Tittle : Kiss Addict

Author : Honeyaa

Casts : Do Kyungsoo (GS), Kim Jongin, and others

Leght : Multichapter

Genre : Romance, School life

Rating : PG 17

Happy Reading~

Kyungsoo POV

Tuhan sungguh baik padaku kali ini. Sunbae mesum itu tidak melakukan apa-apa padaku. Lebih tepatnya, mungkin belum.

Kata-katanya masih terngiang jelas di kepalaku. Selama tiga hari ini aku selalu berusaha menghindarinya. Takut jika dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan.

Ini adalah hari terakhir orientasi. Sebagai penutupan, para sunbae memiliki agenda kemah di sekolah. Dan tentunya kami siswa kelas pertama wajib mengikutinya. Padahal aku malas sekali mengikuti acara-acara seperti ini.

"Soo-ya, apakah kau sudah mengemasi seluruh barang yang akan kau bawa nanti? Kau harus segera berangkat jika tak ingin terlambat!" teriak eomma dari lantai bawah. Aku terkesiap. Sial. Gara-gara terlalu memikirkan kata-kata sunbae tadi, aku sampai lupa mengemasi barang-barangku.

"Sebentar lagi, eomma." jawabku lumayan keras. Aku harus segera bersiap. Secepatnya ku masukkan barang-barang yang sudah ku siapkan tadi.

Gawat. Aku tak punya banyak waktu lagi. Buru-buru aku keluar kamar sambil menenteng tasku. Aku tak sempat mengganti seragam sekolah dengan baju olahraga. Lebih baik aku menggantinya saat di sekolah saja.

"Eomma, aku berangkat!" teriakku sambil memakai sepatuku dengan tergesa-gesa. "Yak! Jangan terburu-buru seperti itu. Hubungi eomma jika terjadi sesuatu."

"Ne eomma. Sampai jumpa!" kubuka pintu rumah dengan cepat. Segera saja aku berlari menuju halte. Semoga hari ini aku tak bertemu sunbae mesum itu lagi.

Huh, untung saja aku datang tepat waktu. Tepat ketika para sunbae akan memberikan instruksi tentang kemah hari ini.

"Hai Luhan," sapaku padanya. "Kau hampir saja terlambat Kyungie-ya," cibir Luhan padaku. Aku hanya memberinya cengiran polos. "Hehe, maaf. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan tadi." Luhan hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

Kami segera menghentikan perbincangan ini dan mengalihkan perhatian pada para sunbae. Ketika sedang asyik memperhatikan mereka, secara tak sengaja mataku melihat wajah sunbae itu. Siapa namanya? Kim Jongin? Ah benar. Aku hampir saja lupa.

Jika dilihat dari sini, dia benar-benar tampan. Ku alihkan pandanganku pada bibirnya. Bibir yang telah meninggalkan kesan yang dalam padaku. Mungkin ia akan terlihat lebih tampan jika sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

Tiba-tiba dia mengalihkan tatapannya padaku. Buru-buru aku membuang muka dan kembali memperhatikan instruksi para sunbae. Semoga saja ia tak menyadari bahwa aku memandanginya. Aku gugup sekali. Bagaimana jika dia masih mengingatku? Habislah sudah.

Para sunbae telah selesai membacakan seluruh instruksi untuk kemah ini. Aku berada di tenda yang sama dengan Luhan. Kami segera menuju ke lapangan untuk mendirikan tenda.

"Luhan-ah, bisakah kau mendirikan tenda ini bersama teman yang lain? Aku ingin mengganti seragamku dengan baju olahraga. Lihat, hanya aku saja yang belum memakai baju olahraga," pintaku pada Luhan.

"Baiklah, tidak usah khawatir. Aku akan meminta teman yang lain untuk membantuku," balas Luhan sambil tersenyum. Aku segera mengambil baju olahraga yang berada di dalam tasku.

Ku langkahkan kakiku menuju toilet sekolah. Lorong sekolah terlihat sepi sekali. Pantas saja karena semua orang sedang berada di lapangan sekarang. Aku segera membuka pintu toilet dan bergegas mengganti bajuku.

"Huh, akhirnya aku bisa mengganti baju," monologku pada diri sendiri. Ku rapikan seragamku dan bergegas keluar. Ketika aku berbelok di depan pintu toilet, tiba-tiba sebuah tubuh menghadangku.

Ku dongakkan kepalaku keatas. Tubuhku kaku. Lidahku kelu. Ingin kualihkan pandanganku ke sisi lain, tapi tak bisa.

Dia mendorong dan memojokkanku ke dinding di belakangku. Tangan kanannya berada di tengkukku, sedang tangan kirinya berada di bahuku.

Seragam yang kupegang jatuh ke lantai ketika ia dengan tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibirku. Ini sungguh tiba-tiba. Mataku membulat seketika. Dia tak main-main dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.

