Title: Misunderstanding
Pairing: Guanlin x Seonho
Genre: Fantasy, school-life
.
.
.
Sebuah pekikan menginterupsi aktivitas yang sedang dilakukan oleh dua remaja di tengah ruang musik.
"M-maaf mengganggu!"
"Eh tunggu ini bukan—"
Terlambat sudah. Orang itu terlanjur kabur dengan wajah yang bersemu padam, entah pikiran macam apa yang memenuhi benaknya. Seonho hanya bisa meratapi pintu yang baru saja terbanting tutup dengan tangan terjulur, menggantung di tengah udara tanpa mendapat kesempatan untuk memulai penjelasan.
Detik kemudian, tangan itu direngkuh kembali ke posisi sebelumnya. Ke dalam genggaman jemari jenjang nan putih dan dingin. Sepasang bibir melekat pada goresan kecil di atas pembuluh nadi, menjilati pergelangannya bersih dari cairan kental berwarna merah gelap.
"Sayang kalau sampai netes ke lantai," ucap lelaki itu santai saat melepaskan tangan Seonho.
Hanya beberapa saat berlalu, luka di kulitnya sudah mulai menutup dan berangsur sembuh. Memang inilah salah satu keunggulan species elf dibandingkan homo sapiens. Selain umur panjang dan proses penuaan yang teramat lambat setelah mencapai kedewasaan, para elf juga memiliki vitalitas yang jauh lebih baik daripada manusia. Ditambah dengan air liur vampire yang mengandung unsur penyembuhan, tak heran jika sayatan yang dibuat oleh taring Guanlin kini sudah tidak berbekas.
Seonho merapikan lengan panjang seragamnya, tadinya tergulung ke atas demi mempermudah proses feeding untuk Guanlin. Juga agar kain putih polos tersebut tidak ternodai oleh bercikan darah. Namun skenario itu nampaknya tak perlu dikhawatirkan, mengingat Guanlin selalu menggores pergelangan tangannya secara hati-hati dan menghisapnya perlahan, memastikan setiap tetesnya tidak mengalir sia-sia.
"Kok lesu? Aku minumnya kebanyakan ya?" tanya Guanlin yang sekarang terlihat lebih segar dari biasanya, meskipun tetap saja pucat pasi jika dibandingkan dengan manusia lain.
Sambil mengangkat tas ranselnya, Seonho menggelengkan kepala. Ia berjalan keluar ruangan—diekori perlahan oleh Guanlin—dan segera menguncinya dengan duplikat yang diberikan oleh wali kelas mereka. Sebuah hak istimewa untuk segelintir murid-murid khusus.
SMA mereka boleh saja terlihat seperti institut pembelajaran biasa di mata umum, tetapi sebenarnya menyimpan sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh sang kepala sekolah, guru-guru berjabatan tinggi dan murid kelas 'S'.
Secara resmi, 'S' adalah singkatan dari Special, yaitu murid yang kepintarannya di atas rata-rata, genius dalam bidang olahraga, ataupun mempunyai keterampilan berseni. Bagi mereka yang terlibat, 'S' merupakan alias untuk Supernatural. Setiap murid kelas 'S' beridentitas non-human, meskipun penampilan luar mereka berkata lain. Ya, memang salah satu syarat memasuki sekolah ini adalah kebolehan menyamarkan diri sebagai manusia. Jika bukan makhluk yang pada dasarnya memiliki tubuh humanoid, mereka harus bisa mengubah wujud dengan sempurna agar bisa membaur dengan pelajar lainnya.
