leokims present

Love At First Moan

Mingyu x Wonwoo

Rated : M

Disclaimer : Semua cast yang ada dalam cerita ini milik Tuhan dan keluarganya, tapi ide dan alur cerita sepenuhnya berasal dari ide penulis.

Warning : Masturbation, Dirty Talk, etc.

.

Wonwoo yang bungkam. Mingyu yang selalu mengelak dari perasaan. Wonwoo yang menyukai Mingyu dalam diam. Dan Mingyu yang mendesahkan nama Wonwoo di toilet sekolah.

.

.

[CHAPTER 1]

"Kau tahu Wonwoo?"

"Oh –si ketua OSIS itu, kan?"

"Iya, lihat ini. Aku punya fotonya saat upacara kemarin."

"Kau mengambil fotonya diam-diam?"

"Tentu! Lihat yang ini, dan yang ini –bukankah dia sangat seksi ketika melakukan pidato dengan keringat di–"

BRAKK!!

Pembicaraan tentang si ketua OSIS yang seksi itu sontak terhenti kala sebuah pintu dibanting dengan keras. Bukan seorang guru yang tengah mengajar yang jadi pelakunya. Bukan. Karena nyatanya sekarang adalah jam kosong, jadi mustahil ada seorang guru yang menginterupsi kegiatan menggosip ketua OSIS dengan volume suara nyaris seperti orang yang berbisik itu.

Si pelaku pembantingan pintu itu adalah seorang pemuda tinggi dengan kulit tan, seorang pemuda yang menjabat sebagai ketua tim basket. Sebutkan saja ciri-cirinya, maka semua siswi disekolah kompak menjawab namanya 'Kim Mingyu'.

Pembicaraan yang sempat terhenti itu kembali berlanjut seperti sebelumnya, seolah tak ada insiden 'pembantingan pintu' yang dilakukan Mingyu tadi. Sementara si pelaku kini berjalan sepanjang lorong dengan langkah yang gontai, tujuannya sudah pasti; toilet sekolah.

Sebenarnya bisa saja ia cari tempat lain untuk lampiaskan amarah, tapi rasanya toilet sekolah lebih aman. Ia tak mungkin pergi ke gudang belakang sekolah, walaupun itu tempat persembunyian favoritnya, tapi besar kemungkinan salah satu guru atau petugas keamanan akan memergokinya dan membuat Mingyu harus masuk ke ruangan kedisiplinan untuk yang ketiga kali di minggu ini.

Mingyu sampai ditoilet, dengan kasar membuka keran air dan membasuh wajahnya –membiarkan sisa-sisa liquid bening itu membasahi seragamnya. Cuaca sedang panas sekarang, tapi hatinya lebih panas sekarang. Bisa-bisanya para jalang itu mengambil foto Wonwoo-nya secara diam-diam.

Tolong garis bawahi; Wonwoo-nya. Tak ada yang boleh menikmati keindahan Wonwoo selain dirinya, tak ada yang boleh menyimpan gambar Wonwoo diponsel selain dirinya. Kedengaran posesif memang, apalagi untuk cinta yang tak pernah tersampaikan. Tapi begitulah Mingyu, si penggemar berat Wonwoo yang sudah hampir dua tahun ini menyimpan rasa tanpa berani mengungkapkan secara langsung. Okay, ia bukan takut tapi tak ingin mengambil resiko jika Wonwoo sama seperti lelaki kebanyakan yang menyukai wanita seksi dibanding dengan lelaki berpenis yang tak memiliki payudara untuk dibanggakan.

Sial.

Hatinya makin terasa terbakar saja. "ARGH!" Terdorong oleh emosi, Mingyu meninju bayangannya sendiri didepan cermin. Namun tidak seperti drama yang pernah ditontonnya bersama sang ibu, tak ada retakan kaca. Yang ada malah kepalan tangannya yang terasa ngilu.

"Aduh – ahh! Sakit ternyata.." Penyataan yang terdengar retoris terlontar, seiring dengan dirinya yang menarik kembali tinju. Kemudian mengelus pangkal jemarinya dengan gaya yang tak kalah dramatis.

Nasib baik Mingyu sedang sendirian sekarang, jadi tak ada yang menertawakan tingkah konyolnya itu. Percayalah, bahkan seorang Kim Mingyu yang menjadi idaman hampir seluruh siswi dan mungkin siswa disekolah ini sering melakukan hal bodoh hanya karena Wonwoo. Betapa cinta benar-benar membuat seseorang jadi buta.

Manik kecokelatan milik Mingyu kembali menatap pantulan dirinya dicermin, kutipan dari obrolan para gadis tentang seksinya Wonwoo yang sedang berkeringat terbayang disana. Dirinya juga ingin memilki gambar yang serupa, setidaknya ia bisa menjadikan photo itu sebagai objek fantasinya saat melakukan onani.

Wow, jangan salahkan cinta. Salahkan saja hormon remaja yang membuat Mingyu tak bisa mengendalikan nafsunya.

