Title : Kiss Under The Rain
Disclimer : Naruto Masashi Kisimoto
Kiss Under The Rain Hyori Sagi
Summary : Bagi Sasuke, Sakura adalah sosok yang aneh. Di antara sekumpulan wartawan, perempuan itu tampak lain sendiri. Rambutnya yang pink lembut sepanjang bahu, sangat mencolok. Ketika pandangannya tertumbuk pada mata Sakura, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Mata Sakura yang berwarna hijau emerald menurut Sasuke sebenarnya bagus, namun ukurannya yang terlewat besar membuatnya ingin tertawa.
Rated : T
Genre : Romance/General
~ Chapter 2 ~
~ Sasuke POV ~
Aku diundang Ino untuk menghadiri acara diskusi cerpen para wartawan ini. Aku merasa ini adalah salah satu kewajibanku untuk datang karena KEBETULAN aku berada di bagian media massa, publik, pendidikan, dan kebudayaan. Melelahkan juga sih, tapi mau apa lagi?? Semua sudah terlanjur! Aku sering sekali mendapat keluhan-keluhan dari para wartawan atau pekerja di media massa yang sebagian besar adalah para pemula mengenai gaji mereka yang sangat tidak sebanding dengan hasil jerih payah mereka. Tapi, bukankah memang kewajibanku untuk mendengar semua keluhan mereka?? Dan bukankah ini tugasku untuk membenahinya??
Hah . . .
Mendokusai!!
Kenapa dulu aku bisa tertarik dengan pekerjaan ini ya?
Entahlah . . .
Aku sendiri bingung.
Yah . . .
Tapi aku bisa sedikit bernafas lega karena aku tidak merasa menjadi seorang "terdakwa" yang harus mendengarkan keluhan dan protes dari para wartawan itu. Aku gembira karena akan memberikan apresiasi yang baik untuk proses kreatif mereka.
Yah . . .
Tidak terlalu buruk lah!
~ End Of Sasuke POV ~
Sakura mulai merasa bosan dengan diskusi yang berpanjang-panjang. Ia mengembuskan nafas panjang berkali-kali. Ingin rasanya ia meninggalkan ruang diskusi. Namun, ia masih harus menunggu orang untuk diwawancarainya tentang kegiatan para wartawan ini.
Menurut Ino, akan hadir seorang anggota dewan, pejabat yang mengurusi masalah publik seperti ini. Jadi sudah pasti komentar dan pendapatnya cukup penting untuk ditulis. Bukan itu saja, Sakura ingin tahu apa yang bisa dilakukan pejabat itu terhadap karya-karya wartawan pemula. Karena setiap orang, apalagi pejabat, bisa saja berkomentar dan berpendapat. Tetapi apakah orang itu---pejabat itu---mempunyai kepedulian untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul di masyarakat? Sakura tidak tahu dan sepertinya ia juga tidak mau tahu.
Sasuke melihat Sakura mulai tampak gelisah. Ia melihat mata Sakura terus mengelilingi ruangan. Matanya mencari-cari. Entah apa yang dicarinya. Sebentar-sebentar, perempuan itu juga mengusap wajahnya dengan jengah. Kian lama Sasuke menemukan kegelisahan di matanya semakin menjadi-jadi.
Sakura melihat jam tangannya. Dahinya yang lebar seperti area bandara berkeryit ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pantas saja derum kendaraan yang lalu lalang sudah mulai berkurang. Di luar tampak lampu-lampu jalanan bersaing dengan bintang-bintang.
Sebentar lagi acara berakhir. Tapi ia masih saja belum menemukan tanda-tanda kalau pejabat yang dimaksud Ino akan datang. Seharusnya pejabat itu datang sejak pukul tujuh tadi.
'Apa sih yang dipikirkan pejabat itu?? Terlambat 5-25 menit sih tidak apa-apa! Ini, sudah 2 jam setengah dan acara ini akan selesai tapi pejabat itu belum datang juga???!! Keterlaluan amat sih!!!' gerutu Sakura dalam hati.
Tapi, kebanyakan pejabat tidak suka datang duluan. Biasanya pejabat menunggu hadirin penuh dan membiarkan hadirin menantinya dengan PENUH kesabaran. Di mana-mana wajib hukumnya bila para hadirin menunggu pejabat. Karena sebelum pejabat datang maka acara tidak akan dimulai.
'Arrrrgggghhh . . .
Persetanan dengan si dewan atau si pejabat itu!
10 menit lagi tak datang aku akan pulang! Apapun resikonya!
Dipecat lah . . . Dipotong gaji lah . . .
Sabodo amat!!' gerutu Sakura lagi.
~ Tsuzuku ~