Mengapa sampai sebegitu ketatnya? Jumlah murid 'special' jika dibandingkan dengan murid biasa berupa 5%. Sangat kecil, bukan? Tunggu sampai kau tahu bahwa jumlah makhluk supernatural dibandingkan dengan manusia di Korea Selatan hanyalah 0,00003%. Bisa dibilang semua makhluk supernatural yang belum dewasa dan memenuhi kriteria masuk belajar di sekolah ini. Belajar mengasimilasikan diri ke dalam dunia yang sekarang telah dikuasai oleh para manusia. Semuanya demi melestarikan species mereka masing-masing. Jaman telah berubah drastis, dimana sosok misterius para makhluk supernatural tidak lagi ditakuti ataupun disembah, melainkan diburu, deselidiki dan dibasmi.
Guanlin dan Seonho termasuk golongan yang cukup beruntung karena wujud asli mereka hampir tidak ada bedanya dengan homo sapiens normal. Lain halnya dengan kebiasaan mereka. Atau lebih tepatnya, tuntutan hidup Guanlin.
Vampire asal Taiwan tersebut pindah ke sekolah mereka sekitar enam bulan yang lalu. Boa-ssaem, selaku wali kelas yang bertanggung jawab atas kesejahteraan murid spesial, langsung memasangkannya dengan Seonho ketika mengetahui bahwa dia belum memiliki sumber darah yang tetap. Keputusan yang masuk akal, karena sejujurnya, cuma Seonho pilihan satu-satunya. Werewolf, witch, wizard, fairy, siren dan makhluk-makhluk yang kekuatan gaibnya mengalir di darah mereka bisa mengontaminasi dan merubah susunan tubuh Guanlin. Apalagi species binatang mistis yang dapat merubah wujud. Bisa-bisa bukannya kelelawar, Guanlin malah berubah menjadi rubah atau rakun.
Dari semuanya, elf adalah makhluk yang paling mirip dengan manusia. Terlebih lagi, daya tahan tubuh kuat menjadikan mereka target asupan darah yang paling aman bagi para vampire. Kedua makhluk antar species tersebut bagaikan telah ditakdirkan bersama. Yah, meskipun bila sekilas dilihat yang diuntungkan hanya pihak vampire, para elf jarang keberatan mengulurkan bantuan jika itu berarti mengurangi korban manusia yang disebabkan oleh vampire berserk kelaparan. Anggap saja mengambil bagian menutupi jejak makhluk supernatural dari para manusia.
Seonho pun awalnya senang bisa berguna bagi sesama kaum supernatural. Ia dan Guanlin cepat berteman dan bertambah dekat karena sering menghabiskan waktu bersama. Banyak yang mengira mereka saudara kembar maupun kakak-adik, walaupun sebenarnya wajah keduanya tidak semirip itu. Mungkin karena pengaruh berbagi darah, aura mereka kian menyerupai satu sama lain.
Kalau saja ia memperhatikan sekitarnya dan bukannya merenung semenjak tadi, lontaran kalimat Guanlin tidak akan terdengar mengejutkan. "Kamu beneran gakpapa? Jangan bohong." Sang vampire melirik ke arahnya, mencari matanya.
Lagi-lagi ia menggeleng, menambahkan jawaban singkat agar lebih meyakinkan. "Beneran kok."
"Terus kenapa lemes?"
Seonho menghela napas, bingung. Besar kemungkinannya terkesan menyalahkan Guanlin jika ia mengutarakan ganjalan di benaknya. Padahal ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Akhirnya ia memilih untuk jujur, karena bagaimanapun sangat tidak enak rasanya menyembunyikan sesuatu dari Guanlin.
"Udah dua kali ada manusia yang liat kita waktu Hyung lagi minum," mulainya pelan. Akhir-akhir ini, jadwal feeding Guanlin yang tadinya teratur menjadi tidak bisa ditebak. Dia bisa mendadak kelaparan di tengah hari walaupun sudah menghisap darah Seonho kemarinnya, sedangkan sebelumnya minum tiga hari sekali pun masih cukup. Kata Seokhoon-ssaem, semua vampire melalui gejala semacam ini ketika mereka mulai beranjak dewasa. Kekuatan dan struktur internal tubuh mereka akan mengalami perkembangan, dan salah satu dampaknya adalah pola makan yang spontan dan acak.