Dan jadilah begini nasib seorang Mingyu, berdiri didepan cermin sambil membayangkan Wonwoo yang berdiri disebelahnya tengah membuka kancing seragam satu persatu. Dada bidang yang berkeringat itu membuat seragam yang dikenakan Wonwoo mencetak jelas otot yang membuat siapa saja bertekuk lutut, tak terkecuali Mingyu. Ia tentu dengan senang hati akan bertekuk lutut, kemudian memberikan blowjob terbaiknya sebelum memutar posisi Wonwoo untuk menungging; agar Mingyu bisa dengan mudah menyodokan kejantanannya sampai kiamat tiba.

Oh, tidak sampai kiamat juga. Setidaknya sampai Mingyu klimaks yang ketiga kali. Kau tahu, satu ronde saja tidak akan cukup untuk sebuah penantian selama dua tahun.

"Mmh.." Rasanya Mingyu ingin mengutuk hormon yang menuntun jemari untuk mengelus selangkangannya yang masih terbungkus celana seragam. Ya, dan sesuatu dibalik celananya sudah menegang hanya dengan membayangkan Wonwoo yang berkeringat dan bertelanjang dada dihadapannya. "Sial!"

Pandangan Mingyu mengedar, hanya memastikan kalau tak ada seorang pun yang melihat atau bahkan mengintip kegiatan laknatnya barusan. Langkahnya membawa diri keluar, dengan ereksi dibalik celana yang membuat cara jalannya sedikit lucu. Setelah memastikan bahwa tak ada satu pun yang bisa mengusik fantasi liarnya, Mingyu dengan setengah berlari kembali masuk toilet. Kali ini bukan didepan cermin, melainkan disalah satu bilik air yang pintunya sudah ia tutup rapat.

Tangannya dengan tergesa membuka kancing celana dan menurunkan resletingnya, sementara lengannya yang lain sibuk menurunkan penutup toilet agar ia bisa duduk diatasnya.

"Ahh.." Desahan lega terdengar ketika ia berhasil dengan langkah awal untuk mengambil posisi nyaman dalam onani. Persetan dengan dirinya yang masih disekolah dan sebentar lagi jam istirahat, ia sudah tak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi.

Mingyu duduk diatas toilet dan kini mulai menggenggam batang diantara selangkangannya yang sudah menegang, jemarinya mulai mengelus pelan dari pangkal hingga ujungnya. Membuat Mingyu rasakan sensasi geli yang membuat libidonya naik. Oh, anggap saja ini tangan Wonwoo; maka Mingyu makin menggila dalam imajinasi liarnya.

Gerakan tangannya kini berubah, jadi menggenggam erat sambil mengurutnya dengan arah horizontal yang membuat tubuhnya menggigil akibat nafsu. Seiring dengan itu, suara memekan masuk dalam rungu. Tanda kalau sekarang sudah masuk jam istirahat.

"Shit!" Mingyu mengumpat pelan, makin mempercepat gerakan tangannya agar tak ada satu pun yang memergokinya sedang melakukan kegiatan laknat didalam bilik kamar mandi. Ya, walaupun kemungkinan untuk ketahuan sangat kecil, mengingat dirinya yang berada didalam satu ruangan dan tak ada satu pun yang bisa memasukinya.

Baru saja Mingyu hendak mencapai klimaks, suara langkah yang disusul keran air yang terbuka membuatnya menghentikan gerakan tangannya. 'Sial!' Mingyu mengumpat tanpa suara. Sungguh, ini adalah moment paling menyakitkan; ketika kau hendak saja mencapai kenikmatan duniawi tapi harus tertunda begitu saja akibat terkejut karena seseorang mengganggu.

Masih dengan genggaman yang berada dalam kejantanannya, Mingyu membeku sambil coba mendengarkan suara percikan air yang terdengar seperti orang yang tengah membasuh muka. Namun genggamannya bergerak keluar dari titah otak, tanpa sadar Mingyu meremas ereksinya akibat gugup.

"Nghh.." Tanpa sadar ia melenguh, kenikmatan dunia kembali memenuhi pori kulit Mingyu. Mendesak masuk, mengalir dengan liar sepanjang peredaran darah, kemudian dengan lantang memberi titah pada pusat syaraf agar terus menggerakan jemarinya disana.

Persetan dengan orang yang tengah berada didalam toilet sana, Mingyu tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.

Gerakan tangan Mingyu kembali mengurut kejantannya, lenguhan lirih kembali terdengar. Seiring dengan itu suara keran air tak terdengar lagi, dan Mingyu mengambil kesimpulan kalau orang yang sebelumnya berada ditoilet sudah pergi.

Merasa bebas, kini Mingyu mulai berani mendesah. Jemarinya makin liar bergerak dengan tempo cepat diantara selangkangan. "Nghh –ah! Fash–ter, babe.." Mingyu makin menggila.

