The Descendants Destiny
Chapter 2
.
.
Draco POV
Flashback –
"Mother, can I ask you something?" Aku menghampiri Mother yang sedang menata bunga di taman bunga kediaman kami.
"Yes Draco, ada apa?" Mother balik bertanya dengan nada sayangnya seperti biasa. Aku ragu mau bertanya.
Sehari setelah makan malam di rumah keluarga Potter, Father memintaku untuk melindungi Hermione Potter. Seorang Squib. Aku tidak berani bertanya apa-apa karena tahu Father tidak suka ditanya keputusannya. Jadi aku cuma bisa bertanya dengan Mother.
Kami salah satu keturunan penyihir yang memiliki masa lalu kelam. Dulu kakekku dan ayahku mengabdi pada Voldemort, salah satu penyihir hitam yang paling jahat di dunia sihir.
Kelahiranku lah yang membuat Father berpindah kesetiaan pada Dumbledore, satu-satunya penyihir yang ditakuti oleh Voldemort, dan menjadi agen ganda. Father bersumpah ingin memberiku dan Mother hidup yang damai dan baik.
Tak lama setelah aku lahir, Voldemort tiba-tiba dikalahkan oleh keluarga Potter. Dunia sihir masuk dalam era perdamaian setelah itu.
Namun belakangan ini, aku sadar Father agak pucat.
Lambang Pelahap Maut yang seumur hidup terukir di tangannya setelah dibakar oleh Voldemort kembali hidup seolah bernafas. Pertanda Voldemort yang menghilang sudah mulai kembali. Tapi aku tak pernah bertanya karena aku tahu Father tidak akan menjawab.
Jadi ketika tiba-tiba aku diminta melindungi Hermione Potter, tentu aku terkejut.
"Mother, aku tidak meragukan Father, tapi kenapa Father tiba-tiba memintaku untuk melindungi Potter?" Aku bisa melihat Mother berperang dengan batinnya sendiri. Dia terdiam cukup lama. "I mean, dia cuma Squib kan? Kenapa aku harus melindunginya?" tanyaku lagi.
Mother lanjut memotong duri di setangkai mawar yang baru saja dia potong dari semaknya, kemudian memberikannya padaku. Aku bingung menerima bunga itu, melihatnya dengan diam. "Ketika waktunya sudah tiba, Mother berjanji akan menceritakan semuanya padamu. Okay, dear?"
Aku mengangguk pelan, namun aku yakin Mother sadar aku belum puas dengan jawabannya. "Kau tahu kan dulu Father berpindah kesetiaan ke Dumbledore saat kau lahir?"
Aku mengangguk. Tapi apa hubungannya tugas ini dengan cerita itu?
"Yang bisa Mother ceritakan padamu hanya Hermione Potter sangat penting bagi kedamaian dunia kita sekarang. Dia bukan seorang Squib, atau penyihir biasa. Tapi kekuatan sihirnya belum bangkit. Itulah mengapa Father percaya kau dapat melindungi Hermione Potter sayang."
Aku terbelalak kaget, "Jadi Potter bukan Squib?"
Mother menggelengkan kepalanya. "Tapi kita menyembunyikan fakta itu dari dia sampai kekuatan sihirnya bangkit. Itulah mengapa Mother dan Father melarangmu membahas sihir depan dia. Mother yakin keluarga Zabini dan Nott juga diminta hal yang sama."
"Tapi kenapa? Kalau dia tahu dia punya kekuatan sihir, seharusnya dia bisa belajar melindungi dirinya sendiri kan?" jawabku.
Mother menghela napas dan kembali merapikan semak mawarnya. "Penting sekali bagi kita untuk menghindari Pelahap Maut Voldemort tahu bahwa Hermione merupakan seorang penyihir. Mother belum bisa cerita lebih, hanya sampai situ saja."
Feelingku berkata Mother tidak akan menjawab pertanyaanku lagi.
Aku melenggang masuk ke rumah, menuju balkon rumahku. Ini menjadi kebiasaanku sejak tahu Hermione suka duduk di balkon, membaca buku, bermain hp atau sekedar mendengar musik di earpod yang hampir selalu bertengger di telinganya.
Seperti biasa aku merapalkan mantra ward invisible supaya Hermione tidak melihatku memperhatikan dan menjaganya entah dari apa.
End of flashback-
.
"Hermione!" Aku berseru sambil menangkap Hermione yang pingsan. Telinganya berdarah karena teriakan mutan-Lavender, badannya dipenuhi goresan kecil tergores kayu lantai gym yang pecah. Lehernya merah dengan bekas cetakan tangan yang tadi mencekiknya. Bastard.
Aku tahu akan berbahaya bila aku ber-apparate dengan kondisi Hermione seperti ini, apalagi dia tak pernah ber-apparate sebelumnya.
