Halo semuanya…

Ini fic ke-2 Ray udah masuk chapter 2.

Balas review dulu. Yang login, saya sudah balas di PM-nya masing-masing.

ChappyBerry Lover : Cinta segitiga? Umm… nggak tau juga Chappy-san*dilempar bakiak* Kalau pernah ketemu atau tidak, dan penyebab kematian ayah Rukia, udah sedikit terjawab di chapter ini. Tapi lebih jelasnya, ada di chapter-chapter selanjutnya. Makasih atas reviewnya Chappy-san…

Nggak banyak cincong. Kita langsung saja. HAPPY READING!

.

Disclaimer : kalau Bleach punya saya, porsinya genrenya tuh 50% action, 25% humor, 25% romance. Sayangnya, aslinya Bleach*menurut Ray* porsi genrenya 75% action, 20% humor, 5% romance, ini pun 5% masih diragukan, malahan hampir tidak ada. Jadi Bleach punya Kubo-sensei (Tite Kubo) yang kayaknya nggak terlalu suka romance tuh*mungkin* hehe.

Rated : T

Pairing : Rukia Kuchiki x Ichigo Kurosaki

ATAU

Rukia Kuchiki x Toushiro Hitsugaya

Genre : Friendship and Family

Warning : mungkin sedikit OOC, cerita dan deskripsi tidak jelas, membosankan, typo, aneh, nista, dsb.

Summary : Di mataku, Kota Karakura tidak lebih dari sebuah 'Kota Kegelapan'. Berawal dari kota ini, dan apakah berakhir di kota ini juga? Apakah mungkin awal dan akhir terjadi di tempat yang sama? Inilah kisahku, Rukia Kuchiki.

.

DON'T LIKE, DON'T READ

.

.

GRATITUDE

By : Ray Kousen7

Chapter 2. Iblis dan Malaikat

.

.

02 April 2012

Pagi yang begitu hangat dan cerah.

Tak ada awan, tak ada apapun yang menghalangi sang surya menyampaikan sinarnya bagi kami semua. Kicauan burung sebagai iringan musik yang merdu. Tetesan embun di dedaunan dan kelopak bunga membiaskan sebagian kecil cahaya si surya. Desahan angin berusaha menandingi panas sang surya untuk membuat kami tetap hangat.

Cuaca yang sempurna. Mampu menyuntikkan semangat pendukung bagi kami yang mengawali hari ini dengan hal-hal yang baru atau melanjutkan hal yang tertunda.

Kecuali, diriku.

Cuaca tak mampu mengubah kegalauan hatiku.

Aku menatap pemandangan luar dari beranda lantai dua dengan hampa. Para tetangga sudah memulai aktifitasnya. Mereka berlalu-lalang tanpa henti. Ada yang berjalan, bersepeda, dan ada pula yang mengendarai mobil. Sesekali saling menyapa, mempererat keakraban sesama tetangga.

Lalu, aku tertarik melihat aktifitas tetangga sebelah rumahku.

Tetangga sebelah kanan, pria dewasa berumur kira-kira lebih dari empat puluh tahun, menenteng tas kerjanya, memasuki mobil hitam yang terparkir di halaman. Sebelum keluar halaman, dia melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka kepada wanita yang menggendong bayi. Si wanita sedang berdiri di beranda rumahnya. Dia membalas lambaian tangan si pria, tidak lupa dengan senyum lebar yang tersungging di bibirnya.

Ya, wanita dan si bayi pasti istri dan anak si pria.

Tetangga sebelah kiri, sebaliknya. Seorang wanita berumur kira-kira di atas tiga puluh tahun baru saja memanaskan mobilnya. Masih sibuk dengan kegiatannya, seorang anak laki-laki berumur empat atau lima tahun langsung berhambur ke pelukannya. Memeluk wanita itu dengat erat. Si wanita pun membalas pelukannya. Tidak lupa dia memberikan kecupan kening pada si anak.

Ya, si anak pasti putra si wanita.

Tetangga tepat di depan rumah masih lengang. Belum ada tanda-tanda yang berarti dari si pemilik rumah. Tidak lama, pintu rumahnya terbuka. Keluar seorang gadis dengan seragam Junior High School. Keluar dari halaman, wajah semangat begitu jelas terlihat.

Aku memandangnya lekat. Dia menyadari keberadaanku.

"Selamat pagi!" sapanya padaku, semangat.

"Selamat pagi!" sapaku balik, tidak sesemangat dia.

"Kakak tetangga baru?" tanyanya. Dia mendongakkan kepalanya karena posisiku yang masih berada di beranda lantai dua.

Kakak? Oh, dia tahu aku lebih tua darinya karena seragam Senior High School yang membaluti tubuhku sekarang.

