annyeong :D
Sebelumnya aku mau berterima kasih kepada para readers yang sudah menyempatkan membaca karya aku walaupun begitu banyak kekurangan, tapi next bakalan usaha kok biar lebih baik lagi,
Then, thanks so much buat reviewers aku . . . PinkeuShuu, Yessi94esy, safabelle, yoongiena, kharisma shima, God bless you guys :) dan buat reviewers yang punya pertanyaan sebelumnya bakalan terjawab "beberapa" di chapter ini. So enjoy~
Gamsahabnida :D
.
.
.
.
.
.
.
Precious
.
.
.
Bibi Jeon tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi di ruang makan bersama dengan suaminya, dan Jungkook yang sudah bangun lebih awal pagi ini segera menuju dapur untuk membantu umma nya, kebiasaan yang selalu ia lakukan dengan senang hati, walaupun hanya menata makanan di meja atau menyusun peralatan makan.
"Kookie tolong bangunkan hyungmu, umma takut ia terlambat, biar appa mu yang merapikan meja"
"dia bukan hyungku"ucap Jungkook tidak suka
"ne, dia memang bukan hyungmu, tapi dia dua tahun lebih tua darimu, jadi bersikaplah sopan pada orang yang lebih tua darimu, sekarang umma minta tolong padamu untuk membangunkannnya"
"neee, ummaaa"ucap Jungkook malas
Jungkook menyeret kakinya malas menuju kamar Taehyung. Wajah enggannya serta langkah malasnya menandakan ia benar-benar tak berniat untuk membangunkan Taehyung, tapi sayangnya ia tak pernah bisa mengabaikan permintaan tolong umma nya. Ia terus melangkah, hingga ia sampai di depan pintu kamar Taehyung. Ia mengetok pintu tersebut, tetapi tak ada jawaban ataupun suara langkah kaki yang membukakan pintu untuknya, Jungkook mengetuk kembali pintu itu tetapi hal yang sama ia dapatkan. Ia memegang kenop pintu dan menariknya, membiarkan tangannya membuka pintu tersebut. Ia hanya menatap malas pada pemandangan di depannya, onggokan selimut yang tak menampakkan tubuh Taehyung. Jungkook berjalan menuju ranjang Taehyung, salah satu kakinya terangkat dan menendang-nendang kecil kaki Taehyung yang masih terbungkus selimut, cukup lama agar Taehyung terbangun, Jungkook pun tak menyerah untuk membangunkannya.
"Kookie,. . ."suara dari kepala keluarga Jeon itu terdengar tepat di depan pintu kamar Taehyung
Jungkook melihat ke arah sumber suara dan tersenyum bagaikan orang yang tak berdosa, ia menurunkan kakinya dan menyentuh lengan taehyung dengan tangannya. Sedangkan appa nya masih berdiri didepan sana.
"Taehyung-ssi bangunlah, kau akan ketinggalan sarapan kalau tidak bangun"ucap Jungkook dengan nada lembut yang dibuat-buat
Appa nya tersenyum dan meninggalkan Jungkook untuk menyelesaikan tugasnya membangunkan Taehyung.
"Taehyung-ssi, jika kau tak bangun juga, aku akan menendangmu"ucap Jungkook ketika ia tak melihat appa nya lagi
"ahh, hmmm hoammm, nee. . ., aku akan mencuci mukaku dulu"ucap Taehyung setengah sadar dan membiarkan tubuhnya bangun dan duduk di atas ranjang.
Jungkook pun mengerti dan segera keluar dari kamar Taehyung. Belum sampai menuruni tangga, Jungkook tetap memasang telinganya untuk mendengar suara air di kamar mandi tempat Taehyung berada. Tapi hanya suara angin yang ia dengar, ia kembali melangkah menuju kamar Taehyung dan melihat pemandangan yang sama saat pertama kali masuk untuk membangunkan Taehyung.
"Taehyung-ssi!"suara tegas itu cukup berhasil membangunkan Taehyung
"ya ya ya. . ."Taehyung menundudukkan tubuhnya dan mencoba membuka matanya perlahan
Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Taehyung. Taehyung melirik nakas di sampingnya, Jungkook pun mengikuti arah pandangannya, sedikit bingung.