Jadi aku menggendongnya kemudian lari ke mobilku yang terparkir manis di parkiran sekolah lalu membaringkan Hermione di kursi samping pengemudi setelah kuturunkan senderannya.
Aku tahu kepala sekolah kami, Prof. Mcgonagall sudah merapalkan mantra muggle, jadi aku tenang. Kemungkinan besar para siswa muggle di sekolah kami tidak menyadari apa yang sudah terjadi.
Aku tadi mengirim patronusku ke Prof. Mcgonagall dan Mother, semoga mereka menerima pesanku.
Sebelum aku menjalankan mobil, aku melihat patronus kucing dengan kacamata melesat melewatiku, dan duduk di atas Hermione, kemudian menghilang. Aku tahu itu bukti Prof. Mcgonagall sudah menerima pesanku.
Aku memacu mobilku laju meninggalkan kompleks sekolah menuju jalan raya. Aku khawatir setengah mati pada perempuan yang kini kusadari mendiami hatiku entah sejak kapan.
Setibanya aku di kediaman Potter, aku melihat Aunt Lily, Uncle James, Father, dan Mother sudah berdiri depan gerbang rumah dengan wajah khawatir.
"Oh my daughter!" ucap Aunt Lily melihat keadaan Hermione yang tidak baik ketika Uncle James mengangkat putrinya ke dalam rumah, diikuti Aunt Lily dan Mother.
"Kau tak apa-apa son?" tanya Father padaku sambil menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki mengecek kondisiku. Aku mengangguk. Aku cuma tergores kecil-kecil saja.
Aku dan Father masuk ke rumah Potter menuju suite Hermione dan setibanya kami depan pintu, aku bisa melihat Healer pribadi Potter memeriksa Hermione.
Uncle James keluar, meninggalkan Aunt Lily yang masih menemani anaknya dan Mother yang menenangkan Aunt Lily, kemudian menutup pintu. "Doc bilang dia baik-baik saja. Gendang telinganya sempat pecah, melihat darah yang keluar dari telinganya, tapi sudah sembuh bahkan sebelum Doc melakukan apa-apa." Aku mendengar Father menghembuskan nafas lega.
"Jadi mereka sudah tahu dan kekuatan sihir Hermione sudah bangkit." Ucap Father pelan yang diikuti anggukan lemah Uncle James. "Kekuatan sihirnya sudah bangkit, namun baru untuk pertahanan diri. Kita harus menunggu Hermione sadar untuk tahu sejauh mana kekuatannya sudah bangkit." Tambah Uncle James.
"Siapa itu mereka? I don't understand Father, kurasa kini aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi karena aku sudah terlibat."
Father menatapku, masih terdiam mendengar ucapanku. Dia melirik Uncle James yang mengangguk sekali dan menjawab, "Sudah waktunya Lucius."
"Come on then son, I need to show you something." Aku menuruti Father dan mengikutinya dari belakang.
Kami berpapasan dengan Harry dan Ronald Weasley, sahabat Harry di tangga. "Hermione, adikku–" ucapannya terputus setelah aku menunjuk ke arah atas. Tanpa menjawab dia langsung berlari ke atas.
Diluar dugaan, Father membawaku ke ruang kerjanya. Dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan selembar foto hitam putih yang bergerak. Aku mengenali wajah Father, Zabini, dan Nott di sana. "Is that…?"
"Yes Draco, ini potret para Pelahap Maut dulu saat aku masih bergabung dengan mereka." Dia memberikan foto itu padaku agar aku bisa melihat lebih jelas kemudian menunjuk ke seorang pria. "Ini Voldemort."
Senyuman pria itu dingin, tidak mencapai matanya. A cold shiver run down my spine, menyadari pria ini membawa teror di dunia sihir selama bertahun-tahun.
"Kau tentu sudah tahu bahwa aku mengkhianati dia ketika kau lahir, ketika aku sadar bahwa aku memihak pihak yang salah. Jujur aku termakan doktrin dari kakekmu." Aku mengalihkan pandanganku pada Father yang kini tersenyum melihatku. Aku sangat jarang melihat Father tersenyum.
"I am so proud you have grown to be a man who you are now." jantungku mencelos bahagia mendengar pujian Father untukku.
"Tapi kau harus tahu, bahwa kekalahan Voldemort dimulai dari pengkhianatanku." Aku membelalakkan mataku tak percaya.
"Dulu aku mendengar ramalan dari Sybill Trelawney, mengenai kejatuhan dan kebangkitan Voldemort. Tentu kau sudah tahu bahwa kejatuhan Voldemort diakibatkan oleh Harry Potter?"
The boy who lived. Tentu aku tahu. Kesediaan Aunt Lily dan Uncle James untuk berkorban nyawa demi anaknya Harry Potter meskipun diberi pilihan oleh Voldemort untuk menyelamatkan diri, memberi mereka kekuatan perlindungan sihir kuno yang sampai sekarang masih menjadi misteri, cinta. Kisah itu sangat terkenal dan legendaris.
