The Survival

A Fate Stay Night Fanfic

Shiro mengucek-ngucek matanya, namanya juga baru bangun tidur. Lalu ia pun segera membuka kamar tidurnya, hendak mandi (ya iyalah, masa langsung keluar rumah, apa nggak nanti dia dianggap orang gila? Hehehe). Lalu ia ganti baju dari baju tidurnya menjadi seragam sekolahnya di kamar mandi. Setelah itu, ia ke dapur dan menemukan Sakura, sudah dengan seragam sekolahnya, sedang memasak dengan seriusnya.

" Sakura lagi masak apa?" tanya Shiro basa-basi, soalnya sebenarnya ia sudah tahu kalau Sakura pasti masak tahu goreng. Wong baunya sudah tercium dari radius 5 km (lebay amat ya si author..)

" Lagi masak tahu goreng," jawab Sakura sambil sibuk memasak. Muka Sakura kelihatan serius sekali dan tidak ingin diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan lagi, membuat Shiro akhirnya ke ruang makan sambil nonton TV. Kebetulan saat itu acaranya adalah berita.

Tiba-tiba ada sebuah berita yang sudah tak asing lagi baginya selama beberapa minggu terakhir.

" Pemirsa, telah terjadi pembunuhan di keluarga Hoshiyama. Seluruh keluarga dibunuh, tidak ada yang bersisa. Saat ini belum diketahui siapakah pembunuhnya. Polisi menduga mereka dibunuh dengan pedang."

" Ini sudah kedua dalam minggu ini ya, Shiro!" kata Fuji-nee yang tiba-tiba berada di belakang Shiro, ikut menonton TV.

" Errr.. Fuji-nee," kata Shiro kaget, "sejak kapan disini?"

" Barusan. Oh ya, kok kejadiannya jadi kayal 1 tahun yang lalu, ya," kata Fuji-nee , mengingat satu tahun yang lalu yang memang pada saat itu banyak terjadi pembunuhan.

Nyaris saja Shiro ngomong "Holy Grail" kalau ia nggak sadar bahwa Fuji-nee itu outer circle dalam urusan ini. Fuji-nee mana tahu soal perang yang sadis dan menyeramkan ini. Lagian perang ini kan memang harus dirahasiakan kepada outer circle.

Lamunan Shiro terpecahkan oleh kata-kata Sakura. "Makanan sudah siap!" kata Sakura ceria sambil memegang nampan makanan berisi tahu gorengnya.

" Wah.. kelihatannya lezat sekali, Sakura," kata Fuji-nee dengan mata yang berbinar-binar. Kayaknya sebentar lagi si tahu goreng bakal bermigrasi dengan cepat ke perut Fuji-nee.

Dan mereka pun sarapan. Dan seperti biasa, Fuji-nee pasti minta tambah sementara pasti Shiro yang ngambilin makanannya  Meski saat ini suasana ceria, tampaknya mereka tak yakin besok akan tetap seperti ini.

~ - ~

Gara-gara kejadian pembunuhan misterius ini, akhirnya pihak sekolah mengambil inisiatif untuk mempercepat waktu siswa belajar (ya.. kayak waktu perang Holy Grail dulu..) dan menghimbau murid-murid agar cepat pulang. Padahal kan takdir di tangan Tuhan (lho, ini kok tambah nggak nyambung sih.) Pokoknya, sekali lagi, kota Fuyuki ini jadi tidak aman.

Nah, gara-gara kejadian ini pulalah, banyak desas-desus yang beredar di sekolah. Tentang siapakah kira-kira pembunuhnya, motivasi si pembunuh membunuh korbannya, tentang suasana kota yang makin tidak aman, sampai menghubung-hubungkannya dengan kejadian 1 tahun yang lalu.

Shiro sendiri mulai memikirkan satu hal yang entah mengapa tiba-tiba bersarang di kepalanya … meski kedengarannya ini tidak realistis. Tapi ia memilih tidak memberitahukan siapapun dan memutuskan untuk membuktikannya malam ini.

