Ciao Ognuno~
Ternyata tadinya niat saya ini cerita one shot tapi malah jadi muncul next chapternya nih =="
Disclaimer : Hetalia punya om Hidekaz ya. Sementara OC punya saya sendiri…
Listen to : 'Winter' by Ivan Braginski.
Sebelum membaca silahkan lihat situasi. Belakang. Kanan. Kiri. Jika kau sendirian hati- hati mungkin ia muncul di sisimu.
Note : Ada Chara baru juga loh~
Silvana - Andorra
Maria - Portugal
Eva - Malta
Ysabel - San Marino
William - Nethre
Angga - Indon
Andy - Singapur
Arya - Malay
Enjoy ya~
~.~.~
Sudah berminggu-minggu setelah kejadian itu, sekarang ia berbaring di tempat tidurnya. Menatap langit-langit putih kamarnya yang ada ukiran-ukiran indah ala spanyol.
"Apa alasan hantu itu menyerangku ya?"gumam Antonio. Pemuda spanyol itu terus berfikir sedangkan kondisinya belum pulih benar.
TOK TOK TOK
"Entrar en…[1]" kata Antonio sambil menatap ke sumber suara.
"Boleh aku masuk?" tanya orang itu.
"Si,Maria…[2]" jawab Antonio kepadanya.
"Ini tugas dari sekolahmu dan teman-temanmu ingin berkunjung nanti jadi jangan sampai ketiduran ya~" kata Maria sambil menaruh setumpuk buku di sebelah Antonio.
"Kalau begitu aku keluar dulu ya…" pamit Maria.
"Gracias Maria…Lalu dimana kakakmu dan adikmu?" tanya Antonio.
"Oh mereka…Kak Silvana sedang kerja kelompok,Kak Eva sedang di dapur memasak untuk para tamu nanti sedangkan Ysabel sedang bermain sama banteng peliharaan hermano…"jelas Maria panjang lebar sementara Antonio masih memikirkan kata-kata terakhir Maria.
'Ysabel main dengan bantengku?'batin Antonio yang tengah berfikir.
"Huuaaa! Kenapa Ysabel yang masih kecil segede peter gitu main sama banteng?"tanya Antonio yang kaget. (Apa anda bisa bayangkan wajahnya saat itu?)
Maria menghela nafasnya.
"Kau kan sudah mengajarinya cara menjinakkan banteng,hermano… Masa kau lupa? Udah tua sih…Dasar." ledek Maria yang langsung keluar dari kamar sang Spaniard sementara Antonio hanya menanggapinya dengan tawa renyahnya.
Pintu kamar tertutup ia sendiri lagi. Ia termenung memikirkan hantu Natalia itu lagi.
'Apa yang hantu itu inginkan ya? Kenapa ia menghantamku dengan pisau? Apa salahku? Mungkinkah karena aku tak mempercayai hantu?'batin Antonio Semakin lama masalah ini semakin rumit sehingga ia merasa pusing sekali.
Tak lama pintu kamarnya terkuak lebar. Betapa kagetnya ia ketika melihat sosok itu. Apa ini hanya ilusi? Antonio mempertegas penglihatannya sekali lagi dan ternyata yang ia lihat itu nyata. Sesosok wanita yang telah lama ia kenal. Wanita yang baik hati serta lembut itu. Wanita yang telah membesarkannya serta adik-adiknya.
"Ma-madre…"kata Antonio terbata-bata.
Matanya terbelak tak percaya. Benar saja sosok itu adalah sosok ibunya yang telah lama tiada. Sementara ayah kandung Antonio pergi entah kemana dengan wanita lain setelah membunuh ibu kandung Antonio. Wajah ibunya itu terlihat sangat terluka. Gaun putih tipisnya berlumuran darah. Beberapa peluru bertengger di dada, perut, dan kepalanya. Antonio mengingat jelas kejadian di masa lalu itu. Sangat pahit dan mengerikkan.
~Flash Back~
Antonio dan Eva sedang merapikan meja makan. Silvana dan Maria sedang mengurus Ysabel yang saat itu masih berumur dua tahun.
PRANG
Suara itu berasal dari kamar orangtua mereka. Sebuah guci antik terjatuh dari tempatnya karena tersenggol oleh seseorang.
