Cerita sebelumnya :
Bagaimana jika ia telah beristri?
Bagaiamana jika ia memiliki penyakit menular dan menularinya?
Atau bagaimana jika pemuda itu menderita kelainan seksual?
Hinata menggelengkan kepalanya, menghilangkan kekhawatiran dalam dirinya. Apapun itu semua telah terjadi, hanya satu yang membuatnya tenang saat ini, dokter telah memvonisnya mandul, karena indung telurnya terlalu rentan, serta rahimnya yang berukuran sedikit lebih kecil dari seharusnya. Hal itu membuatnya tenang, dia tidak akan hamil dan ia tak perlu menjalin hubungan dengan pria manapun.
Decklaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OC dan OOC banget, terutama Sasuke hahahaha
Rate : M di bawah 18 tahun, pergi! Jangan kemari...
Pairing : selalu Sasuke dan Hinata
Experience of Love
Selamat Membaca
"Anda hamil nyonya"
Hinata menatap dokter itu dengan pandangan kosong beberapa saat sebelum tertawa kecil dengan nada tak percaya
"Itu tidak mungkin dokter" ucap Hinata, masih memandang kosong tak percaya dengan pendengarannya dan sang dokter hanya tersenyum penuh pengertian.
"Tentu saja itu mungkin. Saya bahkan bisa memberitahu anda sedang memasuki minggu kesepuluh. Apa anda tidak pernah merasakan gejala-gejalanya? Seperti pusing atau mual misalnya?" Tanya dokter itu sambil melihat Hinata dari balik kaca mata bulatnya.
Hinata menggeleng yakin untuk menjawab pertanyaan sang dokter lalu berkata
"Itu mustahil, saya mandul, dulu dokter pernah memvonis saya mandul, karena indung telur saya terlalu rentan, serta rahimnya yang berukuran lebih kecil dari seharusnya" jelas Hinata dan mengingat kembali kenangan ketika ia berusia 16 tahun, saat semua teman-temannya mengalami haid, sedangkan hanya Hinata yang belum mengalaminya tapi setiap bulan ia merasa sakit di area rahimnya, maka Hinata memilih untuk memeriksakan diri ke dokter ditemani sang ibu, dan itulah yang dokter katakan ketika hasil diagnosa keluar. Baiklah saat itu Hinata menerima mentah-mentah apa yang didengarnya, terlalu polos untuk mengerti, hingga akhirnya dia berfikir bahwa ini bisa menjadi perisai untuk melindungi diri dan tidak berkomitmen dengan pria manapun, serta hal ini juga yang menjadi penguatnya saat ia mengingat kembali bagaimana ia terbangun di ranjang bersama pria tak dikenalnya.
Hinata mengela nafas lalu melanjutkan penjelasannya
"Waktu itu dokter memberitahu ibu saya dan berkata bahwa saya tidak akan pernah bisa punya anak." Ucap Hinata menjelaskan
"Tapi nyatanya dia keliru!" ucap sang dokter sambil mengangkat bahu dan tersenyum lebar, berharap dengan senyumnya dapat menenangkan wanita muda yang menampakkan raut terkejut di wajahnya.
"Kemarin saya hanya memeriksakan sakit perut biasa dokter" ujar Hinata meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya benar, semua hanya sakit perut biasa.
"Sakit perut yang anda derita itu sudah muncul jauh sebelum kita mengenal virus, itu yang disebut ngidam, Nyonya" kata dokter itu tak mau kalah, ia merasa Hinata meragukan hasil diagnosanya. Padahal ada banyak pasangan yang menginginkan segera punya momongan tapi kenapa wanita ini tidak percaya, begitulah yang difikirkan dokter bersurai silver itu.
Hinata kemudian terdiam dan menatap sang dokter, berbisik seolah menegaskan bahwa apa yang didengarnya tadi salah
"Apa anda serius dokter? Saya benar-benar mengandung?" tanya Hinata lirih namun masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran pria yang ada dihadapannya.
