**Disclaimer**
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka & Harukawa Sango
Warn : BL, absurd, typo, typo, hurt, comfort, typo :'v
ROMEO FOR JULIET
—OO—
Sudah berjam-jam Chuuya duduk di bibir pantai. Membiarkan semua duka nya ternoda oleh gemuruh badai yang menerjang.
Basah, dengan setelan hitam yang hampa tanpa berpayung.
Di tengah dinginnya hujan, sepasang biru itu melihat ke laut yang berkecamuk. Diterpa angin dan air yang deras tanpa menyisakan suasana musim panas hari itu.
Sebuah gundah melintas di benak. Titik titik keraguan dan kesedihan yang untuk kesekian kalinya coba ia kubur, namun selalu saja ditarik keluar oleh takdir.
Walau ia mencoba lari, walau ia mencoba sembunyi, walau ia mencari mati, tapi sesuatu bernama takdir untuk kesekian kalinya memaksa Chuuya pulang ke rumah. Ke tempat dimana semua dukanya berawal.
Memorinya berputar pada sebuah musim panas saat umur tujuh belas lalu, yang dia habiskan di pantai bersama keluarga dan adik adik kecil yang manis. Senyum terukir, ...lalu padam bersamaan oleh dinginnya air garam yang menyapa kaki jenjangnya.
Lalu ingatannya kembali terbang menjauh, jauh ke musim panas itu.
Dimana ia mendapat dan kehilangan semua kehormatan dan kemampuan mencintai.
Gigi menggertak, Chuuya memejamkan mata meredam semua emosi yang tidak bisa ia hilangkan. Membiarkan tubuhnya ditimpa oleh air mata langit yang menjadi wakil dari tangisnya.
—OO—
Genangan yang terpijak mencipratkan air di celana creamnya, namun langkah pria itu tetap cepat. Payung menutup wajah dan kantung plastik diangkat lebih tinggi dari biasanya.
Menghembus nafas untuk menjaga diri dari dinginnya hujan namun tetap tidak bisa menyelamatkan mantel yang sudah basah.
Dazai berhenti di sebuah toko roti, membeli beberapa brioche untuk tuan putrinya di rumah, Elise. Tak lama, lalu ia keluar dari sana. Membuat kehangatan yang tadi ia rasa kini hilang kembali.
Melanjutkan jalannya yang cepat tanpa melihat dengan benar kondisi trotoar yang becek. Hingga akhirnya dia menabrak seseorang. "Ma—eh?"
Ucapan dipotongnya sendiri. Matanya terbelalak lebar, sama seperti iris biru gelap di depannya.
Tubuhnya membatu, melemas ingin jatuh, namun ia tetap berdiri. Menatap sosok mungil di depannya yang juga melempar pandangan yang sama.
Dazai kenal orang itu. Sangat mengenalnya, sangat merindukannya, dan sangat ingin melupakannya.
Rambut oranye nya basah dan matanya sembab. Kontras sekali ia baru menangis suntuk.
Tubuhnya kuyup, dan Dazai melihat itu. Tanpa payung. Hanya topi yang bertengger indah di kepalanya.
"Chuuya?"
Chuuya tersentak.
Namanya disebut oleh orang itu, oleh suara itu, oleh rasa yang sudah berbeda dari itu.
"Kau baik?" Dazai kembali bertanya, namun Chuuya hanya menjawab dalam diamnya.
'Tolong pergi. Jangan lihat aku seperti itu.'
Semua lukanya kembali terbuka. Yang sudah ia jahit dengan tidak rapi, yang ia tutup dengan perban kesibukan yang tipis, semua kembali terbuka seperti ditetes oleh asamnya jeruk lemon.
"Umm, Aa.. Apa yang kau lakukan di sini?" Dazai melanjutkan.
'Kumohon, biarkan aku pergi. Jangan bicara lagi...'
Sangat buruk. Apa tidak bisa lebih buruk selain bertemu mimpi buruk dari mimpi buruk? Chuuya ingin menangis lagi, namun bencinya lebih besar dibanding haru.
Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak yang tercekat di pangkal tenggorokan.
Keduanya hanya diam. Tanpa bicara sepatah katapun, dan hanya membiarkan nada nada hujan mengiringi sebagai orkestra sendu.
Chuuya berdiri dengan kepala yang menatap sepatunya, merasakan semua sakitnya dari empat tahun lalu naik ke seluruh sisi tubuh dan ruhnya yang rapuh.
Sementara Dazai memandang makhluk kecil itu sedih. Ingin memeluknya, namun apa yang dia lakukan dulu membuatnya tidak pantas untuk itu. Apakah Tuhan mengirim malaikat ini untuk kembali disakiti? Atau dia mengirim Dazai untuk menyembuhkan malaikat itu?