"Aku yang memberitahu Voldemort mengenai ramalan akan kejatuhannya atas perintah Dumbledore, tanpa memberitahu bagian mengenai kebangkitannya. Bertahun-tahun setelah kejatuhan Voldemort, kami, Orde Phoenix mengira dia sudah tiada, tapi tanda-tanda kebangkitannya mulai timbul."
Father menarik lengan bajunya dan memperlihatkan Tanda Kegelapan yang terbakar di tangannya. Dulu tanda itu mati seperti tato biasa. Sekarang dengan horror aku melihat tanda itu bergerak-gerak di tangannya, menari seakan hidup.
"Para pelahap maut tentu mengincarku dan ibumu, karena dari kamilah awal kejatuhan Voldemort. Dia mengikuti petunjukku dan dia mati, sesuai rencana Orde. Tapi yang mereka kini tahu, ramalan itu tidak berhenti di kejatuhan Voldemort saja."
Aku menahan napas menunggu kelanjutan cerita Father. Dia melihatku intens. Kalimat yang keluar selanjutnya benar-benar mengejutkanku dan menjelaskan mengapa aku harus menjaga Hermione beberapa waktu lalu.
OOO
Hermione POV
"Darah Merlin… Darah Merlin akan memberikan Tuanku kekuatan baru. Ia akan lebih kuat, lebih besar, jauh mengerikan, dengan Darah Merlin."
"DARAH MERLIN AKAN KUPERSEMBAHKAN PADA TUANKU!"
"NO!" Aku terbangun, keringat dingin membasahi keningku. "It's okay Hermione, it's okay, Mom's here." Aku merasakan pelukan Mom. Mimpi buruk itu semakin parah, semakin intens.
"Salvio Hexia. Protego Maxima. Fianto Duri. Repello Inimicum. Muffliato." Aku lihat ke arah balkon, dan melihat Harry, Ron, Aunt Narcissa, dan seseorang yang tak kukenal sedang mengucapkan sesuatu yang tak kumengerti artinya sambil mengacungkan tongkat mereka ke langit. Cahaya silver melesat putus-putus keluar dari tongkat mereka sembari mereka mengucapkan kalimat itu.
Dad dan seseorang yang sudah berumur, jenggot panjang, yang sangat mirip dengan Aberforth Dumbledore masuk ke kamarku. "Hermione, kau sudah sadar?" ucap Dad menghampiriku kemudian mengelus rambutku.
"Mom? Dad? Apa yang sebenarnya terjadi? Mana Draco?" Mom melirik Dad, yang kemudian melirik ke pria tua itu. Pria tua itu duduk di samping kasurku, memegang tanganku. "Halo Ms. Hermione, nama saya Albus Dumbledore, you can call me Dumbledore."
Aku mengangguk kecil, masih tak yakin apa yang baru saja terjadi. "Kau sudah enakan Hermione, bisa ceritakan padaku apa yang tadi terjadi di sekolah?" tanya Dumbledore.
"A-aku tak yakin." Aku takut menceritakannya, mereka akan menganggapku gila.
"Kau tak perlu takut Hermione, kau bisa cerita pada kami. Kami akan mendengarkannya." Ucap Dumbledore padaku. Ada sesuatu darinya yang membuatku tenang dan bisa percaya padanya.
Aku mulai menceritakan dari awal kami latihan dodgeball, kemudian Lavender yang berubah menjadi monster yang tak kuketahui, Draco dan kawan-kawannya yang menolongku dengan tongkat kayu mereka, kemudian hingga aku pingsan. Aku agak ragu untuk menceritakan mimpiku mengenai Darah Merlin.
"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan Hermione? Jangan takut, we can help." Aku menelan ludah, kemudian menceritakan tentang mimpi yang sudah menghantuiku sejak memasuki akhir musim panas.
Selesai bercerita aku sadar Harry dan Ron sedang memperhatikanku, duduk di sofa kamarku. Aunt Narcissa berdiri di belakang Mom yang masih duduk di kasur sambil sesekali mengelus bahuku.
"I'm afraid what we predicted has come true, James." Dumbledore berdiri kemudian menghampiri Dad. "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Dumbledore?" tanya Dad padanya.
"Kita harus mengetes apakah benar perlindungan dari darahnya sudah bangkit." Dumbledore mengacungkan tongkat kayunya padaku.
Aku menatap horror. Mom langsung bangkit dan melompat ke depanku, menghalangi Dumbledore. Harry dan Ron melonjak berdiri, begitu juga Aunt Narcissa yang terlihat tak percaya.
"Dumbledore have you lost your mind!? You're going to attack my daughter!?" ucap Mom. Dad juga mengeluarkan tongkatnya dan mengacungkannya pada Dumbledore. "Tenanglah Lily. Apabila dugaan kita benar, maka ini tidak akan menyakitinya sama sekali. Menyingkirlah."