~ - ~

" Menurutku sih, pasti ada hubungannya dengan kaburnya seorang pasien dari rumah sakit jiwa beberapa bulan yang lalu," kata Rin memulai perbincangannya dengan Shiro sambil makan bekalnya.

" Ya bisa juga, sih. Tapi kalau gitu, mengapa pembunuhannya baru beberapa minggu terakhir?" tanya Shiro keheranan.

" Mungkin baru sekarang ia dapat senjatanya. Kalau nggak ada senjata, mau bunuh pakai apa, coba ?" kata Rin sambil mencomot makanan Shiro.

" Bener juga sih.. Eh, Rin, ngapain sih ambil-ambil bekalku," kata Shiro sambil mencomot makanannya Rin sebagai balasan atas makanannya yang dicomot.

" Kamu juga. Balikin dong," kata Rin sebel ngelihat makanannya dicomot Shiro. Jadilah mereka main balas-balasan mencomot makanan(btw, kok jadi kayak mereka anak-anak ya?)

Meski Shiro rasa terkaan Rin benar , tapi masih ada yang mengganjal bagi Shiro. Entah mengapa ia merasa bahwa ini memiliki sangkut paut dengan dirinya.

~ - ~

Sepulang sekolah, Shiro kerja dulu samapi jam 7 malam. Lalu ia memutuskan menuju tempat dimana dulu terjadi kebakaran besar. Tempat yang samapi sekarang tetap gersang, entah karena memang disana auranya sudah terlalu gelap sampai-sampai tak ada satu pohonpun yang sudi tumbuh disana atau memang tak ada orang yang memperhatikan tempat ini. Yang jelas Shiro suka sekali ke tempat ini. Karena inilah satu-satunya tempat yang merekam masa lalunya.

Sebenarnya tujuan Shiro kesini bukan sekedar duduk-duduk buat nostalagia. Tapi untuk sesuatu yang penting. Sesuatu yang bahkan ia tak yakin seharusnya dilakukan tapi hatinya memaksanya untuk kesini. Sepertinya disini … ada sesuatu yang sangat penting. Berhubungan dengan dirinya dan jika dia tidak kesini, maka sesuatu yang penting akan terlewat.

Maka, disinilah ia, duduk menikmati angin yang tak bersahabat. Sambil melihat rembulan, tiba-tiba ia teringat masa lalunya. Mulai dari saat ia yang masih kecil terpaksa kehilangan keluarganya, sampai saat ia yang dipilih oleh takdir, harus mengikuti sebuah permainan aneh, yang membuatnya bertemu dengan Saber yang kini menghilang. Salahnya juga sih, sampai Saber menghilang karena sebenarnya kan ia bisa membuat Saber tetap di sini. Tapi sekarang, bukan itulah yang membuat pikirannya terganggu.

Lalu, tiba-tiba saja Shiro merasa bahwa dirinya diawasi seseorang. Refleks ia pun berdiri, mencari tahu siapakan yang mengawasinya. Namun, entah mengapa, ia tak bisa menemukannya.

Mungkin cuma perasaanku saja, batinnya. Ia pun lantas duduk lagi dan mencoba menenangkan diri.

Namun, entah mengapa hatinya tak bisa tenang. Sepertinya .. hatinya benar-benar kacau, antara takut, namun excited. Perasaan ini terlalu bercampur baur sampai Shiro bahkan bingung, sebenarnya apa yang ia rasakan.

Bulan purnama itu lalu menyinari sebuah sosok. Sebuah sosok yang ingin mencaritahu tentang masa lalunya. Dan setelah itu, menghapus masa lalunya yang pedih.

Dan orang itu lalu berjalan menuju arah Shiro. Shiro yang kaget tidak sempat mengantisipasi ketika orang itu membisikkan sebuah kata. Sebuah kata yang membuat Shiro kaget meski entah mengapa ia tidak sekaget yang ia pikirkan.

"…adik," suara dingin itu sukses membuat malam yang dingin itu semakin dingin.

~ - ~