Kakashi menatap bosan pada anak didepannya. Pasalnya, anak tersebut justru dengan maniaknya mengotak-atik jam waker miliknya. Suara 'krak' 'kruk' terdengar nyaring saat obeng dan berbagai peralatan lain merekonstruksi ulang jam miliknya.
Sedangkan ia yang dari tadi menjelaskan tentang cakra dan segala tetek bengeknya justru diacuhkan.
'Sepertinya aku salah menerima permintaannya tadi' batin Kakashi nista.
Flashback On
Matahari masih belum terbit sepenuhnya. Kakashi bahkan baru saja selesai mandi. Untuk ukuran orang pada umumnya, ia tergolong yang mandi cukup awal. Yah, setidaknya begitu yang dipikirkan Kakashi. Mengaduk teh panasnya, kakashi melirik pada jam dinding di rumahnya. Jam 6 tepat.
Tok! Tok!
Mendengar suara ketokan pintu, kakashi berjalan pelan untuk membukanya. Dalam hati, kakashi menggerutu. Hei, ini masih jam 6 pagi! Satu kampung konoha juga rata-rata baru bangun pagi. Yang masih ngorok juga banyak. Siapa juga yang mau mengunjungi dirinya saat ini? Ck. Mengganggu saja.
Krieet!
"Ohayou! Kakashi-sensei, hehe"
Kakashi menatapnya datar. Benar-benar wajah yang menyebalkan, batinnya.
"Hmmm,yare-yare. Ternyata kau, Naruto. Maaf tokonya masih tutup"
Blam!!
"Heeee??! Jadi Kakashi-sensei selain menjadi shinobi juga seorang pemilik toko sembako?"
Krieet!
"Ya nggak lah goblok! Mana mau gue jadi bakul sembako! Kalau lu mah pantes, gue kagak! Masa si copy ninja Kakashi jadi penjual sembako! Author bangsat macam mana yang tega bikin orang sekeren gue jadi begitu?" tangis bombay Kakashi. Sepertinya, mood Kakashi sedang sangat jelek hari ini.
"Oo, gitu. Tapi, kalau tampang sih gak masalah soalnya kan udah ketutup sama mask-"
Blam!!
Krieet.
"Sorry Naruto, tadi sensei mendadak OOC. Ehem. Kita serius sekarang. Jadi.. Ada apa?" tanya Kakashi sambil memasang ekspresi normal.
Wuusshh! Mendadak keduanya hening.
"Sebenarnya sensei, aku pengin boker"
Gubrakk! Kakashi jatuh terjengkang ke belakang.
"Ahaha, bercanda sensei. Ano, jadi begini. Ummm, bisa kau ajari aku beberapa hal dasar di Akademi? Yah, kau tahu kan aku benar-benar tertinggal dan harus mengulang dari awal." pinta Naruto.
"Haaahhh, yah yah yah. Cepat masuk. Aku harap kau lekas pulang dari sini."
"Yoshh!!"
Flashback Off
"Naruto,! Perhatikan kesini! Coba jelaskan apa yang sudah aku ajarkan tadi. Kalau kau tidak memerhatikan, mungkin istirahat di apartemen lebih baik bagimu." kata Kakashi.
Masih sibuk dengan jam, Naruto menyelesaikan beberapa putaran obeng dan menyelesaikan perakitan ulang jam Kakashi. Setelahnya, ia menaruh perlahan jam tersebut di meja dan menatap kakashi.
"Hmm, ya ampun. Kau agak sensi sepertinya hari ini. Apa kau lagi M sensei?"
"!!" Oke, kakashi mulai kesal sekarang.
"Ne, sensei. Apa kau percaya bahwa kami-sama itu ada?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Hmm,? ya. Tentu saja ada. Kenapa memang?" oke, Kakashi mulai teralihkan fokusnya.
"Kalau begitu, apakah definisi dari kami-sama?"
"Mungkin, pencipta segalanya. Yang maha kuasa, maha adil, tempat bergantung semua ciptaannya" Kakashi berpendapat.
"Kalau begitu, kenapa keadilan tak selalu ada? Kenapa harus ada orang miskin, orang menderita, orang kaya, dan orang yang bahagia? Kenapa tidak dibuat sama rata saja?" tanya Naruto.
"..." Kakashi tak menjawab.
'Ck, kenapa topiknya jadi berat begini sih, ' sweatdrop Kakashi.
"Menurutku, satu-satunya definisi paling tepat tentang kami-sama adalah.." Naruto mulai memainkan jam waker Kakashi.
"Pengendali dan penguasa waktu. Satu-satunya kekuatan yang tak mungkin bisa dikuasai oleh kita dan semua makhluk lain. Jika kita mampu mengendalikan waktu, kita akan menguasai segalanya. Siapa yang bisa mengendalikan waktu, ia adalah tuhan. Bukan masalah adil, tempat bergantung dan sebagainya. Bukankah begitu, sensei?"
