"Jadi?" Naruto memulai percakapannya dengan Sakura di dalam mobil. Dia tidak tahan jika harus menahan semua pertanyaan yang telah menumpuk di benaknya sejak semalam, Sakura tampak menghela nafas berat dan menyandarkan kepala pada sandaran jok mobil.

"Entahlah," katanya mengedikkan bahu. "Bahkan aku tidak sanggup membayangkannya." Kata Sakura seraya memejamkan mataya. Ia melepas kacamata tebalnya dan mengurut pangkal hidungnya sampai kemerah-merahan. Sakura belum bisa menerima kenyataan kalau masa mudanya akan binasa begitu saja, menghabiskan waktu yang cukup lama bersama seorang Uchiha yang sudah beristri.

"Hmm, apa kau tidak bisa membatalkannya?" Naruto berharap agar sahabatnya ini dapat membujuk kakeknya untuk membatalkan perjodohan konyol itu. Seharusnya Sakura bisa, tapi dia tidak...

"Kau tahu 'kan kakek Hasirama, dia akan meninggal lebih cepat jika aku tidak menuruti keinginannya." Memang tidak ada jalan lagi untuknya selain menuruti permintaan kakeknya itu. Hasirama sangat memanjakan Sakura sejak kecil, dia sangat menyayangi cucu satu-satunya itu. Dan karena itulah Sakura tidak bisa menolak permintaannya. Hasirama akan terkena serangan jantung jika Sakura mencoba mengatakan yang sebenarnya kalau dia tidak ingin menikah, apalagi dengan suami orang.

"Kenapa harus Uchiha sih? Namikaze lebih keren dari Uchiha menurutku! Lagipula bukankah keluarga kita lebih dekat sejak dulu?" Naruto benar, seharusnya yang dijodohkan adalah dirinya dan Sakura. Mereka sudah lebih lama menghabiskan waktu bersama.

"Heh, mungkin yang benar adalah lebih konyol dari Uchiha." Kemudian Sakura tertawa mengejek sahabatnya itu. "Lagipula Naruto, kakek tidak mungkin menjodohkanku denganmu, nenekmu adalah mantan istrinya dulu sebelum nenekmu menikah dengan kakekmu." Jelas Sakura panjang lebar.

Naruto memutar bola matanya. "Apa masalahnya? Kita tetap tidak ada hubungan darah." Kata Naruto putus asa. Naruto tetap tidak bisa menerima kenyataan. Walaupun Sakura sudah menghabiskan banyak waktu dengannya, bahkan ciuman pertama Sakura juga ia dapatkan tetap saja ini tidak benar! Ia tidak bisa memilikinya.

"Lupakan! Nasi sudah menjadi bubur Naruto, kau jangan khawatir aku akan selalu ada untuk mu." Sakura mencoba membuat sahabatnya itu tenang dan tidak memikirkan apapun selain waktunya yang masih bebas bersamanya saat ini. "Ingat, aku adalah sahabatmu dan tidak ada satu orang pun termasuk si mutan itu yang akan merubah semuanya." Tegas Sakura.

"Baiklah! Kalau begitu cium aku." Naruto menunjuk pipi kanannya dan Sakura hanya terdiam seraya mengerutkan dahinya tanda tak mau. "Kalau begitu, aku yang akan mencium mu," Naruto mencondongkan tubuhnya kearah Sakura membuat laju jalan mobil menjadi tidak seimbang dan dapat membahayakan nyawa mereka.

"Eh! Kau fokus menyetir saja aku tidak mau mati muda!" Teriak Sakura histeris dan Naruto segera membenarkan kemudinya kembali.

'Mungkin akan lebih baik jika kita mati bersama daripada harus melihatmu menikah dengan orang lain Sakura.' Kata hati Naruto.

Dia benar-benar tidak bisa merelakan sahabatnya menikah dengan orang lain. Naruto sangat mencintainya lebih dari yang Sakura tahu, dialah yang selalu menjaga Sakura selama ini dan sekarang, dia harus merelakan cintanya itu direbut oleh orang lain begitu saja. Tidak bisa!

"Hei! Kau kenapa melamun?" Teriak Sakura seraya menepuk bahu Naruto. "Gerbang sekolahku sudah terlewat dasar payah! Ayo cepat putar arah."

"Eh, maaf maaf," Naruto tersadar dari lamunannya. Bahkan saat marah pun dengan tampilannya yang culun ini Sakura tetap saja terlihat cantik bagi Nauto.

"Baiklah, sampai jumpa nanti." Sakura keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya. "O'iya, nanti siang kau tidak perlu menjemputku. Mungkin aku akan pulang bersama Uchiha sialan itu." Kata Sakura sambil bertumpu pada jendela mobil yang kacanya terbuka.