"Iya," jawabku. "Aku baru saja pindah ke sini semalam."

Tidak ingin mengobrol banyak dengannya, aku berusaha menghentikan pembicaraan kami. Tapi, dia terus bercerita tanpa henti, tidak melihat gelagatku yang mulai tidak betah.

Ya, sudahlah!

Sebagai orang baru di sini, aku harus tampil sebagai tetangga yang baik. Anggap saja, hal ini sebagai aturan sopan santun. Aku akan menjadi pendengar yang baik.

Dari ceritanya aku tahu, dia adalah murid baru di salah satu Junior High School di Karakura. Dia sangat bersemangat karena akhirnya berhasil masuk ke sekolah favoritnya dan akan memiliki banyak teman baru. Dia menceritakan semuanya dengan semangat menggebu-gebu tanpa beban. Mungkin, dia sendiri tidak sadar, dia menceritakan semuanya pada orang yang baru dikenalnya.

Aku benci mengakuinya. Dia seolah-olah refleksi –pencerminan diriku lima tahun yang lalu.

"Kalau begitu, Kakak juga semangat ya?" serunya memberikan semangat padaku setelah tahu aku pun murid baru di salah satu Senior High School di Karakura.

Aku hanya mengangguk pelan.

Dia melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Kubalas lambaian tangannya.

Setelah sosoknya menghilang di tikungan jalan, spontan aku menghela napas dan memasang senyum kecut. Helaan napas sebagai tanda kelegaan berakhirnya percakapan yang kupikir hanya membuang-buang waktu. Senyum kecut sebagai tanda ironis-nya perbedaan diriku sekarang dengan lima tahun yang lalu.

Benar-benar ironis!

Kulangkahkah kakiku ke lantai bawah. Kak Isane –sendirian sudah menungguku untuk sarapan. Bibi Unohana telah berangkat ke rumah sakit sejak pukul 5 pagi tadi. Itu sudah biasa. Pekerjaan seorang dokter bedah tidak akan membuatmu istirahat tenang di rumah.

Bibi Unohana adalah seorang dokter bedah berbakat. Sebelumnya, dia bertugas di salah satu rumah sakit ternama di Tokyo. Dikarenakan menentang keputusan seorang profesor, bibi dipindahtugaskan ke Karakura. Itulah yang kudengar dari Kak Isane.

Sehari sebelum kami pindah ke Karakura, aku mendengar bibi memohon kepada seseorang ditelpon agar ia tidak dipindahtugaskan ke Karakura. Dia akan menerima dengan hati lapang dipindahkan ke mana pun asal tidak di Karakura.

Mendengar hal itu, hatiku teriris.

Bibi rela memohon seperti itu demi diriku.

Bibi mengesampingkan keegoisannya demi diriku.

Bibi merendahkan dirinya demi diriku.

Aku benar-benar pantas disebut iblis jika aku mementingkan diriku sendiri sekarang. Dia melakukan segalanya untukku selama lima tahun ini. Jadi, sekarang giliranku untuk membalas budi dirinya. Berusaha menghilangkan keegoisanku –keenggananku kembali ke kota ini, keenggananku hidup di kota ini lagi walaupun itu sulit.

Selesai mencicipi sarapan sederhana buatan Kak Isane, kami bersiap-siap berangkat karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Kak Isane mengeluarkan mobil dari halaman dengan cekatan. Aku langsung masuk, duduk di sampingnya. Mobil melaju ke tempat tujuan kami.

.

.

.

Butuh lima belas menit tiba di sekolah baruku, Karakura High School. Hawa yang sangat sejuk langsung menerpaku di saat aku keluar dari mobil. Posisi sekolah yang terletak di perbukitan tidak akan membuatmu khawatir dengan panas.

"Menelponlah kalau kau sudah pulang!" sahut Kak Isane dari dalam mobil.

Aku menunduk untuk melihatnya. "Tidak perlu, Kak. Aku akan pulang sendiri naik bis."

Dia menolak usulanku mentah-mentah karena dia tahu aku belum paham jalur bis. Dia tetap bersikeras menjemputku. Akhirnya, aku menyerah.

"Jangan membuat masalah!" Kak Isane mengingatkan. "Nikmati hari pertamamu!"

"Aku juga tidak mau membuat masalah. Hanya saja masalah selalu saja mengikutiku," tanggapku, cemberut kepadanya.

Dia membalasku dengan senyuman lembutnya. Lalu, mobil melesak pergi hingga tak terlihat lagi dari jarak pandangku.

