TO TELL A LIE...OOOAAA
Summary:
"SASUKEEE AWASSS!" | "AKU SUDAH MEMPERINGATKANMU, LEE!" |Mata kebohongan selalu menimbulkan kebohongan baru, bahkan untuk mata seorang Uchiha. |Di sini, kami memutar kehidupan seseorang. | No yaoi|firstfic|collab
DISCLAIMER: All of Naruto characters belongs to Masashi Kishimoto©. Banggalah kita sebagai anak bangsa! MERDEKA! MERDEKA! MERRRRRDEEEKKKAAAAA!
WARNING: OOC, AU, TYPO, YANG DI ATAS 50 TAHUN JANGAN BACA! DOSA DITANGGUNG SENDIRI! KAMI SUDAH MEMPERINGATKAN! Dan apalah terserah Anda. Kami tidak peduli.
Harap baca penjelasan bertanda (*) di akhir fic ini. Terima kasih, kawan, ini adalah versi sebenar-benarnya di mana tak ada kebohongan di fic ini. Maaf, kami telah membohongi Anda di fic chapter satu.
NB: Disarankan membaca ulang chapter satu agar mengerti.
"Apa gunanya sampah?"
"Sampah terkadang berguna, Sasuke."
"Untuk apa?"
"Untuk menyumpal mulutmu."
"Kenapa?"
"Kau tahu kan, berbohong itu dosa?"
Kringgg... kringg...
Sebuah alarm kaktus berbunyi di sebuah kamar mewah bernuansa hijau. Ya, semua yang ada di kamar ini berwarna hijau. Entah karena pemiliknya terobsesi dengan warna hijau atau dia memang hanya mengenal warna hijau di dunia ini.
TV, DVD, AC, kulkas, microwave, proyektor, panci, dan bahkan whiteboard di kamar ini berwarna hijau senada. Maaf, bukan whiteboard melainkan greenboard.
Lee dengan malas mematikan alarm yang ada di samping tempat tidurnya. Dia menguap* lebar-lebar. Tangan kirinya dengan sigap membersihkan sisa-sisa belek* di kedua matanya.
Sebelum ia beranjak ke kamar mandi, ia melihat keadaan tempat tidurnya yang agak kacau-balau. Sprei berwarna hijaunya bahkan sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"Sepertinya aku harus membereskan kamar ini," gumamnya.
Saat ia sedang menata bantal di atas guling* ia dikagetkan oleh sesosok orang berpakaian seperti seorang butler, berjas buntut dan bercoat* polkadot hijau.
"Ehem, Tuan," gumam orang itu.
Lee mendelik marah.
"Apa Kabuto? Mau apa kau di kamarku? Pagi ini milikku! Pergi kau!" seru Lee marah.
"Sebenarnya saya juga benci masuk ke kamar Tuan Lee yang hijau menjijikkan ini, tapi karena sudah disogok 20 juta yen oleh Tuan Besar, saya paksaan diri ke sini." jawab Kabuto sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Itulah yang tidak kusuka darimu! Selalu saja menjelek-jelekkan warna hijau! Ada apa kau kemari?"
"Anda dipanggil oleh Tuan Besar untuk segera menemuinya di kamarnya."
"Baiklah, siapkan mobil dan sekoci. Aku lelah mempunyai rumah sebesar ini. Pergi ke kamar sebelah saja harus menempuh perjalanan 10 menit ditambah menyeberangi sungai dalam rumah 5 menit. Huh, 15 menit yang selalu kusia-siakan dalam hidup," keluh Lee.
-pembatas-
"Sial, ohok aku tersedak kepala ikan teri! Uhuk-uhuk..."
Seorang kakek tua yang tengah duduk di bale-bale berlapis emas terbatuk-batuk dengan suara yang memilukan.
Tiba-tiba sang cucu datang dan berteriak panik agar sang kakek jangan mati.
"Lee, ohok-ohok, cepatlah berangkat sekolah, ohok-uhuk-iihik..ihiiiikk…N-nanti kau terlambat, uhuook, hueeekkkk, cuih! CUUIIH! Kkekrr…cuih," sahut sang kakek.
"Kek, jangan mati kek…! Ini minum air jernih dari mata air sungai seberang sana Kek!" sahut Rock Lee panik kepada kakeknya. Lee menatap yakin ke arah gelas yang disodorkannya kepada kakeknya. Sungai seberang sana yang Lee maksud adalah yang ada di Mekkah alias air zam zam.
"Kemarikan airnya, Cunak. Kakek belum mati dasar anak bodoh. Kau pikir apa itu mati? Mudah sekali kau bicara! Ohoeeekkk. Cuih," amarah sang kakek pun meledak.