"mana susu dan rotinya? Ahh kau mengganggu tidurku saja, bangunkan aku ketika makanannya sudah kau bawa kesini"Taehyung kembali merebahkan dan menyelimuti tubuhnya
"ya! Kalau kau ingin sarapan, kau kebawah sekarang juga"Jungkook berlalu meninggalkan Taehyung
Mendengar suara tegas milik Jungkook membuat Taehyung sedikit ngeri dan segera beranjak dari ranjangnya walaupun masih dalam keadaan mengantuk. Ia menuruni tangga dengan langkah gontainya, dan ketika melewati ruang tengah ia segera mendudukkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia kembali melanjutkan tidurnya yang telah diganggu oleh Jungkook 'pikirnya'.
.
.
.
Acara sarapan pagi keluarga Jeon telah selesai. Jungkook segera ke kamar untuk mengganti pakaian dengan seragam sekolahnya. Ketika melewati ruang tengah, ia melihat Taehyung sedang meringkuk di atas sofa.
"Taehyung-ssi, bangunlah!, sarapanlah sebelum ke kampus"ucap Jungkook
"Taehyung-ssi, aku benar-benar akan menendangmu jika kau tak bangun juga"lanjut Jungkook
Taehyung segera menundukkan tubuhnya di sofa dan berusaha memberikan tatapan tajam sekedar untuk menakuti Jungkook , tapi wajah setengah sadar itu tak berhasil membuat Jungkook takut malahan membuat Jungkook berusaha menahan tawanya karena lagi-lagi ia harus di hadapkan dengan wajah lucu namja yang lebih tua darinya itu.
"bangunlah Taehyung-ssi jika tak ingin terlambat"Jungkook berlalu meninggalkan Taehyung
"ne, cerewet"
Taehyung berdiri dan segera ke ruang makan, dan mendudukkan dirinya di kursi dengan kepala yang ia rebahkan ke meja makan. Bibi dan paman Jeon yang tengah sibuk membereskan meja tersenyum melihat tingkah Taehyung.
"Tae-ya, bangunlah, nanti kau terlambat"ucap bibi Jeon sambil mengusap kepala Taehyung
"mmm, . . .aku lapar"Taehyung menegakkan kepalanya berusaha membuka matanya dan mengusir rasa kantuknya dengan menyambar segelas air putih dihadapannya
"kau lapar? Jungkook sudah menghabiskan bubur bagianmu Tae-ya"ucap paman Jeon sambil tertawa keras
"benarkah?"ucap Taehyung tidak percaya
"Kookie bilang kau tidak biasa sarapan kalau sarapan kau akan memuntahkannya lagi, dan dia bilang kau akan menunggu di kamar saja "bibi Jeon tersenyum melihat wajah terkejut Taehyung
"aku tak pernah bicara seperti itu"Taehyung menampakkan wajah kesalnya
"jangan sedih, aku akan membuatkanmu telur gulung dengan daging, kimchi tadi malam biar bibi hangatkan lagi"bibi Jeon dengan senang hati menuju kulkas untuk mengambil beberapa telur
Taehyung tampak ceria kembali dengan ucapan bibi Jeon.
"umma, ada yang telpon" Jungkook tiba-tiba datang dan menyerahkan handphone milik ummanya
Bibi Jeon segera meninggalkan dapur bersama paman Jeon setelah mengucapkan sebuah kata agar Taehyung menunggu sebentar. Taehyung hanya memberikan anggukan dan tetap duduk manis di ruang makan, sedangkan Jungkook ikut ke ruang tengah mendengar pembicaraan ummanya di telpon.
"umma, Taehyung-ssi bilang ia akan memasak sendiri karena umma kelihatan sibuk"ucap Jungkook setelah melihat umma nya menyelesaikan pembicaraannya di telepon
"benarkah, apa ia bisa memasak?"tanya bibi Jeon ragu
"tenang saja,dia bilang dia adalah koki handal"ucap Jungkook dengan senyuman lebarnya
"baiklah, umma dan appa harus siap-siap ke toko, tuan Shin telah menunggu untuk menjeput pesanannya"
Pasangan suami istri itu segera berlalu, meninggalkan Jungkook. Ketika Jungkook berbalik, ia melihat Taehyung tengah memandangnya dengan tangan yang dilipat didepan dadanya.
"kau selalu membuat kacau Jeon Jungkook-ssi" kali ini Taehyung memberi tekanan pada kalimatnya yang terakhir dan berlalu meninggalkan Jungkook menuju kamarnya
Jungkook duduk di sofa ruang tengah dan menghembuskan nafasnya panjang, ia hanya berniat mengerjai Taehyung, bukan membuatnya marah, tapi hei! , apa salahnya masak sendiri tanpa merepotkkan orang lain.