Aku menatap sekolah baruku, menghela napas sebelum kulangkahkah kakiku memasuki halamannya. Baru beberapa langkah, kakiku terhenti saat kurasakan tatapan intens mendarat di punggungku. Spontan aku membalikkan tubuh, mencari siapa sosok pemilik tatapan kuat itu.

Tidak ada.

Semua siswa –belakang, depan, dan samping berperilaku biasa. Tapi, kuyakin, ini bukan perasaanku saja. Ada seseorang. Tidak. Lebih dari seorang. Tatapan itu terlalu kuat untuk satu orang saja. Mungkin, ada dua orang.

Maaf saja, aku bukan gadis bodoh yang tidak akan menganggap ini hal serius. Aku tidak paranoid, tapi tindak pencegahan harus tetap menjadi nomor satu.

Aku menenangkan diri.

Jangan membuat masalah! Peringatan Kak Isane terngiang di telingaku.

"Sudah kubilang, masalah yang selalu saja mengikutiku," gumamku.

Kembali kulangkahkan kakiku.

Bagus! Belum selesai satu masalah, masalah yang telah mengintaiku sejak aku bernapas di dunia ini akhirnya muncul. Masalah ini tidak akan pernah membuat hidupku tenang. Mungkin, hanya kematian yang membuatku mampu berpisah dengan masalah ini.

Tatapanku mengarah pada dua orang siswi yang berjalan tidak jauh di depanku. Satu siswi berambut ungu dengan ikatan rambut bergaya ekor kuda dan satunya lagi berambut kuning pendek. Tapi, perhatianku lebih tertuju pada siswi berambut ungu.

Kupejamkan mata sebentar, menghirup udara panjang lalu menghembuskannya pelan. Aku terus melangkah hingga melewati mereka, berusaha segera menjauh sebelum terjadi sesuatu yang akan melibatkanku.

Di saat itu hati dan otakku terus berperang. Hatiku mengatakan, kau harus menolongnya. Tapi otakku mengatakan hal yang sebaliknya. Menolong mereka bisa saja membuatmu kehilangan orang yang kau cintai lagi. Tenang saja! Dampaknya tidak akan membuatnya mati.

Aku terus berjalan tanpa menoleh hingga tiba di pintu masuk gedung sekolah, dan…

"Apa kau tidak punya mata?" teriak seorang gadis.

Teriakannya membuatku bergeming di posisiku sekarang. Walau membelakanginya, tidak melihat wajahnya langsung, aku sudah tahu siapa pemilik teriakan itu. Pasti, si gadis berambut ungu.

"Maafkan saya, Senna-san. Saya tidak sengaja," kata seorang gadis dengan ucapan yang terdengar kikuk. Walau tidak melihat ekspresi wajahnya, perkataan maafnya terdengar tulus dan benar-benar menyesal.

Selain teriakan si gadis ungu dan ucapan si gadis kikuk, berbagai lirihan dan desisan terdengar di telingaku. Kelihatannya, peristiwanya sudah menjadi tontonan gratis murid yang berlalu-lalang.

"Maaf?" pekik si gadis yang dipanggil Senna. "Kau pikir dengan kata maaf mampu mengulang semuanya. Kau sudah menabrakku dengan sepeda bututmu itu. Dan lihat! Karena perbuatanmu, betisku jadi memar," lanjutnya.

Nada suaranya mendadak membuatku geram.

Apa dia tidak tidak sadar dengan yang diucapkannya? Dia itu sudah memohon maaf dengan tulus.

Kedua tangan kukepalkan dan kugigit bibir bawahku sebagai pertahanan terakhirku agar tidak ikut campur. Tapi, aku tidak bisa janji mampu menahan diri jika gadis bernama Senna itu mengucapkan hal yang tidak masuk akal lagi.

"Ma…Maafkan saya! Kalau begitu, kita segera ke ruang kesehatan, Senna-san," katanya, suaranya bergetar.

Apa dia ketakutan? Ap-

Tiba-tiba terdengar suara seperti menepuk sesuatu. Suara itu terdengar nyaring. Karena suara itu, hening tercipta di sekelilingnya.

Aku menahan napas. Jangan-jangan. Dengan cepat aku memutar tubuh agar melihat kejadiannya langsung.

Seperti yang kuduga.

Gadis kikuk itu masih memeganginya pipi kirinya yang merah. Pasti sakit sekali. Kelihatannya si gadis berambut ungu tidak puas, dia ingin melakukannya sekali lagi. Dia mulai mengangkat tangannya menuju pipi si gadis kikuk.

Aku sudah tidak tahan. Tidak akan kudiamkan. Dan…

Tangan si gadis berhenti di udara. Bukan karena keinginannya, tapi dihentikan oleh tangan kekar seorang pemuda berambut jingga. "Sudahlah! Dia sudah meminta maaf. Dia menyesal. Kau seharusnya memaafkannya."