Bayangan tentang Wonwoo yang bertelanjang muncul dalam angan, dengan liar duduk diatas Mingyu dengan kejantanannya yang tertancap didalam lubang Wonwoo. Sesekali pria berkulit pucat itu menjerit, memberi titah pada Mingyu untuk makin menghujam penisnya kedalam lubang Wonwoo lebih dalam.

"Won–nghh.. Aku mau keluar–" Begitu liar imajinasi seorang Kim Mingyu hingga dirinya tak bisa mengontrol frasa yang terlontar dari celah bibir.

"Wonwoo –nghh.."

Bayangan tentang lelaki yang menjabat sebagai ketua OSIS itu makin kentara dalam angan, membuat gerakan horizontal yang menggila diatas pangkuan Mingyu. Bahkan rungu nya juga membuat ilusi desahan Wonwoo yang memanggil namanya dengan gaya yang begitu liar. Oh, Mingyu tahu ini batasnya; batas dirinya dengan kenikmatan duniawi. Dalam sepekian detik Mingyu serasa melayang, berada dalam surga yang didalamnya hanya ada dirinya dan Wonwoo –yang sedang bercumbu.

BRAAK!

"ANGHH.." / "ARGH!"

Pintu tiba-tiba didobrak, tapi itu semua sudah terlambat; Mingyu tak bisa menahan desakan klimaksnya. Dan itu berakhir dengan dirinya yang mengeluarkan cairannya tepat didepan orang yang mendobrak pintu.

Mingyu mendesah, setengah mengerang dengan mata yang tertutup. Sungguh, ia tak berani memberi celah pada kelopak matanya walaupun itu hanya untuk mengintip siapa seseorang yang sudah dengan lancang mengganggu kegiatannya ini.

"Apa yang kau lakukan, hah!?"

Oh, tidak. Mingyu sudah hapal diluar kepala siapa pemilik bariton seksi ini.

Kelopak mata perlahan terbuka, kemudian jadi terbebelak saat perkiraannya begitu tepat tentang si pemilik suara. "Wonwoo –aku –ini.." Pita suaranya seolah terputus, tak dapat lagi menyelesaikan perkataan. Jangankan untuk menyelesaikan, berbicara dengan benar saja rasanya sulit.

Sekarang, dihadapannya ada Jeon Wonwoo. Demi dewa Neptunus yang suka makan krabypatty, dihadapannya ada seseorang yang jadi objek fantasi liarnya beberapa detik lalu. Wonwoo yang berdiri dihadapan Mingyu dengan ekspresi yang sama terkejutnya, dan jangan lupakan seragam dan sebagian wajahnya yang terkena sperma; menambah kesan –err seksi?

Sial.

Mingyu menelan salivanya yang terasa berat, mengutuk pikiran yang kembali liar. Harusnya ia merasa menyesal, setidaknya harapan untuk membuat Wonwoo terpesona dengan kemampuannya bermain basket sudah pupus. Tak ada lagi Mingyu si kapten tim basket yang seksi, yang ada kini Mingyu si mesum yang melakukan onani di toilet sekolah.

Selama hampir beberapa detik dihabiskan dalam diam, tak ada satu pun yang memulai percakapan –atau setidaknya makian karena keadaan mereka amatlah memalukan. Ingat, Mingyu masih belum bergerak dari posisinya; bahkan untuk sekedar menarik kembali celana yang tergantung diantara tungkai pun rasanya tak kuasa. Sementara Wonwoo sendiri, rasanya pria pucat itu masih dalam masa-masa shock berat karena baru saja mendapat 'hadiah' dari Mingyu.

Suara percakapan dari luar yang terdengar sampai ke toilet membuat mereka sadar tentang eksistensi diri yang masih berada didepan bilik air, dan dengan keadaan yang sama sama tidak memungkinkan untuk bertemu dengan orang lain. Dengan kata lain, jika yang orang lain melihat mereka mungkin Mingyu dan Wonwoo akan masuk ke ruang kedisiplinan dengan alasan yang tidak elit seperti –bercumbu didalam toilet sekolah?

"Kemarin kau lihat guru Nam? Sudah tiga hari ini dia tidak datang–"

Sahutan obrolan kian masuk kedalam rungu, Mingyu tahu jelas kalau para sumber suara itu tengah mengarah ke tempat dirinya tengah berada sekarang. Dengan sigap Mingyu menarik lengan Wonwoo yang masih mematung, membawa pria pucat itu masuk kedalam bilik toilet kemudian menutup pintunya rapat-rapat.

Mungkin dua orang –atau lebih, mulai melangkah masuk kedalam toilet. Beberapa dari mereka sibuk didepan wastafel, sementara yang lain masuk ke dalam bilik air disebelah Mingyu. Berterimakasihlah pada pendengarannya yang kelampau tajam sehingga dirinya dan Wonwoo tak tertangkap basah sedang–

Tunggu. Wonwoo!?

