"Apakah dimatamu semua ini memang salah? Apa dimatamu ini semua menjijikkan dan tak berarti?

.

.

btsyugar's Story

.

.

Siang ini Yoongi memutuskan untuk duduk di ruang Club Musik. Ia hanya sendiri disana setelah meminta kunci ruangan pada Jihoon.

Ruang music adalah ruang yang paling tentram, nyaman dan Wangi bagi Yoongi. Ia diam-diam merasa bangga pada Jihoon yang mampu mengurus ruangan dengan baik sebagai bukti tanggung jawabnya. Tidak salah jika anak itu melarang ruang musik di pakai anak-anak dengan bebas.

Melodi lembut mulai terdengar di penjuru ruangan. Jemari Yoongi menekan tuts piano dengan teratur hingga menimbulkan nada familiar.

Lagu ini pernah ia mainkan dulu. Tapi ntah kenapa, meski lagu ini membawa petaka, ia tak pernah bisa berhenti atau membenci lagu ini. Terlalu banyak cerita yang tak bisa Yoongi tuangkan dalam lirik.

Ia tetap diam saat mendengar langkah sepatu yang mendekat. Ia tau siapa yang datang karena Jihoon memberi kunci cadangan hanya pada orang itu.

"Memainkan lagu ini lagi?" Suara bass itu terdengar.

"Hm,"

"Kau terlihat buruk." Sosok itu mendekat, mengelus surai Yoongi lembut. "Apa yang kau fikirkan nak?"

Yoongi menoleh, mendapati sosok guru musik yang sangat ia hormati tengah tersenyum padanya. Dari semua hal favorite Yoongi, senyum guru itu adalah senyuman favorite kedua bagi Yoongi.

"Aku mengacaukannya, guru Byun." Lirih Yoongi. "Sialnya, aku malah merindukan semua itu."

"Itu kenapa mereka di sebut kenangan, Yoongi. Setiap manusia punya kenangan mereka masing-masing, baik dan buruk. Kenangan ada tak selalu untuk diingat. Kadang, kau harus menyimpannya dengan rapi di satu tempat. Tapi jangan biarkan ia tertumpuk terlalu lama, karena ketika ia menghantam fikiranmu, kau juga akan merasa sakit."

Guru Byun mengambil tempat disamping Yoongi, menekan tuts piano dengan terampil hingga Yoongi terbuai.

"Dulu aku memainkan lagu ini untuk dia, tapi sekarang dia bahkan tak mau melihatku. Setiap aku mengajar, dia akan membolos hingga aku fikir aku memang salah karena membiarkan pendendam seperti dia melihat kesalahanku. Tapi manusia itu makhluk bodoh, Yoongi. Mereka gampang terbuai, gampang juga tertipu, aku dan kau pun sama."

"Aku hanya ingin cepat lulus."

"Hanya dua bulan lagi. Belajarlah dengan tekun."

"Ya,"

.

.

.

.

Setelah puas mengobrol dengan Guru Byun, Yoongi berencana akan menemui Jihoon di kelasnya. Kelas Jihoon ada pelajaran tambahan hari ini hingga anak itu akan pulang lebih lambat.

Tapi kelas Jihoon kosong.

Yoongi melangkah menuju ruang guru, berfikir jika Jihoon disana. Ia tak mau ambil resiko karena menghilangkan kunci ruang musik.

Saat melewati ruang Club dance, matanya menangkap sosok Jihoon disana, tengah di kerubungi anggota club yang membawa confetti aneh bahkan ada yang membawa balon berbentuk hati.

Tanpa banyak kata, Yoongi memutuskan masuk ke keramaian dan berdiri di samping Jihoon yang tersentak.

"Pernyataan Cinta?" Tanyanya sarkastik. "Indah sekali."

"Kau tak ada keperluan disini, sunbae." Sosok di hadapan Jihoon menyela dingin. Semenjak sosok dihadapannya bergabung di club basket tahun lalu, keadaan semakin memburuk.

"Benarkah? Aku hanya ingin melihat." Yoongi mematai mereka semua.

Disana, ia melihat Jimin yang hanya diam.

'Tsk, si bodoh ini.'

"Sunbae, ada baiknya kau pergi. Kau mengacaukan acaraku." Geram sosok berambut coklat itu tapi Yoongi hanya tersenyum remeh.

"Kwon Soonyoung?" Yoongi membaca name tag anak itu. "Tsk, tidakkah kau fikir pestamu ini terlihat murahan? Kau pria atau bayi?"

Ada desisan kesal dari anggota lain tapi mereka tak ingin menyela. Soonyoung sangat anti jika urusannya di ikut campuri orang lain.

"Sekali lagi kutekankan jika ini tak ada kaitannya denganmu. Apa masalahmu sunbae!"

"Aku hanya ingin mengembalikan kunci pada Jihoon," Sahut Yoongi enteng lalu menyerahkan sebuah kunci pada Jihoon. "Ini, sebaiknya kau segera pulang. Memalukan sekali berada di keadaan ini."

Yoongi baru saja ingin berbalik saat Soonyoung siap melayangkan tinjunya. Tapi Yoongi lebih cepat, ia menangkap tangan Soonyoung lalu menendang perut pemuda itu hingga jatuh.

Seketika, anggota club lain terpancing emosi namun hanya bisa mereka telan karena aura Yoongi berbeda. Sunbae mereka menatap Soonyoung dengan tatapan sadis nan dingin.