Pasangan suami istri yang telah bersiap pergi bekerja itu menghampiri Jungkook. Sebenarnya appa Jungkook tau kalau ia sedang mengerjai Taehyung. Ia menghampiri Jungkook dan duduk di sebelahnya.
"Jungkook, aku tau kau sedang kesal karena . . ." namja paruh baya itu memberi jeda pada ucapannya ketika mendapat tatapan tajam dari Jungkook " Jungkook, melampiaskan kekesalan dengan mempermainkan orang lain tidaklah baik, aku harap kau bisa bersikap baik pada hyungmu, kau tau kan keluarganya dulu pernah membantu appa, appa hanya ingin membalas kebaikannya tidak hanya pada appa Taehyung tapi pada keluarganya"
"ne, aku mengerti, aku mengakui kalau aku sedikit keterlaluan"
"jadi?" tanya tuan Jeon itu
"jadi. . ." Jungkook memberi jeda pada ucapannya "minta maaf padanya?"
"anak baik, kau benar sekali, baiklah kami harus pergi sekarang, aku tidak mau tuan Shin menunggu lama"
"ne, hati-hati di jalan"
"satu lagi berhentilah memanggilnya Taehyung-ssi, hubungan adik dan kakak seperti kalian menjadi terlihat sangat kaku, panggil dia hyung"
"ya ya ya, aku mengerti"
Jungkook menaiki tangga menuju kamar Taehyung, ia benar-benar tak berniat minta maaf pada Taehyung, tapi tetap saja ada sedikit rasa bersalah karena mengerjai orang yang lebih tua darinya itu. Jungkook mengetuk pintu sebelum memasuki sebuah ruangan yang pernah menjadi miliknya itu. Suara Taehyung terdengar dari dalam mempersilahkan Jungkook untuk masuk. Jungkook tak mengeluarkan suaranya, begitupun Taehyung, ia hanya sibuk membereskan perlengkapan sebelum kekampus. Pandangan Jungkook tiba-tiba beralih pada lemari yang terdapat di kamar Taehyung, sebuah box berwarna pink terletak di atas lemari tersebut. Jungkook berjalan mendekati lemari dan mengambil box tersebut.
"mau apa kau kesini,?. . ."pandangan Taehyung beralih pada Jungkook yang sedang memegang box bewarna pink
Jungkook tak menjawab, ia meninggalkan Taehyung begitu saja. Taehyung sedikit kesal karena lagi-lagi pertanyaannya di abaikan begitu saja.
"dasar tidak sopan"
.
.
.
Jungkook sekarang berada di depan rumahnya dengan sebuah sepeda, Taehyung memperhatikannya yang tengah sibuk memasukkan box yang ia ambil dari kamar Taehyung tersebut pada sebuah kantong plastik. Taehyung menghampiri Jungkook ia hendak bertanya tapi mengurungkan niatnya karena melihat wajah Jungkook yang tak bersemangat sama sekali.
"ayo berangkat"ucap Jungkook ketika melihat Taehyung menghampirinya
"dengan ini?" tanya Taehyung sambil menunjuk sepeda Jungkook
"naiklah, kalau tidak mau terlambat?"
"kenapa tidak naik motor atau mobil atau taxi saja?"
"terserah kau saja"Jungkook menaiki sepedanya dan meninggalkan Taehyung sendirian
"Jeon Jungkook sialan, kenapa malah meninggalkanku"ucap Taehyung sambil menendang sebuah kaleng soda di depan kakinya yang tepat mengenai kepala seekor anjing di depan jalan rumahnya.
Anjing itu menggonggong keras dan mengejar Taehyung, mendengar suara gaduh tersebut Jungkook menoleh kebelakang. Ia melihat Taehyung berlari sangat kencang karena dikejar anjing, Jungkook tertawa karenanya, bukannya menolong, Jungkook mengayuh sepedanya semakin kencang menjauhi Taehyung, sepanjang perjalanan Jungkook tak bisa menghentikan tawanya. Taehyung di buat benar benar ketakutan hingga ia berlari secepat mungkin dan menemukan sebuah pohon, dengan lincah Taehyung memanjat pohon tersebut. Anjing itu tetap menggonggong menunggu Taehyung turun dari pohon. Taehyung mengeluarkan handphone nya dan mengetikkan sesuatu di sana. Taehyung kemudian melihat jam tangannya,dia masih punya cukup waktu untuk mencapai kampus. Ia kesal karena sejak tadi anjing itu tetap menggonggong dan tak mau pergi, Taehyung mengeluarkan headsetnya dan memasangnya di telinganya untuk sekedar mendengar lagu favoritnya, tetapi diluar perkiraan sesuatu yang di tunggunya sudah datang.
