Part 2
"Bagus sekali, kalau kau berhenti mencari tahu siapa yang mengirim Rheina ke apartemen ini, aku akan menjamin keselamatannya," si hacker menyeringai lalu menutup telepon.
Pandanganku kabur, semuanya menjadi gelap.
"Apa yang kau lakukan disni?"
Ada suara lain. Siapa? Luciel?
"Kau sudah berjanji tidak akan datang kesini sampai waktu yang sudah ditetapkan! Apa kau ingin membantah perintahnya?"
"Tsk! Terlalu lama! Aku tidak bisa menunggu selama itu!"
"Aku akan melaporkanmu jika kau terus saja bergerak sendirian. Letakkan gadis itu. Berikan dia obat penawar."
Aku bisa merasakan tubuhku direbahkan di depan pintu. Mulutku dipaksa dibuka untuk meminum cairan, terasa manis seperti rasa lemon. Kesadaranku perlahan-lahan menjauh. Tapi samar-samar aku mendengar si hacker masih berdebat dengan seseorang.
xxxxxxxx
"Rheina? Kau bisa mendengarku?"
Aku mendengar suara Luciel. Perlahan aku membuka mata. Hal pertama yang kusadari adalah aku terbaring di tempat tidur Rika. Aku selamat?
"Lu.. ciel…"
"Aku disini Rheina!" Luciel mengenggam tanganku, aku bisa merasakan tangannya bergetar ketakutan. "Apa yang terjadi.. dimana si hacker?"
"Aku…" aku berusaha mengingat-ingat sambil berusaha bangun. Luciel membantuku. "Dia datang… dia membohongiku agar aku datang ke tempat ini.. dia bermaksud membawaku.. tapi… ada orang lain yang mencegah… aku tidak tahu siapa..laki-laki…"
"Vanderwood pasti bisa melihatnya di CCTV," gumam Luciel.
"Dia bilang kalau si hacker tidak boleh datang ketempat ini… tidak sampai waktu yang sudah ditetapkan… perintah dari atasan mereka…" gumamku panik. "Sejak awal mereka sudah tahu keberadaan tempat ini?!" aku bisa merasakan tubuhku bergetar. Jadi selama ini aku dijadikan umpan agar mereka bisa mengambil informasi RFA. Sejak awal mereka tahu…
"Rheina..." Luciel memelukku dengan erat. " Tidak apa-apa… semuanya akan baik-baik saja…"
"Luciel…" air mataku tumpah. "Maafkan aku… gara-gara aku… gara-gara aku kalian jadi dalam bahaya… maafkan aku… maafkan aku…"
"Tidak… tidak…" Luciel beralih menatap wajahku. "Aku tidak peduli siapa yang membawamu ke tempat ini. Tapi aku harus berterima kasih karena berkat mereka, aku bisa bertemu denganmu."
"Aku… aku…" kata-kata dimulutku tercekat di tenggorokan. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan untuk menghapus rasa bersalah ini. "Luciel.. aku…" hmph!
Bibirnya menciumku dengan tergesa-gesa. Nafasnya memburu. Tapi aku bisa merasakan keresahan dan ketakutan dari ciuman ini. Aku ingin waktu berhenti sekarang. tanganku menjangkau pundaknya, mencoba memeluknya untuk menghapus seluruh keresahan ditubuhnya.
"Kyaaaaaa!" luciel tiba-tiba meraba punggungku.
"Ups?" dia memasang wajah nakal meminta maaf. "Aku tidak tahu kalau kulitmu sangat sensitive,"
Wajahku langsung bersemu merah. Tentu saja! Tidak ada laki-laki yang pernah menyentuhku selain kau! "Diam kau…"
Luciel tertawa. Akhirnya dia kembali seperti biasanya. Perlahan dia kembali memelukku.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian sekarang. Tidak setelah apa yang terjadi hari ini…" dia berbisik di telingaku. Mencium leherku. "Aku ingin bersamamu sekarang, aku tidak peduli lagi dengan hacker itu asalkan aku bisa tetap bersamamu,"
Tanganku memeluknya semakin erat, mencoba memberinya kekuatan. Aku juga tidak ingin dia pergi dari sisiku sekarang. Aku takut hacker itu akan datang lagi. "Kalau begitu jangan pergi,"
Luciel melepas pelukan, dia kembali menciumku lagi. Kali ini terasa lebih lembut dan tidak terburu-buru. Badanku terasa panas. Dia semakin bernafsu menciumku. Tangannya bergerak menyusuri punggungku. Badanku menggeliat menanggapi sentuhannya tapi dia tak berusaha melepasku. Kepalaku terasa pening.
