(B) for Baby Kookie
Chapter 2 ~
Hening menyelimuti Taehyung juga pria berkacamata di hadapannya. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara selain helaan nafas mereka.
"Namjoon oppa..", pria di depan Taehyung menoleh pelan. Jemarinya sibuk memijat pangkal hidungnya yang berkedut pusing.
"Aku harus bagaimana?", suara Taehyung terdengar begitu lirih, membuat Namjoon iba. Bagaimanapun dia mendapat andil dalam hal ini. Jika saja Namjoon tidak menjadi pengecut. Jika saja Namjoon berani bertanggung jawab mungkin kehidupan Taehyung juga Jungkook takkan menjadi sesulit ini. Setidaknya dulu harusnya Namjoon menafkahi Taehyung juga Jungkook.
"Apa kau mencintainya?", suara baritone Namjoon terdengar. Taehyung memandang tak mengerti kearah Ayah biologis Jungkook ini.
"Jungkook. Kau mencintainya?", Namjoon kembali bertanya. Tatapannya tepat mengarah pada obsidian Taehyung. Dan akhirnya Taehyung tak sanggup mengelak dan memilih mengangguk pasrah. Ia tahu ini salah, tapi Taehyung benar-benar mencintai putranya.
.
.
Taxi berwarna putih itu berhenti tepat di depan rumah minimalis dengan pekarangan luas yang ditempati Taehyung juga Jungkook. Rumah pemberian Namjoon untuk Taehyung yang menjadi saksi tumbuh kembang Jungkook.
Usai memberikan lembaran Won kepada sang pengemudi taxi, Jungkook segera membimbing tubuh ringkih sang ibu memasuki rumah penuh kenangan milik mereka. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Jungkook mengangkat tubuh Taehyung dengan kedua lengan kekarnya kala mereka sampai di depan anak tangga menuju kamar.
Dengan penuh kehati-hatian Jungkook membaringkan Taehyung keatas ranjang.
"Tunggu disini, aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi", suara Jungkook memecah keheningan. Jungkook menyempatkan mengecup kening Taehyung sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Suara gemerisik air terdengar setelahnya. Dan Taehyung masih terdiam bak manekin. Ucapan Namjoon tadi siang masih terngiang di benaknya.
Apa ia harus melakukannya?
.
.
"Aku akan mendaftarkan Jungkook sebagai putrakudan Seokjin, agar kalian bisa menikah nantinya. Aku juga bisa mengurus kepindahan kalian berdua ke luar negeri. Tapi pertanyaanku adalah...
...Apa kau yakin sanggup melakukannya?"
.
.
Pikirannya yang melayang membuat Taehyung tak menyadari eksistensi Jungkook di depan matanya. Ia baru sadar saat merasakan usapan lembut tangan Jungkook menyentuh pipinya.
"Mom? Kau baik-baik saja?", gurat khawatir tampak jelas di wajah tampan Jungkook. Tangan kanan Taehyung terangkat untuk menggenggam jemari Jungkook yang berada di atas pipinya. Seolah tengah mengatakan ia baik-baik saja.
Taehyung baik-baik saja selama Jungkook berada di sisinya.
"Benarkah? Mommy tidak bohong kan?", Taehyung terkekeh kecil melihat onyx Jungkook yang menyipit, membuatnya tampak lucu.
"Mommy tidak bohong, Kookie sayang.. Mommy mandi dulu setelah itu kita makan ne?", Jungkook mengangguk semangat. Saat Taehyung hendak melangkah ke kamar mandi, Jungkook menahan lengannya dan ..
Cup
.. Mencium kening Taehyung dengan lembut. "Kumohon berhenti bekerja disana.. Kalau Mom menyayangiku, berhentilah..", melihat putra kesayangannya menitikkan air mata, Taehyung segera membawa tubuh bongsor Jungkook ke dalam pelukannya.
"Kumohon.. Demi aku.. Mommy sayang padaku kan?"
Jungkook tidak pernah menangis. Bahkan ketika orang mengejeknya tidak punya ayah, Jungkook kecil hanya diam. Tapi kali ini, tangisan Jungkook pecah begitu saja. Dan itu semua karena Taehyung.
Setelah Taehyung berjanji akan berhenti bekerja di klub malam, barulah Jungkook berhenti menangis dan membiarkan ibunya memasuki kamar mandi. Taehyung sibuk mengusap tubuh polosnya di dalam bathup. Namun dirinya tak pernah menyadari bahwa testpack yang tadi pagi berada di sudut wastafel kini sudah lenyap dari tempatnya.
.
.
Taehyung tersenyum manis melihat hasil masakannya yang kini tertata rapi di meja makan. Tangannya tergerak untuk melepas apron yang melekat di tubuhnya. Masih dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya, wanita itu melangkah menuju kamar sang putra, memintanya segera turun ke meja makan.
Saat Taehyung membuka pintu berwarna putih tulang tersebut, ia mendapati Jungkook tampak sibuk dengan ponsel yang menempel di telinganya. Tampak sesekali Jungkook mengangguk dan menggumam sebelum mengalihkan perhatiannya pada sang ibu yang berdiri di ambang pintu.
"Mommy tunggu di meja makan, okey?", ujaran Taehyung dibalas anggukan dan senyuman oleh Jungkook. Setelah sang ibu menghilang di balik pintu, Jungkook melanjutkan percakapannya dengan seseorang di balik line ponsel.
"Aku tunggu di gerbang kampusku besok siang..
.
..Namjoon-ssi"
.
.
Tbc
Haha .. watsupp! Sorry everybody krna aku update nya super telat.. adakah yang nungguin? Maaf jg ni chap super pendek.. akan kuusahain next chap lebih panjang… pay pay ^^