"Kalau kakek mati, ya kakek tidak ada di sini," jawab Rock Lee jujur.
"Kau pikir kalau kakek keluar dan tidak ada di sini, berarti kakek mati?" Ikan teri yang berada di tenggorokan sang kakek rupanya sudah keluar sehingga dia bisa puas memarahi sang cucu.
"Ya mungkin saja. Mati saja sana." balas Lee acuh.
PLAKKKKKKKKKKKKKKKK!
"Sakit, Kek!" seru Lee seraya mengusap-usap pipi kirinya yang terkena tamparan telak dari kakeknya.
"Kabuto! Kemari kau!"
"Ya, Tuan Besar?"
"Tolong siapkan makan siang kesukaanku. Ambil saja uang belanjanya di gudang. Aku ingin istirahat dulu. Semalaman aku tidak tidur karena menonton konser Dragon Boyz. Ah punggungku sakit sekali..."
"Baik, Tuan Besar." Kabuto pun pergi dari ruangan itu.
"Dragon Boyz apa kek?" tanya Lee penasaran.
"Entahlah. Kakek hanya merasa mereka lucu makanya kakek tonton."
"Lalu? Lucu tidak kek?"
"Sama sekali tidak." jawab kakeknya datar.
-pembatas-
Kabuto keluar dari ruangan itu dengan menggerutu.
Buat apa si kakek tua itu menyuruhku mempersiapkan makan siang? Aku tak ada waktu untuk mengurus hal-hal remeh semacam itu. Fiuh, untung aku masih memiliki beberapa pembantu, batin Kabuto.
Dia segera mengambil iPhone 4 dari saku coatnya, menekan 12345678910 dan menunggu.
"Halo? Tsunade? Ya, aku bosmu! Tentu saja aku yang menggajimu! Gajimu kurang? Dasar persetan. Cepat datang ke rumah bosku dan siapkan makan siang! Seperti biasa dia minta dibuatkan teri nasi! Ya! Belikan sajalah di toko pasar yang murah. Pakai uangmu dulu, nanti kuganti. Ingat, Tsunade. Kepala! Kepala tanpa badan! Misi ini jangan sampai gagal atau kau kupecat. Mengerti? Oke."
Di seberang sana, Tsunade hanya terpaku. Dia bahkan belum berkata apa pun tapi Kabuto sudah menyuruhnya seperti orang gila.
"Baiklah, demi Sasuke. Aku harus berjuang mencari nafkah, walau pekerjaan ini sangat berat bagiku. Sasuke, kenapa kau tak juga mengaggapku sebagai ibumu?" gumam Tsunade seraya menitikkan air mata.
Tsunade pun segera menyetop angkutan umum berwarna magenta dan menaikinya. Tujuannya sekarang adalah pasar tradisional.
-pembatas-
"Di mana benda sial itu? Kalau tak dapat 5 kilo botol bekas, hari ini aku tidak makan. Sial!" umpat Sasuke. Sasuke tengah berkutat dengan tumpukan sampah. Dia sudah mencari botol bekas sejak pukul setengah 3 dini hari dan hingga saat ini baru mengumpulkan 3 kilo botol bekas.
Dia tersadar bahwa sudah waktunya untuk menyudahi pekerjaannya.
"Sudah waktunya untuk berangkat," gumamnya.
Dia beranjak dari tempat itu lalu mengambil ranselnya yang bermerk ternama yang sedari tadi tergeletak di dekat sebuah karung berwarna putih yang berisi botol-botol bekas. Ia lalu memakai ranselnya dengan santai walau peluh dan bau yang tak sedap sudah melekat pada dirinya. Dengan langkah yang tidak tergesa, dia segera keluar dari lingkungan persampahan kumuh itu menuju angkutan umum berwarna magenta yang sedari tadi menantinya.
"Masuk Sas." kata sang supir. Sasuke mengangguk kecil.
"Bang, utang saya yang kemarin jangan dibahas ya Bang." bisik Sasuke kepada sang supir.
Sang supir pun mengangguk dengan pasti.
Ternyata di dalam mobil itu sudah duduk Tsunade sambil mendekap kantung belanja berbau amis. Sasuke mendengus melihat ibu angkatnya.
"Kalau ingin berangkat sekolah, rapikan dulu pakaianmu," perintah Tsunade kepada Sasuke.
"Cih, tak usah menasehatiku. Aku hanya kebetulan terjebak dalam satu mobil denganmu, kau bukan orangtua kandungku maupun saudaraku, Tsunade." jawab Sasuke datar.
PLAKKKKK!
-pembatas-
"KYAAAAA SASUKEEEEEHH!" seru Sakura histeris. Sasuke tidak menoleh.