Sebuah taxi berhenti di pinggir jalan tepat didepan sebuah pohon dimana Taehyung sedang menyelamatkan dirinya dari kejaran anjing 'gila?'. Driver taxi itu keluar dan melihat ke sekelilingnya, Taehyung melihat namja itu tampak kebingungan.
"permisi, maaf. . ."ucap Taehyung
Driver taxi itu masih kebingungan dan mencari sumber suara.
"aku, ada di atas . . .pohon"Taehyung berusaha agar tidak terlihat memalukan
Seketika itu pemilik taxi mengedarkan pandangannya dan melirik ke atas pohon, tampak ia sedang tersenyum remeh, sekilas Taehyung bisa melihat dan mengetahui hal itu membuatnya benar-benar kesal dan ini semua terjadi karena Jungkook, lagi-lagi ia di permalukan.
"maaf, bisa tolong usir anjing itu"
"tentu tuan"
Driver taxi yang terlihat masih muda itu segera mengusir anjing yang masih mengintai Taehyung dari bawah, usahanya cukup berhasil dan Taehyung segera turun dari pohon. Untuk mengusir rasa malunya, Taehyung berjalan dengan santainya dan masuk ke dalam taxi, driver tersebut hanya mendengus kasar.
.
.
.
Taehyung sibuk memperhatikan jalanan yang sedikit ramai pagi ini sambil membalas chat dengan kekasihnya. Senyuman kecil selalu muncul ketika ia hendak membalas pesan singkat di handphone nya. Tetapi ketika sdang menikmati jalanan pagi ini, sesuatu menarik perhatiannya.
"bisakan anda menepi sebentar?"
Taehyung keluar dari taxi dan berjalan menuju tempat sampah dan mengambil bungkusan plastik disana, lalu menatap lurus kedepan, ia hanya bisa menatap punggung Jungkook yang semakin menjauh. ia membuka bungkusan plastik bewarna putih itu, mengambil box yang ada di dalamnya lalu kembali ke taxi sambil membawa box tersebut.
Taxi itu kembali melanjutkan perjalannannya menuju kampus Taehyung.
.
.
"ini tips untukmu karena telah membantuku"Taehyung menyodorkan sejumlah uang yang terlihat lebih banyak dari harga yang terdapat pada argo taxi yang ia tumpangi.
"terima kasih tuan" namja berkulit seputih susu itu tersenyum mengingat kejadian di pohon tadi
Taehyung keluar dari taxi sambil membawa box di salah satu tangannya, memasuki area kampus yang cukup ramai. Sebuah suara dari kejauhan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kim Taehyung~"teriak salah satu namja yang tak jauh berada di depannya
Taehyung memperhatikan wajah namja yang tengah berlari menghampirinya, ia memastikan namja yang di depannya itu adalah orang yang ia kenal, sesaat setelah itu ia tersenyum mengetahui orang yang tadi memanggilnya itu adalah orang yang sangat dekat dengannya, ia berlari dang menghambur ke tubuh namja itu dan memeluknya erat.
"Jimin-ah, aku sangat merindukanmu"Taehyung makin mempererat pelukannya
"ne. . ., aku. . .h juga Tae tae"pelukan Taehyung yang erat membuat namja bernama 'Jimin' itu sulit berbicara "bisakah ka. . .u melonggarkan . . .pelukanmu?"
"aaa" Taehyung terkekeh "mianhe, aku hanya terlalu senang bisa bertemu denganmu lagi"Taehyung segera melepaskan pelukannya
"sudah lama sekali kita berpisah, bagaimana keadaanmu? Kau baik?"tanya Jimin memastikan
"kau lihat, aku masih setampan yang dulu" Taehyung menampilkan senyuman lebarnya
"ne, aku bisa melihatnya kau baik-baik saja karena wajah tampanmu tidak memudar"Jimin terkekeh
"apa itu hadiah untukku?" Jimin menunjuk box berwarna pink yang di pegang Taehyung
"maafkan aku Jimin harusnya aku membawakanmu hadiah dari Chicago, sayang sekali ini milik seseorang, ia tak sengaja menjatuhkannya dan aku memungutnya"
"tidak apa-apa Tae-ya, aku sudah senang melihatmu kembali"
"wait Jimin". . . " kenapa kau berada di Busan?"
