Dangerous Big Sister !
Disclaimer : Akira Amano
This is fic made by Livia Violett and Natsu Yuuki
.
.
.
Warning : OOC, typo merajalela, bahasa amburadul, dll.
.
.
.
Preview chapter sebelumnya : Kakak Tsuna, Mitsuna yang selama ini berada di Italia selama 14 tahun akhirnya kembali ke Jepang! Tsuna yang mengira dirinya anak tunggal tentu saja tidak percaya akan hal itu. Mitsuna yang datang secara "greget" dengan meledakkan sebuah pesawat terbang menampakkan dirinya di kediaman Sawada sekaligus rumah lamanya.
.
.
.
A/N : Halo ~ Sang author malas nge update fic abal ini :"v / jangan litotes nak/ Sempat mengalami writer block (?) karena kehilangan inspirasi atas pembuatan fic. Sebelum itu saya mau ngucapin terima kasih banyak untukYuki-neetan yang mau membantu saya melanjutkan fic abal ini *membungkuk*. Terima kasih banyak! :"D
.
.
.
Chapter 2 : Pertemuan Pertama
Duar !
Bunyi ledakan di langit mengundang rasa penasaran Tsuna bersama Reborn untuk melihat keluar. Terlihat puing-puing benda besar yang melayang berjatuhan akibat ledakan itu. Apa itu ? Bunyi kembang api di sore hari ? Terlintas sebuah sayap pesawat terbang menghantam rumah tetangga Tsuna dan membuat sang brunette terbelalak. Dengan segera, sang brunette bersama Sun Arcobaleno keluar rumah. Sayup-sayup , Nampak sebuah siluette seorang wanita berambut coklat panjang turun menggunakan parasut. Ia turun dengan perlahan membawa tas ranselnya.
"Eh ? Aku berlebihan, ya ?" tanya wanita itu tanpa dosa melihat puing-puing pesawat yang Ia hancurkan.
"Hemm…" sang bayi bergumam. "Ciaossu , Mitsuna…".
"Ah! Reborn-san! Dan.. " pandangan wanita itu beralih ke anak berambut spike brunette. "Kau.. Jangan-jangan , Tsu-chan ?!" seketika wanita itu langsung memeluk sang manik karamel dengan sangat erat. "Aku merindukanmu…".
"Hiieee! A-aku tidak bisa bernafas …" balas Tsuna seraya mencoba menghirup udara.
Sang kakak lalu melepaskan pelukan mematikannya. "Mou~… Tsu-chan… Apa kau masih ingat denganku ? Aku ini kakakmu loh~ …".
"Dia bahkan tidak mengenalmu , Mitsuna." balas Reborn.
"Reborn!" Pipi Tsuna lalu memerah karna sedikit malu.
"Eh ? Apa itu benar Tsu-chan ?" tanya Kakaknya dengan tampang polos.
Tsuna menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan. "Gomen… Tapi aku baru tahu hari ini , jika aku memiliki seorang Aneki…" sahutnya pelan.
Mitsuna hanya tersenyum sedih dan mengacak-acak rambut coklat adik kecilnya, ingin berkata 'Tsu-chan sekarang sudah besar'.
"Itu tidak apa-apa , Tsu-chan… Kita bisa memulainya dari awal untuk saling mengenal." balas wanita brunette itu sambil tersenyum.
Tsuna tersenyum hangat kepada kakaknya "Un! Oke… Etto…"
"Mitsuna… Sawada Mitsuna. Kau bisa memanggilku , Aneki atau Onee-chan , Tsu-chan ~" jawab sang kakak cepat.
"Un! Baiklah , Mitsu-nee.." balas Tsuna tersenyum dengan pipi yang sedikit merona.
"Aww… Tsu-chan~ … Kau memang imut seperti Okaa-san!" goda Mitsuna sembari mengacak-ngacak rambut spike sang Dame-Tsuna.
"Mitsu-nee! Aku tidak imut!" timpal sang Dame-Tsuna sedikit tersipu.
"Sudah cukup! Dame-Tsuna , Mitsuna , ayo kita masuk kedalam. Masakan Mama sudah menungguku di dalam." kata Reborn yang sudah tidak sabar.
"Oke, Reborn-san ~ ! Ayo , Tsu-chan kita masuk ke dalam!" perintah wanita itu menarik lengan sang brunette yang sedari tadi hanya bisa bersikap pasrah karena sikap "aneh" kakak perempuannya itu.