Mom masih tetap berdiri di depanku meskipun Dumbledore menjamin tidak akan terjadi apa-apa denganku. Aunt Narcissa beranjak ke Mom, menatapnya seakan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
Mom kemudian menyingkir sedikit namun mengacungkan tongkatnya pada Dumbledore. "I'm very sorry Dumbledore but if anything happens to Hermione, I'm going to kill you with my own hands." Aku terkejut mendengar kata-kata Mom. Memangnya apa yang mau dia lakukan?
Dumbledore menarik napas, "Petrificus Totalus."
Nothing happened to me.
"Stupefy."
"Imperio."
Tak ada.
Dumbledore melirik Dad, seakan meminta izin. Dad melihat Mom, Mom menggelengkan kepalanya. "Kita harus tau Lily." Ucap Dumbledore dengan tegas pada Mom.
Dumbledore kemudian kembali melihatku, tongkat masih tetap teracung padaku. "Reducto!"
Tak ada yang terjadi.
"Hermione, maafkan aku apabila sesuatu terjadi padamu setelah ini. Tapi kita harus tahu sejauh mana perlindungan darahmu melindungimu sekarang." Aku ketakutan, tapi terlalu lemas untuk bergerak, kakiku seakan beku.
"Crucio!"
"Dumbledore kurasa cukup sampai di situ!" seru Aunt Narcissa. Tak ada yang terjadi padaku.
Dumbledore kemudian menurunkan tangannya. "Kurasa darahnya melindunginya dari segala macam kutukan." Dumbledore mengutarakan kesimpulannya.
"James, Harry, Ron, Horace, ikut denganku. Kita akan membicarakan perlindungan untuk Ms. Hermione. Panggil Lucius juga." Ucap Dumbledore yang keluar dari kamarku, diikuti Dad, Harry, Ron, dan pria tua yang ternyata bernama Horace.
Kamarku kembali sunyi. "Mom, kau berutang banyak penjelasan padaku." Mom menghela napas, aku bisa membaca raut wajahnya yang khawatir luar biasa.
"Mom tidak tahu bagaimana menjelaskan padamu Hermione. Yang bisa Mom bisa beritahu sekarang hanyalah kau seorang penyihir." Aku tercengang kemudian tertawa, namun melihat Mom dan Aunt Narcissa masih terdiam, aku ikut terdiam. "But I can't be, there's no such thing as magic." ujarku.
Kini Aunt Narcissa yang tertawa mendengar pernyataanku. "Setelah semua yang kau lihat, kau masih merasa sihir itu tidak ada dear?" Aku tertegun. Betul juga.
"Apa itu berarti Mom, Dad, dan Harry juga penyihir?"
Mom mengangguk.
"Tapi kenapa tidak ada yang memberitahuku Mom? Dan kenapa baru sekarang aku melihat sihir secara langsung?"
Mom menghela napas lagi. "Itu karena kekuatan sihirmu belum bangkit sampai beberapa waktu lalu, Hermione. Pertahanan alami yang lahir denganmu baru aktif. Kami menjaga dunia sihir darimu karena kami tidak ingin banyak orang tahu bahwa kau keturunan penyihir. Kau spesial sayang, and you must know that you're different from us"
"Mungkin ini dapat membantu. Aku tahu kau suka membaca." Aunt Narcissa menyerahkan buku yang sudah usang padaku. History of Wizarding World.
"Aku dan Lucius berencana memberikan buku itu padamu saat kau berulang tahun ke-18, karena di situlah seharusnya kekuatan sihirmu bangkit. Kita tidak menyangka ini akan terjadi lebih cepat." ujar Aunt Narcissa lagi.
"Thank you so much Aunt Narcissa, I really appreciate it." Aku tersenyum padanya kemudian membuka halaman pertama buku itu, dan seperti biasa mulai tenggelam dalam bacaan baruku.
Aunt Narcissa pamit keluar, sementara Mom tidak berani meninggalkanku sendiri. Dia duduk di balkon kamar, kurasa sambil mengawasi area luar rumah kami.
Semakin sore, semakin tenggelam dalam bacaan itu, aku semakin sadar, bahwa hidupku tak akan sama lagi.
Dan semakin kubaca, aku menjadi marah. Pada keluargaku, pada semuanya. Mengapa mereka menyembunyikan ini dariku? Ini hal yang sangat penting dalam hidupku, kenapa mereka diam saja?
Mom beberapa kali keluar masuk balkon dan kamar, mengajakku ngobrol. Mom sadar aku marah padanya, karena aku diam saja tidak menjawab.
Seseorang mengetuk pintu kamar. Mom membuka pintu dan semburat pirang muncul dari baliknya. "Hey, you're okay Mione." Itu Draco. Aku bisa melihat goresan luka di wajahnya akibat kejadian tadi siang.