"Apa anda tidak bahagia mendengar berita ini nyonya?" tanya sang dokter yang melihat ekspresi kaget di wajah Hinata yang pucat.
Hinata bingung apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia bahagia? Bahwa ia bisa menjadi ibu layaknya wanita pada umumnya, Atau ia harus menangis tersedu karena aibnya akan segera terbongkar. Penat itulah yang dirasakan Hinata saat ini, dilema antara bahagia dan takut, takut jika keluarganya tahu tentang ini, bahwa ia gagal menjaga diri dan menjaga nama baik keluarga serta kepercayaan yang diberikan oleh orang tuanya.
"Saya tidak menikah, dokter" celetuk Hinata disela kebingungannya, dokter itu masih menatap Hinata, tatapan gadis itu kosong, wajahnya pucat dan tampak frustasi.
"Ayah bayi ini..." ucapan sang dokter ingin tahu, bagaimana pun juga ia tak ingin kliennya bermasalah, terutama dalam trisemester kehamilan Hinata yang bisa berdampak buruk pada janinnya nanti.
"Sulit dihubungi" ucap Hinata memotong perkataan sang dokter, ia mencoba berbohong, namun tetap saja ia bukan orang yang pandai berbohong.
"Ehhem" sang dokter berdeham di balik punggung tangannya, dokter itu tahu Hinata berbohong, namun ia tak ingin memaksa wanita itu mengatakan apa yang tak ingin dikatakannya, ia tahu itu bukan urusannya dan kliennya memiliki privasinya sendiri.
"Kalau anda sudah mengambil keputusan dalam beberapa hari ini..." ucap sang dokter berhati-hati
"Kita bisa menggugurkan kandungan ini" ucap dokter yang bernama Kabuto itu melanjutkan.
"Aborsi?" tanya Hinata sambil menatap kosong, ide itu membuat Hinata bergidig ngeri, mendengarnya saja sudah
"Tidak, saya tidak akan melakukannya" jawab Hinata segera setelah ia kembali tersadar betapa kejamnya jika ia melakukan itu, membunuh darah dagingnya sendiri.
"Jaman sekarang itu sudah tidak lagi dianggap tindakan yang mengerikan, kita..."
"Tidak" ucap Hinata menotong perkataan dokter berkaca mata bulat itu, lalu melanjutkan ucapannya
"Saya tidak akan pernah melakukan itu, terima kasih dokter" ujar Hinata lalu berdiri akan meninggalkan tempat itu, ia membungkuknya badannya sebagai ucapan terima kasih sebelum pergi, ia butuh waktu untuk sendiri dan berfikir saat ini. Berfikir apa yang akan dilakukannya sekarang, setelah ia tahu ada kehidupan kecil dalam dirinya.
"Silahkan menemui resepsionis sebelum anda pulang, dan mengambil obat ke apotik, mengingat ini kehamilan pertama anda, saya ingin anda memeriksakannya sebulan sekali" pesan Kabuto kepada Hinata. Hinata hanya mengangguk mengiyakan pernyataan sang dokter setelahnya Hinata melangkahkan kakinya pergi.
Hinata memasuki mobil lalu melaju melintasi jalanan kota Osaka, mobil murah yang ia beli dari gajinya selama mengajar disekolah taman kanak-kanak, dengan cara kredit tentunya, Hinata bisa saja memiliki mobil tanpa harus menyicil seperti itu, mengingat keluarga Hyuuga mampu, hanya saja setelah bekerja ia memilih keluar dari rumah, agar bisa mandir, dan perlahan-lahan memenuhi kebutuhannya dengan hasil kerja sendiri.