"Kau ingin kemana? Dasar lelaki tak bertanggung jawab! Kau tak pernah menafkahi keluargamu dan malah bermain wanita! Aku sangat bodoh bisa menikah denganmu!"kata wanita yang tak lain adalah ibu kandung Antonio.
"Berisik kau! Kau dan anak-anakmu itu tidak berguna! Lebih baik aku pergi dari sini!" bentak lelaki itu yang tak lain adalah ayah kandung Antonio.
"Jangan tinggalkan kami dengan alasan yang tak jelas!"bentak wanita itu.
"Kau pantas untuk mati disini…Setelah kau mati nanti anak-anakmu akan menyusulmu ke atas sana dan akhirnya semua harta ini menjadi milikku seorang." kata lelaki itu lalu tersenyum sinis.
DOR
Sebuah peluru melesat dari revolver tua itu dan tepat mengenai perut wanita di depannya. Dengan segenap tenaga, wanita itu mencoba bangkit dan mengambil sebuah pisau lipat di lacinya. Tapi sia-sia saja. Sekali lagi sebuah peluru melesat dan kini mengenai dada bagian kanannya. Ia pun langsung jatuh tak berdaya tapi ia masih tetap hidup. Karena mengetahui itu, sang lelaki tanpa segan-segan menembak kepala istrinya. Kemudian wanita itu sudah tak bernyawa lagi. Sang lelaki langsung memperpuas menembaki jasad istrinya yang telah tiada. Setelah puas, ia menatap mayat itu.
"Menjijikan…" gumamnya kemudian menendang mayat itu dengan seenaknya.
Ia menembak mayat itu sekali lagi dan untuk terakhir kalinya.
"KYAAAAAAAAA!"
Sebuah teriakan seorang anak kecil. Lelaki itu menoleh ke arah sumber suara tersebut dan di temukannya seorang gadis kecil yang berdiri mematung di dekat pintu kamar.
"Jadi kau melihat itu semua Silvana?" tanya lelaki itu dengan tatapan sinis dan berjalan mendekati gadis itu.
"Ka-kau…Jangan dekati aku! Pergi sana! Pembunuh!" bentak Silvana sambil berjalan mundur dan berusaha merogoh sesuatu dari kantongnya.
"Jika aku tak mau pergi bagaimana? Kau hanya anak kecil yang tak sanggup melakukan apapun. Setelah aku membunuh kau serta semua saudaramu, aku akan hidup tenang dan di penuhi dengan harta melimpah." kata lelaki itu sambil mengokang pistolnya.
Dengan sigap silvana menggenggam sebuah pisau lipat. Kemudian pisau itu ia lempar dan mengenai perut bagian kiri ayahnya. Lalu saat ayahnya sedang lengah, Silvana langsung lari menjauhi kamar itu dan memberi tahu semua saudaranya untuk bersembunyi di sebuah gudang yang ayahnya tak ketahui. Antonio sebagai kakak terbesar langsung membawa Eva dan Ysabel menuju gudang. Sementara Silvana membawa Maria. Untunglah mereka semua sudah berkumpul di gudang itu tapi ada satu orang yang tak ada.
"Di-dimana Silvana?"tanya Antonio kepada Maria.
Maria menangis. Ia bilang Silvana masih berada di dalam untuk menelpon polisi dan menyuruh Maria untuk pergi ke gudang sendirian.
"Sial! Eva, kau tunggu di sini dan jaga mereka semua. Aku akan menyusul Silvana." kata Antonio dengan tegas.
"Ta-tapi…Hermano…" kata Eva terbata-bata.
"Aku janji akan kembali dengan Silvana nanti." jawab Antonio yang di sertai dengan senyum cerianya kemudian pergi.
Antonio menelusuri semua ruangan satu persatu. Dan ketemu! Silvana sedang berada di ruang tamu sedang menelpon para polisi. Antonio langsung menghampiri Silvana dan bergegas mengajaknya ke tempat persembunyian. Sayangnya keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Ayahnya menemukan mereka berdua dan sekarang mereka terpojok.
"Kalian berdua ingin kemana? Sudah tak ada jalan keluar lagi untuk kalian berdua. Hahahaha…"kata lelaki itu lalu tertawa jahat.