"Kurosaki-senpai?" ucap si gadis terkejut. "Baiklah," sahutnya menuruti.

Apa-apaan itu. Memaafkan seseorang karena perintah orang yang disukainya. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Semburat merah jelas terlihat di kedua pipinya sampai aku yang tidak berada di dekatnya saja mampu melihatnya. Kalau pemuda itu bukan pemuda yang disukainya, mungkin pemuda yang dikaguminya.

"Tapi, Kurosaki-senpai aku tidak bisa berjalan," keluhnya, setelah orang yang bernama Kurosaki itu menyarankannya segera ke ruang kesehatan.

Tanpa diperintah, pemuda berambut jingga itu berjongkok, mempersilahkan sang putri yang terluka naik ke punggungnya. Tanpa di perintah pula, sang putri menerima tawaran sang pangeran dengan sumringah, tidak lupa ditambah semburat merah yang semakin mencolok. Seakan menyaksikan 'Drama Romeo and Juliet'.

Abaikan mereka berdua, beralih ke gadis kikuk yang masih memegangi pipinya. Terlalu fokus dengan pasangan 'Romeo and Juliet', aku tidak menyadari kemunculan seorang pemuda berambut putih. Dia berada tepat di sebelah pemuda kikuk itu.

"Bagaimana dengan dirimu, Ryuunosuke?" tanya pemuda berambut putih itu.

Ryuunosuke menjawab, "Aku baik-baik saja, Hitsugaya-senpai."

Jawabannya tidak terlihat memuaskan pemuda yang dipanggil Hitsugaya. Tatapan kasihan tertuju pada pipi merah Ryuunosuke.

Hitsugaya beralih pada pasangan 'Romeo and Juliet'. "Kurosaki, bawa dia pergi! Aku yang urus di sini," katanya.

"Aku mengerti," singkat si rambut jingga, sebelum melesak pergi membawa sang putri.

Syukurlah! Semuanya berakhir tanpa aku harus ikut campur. Aku lega. Aku harus berterimakasih pada dua orang berambut aneh itu.

"Dua orang yang baik hati seperti malaikat, tidak sepertiku yang berhati iblis," gumamku spontan. Mampu mencegahnya, tapi aku hanya diam saja, lanjutku dalam hati.

Kembali kulanjutkan perjalanan ke kelas baruku karena tertunda kejadian tadi. Sepanjang perjalanan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri.

Aku memiliki sebuah rahasia kecil. Tidak. Bukan rahasia kecil. Karena rahasia ini sudah mempengaruhi hampir keseluruhan arus hidupku.

Tahu tidak? Di muka bumi terdapat manusia yang diberikan kekuatan khusus oleh Tuhan. Singkatnya, akulah salah satunya. Aku tidak akan merahasiakannya.

Aku mampu melihat insiden yang akan terjadi di masa depan. Bukan kemampuan melihat kematian, hanya sebuah insiden, baik itu insiden berat –yang mungkin mampu mengantarkan kematian, atau insiden ringan –seperti kejadian si gadis berambut ungu dan si pemuda kikuk.

Tidak ada yang sempurna di dunia.

Tidak ada yang tidak terbatas.

Tidak ada yang kekal, kecuali Tuhan pastinya.

Tidak terkecuali dengan kemampuanku. Kemampuan ini memiliki batasan. Penglihatanku hanya berfungsi pada peristiwa yang terjadi lima menit ke depan dan jarak peristiwa itu dari posisiku –paling maksimal satu kilometer. Ditambah, kemampuan ini tidak berpengaruh padaku. Artinya, aku tak mampu melihat insiden yang akan terjadi pada diriku. Tapi, aku tidak peduli.

Sesuatu, apapun itu pasti memiliki sisi negatif. Begitu pula dengan kemampuanku. Jika terdapat dua peristiwa yang terjadi di waktu yang bersamaan dan masing menjangkau jarak posisiku, kemampuanku akan melakukan hal sepihak tanpa persetujuanku –memilih peristiwa yang akan muncul di penglihatanku. Dan karena inilah, aku kehilangan orang yang kukasihi.

Aku tidak tahu apa alasan Tuhan memberiku kekuatan ini. Percuma memiliki kemampuan lebih, tapi tidak mampu menyelamatkan orang yang paling kau sayangi. Bahkan, tanpa kau sadari kau lebih menolong orang yang tak kau kenal dibanding memilih orang yang paling berarti dalam hidupmu. Sampai saat ini, aku belum menemukan jawaban, untuk apa Tuhan memberiku kekuatan ini?