Hal ini tidak akan menjadi masalah jika serangan lapar terjadi pada jam pelajaran, di tengah-tengah kelas yang dipenuhi makhluk supernatural. Namun minggu lalu Guanlin hampir berubah wujud saat mereka berada di kantin, dan alhasil Seonho terpaksa menariknya ke koridor terdekat dan membiarkannya menghisap darah langsung dari nadi di lehernya. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya, karena pergelangan tangan adalah bagian tubuh yang telah mereka sepakati sejak diskusi pertama. Sialnya, invisible spell yang dipasang Haknyeon pecah karena dia dikagetkan oleh murid manusia yang menepuknya dari belakang. Wizard itu buru-buru menggeret temannya pergi, tetapi si manusia terlanjur melihat Seonho dan Guanlin dalam posisi mereka yang memang nampak sugestif diluar konteks sebenarnya.
Bila mengingat kembali peristiwa itu, Seonho ingin rasanya meminjam kekuatan Park Woojin, berubah menjadi werewolf, menggali lubang tanah yang besar dan dalam, lalu mengubur dirinya sendiri.
Hari ini pun, setelah minum semalam yang lalu, Guanlin mengeluh tenggorokannya kering saat mereka sedang menuruni tangga. Karena tergesa-gesa menuju ruang musik yang juga berperan sebagai ruang emergensi bagi para murid kelas 'S', Seonho lupa mengunci pintu. Keteledorannya membiarkan seorang lagi manusia menyaksikan adegan yang tidak seharusnya mereka perlihatkan.
Kejadian barusan memang tidak sememalukan minggu kemarin, tapi ia yakin akan memperdalam rumor yang telah tersebar tentang hubungan 'abnormal' mereka berdua. Tugas terpenting murid supernatural adalah menjadi se'normal' mungkin, dan ia merasa sedih telah gagal melaksanakannya.
Setelah mendengar curhatan Seonho, Guanlin menepuk-nepuk kepala sang elf. "Gak ada yang abnormal dari sepasang manusia—well, makhluk hidup yang saling menyayangi."
Seonho terdiam. Ia pun setuju, tapi pikiran manusia jauh lebih rumit dari itu. Mereka menerapkan berbagai macam larangan, aturan dan alasan aneh yang menyudutkan sesama kaumnya sendiri.
"Yang abnormal itu mungkin ngelakuin hal-hal yang gak sepantesnya tanpa status yang jelas."
Langkahnya terhenti, wajahnya ditolehkan menghadap remaja di sebelahnya. Ia tidak pernah menganggap apa yang mereka lakukan 'hal yang tidak pantas', karena menurutnya, perihal kelangsungan hidup Guanlin adalah 'hal yang sangat penting'. "Maksud Hyung, kita memang abnormal gitu? Padahal kan itu karena mereka salah paham sendiri…"
Sang vampire terkekeh kecil, menyebabkan Seonho memajukan bibir atasnya tanpa sadar.
"Jadi, menurut Hyung, harusnya gimana dong?"
Dengan cengiran miring yang kian melebar, Guanlin menatapnya hangat. "Jadi, supaya bukan sekedar kesalahpahaman, kita pacaran aja yok."
.
.
.
Chapter 1 untuk couple kesayangan :D hehehehe. Tadinya mau bikin sesuatu yang lucu, lebih ringan dan lebih banyak humornya, tapi ntah kenapa jadinya begini lol. Semoga bukan permulaan yang terlalu membosankan ^^; Makasih untuk yang sudah fav, follow, ninggalin review dan kasih semangat ya! Kalo bareng Guanlin saya memang biasanya gak nulis Seonho terlalu aktif ngejar/nempelin karena emang kenyataannya gak begitu wkwkw, tapi sama pairing lain seharusnya aspek hyung collectornya keliatan lebih jelas hehe :)
See you next chapter!