"Sekarang nyawa kalian berada di tanganku."
Orang itu langsung mengarahkan pistolnya ke arah mereka berdua lalu menembaknya. Untungnya tembakannya meleset dan mengenai dinding karena Antonio dan Silvana mengelak. Kemudian sebuah peluru melesat lagi dan membeset lengan kiri Antonio.
"AAARRRGGHH!" jerit Antonio.
"Hermano! Kau tak apa? " teriak Silvana sambil menghampiri kakaknya.
Kemudian karena tak menerima perlakuan itu, Silvana mengambil pedang yang di bawa Antonio. (pedangnya yang biasa untuk fencing loh)
"Mau apa kau? Kau kira bisa melukaiku dengan benda itu, hah?" kata lelaki itu.
"Diam kau!" bentak Silvana.
"Menyerah saja gadis kecil."kata ayah mereka.
Silvana langsung melempar pedang itu dan mengenai kaki ayahnya.
"Ayo sekarang waktunya pergi." kata Silvana kepada Antonio.
Mereka pergi ke gudang persembunyian mereka semula. Dengan sigap Maria mencari-cari kotak P3K di sana sementara Silvana menyenderkan Antonio di dekat karung-karung yang entah isisnya apa. Akhirnya Maria menemukan kotak yang ia cari dan memberikannya kepada Eva untuk mengobati luka Antonio. Tapi saat Antonio ingin di perban lukanya, terdengar suara langkah seseorang. Dan satu-satunya orang yang ada di luar adalah ayah mereka.
"Ayo keluarlah dimanapun kalian berada!" bentak lelaki itu.
"Sttt…diam semuanya jangan membuat kegaduhan." bisik Maria.
Semua menurut dan diam. Antonio tertidur. Ysabel duduk di sebelahnya dengan tampang polos seakan tidak terjadi apapun. Maria, Silvana, dan Eva sedang di selimuti ketegangan yang teramat sangat.
BRAK
"Menyerahlah polisi sudah mengepungmu!" kata salah seorang polisi itu.
Selang beberapa menit polisi pun datang dan mengepung ayah Antonio. Tapi dengan mudahnya lelaki itu melarikan diri dan tak pernah terlihat lagi setelah insiden tersebut. Hidup Antonio dan adik-adiknya selalu di hantui oleh bayang-bayang ayah mereka. Mereka merasa kalau ia selalu mengamati dari jauh dan ingin membunuh mereka segera. Sejak kejadian itu, Antonio dan adiknya di asuh oleh kakek-nenek mereka.
~End Flash Back~
"Madre? Es un tu?[4]"tanya Antonio dengan mata berkaca-kaca.
"Antonio mi solo hijo…yo realmente echar de menos tu.[5]"kata sosok wanita itu seraya mendekat ke ranjang Antonio.
Antonio hanya bisa membisu. Wanita itu memeluknya erat. Walau sosok itu adalah hantu tapi pelukan itu terasa nyata bagi Antonio. Sang Spaniard itu menangis di pelukan ibunya yang sangat ia rindukan.
"Antonio aku hanya membawa pesan untukmu…ku sarankan kau menghentikannya segera sebelum banyak korban lainnya termasuk adikmu yang lain. Aku melihat masa depan dimana jika kau tak menghentikannya. Sangat mengerikkan. Nanti ada teman sekolahmu yang akan membantu. Tolong hentikan dia. Sekarang ia mulai haus darah." sebelum ibunya menyelesaikan pesan itu ia langsung lenyap seperti asap yang tertiup angin.
"Madre? Madre?"
Antonio melihat keselilingnya tapi yang ia dapatkan hanya ruangan yang hampa.
"Siapa yang ia maksud?" gumamnya.
BRAK
"Oy Antonio. Apa kondisimu sudah baik? Tak Awesome sekali kau jika tak masuk sekolah berminggu-minggu."kata Gilbert yang baru saja mendorong (dibaca : membanting) pintu kamar Antonio.
Ludwig yang ikut menjenguk langsung menjitak kakaknya karena sikap yang kurang sopan itu dan semua terkikik geli.