Kakashi hanya terdiam. Mencoba mencerna perkataan Naruto, dan walaupun sebagian dari dirinya membenarkan pendapat Naruto, sebagian lainnya bertanya-tanya apa maksud perkataan Naruto.
"Haaahhh, sudahlah. Lupakan perkataanku tadi. Ngomong-ngomong, dari tadi aku mendengarkanmu kok. Hanya saja, pandanganku tidak tertuju padamu. Biar aku ceritakan ulang. Jadi intinya, cakra adalah kekuatan shinobi yang terbentuk dari gabungan kekuatan fisik dan rohani. Secara umum terbagi menjadi 5 macam, angin, air, api,tanah dan petir. Sedangkan cakra sendiri adalah sumber utama untuk aplikasi pada ninjutsu, selain itu ada genjutsu, kinjutsu, fuinjutsu. Semua itu membutuhkan cakra juga. Bagaimana?" jelas Naruto dengan tampang meremehkan. Dan itu membuat Kakashi memutar bola matanya bosan. Walau yang kelihatan cuma satu sih,.
"Yare-yare. Baiklah, kau sudah cukup membuatku pusing. Dan, karena kau sudah belajar dengan baik. Sekarang. Kau boleh pu-"
"Eiitss! Tunggu dulu sensei. Aku kesini bukan hanya untuk belajar teori. Aku ingin belajar.. Praktek." sela Naruto dengan penekanan pada 'Praktek'
"Yaa yaa yaa. Baiklah baiklah."
'Hitung-hitung sedikit beri pelajaran, muehehe' seringai Kakashi. Naruto yang melihat perubahan raut wajah Kakashi menjadi agak curiga.
"Hmmm, jadi latihan apa yang kau inginkan Naruto? Melempar shuriken, melempar kunai, membuat bunshin, henge no jutsu, kawarimi?" tawar Kakashi.
"Ck, aku sudah menguasai itu semua sensei. Jangan buat aku tertawa dengan melatih hal-hal paling dasar seperti itu. Biarkan guru sekelas chuunin yang mengajar di akademi yang berperan menyebarkan teknik-teknik seperti itu. Seorang jounin,.. harus mengajari teknik sekelas jounin juga, kheh" remeh Naruto.
"A-a-apaa?! Kau sudah menguasai semua itu? Siapa yang mengajarkanmu?" tanya beruntun Kakashi,sekaligus terkejut.
Sambil mengorek kuping kanannya, Naruto menjawab santai, "Ya ampun, bertanyalah satu-satu sensei. Jangan seperti anak kecil begitu".
Oke, kini Kakashi benar-benar merasa dibodohi oleh genin belum lulus didepannya. Ya. Naruto masih calon! Belum jadi genin. Lulus saja belum. Kakashi tak bisa membayangkan seandainya Naruto yang 'saat ini' sudah menjadi genin, chuunin, jounin, atau yang lebih tinggi. Mungkin ia akan jadi seperti cecunguk kecil dalam permainan dialog dengan Naruto.
"Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku mempelajari itu semua kemarin, otodidak. Tentu saja, kau pikir aku harus ngapain coba di apartemen sendirian? Bisa mati bosan!"
Kakashi terperangah.
"Kau pelajari itu semua sendirian?"
"Ya, sendirian"
"Dalam satu hari saja..?"
"Satu hari saja.."
Oh, damn. Bahkan setahu Kakashi, Naruto sebelumnya hanya menguasai kawarimi dan melempar shuriken. Itu pun masih standar. Membuat bunshin? Hancur, babak belur dan benar-benar buruk. Dan kini, ia bilang bahwa semuanya sudah dipelajari dalam satu hari. Dan.. Otodidak? Wtf!!
"Kau benar-benar mengejutkanku Naruto. Soalnya, dulu kau terlampau bodoh dan tidak bisaan si,"
Ctak! Kerutan muncul di kening Naruto.
"Ck, jangan samakan aku dengan Naruto no baka yang dulu. Kau lihat saja. Esok hari, aku akan menjadi shinobi yang hebat!" teriaknya sambil mengangkat kedua tangan dan mendongakkan kepala ke atas dengan gak jelas -_-.
"Ehmmm, hebat saja? Bukan terhebat?" celetuk Kakashi.
"Yah, apa boleh buat sih kalau kau memaksa"
"aku tidak memaksa, bodoh _-" sweatdrop Kakashi.
"Yoshh, jadi, hari ini kau harus melatihku.. Taijutsu!"
*SYNL*
Dan, begitulah. Kini, Naruto dan Kakashi tengah saling berhadapan di Training Ground. Hamparan rumput hijau terbentang cukup luas. Walaupun tetap ada bagian tanah yang tak tertutupi oleh rumput sih,.