Kediaman Sawada , Pagi hari
Pagi yang tidak biasa di Namimori untuk sekarang ini. Terutama untuk sang brunette, Sawada Tsunayoshi , yang kemarin baru mengetahui jika ia memiliki kakak perempuan yang memiliki kemiripan mata seperti ayahnya. Sawada Iemitsu. Sedangkan Tsuna sendiri memiliki Kemiripan dengan Ibunya dengan sikap ayahnya.
"Tsu-kun! Bangun! Sarapan sudah siap!" panggil mama dari bawah.
Sang brunette yang dipanggil oleh ibunya langsung menarik bantal serta selimut untuk menutupi dirinya. DUAK ! Leon-Hammer langsung mendarat di kepala Tsuna saat ia akan kembali tidur lagi. "Cepat bangun , Dame-Tsuna! Yamamoto dan Gokudera sudah menunggumu di luar.." sahut sang bayi Arcobaleno berusaha membangunkan sang manik karamel yang masih ingin tidur lagi.
Sang brunette langsung melihat jam yang berada di meja ,di samping tempat tidurnya. "Hieee! Sudah jam 07:45! Aku terlambat lagi!" pekiknya kalang kabut. Tsuna langsung menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka , lalu kembali lagi ke kamarnya , memakai seragamnya.
Tsuna mengambil tasnya , lalu menuju kebawah , mengambil roti dan langsung menuju keluar. "Ittekimasu!" ucapnya pamit.
"Tsu-kun!" panggil sang Mama berusaha menghentikan Tsuna untuk membawa sesuatu. Akan tetapi sang manik karamel sudah pergi bersama dengan sang surai perak dan sang raven."Mou! Tsu-kun lupa membawa bekal makan siangnya lagi."
"Gyahahaha…! Serahkan saja pada Lambo-san , Biar Lambo-san yang membawakan bekal Tsuna!" teriak tiba-tiba Lambo.
"Lambo! Kita juga masih harus pergi ke sekolah!" bentak I-pin – berusaha mencegah Lambo.
"Un! I-pin benar , Lambo…" tambah Fuuta lagi.
Mitsuna yang sementara duduk sambil meminum secangkir kopi hangat bersama Bianchi langsung berdiri. "Jaa… Kalau begitu , biar aku saja yang mengantarnya.." tawar Mitsuna yang rupanya menguping pembicaraan Lambo. Ia bangkit dari kursi dan mengambil bekal Tsuna.
"Kalau begitu, tolong ya, Mitsu-chan ~ " balas mama tersenyum. Mitsuna mengangguk sembari mengenakan jaket coklat lalu pergi mengejar adiknya ke itu segera mengambil ancang-ancang. Raut wajahnya berubah menjadi serius. WUUSH.. Ia segera mengambil langkah seribu, mengejar ketinggalannya untuk mendapatkan adiknya – bermaksud mengantarkan bekal makanan siangnya. Hampir saja Ia menabrak anak-anak yang sedang berjalan menuju sekolah. Ia tidak peduli apa yang berada di sekitarnya, yang Ia pikirkan hanyalah "mengantarkan bekal makan siang untuk sang adik tercinta Tsu-chan". Ia mencoba untuk mengambil jalan pintas tercepat untuk sampai di Namimori-chuu.
"Heh, selama 14 tahun ini tidak ada yang berubah ya.. Hanya saja, bangunan ini.." ucapnya sambil tersenyum licik, sang wanita brunette memberi jeda – mengatur nafas untuk bersiap melakukan sesuatu yang bisa dibilang "gila", Ia melihat sekilas bangunan yang masih belum jadi berada di depannya. Ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya. "Bangunan ini...Cukup menganggu! Enyahlah!" lanjut wanita brunette itu sembari memegang pelatuk dari 2 pistol revolver di kedua tangannya yang sedari tadi Ia bawa . Tunggu, apa dia membawa senjata api daritadi? Tanpa pandang bulu, Ia langsung menembak bangunan yang belum jadi itu menjadi debu seketika akibat ulahnya. Penduduk Namimori yang berada di sekitarnya cukup terkejut melihat bangunan yang sementara dibangun menjadi hilang atau tepatnya lenyap akibat ulah Mitsuna. Mitsuna menyimpan pistolnya dan melanjutkan perjalanannya. Samar-samar, Ia melihat sosok lelaki yang dikenalnya.
"Ah, Tsu-Chan ~~~ Tsu-chan ~ Kakakmu membawakan bekal untukmu Tsu-chan ~" teriak sang kakak dari kejauhan 100 m. Sang manik karamel yang mendengar teriakan yang tidak asing baginya langsung menoleh arah suara yang dituju.