Hinata menghentikan mobilnya di depan jalanan kecil rumah sewaannya, ia memijat pelipis yang seakan berdenyut oleh beban berat dipikirannya, bagaimana jika teman-teman ditempat ia mengajar tahu tentang kehamilan ini, akankah ia masih diijinkan bekerja disana? Sementara ia sudah sangat mencintai pekerjaan itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku akan kehilangan pekerjaanku, setelah itu bagaimana?" ucapnya pada diri sendiri, ia mendongakkan kepalanya pada sandaran jok mobil, sesak, sulit bernafas itulah yang dirasakannya saat ini. Hinata lalu mendorong pintu mobil dan melangkah menuju pintu rumahnya. Rumah itu tampak kecil dan terkesan tua, namun gadis Hyuuga itu menyukainya. Di sinilah ia akan hidup bersama si bayi yang akan menjadi keluarga baru baginya, bayi yang tak pernah terbayangkan akan berada dirahimnya. Dia akan mencintai bayi itu, dan bayi itu pun akan mencintainya.
.
.
.
Hinata merebahkan diri di sofa dan menyangga kaki dengan bantal, hal itu terasa nyaman baginya, saat di sekolah tadi ia harus berdiri seharian, dan itu membuatnya lelah. Hinata tersenyum sambil mengusap-usap perut yang mulai membuncit, orang-orang di tempatnya mengajar sudah tahu perihal kehamilan wanita bersurai indigo itu. Sudah 2 bulan setelah ia tahu bahwa dirinya sedang mengandung bayi dari pria yang tidak dikenalnya, namun itu tak mengurangi rasa cintanya pada si jabang bayi. Saat mengetahui dirinya hamil, dengan segera keesokan harinya Hinata menceritakan masalah ini kepada kepala sekolah tempat ia mengajar, bahwa ia mengandung dan tak bersuami. Ia menceritakan yang sejujurnya pada Kurenai Yuhi yang menjabat sebagai kepala sekolah, dan Hinata juga menjelaskan bahwa dirinya masih ingin bekerja disana. Memohon kepada kepala sekolah yang cantik itu untuk tidak memecatnya. Maka Kurenai selaku kepala sekolah memberi kebijakan dan akan mengatakan kepada guru yang lain dan parent siswa bahwa Hinata telah menikah, namun suaminya pergi entah kemana. Berbohong? Hal itu terpaksa mereka lakukan, terutama bagi Kurenai yang menganggap bahwa Hinata adalah guru yang bisa diandalkan di sekolah dan rasa sayangnya kepada gadis itu, ia telah menganggap Hinata seperti anaknya sendiri, mengingat gadis itu begitu sopan, lembut dan bertanggungjawab dengan tugasnya. Dia tidak ingin gadis itu di depak dari yayasan tempatnya mengajar jika mereka mengetahui yang sebenarnya, mengingat Hinata yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, tapi setelah Kurenai menjelaskan kepada pihak yayasan dan parent, syukurlah mereka tidakk terlalu mempermasalahkan hal itu. Mengingat kinerja Hinata yang memang bisa diandalkan disana. Hinata sangat bersyukur dengan kebaikan Kurenai.
"Ibu menyayangimu nak" bisiknya sambil tersenyum, sungguh ia tak ingin kehilangan bayi itu, walau ia tak mengenal ayah si jabang bayi. Keluarganya belum tahu perihal kehamilan ini, bagaimana jika keluarganya tahu? Akankah ia diminta menggugurkan kandungannya? Membunuh buah hatinya?
Tidak!
Sampai matipun Hinata akan melindungi bayinya.
Sambil mendesah lega karena tak kehilangan pekerjaannya, Hinata mengalihkan pandangan ke jendela, melihat taman kecil yang ia buat diwaktu senggang, tiba-tiba ia teringat seseorang, ia mengingat semuanya. Bagaimana ia berada di dalam lift dan setelah itu seorang pemuda yang "entah siapa dia" masuk kedalam lift tak berselang lama setelah Hinata berada di dalam, mereka berdua terjebak dalam lift ketika listrik padam, dan Hinata yang menderita klaustrofobia merasa sangat tergunjang. Karena melihat Hinata shock pemuda itu membawanya ke apartemen dan semuanya terjadi begitu saja hingga ia terbangun keesokan harinya tanpa menggunakan apapun dan berbagi selimut dengan pemuda itu. Hinata memejamkan matanya.