Sadar dari lamunan juga rasa was-was, kini Mingyu mengalihkan atensinya pada sosok yang tengah diperangkapnya dalam pelukan. Diantara dirinya dan pintu pembatas bilik toilet ini ada Wonwoo –ya, disana berdiri Wonwoo dengan tatapan terkejut yang tak bisa disembunyikan lagi.

Oh, sial. Bahkan keadaan Mingyu dan Wonwoo lebih memalukan dari sebelumnya; dengan celana Mingyu yang masih menggantung diantara tungkai dan kejantannya yang tak terbungkus apapun sukses menempel diantara selangkangan Wonwoo.

Mingyu menggigit bibirnya, merasakan sensasi aneh merasuk lagi kedalam tubuh. Nyatanya, ruang yang begitu menghimpit jarak membuat penis Mingyu bergesekan dengan tubuh Wonwoo yang terus bergerak resah. Begitu kerasa usaha Mingyu untuk tak mendesah, dan ia tahu kejantanannya kembali terbangun akibat rangsangan tidak disengaja ini.

"Diamlah, kau membuatku terangsang lagi." Bisikan Mingyu yang berada tepat di telinga Wonwoo terdengar begitu lirih. Hasrat dalam dirinya kembali bergejolak, apalagi ketika celah bibirnya begitu dekat dengan daun telinga Wonwoo yang mulai memerah itu. Rasanya ingin menggoda titik sensitif dihadapannya kemudian membuat Wonwoo benar-benar mendesah.

Kembali menelan salivanya yang terasa makin berat, Mingyu kini menyandarkan dagunya ke bahu Wonwoo. Menahan hasrat ternyata sesulit ini, apalagi jika seseorang yang membuatmu terangsang berada dalam pelukanmu sekarang. Mingyu mengutuk dalam hati. Sepasang maniknya tak henti memandangi Wonwoo yang tengah memalingkan wajah kearah lain, tidak buruk juga sebenarnya; biarpun Mingyu tak bisa melihat ekspresi apa yang ditunjukan Wonwoo sekarang, tapi ia jadi bisa menikmati pemadangan leher Wonwoo yang menggoda itu.

Mimpi apa Mingyu bisa melihat Wonwoo dalam jarak yang begitu intim seperti ini?

Apa benar ini nyata?

Bukan tanpa alasan Mingyu meragukan keberadaan Wonwoo yang sekarang tengah berada dalam pelukannya ini, beberapa kali ia sudah tertipu oleh ilusi yang dibuat otaknya saat dirinya tengah terangsang. Jadi, apa ini juga salah satu ilusi dalam otaknya?

Gerombolan siswa yang sebelumnya masuk itu masih berada ditoilet, sepertinya mereka akan menghabiskan waktu istirahat ditoilet sekolah. Oh sungguh, Mingyu sama sekali tak keberatan. Jika mereka mau membolos sampai pulang sekolah pun, atau mereka akan menginap sampai besok pagi pun, Mingyu rela terjebak didalam sini bersama Wonwoo selamanya.

Mingyu makin merapatkan tubuhnya, kejantanan yang sudah ereksi itu menekan selangkangan Wonwoo. Dan entah setan mana yang merasuki dirinya, dengan lancang lengan Mingyu sudah mengelus pinggang Wonwoo yang masih terbalut seragam.

"Wonwoo.." Bisikan Mingyu terdengar rendah, terkesan menggoda; padahal mati-matian ia berusaha agar tak menyerang Wonwoo sekarang. "Ini benar kau, kan? Ini bukan mimpi, kan?" Rentetan pertanyaan itu diakhiri dengan dirinya yang mengecup perpotongan leher Wonwoo.

Menyapu sepanjang garis rahang Wonwoo dengan deru napasnya, Mingyu kemudian disuguhi ekspresi Wonwoo yang tengah memejamkan matanya. Menikmati? Entahlah, Mingyu tak pernah bertanya.

Tangan Mingyu kini naik keatas, tak lagi mengelus pinggang Wonwoo. Jemari kokoh itu sudah menyusuri perut Wonwoo, meremas dada bidangnya dengan gerakan sensual, dan berakhir di perpotongan leher Wonwoo. Sesekali Mingyu menggoda Wonwoo dengan menghembuskan napasnya disekitar rahang, dan kini dengan sengaja menggesekan hidung mereka.

Perlahan kelopak Wonwoo terbuka, menampilkan sepasang manik cokelat yang menatap langsung pada Mingyu. Terangsang? Entahlah, Mingyu tak bisa pastikan –karena ia langsung menarik tengkuk Wonwoo dan menyatukan celah bibir mereka.

Awalnya hanya bibir yang saling menempel, namun didetik berikutnya Mingyu mulai bergerak untuk mengecup. Terkesan lembut dan hati-hati, Mingyu perlahan memperdalam ciuman mereka dengan lumatan. Dan bisa dibayangkan bagaimana perasaan Mingyu saat ini? Saat kau selama dua tahun hampir gila karena menambakan bisa menyentuh sang pujaan, dan sekarang bisa dengan bebas mencium –bahkan menggesekan kejantananmu ditengah selangkangan yang selama ini hanya ada dalam fantasi liarmu saja.