Tangannya terulur, meneduhkan payung itu pada Chuuya. Melindungi si mungil dari hujan walau tubuhnya sendiri terguyur rintik rintik air yang setia deras.
Chuuya mendanga, bingung pada apa yang Dazai lakukan. Melihat sosok jangkung yang tidak berubah itu kini ditimpa derasnya tangis sang langit. Jatuh pada fokus kakao yang dalam tanpa dasar namun penuh iba.
'tidakkah kau pikir aku membencimu?' Chuuya bertanya pada Dazai dalam hatinya.
"Kenapa kau tidak pakai payung? Nanti bisa sakit." ucap si brunette seraya melepas coat nya.
Kalimat yang Dazai beri menusuk hati, menggali air mata untuk bermuara di manik biru yang indah. Menggetarkan kaki yang ingin menekuk lemah, ingin jatuh, ingin dipeluk, ingin dihangatkan, ingin dicintai oleh Dazai. Dazai yang dulu.
Dazai yang pertama kali menggenggam tangannya. Dazai yang pertama kali berbicara dengannya. Dazai yang pertama kali memeluknya penuh kepedulian. Dazai yang pertamu kali mencium bibir, tangan, pipi, dan keningnya.
Dazai yang dulu mencintainya sedalam Mariana, sebesar Andromeda, sekuat Heracles, seterang Sirius, sejernih kaca,,
... namun sekarang sejauh air mata. Tertahan, dekat, dan enggan untuk disentuh.
'kumohon jangan.'
Tangan berbalut perban terus bergerak. Membawa coat cream nya untuk disampirkan ke pundak mungil Chuuya yang hanya menatapnya hampa.
Sangat jelas Chuuya tenggelam dalam pikirannya. Mencari sebab Dazai bersikap baik seperti ini. Tak bergeming karena sisa harapan, namun rasa takutnya lebih kuat.
Dia tidak ingin disakiti lagi.
"Tidak butuh!"
Chuuya menepis tangan Dazai yang memegang payung. Membuat benda berjasa itu kini terlempar dan terjatuh ke jalan yang tergenang air keruh.
Tentu Dazai kaget, namun sekejap kemudian dia kembali tenang. Meresap semua sakit penolakan atas dasar amarah. Mengutuk diri sendiri tanpa menyalahkan sang kasih.
Chuuya melepas coat itu kasar, memberinya pada Dazai dengan culas. Raut wajahnya tegar menandakan prajurit itu menahan emosi untuk tidak menangis, berteriak, memukul, bahkan menghajar Dazai di sini, saat ini.
Menjadi orang yang kuat, membatasi diri, tidak percaya untuk kembali jatuh pada Dazai.
"Tolong jangan bicara padaku lagi, Dazai Osamu. Aku sudah muak denganmu!"
..Diam. Itulah yang Dazai lakukan.
"Jangan bersikap sok baik padaku kalau kau hanya mau menyakitiku lagi. Apa kau belum puas dengan yang kau lakukan? Apa kau tau bagaiman hancur aku waktu itu?!"
Hazel itu berkilau, seperti sebuah kristal yang mungkin akan meleleh.
"Chuuya,," Dazai menyebut namanya. Dengan semua rasa yang tersisa, selembut kasih yang dulu mereka jalin, sehening angin di musim semi. "...ada yang ingin aku bicarakan tentang itu."
"Jangan lagi, Dazai." kini suaranya bergetar. Sedikit serak dengan nada mengharap akan belas kasih, "Kumohon...Sudah terlalu sakit disini."
Kata kata Chuuya sangat melukainya, walau hanya seperti itu, walau hanya sependek itu, tapi tepat menguak semua kesalahan yang telah ia perbuat. Memvonis dengan semua dosa yang telah lakukan.
Namun Dazai tau, yang dia dapat tidak lebih buruk dari yang cintanya dapat.
Dia bisa melihat Chuuya mungil berdiri kokoh dengan semua derita yang ia pikul di punggung kecilnya.
Dia bisa melihat kilatan air mata yang menggenang di permata indah.
Dia bisa melihat tubuh bahu kecil yang gemetar dengan tangan mengepal marah.
Dia bisa merasakan semua rapuh dan hancur yang Chuuya alami karenanya.
Namun Dazai tau, dia pasti, harus menyelesaikan semuanya, menguak semua dosanya, meminta sedikit beban Chuuya untuk ditanggung bersama. Semua harus berakhir disini. Hari ini.
"Aku memaksa." ucapnya penuh nekad. Menarik tangan Chuuya yang meronta menolak, "rumahku di ujung jalan. Ikut aku, sekali lagi saja Chuuya."
"Tidak! Aku tidak mau lagi, Dazai! Lepaskan aku!"