Awkward silence. Mom meninggalkan kami sebentar untuk memasak makan malam. Another awkward silence.
"Kau tahu kan?" Aku membuka pembicaraan. "Tentang aku, seorang penyihir."
"Sejujurnya aku juga baru tahu seminggu sebelum kita masuk sekolah."
Aku terdiam. Pikiranku berkecamuk dalam otakku. Aku takut. Aku merasa sulit percaya pada orang sekitarku setelah mereka menipuku bertahun-tahun.
"Kau tidak perlu takut. Kau bisa percaya padaku." Draco berjalan dan duduk dekat di sampingku di kasur, menatapku tepat di mataku. "Jangan masuk ke otakku dengan legilimens, Malfoy." timpalku, sadar apa yang dia lakukan padaku.
Draco menyeringai. God, aku tak bisa tetap marah padanya. Dia seksi sekali.
"Wow, I'm impressed. Kau baru jadi penyihir beberapa jam dan kau sudah tahu apa itu legilimens."
"Thanks for the gift your mom gave me." Aku memperlihatkan buku yang sudah selesai kubaca barusan.
Kami terdiam, masih bertatapan. Aku memperhatikan wajah pria yang belakangan ini muncul di otakku.
Rambut pirang platina nya terlihat halus. Alis tebal terbentuk rapi. Luka gores di pipinya tak mengurangi nilai sempurna wajahnya. Mata abunya yang berbinar, hidungnya yang mancung, garis rahangnya tegas seakan dipahat langsung oleh Michelangelo. Dan bibirnya. Yang. Terlihat. Manis.
Jantungku berdebar keras. Kenapa anak ini bisa membuatku berdebar tak karuan? Semoga dia tak mendengar suara jantungku yang sebentar lagi melompat keluar.
Aku bisa merasakan hembusan nafas Draco pelan mengenai wajahku saat dia mendekatkan wajahnya.
"I'm so glad you're okay, love." Ini dia. Ini saatnya aku mati kehabisan napas karena seorang Draco Malfoy.
Bibir bertemu bibir. Draco menciumku lembut seakan aku akan hancur bila tidak diperlakukan hati-hati. Rasa pasta gigi mint menyeruak dari mulutnya.
Aku membalas ciumannya. Heran, padahal aku tak pernah mengizinkan Viktor menciumku dengan alasan aku menyimpan ciuman pertamaku untuk calon suamiku. Tapi berciuman dengan Draco, I can feel that this is where I belong.
Draco memelukku, memperdalam ciuman kami. Segala rasa dia tumpahkan lewat ciuman itu. Aku bisa merasakan rasa lega, sayang, dan khawatir yang terpancar lewat ciuman itu.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya mendesah pelan. Draco menggigit pelan bibir bawahku dan aku refleks membuka mulutku. Lidahnya masuk dan mengabsen gigiku satu per satu, kemudian bertautan dengan lidahku, menari dalam mulutku.
Aku meremas rambut Draco pelan dan dia makin semangat menciumku. Dia menggeram pelan kemudian menindihku. Aku kini berbaring dengan Draco di atasku. Tangannya turun ke pinggangku, mengelus pelan kulitku yang sedikit tersingkap setelah kaosku berantakan tak karuan.
Napas kami memburu. Bibir Draco baru saja turun ke leherku ketika aku mendengar celetukan seseorang, "Bloody hell Malfoy, not my sister."
"Harry! Can't you knock?" aku berceletuk balik. Draco memisahkan diri dariku sambil mengatur napas, wajahnya merah padam. Dia berdiri dengan cepat kemudian menyeringai pada Harry.
"I already knocked till my knuckles hurt, geesh Mione." Harry menggelengkan kepala padaku kemudian menatap tajam Draco. Draco menatapnya balik seolah menantangnya. Aku tak suka keadaan ini.
"Dumbledore mencarimu, Malfoy." ucap Harry. "Kau juga Mione."
Harry baru beranjak keluar namun tiba-tiba terhenti. "And next time, kunci pintunya."
OOO
Draco POV
Gila, apa yang kulakukan. Jangan perlakukan Hermione seperti wanita yang biasanya kau tiduri, stupid Draco.
Jadi setelah bertemu dengan Dumbledore dan Orde Phoenix, kami menemukan fakta bahwa Hermione kebal terhadap segala macam mantra kutukan, namun tidak kebal dari ramuan. Kini aku resmi diangkat menjadi anggota Orde Phoenix, dan tugas pertamaku adalah melindungi Hermione.
Bersama Harry dan Aunt Lily, aku akan mengajari Hermione how to be a witch.
Seminggu setelah kejadian itu, setelah memastikan semuanya aman aku, Mother, dan Aunt Lily membawa Hermione ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan sihirnya.
Aku ingat ketika dia dengan cerianya nyaris melompat mengelilingi Diagon Alley.