Mingyu yang bahagia. Mingyu yang terangsang. Mingyu yang merasa malu. Semua perasaan berkumpul dalam dada, membuatnya serasa bisa meledak kapan saja.

Lumatan yang diberikan Mingyu berubah jadi lebih kasar, dengan liar melesakan lidahnya masuk dalam goa hangat Wonwoo. Mengeksplorasi isinya, seolah tak ada hari esok. Saliva mereka saling menyatu, tak ada penolakan atau balasan dari Wonwoo. Pria yang tengah Mingyu himpit diantara pintu itu sepertinya pasrah menerima semua yang Mingyu lakukan.

Tangan Mingyu menyusup dibalik seragam, jemari kokoh itu mulai menggoda dada bidang Wonwoo –kemudian mulai memainkan nipple yang makin menegang. Ah bicara soal menegang, benda diantara selangkangan Wonwoo juga sudah menegang dibalik celana yang ia kenakan. Berterimakasihlah pada Mingyu yang terus menggesekan kejantanan mereka yang terhalang seragam Wonwoo tanpa henti.

Dapat Mingyu dengar lenguhan yang teredam ciuman saat jemarinya yang lain meremas bongkahan pantat Wonwoo, dan itu membuat sang dominan makin semangat untuk mencicipi setiap jengkal tubuh si pria pucat. Dengan terpaksa ciuman sempat terlepas, Wonwoo mengambil kesempatan itu untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin –dadanya serasa sesak akibat Mingyu tak memberinya celah dan terus menyerang bibir Wonwoo. Sementara Mingyu sendiri hanya seperkian detik saja mengisi paru-parunya dengan udara, kemudian kembali membawa celah bibir pada sisi wajah Wonwoo. Tak lupa kecupan-kecupan memabukan Mingyu berikan sepanjang pipi Wonwoo, rasanya Mingyu tahu apa yang jadi candu untuknya; tubuh seorang Jeon Wonwoo.

Pergerakan setiap kecupan itu baru terhenti ketika bibir Mingyu sampai didepan daun telinga Wonwoo, sengaja ia menghembuskan napas hangatnya disana. "Bukankah ini menyenangkan?" Bariton rendahnya kembali menggoda, membuat Wonwoo kembali memejamkan matanya. Mingyu berani bersumpah, ekspresi Wonwoo yang begitu pasrah dalam dekapannya adalah hal yang paling ia sukai setelah basket.

Tak berhenti sampai disitu, bibir Mingyu kini mulai mengecup daun telinganya. Sesekali lidahnya terjulur menggelitik titik yang ternyata cukup sensitif untuk Wonwoo. "Hentikan –anghh.." Wonwoo ingin menolak, tapi pusat syarafnya sepertinya sudah lumpuh akibat sentuhan memabukan milik Mingyu. Belum lagi tangan Mingyu yang kini bergerak diantara selangkangan, meremas ereksi Wonwoo dengan gemas. "Ahh!"

Persetan dengan toilet sekolah, kenikmatan ini tak bisa ditahan lagi. Toh, gerombolan siswa yang tadi berkumpul didalam toilet sudah kembali ke kelas. Sekarang hanya menyisakan Mingyu dan Wonwoo berdua saja disana –mengingat sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.

"Min –nggh.. Mingyu!"

Desahan Wonwoo makin menggila kala Mingyu dengan berani mulai mengurut kejantanan Wonwoo yang masih terbungkus seragam sekolah, belum lagi bibir yang kini sudah berpindah ke leher Wonwoo. Mingyu sibuk menghisap perpotongan leher Wonwoo, membuat tanda kemerahan yang begitu kontras dengan kulit Wonwoo yang terkesan pucat itu.

Dapat Mingyu rasakan tubuh Wonwoo yang mulai melemas, dengan gerakan tangan; ia menuntun lengan Wonwoo untuk mengalung dilehernya agar tubuh pria pucat itu tak merosot ke lantai. Sebelah lengan sukses terkalung di leher Mingyu, bahkan jemari Wonwoo meremas rambut Mingyu tanpa sadar. Mingyu hendak menuntun kembali lengan Wonwoo yang lain, namun terlambat; lengan Wonwoo malah menggenggam kenop pintu dan –sekali lagi, tanpa sadar meremas kenop pintu hingga membuat pembatas antar ruang itu terbuka.

BUGH!

"UWAA!" / "A –AAH!"

Pintu yang jadi sandaran mereka berdua terbuka tanpa prediksi apapun, membuat Mingyu dan Wonwoo sukses jatuh ke lantai; dengan posisi Mingyu menindih Wonwoo yang berada dibawahnya. Jangan lupakan Mingyu yang belum memakai celananya, juga seragam Wonwoo yang terlihat begitu kusut. Keadaan mereka benar-benar kacau. Benar-benar mirip seperti sepasang kekasih yang menggunakan toilet sekolah untuk bercumbu.

