Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.

Warn : Fem!Naru, AU, OOC, harsh language, typo(s).

Pastikan baca warning sebelum membaca fanfic ini. Terima kasih.

EAT :: YOU :: UP

Sejenak keduanya saling berpandangan dalam diam. Naruto menatap lelaki dihadapannya dengan penuh amarah dan rasa ingin tahu. Berbeda jauh dengan sang lelaki yang menatapnya begitu datar. Para mahasiswa yang berada disekitar mereka pun ikut dibuat tegang sekaligus penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka mengunci mulut mereka rapat-rapat, menahan napas. Tak ingin barang sedikit pun mengganggu pemandangan yang tergolong langka tersebut. Selama ini mereka memang sering melihat Naruto membully siapa saja yang tak ia sukai. Namun tak ada seorang pun yang berani menghentikan pewaris tunggal Namikaze itu, mengingat latar belakang yang ia miliki serta konsekuensi terburuk yang akan mereka dapatkan.

Dalam keheningan yang tercipta, Naruto memperhatikan wajah tampan lelaki itu secara seksama. Kulit putih sewarna gading, hidung yang mancung, mata sipit yang tajam menawan, bibirnya kecil dan tipis, tubuhnya tinggi tegap –mungkin sekitar 6 kaki lebih-. Selain mata, masih ada satu hal lagi pada diri lelaki itu yang menjadi pusat perhatian Naruto. Gaya rambut. Meski tergolong aneh, tapi harus Naruto akui jika gaya rambut itu semakin membuat sosok lelaki yang tengah berdiri dihadapannya terlihat tampan.

Dia... lumayan. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatnya?

Tanpa Naruto sadari, lelaki yang belum ia ketahui namanya itu telah melepaskan pegangannya. Sang lelaki berbalik, memberi sinyal kepada orang yang telah menabrak Naruto untuk pergi. Usai membungkuk dan mengucapkan terima kasih singkat, orang itu pun segera menjauh. Membuat catatan khusus dipikirannya agar tidak pernah lagi berurusan untuk yang kedua kali dengan sang pewaris tunggal Namikaze. Namun tampaknya Naruto sudah tak peduli lagi akan hal itu. Sebab kini, perhatiannya hanya terfokus pada punggung lebar sang lelaki tampan yang mulai menjauh.

"Berhenti."

Seolah tak mendengar apapun, lelaki itu tetap melangkah.

"Kubilang berhenti!"

Lagi, ucapan Naruto ia hiraukan.

Naruto menggeram. Rahangnya ia katupkan kuat-kuat. Mata besarnya menyipit penuh amarah.

"DASAR TEME SIALAN! KAU TIDAK DENGAR AKU MEMERINTAHKANMU UNTUK BERHENTI?!"

Tap!

Satu kalimat terakhir dari Naruto sukses menghentikan langkah lelaki itu. Ia menoleh, tanpa ada secuil keinginan untuk membalikkan badannya secara penuh menghadap Naruto yang tengah murka. Matanya yang tajam dan menawan itu kini menatap Naruto dengan begitu dingin sekaligus berbahaya.

Namikaze Naruto. Angkuh, sombong dan tak kenal takut pada siapapun, untuk pertama kalinya merasa gelisah begitu melihat sorot mata seseorang. Tak ada yang berani, atau setidaknya pernah menatapnya dengan cara yang sekarang lelaki itu lakukan. Untuk sesaat Naruto hampir menyerah di bawah sorot mata itu. Namun kemudian, ia berhasil menguasai dirinya kembali dan menolak untuk terintimidasi pada siapapun.

"Jika Anda berpikir bahwa latar belakang serta kecantikan fisik yang Anda miliki dapat membuat siapapun takluk, maka sungguh Anda benar-benar bodoh," lelaki itu berujar dengan datar. Tak ia gubris reaksi Naruto yang terlihat terkejut bukan main atas kalimatnya barusan. Ia menoleh ke depan, bermaksud untuk melanjutkan langkahnya, "Dan perlu Anda tahu..." tambahnya, "Aku paling benci orang dobe."

...EAT...

...YOU...

...UP...