Jimin tersenyum pahit "sepertinya lebih baik kita ke berkumpul ke aula dulu, aku akan menceritakannya nanti"
"penyambutan mahasiswa baru ya?, aku hampir melupakannya, hmmmm tapi bukankan terlalu awal untuk penyambutan, sedangkan perkuliahan di mulai bulan depan"
"bukankah lebih baik seperti ini, aku harap menemukan sunbae tampan"kekeh Jimin
.
.
Hampir terdapat ribuan mahasiswa yang berkumpul di aula universitas tersebut. Taehyung sangat bersemangat di hari pertamanya menjadi mahasiswa apalagi ia bertemu Jimin sahabat lamanya. Taehyung dan Jimin memilih duduk di bagian depan agar bisa melihat dengan jelas acara yang sedang berlangsung, bukan. . . tepatnya barisan depan bagian favorit Jimin, karena menurutnya di depan ia bisa melihat hal menarik. Setelah semua mahasiswa baru berkumpul dan menempati tempat duduknya, acara pun di mulai. Penyambutan pertama datang dari petinggi-petinggi di universitas yang berlangsung hampir 2 jam membuat Jimin menguap lebar, menurutnya hal itu sangat membosankan. Penyambutan kedua berasal dari mahasiswa yang berpengaruh di universitas seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, mahasiswa berprestasi, dan mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Penyambutan ketiga berasal dari ketua-ketua club ekskul yang ada di kampus tersebut. inilah yang paling di tunggu-tunggu Jimin, dia selalu ingin masuk salah satu club di universitas.
"Tae-ya bisakah kau berhenti mengoceh untuk sesi ini, karena aku mungkin tak akan menghiraukanmu"ucap Jimin menatap lurus ke depan
Taehyung yang dari tadi mengajaknya bicara akhirnya mengikuti arah pandangan Jimin, menurutnya tak ada yang menarik, hanya sekumpulan mahasiswa, bukan. . .sekumpulan sunbae yang menawarkan untuk masuk club yang mereka ketuai. Tunggu, Taehyung menangkap sesosok yang tak terlalu asing baginya yang tiba-tiba datang menghampiri para sunbae yang telah bersiap untuk memperkenalkan diri.
"driver taxi itu juga mahasiswa disini?"Taehyung bergumam sendiri
Sedangkan Jimin telah siap dan memasang telinganya untuk mendengarkan perkenalan para ketua ekskul dan penjelasan singkatnya, tetapi tiba-tiba matanya tertarik oleh salah satu namja tampan dengan kulit yang begitu pucat, yang datang secara tiba-tiba.
"hallo semuanya, aku Min Yoongi, aku ketua club dance" namja berkulit putih itu memberikan senyumannya
Salah seorang mahasiswa berdiri dan meneriaki sesuatu yang membuat Yoongi mengalihkan pandangannya pada mahasiswa yang berstatus sebagai hobae nya itu.
"Yoongi sunbae~. . . aku . . ."
Taehyung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika tau yang berteriak itu adalah Jimin dan suara gaduh itu membuat semua mata tertuju pada Jimin, Jimin tersadar dengan tindakannya tapi ia tak berniat duduk, ia melanjutkan perkataannya.
"aku Jimin, Park Jimin"
Yoongi tersenyum kaku pada Jimin "hallo Jimin, club dance sepertinya cocok untukmu, bergabunglah jika kau mau"
Jimin tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Yoongi, Taehyung segera menarik ujung mantel Jimin menyuruhnya untuk duduk agar tidak berbuat hal aneh lagi.
"aku J-Hope. . ." ia mencoba memperkenalkan dirinya dengan rap andalannya, tetapi ia mengurungkan niatnya setelah sebuah pukulan bertengger di kepalanya
Terdengar suara tertawa dari ribuan mahasiswa didalam sana. Yoongi tersenyum puas dengan pukulannya dan menyuruh namja di sampingnya itu untuk memperkenalkan diri dengan benar. Namja itu kemudian merangkul Yoongi.
"halo semuanya, aku Jung Hoseok, aku ketua club fotografi dan aku sahabat baik Min Yoongi namja yang mendapat predikat namja paling dingin se-universitas dan aku masih single begitupun dia"
Suara tawa kembali terdengar di ruangan yang menampung ribuan orang itu, lagi. . .namja bernama 'Jung Hoseok itu mengaduh kesakitan ketika Yoongi dengan sengaja menginjak kakinya.