Setelah ke Gringotts terlebih dahulu, kami pergi ke Ollivanders, tempat semua orang membeli tongkat pertama mereka. Hermione masuk sendirian, sementara kami menunggu di luar. Panjang tongkat Hermione 10¾", vine wood, dengan dragon heartstring core. Tongkat berwarna putih diukir meliuk cantik, cocok untuk Hermione.
Selanjutnya kami pergi ke Flourish and Blotts, dan benar-benar kesulitan mengajak Hermione pulang. Dia nyaris menghabiskan semua uang di toko buku itu. Benar-benar seperti seorang anak yang masuk ke dalam toko permen.
Kemudian kami membeli cauldron dan peralatan ramuan untuk Hermione. Orde Phoenix memutuskan bahwa Hermione harus belajar sebanyak yang dia bisa selama belum ada pertanda lebih lanjut mengenai Voldemort.
Sudah 3 bulan berlalu sekarang. Thanks to her photographic memory, dia bisa menghapal dan merapalkan banyak sekali mantra dengan tepat. Selain itu kemampuannya dalam meramu ramuan juga hampir sebanding dengan Aunt Lily, yang notabene merupakan salah satu murid terbaik Prof. Horace Slughorn.
Aku berjalan menuju perpustakaan keluarga Potter, yang salah satu bagiannya sudah disulap menjadi ruangan duel. Hermione memang pintar, namun nyalinya untuk menyakiti lawan masih kecil.
I'm very sorry to say that kalau dia menghadapi seorang Pelahap Maut, mereka akan menghabisinya saat Hermione ragu.
Hermione sudah berdiri di sana memegang tongkatnya. Matanya melihat ke arah luar jendela. Seiring berjalannya waktu selama aku masih menjaganya, Hermione sering kali menghindariku. Aku rasa dia bingung karena dia di satu sisi masih memiliki Viktor Krum sebagai pacarnya.
Jujur tak jarang kami bermesraan. Kami hanya sebatas ciuman, namun setiap kali habis melakukannya, dia akan kembali mendiamiku sampai dia perlu bicara denganku. Selalu seperti itu.
Hari ini aku akan melatih Hermione duel lagi, sementara Aunt Lily dan Uncle James pergi menjalankan misi Orde. Harry ada di lantai satu, sedang melakukan Merlin-knows-what, Father dan Mother ada di rumah Malfoy, ikut menjaga Hermione.
Di lantai dua ada Mr. Weasley dan anaknya, Bill Weasley ikut berjaga. Tapi aku tidak melihat mereka saat aku naik tadi.
"Sudah siap Hermione?" Seperti biasa, dia tidak melihatku ke mata. Entah karena gugup atau menghindar. Kurasa pilihan kedua yang lebih tepat. Dia mengangguk kemudian memberi salute yang dilakukan penyihir sebelum berduel.
Posisi siaga. "Expelliarmus!" baru saja aku mau menyerangnya, tongkatku sudah melayang dan mendarat di tangannya. Hermione menyeringai, sudah berkali-kali dia melucuti tongkatku, tapi dia tak pernah menyerang duluan.
"Outstanding Mione! Ayo kita ulang." Ucapku mengajaknya kembali berduel. Baru saja kami selesai salute, Harry muncul memanggil Hermione. "Mione, kau ada tamu di bawah."
Aku dan Hermione sama-sama menyengit. Kukira Hermione tak punya teman di sekolah.
"It's Viktor, sis." Oh. Aku merasakan jantungku mencelos saat melihat Hermione tersenyum dan langsung turun, seakan lupa aku ada.
Aku mengekorinya turun dan melihat badan tegap Viktor Krum, penyihir yang juga merupakan atlet kebangsaan Bulgaria sedang berdiri menatap foto keluarga Potter di atas perapian.
"Viktor!" Hermione tersenyum kemudian memeluk Viktor. Viktor ikut tersenyum dan balik memeluk Hermione. Membuatku ingin muntah.
Aku tak memperdulikan mereka dan berjalan menuju rolling door yang menghubungkan ruang tamu dan taman belakang.
Beberapa menit aku mendengar Viktor bercerita tentang turnamen yang seharusnya dia ikuti, namun pulang karena rindu dengan Hermione.
"Sejak kapan kau tahu kau seorang penyihir, Mione?" tanya Viktor. Aku memasang kuping sambil tetap memperhatikan cuaca di luar yang mulai mendung.
Hermione kemudian bercerita mengenai kejadian yang menimpa kami beberapa bulan silam. Aku ingin menegur Hermione untuk tidak bercerita sembarangan karena aku belum bisa mempercayai Viktor.
Viktor bersekolah di Durmstrang, sekolah yang terkenal menghasilkan banyak Pelahap Maut dan mempraktekkan sihir gelap dalam kurikulumnya. Tentu aku khawatir.