"Baiklah Naruto, mengingat kegigihan dan semangatmu. Dan juga, yaah, sedikit kemajuan kecerdasanmu. Aku akan sedikit serius melawanmu. Berusahalah agar tidak terbunuh, oke?" kata Kakashi sambil membaca buku hijau dengan tangan kanannya.
Sementara Naruto hanya mendecak pelan. Walaupun sebenarnya dia agak sangat kesal saat Kakashi menyinggung kecerdasannya.
"Ck, kau bilang sedikit serius. Sedangkan dengan santainya kau membaca buku dan menyimpan satu tangan lagi di saku celanamu? Kupastikan kau akan menyesal"
"Aku harap itu tidak berbalik padamu, Naruto" balas Kakashi dengan tampang seolah sedang, mengasihani lawannya. Naruto membuang muka, lalu mengatur nafas.
"Baiklah, karena kau sudah tenang. Ikuzo-"
Wuusshh!!
"!!" dalam slow motion, terlihat Kakashi berhasil menghindari tendangan tunggal kaki kiri Naruto dengan berjongkok.
'Lumayan cepat! Walaupun aku masih bisa menyimpan kedua tangan dan membaca buku' pikir Kakashi
Tidak berhenti disitu, Naruto menjatuhkan kaki kanannya berusaha menendang Kakashi yang ada dibawahnya. Dengan pengalaman yang mumpuni, Kakashi berhasil melompat ke ke kiri tepat sebelum kaki Naruto mencapainya.
Braakk! Terlihat tanah yang dipijak Naruto sedikit menampakkan keretakan dan kawah yang cukup dalam.
Srakk! Kakashi mengerem lompatannya dengan menggesekkan kedua kakinya ke tanah.
"Awal yang baik, Naru-"
Duakk!
Menggunakan tangan kanan, pukulan Naruto masih bisa ditahan oleh Kakashi dengan tangannya yang memegang buku.
"Kheh, terkejut sensei?" seringai Naruto.
'Kecepatannya.. Meningkat!' waspada Kakashi
Duak! Duak! Duak!
Pukulan dan tendangan beruntun yang kecepatannya terus bertambah dilancarkan Naruto yang akhirnya berhasil membuat Kakashi menyimpan bukunya. Kini, Kakashi terlihat terdesak. Dan, mulai menggunakan kedua tangannya.
'Ck, tidak hanya kecepatan. Bahkan gaya pukulannya semakin membaik. Perasaanku saja atau, dia memang meniru style taijutsuku??!'
"Kau tak boleh meremehkan lawanmu, selemah apapun dia. Ingat itu! Senseeii.." teriak Naruto sambil mengarahkan tinju tangan kanannya.
Tap! Dengan cukup mudah, Kakashi menangkap tinju tersebut. Lepas dari keterkejutannya, ia menampilkan senyum simpul.
"Tentu saja. Akan ku ingat selalu,.."
Duakk!
"Naruto!"
"Guhh!!" Lenguh Naruto terkena tendangan kaki Kanan Kakashi. Terdorong beberapa meter ke belakang, Naruto akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuhnya.
"Hosh.. Hosh.. Satsuga Kakashi-sensei. Hosh.. Sesuai yang kuharapkan. Tapi sensei. Aku sudah agak bosan, bermain dengan bunshin!" teriak Naruto.
"!!" Kakashi terkaget ketika tiba-tiba Naruto ada dibelakangnya.
'Aku bisa melihatnya, tapi reflekku tak bisa mengikuti pergerakannya!'
"Shuriken: kage bunshin no jutsu!" melempar satu shuriken, dengan cepat shuriken tersebut berganda menjadi ratusan.
Mata Kakashi melebar. Tidak mungkin sempat untuk mengelak!
Boof! Kakashi yang diserang Naruto menghilang meninggalkan seberkas kepulan asap putih. Namun, tak berhenti disitu. Ratusan shuriken tersebut terus melaju dan dengan elitnya melaju melengkung menuju dedaunan salah satu pohon di lapangan.
Srat! Srat! Srat! Srat!
Menyayat beberapa bagian pohon, muncul Kakashi dari balik dedaunan pohon tersebut.
Trang! Trang!
Menangkis shuriken yang mengarah padanya, Kakashi lalu terjun kebawah. Dengan gerakan simple, semua shuriken dipantulkannya sehingga tertancap ditanah mengelilingi Kakashi.
Stab! Stab! Stab!
"Ya ampun, merepotkan sekali. Jadi kau sadar selama ini melawan bunshin," keluhnya.
"Tentu saja. Jadi, sedikitlah serius!" balas Naruto. Beberapa saat kemudian, ia memasang senyum simpul. Dan tentu saja, itu membuat Kakashi begidik ngeri.