"Kau tidak apa apa Won–" Perkataan Mingyu terhenti, lidahnya serasa kelu ketika mendapati Wonwoo dengan mata yang memerah. Seperti orang yang tengah menahan tangis. Dan mata yang memerah itu tengah menatapnya juga.

Untuk seperkian detik tatapan Mingyu terkunci oleh sepasang manik kecoklatan itu, Wonwoo membawa Mingyu pada tatapan yang sulit diartikan. Pada sebuah tatapan tanpa kata yang membuat rasa bersalah menyesaki dada Mingyu.

'Apa yang sudah aku lakukan?'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu setelah tragedi yang terjadi di toilet sekolah –ya, Mingyu dengan mantap mengatakan kalau kejadian di toilet sekolah tempo hari adalah sebuah tragedi. Kau menyentuh seseorang tanpa izin, apalagi orang itu adalah orang yang kau sukai selama hampir dua tahun. Setelah itu malah meninggalkan orang itu begitu saja —setelah puas menyentuh setiap inci tubuhnya. Apalagi namanya itu selain dari sebuah tragedi? Sial. Mingyu merasa dirinya tak jauh berbeda dengan bajingan kelebihan hormon yang hobi memperkosa orang demi bisa melepaskan hasratnya.

Dan double sial. Ia tak berani menjelaskan pada Wonwoo setelahnya. Jangankan untuk menjelaskan, sekedar bertemu saja Mingyu sudah menghindar. Padahal pertemuan mereka tak bisa dihindari mengingat dirinya yang berada satu sekolah dengan Wonwoo.

Mingyu sungguh seorang bajingan kelebihan hormon yang mementingkan gengsi. Pengecut yang tidak berguna.

Akhir-akhir ini Mingyu sering menghabiskan waktu istirahatnya menyendiri di tempat persembunyiannya –gudang belakang sekolah. Sebenarnya daripada disebut menghabiskan waktu istirahat, kegiatan Mingyu lebih cocok disebut 'mengasingkan diri'.

Ya, mengasingkan diri dari Jeon Wonwoo.

Sungguh, Mingyu tak kuasa; hanya melihat bayangan Wonwoo saja sudah membuat Mingyu bisa mengingat semua kesalahannya di toilet tempo hari. Kesalahan yang selalu berhasil membuat Mingyu ereksi ditempat. Ini tak bercanda, Mingyu sangat serius soal ini. Pernah, satu hari, saat Mingyu sedang menghabiskan makan siangnya di kantin. Tak sengaja dirinya menemukan Wonwoo diantara antrian pembeli, pandangan mereka bahkan sempat terkunci untuk beberapa detik. T api Mingyu langsung memutuskan kontak dan berlari pergi, bukan tanpa alasan ia bersikap seperti itu; hanya saja benda diantara selangkangan selalu berdiri tanpa seizinnya jika menatap Wonwoo –dan secara otomatis membawa ingatannya pada kejadian tempo hari di toilet sekolah.

DDRRTTTT.. DRRRTTT..

Mingyu kembali ingin mengumpat ketika kegiatan mengasingkan dirinya ini kembali diganggu oleh getaran ponsel yang berada dalam saku celana, dengan setengah tak rela –ia merubah posisi duduknya yang nyaman demi bisa merogoh ponsel dengan jemarinya.

Dan ketika benda pipih itu sudah berada dalam genggaman, netranya disuguhi pemberitahuan pesan masuk dilayarnya. Dari Junhui.

Alis Mingyu tertekuk, dahinya berkerut. Ekspresi khas jika seseorang tengah bingung dan setengah terkejut. Tak biasanya teman sebangkunya itu mengirimi pesan, padahal Junhui tahu jika Mingyu sudah menghabiskan waktu istirahat –ralat, jika Mingyu sudah mengasingkan diri di gudang belakang sekolah; itu berarti ia tak ingin diganggu.

Datang ke ruangan OSIS sekarang, kau ingat 'kan hari ini ada rapat mengenai tim KITA!? Dasar ketua pemalas!

"Sial!" Kali ini umpatan berhasil lolos dari celah bibir Mingyu, ia baru ingat kalau beberapa minggu lagi ada pekan olahraga. Dan harus melakukan rapat dengan anggota OSIS untuk anggaran biaya yang diperlukan. Ya, tim basketnya perlu seragam baru dan juga bola baru –argh, menjadi seorang ketua ternyata pilihan yang paling buruk yang pernah Mingyu ambil. Salahkan saja kemampuannya yang terlalu menonjol hingga pelatihnya menawarkan cuma-cuma posisi sebagai ketua.

Dan salahkan dirinya juga, Mingyu pikir jika menjabat sebagai ketua ia bisa kapan saja membolos latihan; karena tak ada yang berani menentang seorang ketua. Tapi nyatanya salah. Menjabat sebagai ketua sama saja dengan menyerahkan diri sebagai hamba sahaya di tim, kau harus siap kapan saja jika rapat memanggil.