Sakura memijat dahinya frustasi. Satu jam sudah semenjak insiden dikoridor kampus berlalu. Namun, sahabat cantiknya itu masih tak henti-hentinya memuntahkan segala kalimat kutukan serta sumpah serapah yang bisa ia temukan. Sakura menghela napas, jika tidak segera dihentikan bisa-bisa kepalanya pecah akibat mendengar kalimat Naruto yang oh-so-colorfull itu.

"Naru, bisakah kau berhenti?" Suara Sakura seketika membuat Naruto menghentikan kegiatannya. Ia menatap Sakura dalam diam sebelum kemudian menyipit penuh amarah.

"Berhenti?" gumam Naruto sarkastik, "Bagaimana bisa kau menyuruhku berhenti saat ada cowok kurang ajar yang berani menghinaku serta menyebutku bodoh DUA KALI di depan umum seperti itu Haruno?!" Sakura langsung meringis begitu Naruto meninggikan suaranya beberapa oktaf. Oke, sepertinya ia harus mengganti permintaannya barusan.

"Iya, aku mengerti perasaanmu. Tapi setidaknya kau harus tenang dulu okey?" Sakura berkata dengan hati-hati, tak ingin dirinya ikut terkena 'semprotan' Naruto untuk yang kedua kali. Paling tidak gadis itu harus mengistirahatkan otaknya sejenak agar bisa berpikir jernih.

Kening Naruto berkerut dalam, seolah mempertimbangkan bujukan Sakura. Dua pasang mata berbeda warna itu pun bertemu. Saling beradu pandang selama beberapa saat. Hingga beberapa saat kemudian, sang pewaris Namikaze memejamkan matanya. Mungkin sahabatnya itu benar, lagipula ia juga merasa begitu penat. Belum selesai urusannya dengan sang nenek, masalah lain justru muncul disaat yang tidak tepat.

Naruto menghempaskan tubuhnya pada kursi kosong disebelah Sakura. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Hal tersebut ia lakukan berulang-ulang hingga deru napasnya kembali normal.

Melihat sikap Naruto yang akhirnya mau menurut tak pelak membuat Sakura menghela napas lega. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya tidak segera membawa Naruto ke sini. Gadis pirang itu hampir saja akan melemparkan high heelsnya ke arah lelaki itu. Namun dengan gerakan cepat, Sakura segera menarik Naruto ke ruang kelas terdekat. Tak ingin sahabatnya itu mempermalukan dirinya lebih jauh.

Sakura memijit keningnya yang mulai berdenyut. Berteman dengan Naruto selama lebih dari 6 tahun membuat ia mengenal karakter gadis pirang itu dengan sangat baik. Dan harus ia akui jika diantara mereka bertiga, maka Narutolah yang memiliki temperamen paling buruk. Dan kalau boleh jujur, insiden tadi pagi sebenarnya cukup membuat Sakura tercengang. Tidak hanya berani menentang seorang Namikaze Naruto, tapi juga menghinanya di depan umum tanpa ada rasa takut.

Cowok itu...

Sakura memang belum pernah melihatnya, tapi entah kenapa wajah dan mata itu begitu familiar.

"Baik, aku sudah tenang," kata Naruto memecah pemikiran Sakura, "Sekarang apa?"

Gadis beriris zamrud itu menggeleng, "Entahlah. Tapi yang jelas kita harus mencari tahu identitas cowok itu lebih dulu," Sakura menyipitkan matanya sambil berpikir, "Aku merasa wajahnya tidak asing. Tapi aku tidak ingat pernah melihatnya dimana."

Naruto mendengus kasar. Merasa tidak puas dengan penjelasan yang gadis pink itu berikan.

"Ketemu!"

Pekikan dari arah pintu membuat kedua gadis cantik itu menoleh secara serempak. Dapat mereka lihat sosok gadis berambut pirang pucat dengan poni yang menutupi sebelah mata menghampiri mereka. Langkahnya terlihat ringan dan santai. Seolah insiden tadi pagi tak pernah terjadi.

"Ino, kau darimana saja?" Sakura bertanya dengan sedikit jengkel. Sementara ia sibuk menenangkan Naruto yang tengah murka, gadis itu justru menghilang tanpa pemberitahuan.

Ino tersenyum misterius. Dengan langkah ringan, ia menghampiri keduanya, "Nih."