Aku tersentak saat seorang wanita paruh baya menepuk pelan pundakku. Dia, wanita berambut pendek, berkacamata, dan seorang guru. Kebetulan, dia pun wali di kelas baruku. Iya, di saat aku membeberkan rahasiaku di dalam pikiranku sendiri –aku telah bertemu dengan kepala sekolah. Dia memerintahkan wanita bernama Ochi-sensei ini mengantarku. Kebetulan pula, jam mengajarnya bertepatan di kelas 2-3.

Katanya, kelas 2-3 yang akan kutempati adalah kelas paling berisik dan siswanya cukup susah diatur. Tapi, sebagian besar pemilik nilai tertinggi tahun lalu berada di kelas itu. Aku tidak terlalu peduli dengan masalah itu. Yang kupentingkan hanyalah aku mampu menjalani hari pertamaku di sekolah dengan tenang.

Opini tentang kelas berisik, aku setuju. Berada di depan pintu, suara raungan, nyanyian, dan teriakan terdengar cukup jelas. Tapi, semuanya menjadi hening bak pemakaman saat Ochi-sensei memperlihatkan wujudnya di hadapan mereka.

Tatapan puluhan pasang mata berhamburan ke arahku saat berdiri tepat di depan mereka. Itu normal, bagi sosok yang baru mereka lihat.

Seusai sesi perkenalan, Ochi-sensei memberikan dua tawaran kursi padaku. Satu di pojok kanan tepat di sebelah jendela –di samping pemuda bernama Keigo Asano, dan satunya lagi di barisan kedua, tepat di tengah dua orang pemuda yang wajahnya cukup tidak asing karena mereka adalah pahlawan insiden di halaman sekolah tadi pagi. Warna rambut yang aneh tidak akan membuatku cepat melupakannya.

"Kuchiki-san! Kau duduk di sebelahku saja," teriak Keigo Asano kepadaku.

Tapi, Ochi-sensei menyarankanku memilih opsi kedua demi keamananku. Aku tidak mengerti maksudnya. Mungkin, pemuda bernama Keigo Asano itu memiliki kelainan yang mampu menganggu ketentramanku. Itu hanya terkaanku.

Lebih baik cari aman saja. Aku mengikuti saran Ochi-sensei, memilih bangku di barisan kedua di antara dua pemuda berambut aneh.

Entah mengapa, aku merasa tatapan tajam setengah murid khususnya wanita menusuk tubuhku saat aku melangkah ke kursi pilihanku. Apa ini perasaanku saja? Tidak. Samar-samar kudengar suara mendesis dan mencibir padaku.

Bagus! Aku sudah salah memilih kursi.

.

.

.

NORMAL POV

Waktu istirahat yang singkat digunakan sebaik mungkin oleh para murid meregangkan otot dan otak yang tegang selama berjam-jam di dalam kelas. Ada yang menghabiskan waktu mengisi perut, mengobrol, bahkan ada yang memanfaatkannya untuk tidur.

Tak terkecuali si murid baru kelas 2-3. Tidak sesemangat murid baru pada umumnya, Rukia menyusuri koridor dengan memasang tampang lesu. Apalagi setelah mengetahui kesalahan fatalnya memilih kursi tadi pagi.

"Aku sarankan kau segera pindah kursi Rukia, jika kau tidak ingin hal buruk menimpamu seperti murid baru tahun lalu. Dia memutuskan pindah sekolah karena hampir setiap hari diteror oleh para penggemar mereka berdua. Mereka tidak ingin siapapun dekat-dekat dengan Ichigo ataupun Hitsugaya walaupun hanya sebagai teman duduk.

Ini untuk kebaikanmu saja. Walau duduk di sebelah Asano sama buruknya, setidaknya kau tidak akan dikeroyok. Ini hanyalah saran dariku sebagai wakil ketua kelas dan sebagai teman barumu di sini."

Perkataan Tatsuki Arisawa terngiang-ngiang di telinganya. Dia mendesah pelan. Angan-angannya menjalani hari pertama sekolah dengan tenang dan damai tanpa konflik, melayang sudah.

Bermaksud menghilangkan kepenatannya, Rukia memilih atap sekolah sebagai pelampiasannya. Dia sudah berada tepat di hadapan pintu yang menghubungkan atap sekolah dan lantai tiga gedung sekolah. Membuka pintu yang berdecit, angin sejuk langsung menerpa wajahnya. Langkahnya terhenti saat sadar, dia bukan penghuni satu-satunya di sana

.

.

.

Angin musim semi yang sejuk begitu senang mempermainkan rambut jingganya.

