.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)/Hinata-centric/Multi hints/Harem/Bit Sho-ai

No Pair

Sekali lagi Hinata centric

Genre : Romance/Fantasy/Humor

.

Boyfriend Simulation

Chapter 1

.

Hinata benar-benar penasaran dengan game yang dibicarakan oleh Hanabi beberapa menit lalu. Seperti apa sih permainan boyfriend simulation itu? Kalau dari namanya, pasti permainan itu berhubungan dengan kisah cinta.

'Ah, daripada nebak-nebak sendiri, lebih baik aku langsung memainkannya saja,' ucap batin Hinata yang sudah tak bisa membendung lagi rasa penasarannya.

Hinata segera mencari aplikasi permainan itu di dalam ponsel androidnya dengan antusias. Tak sampai 5 menit permainan itu sudah berhasil dia temukan. Gadis itu tersenyum lebar. Hinata menekan icon pada game tersebut untuk memulai permainan.

"Who's your name and how old are you?."

Sebuah tulisan muncul pada layar android dan menanyakan nama serta umurnya. Hinata sedikit mengernyit saat membacanya. Apakah dia harus menulis nama serta umur aslinya, atau menulis nama dan umur samaran.

Setelah berpikir beberapa saat, dirinya memutuskan untuk menulis nama serta umur asli agar suasana permainan dapat lebih terasa nyata. Jari-jari lentiknya mengetikkan nama serta umurnya.

"Hinata Hyuuga, 15 years old."

Nama dan umur yang telah dia tuliskan, diterima oleh permainan. Muncul kembali sebuah tulisan pada layar androidnya yang mengucapkan selamat datang kepada Hinata karena telah memainkan permainan tersebut.

Scene berganti dan Hinata mulai masuk pada peraturan permainan tersebut. Peraturan pada permainan itu menyebutkan kalau Hinata akan menjadi tokoh utama di dalamnya, dan Hinata akan berinteraksi dengan lima orang cowok dengan latar belakang yang berbeda-beda sekaligus. Selain melakukan interaksi di dalam permainan itu memungkinkan Hinata untuk memilih satu diantara lima cowok itu sebagai pacar.

Di dalam permainan, Hinata tidak hanya bersenang-senang, tapi dia juga harus melindungi kelima laki-laki di dalam game itu dari seorang penyihir yang memiliki orientasi seks menyimpang. Penyihir itu adalah tokoh antagonis central yang mengincar kelima pemuda itu.

Interaksi di dalam game dilakukan dengan komunikasi dan Hinata hanya tinggal memilih dan memberikan respon yang benar. Kalau jawaban Hinata benar, maka hati dari cowok-cowok itu akan bertambah parameternya, dan bila tidak, parameter cinta mereka tidak akan bertambah atau malah semakin berkurang.

"Kelihatannya menarik," ucap Hinata sambil menyunggingkan seringai tipis.

Hinata menekan tombol start begitu tulisan itu muncul. Setelah tombol untuk memulai permainan dia tekan, muncul gambar 5 orang cowok pada layar androidnya dan ada tulisan yang memerintahkan Hinata memilih salah satu dari lima cowok itu untuk memulai permainannya.

"Eh? Jadi aku harus memilih salah satu di antara mereka?"

Gadis itu bangun dari posisi tidurannya. Manik lavendernya menatap lekat ke arah layar ponsel dan mengamati wajah kelima pemuda itu dengan seksama.

"Aduh, siapa yang harus aku pilih? Mereka semua keren..." Walhasil Hinata malah kelimpungan sendiri, tak bisa menentukan pilihan.

5 menit, 10 menit, 20 menit, bahkan sampai kurang lebih setengah jam Hinata belum bisa membuat keputusan, siapa di antara kelima pemuda kece itu yang ingin dia sapa untuk pertama kali karena, ucapan salam pertamanya akan menambah parameter cinta dari kelima orang cowok itu.

"Ah, aku tanya Hanabi saja, deh!" Hinata beringsut dari atas tempat tidurnya dan berlari dengan tergesa keluar untuk mencari Hanabi.

.

.

Hinata pergi menuju kamar Hanabi, sang adik dengan berlari kecil sambil membawa-bawa android miliknya yang ia genggam kuat-kuat.

"Hanabi tidak ada di kamarnya, Hinata. Barusan saja dia pamitan mau pergi ke rumah Konohamaru, ada kerja kelompok katanya," kata Neji yang sedang duduk di ruang tamu.

"Ah, kenapa disaat penting seperti ini anak itu malah pergi keluyuran!" Hinata menggerutu dengan wajah cemberut.

"Memangnya apa yang penting?" tanya Neji penasaran. Tumben-tumbenan Hinata membicarakan hal penting pada Hanabi. Biasanya dia selalu bercerita pada Sakura atau pun Tenten dan Ino kalau sedang ada masalah.

"Aku hanya sedang bingung harus memilih siapa..." Hinata menatap layar ponsel andoridnya dengan lembut.

"Memilih siapa?" Neji mengangkat sebelah alisnya tak mengerti dengan maksud ucapan Hinata barusan.