Kedua alis Naruto saling bertaut saat Ino menyerahkan beberapa lembar kertas kehadapannya, "Apa ini?"

"Baca saja~"

Naruto menatap sosok Ino dengan sedikit curiga. Namun ia lebih memilih untuk bungkam dan menerima apa yang disodorkan gadis itu. Ia membaca apa yang tertera pada kertas tersebut dengan seksama. Tapi belum sampai setengah lembar ia membaca, pewaris Namikaze itu pun kembali menatap Ino, "Kau sedang berusaha menjodohkanku?" gumam Naruto yang membuat Ino menepuk dahinya pelan.

"Bukaaan~ makanya baca dulu sampai tuntas!"

"Ck, aku sedang tidak mood. To the point sajalah."

Penasaran, maka Sakura pun segera mengambil alih kertas tersebut dari tangan Naruto, "Biar kulihat."

Nama: Uchiha Sasuke

Nomor Induk Mahasiswa (NIM): 201277400117

Program Studi: Rekayasa Mekanik

Tempat/Tanggal Lahir: Tokyo/23-07-19xx

Anak Ke: 2

Jumlah Bersaudara: 2

Nama Kakak: Uchiha Itachi

Nama Adik: -

Nama Ayah Kandung: Uchiha Fugaku

Pendidikan Ayah: S1 Teknik Sipil

Pekerjaan Ayah: Pegawai Negeri Sipil

Nama Ibu Kandung: Uchiha Mikoto

Pendidikan Ibu: S1 Ilmu Keperawatan

Pekerjaan Ibu: Ibu Rumah Tangga

Alamat:

Sakura tak lagi membaca kelanjutan informasi yang tertera pada kertas itu, ia langsung menatap kedua sahabatnya dengan senyum pasti, "Aku ingat sekarang! Pantas saja wajahnya terasa familiar, ternyata dia adik dari Uchiha Itachi. Salah satu dosen muda yang mengajar di sini Naru."

Satu alis Naruto terangkat dengan begitu elegan, "Dia?"

Sakura menatap Naruto gemas. Lalu ia pun berujar dengan penuh penekanan, "Cowok yang kau sebut kurang ajar beberapa menit yang lalu," seketika itu juga ketenangan Naruto menguap sudah. Ia menyipit tajam, menyimak baik-baik apa yang akan sahabat pinknya itu katakan, "Namanya Uchiha Sasuke. Mahasiswa prodi Rekayasa Mekanik, seangkatan kok dengan kita."

Uchiha Sasuke.

Naruto terus melafalkan nama itu dipikirannya. Berharap ia akan selalu ingat dengan wajah, perkataan, serta perbuatan lelaki tersebut. Dan yang terpenting tentu saja—

—melakukan balas dendam.

Tapi tunggu,

"Uchiha? Aku tidak pernah dengar nama perusahaan itu sebelumnya."

Sinar mata Sakura menunjukkan kebimbangan saat mendengar pertanyaan Naruto. Gadis itu bergumam panjang, seolah sedang mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan. Jika sampai Naruto tahu latar belakang lelaki itu bisa dipastikan sang pewaris Namikaze akan bertambah murka.

"Aku takut prediksimu tentang cowok ini agak sedikit—" Sakura mengangkat satu tangannya. Kemudian gadis itu mendekatkan ibu jari dan telunjuknya sedekat mungkin. Sementara ketiga jarinya yang lain ia tekuk, "—melenceng."

Dahi Naruto berkerut curiga. Entah kenapa ia merasakan firasat tidak mengenakkan soal ini, "Kau sebenarnya ingin mengatakan apa?"

Duduk tak jauh dari mereka, Ino menatap Sakura penuh rasa prihatin. Ia tahu beban besar apa yang tengah sahabatnya itu pikul. Namun ia sendiri pun tak ada niatan untuk sekedar membantu atau ikut campur. Lebih tepatnya sih, ia hanya ingin cari aman.

Maaf ya Sakura, batin Ino sambil meringis.

Sakura masih belum juga membuka mulutnya. Dan hal ini sedikit banyak membuat kesabaran Naruto semakin menipis. Ia baru saja akan menegur sahabatnya itu sebelum suara Sakura mendahuluinya, "Dia... masuk lewat jalur beasiswa."