Seperti di hari-hari biasanya, di hari ini pun dia menghabiskan waktunya di atap sekolah. Atap sekolah yang berdebu diacuhkannya. Terbaring dengan kedua tangannya di bawah kepala, mata coklatnya memandang langit biru tanpa awan.

Di hari-hari kemarin, dia hanya ke tempat ini sekedar melepas lelah dan penat. Tapi, untuk hari ini, dia datang ke tempat favoritnya dengan tujuan menghilangkan rasa bingung hebat yang menderanya. Mendadak rasa ini muncul setelah menatap langsung orang yang sangat ingin ditemuinya selama ini. Bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya pada orang itu.

Pemuda ini teringat saat pertama kali melihat kemunculan orang itu di gerbang sekolah. Berada tepat di depan matanya, dia menatap lekat punggungnya. Waktu itu, senang dan lega bercampur aduk setelah sekian lama mencarinya. Tidak diduga, dia akhirnya mampu menemukannya setelah bertahun-tahun menghilang bak ditelan bumi.

Tapi, pemuda ini tetap bingung. Apa yang harus dilakukannya terhadap orang itu? Alasan logis apa yang harus diberikannya? Apa lebih baik dia mengatakan yang sebenarnya? Semua pertanyaan ini membuatnya kepalanya pening. Dia tidak menyangka akan sebegini sulitnya saat bertemu dengannya.

Dia memijat pelipisnya. Tapi, terhenti saat suara decitan pintu terbuka, didengarnya. Spontan dia terduduk, menunggu siapa yang akan keluar di balik pintu. Matanya melebar. Sosok yang telah membuatnya bingung dan hampir gila muncul di depan mata.

Rambut kelam pendeknya yang tergerai indah –yang pertama kali menyapa si pemuda. Dia terus menatapnya hingga tak menyadari si rambut kelam menoleh padanya.

Setelah sadar, si pemuda mendadak kikuk. Bangkit berdiri, membersihkan debu di seragamnya. Ingin menatapnya, tapi si rambut kelam sudah di ambang pintu berniat kembali.

"Hei," panggil si pemuda, membuat langkah si rambut kelam terhenti. "Kalau kau ingin di sini, aku bisa pergi," tawarnya.

Si rambut kelam menoleh padanya. "Tidak perlu," ucapnya ketus.

Bermaksud ingin mengobrol banyak dengannya, pemuda ini melontarkan pertanyaan basa-basi. "Namamu Rukia Kuchiki 'kan?"

"Apa perlu perkenalan sekali lagi?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan pula.

Si pemuda hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal menghadapi gadis dingin di hadapannya. "Ya… tidak perlu, aku hanya memastikan," katanya. "Oh, iya. Namaku Ichigo Kurosaki," lanjutnya.

"Aku sudah tahu," singkat Rukia. "Apa ada lagi?"

Ichigo hanya bisa mendesah pelan. Dia berusaha mencari obrolan yang mampu membuatnya semakin dekat dengan gadis ini. "Mengapa kau pindah ke kota ini?"

Rukia menautkan alisnya. Ini adalah pertanyaan sensitif buatnya. "Apa itu perlu dijawab?"

Ichigo mengangguk mantap.

Rukia mengalihkan pandangannya dari Ichigo. "Maaf. Orang dengan warna rambut jingga tidak lolos kualifikasi mendapat jawaban pertanyaan itu."

"Apa hubungannya dengan warna rambutku?" gerutu Ichigo.

Melihat ekspresi marah si pemuda karena menyinggung warna rambutnya, membuat Rukia terkejut. Dia tidak menduga, kemarahan pemuda ini mudah sekali disulut hanya dengan mengejek warna rambutnya.

Tanpa sadar Rukia tersenyum, dan berhasil membuat Ichigo tak mampu menahan munculnya semburat merah tipis di kedua pipinya.

"Sudahlah!" Rukia segera beranjak dari sana, mengabaikan pertanyaan Ichigo. Tapi, langkahnya terhenti karena lengannya yang ditarik pelan oleh si pemuda.

"Kau belum menjawab pertanyaanku?" tagih Ichigo.

Rukia menatapnya heran. "Mengapa kau sangat terobsesi?"

"Ya, hanya ingin tahu saja."

Rukia menatapnya tajam.

"Baiklah. Tapi, lepaskan tanganmu dulu," perintah Rukia. Sedari tadi, tanpa Ichigo sadari, dia terus memegang lengan Rukia.

"Eh… maaf," ucapnya.

Rukia mendesah pelan. "Kalau kau menanyakan alasanku pindah ke Karakura, aku tidak punya alasan apapun. Tapi…" jedanya. "aku punya banyak alasan untuk tidak pindah ke sini," jelasnya.