Dalam beberapa detik awal mereka beradu tenaga, namun akhirnya Chuuya menurut. Lelah dengan paksaan, lelah dengan tubuhnya, biar saja semua hancur saat ini. Biar saja dia membunuh perasaannya hari ini.
Hingga dengan lemah Chuuya mengikuti langkah cepat Dazai yang menarik dan menuntunnya lembut. Meninggalkan payung yang terhempas, dan topi Chuuya yang tidak sengaja terjatuh, dalam hujan dan genangan.
—OO—
"Maaf memaksamu, duduklah dekat perapian. Aku akan ambil handuk." Dazai mengunci pintu rumahnya, menyimpan kuncinya dalam saku coat yang basah.
Apa dia benar benar berniat menculik dan menahan Chuuya di rumah kecil sederhananya ini.
Chuuya berjalan, berdiri di depan perapian yang membara untuk merasakan hangat meresap ke kulitnya yang sedari tadi sudah kedinginan.
Sapphire nya berkelana ke sekeliling ruangan. Di dinding kayu menempel setir kapal, bersanding dengan foto foto hitam putih Dazai dengan pakaian pelaut. Beralaskan karpet aquamarine bulat, sofa maroon kecil dan dua kursi kayu yang mengelilingi meja kayu pendek. Di sebelah perapian ada rak buku setinggi tubuhnya.
Gelap, hanya cahaya api perapian yang masuk ke sana, bahkan sisa sisa sinar mendung di luar tidak terasa sama sekali. Benar benar redup, kecil, namun Chuuya bisa merasakan kasih sayang dazai yang dia bagi dengan keluarganya di sana.
Sederhana, hanya hiasan di atas perapian yang menarik perhatiannya. Botol botol berisikan surat surat dan ada yang berisi kapal.
Ramai, banyak, berserak di atas senta batu itu. Chuuya mengambil sebuah. Menebak kira kira apa isi surat itu, bagaimana cara memasukkan kapal ke dalamnya. Mencoba membuang pikiran gundah nelangsanya dengan sebuah seni.
"Bagus bukan?"
Suara itu memanggil Chuuya yang setelahnya menoleh ke arah tangga dan mendapati gadis kecil dengan rambut emas panjang tergerai dengan mata biru cerah.
"Dazai-san membuat mereka semua sejak keluar dari kelautan.. Jangan dirusak, karena itu sangat berharga baginya."
Senyum terukir di bibir tipis gadis itu, mempersilahkan Chuuya duduk di sofa itu.
"Kau tau, setiap hari sepulang dari toko dia membuat benda itu.. Setiiiaaapp hari selama empat tahun! Aku bosan melihatnya tidur sampai malam hanya untuk menyelesaikan satu... Dan kesal juga karena gudang isinya benda itu semua.. huff..." ocehan yang menggebu gebu itu manis terdengar, Chuuya menampilkan kurva tipis atas tingkah anak itu.
"Kau temannya Dazai-san? Kami tidak pernah punya tamu.."
Senyum Chuuya tenggelam sejenak, diganti dengan tarikan senyum lain yang lebih lebar dan lebih palsu, "Aku.. bukan temannya..." berucap pelan, si jingga membuka jas hitamnya yang basah. Pikirannya penuh dugaan, dan hatinya penuh jawaban yang ditolak.
"Maaf menunggu.." sebuah handuk Dazai tudungkan pada Chuuya mencoba menyalurkan hangat sebelum dia berucap pada si gadis kecil, "Elise-chan? Bisa kau temani dia sebentar? Aku mau ambil sake di gudang."
Senyum membalas permintaan itu, lalu Dazai kembali ke belakang. Menghilang dalam lorong panjang yang gelap, meninggalkan Elise kecil dan Chuuya yang semakin sakit di ruangan kecil itu.
'Kejam sekali kau Dazai, meninggalkanku dengan anakmu di sini. Apa maumu sampai menghinaku sejauh ini?'
Chuuya menundukkan kepalanya, meringkuk dalam dingin di atas sofa yang sudah basah. Membiarkan mata besar Elise melihat ke dalam dirinya yang hancur. Dia sudah tidak peduli lagi jika semua noda yang dia punya terkuak di sini.
Pikirannya hanya mengarah ke satu pertanyaan, 'apa yang harus dia lakukan seandainya bertemu istri Dazai nanti?'
"Jadi,, siapa namamu?"
Kepalanya naik, menjatuhkan tatapan mata gelap yang penuh keputus asaan pada makhluk kecil yang duduk manis di depannya. Chuuya ingin pergi dari sini.
"Permisi Tuan? Aku bertanya padamu.."
"Chuuya. Nakahara Chuuya.."