Huh?

Meski Sakura mengatakannya dengan pelan, namun Naruto masih dapat mendengar kalimatnya secara jelas.

Beasiswa?

Kalau dia masuk ke kampus ini lewat jalur beasiswa, itu artinya...

"Dia... rakyat jelata?" Naruto bertanya dengan nada tidak percaya. Ia bahkan hampir tersedak dengan apa yang barusan ia katakan.

Sakura mengusap wajahnya pasrah. Naruto memang selalu menyebut siapapun yang tidak sekaya atau sederajat dengan dirinya sebagai 'rakyat jelata'. Meski sebenarnya kata rakyat jelata terlalu merendahkan untuk didengar memang.

"Dan, SEORANG NERD?"

Mata besar Naruto semakin bertambah besar karena rasa terkejut.

HOW CAN BE~?!

Seorang laki-laki dari kalangan rakyat jelata dan— NERD, berani menentang dan menghinanya secara terang-terangan di depan publik?!

Wajah Naruto seketika memucat drastis. Ia tiba-tiba merasa pusing. Perasaannya kini campur aduk antara ingin marah, terkejut, tidak percaya dan... tertantang(?).

"Seorang nerd yang sangat tampan—" Ino langsung meringis begitu sepasang safir menatapnya garang dan menawarkan ancaman, "—kalau boleh kutambahkan, ehehe."

Naruto mendengus remeh, ia merebut kertas yang berisikan biodata Sasuke dari tangan Sakura. Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia nampak serius merekam semua data yang tercetak di sana.

"Ino, apa aku pernah berkencan dengan mahasiswa RM?"

"Uuh, kurasa belum."

Naruto menatap Ino heran, mata birunya berkilat tak percaya, "Belum, bagaimana bisa?"

"Kau pernah bilang kalau para insinyur itu terlalu liar dan aggresif, makanya kau membatasi dirimu dengan mereka."

"Aku bilang begitu?"

"Semester 2."

Dahi Naruto mengernyit dalam. Ia tampak berpikir keras selama beberapa saat, seolah menimbang-nimbang sesuatu. Hal ini tentu saja membuat kedua sahabatnya saling pandang tak mengerti. Namun satu kesimpulan yang mereka pikirkan adalah, bahwa apapun yang saat ini tengah gadis pirang itu rencanakan, pasti bukanlah sesuatu yang bagus.

"Baik, sudah kuputuskan," tiba-tiba sebuah senyum— ah tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan seringai, terpatri indah diwajah cantik sang Namikaze.

"Putuskan apa?"

Naruto tertawa halus saat mendengar pertanyaan Sakura. Dengan gerakan seduktif, ia letakkan telunjuknya yang ramping dan terawat itu tepat dibibir penuhnya, "Targetku selanjutnya, Uchiha Sasuke."

...EAT...

...YOU...

...UP...

"Astaga Sasuke, 3 hari berturut-turut beritamu menjadi headline di kampus!"

Sasuke -sang objek pembicaraan- tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari buku yang tengah ia baca. Ekspresinya tetap datar. Tak ada senyum, kerutan, atau emosi apapun yang tergambar diwajah tampan sang Uchiha bungsu. Pantaslah jika ia dianugerahi julukan 'si cowok dingin' oleh anak-anak sekelasnya.

Terbiasa dengan sikap dingin Sasuke, maka lelaki itu pun tak ambil pusing. Ia kembali berceloteh mengenai berita yang hingga kini masih menggemparkan anak-anak seisi kampus, "Biasanya, mahasiswa manapun yang berani cari masalah dengan Namikaze Naruto pasti akan berujung pada drop out. Tapi aku heran, meski kau sudah menghinanya di depan umum begitu, kenapa si cantik itu belum melakukan apa-apa ya?"

Hening.

Sasuke sama sekali tak bergerak atau memberikan respon apapun terhadap pertanyaan yang diajukan padanya. Ia lebih memilih untuk tetap menekuni kegiatan yang sejak tadi ia lakukan. Sedikit pun ia terlihat tak tertarik dengan keadaan yang terjadi disekitarnya. Termasuk untuk sekedar bergumam 'hn' yang merupakan salah satu kata favorit sang Uchiha.