"setelah ini kita harus segera ke stand club dance di lapangan" ucap Jimin semangat
.
.
.
Jimin mencari-cari stand club dance sambil menarik kencang pergelangan tangan Taehyung, Taehyung mengikuti Jimin dengan langkah malasnya. Jimin terlihat begitu bersemangat setelah mendapatkan perhatian kecil dari Yoongi sunbae 'pikirnya' , tapi Taehyung yakin perhatian itu bukanlah benar-benar sebuah perhatian yang bermakna, ia yakin Yoongi hanya bersikap sopan dan meminimalkan kemungkinan agar ia ataupun Jimin dipermalukan di depan orang banyak.
"nah, ketemu" Jimin berlari seperti anak kecil yang menemukan penjual ice cream
Jimin melepas pergelangan tangan Taehyung begitu saja. Taehyung begitu kesal dengan sikap Jimin yang terlalu antusias untuk masuk club dance, bukan. . . sikap Jimin lebih terlihat seperti yeoja centil tak tau malu yang ingin bertemu dengan namja yang menarik hatinya. Taehyung pun segera menyeret kakinya ke tempat Jimin tengah berada.
"kau tak tertarik ikut club dance atau yang lainnya?" tanya Jimin
"tidak sama sekali"
"hei, dongsaeng-dongsaeng ku yang manis"
Taehyung dan Jimin mengalihkan pandangannya, seketika itu juga sebuah kamera polaroid berwarna pink menangkap wajah mereka.
"yoo. . .Park Jimin" seorang sunbae menghampiri mereka sambil mengibas-ngibas kan hasil foto yang ia ambil tadi
Taehyung dan Jimin saling berpandangan dan setelah itu saling tersenyum melihat tingkah sunbae nya itu, terlihat konyol menurut mereka. Bagaimana tidak, ia berjalan sambil melakukan dance yang abstrak dan secara tiba-tiba mengambil foto mereka dengan kamera polaroid berwarna 'pink'.
"halo, Jung Hoseok sunbaenim"ucap Jimin dan Taehyung bersamaan
"ya ya ya, cukup panggil aku Heseok hyung saya, aku lebih suka begitu"
"ne"ucap mereka berdua
Taehyung masih memandang aneh pada benda berwarna pink di tangan Hoseok.
"Jimin. . .kau mencari makhluk dari kutub utara itu?" ucap Hoseok sambil memainkan alisnya "Aku tau dia selalu menarik perhatian banyak orang, sayang sekali kau harus bersaing ketat tuan Park"
Taehyung dan Jimin tertawa melihat tingkah dan omongan Hoseok yang semakin abstrak itu, Jimin dan Taehyung berpikir mereka akan membentuk tim yang hebat jika bergabung dengan manusia konyol di depannya ini.
"Hoseok hyung, yang kau bicarakan itu Yoongi sunbae?"tanya Taehyung yang tetap berusaha menahan tawanya
"ne, siapa lagi" Hoseok tertawa geli setiap mengatai temannya yang satu itu
"Jimin dan . .." Hoseok menunjuk Taehyung
"Taehyung, Kim Taehyung"
"dan Taehyung, kalian mau ikut club dance?" lanjut Hoseok
"hanya aku saja hyung, mmm tapi. .. kenapa stand nya sepi sekali, mana ketua dan anggotanya yang lain?"
"tadi aku bertemu Yoongi, seperti biasa . .. dia akan kerja part time jika tak ada sesuatu yang penting di kampus dan katanya sudah menitipkan stand pada anggota lain, tapi malah mereka semua sama saja dengan ketua, tak bertanggung jawab" Hoseok menggeleng gelengkan kepalanya
"ah ini kau ambil saja form anggota baru ini, kau bisa serahkan pada Yoongi atau anggota lainnya yang kau kenal jika kau ke kampus lagi" Hoseok mengambil kertas form yang terletak di bawah meja
Suara teriakan terdengar tak jauh dari stand club musik "Hoseok! , ketua macam apa kau tak mengurus stand mu sendiri, kembali!"
"aihhh, wakil macam apa yang meneriaki ketua club, . . ." ucap Hoseok
"dan kembalikan kameraku, sekarang!"