Saat dia melepas ciumannya, aku baru menyadari kalau tubuhku berkeringat. Dia juga berkeringat, nafasnya memburu. Pandangannya menusuk mataku. dia melepas kaos merahnya, menunjukkan dadanya yang bidang.
Dengan pasrah aku membiarkan dia melepas sweeter cokelatku. Rasanya malu. Aku menahan tangannya saat dia berusaha melepas lapisan terakhirku.
"Kau tidak mau?" tanyanya sedikit kecewa.
Aku tak berani menatap wajahnya, aku menunduk menatap lantai. "Bukan itu… tapi…" dia menarik wajahku agar menatap matanya. "Ba bagaimana dengan vanderwood? Apa dia tidak akan kena serangan jantung?"
Luciel tertawa. Jelas sekali pertanyaanku terdengar bodoh di telinganya, "Aku bisa mengurus dia nanti. Paling dia akan berusaha menutup CCTVnya sekarang."
"Ta.." belum selesai aku berkata, Luciel sudah melumat bibirku dengan ganas. Kedua tangannya bergerak cepat mengunci kedua tanganku kebelakang. Setelah itu aku bisa merasakan dia berhasil melepas bra yang aku pakai.
Dia tetap menciumku sambil merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Secara perlahan tangannya melepas genggaman tanganku dan mulai menjelajahi tubuhku. Tangan kirinya bermain-main dengan buah dadaku secara bergantian. Sementara tangan kanannya menyusuri lekuk tubuhku menuju ke bawah perut.
"Ah!"
ta tangannya…
"Kau manis sekali," puji Luciel. Wajahnya sangat dekat, suaranya lebih terdengar berbisik. Aku tidak bisa berkonsentrasi sementara kedua tangan luciel terus bekerja.
"Lu.. Ah!.." dia bahkan tidak mengijinkanku untuk bicara. Aku hanya bisa memelas memandangnya agar lebih lebih lembut.
Tiba-tiba saja tangan luciel berhenti, "Apa kau ada dendam kepadaku sampai menunjukkan wajah memelas seperti itu?"
"Hah… hah… kau yang memintanya… hah..hah…"
Tangan luciel kembali menjelajah dengan perlahan namun pasti, rasanya geli. Tubuhku gemetar karena sentuhannya. Bisa-bisa aku jadi gila!
Dia mendekatkan bibirnya dan berbisik lirih, "Kalau kau memasang wajah seperti itu, aku jadi ingin menghack seluruh tubuhmu. Memasukkan virusku ke dalam otakmu,"
"Co coba saja… hah… hah.. kalau bisa… Ah!"
Dia kembali melumat bibirku. Kali ini dia melepas celana dalamku dengan cepat.
xxxxxxx
Vanderwood sibuk membereskan bungkus Buddha chips di depan komputer. Tiba-tiba saja seluruh bungkus yang ada di tangannya terjatuh. Pandangannya menatap shock ke CCTV di hadapannya.
"Seharusnya aku tidak menyuruhnya ke apartemen itu!" teriaknya. "Bukannya menyelesaikan pekerjaan tapi malah melakukan itu disana. Apa dia tidak tahu kalau semuanya terekam di CCTV?"
Vanderwood tetap diam memperhatikan CCTV di hadapannya. "Hmmm… bisa kujadikan senjata kalau dia tidak mau menyelesaikan pekerjaaanya. Akan kusebarkan kalau dia berani macam-macam denganku."