"Yap, sepertinya untuk hari ini kita cukupkan sa-"
"KAI!!"
Boomm!! Seluruh shuriken yang telah Naruto lempar mendadak meledak. Dan itu membuat kepulan asap hitam cukup besar di tempat Kakashi berdiri tadi. Oh, jangan lupa dengan pohonnya. Entah bagaimana nasibnya.
"Hoshh, sudah kukatakan untuk, hoshh, berhenti meremehkan lawanmu sen-"
Sriing! Kilatan pantulan cahaya kunai di bawah leher Naruto memutus kata-katanya.
"...sei" Yah, Naruto tersenyum kecut. Mungkin sparring ini memang harus diakhiri sekarang.
"Aku, hosshh, mengaku kalah" ujarnya cepat.
'Kecepatan jounin yang sebenarnya, eh?'
"Yah, itu tak perlu kau beritahu. Yang lebih penting. Kau harus menjelaskan bagaimana caranya shuriken tanpa kertas peledak seperti itu bisa kau ledakkan." Nada Kakashi cukup serius.
"Hehe, simpel saja. Cukup aplikasikan henge no jutsu pada kertas peledak, ubah bentuknya menjadi shuriken. Lalu, dengan shuriken kagebunshin kau bisa memggandakan jumlahnya. Lalu, tinggal ledakkan saja. Dan, boom!" jelas Naruto.
'Luar biasa. Bahkan aku tak pernah berpikiran seperti itu. Selain itu, dia bahkan sudah menguasai gaya taijutsuku. Tinggal dikembangkan, menyempurnakan kekuatan dan kecepatannya, ia akan seimbang dalam taijutsu denganku' pikir Kakashi kagum.
"Hmmm, baiklah. Kau bisa pulang sekarang Naruto. Sudah agak siang, aku banyak urusan." Kakashi menarik kunainya dan melambaikan tangan kanannya.
"Aku harap besok kau mau mengajariku lagi sen-"
Poof! Menggunakan sunshin Kakashi menghilang meninggalkan kepulan asap.
"..sei"
"Yahh,mungkin hari ini aku akan belajar Sunshin" kata Naruto bermonolog. Ikut berbalik, ia memasang senyum simpul dan berjalan perlahan. Pulang ke apartemennya.
*SYNL*
"Jadi, apa yang anda pikirkan, Sandaime-sama?"
Asap rokok mengepul perlahan. Ruangan tersebut tampak lengang. Hanya dua orang yang terlihat didalamnya. Namun, jangan kira tak ada shinobi tak terlihat yang tengah berjaga disitu.
"Yah, aku hanya melihatnya sekilas tadi. Karena dokumen bertumpuk ini , aku hanya bisa mengawasi beberapa kali saja. Kau tentu paham itu Kakashi." ujar Sandaime.
"Ini benar-benar berubah drastis. Jika kita rombak ulang, mungkin Naruto adalah ninja paling berpotensi di generasinya" kata Kakashi.
"Mempelajari henge, kawarimi, dan sebagainya hanya dalam satu hari. Dan kini, taijutsunya mungkin selevel low jounin. Kecepatannya mungkin selevel mid chuunin. Untuk stamina, low chuunin. Ck, yah, intinya kau terus awasi dia Kakashi. Mungkin aku akan memilihmu sebagai jounin pembimbing Naruto. Karena ia sudah nyaman denganmu. Seorang jenius baru sudah lahir, dan kita sebagai penerus tekad api, harus membimbing generasi muda itu Kakashi."
"Ha'i."
"Heh, apa kau satu pemikiran denganku, Kakashi? Sepertinya, setelah hilang ingatan. Kepribadiannya yang persis Kushina kini menjadi seperti Minato?" kekeh Sandaime.
Kakashi termenung sebentar. Lalu tersenyum tulus,
"Sensei kah? Yah, jika boleh. Aku berharap seperti itu. Sangat berharap" ucapnya sambil memandang keluar ruangan hokage. Pemandangan desa Konoha.
Naruto terdiam diatas kantor Hokage. Memandang ke arah langit, ia lalu berbaring perlahan.
"Minato, dan Kushina kah?"...
*SYNL*
Yoo minna-san. Kazu hadir lagi. Up kilat untuk chapter dua. Karena setelah Kazu baca, ternyata words nya bener-bener dikit, wkw. Thanks untuk para reader yang sudi mereview fic ini. Thats motivate me to up this story as soon as possible. Untuk jumlah words, yaah. Hanya sedikit peningkatan, hehe. Maklum ya. Masih newbie. Doakan saja semoga fic ini bisa tamat dan menyajikan story yang bagus.
Sekian dari Kazu,at the end, mind to review?