Flashback
Lampu-lampu kembali padam ketika Hinata berada di kamar pemuda itu, tangan-tangan kecilnya menggapai mencari pemuda yang kira-kira berusia 26 tahun itu, takut jika ia ditinggalkan sendiri, tapi pria itu tidak kemana-mana, ia berada disamping Hinata, mendampingi Hinata, merebahkan tubuhnya dan memeluk Hinata erat sambil membisikkan kata-kata menyenangkan untuk menenangkan Hinata. Lalu pemuda itu menciumnya, mencium bibir, leher dan dadanya penuh hasrat. Dengan ragu pria itu membuka satu per satu kancing blus Hinata, melepas blus itu, lalu menurunkan tali bra Hinata, ketika tak ada protes dari Hinata, pemuda itu melepaskan kaitan bra berenda milik Hinata, dan mengusap-usapkan ibu jari dipuncak payudara wanita disampingnya, ia menyentuh seluruh tubuh Hinata, mengabsennya dari leher, pundak, payudara, lalu sentuhan itu turun ke perut, kepusar hingga kepinggang. Namun tiba-tiba sentuhan itu terhenti, onix itu menatap lembut lavender disampingnya, meminta persetujuan
"Ya" ucap Hinata dalam kegelapan, ia memberi ijin pria itu meneruskan apa yang akan dilakukan atas dirinya.
Tangan pria itu akhirnya menyikap rok Hinata, menyelinap masuk di balik celana dalam dan terus bergerak turun, menyentuh bagian bawah perut Hinata.
"Kau begitu manis" ucap pria itu parau.
Entah bagaimana seluruh pakaian mereka telah terlepas, tubuh polos mereka tersembunyi di balik selimut, dengan penuh perasaan pria itu membelai sekujur tubuh Hinata, menyentuh payudaranya, menangkup dan membelai puncaknya dengan ibu jari
"Ehm" erang Hinata
"Payudaramu benar-benar memesona, kau tahu itu kan? Bentuk dan ukurannya sempurna Hinata" bisik pria itu menyenangkan Hinata, lalu menyatukan bibir mereka.
"Kau sangat menggiurkan" ucapnya pemuda itu lagi setelah ciuman mereka terlepas, lalu mengulum puncak dada Hinata dan dengan lembut menghisap menggunakan bibirnya yang hangat.
Pemuda itu menggulingkan tubuh Hinata hingga telentang dan menindihnya, merentangkan kaki gadis di bawahnya dan menempelkan tubuhnya yang keras dan berdenyut ke tubuh Hinata. Bibir pemuda itu menyusuri lehernya, memberikan kissmark pada leher Hinata, lalu kembali melumat bibir gadis itu.
Hinata merasa tubuhnya siap menerima pemuda itu, ia memberi jalan pada si pemuda raven untuk masuk menerobos tubuhnya, pemuda yang berada di atas Hinata terus menerus menyentuhnya, sentuhan itu terasa posesif, nekat namun lembut, ia terus membisikkan sesuatu di telinga Hinata, membuat Hinata merasa nyaman dengan perlakuannya.
"Kau yakin Hinata? Apa kau ingin aku menghentikannya sekarang?" tanya pemuda itu kepada Hinata, saat ia masih bisa mengontrol dirinya.
"Ti... tidak, cintai aku" jawab Hinata dengan suara serak, ia telah benar-benar kehilangan kontrol dirinya dan telah mabuk oleh pesona pemuda itu.