Aku memperhatikan area taman belakang keluarga Potter yang lumayan luas. Saking luasnya, aku tidak menyadari sesuatu yang aneh.
"Potter?" Aku memanggil Harry yang kemudian mendekat ke arahku. "Ada apa Malfoy?"
Aku menunjuk pada sesuatu di bawah pohon sambil menyiapkan tongkat. "Apa kalian pelihara ular di rumah ini?"
Harry menyipitkan matanya melihat ular yang menegakkan badannya tenang dekat pohon rindang. Ia membuka rolling door untuk melihat lebih jelas, dan dengan horror aku menyaksikan Augustus Rookwood, salah satu Pelahap Maut yang aku kenal muncul dari balik pohon, menyerang Harry. "Confringo!"
Harry terpental ke belakang, sebagian besar tubuh bagian depannya terbakar. Ia terlontar hingga meja makan, kemudian jatuh ambruk ke bawah tak sadarkan diri.
"Harry!" Aku mendengar jeritan Hermione. Aku mengacungkan tongkatku pada Dolohov dan dengan lemas melihat Hermione disekap oleh Viktor, tongkat Viktor dengan tangan kanan diarahkan padaku sedangkan pisau di tangan kiri menekan leher Hermione.
"Jangan berbuat apa-apa kalau tidak mau Hermione tersayang luka." Ancam Viktor padaku. Betulkan dugaanku?
"Draco.." Hermione memanggilku pelan, aku harus bertindak cepat.
Pertama aku perlu lumpuhkan Rookwood yang juga mengacungkan tongkatnya padaku. Kemudian-
Belum selesai aku berpikir, aku dikejutkan dengan Mr. Weasley yang melayang diangkat oleh Amycus Carrow secara sihir. Tongkatnya sudah patah di tangannya. Darah mengalir dari banyaknya luka di tubuhnya. Aku tidak melihat Bill.
Aku terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Mataku menangkap Hermione yang mengeluarkan tongkatnya dari saku celananya, namun sialnya perbuatannya dilihat oleh Carrow.
"Stupefy!"
"Expelliarmus!"
Sebelum sempat dilucuti oleh Carrow, Hermione menyerang Rookwood dengan mantranya yang membuat Dolohov tak sadarkan diri. Ini memberiku kesempatan untuk menyerang Carrow terlebih dahulu.
"Petrificus Totalus!" ucapku menyerang Carrow. Aku memungut tongkat Hermione dengan cepat kemudian kembali mengacungkan tongkatku pada Viktor. "It's over Viktor, serahkan Hermione dan aku mungkin mengampunimu."
Viktor tertawa keras, namun tawanya terdengar dibuat-buat. "Kau pikir kami cuma bertiga? How's your coward Father, Malfoy?"
Aku tertegun, teringat Father dan Mother yang tak mungkin tak sadar perlindungan rumah Potter ditembus kalau mereka baik-baik saja. Mother pasti merasakan wardnya ditembus, namun tidak ada tanda-tanda mereka kemari.
Viktor menggeleng, masih tertawa. "Kau masih amatir, Malfoy kecil."
"Crucio!"
Tiba-tiba aku merasa seperti seluruh tulangku diremukkan bersamaan. "ARGGHHHH!" Aku menjerit kesakitan, belum pernah aku menjerit sekuat ini. Kulitku seakan dikupas perlahan seluruhnya, kemudian disayat-sayat dengan timah panas.
Seakan aku lupa apa yang terjadi, aku ingin mati. Aku ingin mati saja. Kepalaku mau pecah. Seluruh organ tubuhku serasa diremas dari dalam. Aku bisa mendengar Hermione menangis memohon Viktor untuk berhenti.
Cukup lama Hermione menjerit histeris hingga tiba-tiba rasa sakit itu berhenti, namun tubuhku masih terlalu lemas untuk berbuat apa-apa. Aku bahkan tak bisa merasakan apa-apa. Aku tak bisa melihat apa-apa. Pandanganku hitam. Aku tak bisa bergerak.
"Sectumsempra!" darah muncrat dan mengucur deras dari dadaku seolah ditebas pedang. Aku bisa mendengar Hermione menjerit histeris. Aku mengerti dia pasti ketakutan dan shock, tapi aku terlalu lemas untuk melawan.
Pintu rumah Potter terbuka dengan keras. Dumbledore, Uncle James, Uncle Sirius, Uncle Remus, dan Kingsley Shacklebolt muncul dari baliknya.
Sayangnya, Viktor sudah lama ber-apparate, membawa Hermione bersamanya. Meninggalkan kediaman Potter yang berantakan dibuat mereka, dan diriku dengan genangan darahku sendiri yang mengucur deras.
.
Suasana duka mendung terasa di kediamanku. Ibuku, Narcissa Malfoy dibunuh Fenrir Greyback di hari Hermione diculik. Father terluka parah setelah disiksa oleh Corban Yaxley demi informasi dan balas dendam atas kejatuhan Voldemort.
