Would You Be Mine?
Jaehyun x Taeyong
NCT
.
.
"Taeyong hyung!" panggil Jaehyun ketika melihat Taeyong yang baru saja keluar dari kelasnya.
Taeyong membalikkan badannya, sedikit ragu. Ia sudah tau siapa yang memanggilnya. Ia sudah hapal betul suaranya.
"Ini untukmu" ucap Jaehyum tersenyum, sambil menyerahkan tas kantong yang berisikan sebox coklat.
"Apa nih?" tanya Taeyong sedikit bingung.
"Coklat, untukmu" jawab Jaehyun masih tersenyum.
"Untukku?" tanya Taeyong lagi, ia sedikit terkejut Jaehyun memberinya coklat dan banyak.
Jaehyun mengangguk. "Semoga kau suka" ucap Jaehyun lagi.
"Tae, kau mau pulang bareng aku dan Taeil hyung tidak?" tanya Doyoung tiba-tiba datang dari belakang Jaehyun.
"Iya bareng" jawab Taeyong. "Jaehyun, aku pulang duluan ya. Dan terima kasih coklatnya" ucap Taeyong sedikit tersenyum pada Jaehyun.
Jaehyun mengangguk senang. Ia benar-benar senang Taeyong tersenyum padanya. Walaupun sebenarnya ia kecewa karena Taeyong sudah buru-buru pulang tapi ia senang coklat pemberiannya diterima oleh Taeyong.
.
.
"Jaehyun memberimu coklat, Tae?" tanya Doyoung saat mereka berada dimobil Taeil.
Taeyong mengangguk "Tau dari mana dia kalau aku suka coklat?" ucap Taeyong bertanya-tanya.
"Mungkin dia punya indera ke-enam" jawab Doyoung sambil tertawa. Taeil juga ikut tertawa. "Tae, bukankah itu coklat mahal. Wow, bocah itu tidak tanggung-tanggung dengan memberimu coklat yang mahal. Ia benar-benar jatuh cinta padamu, Tae" ucap Doyoung lagi.
"Mungkin kau harus memberinya kesempatan, Tae" ucap Taeil menambahkan.
Taeyong hanya bisa memandangi coklat pemberian Jaehyun. Doyoung benar, ini coklat mahal. Ia tau, tidak semua toko menjual coklat ini. Hanya toko-toko tertentu, karena harganya yang sangat mahal.
.
.
Sesampainya dirumah, Taeyong langsung menuju kamarnya. Ia duduk dikasurnya yang empuk. Sedikit melamun saat memandangi coklat pemberian Jaehyun. Membayangkan wajah Jaehyun saat memberikan coklat ini padanya. Jaehyun terlihat senang sekali. Ia pun lalu mengambil sesuatu dibawah kasurnya. Sebuah kotak yang ukurannya tidak terlalu besar. Yang isinya adalah puluhan surat-surat cinta dari Jaehyun. Rupanya ia tidak pernah membuang surat-surat itu, ia menyimpannya. Lalu ia teringat kata-kata Taeil yang mengatakan untuk memberi Jaehyun kesempatan. Taeyong tampak ragu-tagu. Ia lalu menggeleng. Tidak, ia sedang tak ingin berpacaran.
.
.
Keesokan paginya di sekolah, Jaehyun tampak bersemangat sekali, wajah senang terpancar diwajahnya. Ia sedang menunggu Taeyong didepan kelas Taeyong. Tangannya memegang surat yang akan ia berikan pada Taeyong. Ia pun tersenyum saat melihat Taeyong datang.
"Selamat pagi, hyung" sapa Jaehyun sambil tersenyum.
Taeyong sedikit kaget karena Jaehyun pagi-pagi sudah menunggunya. "Pagi" jawab Taeyong pelan.
"Hyung, ini" Jaehyun memberikan suratnya pada Taeyong.
Taeyong menerima surat Jaehyun. Surat lagi, batin Taeyong.
"Hyung, bagaimana coklatnya. Kau suka?" tanya Jaehyun
"E.. Suka" jawab Taeyong jujur. Ia memang menyukai coklatnya.
Jaehyun tersenyum lebar mengetahui Taeyong suka coklat yang ia berikan. "Kalau kau suka, besok aku akan bawakan lagi untukmu, hyung" ucap Jaehyun.
"Ehm..tidak usah Jaehyun. Aku tidak mau merepotkanmu" ucap Taeyong. Ia tak mau merepotkan Jaehyun dengan memberinya coklat mahal.