"Jika aku telah melakukannya jangan pernah hentikan aku, karena aku tak yakin bisa menghentikannya" ucap pemuda itu dengan nada memperingatkan dan nafsu tertahan, Hinata hanya mengangguk menanggapi pernyataan itu.
Klik
Lampu tidur di atas nakas itu kembali menyala, pria itu mengatur cahayanya agar tampak samar dan temaram
"Ke..kenapa menyalakan lampunya?" tanya Hinata tampak rona kemerahan pada pipinya yang chabi
"Aku ingin melihat penyatuan kita" bisik pemuda itu di telinga Hinata,
"Kau cantik dan menggoda, Hime" pemuda itu melanjutkan ucapannya yang sukses membuat Hinata malu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pemuda itu.
Setelah melihat tanda setuju dari Hinata tadi, dengan tenang tapi pasti pemuda berpupil onix itu menyatukan tubuh mereka. Ia terkejut ketika mendapati sesuatu menghalangi jalannya di dalam sana. Kembali ia menatap gadis di bawahnya, meminta ijin atas apa yang akan dilakukannya, Hinata mengangguk kecil tanda mengijinkan, lalu dengan segera pemuda itu menghentakkan bagian bawah tubuhnya agar dapat mengoyak pelindung itu.
"E..Eghh" jeritan Hinata terlepas dari bibirnya, walau Hinata telah menggigit bibir bawahnya agar tidak menjerit kala rasa sakit itu mendera, namun tetap saja ia tak mampu. Rasa perih yang teramat di bagian dalam dirinya, membuat dua butir air mata menetes melalui celah kelopak mata lavendernya dan kuku-kukunya mencakar kedua pundak pemuda di atasnya.
"Kenapa kau tak memberitahuku, Hinata? Kenapa kau tak menghentikanku?" tanya pemuda itu pada wanita dibawahnya, ia dapat merasakan sesuatu mengaliri miliknya, ia tahu itu darah Hinata, darah dari selaput yang telah ia koyak, ia diam sejenak, membiarkan Hinata membiasakan diri akan tubuhnya, tak ingin menyakiti gadis itu, pemuda itu meredam nafsunya agar tak menghabiskan Hinata saat itu juga.
"Be... bergeraklah" ucap Hinata sambil membuka mata dan menatap pria di atasnya dengan lembut
"T...tapi" pemuda itu tergagap, seolah penyakit gagap Hinata berpindah kepadanya. Pemuda itu tak tega melihat Hinata yang merasakan perih, tapi ia juga tak bisa membendung nafsu yang mulai memuncak.
"La...lakukanlah" ucap Hinata dengan rona merah yang kentara di pipi putihnya, ia malu, sangat malu, namun sesuatu di dalam dirinya dan alam bawah sadarnya menyukai perlakukan pemuda itu. Ia menginginkan pemuda itu, menginginkan penyatuan mereka, antara dirinya dan pemuda di atasnya. Hinata mendengar pemuda itu mengumpat pelan, namun si pemuda rupanya juga tidak mampu menahan diri, dengan mantap ia meleburkan diri kedalam tubuh Hinata, mendorongnya semakin dalam menjamah Hinata, memacu namun tetap terkendali, keringat membasahi tubuh mereka, erangan dan pujian mereka lontarkan, mereka lupa siapa yang menjadi pasangannya, mereka lupa bahwa mereka baru saja berjumpa, tapi mereka menikmatinya sampai benar-benar menyatu didalam kehangatan.
"Hinatahhh..." ucap pemuda itu lantang kala ia mencapai puncak tertinggi
"Sa... Sasukehhh..." ucap Hinata kala pemuda itu mengantarkannya pada pengalaman pertama mencapai kenikmatan yang tak pernah dirasakannya.