Ichigo hanya mengernyitkan kening tidak mengerti. Apa maksudnya tidak punya alasan pindah ke sini? Apakah itu berarti dia pindah ke Karakura bukan karena keinginan hatinya? Iya. Pasti begitu. Siapa yang ingin kembali ke kota dengan beribu kenangan buruk.

Sibuk dengan pikirannya sendiri, gadis itu sudah melesak pergi, menghilang dari hadapannya. Ichigo hanya bisa tertunduk lesu. Kelihatannya dia harus berusaha lebih keras lagi untuk mendekati gadis itu, melancarkan tujuannya.

.

.

.

Tidak berhasil melampiaskan kepenatannya karena gangguan makhluk jingga, Rukia mencoba alternatif lain. Mungkin, sesi keliling sekolah bukanlah pilihan buruk. Toh, dia penghuni baru di sekolah ini jadi dia perlu mengenal lebih jauh seluk beluk dan luar dalam gedung sekolahnya.

Seusai lantai dua dan tiga menjadi santapan matanya, sekarang giliran lantai satu. Tapi, masalah kembali muncul. Kemampuan yang dimilikinya benar-benar membuatnya repot. Dia memutuskan mengabaikannya seperti yang dilakukannya saat insiden di halaman.

Rukia bermaksud kembali ke kelas. Tapi, mendadak diurungkannya. Kemampuannya memperjelas dampak yang diterima si korban kali ini lebih besar di banding insiden halaman.

Walau dia menganggap dirinya iblis, tapi dia iblis yang masih punya hati.

Apa boleh buat. Dia tidak punya pilihan lain.

Rukia berlari keluar ke halaman. Dilihatnya, si korban semakin mendekati posisi berbahaya. Kedua temannya berlari di depannya. Si korban pun mengikutinya. Tapi, mendadak handphone-nya terjatuh membuat langkah si korban terhenti tepat di posisi berbahaya.

Tiba-tiba Rukia kehilangan ide. Langkah apa yang harus diambilnya untuk menolongnya? Dia mengalihkan pandangan ke atas. Dia tidak punya waktu lagi.

Entah apa yang merasuki Rukia. Dia mendorong kencang si korban sebagai langkah terbaik untuk menjauhkannya dari bahaya. Mendapat perlakuan kasar oleh orang yang tak kau kenal pasti membuatmu geram atas perbuatannya.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" teriak si gadis berambut merah alias si korban.

Kedua temannya mendekatinya, menolongnya bangkit. Rukia menatap si gadis dengan hampa. Ini sudah biasa. Baginya dibentak dan dihina sudah menjadi sarapan sehari-hari Rukia.

"Maaf," kata Rukia dingin, tapi dia mengucapkannya tulus.

Mendengar perkataan maaf yang dingin, gadis itu geram. Tanpa ragu-ragu, dia memberikan bekas merah pada pipi Rukia dengan tamparan. Tapi, ekspresi Rukia yang tetap dingin menatapnya, membuat si gadis naik pitam ingin menghajarnya lebih dari sebuah tamparan. Untungnya, Dewi Fortuna menolong Rukia melalui bel sekolah yang berbunyi. Mendengar bel itu, kedua teman si gadis menariknya untuk segera ke kelas.

"Aku akan membalasmu nanti," ancamnya pada Rukia. Kata-kata terakhir si gadis sebelum pergi tidak terdengar main-main. Tapi, maaf saja. Itu tidak membuat Rukia gentar. Wajah dinginnya seolah-olah sudah permanen di pasangnya di saat-saat seperti ini.

Rukia memegang pipi kirinya. "Sakit," lirihnya.

Tiba-tiba saja sesuatu jatuh dari lantai tiga gedung sekolah, dan posisinya jatuhnya tepat satu meter di belakang Rukia. Itu adalah posisi gadis berambut merah tadi berdiri sebelum di dorong Rukia. Sebuah pot ukuran sedang hancur berkeping-keping karena tak sengaja di senggol oleh dua orang murid yang asyik bercengkrama di beranda lantai tiga.

Bayangkan, jika pot itu berhasil mengenai kepala si korban. Hasil terburuknya, tak sadarkan diri di rumah sakit.

"Apa kau tidak apa-apa?" tanya si pelaku.

Rukia mendongakkan kepalanya. "Iya," singkatnya.

"Maaf," teriak si pelaku.

Samar-samar terdengar kalau si pelaku malah khawatir kena marah karena menjatuhkan pot. Apa dia tidak khawatir jika pot itu mengenai kepala seseorang?

Dari atap, si rambut senja menyaksikan kejadian itu, dari awal hingga akhir.

.

.

.