"Tidak apa-apa kok, hyung. Tidak repot sama sekali" ucap Jaehyun tersenyum. "Mmm, hyung. Aku mau mengajakmu kesuatu tempat pulang sekolah nanti. Kau mau, hyung?" tanya Jaehyun pelan. Ia tampak ragu-ragu mengatakannya. Ia takut Taeyong akan menolak ajakannya. Dan benar saja, Taeyong terlihat ragu-ragu. Ia tak menjawab ajakan Jaehyun. "Kalau kau tak bisa tidak apa-apa, hyung" ucap Jaehyun lagi. Nada suaranya terdengar sedih. "Ya sudah, aku kembali kekelas dulu, ya hyung." ucap Jaehyun pelan. Lalu Jaehyun melangkah hendak menuju kelasnya.
"Aku mau, Jaehyun!" ucap Taeyong tiba-tiba. Membuat Jaehyun berhenti melangkah dan membalikkan badannya. "Aku mau. Tunggu aku pulang sekolah nanti" tambah Taeyong.
Jaehyun mengangguk senang. Senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Ia lalu kembali melangkah ah tidak ia berlari menuju kelasnya. Ia terlihat gembira sekali.
"Taeyong hyung menerima ajakanku!" ucap Jaehyun pada sahabatnya saat ia sampai kelas.
"Benarkah? Wah selamat ya, Jae. Akhirnya Taeyong hyung mau meresponmu. Pasti karena coklat pemberianmu" ucap Ten tertawa. Yuta juga ikut tertawa.
.
.
"Masa karena coklat mahal saja, kau terima ajakan kencan Jaehyun, Tae?" tanya Doyoung saat jam istirahat.
"Bukan kencan! Dan bukan karena dia memberiku coklat aku menerima ajakannya. Hanya saja, aku teringat ucapan Taeil hyung" ucap Taeyong pelan.
"Menurutku kau juga harus memberinya kesempatan, Tae. Sudah waktunya kau move on" ucap Doyoung lagi.
Taeyong hanya mengangguk. Namun ia ragu dengan ucapan sahabatnya. Ia belum yakin ia bisa move on. Karena sampai saat ini ia belum bisa melupakan mantan ah bukan mantan tapi kekasihnya, mereka belum putus. Belum ada kata 'putus'. Sehun pergi meninggalkannya. Pergi untuk selama-lamanya, karena kecelakaan setahun yang lalu.
.
.
Taeyong tampak ragu-ragu melangkah keluar kelas saat bel tanda sekolah usai yang sudah berbunyi 2 menit lalu. Ia jadi ragu apakah ia tetap menerima ajakan Jaehyun atau tidak. Apalagi ia ingat Jaehyun mengendari motor.
"Jangan buat Jaehyun kecewa, Tae. Kau tadi sudah menerima ajakannya" ucap Doyoung saat melihat Taeyong yang ragu-ragu.
"Iya aku tau, Young" jawab Taeyong.
"Ya sudah sampai jumpa besok, Tae" ucap Doyoung sambil berlalu.
Taeyong melangkahkan kakinya menuju tempat parkir dan melihat Jaehyun sedang melambaikan tangan padanya.
"Mana motormu?" tanya Taeyong saat melihat Jaehyun tidak bersama motor yang setiap hari dibawanya.
"Aku tidak bawa motor, hyung. Aku bawa mobil" jawab Jaehyun sambil menunjuk mobil dibelakangnya. Dan berjalan kearah pintu mobil hendak membukakan pintu untuk Taeyong. "Ayo masuk, hyung" ucap Jaehyun membuyarkan lamunan Taeyong. Ia sedikit melamun, dan sedikit lega karena ia tidak akan dibonceng motor oleh Jaehyun.
.
.
"Kita mau kemana, Jaehyun?" tanya Taeyong setelah Jaehyun melajukan mobilnya.
"Kita makan siang, hyung. Aku yang traktir. Bagaimana?" tanya Jaehyun. Taeyong hanya mengangguk sambil tersenyum pada Jaehyun.
Jaehyun melaju mobilnya dijalanan kota Seoul yang sedikit padat. Mungkin karena jamnya pegawai kantor, mahasiswa dan juga orang-orang keluar untuk makan siang. Setelah beberapa menit, sampailah mereka direstoran untuk mereka makan siang. Taeyong membaca nama restoran yang tertera diplang yang ada didepan restoran.
"Restoran sushi?" tanya Taeyong.
"Iya, hari ini aku ingin makan sushi. Kau tidak keberatan kan, hyung?" jawab Jaehyun. "Tapi jika kau tidak suka sushi, ada menu mie ramen juga, hyung. Kau pasti suka" tambah Jaehyun lagi. Ia ingat Taeyong tidak suka makan nasi.
Taeyong lagi-lagi hanya mengangguk. Ia suka mie ramen.
"Ayo masuk, hyung" ucap Jaehyun membuka pintu restoran.
"Jaehyun!" sapa seseorang dari dalam restoran. "Wah sudah lama kau tidak kemari" tambah seseorang itu lagi sambil menyalami Jaehyun.
