Jeon Somi adalah gadis yang mudah mengekspresikan perasaannya.

Di antara teman-temannya; ia, Yoojung, dan Jinsol adalah happy virus sekaligus cry-baby. Namun diantara ketiganya, Somi adalah cry-baby pertama. Gadis cantik keturunan Kanada ini memang yang paling mudah menangis di antara semua murid di kelas maupun angkatannya. Meski sudah beranjak remaja dan memiliki seorang adik, Somi tidak bisa merubah perilakunya itu. Ia tetap tumbuh sebagai happy virus dan cry baby yang bisa menangis dalam momentum apapun. Baik momentum yang dimilikinya maupun orang lain.

Namun entah karena kotak emosinya yang mendadak rusak atau bagaimana, saat ini ia justru tidak dapat mengekspresikan perasaannya.

Jujur, Somi benar-benar butuh menangis agar sesak yang tengah menderanya setidaknya berkurang sedikit sehingga ia bisa bernapas sejenak.

Sayang, itu hanya angannya semata.

Pasalnya, Somi mendadak lupa bagaimana caranya menjadi cry-baby. Gadis itu hanya dapat termangu dan memandang kosong ke depan. Somi bahkan tidak menyadari pandangan khawatir dan panggilan dari teman-temannya karena terlalu terhanyut dalam lamunannya.

Iya, lamunannya akan perkataan Bae Jinyoung yang membuatnya sebegini tersiksa.

"Yya, Jeon Somi!"

Akhirnya setelah nyaris setengah jam mengabaikan mereka, Somi memutuskan menoleh. Ia mengukir senyum tipis, "Kenapa?"

"Lo yang kenapa!" Kim Doyeon—gadis cantik yang paling sering mengomelinya—berkata kesal. Sepasang alis pada paras cantiknya nampak bertaut tidak senang, "Sejak bertemu Baejin tadi, lo kayak orang aneh tahu, nggak?"

Somi tertawa, "Gue 'kan memang aneh. Kalian juga sering bilang begitu."

"Jangan bohong deh, Kak. Gue tahu ada yang nggak beres sama kalian," Seo Herin—adik kelas yang menjadi sahabatnya juga—mengusap bahunya lembut. "Kenapa?"

Somi menggeleng dan tersenyum saja.

"Jinyoung ngomong sesuatu yang buruk, ya?!" Lee Jinsol—partner kedua Somi dalam menangis—bertanya khawatir.

"Som, kalau lo sampai nggak bilang apa-apa ke kami, gue pastikan masalah ini sampai ke Jieqiong, Mina, Tzuyu, dan Chaeyoung!" ancam Doyeon dengan ekspresi sinis.

Somi menatap temannya itu lantas tersenyum lagi, "Gue nggak kenapa-kenapa, Yeon. Serius."

Choi Yoojung—partner pertama Somi dalam menangis—memilih menatap mata Somi yang sudah menyorot ke arah lain. Dan setelah menyadari arti pandangan gadis blasteran tersebut, Yoojung mematung. Segera ia menangkup wajah Somi dan memberikan tatapan horror, "Tolong jangan bilang Baejin akhirnya ngaku, Som!"

Somi akhirnya menatap Yoojung lamat lalu tersenyum lembut. Tadinya, Somi ingin sekali menjawab pertanyaan Yoojung dengan elakkan. Namun, entah mengapa ia justru mengangguk pada gadis mungil itu. Ya sudahlah, lagipula Yoojung 'kan yang tahu semuanya, batinnya.

"Iya," jawabnya ringan. "Baejin akhirnya ngaku."

Sementara Yoojung masih terjebak dalam rasa terkejutnya; Doyeon, Herin, dan Jinsol melirik satu sama lain. Sungguh, ketiganya sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan dua teman mereka itu.

Tak lama, Somi sendiri memutuskan berdiri dari tempatnya duduk dan berniat untuk pulang.

"Gue pulang dulu, ya," Somi melambaikan tangannya pada keempat temannya dan tersenyum. "Sampai besok!"

Kemudian, ia buru-buru melipir pergi sebelum Doyeon, Herin, maupun Jinsol sempat bertanya macam-macam padanya.

Well, Somi terlalu lelah untuk menjawab.

Dan juga, ia benar-benar tidak mampu untuk berpikir apapun sekarang.

—o0o—

Di antara Pocaris lainnya, Guanlin adalah orang yang paling membenci kegiatan berbelanja di mall.