End Flashback
Hinata membuka mata, kini ia ingat nama pemuda itu, pemuda yang memberikan pengalaman tak terlupakan untuk Hinata, nama yang tak ingin ia sebut setelah kejadian itu, nama yang selalu dibisikkannya ketika mengingat perlakukan lembut pria itu. Nama yang akan menjadikan Hinata seorang ibu karena benih pria itu telah tumbuh di rahimnya.
Sasuke, hanya itu yang diketahui Hinata tentang pemuda itu, selebihnya ia tidak tahu. Terbersit di pikirannya mungkin ia takkan pernah mengetahui marga pria itu, bahkan ia mungkin takkan pernah menyadari sebentar lagi dirinya akan punya anak, tapi itu bukan masalah. Pemuda itu toh mungkin takkan peduli, atau mungkin ia sudah lupa kejadian malam itu. Seorang pria dengan tampang memesona seperti itu dan tinggal di apartemen mewah takkan pernah kekurangan teman wanita, dan Hinata tak tahu pasti apakah ia sudah menikah atau belum. Saat memikirkan kemungkinan itu, wajah Hinata menjadi pucat, entah mengapa hatinya sakit
"Oh, Kami-sama, maafkan aku" bisik Hinata, ia dapat mengingat semuanya sekarang, ia bahkan sempat menuduh pemuda itu memperkosanya. Ia melakukan itu, ia menginginkan itu dan ia juga menikmatinya. Hinata menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menutup bayangan erotis yang mulai terlintas dibenaknya.
"Bagaimana jika dia sudah menikah?" tanya Hinata pada dirinya sendiri, tetapi setelah meningingat-ingat bahwa seratus persen apartemen itu bernuansa maskulin, tanpa ada sentuhan feminim sedikit pun, entah mengapa itu membuat hati Hinata merasa senang.
Hinata memang merasa bersikap kurang adil pada Sasuke, ia pergi begitu saja keesokan paginya. Memang pria itu telah memanfaatkan kondisi Hinata yang masih labil waktu itu, hal ini memang tidak bisa dimaafkan, tetapi Sasuke juga telah mengatakan hal yang sebenarnya, pria itu tak mungkin melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya, namun Hinatalah yang memohon agar pemuda itu untuk menemaninya, dan memberi ijin pada Sasuke untuk menyentuhnya.
Mengapa ia bisa berperilaku seperti itu? Bukankah keluarganya selalu mengajarkan tentang sopan santun dan norma-norma yang berlaku di masyarakat kepadanya? Apakan pria itu benar-benar telah menggodanya atau dia yang ingin menikmati kebersamaan itu? Hinata tak mau ambil pusing dengan mengingat kejadian itu lagi, ia menganggap itu adalah pertukaran biologis yang akhirnya membuat ia menyadari bahwa ia tidak mandul, ia bisa mengandung layaknya wanita biasa dan anak itu adalah karunia dari Tuhan yang patut ia syukuri.
.
.
.
"Aku mau pegang" ucap bocah yang berada di samping kanan Hinata
"Gak, aku" sahut anak kecil yang dipanggil Konohamaru
Itulah yang selalu terjadi ketika jam istirahat berlangsung, bocah-bocah itu akan mengerumuninya dan berebut ingin menyentuh perutnya, mereka senang bahwa guru favorit mereka akan memiliki seorang bayi.
"Bayinya gerak!" teriak Konohamaru saat merasakan gerakan kecil di perut Hinata
"Gak" sahut anak satunya yang juga tak mau kalah dan meletakkan tangannya di perut buncit Hinata, lantaran ia tak bisa merasakan gerakan tersebut tadi karena sibuk memandangi Konohamaru karena merasa bocah itu mengganggunya.
"Iya, bayinya gerakkan kan sensei" tanya Konohamaru pada Hinata sambil memandang mata bulan wanita bersurai indigo itu
Dengan penuh kesabaran Hinata menyingkirkan tangan-tangan kecil yang menyentuh perutnya
"Ya,bayinya bergerak Konoha-chan, nah sekarang sudah waktunya kalian masuk kelas" ucap Hinata dengan lembut pada bocah-bocah yang mengerumuninya.