"Fratello Antonio sudah merasa baik,ve?"tanya Feliciano yang masih menggelayuti leher Ludwig.
"Hahaha, mucho major Feliciano…[6]"jawab Antonio.
"Ve…doitsu apa maksud perkataan fratello Antonio?"tanya Feliciano dengan polosnya.
Aduh Feliciano kalau mukamu gak imut kayak Lovino dah aku gibing kau ini! Oke back to the laptop.
"Huh…maksudku, molto migliore Feliciano…[7]"
"Oh…hehehe…ora io comprendere,[8]ve~"
Jika dilihat lagi, yang datang berkunjung lumayan banyak. Ada Alfred yang masih manja sama Arthur dan malah mendapat bentakan dari Arthur. Kemudian ada Ludwig, Gilbert, Feliciano, dan Francis juga. Belum lagi nanti ada yang menusul. Katanya Maria akan membawa pacarnya kemari yang tak lain adalah Iceland dan ia juga mengajak para Nordic. Lalu Silvana mengajak Lovino, Angga, William, Elizaveta, Arya, dan Andy untuk berkunjung. Antonio hanya tertawa memaklumi para tamunya yang aneh bin sarap itu.
"Hermano, aku pulang." kata Maria dan nampaklah para Nordic.
Tino membawa sekeranjang bunga. Berwald membantunya dengan membawa sebuah parsel berisi buah-buahan, mungkin hasil kebun mereka di rumah. Mathias sedang merangkul Norway seperti biasa serta ribut seperti orang gila. Iceland? Jangan tanya. Seperti biasa memeluk puffin. Aduh Maria kenapa kau memilih banci itu menjadi pacarmu?#authordigibeng#
Okey Back To Topic!
"Antonio, ini ada sekeranjang bunga yang baru ku petik tadi. Ingin di taruh mana?" tanya Tino.
"Oh itu, taruh saja di sini. Nanti akan ku suruh Ysabel untuk menghiasnya." jawab Antonio.
"K'lau 'ni t'ruh d' m'na?" tanya Berwald dengan tak lancarnya.
"Biar aku saja yang menaruh ini." kata Ysabel yang baru selesai bermain dengan banteng Antonio. Berwald langsung memberi parsel itu kepada adik Antonio tersebut.
"Ysabel, apa tadi kau habis bermain dengan bantengku?" tanya Antonio yang agak ragu.
"Si,hermano.[9] Memang kenapa?" kata Ysabel dengan lugunya sementara semua hanya berfacepalm ria.
Kemudian tak lama Silvana dan teman-teman serta pacarnya masuk kedalam ruangan itu. Lovino membawakan sekeranjang tomat dan ia menaruhnya di sebelah parsel dari Berwald. Angga malah ditarik-tarik oleh William dan Arya, maklum berebutan uke. Elizaveta pastinya sudah jepret sana sini. Andy mainin iphonenya. Antonio hanya bisa berfacepalm lagi saat keadaan kamarnya semakin ramai.
"Angga itu punya gue!" teriak William.
"Diem lo kepala tulip bling-bling!" bentak Arya.
"Dia punya gue! Lo gak pantes karena lo curang maennya pake laser jadi Angga gue kalah!" kata William.
"Dari pada elo dah ngejajah kakak gue selama 3 abad!" balas Arya.
"Kapan sih kalian akur?" gumam Andy yang sweetdrop melihat kelakuan orang gila itu.
"Udah gue bukan punya kepala tulip karena dia suka ngejajah gue dan gue juga bukan punya lo m-ALAY-SIAlan tukang maen laser!" bentak Angga.
Demi kebaikan para Readers jadi kita skip saja acara jenguk menjenguk yang super gelo ini ^_^"
~.~.~
Sekarang, hari senin. Hari pertama masuk sekolah setelah dua hari libur (sabtu & minggu), semua murid menuju kelas masing-masing dengan coret-SANGAT-coret terpaksa. Antonio yang telah pulih memilih kembali masuk sekolah. Di kelas ia bergabung degan Gilbert dan Francis. Tapi di benaknya tetap saja terpikirkan perkataan ibunya itu.
'Siapa yang dia maksud? Haus darah? Korban selanjutnya adik-adikku? Aku tak mengerti.' batin Antonio.