Bukannya karena Guanlin tidak mampu atau apa. Hanya saja, Guanlin adalah introvert yang lebih senang berdiam diri di kamar untuk bermain PS atau nonton film di Netflix. Atau jika sedang bosan di kamar, ia akan bersepeda mengelilingi taman kota atau bermain ke rumah Jinyoung. Sungguh, ia bukanlah anak yang senang menghabiskan waktu di mall seperti ini. Namun jika bukan karena untuk menyenangkan Park Jihoon, Guanlin mana mau diajak ke COEX—ikut berbelanja pula.

"Lin, menurutmu hoodie ini bagus, tidak?"

Hoodie yang dimaksud adalah hoodie couple berwarna putih dan hitam. Jika kebanyakan hoodie memiliki desain polos maupun bersablon, hoodie yang Jihoon tunjukan padanya memiliki desain yang berbeda. Keduanya hanya memiliki lambang bintang untuk hoodie hitam dan bulan untuk hoodie putih. Lambang-lambang itu tidak tertera secara jelas di bagian depan hoodie, melainkan tersemat kecil di bagian dada kanan masing-masing. Sederhana tapi, tetap terlihat classy. Guanlin harus akui ia cukup menyukai hoodie yang Jihoon tunjukan.

Setidaknya ini barang paling normal yang Jihoon tunjukan ke gue, Guanlin membatin.

"Bagus," aku Guanlin.

Jihoon menatap Guanlin lamat lalu berkata pelan, "Mau beli ini…"

"Ya, sudah," Guanlin mengendik. "Lo beli saja."

"Tapi, aku mau kamu juga membelinya."

Guanlin terdiam mendengar perkataan Jihoon.

Well, meski ia dilahirkan sebagai pemuda tak acuh, bukan berarti Guanlin itu tidak peka.

Guanlin sebenarnya sudah menebak bahwa kemungkinan perbincangan seperti ini akan terjadi waktu Jihoon menanyakan pendapatnya sejak tadi. Namun, Guanlin berpura-pura tidak peka dan terfokus pada benda-benda yang Jihoon pilih serta mengabaikan kemungkinan tersebut.

Dan sekarang waktu kemungkinan itu terjadi, Guanlin benar-benar bingung harus menjawab apa.

Jika bilang ya, bisa-bisa Jihoon akan semakin salah paham dengan semua ini.

Namun jika bilang tidak, Guanlin sendiri tidak yakin dapat mengatakannya.

Hah, apa boleh buat, batinnya nelangsa. "Ya, sudah."

"Eh, serius?!"

"Iya," Guanlin mengambil dua hoodie tersebut lalu tersenyum kecil ketika Jihoon menatapnya berbinar. "Lo tunggu di luar saja, biar gue yang bayar."

"Lho, tapi—"

"Nanti lo bayarin gue Starbucks saja, oke?" potong Guanlin.

Jihoon tersenyum semakin lebar dan mengangguk lucu, "Eum! Terima kasih!"

Setelah kepergian Jihoon, Guanlin memutuskan untuk segera pergi ke kasir. Dia benar-benar ingin segera keluar dari toko ini (kalau bisa sih mall-nya sekalian) dan membeli Frappuccino. Guanlin benar-benar butuh asupan minuman dingin dan manis sesegera mungkin sebelum meledak menjadi Hades saat ini.

"Hanya ini saja, Kak?" penjaga kasir itu bertanya pada Guanlin waktu ia menyerahkan belanjaannya.

Guanlin hendak mengiyakan tapi, pandangannya jatuh pada boneka Sallysalah satu karakter di Line—berbagai ukuran di etalase belakang kasir. Senyuman tulus terbentuk di wajahnya saat boneka berbentuk anak ayam itu mengingatkannya pada ppiyak bawel kesayangannya. Tanpa berpikir panjang, Guanlin menunjuk boneka berukuran paling besar pada penjaga kasir.

"Saya mau boneka itu satu," kata Guanlin lalu membuka dompetnya.

Kasir tersebut mengangguk paham kemudian mengambil boneka yang Guanlin maksud. Setelah mengambilnya, kasir itu tersenyum ramah pada Guanlin, "Untuk pacarnya ya, Kak?"

Guanlin balas tersenyum, "Do'a-kan saja begitu."

"Semoga lancar ya, Kak," balas kasir itu sambil memeriksa harga barang-barang yang Guanlin inginkan. "Oya, perlu kami bungkus juga bonekanya?"

"Tidak, terima kasih," tolak Guanlin sopan lalu menyerahkan black card-nya.

Setelah melakukan proses transaksi dengan membayar tagihan, Guanlin langsung memasuk black card-nya lagi ke dalam dompet dan meraih belanjaannya. Ia tersenyum lagi pada kasir tersebut sebelum melipir pergi meninggalkan toko pakaian tersebut.

Entah mengapa, rasa-rasanya Guanlin sungguh tidak sabar untuk pulang sekarang.