Jika mencari tempat melampiaskan kepenatan, belakang gedung Karakura High School adalah tempat kedua yang cocok setelah atap sekolah. Di sana, kau akan disuguhi deretan puluhan pohon rindang. Tidak akan membuatmu bertahan tidak memejamkan mata, menikmati lebih dalam rasa sejuk yang disuguhkan.

Sama dengan pemuda ini, terbaring dengan buku terbuka menutupi wajahnya. Tapi, tidak berhasil menutupi rambut putih jabriknya. Dia begitu menikmati suasana hening. Sejak masuk ke sekolah ini, kegiatan seperti ini sudah menjadi santapan sehari-harinya saat jam istirahat.

Dia tahu bel sudah berbunyi lima menit yang lalu. Tenang saja. Dia bukan siswa yang suka membolos. Hanya saja, dia mendapat informasi sebelum keluar kelas kalau sang guru pemilik jam berikutnya tak bisa hadir. Dibanding harus mendengarkan celotehan berisik dari teman sekelasnya, mengisi waktu dengan keheningan adalah hal terbaik yang dipilihnya.

Matanya sontak terbuka saat mendengar suara gemeresek daun diinjak. Ada seseorang mendekat, tapi bukan ke arahnya. Langkah itu melewatinya dan akhirnya menjauh. Suara air keran sebagai nada berikutnya yang terdengar.

Penasaran siapa yang mengganggu ketentramannya, dia sontak bangkit terduduk, dan memutar tubuhnya. Mata emerald tajamnya menangkap sosok yang selalu menarik perhatiannya sejak kemunculannya di gerbang sekolah hingga perkenalan di kelas.

Sosok itu mengusap pipi kirinya yang merah. Si sosok berbalik. Matanya membelalak sekilas melihat sosok lain yang tidak cukup jauh di hadapannya. Sedari tadi, si pemilik mata violet ini tidak sadar adanya penghuni lain selain dirinya.

Mereka beradu tatap. Hening bergemuruh di sekeliling mereka.

Karena tidak tahan menatap mata violet yang indah itu, si rambut putih memecah keheningan. "Apa pipimu tidak apa-apa?" tanyanya.

Melihat pipi yang memerah seperti Ryuunosuke tadi pagi, pemuda ini tidak akan menanyakan penyebabnya.

Tetap dengan wajah dinginnya, si violet menjawab, "Jangan khawatir! Ini bukan hal serius yang harus kau khawatirkan pada orang yang baru kau kenal."

Si pemuda menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya berdiri. "Aku tahu. Tapi, mengkhawatirkan teman sekelas tidak apa-apa 'kan?"

Gadis ini hanya mendesah pelan. Merasa percakapannya dengan si pemuda hanya basa-basi semata, dia mengambil ancang-ancang meninggalkan si pemuda.

"Sebagai murid baru, kau harus ramah sedikit walau itu sulit. Jika ketus seperti ini, kau tidak akan punya banyak teman."

Langkah si gadis terhenti, memutar tubuhnya untuk memandang si pemuda.

"Toushiro Hitsugaya," tekannya. "Jangan berbicara seolah kau tahu tentang diriku. Aku, Rukia Kuchiki. Hidupku akan lebih damai jika hal-hal merepotkan seperti teman tidak mendekatiku," tandas Rukia, matanya mengilat tajam.

Hening tercipta sesaat setelah Rukia pergi.

"Ternyata lebih sulit dibanding yang aku duga," gumam Toushiro.

Ichigo dan Toushiro butuh usaha lebih keras untuk mencairkan hati dingin Rukia. Untungnya, mereka berdua adalah pemuda pantang menyerah. Tenang saja, Rukia tetaplah manusia. Hatinya tak terbuat dari batu. Bahkan, batu sendiri pun mampu retak jika ditetesi air secara terus-menerus.

TO BE CONTINUED

.

.

Wah…akhirnya chapter 2 selesai juga.

A/N : Mau nanya nih. Itu karakter Yuki Ryuunosuke yang muncul di manga Bleach, perempuan 'kan? Soalnya saya ragu, dia itu cowok atau cewek? Tapi lihat namanya dan jepit rambutnya, dia cewek 'kan? Untuk memastikan saja kok.

Chapter ini bikin pusing? Mengecewakan? Alurnya amburadul? Atau alur ceritanya nggak pas dengan chapter 1? Sampaikan semua uneg-uneg anda di kotak review.

Kakek, nenek, bapak, ibu, paman, bibi, kakak, adek, saudara/saudari*Oi, berhenti Ray, lu mau nyebutin semuanya* dan lain-lain : review, reVIEW, REVIEW, REVIEW, REVIEW*dilempar ke laut*

SEE YOU AGAIN di chapter selanjutnya.

Ray Kousen7-01 April 2012