"baiklah, aku harus kembali ke stand ku dulu, bye" Hoseok pun berlalu meninggalkan kedua sahabat itu
"ne, terima kasih hyung" Jimin dan Taehyung kembali tertawa
Jimin mengambil handphonenya ketika ia merasa getaran di saku mantelnya, ia membalas pesan yang terdapat di sana. Lalu ia memperlihatkannya pada Taehyung.
"Tae-ya, aku harus kembali kerumah, baru sebentar aku bertemu tapi harus dipisahkan lagi"
"lain kali kita bertemu dan mengobrol lagi, aku punya banyak waktu, kau tenang saja"
"benarkah? aku akan menghubungimu kalau begitu"
"oke"
"baiklah, aku harus segera pergi, bye Taetae"
Jimin memeluk Taehyung sekali lagi, ia masih ingin mengobrol dengan sahabat lamanya ini, tetapi umma permintaan ummanya tak bisa diabaikan begitu saja.
.
.
Jimin membulatkan matanya dan tersenyum sehingga memperlihatkan susunan giginya yang rapi ketika melihat seseorang yang dengan sexy nya meneguk sebotol air mineral sambil menyenderkan tubuhnya di sebuah mobil di depan sebuah minimarket yang tak jauh dari kampusnya. Merasa aura di sekitarnya terasa aneh, namja yang sedang meneguk minuman itu mengusap tengkuknya karena merinding, ia melihat kesekelilingnya, matanya mendapati seseorang yang memberikan pandangan seolah-olah akan menerkamnya.
'kau harus tetap tenang, jangan membuat pergerakan yang tiba-tiba' benaknya tengah bekerja untuk menyelamatkan dirinya dari orang yang terlihat a'aneh' menurutnya itu
Namja itu menutup botol air mineral dan secara perlahan menegakkan dirinya dari mobil yang tengah menjadi sandaran tubuhnya. Ia dengan gerakan lambat memutar tubuhnya untuk meraih pintu mobil dan membukanya.
"Yoongi sunbae" Jimin berteriak sambil berlari ke arah namja yang hendak membuka mobil di depannya itu
Jimin sedikit terengah ketika tepat berada di depan namja yang ia panggil tadi, sedangkan namja itu melihatnya sambil menelan ludah.
"kau mengenalku?" namja itu berusaha tenang walaupun rasa takut tengah menjalar di tubuhnya
"ne"
"kita pernah bertemu sebelumnya?"
"ne, Yoongi sun. . .hyung!"
"kapan tepatnya?"
"tadi, . . . tunggu. . .kau melupakanku?"
"maaf, aku tak mengenalmu"
"Jimin, Park Jimin yang di aula universitas"Jimin menyodorkan telapak tangannya dan tersenyum karena namja itu menyambut tangan Jimin
"maaf, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama, aku harus bekerja"
"kerja? Dimana?"
". . ."
Jimin melihat salah satu sunbae nya itu hendak membuka pintu mobil "antarkan aku ke rumah" lalu Jimin masuk ke dalam taxi dan duduk di kursi penumpang yang berada di belakang driver
Yoongi masuk ke dalam taxi dan mendudukkan dirinya di depan kemudi "tuan Jimin, aku tidak bisa . . ."
"kenapa? Kau keberatan?"
"kalau kau ingin naik taxi ini kau harus melakukan orderan lewat aplikasi"
"oh, baiklah" Jimin mengeluarkan handphone nya dan mengutak atiknya
Cukup lama Yoongi berpikir untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk mengusir makhluk aneh yang ada di dalam taxi nya. Ketika hendak berbicara, sebuah handphone di sodorkan ke arahnya.
"aku tidak tau nama aplikasinya"
Yoongi mengambil handphone tersebut dan mencari aplikasi yang seharusnya Jimin tau karena bukankah taxi dengan sistem order secara online ini sangat booming saat ini. Apalagi tempat Yoongi bekerja, taxi ini sangat terkenal 'pikirnya'.
Setelah selesai mendownload aplikasi tersebut, Yoongi menyodorkan kembali handphone milik Jimin. Jimin membuka aplikasi tersebut dan menekan tombol order disana. Yoongi menghela napasnya, dan mengambil handphone nya yang bergetar, lalu menyentuh layarnya yang berisi notifikasi dari aplikasi online taxi tempat ia bekera, ia menekan tombol 'take' dan menyalakan mesin mobilnya. Ia berharap perjalanan menuju rumah Jimin tidak membutuhkan waktu lama, karena terjebak dengan namja hiperaktif ini membuatnya tak nyaman. Ia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tipikal orang yang mengutamakan keselamatan.