"GYAAAA! DIA TAMPAN SEKALI!" seru Ino lebih histeris. Sasuke juga tetap tidak menoleh.
"PERSETAN KAU SASUKEH!"
Saat dipanggil persetan, Sasuke menoleh ke sumber suara. Gaara... Mau apa lagi dia? Selalu saja mencari keributan denganku, kata Sasuke dalam hati.
"LIHAT ! LIHAT ITU! SASUKE MELIRIK KE ARAHKU! KYAAAAA!" teriak Shino* melengking.
"DASAR CODOT! CODOT KAU SASUKE!" seru Gaara lagi.
"SAKURA, JAUHI SASUKE! DIA MILIKKU! SASUKE SELAMAT PAGI!" Ino berteriak dengan lantang.
"Cih," dengus Sasuke kesal. Dia benci kebisingan yang dibuat oleh para fansgirlnya.
-pembatas-
"Benar kata Kiba, saat makhluk hijau ini masuk, bau sampah di mana-mana," sindir Sakura sambil menutup hidungnya. Sakura tidak sadar bahwa bau sampah sudah ada semenjak Sasuke memasuki kelas.
Siswa-siswi di kelas dengan sangat gencar membicarakan Lee dengan suara yang keras sehingga terdengar oleh Lee. Tak ayal lagi, Lee pun meledak emosinya.
"CUKUP TEMAN-TEMAN! Aku tidak tahan mendengar kalian mengolok-olokku seperti itu! Kalian boleh menghinaku sehina mungkin, tapi jangan pernah menghina dan memfitnah kakekku! Jangan pernah!"
Semua siswa yang ada di kelas saling tatap satu sama lain, tak menyangka kalau seorang Rock Lee dapat membalas perkataan seperti itu. Mereka kira Lee adalah bocah yang polos. Itu tidak masuk akal mengingat bahwa Lee memakai baju. Sedangkan polos adalah bugil*.
BRAAK!
Rock Lee memukul mejanya dengan keras seraya berdiri. Mengagetkan berpasang-pasang mata yang menatapnya. Hinata bahkan sudah bersembunyi di belakang punggung Neji, sepupunya. Neji menatap Lee dengan pandangan kosong. Andai saja Hinata tahu perasaan takutnya saat punggungnya bersentuhan dengan tangan milik Hinata, batin Neji. Sejujurnya, Neji mempunyai banyak panu di punggungnya. Ia tak ingin sepupunya yang cantik mengetahui ia berpanu. Apalagi Neji hari ini tidak memakai kutang*.
Lee pun mulai menumpahkan emosinya sehingga ia dikeluarkan dari kelas oleh Sensei Kakashi. Sakura pun menyusul keluar kelas.
-pembatas-
"Kau terlambat Sakura. Kau terlambat 5 menit 32 detik." kata Naruto saat melihat Sakura.
Naruto pun melanjutkan kegiatannya mengasah pisau daging.
"Kau terlalu berlebihan, Naruto. Hei, kudengar kau ini anak haram ya? Hahaha." balas Sakura tertawa geli.
"Hahaha, kata siapa?" Naruto membalas dengan cengiran.
"Kataku barusan. Kau bodoh ya? Hahaha." Sakura pun tertawa lagi.
Tek.
Naruto meletakkan pisaunya. Ia berhenti mengasah.
"Kau hanya lulus TK kan? Pantas bodoh."
"Kau tidak tahu apa-apa tentangku Sakura."
"Hahahaha... Aku kan hanya bercan-"
CRAASSSHH!
Kata-kata Sakura terhenti karena sabetan pisau daging yang sudah menebas lehernya. Darah dari leher Sakura merembes membasahi seragam sailornya.
"K-kau apa-apaan Naruto? Hahaha, ini mimpi kan? Hahahahaha..."
"Kenapa ia masih saja bersuara?" gumam Naruto.
"Hahakk...darah...ini darahku? Hahah.."
"Itu memang darahmu, bodoh. Aku ingin melihat seberapa besar otakmu. Kita lihat siapa yang hanya lulusan TK."
-pembatas-
"Sensei sudah membagi kalian ke dalam beberapa kelompok belajar. Diharapkan mulai hari ini kalian sudah mulai belajar bersama." jelas Sensei Guy.
KRIIINGG
Bel sekolah pun berbunyi menandakan sekolah telah usai.
Saat akan membereskan tasnya, Lee melihat tas yang dikenakan Sasuke. Tas merk CHANNEL berwarna hitam. Sepertinya Lee mengenali tas milik Sasuke.
#Flashback
"Tuan Muda, ini Anda telah dibelikan tas dan arloji merk rendahan," kata Kabuto
"Yang penting warnanya hijau, terserah mau merk apapun."