"Sudahlah, kau tidak akan mengerti." Bukannya menjawab, tapi Hinata malah berjalan meninggalkan Neji dan kembali masuk ke kamarnya.

.

.

Di dalam kamar Hinata menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur ukuran medium itu sambil menghela napas. Padahal hanya sebuah game, tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk memilih? Hinata kembali menatap layar androidnya dengan seksama sambil mengamati kelima pemuda itu.

"Gaara, Sasori, Menma, Toneri atau Hidan, ya...?" Hinata bergumam kecil sambil menyebutkan satu-persatu nama dari lima pemuda yang ada di dalam permainan tersebut.

"Aku rasa tak ada pilihan lain! Baiklah, akan aku lakukan ritual yang biasa kulakukan kalau sedang bingung!" Hinata memejamkan kedua bola matanya. Dia mulai menghela napas dan kemudian bibir mungilnya mulai bergerak merapalkan sebuah mantra yang biasa dia lakukan.

"Tang ting tung, siapa di antara mereka yang (tidak) beruntung!" benar sekali. Hinata menyanyikan lagu sakral itu, dan jari telunjuknya bergerak cepat sesuai dengan irama yang ia nyanyikan.

Setelah ber-tang-ting-tung ria gerakan tangannya pun berhenti. Gadis indigo itu membuka kembali kedua matanya untuk melihat siapa pemuda yang terpilih.

"Jadi, dia, ya..." Hinata bergumam kecil saat melihat telunjuknya berhenti pada gambar seorang pemuda berambut hitam dan bermata biru. Nama pemuda itu adalah Menma.

Akhirnya Menma lah yang terpilih untuk disapa terlebih dahulu. Manik lavendernya menatap lekat kepada sosok pemuda yang ada di dalam layar androidnya sambil tersenyum tipis saat menyadari kemiripan sosok itu dengan Naruto. Dengan rasa percaya diri tinggi, Hinata mengklik gambar pemuda itu. Hinata menerka dalam hati kalau sosok Menma pasti tidak akan berbeda jauh dari Naruto yang ramah dan selalu ceria.

"Don't disturb me, go away..."

Dugaan Hinata tampaknya salah. Laki-laki yang bernama Menma itu malah memberikan respon negatif pada Hinata, dan entah mengapa hati Hinata merasa hancur saat sosok itu menyuruhnya untuk pergi.

"Huaaaaa! Menma kejaaaaam!" Hinata berteriak lebay dengan tingkat ke-OOCan yang akut parah. Bayangkan saja, seorang Hinata yang biasanya bersikap lemah-lembut dan selalu tersenyum sabar, berteriak-teriak seperti ini. Rasa-rasanya dia seperti baru saja kerasukan roh Sakura, sahabatnya itu.

PLUK!

Gadis itu melempar android miliknya tepat ke arah bantal tidurnya. Tentunya dia tidak berani membanting ponsel seharga 6 juta itu ke lantai.

Hinata merasa dirinya benar-benar malang. Naruto sudah jelas menolaknya dengan menembak Sakura dan sekarang, sosok pemuda yang berwajah mirip dengan Naruto pun ikut menolak dan menyuruhnya pergi. Sakitnya tuh di sini, Hinata dengan miris menunjuk dadanya yang terasa nyeri.

'Apa-apaan aku ini! Kok bisa-bisanya aku merasa sakit hati hanya karena game?' Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari sikapnya yang terlalu berlebihan saat menanggapi respon Menma.

Hinata kembali bersemangat dan mengambil ponselnya lagi. Gadis itu menghela napas sesaat dan melanjutkan permainan itu. Kali ini dia mengklik pemuda berambut merah dengan lingkaran hitam pada sekeliling matanya, setelah itu, berturut-turut dia mengklik Sasori, Toneri dan Hidan.

Ternyata respon yang ia dapat dari pemuda-pemuda itu cukup beragam. Dari situ ia dapat menarik kesimpulan kalau Gaara adalah pemuda yang dingin, Sasori cuek, Toneri narsis abis, sementara Hidan pemuda kasar yang agak urakan.

Akhirnya Hinata malah jadi keasikan sendiri memainkan game barunya itu. Hinata melewati beberapa jam hanya dengan memainkan boyfriend simulation. Ternyata berinteraksi dengan kelima pemuda virtual yang ada di dalam permainan itu lebih menyenangkan daripada ia harus berinteraksi langsung dengan laki-laki di sekitarnya. Dia tidak perlu merasa canggung apalagi merasa malu, dan tentu saja semburat merah yang kerap kali menghiasi wajahnya tidak akan terlihat dan diketahui.

Hanabi yang baru menjejakan kaki beberapa menit lalu di depan kamar Hinata langsung tersenyum saat melihat sang kakak sedang memainkan game yang dia rekomendasikan. Hinata tidak akan tahu, kalau permainan itu sebenarnya untuk merebut hatinya, bukan hati kelima pemuda yang ada di dalam permainan tersebut.

"Keajaiban pasti akan tercipta, Nee-san...," ucap gadis yang umurnya 2 tahun lebih muda dari Hinata itu sambil mengundurkan diri pelan-pelan dari sana.

TBC