"Apa? Tunggu! Dan kau mau pulang bersamanya?" Naruto sangat terkejut mendengar ucapan Sakura. Seharusnya Sakura tidak semudah itu menerima ajakan Sasuke. Mengingat gadis itu tidak begitu menyukainya.

"Ayolah, yang benar saja! Kau tahu Naruto, kakek menyuruhku pulang bersama mutan itu hari ini. Hanya untuk hari ini."

"Oke, hanya untuk hari ini?" Naruto mengangguk dengan sangat terpaksa, kemudian tersenyum manis saat Sakura kembali ke posisi tegapnya.

"Oke," Kata Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya. "Aku masuk dulu, bel sekolah sebentar lagi berbunyi. Sampai jumpa nanti." Sakura melambaikan tangannya dan berlari menuju sekolahnya.

"Sampai jumpa nanti," Naruto membalas lambaian tangan Sakura kemudian melajukan jalan mobilnya.

.

.

.

.

.

Teng ... Tong ...

Sekolah telah berakhir pukul 15:30. Sakura dan Hinata tengah berjalan santai menuju gerbang sekolahnya. Seperti biasa sepanjang perjalanan mereka mengawali percakapan dengan membahas pelajaran tadi siang kemudian mulai membahas kisah asmara Ino dan Sai, sahabat mereka yang sudah menghilang sejak bel berbunyi tadi.

"Saku, aku harus pulang duluan maaf ya," kata Hinata. Seseorang dengan rambut panjang dan mata bulan yang sangat indah seperti mata Hinata tengah menunggunya di pintu gerbang.

"Aku tahu kakak mu sudah menjemput. Pergilah! Temanku juga sebentar lagi datang." Kata Sakura. Hinata mengangguk dan melambaikan tangan pada Sakura kemudian berlari memasuki mobil putih yang dibawa kakaknya.

Setelah kepergian Hinata, Sakura mulai menghitung waktu seberapa cepat mutan Uchiha itu akan sampai menjemputnya. Namun, sudah hampir dua jam Sasuke belum juga datang membuat Sakura kesal dan jengkel. Helo! Belum pernah ada satupun pria yang membiarkannya menunggu selama ini dan Uchiha sialan itu menjadi yang pertama bagi Sakura.

"Arrrggghh! Akan kubunuh dia jika membiarkanku menunggu lebih lama dari ini." Teriak Sakura sambil menggeram kesal. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.

Sosok yang tak asing dipenglihatan Sakura pun keluar dari dalam mobil. Oh Tuhan! Kenapa wajahnya bisa setampan itu? Bernar-benar memesona, ditambah ia menggunakan kacamata hitam dan rambut yang ditata rapi. Kaos oblong putih dah jeans hitam. Postur tubuh yang sangat tinggi dengan lengan yang cukup berotot ini sempurna membuat Sakura kesulitan untuk berkedip. Ini tidak adil, kenapa Tuhan menciptakan seseorang yang sempurna seperti Sasuke untuk wanita merah dan bukan untuk dirinya seutuhnya.

"Maaf, apa kau melihat gadis kecil pendek, berambut merah muda sepertimu berkeliaran disekitar sini?" Katanya. Sasuke bertanya pada gadis yang ia maksud. Menarik gadis itu dari lamunannya yang sedang mengaguminya.

Tunggu!

Apa? Cara Sasuke bertanya seperti mengejek Sakura. Gadis kecil, pendek, berkeliaran? Caranya bertanya seperti sedang menanyakan orang hilang. Dan itu membuat Sakura kesal dan marah.

Tiba-tiba Sakura melompat dan menarik kepala Sasuke dengan cepat, membenturkannya ke kepala merah mudanya.

Dukk

"Aukkk!" Pekik Sasuke.

"Dasar bodoh! Yang kau maksud itu aku Uchiha." Teriak Sakura seraya melepaskan kacamatanya dan ikatan rambutnya yang dikepang dua.

"Apa-apaan kau ini? Kau terlihat dua kali lebih jelek dari aslinya." Ejek Sasuke setengah menahan tawa. Dia tidak bohong, Sakura terlihat aneh karena tubuhnya yang mungil terbalut seragam yang besar, seakan menelannya.

Brukk

"Auukk! Sakit tahu. Bisa tidak kau tidak menggunakan kekerasan?" Teriak Sasuke sambil memegangi kakinya yang Sakura tendang.

"Aku berani bertaruh kalau aku dua kali lipat lebih cantik dari istrimu itu." Kata Sakura. Matanya mendelik dan tanpa Sasuke suruh, dia sudah memasuki mobilnya terlebih dahulu.

"Tidak sopan." Gumam Sasuke kemudian mengikuti Sakura masuk kedalam mobil.

Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam membisu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pikiran Sakura yang sedikit ketakutan karena hanya berduaan di dalam mobil bersama seorang pedofil. Bagaimana kalau dia memperkosanya atau melakukan pelecehan padanya. Bayangan-bayangan aneh mulai muncul di benak Sakura dan ia benar-benar ketakutan sekarang. Sebenarnya bukan itu masalahnya, hanya saja Sakura merasa jijik karena Sasuke pasti sudah melakukannya bersama wanita merah itu.

Sedangkan Sasuke terus memikirkan perkataan Sakura mengenai kecantikannya yang dua kali lipat lebih cantik dari Karin. Gadis itu memang benar, dia sangat cantik, begitu cantik sampai-sampai Sasuke tak mampu memikirkan wanita lain lagi di kepalanya.

"Apa yang kau pikirkan hah?" Tanya Sakura setengah mengintrogasi karena senyum Sasuke sedikit aneh dan mencurigakan.

"Tidak ada," katanya mengedikkan bahu. "Aku hanya teringat istriku." Lanjutnya. Perkataannya kali ini membuat bibir Sakura terdiam dan enggan untuk melanjutkan pembahasan yang super duper tidak penting. Saking tidak pentingnya itu membuat Sakura sakit kepala dan ingin muntah, bahkan seakan diare melandanya.

.

.

.

.

Hari itu berjalan lumayan lancar, pertemuan Sasuke dengan kakeknya membuat Sakura sedikit kesal. Disaat Sakura menginginkan Sasuke agar segera pulang, tapi kakeknya malah mengajaknya mengobrol begitu banyak. Mulai dari bisnis, dan keluarganya menurut Sakura itu tidak penting dan membosankan. Kenapa Sasuke bisa seakrab itu dengan kakeknya? Seperti sudah kenal lama dan melakukan reuni.

.

.

.

.

.

Hari minggu.

Sakura menyukai hari minggu. Dimana hari itu adalah waktunya Naruto mengajaknya jalan-jalan dan memanjakannya sepanjang hari. ice cream dan cotton candy menjadi makanan manis favorit Sakura, Naruto sudah tahu itu.

Sweater pink dan rok mini putih menjadi pakaian yang Sakura pilih untuk ia pakai hari ini, rambut panjangnya ia gulung dan meninggalkan sedikit anak rambut di sisi kanan dan kiri wajahnya, menampakkan lehernya yang jenjang. Sepatu sport putih membungkus kakinya, tas putih yang tidak terlalu besar bergelayut di punggungnya, mata sipit, bulumata lentik dan kulit seputih porselen tanpa cacat membuatnya terlihat sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna berbalik 180 derajat dari saat ia berada di sekolah dan ini sangat memanjakan penglihatan Naruto. Sedangkan Naruto sendiri memakai jeans hitam dan sweater orange tidak lupa spatu sport putih seperti Sakura.

"Kenapa kau selalu terlihat sempurna?" Naruto bersedekap dan berdiri tegap dihadapan Sakura seperti meminta penjelasan kenapa Tuhan menciptakannya begitu sempurna.

Sakura tertawa pelan membuat matanya semakin sipit. "Kau ... Aku memang selalu terlihat sempurna." Katanya mengedikkan bahu, senyuman tipis masih menghiasi wajahnya yang cantik.

"Karena itulah aku sangat menyukaimu." Tiba-tiba saja Naruto memeluknya begitu erat, membenamkan wajah Sakura di dadanya yang bidang.

"Naruto..." Sakura setengah terdiam mencerna apa yang Naruto maksud dengan menyukainya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia mengatakan hal semacam ini tapi, saat Sakura merasa detakan jantung Naruto begitu kencang dari sebelumnya, ini terasa aneh.

"Jangan kau pikirkan!" Kata Naruto seraya melepaskan pelukkannya. "Aku memang selalu menyukaimu 'kan?" Lanjutnya sambil mencubit kedua pipi Sakura.

"Hmm," Sakura mengangguk ragu kemudian tersenyum. "Aku mau ice cream," katanya.

"Sebanyak yang kau mau tuan putri," Naruto membungkuk layaknya seorang pelayan kerajaan dan mengulurkan tangannya agar dapat Sakura pegang. Mereka tertawa bersama menuju penjual ice cream yang berada di sana.

.

.

.

.

.

"Apa mereka selalu begitu?" Katanya dengan nada tak suka. Jendela mobilpun tertutup.

"Ya, Tuan," Seorang pria paruh baya mengangguk pelan di belakang kemudi.

"Awasi terus, aku tidak suka calon istriku begitu dekat dengan orang lain." Katanya dengan nada angkuh.

"Baik Tuan," sekali lagi pria itu mengangguk dan melajukan mobil meninggalkan taman.

TBC.

AN

Key ucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fict key yang gak terlalu bagus dan nyambung 'mungkin'.

Oke reviews kalian sangat membantu (Dalam hal menyemangati khususnya) dan umumnya untuk membuat key lebih baik lagi tentunya.

oke see u next time.