"Eh?! M-Mitsu-nee?!" teriak sang manik karamel tak percaya. Sang surai perak dan sang raven yang berada di sampingnya hanya melongo melihat kedatangan seseorang yang memanggil sang Dame-Tsuna. Mitsuna menghentikan langkahnya dengan salto lalu merendahkan sedikit lututnya dan berdiri sambil memegang bekal. Ia mengatur kembali rambutnya yang panjang.
"Tsu-chan ~ Kakakmu datang untuk membawakan bekal untukmu, Tsu-chan ~" kata gadis itu memasang wajah polos.
"J-Juudaime? A-Anda mengenalinya?" tanya sang manik emerald sedikit merinding melihat kedatangan "greget" sang Kakak. Ia mengerutkan keningnya.
"Hah.. S-Sebenarnya.. Dia adalah kakak perempuanku.." jawab sang manik karamel menghela nafas pasrah. "Mitsu-nee, seharusnya tidak perlu repot-repot begini.." lanjutnya mendekati Mitsuna, mengambil bekal yang dibawakan oleh kakaknya.
Mitsuna tersenyum. "Tidak apa kok! Aku rela mengantar apapun demi adik tersayangku, Tsu-chan ~ Aku sebagai kakakmu sangat rindu denganmu semenjak aku pergi ke Italia selama 14 tahun , dan pada saat itu kau masih sangat kecil, Tsu-chan ~" ucap sang kakak sembari mencubit pipi Tsuna , wajah sang adik seketika memerah melihat kegemasan Mitsuna terhadap dirinya.
"I-Italia?" tanya sang surai perak, atau yang akrab dipanggil Gokudera itu langsung terbelalak tidak percaya. "J-Juudaime, o-orang ini.." Gokudera menunjuk Mitsuna, dan berusaha mengingat-ingat.
"Eh? Kau mengenalnya, Gokudera-kun? Dia adalah kakakku, namanya Sawada Mitsuna - " jawaban sang manik karamel dipotong oleh sang kakak.
"Mitsuna Caramel.. Itu nama yang kupakai di Italia.. Apa kau mengenalku , Figlio di Miss Lavina?" tanya wanita itu tersenyum ke arah sang surai perak.
"AAH! A-Aku pernah mendengar nama itu.. K-Kalau tidak salah, dia adalah mafia yang ditakuti seluruh dunia karena kebrutalannya dalam menyelesaikan misi.. Kudengar juga dia pernah bekerja sama dengan Reborn dan Aneki... J-Juudaime..." sahut sang manik emerald seketika gemetar mengingat-ingat nama dari Mitsuna Caramel, tepatnya kakak perempuan sang Decimo sendiri.
"Wah, aku cukup terkenal ya~ Ya, itu benar. Aku pernah bekerja sama dengan kakakmu dan Reborn-san, mereka berdua adalah pasangan serasi pada saat itu. Mereka banyak membantuku dalam misi. Makanya itu, aku sangat senang Reborn-san adalah guru pembimbingmu Ah , aku sangat senang ~ Apalagi mendengar bahwa adikku adalah seorang Vongola Decimo, dan itu membuatku sangat ingin memelukmu, Tsu-chan ~" sahut wanita itu mulai mengkhayalkan "keimutan" adiknya.
"M-Mitsu-nee! S-Sudah kubilang aku tidak mau menjadi salah satu dari mafia! D-Dan, A-Aku tidak imut!" sahut sang manik karamel tersipu.. "S-Sebenarnya..Aku.. masih ingin lebih mengenal Mitsu-nee." Lanjut Tsuna memunduk sedih. Ekspresinya sungguh-sungguh. Melihat kesungguhannya itu, Mitsuna tidak tahan melihat ekspresi sang Decimo.
"Aah~~ Tsu-chan ~ J-Jangan pasang ekspresi itu ~ Aku ingin sekali memelukmu ~" ucap Mitsuna langsung memeluk Tsuna dengan eratnya.
"T-Tolong.. Aku tidak bisa bernafas... Mitsu-nee..." balas Tsuna yang hampir kehabisan nafas.
"Ah, maaf .. " jawab sang kakak dengan tampang tidak berdosa. Dia melepaskan pelukannya, dan seketika Tsuna menjadi pingsan karena kehabisan nafas akibat pelukan mematikan kakak perempuannya itu.
Kediaman Sawada, Sore Hari
Tsuna, Gokudera, dan Yamamoto sedang belajar bersama di dalam kamar Tsuna. Sang kakak yang ditugaskan mengantarkan minuman datang menghampiri mereka bertiga.