—o0o—

Azalea's Coffee adalah tempat kesukaan Bae Jinyoung untuk menyendiri.

Sejak setahun terakhir, kedai kopi milik kakak sepupunya itu memang telah menjadi destinasi favoritnya di COEX. Meski seringkali dipadati pengunjung, entah mengapa Jinyoung selalu menemukan ruanguntuk menyendiri. Dan meski ia juga harus mengantri lama untuk mendapat Americano buatan Kim Taehyung—sepupunya—Jinyoung tetap saja menyukai kedai ini.

Memang kedai kopi ini tidak seluas Starbucks atau kedai kopi lainnya. Namun, suasana vintage minimalist dengan dominasi warna putih tempat ini selalu membuat Jinyoung merasa di rumah. Terlebih sepupu nyentriknya yang kebetulan seorang arsitek itu pun menambahkan beberapa rak buku berisi novel-novel berbagai genre sebagai teman minum kopi. Ia juga mendesain kedainya sedemikian rupa sehingga banyak spot bagus untuk berfoto.

Well, Jinyoung harus akui bahwa sepupunya itu memang sangat jenius dalam mendesain apapun. Tidak heran jika pemuda 25 tahun itu dapat mengantongi banyak keuntungan dari kedai yang awalnya dibuat karena iseng saja. Apalagi sepupunya itu juga ahli sekali dalam meracik kopi. Dan kemahirannya pun sudah diakui oleh banyak barista ternama di Seoul. Sungguh, Jinyoung tidak akan terkejut jika Azalea dikatakan sebagai salah satu kedai kopi ternama di COEX maupun Seoul saat ini.

"Sendirian lagi?"

Jinyoung bergumam trims pada Taehyung saat pemuda itu menghidangkan segelas Americano dingin dan sepiring Red Velvet di mejanya, "Memang bersama siapa lagi?"

"Entahlah," setelah memberi kode pada Jung Hoseok—salah satu pekerjanya—bahwa ia akan bersama Jinyoung, Taehyung pun mendudukan diri di hadapannya. "Mungkin bersama Woojinie atau Dewi…?"

"Daehwi, Kak," ralat Jinyoung sambil tertawa pelan. Ia menutup novel yang tengah dibacanya lalu beralih pada Taehyung. "Mereka sedang sibuk."

"Sibuk berpacaran, ya?"

"Itu Kakak tahu."

"Astaga, anak kecil jaman sekarang."

Jinyoung menyeringai tipis, "Tahu sih yang pernah ena-ena makanya bisa disebut dewasa."

"Aset lo mau gue jadikan bahan omelette?" Taehyung meraih sendok kue yang belum terpakai lantas menjitak Jinyoung dengan itu.

"Duh, masih saja galak padahal sebentar lagi mau menikah," gerutu Jinyoung. "Gue 'kan cuma bercanda."

"Bercanda lo nggak lucu," Taehyung mendengus. "Sudah ah, gue mau ke dapur."

Sebelum Taehyung benar-benar meninggalkan kursinya, Jinyoung langsung menarik ujung celemek yang digunakan sang sepupu. Kemudian, pemuda yang selalu berekspresi serius itu menatap Taehyung lekat. Setelahnya ia tersenyum sendu pada Taehyung yang kini memandangnya heran.

"Jangan pergi dulu," bisiknya pelan. "Gue masih ingin ditemani Kakak sekarang."

Taehyung tidak menjawab apa-apa selain mendudukan dirinya. Pemuda kelahiran 1995 itu menarik senyum tipis dan mengacak surai Jinyoung lembut.

"Jadi, lo mau cerita apa?"

—o0o—

"Kamu tuh jadi cowok kenapa nggak bisa hati-hati, sih? Gregetan Bunda jadinya."

Yoo Seonho mengaduh saat sang bunda dengan sengaja menekan luka pada sikunya dengan kapas yang sudah dibubuhi Betadine. Sambil merengut, ia hendak melayangkan rengekannya. Namun, hal tersebut tidak terealisasikan saat menyadari ada seorang gadis yang kini tengah memerhatikan sambil tersenyum geli di sebelahnya. Akhirnya demi menjaga image, Seonho pun memilih diam dan membiarkan Bunda mengobati lukanya walau dalam hati dia sudah misuh-misuh kesakitan.

"Nak Somi, maafkan anak Tante, ya? Dia memang ceroboh sekali, maklum bungsu," Bunda Yoo berkata usai menempelkan perban pada siku sang anak. Wanita cantik itu tersenyum penuh penyesalan pada gadis di sebelah Seonho.