Aku, Father, Harry, dan Mr. Weasley masih dirawat di St. Mungo akibat luka-luka yang kami alami. Voldemort benar-benar bangkit, dan dia mengincar keluargaku karena mengkhianatinya. Dia ingin Father menderita, dimulai dari kematian Mother.
Hari pertama aku tersadar di St. Mungo, aku memberontak ingin lari. Hermione, aku harus menyelamatkannya. God knows apa yang dilakukan para Pelahap Maut itu padanya. Sekarang sudah hari ketiga, dan aku sudah hampir sembuh meskipun belum total.
Sudah tiga hari juga aku mendengar Father menangis tiap malam. Dia benar-benar mencintai Mother. Kami bahkan tidak bisa mengucapkan kata-kata terakhir pada satu sama lain.
Father bilang ketika mereka merasa ward Mother di kediaman Potter ditembus orang asing, mereka langsung siaga untuk berapparate namun Mother keburu digigit oleh Fenrir Greyback si werewolf. Father juga dibekukan oleh Yaxley kemudian disiksa, sambil menyaksikan Mother disiksa oleh Greyback.
Mother meninggal karena kehabisan darah dan shock.
Dumbledore berkali-kali datang menenangkan Father, dan Father bersumpah kesetiaannya tetap pada Dumbledore, demi Mother. Aku sendiri masih mengkhawatirkan Hermione.
Harry bilang Orde Phoenix sedang merencanakan penyelamatan Hermione, namun mereka tidak mau melibatkan kami karena kami masih belum pulih total.
.
Hari kelima, dan aku sudah mau gila. Aku harus melakukan sesuatu, aku harus menyelamatkan Hermione sebelum mereka sadar betapa pentingnya Hermione bagi mereka.
Hermione Granger Potter, adalah satu-satunya keturunan langsung Merlin yang masih hidup sekarang.
Merlin, salah satu penyihir terhebat zaman dulu, memberi berkat darah pada anak laki-lakinya, dengan harapan anaknya dapat menjadi healer yang terbaik pada zamannya dan menjadi penyihir terkuat, seperti dia.
Namun yang Merlin lupa, bahwa magic always comes with a price.
Terang sekuat itu akan menciptakan gelap yang kuat juga. Dalam kasus Merlin, setiap keturunannya terkena blood curse. Mereka akan menjadi penyihir yang sangat hebat, kuat, namun apabila mereka memilih dark magic, mereka akan menjadi penyihir jahat yang luar biasa kuat dan ditakuti.
Hermione Granger Potter, adalah satu-satunya anak perempuan dari Bellatrix Lestrange, satu-satunya keturunan Merlin, Pelahap Maut Voldemort yang paling kuat dan paling ditakuti orang. Beberapa saat kemudian, Bellatrix yang masih lemah habis melahirkan meninggal.
Kata Father, Bellatrix melahirkan Hermione hanya untuk melanjutkan blood curse dari Merlin, tanpa rasa cinta sedikitpun pada anaknya. Tahu bahwa Hermione merupakan salah satu kunci terkuat Orde untuk sepenuhnya melawan Voldemort, mereka memutuskan untuk mengadopsi Hermione.
Setelah kematian Bellatrix, keluarga Potter mengadopsi Hermione dan membesarkan dia diluar pengetahuan Pelahap Maut lainnya, mengira anak perempuan Bellatrix mati bersamanya.
Apa hubungan Hermione dan Voldemort, kau tanya? Darah Hermione merupakan bahan utama untuk kebangkitan Voldemort, karena dia membutuhkan darah murni dari penyihir terkuat yang dimiliki dunia.
Para Pelahap Maut tak bisa menggunakan darah Bellatrix karena darahnya sudah terkontaminasi sihir hitam. Itulah mengapa penting bagi Orde Phoenix untuk menghindari Hermione ketahuan oleh Pelahap Maut.
Darah yang mengalir di tubuh Hermione dapat membawa kedamaian, ataupun kehancuran. Itu takdir yang harus dia jalani sebagai keturunan Merlin.
Sudah kuduga Viktor Krum tidak bisa dipercaya. Sialan. Darahku mendidih mengingatnya.
Aku benar-benar sudah merencanakan cara kabur untuk menyelamatkan Hermione ketika Uncle James, Uncle Sirius, dan Uncle Remus masuk ke ruang inapku dan Father.
"Hermione berhasil diselamatkan." Ucap Uncle James pelan. Jantungku melonjak bahagia, namun belum sempat aku bahagia merayakan, dia menyambung ucapannya, "Namun Voldemort berhasil bangkit setelah hampir menguras habis darahnya."
TBC
Author note:
Sorry telat update, soalnya minggu ujian kemarin. Hehehe.
Please read and review, kalo ada yang mau ditanya soal konsep ceritanya, just leave PM or review, thank you so much for your support!