"Percuma kau menanyainya Suigetsu. Sejak ia masuk ke kelas tak ada seorang pun yang berhasil mengajaknya berbicara," seorang lelaki berambut oranye yang duduk di samping Sasuke mencoba menjelaskan, "Berhentilah mengganggunya."

Suigetsu, lelaki berambut silver itu berdecak singkat. Ia mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di depan Sasuke, "Kau selalu membelanya Juugo. Lagipula aku 'kan hanya ingin memastikan."

"Apanya yang ingin kau pastikan, hiu?"

TWITCH!

Alis Suigetsu seketika berkedut kesal saat seorang perempuan berkacamata berjalan ke arah mereka bertiga, "Karin," Suigetsu mendesis pelan.

Karin mengabaikan ekspresi geram Suigetsu, ia justru dengan santainya malah mendorong lelaki itu hingga terjatuh dari kursi. Tak ia hiraukan umpatan-umpatan kasar yang Suigetsu lontarkan kepadanya. Lalu, tanpa perasaan bersalah sedikit pun yang membayangi, Karin malah menduduki kursi yang sebelumnya Suigetsu tempati dan beralih menyapa Sasuke. Nada suaranya sengaja ia buat semanis mungkin, "Pagi Sasuke-kun~ kau semakin tampan saja deh."

Melihat sikap Karin yang berubah drastis dalam sekejap, kontan membuat Suigetsu memutar mata malas. Ia berdiri, berusaha membersihkan celananya dari kotoran atau debu yang menempel. Tentunya masih sambil menggerutu akibat ulah Karin terhadapnya.

Usai menyapa Sasuke, yang tentu saja tak digubris lelaki itu. Karin kini melipat kedua tangannya di depan dada. Dapat ia lihat Suigetsu masih menatapnya dengan tatapan tak suka. Tak mau kalah, Karin pun balik menatap lelaki itu lebih garang, "Jika yang ingin kau pastikan adalah ukuran tubuh si cewek sombong itu, lebih baik kau memastikannya seorang diri. Jangan libatkan Sasuke-kun," Karin mendengus arogan. Ia menyibak rambut merahnya seakan memberi efek, "Sesekali ia memang harus diberi pelajaran."

Sejak dulu Karin memang sudah menaruh benci pada Naruto. Selain karena sifatnya yang buruk, gadis itu juga telah merebut perhatian para lelaki seisi kampus. Bayangkan, hampir seluruh mahasiswa kalangan elit selalu terjerat akan pesonanya. Bahkan rela melakukan apapun untuk sekedar mendapatkan perhatian gadis sombong itu. Tak peduli mahasiswa seangkatan, junior, maupun senior. Semuanya berebut untuk bisa menjadi kekasih seorang Namikaze Naruto, "Huh, aku heran, apa sih yang bagus dari cewek sombong itu? Bahkan sopan santun saja ia tak punya."

"Apa kau baru saja mengatakan kalau kau cemburu padaku, Karin-san?"

Seketika itu juga Karin, Suigetsu dan Juugo menoleh serempak ke arah pintu kelas. Dapat mereka lihat sosok Naruto yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada. Sebuah seringai yang terkesan seksi semakin membuat penampilan gadis Namikaze tersebut begitu menggoda.

"Kuharap aku tidak mengganggu."

TBC

Happy bornday Uchiha Sasuke~ dan terima kasih bagi kalian yang sudah membaca :D

Super Thanks To:

|kyuuuuu|Kitsune|Ahira07|lutfisyahrizal|kitsune Riku11|Yumi Emi|Deathberry45|Marsellia|Eri|wildapolaris|Xiaooo|Runa BluGreeYama|hanazawa kay|UzumakiDesy|kazekageashainuzukaasharoyani|saruakira|akane uzumaki faris|DheKyu|anita indah 777|Uuvai yagami|careless7|mifta cinya|Aichan95|Ollachan57|Hime|akihiko fukuda 71|Guest|yassir2374|Nagaru Yukitatsu|Arum Junnie|Ditha Hime nyann|uchiha leo|annisa ajja 39|Neerval-Li|permata kedua 9|nei-chan|Ceei SanaRier|Lee Muti|

.

.

.

Mind to Review?