Soonyoung berdiri. Ia sangat membenci sosok didepannya sejak ia melangkahkan kaki di sekolah. Berurusan dengan sosok Yoongi bukanlah hal yang ia harapkan.

"Apa masalahmu!" Bentak Soonyoung. "Tidak cukup kau membawa clubmu untuk merendahkan club kami? Tidak cukup sikap sok teraturmu itu menghukum kami? Kau fikir kau ini siapa hah!" Soonyoung membentak dengan nada yang lebih tinggi. Wajahnya memerah menahan amarah tetapi Yoongi malah menatapnya lebih dingin.

"Masalahku disini hanya satu, Kwon. Aku tak sudi jika adikku dekat dengan gay sepertimu. Adikku normal dan jangan lagi sentuh dia. Kau harus sadar jika kau itu laki-laki."

Banyak yang terkesiap mendengar ucapan Yoongi. Semuanya menatap Jihoon dan Yoongi tak percaya. Tak ada yang tau jika mereka kakak adik selama ini.

Bahkan Soonyoung sekalipun.

"Dan Jihoon, jika kau tak pulang dan lebih memilih anggota club memuakkan ini, kuharap kau tidak lagi menginjak rumah. Jangan menjadi abnormal demi sosok rendah."

Yoongi pergi begitu saja.

Soonyoung menatap Yoongi tak percaya. Ia tak tau jika efek ucapan Yoongi bisa berpengaruh besar hingga membuat satu beban besar menimpa dadanya. Ia menoleh pada Jihoon yang kembali menyerahkan cincin yang baru saja ia beri.

"Maafkan aku."

Dan Jihoon pun pergi tanpa menoleh kembali.

"Bubarlah, aku dan Soonyoung akan memakai ruangan."

Anggota club mengangguk mengerti. Soonyoung cukup dekat dengan Jimin dan Jimin sangat pandai mencairkan suasana hati seseorang. Mereka hanya berharap Jimin bisa menangani Soonyoung kali ini.

Jika Soonyoung masih memiliki suasana hati yang buruk, maka latihan mereka akan terasa sangat buruk dengan bentakan dimana-mana.

"Soonyoung,"

"Aku tak habis fikir jika aku melakukan hal yang tak harus kulakukan." Gumam Soonyoung pelan. Mata pemuda itu tampak kosong dan sendu disaat bersamaan membuat Jimin mengehla nafas.

"Maksudmu?"

Soonyoung menghela nafas kasar. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu mendongak, mengusap wajahnya kasar.

"Jika aku tau Jihoon adik dari Yoongi, aku takkan mau dekat dengannya. Ini menyebalkan, Jim, aku sudah sangat nyaman dengan Jihoon. Heol, lima bulan pendekatan yang sia-sia." Racau Soonyoung.

"Kau anggap perjuanganmu ini sia-sia?"

"Apalagi?" Sergah Soonyoung. "Apa gunanya aku melanjutkan semua ini sedangkan aku tau Yoongi pasti menghalangi adiknya untuk dekat denganku. Aku tau hasil akhirnya, jadi buat apa aku melanjutkan? Apa kau tak berfikir hal itu hah?"

"Loser," Desis Jimin. "Memang kau siapa? Tuhan? Kau tidak tau hasil akhir dari usahamu karena tak ada yang tau. Lalu jika kau tau kau akan berujung pada kematian, kenapa kau tetap hidup? Kenapa kau tetap mengejar mimpimu?"

"Itu beda bodoh!" Sentak Soonyoung keras. "Tuhan memberi kita kesempatan hidup karena kita memang harus berjuang, menikmati proses yang ada! Tidak mungkin selama hidup kau hanya berdiam diri kan?"

"Itu kenapa kau harus memperjuangkan Jihoon, otak batu! Kalian butuh proses, butuh berjuang, butuh mengambil kesempatan. Tidakkah kau fikir ini sama seperti kau sekolah? Kau belajar, ulangan lalu ujian dan pada akhirnya kau akan mendapat dua jawaban, lulus atau tidak. Ck, rugi aku berteman denganmu."

Tidak ada lagi yang berbicara. Soonyoung sibuk dengan pemikirannya sedangkan Jimin sibuk dengan jantungnya.

Kesakitan itu muncul lagi, kali ini dengan sebab berbeda.

"Lagipula, ini baru lima bulan kan? Kau tidak tau seberapa lama aku menunggu untuk satu kesempatan kecil." Lirih Jimin hampir tak terdengar.

Dan Soonyoung menyesal sudah menjadi sosok teman yang buruk, sosok manusia yang gampang putus asa dikala ia tau jika ia mengenal seseorang yang sudah menunggu sangat lama untuk satu kesempatan kecil.

Hanya untuk berbicara.

Hanya untuk kesempatan kecil itu.

TBC~~

Ini TBC kok tenang aja hehehehe... Cerita ini konfliknya agak berat. dari komen di situs sebelah, banyak yang bilang kalau mereka ga nge'eh dengan jalan cerita ini karena disini memang konfliknya lumayan memusingkan sampe Syugar juga bingung sebenarnya ini ceriyta apaan sih? hahhahaha
Jadi kalau kalian ga suka, bisa klik tombol close aja ya~

Makasih buat komennya kemaren, SYugar belum bisa balas ya~~ Syugar lagi jaga sesuatu sekarang hihhihi

PPyong~