"Oy 'Tonio kau gak apa? Kok muka kau pucet amat?" tanya Gilbert yang menyadari tingkah laku temannya agak aneh.
"Eh? Gak apa kok." jawab Antonio diiringi dengan senyuman yang agak di paksa.
Eva, adik Antonio menghampiri mereka bertiga. Wajahnya pucat. Ia terlihat sangat ketakutan.
"Eva? Kenapa?" tanya Antonio kepada adiknya.
"He-hermano… I-Ivan fallecer.[10]" kata Eva terbata-bata.
Walau suara Eva tidak terlalu keras, tapi berita itu membuat satu kelas hening seketika. Apa? Ivan meninggal? Ivan Braginski? Ivan yang terkenal dengan sifat psikopatnya? Semenya Wang Yao itukah?
"Dimana kau menemukan mayatnya?" tanya Antonio layaknya seorang detektif.
"Di kamar mandi hantu itu." jawab Eva yang masih syok.
Hening lagi.
"Okey semua dengarkan aku. Hermano, Gilbert, Francis, Ukraine, dan Alfred akan melihat kondisi Ivan. Arthur sebagai ketua osis tolong telpon ambulan. Sisanya di kelas saja dan bersikap wajar seakan tak terjadi apapun agar tak menimbulkan kekhawatiran di sekolah ini." perintah Maria.
"Jangan ada yang memberitahu insiden ini ke murid kelas lain kecuali Yao karena sepengetahuan kita semua, ia adalah kekasih Ivan. Mengerti." tambah Silvana.
Satu kelas hanya mengangguk dan bertingkah seolah tak ada yang terjadi.
Antonio, Gilbert, Alfred, Ukraine, dan Francis bergegas menuju kamar mandi itu. Kondisi Ivan sangat mengenaskan. Syal yang selalu ia pakai ternodai oleh darah dan tercabik-cabik. Tubuhnya banyak luka bekas ditusuk dengan benda tajam. Lehernya hampir putus dan memisahkan kepala dengan tubuhnya. Matanya terbelak ketakutan akan melihat sesuatu. Darah menggenang di sekujur tubuh yang sudah tak benrnyawa itu. Ukraine menangis melihat kondisi adiknya. Francis mencoba menenangkan Ukraine.
'Siapa yang tega melakukan ini?' batin Antonio bertanya-tanya.
"A-Antonio… Apa yang harus kita lakukan sebaiknya?" tanya Alfred.
Antonio terdiam mengamati mayat Ivan. Tiba- tiba ia teringat perkataan ibunya.
"Jangan- jangan dia pelakunya…" gumam Antonio dan membuat yang lain terdiam.
END
Translate:
1. Masuk…
2. Iya,Maria…
3. I-ibu…
4. Ibu? Apa itu kau?
5. Antonio anak lelakiku satu-satunya…aku sangat merindukanmu.
6. Hahaha…sudah lebih baik,Feliciano.(bahasa Spanyol)
7. Sama seperti nomor enam hanya saja dengan bahasa italy
8. Sekarang aku mengerti,
9. Iya,kakak.
10. Ka-kakak…I-ivan meninggal.
Apenado! Apakah flash backnya kepanjangan? Ataukah ancur?
Huehuehue maafkan saya… saya sedang kurang konsentrasi… TT^TT
Review ya kalau mau review untuk kedua kalinya juga gak apa kok #plak#
Sumpah chapter 1 banyak sekali miss typonya OAO"
Ini balasan untuk Review chapter 1
Shirayuki Hana Hikari : Maksud saya itu saya lupa nama si Kuchisake Onna. Kalau sadako saya teh tau atuh…Gilbert ketularan mesumnya Francis karena sering main bersama XD
Zubei : Gracias para reseña (makasih buat reviewnya). Memang Natalia jahat sekali. Kan Antonio adalah kakak yang baik.
Tatiana Kyznestov : Dasar gembul… dari pada kamu maen game terus mendingan lanjutin fanfic mu kan udah ku bantuin edit-editnya. Btw aku tau, pas kamu baca yang Gilber ngintip itu kamu senyum-senyum sendiri #plak#
Lanjut tidak ya? Saya bingung…
Hasta Luego Lacter ^o^