Mingyu bangkit dari tempatnya, dengan tergesa meninggalkan gudang yang jadi tempat persembunyiannya selama jam istirahat. Tungkainya mulai merangkai langkah menuju ruang OSIS.

Cukup jauh sebenarnya tujuan Mingyu kali ini, mengingat ruang OSIS berada digedung utama yang berada didepan. Sedangkan ia sekarang berada digudang paling belakang sekolah, belum lagi Mingyu harus menaiki anak tangga untuk sampai ke lantai empat tempat ruangan OSIS berada.

Ia benar-benar jadi hamba sahaya hari ini.

"Oh? Mingyu!" Seorang gadis menyapa Mingyu kala dirinya baru sampai di gedung utama sekolah, tepat saat dirinya hendak naik tangga –sementara si gadis sendiri menuruni anak tangga. Sungguh pertemuan yang dramatis, andai saja ini film romantis pasti ada sebuah lagu dengan melodi kasmaran yang mengiri.

Sayangnya, Mingyu sama sekali tak memiliki ketertarikan seperti itu –terlebih pada seorang gadis. Bagaimana ia bisa memiliki ketertarikan pada orang lain jika pikiran tentang mencumbu, ah ralat, memperkosa orang yang kau sukai selama dua tahun ini terus menghantui?

Sial, pikiran tentang Wonwoo memang berhasil mengacaukan sistem syaraf Mingyu; hingga ia tak bisa berhenti memikirkan si pria pucat walaupun hanya sedetik.

"Eunha." Sahutan dari Mingyu diiringi dengan sebuah senyum simpul, terkesan hanya untuk basa-basi sebenarnya. "Apa rapatnya sudah selesai?" Lanjut Mingyu bertanya, mengingat dirinya yang baru datang sementara gadis bernama Eunha itu sepertinya hendak pergi.

"Belum, ketua masih menunggumu. Kau lama sekali, sih." Katanya sambil memasang ekspresi pura-pura kesal, kemudian terkekeh sendiri.

Mingyu menghela napasnya, sudah terbiasa dengan protesan seperti itu. Mengingat dirinya yang terlalu malas menghadiri rapat yang membosankan. Ayolah, ia hanya seorang remaja yang suka main basket. Bukan seorang pegawai perusahaan swasta yang harus menghadiri rapat demi bisa mendapatkan anggaran tambahan. "Maaf, tadi aku ada urusan."

"Aku dan yang lain juga ada urusan, kami harus melakukan riset untuk pekan olahraga nanti." Eunha kemudian melangkah pergi, yang ternyata diikuti beberapa gadis dibelakangnya. Mereka juga anggota OSIS. Mingyu heran, kenapa kebanyakan anggota OSIS adalah para gadis? Sebenarnya mereka OSIS atau team cheerleaders?

'Dan, riset? Sebenarnya mereka OSIS atau peneliti, melakukan riset segala.' Suara imajiner dalam kepala Mingyu mencibir, sementara tungkainya terus merangkai langkah hingga dirinya sampai didepan sebuah ruangan dengan papan yang tertulis 'RUANGAN OSIS. DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK BERKEPENTINGAN.' di pintunya.

Sepanjang yang Mingyu tahu, itu adalah peringatan paling konyol yang pernah ia baca. Memangnya siapa yang hendak masuk seenaknya keruangan OSIS? Maksudnya, ruangan ini terletak dilantai empat dan berada diujung lorong. Belum lagi harus melewati beberapa laboratorium yang jarang dipakai, sebenarnya hanya tingkatan akhir saja yang menggunakan laboratorium –selebihnya dibiarkan begitu saja dengan alasan tak ingin merusak fasilitas sekolah. Dengan kata lain, lantai empat ini bukan tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu. Kecuali kau maniak patung anatomi, atau anggota OSIS yang rela menaiki berpuluh-puluh anak tangga untuk sekedar membolos disini.

Jemari Mingyu kini membentuk kepalan, bersiap untuk mengetuk pintu. Namun belum sempat kepalan tangannya menyentuh pintu, pembatas ruangan itu sudah bergerak. Membuat dirinya beringsut mundur dengan refleks, saking terkejutnya.

"EUNHA, AKU SUDAH BILANG JANGAN PULANG DULU. KAU HARU MENGHADIRI RAPAT –eh?"

Bariton yang meneriaki Mingyu sontak terhenti, sepertinya orang didepannya ini sudah salah mengira dirinya sebagai Eunha.

"Ka –kau sudah datang, Mingyu-ssi?"

"Ya. Tadi aku bertemu dengan Eunha di–"

"A –ah! Sepertinya dia sudah pergi, ya." Kekehan dari seseorang dihadapan Mingyu terdengar gugup, lengannya terlihat mengusap tengkuknya –dan Mingyu sudah hapal dengan kebiasaan seseorang dihapannya ini. Jika terus mengusap tengkuknya maka ia sedang gugup. "Silahkan masuk."