"Chuuya?" Elise memutar matanya imut, mencari setitik informasi dari memorinya karena sepertinya Dazai sering mengucapkan nama itu dulu, sebelum peristiwa itu terjadi.
"Lalu kau?" suara Chuuya mengisi kembali, "mana ibumu?" tanyanya
"Elise!" jawabnya bersemangat namun tiba tiba tone itu turun, "Ibuku sudah meninggal, empat tahun lalu.. Uhmm... Ah! Aku lupa, tadi aku minta Dazai-san membeli kue.. Sebentar, biar aku cari.. Semoga dia ingat!" lalu langkah kecilnya mengarah ke dapur.
Tinggallah Chuuya sendiri di sana, kembali tenggelam dalam pikirannya yang bercabang dan buram dengan mata menerawang ke arah foto foto itu.
Hari yang berat, sangat berat baginya. Bertemu dan dipaksa masuk ke masa lalu yang ingin dikuburnya dalam dalam.
Dan dia takut. Sangat takut akan apa yang terjadi setelah ini. Tidak bohong, namun disangkal, Chuuya masih memiliki rasa itu pada Dazai. Entah kenapa sulit sekali menghapus cinta yang satu itu walaupun mereka tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin bersama.
Kembali air mata terbendung di kelopaknya, mengigit lagi bibir bawahnya untuk menahan sesak yang dihujamkan di dada. Kembali menarik dan merapatkan dirinya sendiri dalam balutan handuk tebal dari si pengkhianat.
Lalu ia keluar dari lamunannya. Keluar dari deritanya, berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengganti keburukan.
Botol botol itu masih menarik perhatian. Chuuya sangat penasaran karena benda indah itu sangat jarang ia lihat saat dia bekerja di militer.
Dan tubuh berbalut handuk tosca itu kemudian bangkit, melangkah gontai menuju perapian yang masih setia membara.
Dalam semua kacau dalam kepalanya, Chuuya tidak memungkiri dirinya terpesona dengan botol botol itu. Matanya tertuju pada satu botol kaca biru berisi gulungan kertas. Diambilnya botol itu, mencoba melihat dengan lebih teliti walau mengabaikan peringatan Elise kecil tadi.
Matanya melihat lurus ke balik kaca itu, namun pikirannya tidak benar benar berada di sana. Dia berfikir, tentang hal hal yang tidak ia mengerti.
Di musim panas itu, Dazai memberi cintanya dengan nyata, atau perasaannya kala itu, Chuuya menganggapnya begitu nyata.
Lalu tiba tiba Dazai pergi, menyakitinya dan menghilang. Empat tahun lalu, ia berhenti jadi marinir lalu membuat benda benda artistik ini.
Chuuya tersenyum tipis, penuh dengan kesenangan jika Dazai membuat ini untuknya, namun senyum itu pahit karena semua hanya 'jika'.
Berpikir kalau karena istrinya yang meninggal dan ini adalah benda favorit Dazai dan istrinya, Chuuya kembali mengiris hati sendiri.
Prak!
Botol itu pecah, menghantam lantai karena salah Chuuya yang tak sengaja mengendurkan genggamannya dan menjatuhkan botol itu.
"Ya ampun!" ucapnya menuduh pada diri sendiri. Kaca sudah menjadi serpihan karena menabrak ubin yang kokoh. Berserakan di lantai hitam hingga mencapai bara api dan balik karpet.
Tapi tidak, Chuuya sama sekali tidak khawatir pada amarah Dazai. Sisa pikirannya sudah terlalu sempit untuk memikirkan alasan . Dia sudah sangat lelah, sudah sangat pasrah, dan sudah sangat hampa, penuh dalam keputus asaan.
Chuuya berjongkok untuk mengutip serpihan serpihan kaca halus, mengabaikan jemari yang tersayat sayat kecil karena sakit itu ditutupi oleh emosi dingin yang sangat besar.
Hanya kertas itu yang utuh, dan Chuuya mengambilnya. Bukan untuk menyelesaikan rasa penasaran dan mengenyampingkan bayangan Dazai yang akan menghinanya nanti, dia hanya ingin membacanya. Tanpa alasan yang jelas.
Di bukanya gulungan kertas kecil kaku, menjelaskan fakta bahwa sudah terlipat dari bertahun tahun lalu. Kemudian manik lautnya membaca kalimat pendek yang ditulis tegak bersambung dengan tinta hitam.
'Maafkan aku Chuuya, aku berbohong.'
Sapphire nya membelalak seketika. Deru jantung yang tiba tiba bertambah cepat dan keringat yang mengucur deras. Sebuah badai terasa memotong seluruh pikirannya dan tidak ada tempat untuk apapun lagi.
"Ya ampun! Apa yang kau lakukann?!" teriakan nyaring seorang gadis memanggil perhatian Chuuya, Elise berdiri di depannya dengan tangan mengepal dan wajah memerah marah.