"Kalian jangan sungkan-sungkan, ayo minum~" kata wanita itu tersenyum ramah. Ia meletakkan minuman dan makanan di atas meja. "Terima kasih karena telah menjaga adikku Tsu-chan. Oh ya, Tsu-chan, mereka juga penjaga Vongola juga kan?"
Sang brunette yang sedang meminum minuman yang disuguhkan kakaknya langsung menyembur keluar minumannya. "M-Mitsu-nee tahu dari Reborn?" tanya sang brunette menyeka mulutnya.
"Tentu saja, Tsu-chan~ Reborn-san dengan senang hati menceritakan kalian kepadaku~ Gokudera Hayato sang penjaga badai, tepatnya juga adik dari teman baikku, Bianchi dan Yamamoto Takeshi sang penjaga hujan, kan?" balas Mitsuna dengan semangat. Gokudera yang paling sensitif mendengar kalimat "Bianchi" langsung bergidik.
"Hayato, aku membuatkan ini untukmu." Kata Bianchi, yang entah darimana muncul di belakang Mitsuna. Bianchi membawa sebuah kue yang dipenuhi aura racun yang berwarna ungu dan tentu saja hal itu membuat fobia Gokudera muncul.
Sang surai perak langsung memegang perutnya – Ia mual lagi. "A-Aneki.." ucapnya lirih memegang perutnya. Tsuna yang hanya bisa nyengir melihat tingkah laku mereka berdua – Gokudera dan Bianchi. Dan Yamamoto? Dia hanya tertawa saja.
"Bianchi, kau membuat adikmu tersiksa lagi.." kata wanita brunette itu sembari menyilangkan tangannya.
"Huh, ini namanya kasih sayang terhadap saudara. Dia hanya gugup melihatku,Mitsu... Dia gugup melihatku karena kami jarang bertemu. Dan aku yakin, dia pasti senang sekali hingga gemetar seperti itu.." sahut Bianchi. Mendengar hal itu, perut sang surai perak menjadi lebih sakit.
"Uugh.. J-Juudaime... S-Sepertinya a-aku tidak bisa membantu anda... K-Kondisi t-tubuhku... T-Tidak memungkinkanku u-untuk mengajari anda..." ucap sang surai perak dengan lirih.
"Ara, Hayato. Kau selalu seperti ini setelah melihatku. Ayo, akan kuantar kau." Ucap Bianchi tiba-tiba sambil menggendong Gokudera. Sang manik emerald yang digendong seketika menjadi pingsan tak berdaya. Bianchi lalu membawa Gokudera untuk mengobati adiknya itu.
"Mereka kakak adik yang akur ya?" tanya Mitsuna mencairkan suasana. Sang brunette hanya tertawa pasrah. "Oh ya, Tsu-chan.. Nanti kau akan kuberitahu lebih jelasnya tentang kehidupanku. Kau penasaran, bukan?" sambung Mitsuna langsung mengganti topik pembicaraan. Sang manik karamel mengangguk pelan, lalu disusul oleh senyum hangatnya. "Un..." angguknya.
Italia
Seorang pria dengan pakaian serba hitam layaknya seorang mafia yang berbahaya tengah melihat-lihat daftar tugas di berkas yang Ia pegang. Dihisapnya cerutu rokok itu dengan perlahan sembari melihat-lihat isi daftar tersebut. Saat membuka lembaran ketiga, seketika matanya terbelalak dan langsung membanting berkas yang Ia baca itu ke lantai. Dia mengacak-ngacak isi meja kerjanya. Pria itu memasang wajah marah, benci atau sejenisnya, lalu melihat foto seseorang yang berada di daftar itu. Ia mengambil sebuah pisau kecil dan Ia menargetkan pisau itu ke arah foto seorang gadis muda berambut brunette. Satu kalimat yang Ia ucapkan adalah : "Mitsuna Caramel, kali ini kau harus mati!" ucap pria itu penuh dengki.
To Be Continued –
A/N : Yaelah, bersambung lagi :""v Semoga saya gak kena writer block lagi supaya fic ini bisa berlanjut sampai habis ya :"v Doakan supaya saya bisa segera update dengan sambungan fic DBS ini:"v Doakan juga supaya tugas bisa saya santet / jangan nak /. Oke, karena masih banyak tugas jadi saya belum tahu kapan saya bisa update :"v Tapi akan saya usahakan bisa secepatnya dan fic ini bisa selesai. Ciao~ Salam dari sang author malas :"v / dilempar / Bila berkenan, silahkan di review ya~ Jaa ~ ^ ^