Dan kalau boleh jujur, keadaan Mingyu juga tak lebih baik dari seseorang yang ada dihadapannya. Wajahnya mungkin terlihat biasa saja –malah terkesan datar, namun siapa sangka jantungnya serasa akan meledak?

Organ yang tengah bekerja memompa darah itu sepertinya mengalami disfungsi setelah netranya mengenali siapa pemilik bariton yang sempat salah meneriakinya tadi, dan pusat sistem syaraf Mingyu sepertinya mendadak lumpuh kala harus berhadapan langsung dengan orang ini.

Nyatanya, sudah hampir seminggu ini Mingyu mati-matian menghidari orang ini. Ia bahkan rela menahan laparnya agar tidak pergi ke kantin, dan memilih untuk mengasingkan diri di gudang sekolah –demi agar tidak bertemu si pemilik bariton ini. Tapi kenyataan malah membuat Mingyu bertemu dan sekarang harus melakukan rapat dengan orang ini.

"Belum, ketua masih menunggumu. Kau lama sekali, sih."

Sekilas, bayangan Eunha yang pura-pura kesal beberapa saat lalu muncul dalam angan. Bukan ekpresi kesal yang dibuat-buatnya itu yang membuat Mingyu terpesona. Sama sekali bukan, walaupun harus Mingyu akui kalau Eunha memang menggemaskan jika sedang memasang ekpresi pura-pura kesal seperti itu.

Melainkan perkataan Eunha yang membuat Mingyu mengutuk keberadaannya didepan ruangan lantai empat ini. Eunha adalah seorang anggota OSIS. Dan yang dimaksud 'ketua masih menunggumu' adalah ketua OSIS, dan jika kau membicarakan ketua OSIS itu berarti–

"Terimakasih, Wonwoo."

–itu berarti Mingyu harus melakukan rapat dengan Wonwoo.

Sial. Mingyu rasanya ingin lenyap saja sekarang.

Persetan dengan keinginan lenyap, tubuhnya malah menghianati; dengan tak tahu diri malah melangkah masuk ruangan OSIS. Otak Wonwoo serasa benar-benar lumpuh, ia tak habis pikir jika disfungsi syaraf nya akan separah ini –tubuhnya benar-benar menghianati Mingyu. Ia tak habis pikir jika malah harus berada dalam satu ruangan dengan Wonwoo.

Netra Mingyu mengedar, kemana pun asal bukan kearah Wonwoo yang tengah duduk dihadapannya. Wonwoo sibuk memeriksa beberapa berkas dengan judul 'Tim Basket' didepannya, sementara Mingyu sendiri sibuk –ya, sibuk duduk diam meredam keresahannya.

"Yang lain kemana?" Suara Mingyu memecah keheningan yang entah sudah berapa lama menyelimuti mereka, menyadari tak ada siapa pun selain mereka berdua diruangan membuatnya serasa déjà vu pada kejadian tempo hari di toilet –oke, Kim Mingyu kau harus berhenti untuk memikirkan kejadian itu jika tak mau ereksi didepan Wonwoo.

'Tapi Wonwoo sudah melihat kau yang setengah telanjang.' Suara imajiner dalam kepala ikut memprovokasi, membuat Mingyu benar-benar gila.

"Yang lain sedang melakukan riset." Jawaban dari Wonwoo membuat Mingyu mengangguk, kembali teringat tentang Eunha yang katanya ada urusan tentang riset tadi. "Jadi, hari ini kau akan rapat denganku saja."

"HAH!? KAU GILA?" Tentu saja perkataan itu tak keluar dari celah bibir Mingyu, ia hanya bungkam sambil menggigit bibir bawahnya. Menahan umpatan yang hendak keluar, dan juga menahan hasrat karena kejantanannya mulai –ereksi.

Sial.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue?

Haloha!~ leokims disini '-'

Ternyata bikin cerita dengan adegan anuan lebih sulit dari yang saya bayangkan, kkk~ Oh ya, ada yang nanya soal Wonwoo –apa dia gak marah? Dan apa sebenarnya dia suka sama Mingyu? Jawaban saya adalah; akan terjawab di chapter selanjutnya! Hehe..

Untuk chapter kali ini, saya sengaja nyeritain dari sisi Mingyu. Dan –sedikit bocoran untuk next chapter, saya akan nyeritain dari sisi Wonwoo. Jadi, bagi yang penasaran gimana perasaan Wonwoo ke Mingyu; silahkan tunggu chapter selanjutnya('-')v Dan saya sendiri gak bisa janji untuk update kilat, tapi saya usahakan untuk bisa update minggu depan. Jadi, mohon ditunggu, ya

Terimakasih juga bagi yang sudah menyempatkan diri untuk baca, dan banyak banyak terimakasih untuk yang sudah mengisi kolom review. Kyunie, keihatsuu, noonim, minggumong, meanieons, nonusan, Linkz account, Dandelion1004, bananona, redhoeby93, mochikyung, Kiyowonwoo, FNH722 –sekali lagi terimakasih banyak!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~