"Baru juga tiga minggu yang lalu aku kesini, hyung" jawab Jaehyun balas menyalami orang itu.
Orang itu tertawa, dan melirik seseorang yang ada disamping Jaehyun.
"Ah hyung, kenalkan ini Hansol hyung. Dia temanku sekaligus pemilik restoran ini" ucap Jaehyun mengenalkan Hansol yang adalah temannya sekaligus pemilik restoran.
Taeyong dan Hansol bersalaman sambil mengenalkan diri masing-masing.
"Mana Johnny hyung?" tanya Jaehyun pada Hansol matanya juga melihat keseluruh restoran.
"Didapur, hari ini gantian dia yang masak" jawab Hansol sambil tertawa. "Ayo duduk dulu, kau mau duduk dimana?" ucap Hansol.
Jaehyun melihat sekeliling restoran dan menemukan meja kosong. "Kita duduk disana ya, hyung?" tanya Jaehyun pada Taeyong. Taeyong mengangguk, ia hanya mengikuti Jaehyun saja.
Setelah itu mereka duduk dan langsung memesan makanan pada Hansol. Hansol sudah hapal menu favorit Jaehyun direstorannya. Tak perlu ia bertanya pada Jaehyun. Ia hanya menanyakan apa yang ingin Taeyong pesan. Setelah Taeyong memesan mie ramen yang jadi favorit direstoran, Hansol pergi ke dapur menyiapkan pesanan Jaehyun dan Taeyong.
"Kau tak bilang kalau ini restoran temanmu, Jae" ucap Taeyong setelah Hansol pergi.
"Aku sengaja, hyung" ucap Jaehyun sambil tersenyum.
"Ramai juga disini" ucap Taeyong lagi setelah melihat sekeliling restoran.
"Sushi buatan Hansol hyung jadi favorit disini. Mereka sangat menyukai rasanya. Beda dari restoran-restoran sushi yang lain" jawab Jaehyun.
Taeyong melihat kesetiap pengunjung, hampir semuanya memesan sushi. "Oh begitu" ucap Taeyong lagi.
"Nanti kau harus coba ya, hyung" ucap Jaehyun. Taeyong mengangguk ragu-ragu. Ia kan tidak suka nasi.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, pesanan merekapun datang. Dan Hansol juga yang membawa pesanan mereka. Hansol sepertinya ingin melayani 'tamu specialnya' sendiri.
"Terima kasih" ucap Taeyong pada Hansol setelah Hansol menaruh semangkok mie ramen didepan Taeyong. "Mmm, aromanya saja sudah sedap sekali" ucap Taeyong lagi sambil menghirup aroma dari mie ramen.
Hansol tersenyum "Semoga kau suka mie ramen buatanku" ucap Hansol pada Taeyong. "Selamat makan ya" ucap Hansol lagi menepuk pundak Jaehyun lagi ia kembali ke dapur.
"Ayo dimakan, hyung" ucap Jaehyun.
"Boleh aku mencicipi sushimu, Jae" tanya Taeyong.
"Tentu, ini" jawab Jaehyun menyodorkan sushi pesanannya pada Taeyong.
"Mmm ini enak" ucap Taeyong setelah memakan sushinya.
"Benarkan, kau pasti suka hyung" ucap Jaehyun sambil tersenyum.
Taeyong mengangguk karena mulutnya penuh sushi kedua.
"Coba mie ramennya, hyung" ucap Jaehyun lagi.
Taeyong lalu mengambil sumpit dan mencoba mie ramennya. "Hmmm, enak sekali. Ini benar-benar enak, Jae" ucap Taeyong yang terus memakan mie ramennya.
"Aku senang kau suka, hyung" ucap Jaehyun sambil tertawa melihat Taeyong.
"Iya aku suka" ucap Taeyong membalas senyum Jaehyun.
.
Mereka menghabiskan makanan sambil berbincang-bincang, dan sesekali mereka tertawa. Jaehyun membuat lelucon-lelucon yang membuat Taeyong tertawa.
Tak terasa waktu sudah hampir sore. Jaehyun melirik jam ditangannya. "Sudah hampir sore, hyung. Aku antar kau pulang" ucap Jaehyun pada Taeyong. Taeyong mengangguk sebagai jawaban.
"Hansol hyung!" panggil Jaehyun pada Hansol yang sedang melayani pengunjung lain.
Hansol mendatangi meja Jaehyun dan Taeyong. "Kau mau pesan lagi, Jae?" tanya Hansol sambil tertawa.
Jaehyun dan Taeyong tertawa "Tidak hyung. Aku sudah kenyang. Taeyong hyung juga" jawab Jaehyun dan Taeyong mengangguk setuju. "Aku minta billnya, hyung" ucap Jaehyun lagi. "Dan tidak usah didiskon!" tambah Jaehyun lagi. Sepertinya Jaehyun sudah sering mendapat diskon jika ia makan di restoran Hansol.