Rasa bersalah tidak lagi dipikirkan, peringatan Elise sudah ia lupakan, Chuuya mengabaikan lalu memecahkan satu persatu botol botol itu.
Prak, prak, prak.
Lagi, membaca semua kertas kertas yang ada di dalamnya walau Elise berteriak memanggil Dazai agar mengusirnya. Hanya tangan, mata, dan hatinya yang bekerja sama meniti tiap kata di kertas kertas buram itu.
'Tidak mungkin aku memilih yang lain.'
'Aku menyesal, maafkan aku.'
'Aku merindukan senyum manismu, Chuuya.'
'Andai aku bisa mengajakmu kabur hari itu.'
Sebuah sakit muncul. Kecewa akan kebohongan yang menyiksa hingga semua peraaan itu menyampaikan air mata yang mengalir di pipinya. Gemetar tidak lagi di rasa, hanya cinta menyakitkan yang kembali muncul ke permukaan.
'Kau tau apa yang kupikirkan? Aku mengutuk takdir kita Chuuya.'
'Hanya satu hal, aku sangat rindu. Ya Tuhan, rindu ini membuatku gila.'
'Apa yang bisa kulakukan saat kau punya misi dan aku hanya punya satu keluarga yang sangat memerlukan perlindunganku?'
'Aku ingin menikahi Chuuya.'
'Aku masih menginginkan seorang Chuuya.'
'Maafkan aku. Kembali padaku. Beri aku cintamu lagi. Kumohon, Chuuya.'
Harapan yang ia cari benar benar nyata di depannya. Di puluhan kertas buram kecil yang bergulung gulung.
"Chuuya?"
Chuuya berhenti, melihat pada Dazai yang berdiri di pintu lorong. Mata mereka bertatap, Chuuya dengan linang air matanya dan Dazai dengan ketidaksiapannya. Diam.
.
.
Dazai tidak tau apa yang harus ia katakan, Chuuya masih berusaha menuruti pikirannya untuk menyangkal walau hatinya berusaha percaya.
Tidak ingin jatuh kembali seperti hari itu, tapi semua ini,,
...benar benar kembali menggali dan menarik cinta yang ia simpan, kunci, kubur, namun gagal ia lupakan.
"Apa maksudnya Dazai?" tangannya gemetar menggenggam kertas kertas itu erat sementara air mata tak hentinya jatuh membasahi pipi yang memerah.
"JELASKAN PADAKU!"
Elise kecil hanya menatap penuh kebingungan, semua diam sejak akhir teriakan Chuuya yang penuh amarah.
Hingga akhirnya Dazai memulai menjalankan waktu yang tadi berhenti dengan berjalan ke arah si pria mungil. Mengelilingi kursi namun tidak menghindari kaca kaca kecil yang berserakan.
"Maaf aku berbohong."
Plak!
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Dazai. Dazai tidak membalas, ia menahan sakit itu tanpa mengeluarkan air mata walau Elise sudah kaget sekaligus menggeram akan perilaku kasar Chuuya.
Dazai menarik nafas berat, mencoba menenangkan diri dan jantungnya sekaligus menahan kacau yang memenuhi kepalanya, lalu ia berucap lembut, "Chuuya duduklah dulu.."
Tidak ada jawaban. Dazai meraih lengan Chuuya mengajaknya duduk, namun prajurit itu masih diam tanpa bergerak pun bersuara.
"Buka pintunya." dengan suara parau Chuuya mentitah.
"Chuuya,," hatinya menjerit namun suaranya masih tenang, dia tidak ingin membiarkan Chuuya pergi lagi dan membuatnya merana selama sisa kehidupan ini. "..kumohon,, duduklah dulu."
Mohon itu sangat tulus, lebih tulus, lebih menyakitkan di jiwa Chuuya yang mendengarnya. "BUKA PINTUNYA!" teriak Chuuya lepas. Pada Dazai, penuh dengan marah dan kecewa yang bergulung gulung.
Dazai memberi tatapan memelas, menahan Chuuya agar mengurungkan niat dan membiarkan dia bicara. Tapi sekali lagi, setelah helaan nafas berat, dengan suara yang ditekan rasa sakit hati ia kembali mengatakan itu. "Buka pintunya Dazai..!"
Dan Dazai menyerah. Dia tau, yang dia lakukan hari itu sangat buruk. Bukan, itu bukan keinginannya. Tapi rasa bersalah tetap saja mengarah pada kenyataan kalau semu itu adalah dosanya.
Kunci diputar dengan terpaksa. Tak terbayangkan kuatnya Dazai menahan air mata untuk melepas Chuuya yang tidak akan kembali lagi.