Dia melanjutkan bersih-bersih di depan komputer dengan cuek. Lalu setelah semuanya bersih, dia mengambil sekotak popcorn dan duduk santai di depan layar komputer, "Ada tontonan gratis kenapa tidak aku tonton saja. Lagi pula aku tidak ada kerjaan."
Tubuhku rasanya lelah. Luciel masih menindihku, dia terdiam. Aku bisa merasakan hawa panas tubuh di tubuhku. aku bisa mendengar nafasnya masih memburu di telingaku. Tubuh kami jadi satu. Aku masih bisa merasakan cairan spermanya memancar di dalam tubuhku. rasanya hangat. Sekarang kami menjadi satu.
"Luciel…" panggilku lirih.
"Saeyoung…" bisiknya lirih.
"Eh?"
Luciel menegakkan badannya. Dia menatap wajahku. "Saeyoung… itu namaku."
"Sae.. young… choi…" bisikku lirih. "Ah! Jangan bergerak tiba-tiba!"
"Maaf… kau terlihat manis sekali waktu menyebut namaku." Ujar Luciel sambil tertawa kecil.
"Cepat menyingkir dari atas tubuhku," rengekku manja. "Kau itu berat,"
Luciel justru mendekatkan tubuhnya dan berbisik lirih di telingaku. Gerakan tersebut menyengat tubuhku. "Kalau aku tidak mau bagaimana?"
Aku langsung paham apa maksudnya. Aku bisa merasakan sesuatu membesar di bawah sana. Terasa panas dan berdenyut-denyut.
Wajahku langsung berubah pucat. "Ja jangan bilang kalau kau… Ah!"
"Kalau begitu aku tidak akan bilang," ledeknya.
xxxxxxxx
Vanderwood memasang wajah garangnya sementara luciel berjalan mendekat sambil tersenyum tanpa dosa.
"Ms. Vanderwood!" sapa luciel riang.
Vanderwood menyilangkan kedua tangannya di dada, ekspresinya semakin menyeramkan.
"Kau bercinta dengannya di apartemen. Dua kali!" Geram vanderwood. "Sekarang kau malah membawa wanita ini kesini dengan tampang malaikatmu. Apa kau tidak tahu kalau aku sedang berusaha menahan tanganku agar tidak bergerak mengambil taser gunku?"
Luciel tertawa, "Ups.. kalau begitu?" ledeknya sambil mengedip nakal. Aku hanya bisa mendesah.
"Apa penjelasanmu sekarang?" tanya vanderwood. "Kau tahu kalau dia tidak boleh masuk ke rumah ini. Apa kau ingin membunuh kita berdua?"
"Hacker itu menyerang Rheina di apartemen. Tapi sepertinya ada seseorang yang mencegah. Ada pemimpin yang mengatur semua ini. Hacker ini membantah dan bergerak sendiri. Tapi aku tetap beranggapan bahwa yang menolong Rheina juga masih satu kelompok dengan si hacker ini." Jelas Luciel.
"Hah…" vanderwood menghela nafas panjang. "Bos menelepon hari ini. Dia mengancam kau tidak menyelesaikan pekerjaan ini sekarang juga. Dia berniat untuk membereskan kita berdua."
Wajah luciel berubah panik. "Oh! Kau benar. Ku kerjakan sekarang juga! Rheina. Kau santai-santai saja disini. Setelah pekerjaanku selesai kita akan mengurus si hacker. V juga bilang dia akan mengecek sesuatu. Kau aman disini." Dia langsung bergerak kilat menuju komputer. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard.
Vanderwood pergi ke ruang belakang untuk menelepon. Luciel melambai memangilku.
"Ada apa?" aku berjalan mendekat. Luciel memberi kode agar aku duduk di pangkuannya. "Bagaimana kau bisa bekerja kalau aku duduk disitu?"
"Aku ini jenius. Aku bisa bekerja hanya dengan satu tangan sambil menutup mata," ujar Luciel sambil tersenyum menggoda.
"Lalu tangan yang satunya?" ups.. aku melihat wajah mesumnya. Seharusnya aku tidak bertanya.
To be continued.