Bibirnya hanya menempel, tidak ada pergerakan sama sekali. Aku ingin sekali memberontak, tapi tak kuasa. Tubuhku seperti tak bisa kukuasai. Jantungku berdetak hebat. Ada berbagai perasaan yang sedang berkecamuk di hatiku.

Ia mulai menekan bibirku. Melumatnya dengan pelan. Membuatku memejamkan mata dengan sendirinya. Bodoh sekali. Mengapa aku tak menolaknya?

Bibirnya terasa manis sekali. Padahal waktu itu rasanya tak semanis ini. Mungkin karena ia melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Tak tergesa-gesa seperti waktu itu.

Tak kusangka aku malah membalas balik perbuatannya. Ku kalungkan tanganku pada lehernya. Menekan tengkuknya agar semakin memperdalam ciuman ini. Aku rasa aku mulai kecanduan dengan bibir ini.

Ia juga melakukan hal yang sama denganku. Tangannya menekan tengkukku agar aku semakin dalam menciumnya. Bibir kami saling melumat hingga kami mulai kehabisan nafas.

Seperti mengerti apa yang aku pikirkan, ia segera melepaskan tautan kami. Ia memberikanku kecupan-kecupan kecil sebelum melepaskannya.

Menyadari apa yang telah terjadi, aku buru-buru melepaskan tanganku dari lehernya. Tapi tidak dengan tangannya, masih tetap pada posisi semula. Ku tundukkan kepalaku. Pipiku memanas. Mungkin sekarang warnanya sudah semerah tomat yang biasa dibeli eomma-ku di pasar.

Aku malu sekali. Tangannya beralih memegang daguku. Mendongakkanya ke atas agar aku bisa memandang matanya. Hembusan nafasnya terasa hangat di pipiku dalam jarak sedekat ini.

Ia kembali medekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya kembali. Memberiku ciuman singkat tapi dalam. Dia menjauhkan wajahnya dan bergegas pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.

Aku masih berada pada tempat yang sama. Belum beranjak sedikitpun. Mengapa aku tak menolaknya dan malah membalasnya? Dan apa maksudnya menciumku lalu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun?

Berbagai pikiran datang memenuhi otakku. Hatiku tak karuan. Aku segera mengambil seragam yang terjatuh di lantai dengan wajah ling-lung. Secepatnya aku berlari menuju ke lapangan. Berharap semoga tidak ada orang yang melihat kami tadi. Semoga saja

Author POV

Luhan menyadari ada yang tidak beres dengan Kyungsoo. Ia terlihat gelisah sedari tadi. Ia juga terlihat tegang dan gugup. Matanya menatap lurus ke bawah sembari menggigiti kuku tangannya.

"Kyungie-ya, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Luhan khawatir. Kyungsoo yang terkesiap dengan pertanyaan Luhan buru-buru menghentikan aktivitasnya.

"Aku baik-baik saja," balas Kyungsoo dengan gugup. "Tapi wajahmu tak berkata begitu Kyungie-ya. Kau terlihat gelisah setelah mengganti bajumu tadi. Apa terjadi sesuatu? Ceritakanlah padaku," pinta Luhan padanya.

"Aku sungguh baik-baik saja Luhan-ah. Percayalah padaku, tidak ada sesuatu yang terjadi. Ini hanya kebiasaanku ketika aku kedinginan. Udara memang sedang dingin malam ini, iya kan?" elak Kyungsoo dari pertanyaan Luhan.

Luhan hanya bisa menghela nafas. Ia tau temannya tidak sedang dalam keadaan yang baik. Baiklah, Luhan mengalah kali ini. Ia tak kan meminta Kyungsoo menceritakannya.

"Baiklah, aku percaya. Dan kenapa kau tak membawa baju hangat tadi? Malam ini udara dingin sekali Kyungie-ya," ujar Luhan. "Hehe, aku lupa membawanya tadi. Aku sangat tergesa-gesa hingga lupa memasukkannya ke dalam tas."

"Huh, itulah kau. Ceroboh sekali. Maaf Kyungie-ya, aku hanya membawa satu baju hangat hari ini," sesal Luhan pada Kyungsoo. "Tak apa Luhan-ah. Pakailah, agar tubuhmu hangat."

Kyungsoo beranjak dari tempatnya dan mengambil baju hangat Luhan di dalam tenda. Ia menyodorkannya kepada Luhan agar segera memakainya. Udara semakin dingin sekarang.

Luhan menerimanya dengan ragu-ragu. Ia tak mau temannya kedinginan. "Pakailah Luhan. Aku baik-baik saja. Aku tak akan pingsan hanya karena kedinginan," Kyungsoo mencoba bergurau agar Luhan tidak merasa semakin bersalah.