"Sayang sekali warnanya hitam, mau diapakan?"
Lee pun melirik tas itu dan melihatnya selama beberapa detik.
"Berikan ke panti asuhan, sayang kalau dibuang daripada mubazir," balas Lee ia mengingat masa-masa saat ia berada di panti asuhan.
"Baik, Tuan Muda."
Lee pun pergi.
Dengan menggerutu, Kabuto pun segera menelepon Tsunade.
"Halo? Ya, aku majikanmu, Tsunade. Cepat segera ke rumah majikanku. Ada barang bekas, tolong berikan ke panti asuhan. Tetapi kalau kau mau ambil saja. Akan aku tutup teleponnya. Oh ya jangan lupa aku bosmu."
tut..tut..tut.
Keesokan harinya Tsunade mengambil tas tersebut dan memberikannya pada Sasuke.
-End of Flashback-
"Sasuke tasmu bagus sekali," puji Lee kepada Sasuke. Walaupun Lee tahu, bahwa itu tas miliknya dulu.
"Tentu saja tas milik Sasuke bagus, dasar bodoh," kata Ino yang entah sejak kapan dia makan kulupan orang Sunda hhhhhhaaaaaaaaaaaaaa (ini adalah fase di mana sang author tepatnya si aiginh4 sedang ngestuck dan si rexyrajak malah makan chiki* sobami. Alhasil? GAJE!)
Sasuke pun melirik tas anyaman milik Lee dengan sinis.
"Kenapa Lee? Masalah buatmu?" balas Sasuke dingin.
"Ah, bukan masalah kok. Ohya, kau dapat salam dari Gaara. Katanya, salam jari tengah. Entah apa artinya. Aku juga tidak mengerti." kata Lee polos.
"Sebenarnya, apa masalah Gaara denganmu, Sasuke? Mengapa ia sangat membencimu?" tanya Ino.
"Masalah pribadi yang mendalam... Mungkin aku telah berbuat salah padanya." Sasuke menjawab lambat.
-pembatas-
"Kau harus mati* di tanganku, Sasuke." ucap Gaara sambil memegang boneka santet* yang sangat mirip dengan Sasuke.
BERLANJUT
Apakah yang akan terjadi dengan Sasuke? Apakah kami telah mengabaikan Kiba di chapter ini? Apakah Kiba tokoh kunci di fic ini? Apakah konflik yang terjadi di antara Sasuke dan Gaara?
Penjelasan:
*menguap: proses perubahan bentuk cair menjadi gas
*belek: kotoran mata
*guling: seikat benda mirip pocong yang kau peluk saat malam
*coat: jas hitam, semacam itulah (kesimpulan: kami tidak tahu) tahu? review
*Shino: tadinya ini typo. Seharusnya bukan Shino yang berfangirling, tapi Karin. Tapi tangan kami terpeleset sehingga mengetik Shino. Jadi yasudahlah.
*bugil: telanjang
*kutang: kaus dalam, bukan BH
*chiki: snack anak-anak murahan yang mengandung MSG penyebab kanker namun disukai anak-anak. Kasian anak-anak itu...Kasian rexy yang barusan makan..
*mati: mati ya mati, tidak bernyawa
*santet: ilmu hitam khas Indonesia
A/N: Terima kasih kepada para fans berat kami, silent reader, dan lebih lebih kepada para pereviewers. Oya, kemarin siapa yang minta tanda tangan kami di pasar ikan? Halo? Haloooo? Kaliankah itu?
Balasan review buat yang ga login:
Omes: Maaf Anda laki-laki atau perempuan? Kami anak di bawah umur jadi masih polos.
ripiu: Makasih ya, ini udah apdet dik (merasa tua)
niken: hai niken temen gua kelas 7 ya? aduh gua lupa muka lo yg mana (intan). hei niken, temen gue kelas 10 ya? aduh ada pr ngga? (rexy) makasih ken udah review
Lockey anon: Haha kata-kata kotor emang ga lepas dari kami, ini udah apdet, review ya. makasih ya
RajaKelelawar: Hai Raja Kelelawar, kenalkan kami Codot Bersaudara! Kita berarti sebangsa ya? makasih loh udah review
pulautaro: pulau taro dimana? eh taro tau gak hop-hop rasa taro? itu kesukaan aku sumpah! (intan) maaf, temen gue emang suka bales review ga bermutu gini, gue jd malu (rexy) *nosebleed* makasih udh review
Yang Login dibalas lewat PM
^^ Mind to review? Tekan tombol review di bawah ^^
DENGAN PENUH CINTA, CODOT BERSAUDARA.
-pembatas-