"Selain itu, jam istirahat kalian juga sudah habis" lanjut Hinata sambil memandu anak-anak kecil yang antusian ingin menyentuh perutnya itu ke kelas mereka masing-masing.
"Gak adil, aku kan belum pegang" protes seorang bocah dengan menggembungkan pipinya, hal itu membuat Hinata tersenyum melihat tingkah koyolnya.
"Mungkin besok, kalian bisa melakukannya lagi" sahut Hinata seraya menghitung jumlah mereka. Dan itu membuat si bocah kembali tersenyum
"Benarkah?" tanyanya antusias, ia juga ingin merasakan gerakan dari bayi yang ada di perut senseinya
"Iya" jawab Hinata tulus
"Aku juga mau pegang bayinya"
Hinata membeku. Bagaimana ia bisa mengenal suara ini? enam bulan sudah berlalu sejak peristiwa itu, namun ia langsung tahu siapa yang saat ini berada di belakangnya dan membuatnya terkejut. Saat Hinata mencoba menyakinkan diri dengan membalikkan tubuhnya, ia dapat melihat jelas sosok itu, pria itu menyeringai, lalu melangkah mendekati Hinata. Tak lupa dengan gayanya yang arogan, setelah berada tepat di hadapan Hinata ia berbisik
"Kau tampak cantik, Hyuuga" lalu menangkup wajah Hinata dengan telapak tangannya yang lebar, dan menciumnya.
TBC
Balas-balas review :
Hyou Hyouichiffer : hehehehehe terima kasih masukkannya, sudah Hikari rubah kok warna rambut Suigetsu, gara-gara pacaran sama Karin jadi ikutan Karin berambut merah hehehehe, Hikari jadi malu #sembunyi dalam lemari (itu takut apa malu ya)? Hehehehehe, back to story ternyata Hina hamilkan? Hal itu ternyata dokter abal-abal yang meriksa Hina dulu, hehehe #bercanda yah semua bisa saja terjadikan? Buktinya Hinata sudah hamil 6 bulan sekarang.
Me Yuki Hina : terima kasih untuk semangatnya dan terima kasih untuk follownya, silahkan Yuki-san
Stacie Kaniko : ia ini chapter Stacie-san, dan ini chap 2 nya, dan ini sudah Hikari lanjut...
Astia Norichan : bagaimana Astia-san apa Ncnya masih kurang jelas? Hehehehe
Payung Biru : ini sudah dilanjut, silahkan dibaca
Chibi Beary : iya seperti itulah, kemarin sudah bikin fic sad ending untuk SHDL, sekarang mau buat sasuhina yang happy ending
Yuemi : ini sudah95ol, di lanjut, mohon di baca
Kumbangbimbang : masih kurang rate M nya? Jika kurang Hikari musti berguru dan berburu referensi lagi sepertinya hehehehe, Sasu tahunya Hina hamil, makanya dateng ke tempat kerja Hina, untuk typo maaf Hikari kurang teliti hehehhee
Vievie : terima kasih sudah suka fic abal Hikari, Hinata jadi hamil kok tenang saja, kan mau buat fic happy ending, hehehehe
Akira Fly : yups tebakan anda benar Akira-san, hehehe fic Hikari mudah di tebak jalan ceritanya ya?