"tadi ketika di aula, aku dengar kau juga salah satu mahasiswa yyang mendapatkan beasiswa, keren sekali"ucap Jimin
Jimin tiba-tiba melangkah ke kursi depan disamping Yoongi, Yoongi sedikit terkejut karenanya.
"ya! . . . kau!"
Yoongi akhirnya menurunkan nada bicaranya ketika melihat wajah terkejut Jimin dan mencoba bersikap professional "tuan Jimin mohon pasang seat belt anda"
"mianhe, aku mengagetkanmu ya hyung?" tanya Jimin sambil menelan ludahnya
"tidak"Yoongi menepikan taxi yang ia kendarai dan berhenti
Yoongi menatap Jimin yang berada disampingnya "jika kau ingin berpindah posisi, kau bisa bilang untuk berhenti dulu, kalau pindah secara tiba-tiba itu sangat berbahaya"
"ne, aku akan mengingatnya" Jimin tersenyum kaku
Yoongi melanjutkan perjalannya untuk mengantar Jimin, si penumpang yang tak ia harapkan. Tak ada pembicaraan selama di perjalanan, Jimin hanya sedikit terkejut dengan suara bernada tinggi milik Yoongi, ia memilih merebahkan tubuhnya dan terlelap. Yoongi melihat ke arah sampingnya untuk beberapa lama, jarinya tergerak untuk menekan salah satu tombol di taxi itu untuk sedikit merendahkan kursi penumpang yang sedang Jimin duduki.
'ya! Min Yoongi, kau kenapa eoh?' Yoongi membatin
.
.
Jimin membuka matanya dan meregangkan tubuhnya karena posisi tidurnya yang sedikit membuat dirinya kesakitan. Ia melihat kursi pengemudi, tak ada Yoongi di sana. Ia menatap ke luar jendela, tepat berada di depan sebuah rumah yang bagaikan istana, tidak salah lagi, ia sudah berada di depan rumahnya. Sosok namja yang ia cari perlahan mendekat ke mobil lalu masuk ke dalam sambil menyerup kopi panas di tangannya. Jimin teringat sesuatu dan melihat jam tangannya.
"aku telat 1 jam, ya!. .kenapa kau tidak membangunkanku"
Yoongi tersedak akibat teriakan Jimin "aku sudah membangunkan anda tuan Jimin, tapi anda tak bangun bangun, anda tidur seperti orang mati saja"
"aishh, yasudah" Jimin mengambil sejumlah uang dan memberikannya pada Yoongi "ini" Jimin keluar tanpa mengucapkan terima kasih dan berlari sekencang mungkin ke dalam area rumahnya
Yoongi memperhatikan Jimin, hingga pagar tinggi itu tertutup sempurna.
.
.
Sebuah tangan besar membekap mulut Jimin hingga ia tak bisa berteriak, salah satu tangan itu juga mengunci tubuh Jimin agar ia tidak meronta-ronta. Ia di tarik ke sebuah sudut taman dimana terdapat sebuah pohon besar disana.
"tuan muda tenanglah, ini aku, Manajer Lee"ucap namja itu setengah berbisik lalu melepaskan tangannya dari tubuh Jimin
"tuan Lee, apa yang kau lakukan, eoh?"
"saya sudah menyiapkan pakaian anda"namja yang bekerja sebagai Manajer itu memberikan sebuah tas yang tak terlalu besar pada Jimin
"maksud anda?"
"anda harus pergi saat ini, sampai keadaan memungkinkan kembali kerumah"
"maksud anda? , tidak . . .tapi umma bilang tadi. . ."
"aku yakin Nyonya besar mengirim pesan bohong pada anda, kedua keluarga sudah berkumpul untuk penetapan tanggal pertunangan anda"
"mwo?" hampir saja ia berteriak, Jimin membekap mulutnya dengan kedua tangannya
"anda harus pergi sekarang juga!"
"ne, kau benar, tuan Lee, tapi aku tidak tau harus kemana?"
"menetaplah di suatu tempat, jangan hotel". . . "naiklah, tidak aman lewat pintu depan" manajer itu merebahkan tubuhnya, membiarkan punggungnya untuk menjadi pijakan Jimin untuk memanjat melewati pagar tinggi itu.
Jimin tak melihat di sekelilingnya, ia melompati pagar hingga jatuh ke jalan dan tepat pada saat itu juga sebuah mobil siap mengantarkannya pada kematian.
.
.
.
Tbc