Jeon Somi—gadis di sebelah Seonho yang kebetulan adalah kakak kelasnya di sekolah—langsung menggeleng dan tersenyum cantik, "Harusnya saya yang minta maaf, Tante. Sebetulnya saya yang menabrak Seonho tadi."

"Nggak, pokoknya ini semua salah Seonho," Bunda Yoo bersikeras sambil menatap gemas anaknya. "Kalau saja dia bisa berhati-hati saat bersepeda, Nak Somi pasti nggak bakal lecet-lecet begini," lanjutnya. "Duh, Tante jadi benar-benar tidakenak membuat cewek cantik luka seperti ini."

Somi tersenyum sopan, "Tidak apa-apa, Tante."

"Terus Bunda enak melihat aku luka-luka begini?" tanya Seonho yang langsung dihadiahi jeweran manis di telinganya. "A-akh! Bunda, sakiiiit~!"

"Kamu diam saja, ya. Bunda sekarang masih marah sama kamu, lho," Bunda Yoo menggerutu lalu melepas jewerannya. Kemudian, ia kembali beralih pada Somi yang tengah menahan tawa. "Nak Somi mau makan apa?"

"Tidak perlu repot-repot, Tante. Sebentar lagi kakak saya datang jadi saya akan makan bersamanya," tolak Somi halus masih sambil tersenyum. "Terima kasih atas tawarannya."

"Kalau begitu Tante buatkan teh lemon dan snack saja, ya."

"Eh? Tidak perlu, Tan—"

"Perlu," Bunda Yoo memotong ucapan Somi lalu mengusap lembut surai cokelatnya. "Sebagai tanda permintaan maaf Tante dan Seonho karena sudah membuat kamu luka begini."

Somi mengerjap sebelum akhirnya tersenyum lagi, " A-ah, sekali lagi terima kasih, Tante."

Bunda Yoo hanya tersenyum lalu segera melenggang menuju dapur.

Usai kepergian sang bunda, Seonho langsung memutar posisi duduknya menjadi menghadap Somi. Pemuda 16 tahun itu menggaruk tengkuknya canggung. Sepasang netra cokelatnya memandang Somi bersalah. "Kak," panggilnya. "Maaf ya karena keteledoran gue, Kakak jadi luka-luka seperti ini."

"Ya, ampun," Somi tertawa pelan. "Gue 'kan sudah bilang kalau tabrakan tadi murni kesalahan gue. Kalau saja gue jalan di trotoar, kita pasti nggak bakal tabrakan begini," jawab gadis blasteran itu sambil tersenyum pada Seonho. "Maaf, ya?"

Seonho balas tersenyum lebar lalu mengangguk penuh semangat. "Oke!" dan masih dengan senyum kekanakannya, ia mengajukan kelingking kanannya pada Somi. "Ayo baikan agar kita tidak ada slek setelah ini!"

Gadis yang saat ini duduk di sebelah Seonho langsung memasang ekspresi gelinya, "Lo serius ngajakin gue baikan pakai jari kelingking?"

"Iya," jawabnya sambil mengangguk polos. "Memang kenapa?"

"Bukannya ini kekanakan banget, ya?" tanya Somi masih dengan senyum gelinya.

"Iya, sih," Seonho menyengir. "Tapi, baikan seperti ini masih sering gue praktekin ke kakak dan teman-teman gue, kok!"

Kok, gemas (:c), Somi membatin. "Ya, sudah sini," ia menautkan kelingkingnya ke Seonho dan menggoyang-goyangkan tautan mereka gemas. "Kita baikan, oke?"

"O—"

"Seonho, kamu sedang apa?"

Tanpa melepaskan tautan kelingking mereka, dua insan yang baru saja berbaikan itu langsung menoleh ke arah sumber suara.

Menyadari siapa yang baru saja menanyainya, Seonho langsung tersenyum lebar.

"Kak Alin!"

to be continue

Author's Note

Halo, semua!

Aku mau berterima kasih kepada semua yang meluangkan waktu untuk membaca ceritaku dan memberikan feedback yang kubutuhkan. Serius aku nggak nyangka bakal dapat respon yang baik dari kalian. Aku kaget pas lihat ternyata ada yang mau me-review, mem-follow, dan menjadikan favourite juga:") Huhuhu, sekali lagi terima kasih banyak ya semua, aku jadi semangat untuk melanjutkan cerita ini! xD /bow/

Btw, maaf aku telat update karena keasyikan liburan:") /halah bilang saja malas bikin chap baru/. Terus maaf juga untuk GuanHo shipper karena chap ini mengambil moment PanWink dan SeonMi(?) HEHEHE, ini sesuai dengan alur, kok c:

Dan seperti chap sebelumnya, aku masih membutuhkan bimbingan kalian :D

So, mind to review? :)