"Maafkan aku Kyungie-ya. Aku benar-benar minta maaf," ujar Luhan sambil menundukkan wajahnya. Kyungsoo menepuk pundak Luhan dan berkata "Sudahlah. Asal kau di sampingku, aku akan selalu merasa hangat," ujar Kyungsoo dengan tulus. Luhan mendongakkan kepalanya seraya tersenyum balik pada Kyungsoo.

"Ayo kita segera pergi. Bukankah acara api unggun akan segera dimulai?" ajak Kyungsoo. "Ah, aku hampir saja lupa. Kau pasti akan merasa lebih hangat setelah sampai disana Kyungie-ya," ujarnya menenangkan hati Kyungsoo.

Mereka berjalan berdampingan sambil tersenyum. Senyuman seorang sahabat memang mampu menepis segala resah yang ada.

Kyungsoo POV

Acara api unggun telah selesai. Menandai bahwa masa orientasi sudah berakhir. Semua siswa sedang tidur di dalam tenda masing-masing. Sedangkan aku tak bisa memejamkan mata walaupun sudah berusaha.

Aku meraba bibirku. Pikiranku kembali saat Jongin sunbae menciumku. Rasa hangat menjalari pipiku. Aku malu jika mengingatnya.

Karena tak kunjung tertidur, aku memilih keluar untuk sekedar menenangkan pikiran dan hatiku. Aku duduk di bangku dekat lapangan. Ku ambil Ipod dan dan memasang earphone di telingaku sambil memutar lagu yang berada dalam playlist.

Pikiranku menjadi lebih jernih setelah mendengarkan beberapa lagu. Ku dengarkan kembali lagu yang masih tersisa dalam playlist.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan sedang melepaskan earphone yang berada di telingaku. Sepetinya ini bukan pertanda baik.

Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku. Bahkan hidung kami sudah bersentuhan. Tanpa aba-aba bibirnya dengan cepat menempel pada bibirku. Memberiku lumatan-lumatan kecil yang membuat jantungku kembali berdetak tak terkendali.

Mataku yang sedari tadi terpejam dengan cepat terbuka. Aku melihat wajah yang sedari tadi berada dalam pikiranku. Matanya terpejam. Mencoba menikmati pertautan ini.

Mataku kembali memejam. Aku benar-benar tak bisa menghindarinya. Walaupun otakku berkata aku harus menghentikannya, tidak dengan tubuhku. Mereka tak bisa menolak sentuhannya.

Tangannya menekan tengkukku agar memudahkannya menciumku. Kepala kami bergerak kesana kemari mencari posisi yang sesuai. Lumatannya tak berhenti sampai disini.

Ia menciumku semakin dalam dan aku membalasnya tak kalah dalam sampai kami hampir kehabisan nafas. Kecupan-kecupan kecil nan manis ia berikan padaku sebelum melepasnya.

Nafas kami sama-sama memburu. Ia mengalihkan bibirnya pada pelipisku dan memberikan kecupan yang hangat disana. Beralih pada kedua kelopak mataku, pipi, serta hidungku.

Detak jantungku semakin tak terkendali ketika ia mengalihkan pandangannya pada bibirku. Pipiku berubah menjadi semerah tomat. Ia memberikan kecupan kecil pada kedua sudut bibirku.

Bibirnya mendekat kearah telingaku. "Selamat malam Kyungsoo. Teima kasih untuk hari ini. Semoga kau merasa hangat setelah ini," bisiknya pelan dengan suara yang menggetarkan hatiku.

Ia kembali mencium pelipisku dan meninggalkanku dengan aroma cologne yang masih bisa tercium olehku. Warna pipiku masih sama seperti tadi.

Tubuhku masih belum beranjak. Pikiranku kembali tak karuan. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku memang bodoh. Sama sekali tak bisa menghindarinya.

Hembusan angin yang lumayan kencang menyadarkanku untuk segera beranjak. Ku rapikan earphone dan Ipodku dan kembali memasukkannya ke dalam saku. Jongin sunbae benar, tubuhku merasa sedikit lebih hangat setelah kejadian tadi.

Aku kembali masuk ke dalam tenda. Luhan dan teman yang lain masih tertidur dengan lelap. Ku baringkan badanku di samping Luhan dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhku.

Ku raba bibirku yang masih terasa lembab. Jongin sunbae.. kau benar benar membuat gila.

*TO BE CONTINUED*

Annyeong~ Minhyun nggak nyangka kalau ff ini yang review sebanyak ini. Senangnyaaaa. Maaf nggak bisa balas satu-satu review kalian, yang pasti Minhyun sangat berterima kasih karena kalian sudah mau menyempatkan untuk me-review ff ini. Jangan lupa review lagi ya? kalau reviewnya banyak, bakal minhyun update cepat.

Ppyong~