu dulu... Goman ya... :(
shinta dragneel: Haha, You're Not Her Father-nya sedang dalam proses pengetikan, jadi saya update dulu yang ini karena lebih dulu selesai... XD
Hana Hii-chan: Makasih! Haha, aku juga berharap yang Natsu cium itu bukan Lucy, tapi aku #plak!
Wah, susah tuh... Habis, hampir semua fiction buatanku belum kulanjutin... XD
Nnatsuki: Syukurlah Na-chan lagi seneng-senengnya sama genre supernatural. Haha, iya dong, mau jadi apapun, Natsu bakal tetap kereeeenn! Bahkan kalo jadi kadal sekalipun #hah?
Makasih udah mau ngeluangin waktu buat ngereview fanfic ini!
Rukami Aiko: Oh, apa boleh kutebak kamu kagetnya waktu tau Lucy itu dipanggil Betty dan berwajah Ugly? O.O
Saya gak heran kamu bisa kaget begitu, aku bahkan juga kaget nulisnya #lha?
Gulanya udah gosong kali gara-gara kena panggang api Natsu. Tenang, Lucy bakal kembali ke dunia manusia kok. Karena cerita mereka memang di sana XD Wah, keduanya masih dalam proses pembuatan tuh. Makasih atas semangatnya dan douitashimashite!
winha heartfilia: Waduh, pesanan Anda terlalu banyak kayaknya. Tapi saya bakal ngelanjutinnya satu2 kok! Makasih udah nyemangatin dan udah mau ngeluangin waktu buat ngereview fiction ini! :D
s4kur4miyuz4ki: Wah, makasih banyak! Terakhirnya bakal ada perang sama pertumpahan darah gitu, kayaknya. Hehe, Natsunya bakal sekolah kok! Dan kurasa umur Natsu udah dijawab di chap ini, yaitu 517 tahun! XD Menurut Mika-chan, itu tua atau muda, sih?
vivii. natsumeyuujin: Makasih! Oke, ini dah dilanjut… Makasih udah ngereview! :D
Oke, saya senang sekali fanfic ini mendapat respon yang bagus dan bisa mendapatkan 19 review di chapter prolog. Kuharap, chapter 2 ini tidak mengecewakan kalian karena alurnya yang kembali membosankan... Haha, oke, segitu dulu. Kalo ada pertanyaan, jangan malu2 untuk bertanya, saya bakal dengan senang hati menjawab.. Kalo gitu sampai jumpa di chapter depan! Bye-bye!
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