Lalu Chuuya membanting pintu sarkas, pergi membawa seluruh porak poranda hatinya, tanpa mengucap satu huruf pun, tanpa melempar satu tatap pun... Membuang Dazai bersama kenangannya di depan perapian yang hampir padam.
Duduk, Dazai menopang kepalanya dengan kedua tangan. Kini sudah cukup semua. Keluarga dan kasihnya sudah pergi tanpa ada kemungkinan kembali. Tinggal gadis itu yang dia punya.
Elise kecil yang melihatnya prihatin dari depan lorong.
"Maaf Elise-chan," suaranya bergetar hebat, "..aku pernah jadi lelaki brengsek, tapi sungguh Chuuya bukan orang yang jahat. Jangan dendam padanya."
Senyum itu dihujani air mata yang sudah dari empat tahun lalu ia tahan. Isaknya parah, menahan untuk berteriak dan berusaha untuk merelakan.
Tapi tetap saja, nama itu terus disebut bibir. Wajah itu terus menerus terlihat walau matanya dikaburkan butir air. Kenangan indah itu, yang bahagia dan menyakitkan berputar dalam memorinya.
Menguatkan tangis yang melanda, membuat jantungnya semakin sesak dalam alunan penghukuman takdir, hingga sebuah tangan kecil menyentuh pipi yang basah. Memanggilnya untuk mendongak.
"Kejar dia, Dazai-san." kata Elise dengan mata biru yang berbinar dan pipi memerah. Ikut sedih, terperintah untuk menangis, namun bersikap tegar.
"Elise tidak tau apa yang terjadi, tapi kau mencintainya. Semua waktumu selalu ada untuk mengingatnya, walau kau sayang sekali pada Elise, tapi hatimu kau tinggalkan padanya. Jadi, kejar dia."
"Tapi aku tidak bisa.. Kau lihat sendiri dia—"
"Kecewa. Tapi bukan benci. Elise masih kecil, tapi Elise tau tatapan itu. Dia tidak pergi selamanya, dia hanya mencoba lari. Kau harus mencegahnya.."
"Bagaimana? Aku sudah terlalu hina untuk bicara padanya Elise-chan.. Kumohon, jangan membujukku.."
Sejenak Elise diam, meresapi keinginan dari suara Dazai. Dia tidak mengerti kenapa orang dewasa selalu memperumit sebuah masalah kecil, namun biarkan dia meluruskan,
"Dazai-san,, begini gampangnya. Kalau kau mau, kejar dia. Kalau kau mencintainya, kejar dia. Kalau kau menginginkannya, kejar dia. Kau mencintainya kan? Selama empat tahun hidup hampamu bersama Elise kau mencintainya kan? Dia orang baik, dia akan mengerti. Chuuya akan mengerti, jadi kejar dia!"
Hatinya terketuk. Dazai terdorong akan suara kecil yang tegas itu. Ya.. Chuuya adalah orang paling baik yang pernah dia temui. Dia akan mengerti. Air mata disapu, dia bangkit dari duduknya. Mengelus kepala Elise yang lembut, lalu berlari keluar.
Hazelnya mencari cari sosok itu. Sinoper kecil yang masih basah dan berkilau di bawah mendungnya senja.
Chuuya, Chuuya, Chuuya.
Hanya itu yang terus terngiang di otaknya. Berlari mencari jejak sosong mungil yang hatinya sekarat, wangi laut yang tercemar air mata dari sapphire yang ternoda duka.
Dan Dazai menemukannya..
Di pesisir pantai lembab, berjalan terhuyung dengan tangan menutup mata di kepala yang tertunduk. Tidak terluka, tidak berdarah, tidak sakit, tapi jelas terasa seluruh kesedihan dan hancur di dalam jiwanya.
Langkahnya tertatih tapi tegar. Tanpa arah, namun punya tujuan. Dia ingin pergi, lari, menghilang, ...hingga sebuah lengan kokoh merengkuhnya dari belakang.
Hangat, namun menusuk.
"LEPASKAN AKU!"
"Tidak akan."
Chuuya menarik dan melepas paksa dirinya, namun Dazai bersikeras. Mengekang rengkuhan Dazai hingga dalamnya pasir pantai yang basah menjebak mereka. Terjatuh ke samping dan merasakan sedikit air membasahi kaki.
Dazai lengah, Chuuya kabur. Namun tidak lama, karena tangannya ditarik lagi oleh Dazai. Lagi, mereka berguling di lembutnya pasir yang akhirnya menempel di tubuh.
Lagi, Chuuya berusaha kabur, dan lagi, Dazai berhasil menjegatnya, hingga akhirnya dia dapat mengurung Chuuya yang terbaring di antara kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!"
"Baiklah, jika kau berjanji kau akan mendengarkanku dulu."