j. vickovie : ini next chapnya sudah di update, Hina g jadi mandul kok, kasihan Hina kalau mandul, jadi di buat hamil aja deh hehehehehe
Nivellia Neil : Hina g jadi mandul Nive-san, kasihan kalau dia mandul, makanya dibuat hamil aja, tapi ia g nyangka bakalan hamil hehehehe dan ini sudah Hikari update chap 2 nya
Minri : maaf seminggu baru bisa update minri-san, habis ada sedikit kesibukan, maaf ya, terima kasih
Kertas HVS : g kok, Hina g jadi mandul, dia hamil sudah 6 bulan lagi hehehehehe
Gece : iya terima kasih, ini sudah di lanjut kok, mohon di baca ya Gece-san
Azzuradeva : ada kok, Hina sudah hamil 6 bulan sekarang dan Sasu tanggungjawab apa g? Kita lihat chap selanjutnya ya hehehehehe
RikaKhairana : g kok, Hina hamil g jadi mandul, hamilnya sudah 6 bulan malah hehehehe
Molikha chan : ini sudah di lanjut Molikha-san, mohon di baca ya hehehehe
Aetheria 1389 : ini sudah dilanjut Aerheria-san, jangan nangis, maaf kalau Hikari lama updatenya
Sana Uchiga : huaaa Sana-san mampir ke fic abal Hikari lagi, terima kasih ya, hehehehe iya Hina lupa ingatan gara-gara kebanyakan sake hehehehe, terus berada di dekat Sasuke emank bikin mabuk dan hilang kesadaran ya hehehehe, terima kasih untuk semangatnya Sana-san
Lilac : iya ini sudah update Lilac-san, seminggu Hikari usahakan untuk mengupdate chap ke 2, karena kemarin ada sedikit kesibukan #soksibukgue hehehehe makanya baru bisa update dan terima kasih atas pengertiannya.
VilettaOnixLV : wah namepennya keren, Hikari suka, ini sudah di update Veletta-san, mohon dibaca ya
Guest : lanjut sampai tamat? Hehehehe pasti, tapi per chapter ya Guest-san, hehehe klolangsung wah bisa-bisa Hikari g kerja hehehehe, sekalian cari inspirasi berhubung Hikari masih penulis abal, jadi mood kadang datang dan pergi sesuka hati, tapi Hikari usahakan update secepatnya hehehehe
.7 : ini sudah dilanjut mona-san, mohon di baca
N : wah namanya singkat sekali, sayang namepen FFnnya g ada, hehehe maaf jika Hikari selingkuh dengan fic ini, padahal project fic satunya belum kelar hehehehe, maaf ya, mumpung ada ide lewat ya Hikari tulis aja, semoga saja g diterbangkan angin nantinya hehehehe, gpp baru review, yang penting habis baca mau mereview agar Hikari tahu apa kekurangan Hikari dalam menulis, maklum penulis amatir hehehehe dan untuk pujiannya terima kasih banyak #pasangtampangsokmanis hahahaha
IndigOnix : keajaiban menyertai Hina kok Indi-san, buktinya dia bisa hamil, kan diatas sudah dijelaskan bahwa pernyataan dokter yang sebelumnya memeriksa Hina salah, tapi toh nyatanya Hina hamil, yang Hikari tahu walau masih gadis/perawan bisa saja divonis mandul, jika melihat kemungkinan atau kelainan yang ada pada bagian reproduksi wanita, hehehehe itu setahu Hikari. Karena pernah dulu ada teman Hikari yang terlambat haid karena ternyata tuba valovinya (bener g tulisannya ya) intinya jalur sel telur ke rahin sangat sempit, sehingga sel telur g bisa keluar, makanya saat semua teman2 sudah M, dia masih belum, tapi ia mengalami nyeri yang sangat setiap bulannya, setelah diperiksa seperti itulah hasilnya, dan itu bisa menyebabkan kemandulan katanya hehehehehe. #curcol
Terima kasih untuk reader yang sudah mereview, maaf ini hanya fikti, hayalan jika ada yang aneh harap dimaklumi, selebihnya semoga imajinasi reader bisa membayangkan apa yang Hikari deskripsikan, mengingat Hikari orang yang kurang bisa mendeskripsikan sesuatu dan maaf jika fic ini tidak sepanjang chap kemarin serta kurang bisa memuaskan reader sekalian, mohon seviewnya ya...