"Iya iyaa" ucap Hansol sambil tertawa. "Tunggu sebentar ya"
Hansol berjalan menuju meja kasir, tak lama kemudian kembali dengan membawa bill dan menyerahkannya pada Jaehyun.
"Ini hyung" Jaehyun membayar sejumlah nominal yang tertera dibill. "Dan ini untukmu, terima kasih sudah melayani kami dengan baik" ucap Jaehyun memberi uang tip pada Hansol sambil tertawa.
"Kau tak memberi uang tip padaku juga, Jae" tiba-tiba Johnny datang dari dapur. Dan langsung menyalami Jaehyun. "Maaf aku baru sempat menemuimu. Aku sibuk sekali di dapur" tambah Johnny lagi.
"Tidak apa-apa, hyung. Aku tau kau sibuk" ucap Jaehyun pada Johnny.
"Kapan-kapan main lagi kesini ya. Aku yang akan melayanimu. Datang lagi bersama kekasihmu ini" ucap Johnny lagi membuat Jaehyun jadi gugup. Dan Taeyong sedikit terkejut.
"Bukan kekasihku, hyung. Taeyong hyung dan aku belum ber-pa-caran" ucap Jaehyun sedikit terbata.
"Oh, maafkan aku kalo begitu" ucap Johnny malu sambil menggaruk kepala.
"Sudah sana kembali ke dapur. Kau membuat mereka salah tingkah saja" ucap Hansol mengusir Johnny.
"Iya iya aku kembali ke dapur, sayang" ucap Johnny sambil mencubit pipi Hansol. "Dah, Jaehyun. Aku harus kembali ke dapur. Datang lagi lain kali ya kalian berdua" ucap Johnny sambil tersenyum pada Taeyong sebelum kembali ke dapur.
"Ayo aku antar kalian sampai depan" ucap Hansol pada Jaehyun dan Taeyong. Hansol pun mengantar Jaehyun dan Taeyong sampai kedepan restoran. Melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan oleh Jaehyun perlahan melaju meninggalkan restoran.
.
.
Saat perjalanan pulang, Taeyong lebih banyak diam. Jaehyun tau jika Taeyong sedikit terkejut dengan ucapan Johnny tadi.
"Hyung, maafkan perkataan Johnny hyung tadi ya" ucap Jaehyun memecahkan keheningan. Ia merasa tidak enak pada Taeyong.
Taeyong menoleh menatap Jaehyun lalu mengangguk. "Tidak apa-apa" Lalu ia kembali diam.
.
.
"Terima kasih sudah mentraktirku ya, Jaehyun" ucap Taeyong saat mereka sudah sampai didepan rumah Taeyong.
"Terima kasih juga sudah menerima ajakanku" jawab Jaehyun tersenyum. Ia keluar dari mobil hendak membukakan pintu untuk Taeyong. "Sampai jumpa besok, hyung" ucap Jaehyun sambil tersenyum pada Taeyong.
Setelah Taeyong masuk kedalam rumah, Jaehyun kembali melajukan mobilnya. Senyum tak lepas dari wajahnya. Ia senang sekali. Hari ini ia dan Taeyong makan siang bersama. Ia juga sudah membuat Taeyong tertawa. Awal yang baik, batin Jaehyun.
.
.
"Apakah itu tadi Jae hyung yang mengantarmu pulang, hyung? Kalian habis kencan ya?" tanya Mark saat melihat Taeyong memasuki rumah.
"Iya itu Jaehyun. Kami tidak kencan, Mark!" ucap Taeyong. "Tunggu dulu, dari mana kau tau Jaehyun? Kau sudah kenal dia?" tanya Taeyong dan langsung membuat Mark sedikit panik. Taeyong kan tidak tau ia sudah membongkar rahasia Taeyong pada Jaehyun.
"Ee-itu. Waktu itu aku tidak sengaja bertemu Jae hyung di mini market dekat sekolahku. Mmm. Aku kekamar dulu ya, hyung. Aku banyak tugas sekolah" jawab Mark gugup lalu pergi meninggalkan Taeyong yang menatapnya curiga.
.
.
Semalaman Jaehyun tidak bisa tidur. Ia masih terbayang-bayang senyum manis Taeyong. Juga mata indah Taeyong yang siang tadi ia tatap sampai ia puas. Ah tidak, ia belum puas. Ia masih ingin terus menatapnya. Setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik. Dan jika mungkin ia ingin Taeyong menjadi miliknya.
.
.
Hanya miliknya
.
.
END
Halloo... Ketemu lagi. Maaf kalo agak lama updatenya. Lagi sibuk banget nih. Hehehehe.. ^_^
Terima kasih yang udah review. Yang belum ditunggu ya reviewnya.. Gomawo.. ^^
See you next chapter~~ \^^/