"Tidak."
"Kalau begitu, aku akan mengurungmu terus seperti ini."
Tangan dan kaki dijegat oleh Dazai, namun Chuuya hanya menampilkan pipi merah sembab. Mengalihkan pandangan biru nya ke arah laut yang tak lagi tertimpa hujan.
"Lihat aku." perintah tegas. Tidak memohon, namun penuh pengharapan. "Chuuya, kau bingung bukan? Aku masih menginganmu lebih dari pertama kali kita bertemu. Jadi, dengar ceritaku."
"Lepaskan.."
.
diam
Keduanya mempertahankan keras kepalanya masing masing. Dazai yang ingin membujuk, dan Chuuya yang ingin pergi. Berharap yang lain mengalah, dan menjadi pemenang egonya.
"BAIK!" teriak kecil terlontar dari mulut mungilnya, "akan kulakukan! Aku akan mendengarmu sampai kau puas! Dan kau harus terima dan melakukan apapun keputusan ku. Mengerti?!" Chuuya menyerah karena mendengar penjelasan Dazai pun tidak menjamin dia akan kembali, pikirnya.
Awalnya dia takut, dirinya bukan yang memegang kendali karena belum tentu Dazai memang masih menginginkannya. Sulit.
Apa yang Dazai lakukan padanya di musim panas itu sangat biadab. Mengkhianati saat Chuuya menyerahkan seluruh yang dia miliki. Seperti makhluk buas dalam seluruh paras indah yang menarik cinta Chuuya.
"Aku mengerti."
Namun demikian Dazai menjawab, melepas seluruh kurungannya dari tangan dan kaki prajurit mungil di depannya. Membiarkan pria itu duduk berhadapan dengannya.
"Dengarkan aku.." Dazai memulai, "Aku bohong padamu waktu itu."
"Ya aku tau.."
"Bukan Chuuya, kau tidak tau.. Punya istri, anak, itu bohong. Sungguh aku bohong tentang itu."
"..."
"Awalnya Chuuya, aku berpikir. Aku seorang marinir berpangkat, bukan buruh kasar seperti dulu saat kita pertama bertemu. Aku semakin dekat dengan kejayaan seperti yang diterima orang tuamu, dan beruntung sekali aku bertemu denganmu. Malam itu, aku berpikir untuk menikah denganmu Chuuya. Bisa kau percaya itu? Aku benar benar ingin memilikimu Chuuya!"
Tubuhnya terhentak, kata 'menikah' dari Dazai sangat mengguncang hatinya. Jika saja dia Chuuya yang dulu, mungkin seluruh air mata kebahagiannya sudah jatuh. Namun tidak sekarang, dia hanya dilanda bingung. Tidak tau mana yang benar dan salah.
"Tapi Chuuya,, tiba tiba kau dipanggil ke Irak. Persentasi hidup kecil, dan kita akan terpisah lagi. Apa yang bisa kulakukan?"
"Apa maksudmu? Kau ingin menikah dengaku? Kenapa kau mundur hanya karena aku mau pergi jauh ke pertempuran? Kau berharap aku akan mati?!"
"Tidak Chuuya. Aku percaya padamu, aku pasti akan menunggu sampai kau kembali untuk meminangmu."
"Lalu kenapa?"
"Begini, aku bilang aku punya paman, bibi, dan adik kecil kan?"
Chuuya mengangguk pelan.
"Waktu itu, saat temanmu mengetuk pintu dan memanggilmu, aku mendapat pesan." matanya kelam melihat Chuuya, seakan tidak ada apapun selain bayangan nyata yang terjadi di masa itu. "Keluarga ku Chuuya.. Mereka mati. Dibunuh."
Chuuya membelalakkan matanya. Keluarga? Yang mana? Paman dan Bibi nya yang baru? Mati? Tidak, tidak. Tidak pernah dia memprediksi hal ini.. "Kau bercanda.", ucapnya ragu.
Dazai menggelengkan kepalanya lembut. Tersenyum pahit lalu melanjutkan, "pesan itu dari polisi, rumah mereka kebakaran malam itu. Elise-chan, anak kecil tadi, adikku, dia disuruh pamanku lari dan memanggil polisi. Jadi gadis kecil itu melompat dari balkon dan jatuh di semak semak. Tubuhnya luka, lumayan parah, karena itu aku harus segera pulang melihatnya."
"Kau tidak bisa membayangkan seluruh masalah itu berputar di dalam otakku Chuuya. Aku mencintaimu, sangat besar keinginanku untuk memilikimu. Tapi kau harus menjauh, dan aku tidak bisa mengejarmu lagi."
"Apa maksudmu?"
"Aku punya Elise kecil yang harus kujaga, dan aku punya pekerjaan yang terpaksa kulepas jika ingin menjaganya. Umurnya baru enam tahun, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri, Chuuya."
"Kau punya misi, penting. Aku merasa tidak pantas mengatakan, aku punya adik kecil yang sekarat dan kau harus menjaganya saat aku bekerja mencari uang sampai cukup untuk melamarmu."
"Lalu aku mengatakannya, menyakitimu sampai seperti itu. Aku memang brengsek. Tapi kau tidak tau betapa bersalahnya aku. Setiap detikku hanya mengingat dirimu yang bersedih, dan itu membunuhku sendiri. Aku gila, ingin mati saja."
Tangan yang kurus itu meremas helai gelapnya frustasi. Menekuk lutut benar benar seperti orang yang akan berada di tiang gantung besok.
Tidak terbayang betapa membingungkannya semua fakta fakta yang dituturkan padanya. Ototnya melemas. Chuuya terdiam, tersambar.
"Kau punya adik, menjaganya, keluar dari marinir, dan berpikir kau tidak bisa bersamaku karena jadi seorang pengangguran?"
"Maafkan aku Chuuya. Aku tidak bisa melindungimu dari takdir yang jahat ini."
Chuuya melihat dirinya sendiri. Selama ini yang dipikirkannya hanya dirinya. Dia hanya berpikir tentang dosanya, tentang lukanya, tentang sakit hatinya, tidak pernah memikirkan hancur yang Dazai terima. Dia jahat.
"Dazai.." suaranya melembut, menyentuh tangan Dazai yang masih menegang meremas rambut sendiri.
Saat itu Dazai tidak punya pilihan selain meninggalkannya. Dan untuk pembuktian, Chuuya menyodorkan dua pistol pada Dazai.
Dazai melihat Chuuya yang berdiri tegar. Seketika ia berdiri mengikutinya, menatapnya dengan mata yang masih berbekas air mata.
"Ada satu peluru di tiap pistol, dan aku akan menembakmu di hitungan ketiga."
"Eh?" belum siap Dazai ingin bertanya, Chuuya sudah mengokang kedua pistol itu. Memaksa Dazai menggenggam dan mengarahkannya ke jantung Chuuya.
"Mudah saja, kau tinggal tarik pelatuknya sebelum hitungan ketiga."
"Tung—tunggu Chuuya! APA MAKSUDMU?!"
"Aku mulai. Satu."
"Tidak, aku tidak bisa. Chuuya!" Dazai menarik tangannya, namun Chuuya masih menahan tangan Dazai yang menggenggam pistol mengarah ke jantungnya.
"Kau harus menembakku Dazai, kalau tidak pelurunya akan mendarat di kepalamu."
"Aku tidak bisa.."
"Kau bisa, kau punya adik kan? Selamatkan adikmu dan bunuh aku. Atau aku yang akan membunuhmu, lalu adikmu akan mati dengan sendirinya. Dengan begitu, kau tau bagaimana kejamnya seorang Nakahara."
"Chuuya.. Kau bukan orang yang seperti itu. Kau baik, kau tidak mungkin melakukan itu.. Dan di atas semua ancamanmu, aku tidak bisa melakukannya. Hentikan ini, Chuuya."
"Dua."
"Chuuya!" Dazai memaksa tangannya, namun Chuuya dengan kokoh mempertahankan posisinya yang menodongkan pistol ke kepala Dazai.
Pikirannya berputar, kembali ke malam itu saat dia memilih Chuuya atau adiknya. Namun tidak dengan kali ini. Dia ingin keluarga dan cintanya selamat. Dan kalau dia mati, dia akan bahagia jika Chuuya yang menarik pelatuknya.
'Kau salah Elise-chan, dia tidak memaafkanku.' Hatinya berucap demikian. Tidak menyalahkan Chuuya ataupun Elise yang menuntunnya ke ambang kematian. I hanya menerima takdirnya. Menerima penghukumannya. Bila itu tangan Chuuya, semua darahnya akan ia beri.
"Jaga adikku, kumohon.. Aku tetap masih pada rasaku yang lama Chuuya.."
"...tiga. selamat tinggal Dazai."
DORR!
—OO—
TO BE CONTINUED
Dan sekarang author tau,, bahwa lamanya update berbanding lurus dengan kemalasan author.
Jadi, semakin malas author maka semakin lama ff ini up, dan readers semakin gatel ingin geret author keliling Yokohama.
Maaphkeun..
Tapi bagus deh ini ff bisa update setelah sekitar tiga minggu yah.. semoga kalian tidak mengharapkan yang macam macam, karena yang macam macam akan ada di chapter lainnyaa..
Tolong beri saya saran dan kritik, karena "balikan ama mantan" bukan bidang saya.
See You~
