"Hinata"
"..."
"Bangun Hinata, sudah siang"
Pagi ini aku bangun kesiangan. Hanabi sudah berangkat. Yang aku tahu adalah Gaara sudah berada di kamarku. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku. Sejak kapan pula aku sudah berada di kamarku? Padahal semalam aku tidur di kamar Hanabi. Masuk akal sih karena aku ini seorang sleep walker.
"Kau sarapan dulu saja"
"Tidak mau, aku mau berangkat sekarang"
"Makanlah dulu"
"Jam segini bisnya sudah sesak"
"Hey, kau akan berangkat denganku hari ini"
"Hm"
Tentu saja tak ada percakapan. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku hanya bisa menolehkan kepalaku ke arah yang berlawanan dari tempat Gaara duduk. Keadaan canggung ini kapan akan berakhir? Kini kami sudah memasuki gerbang SMA Konoha. Kami berjalan menuju kelas kami.
"Hinata"
"Hm?"
"Kemarikan tanganmu"
"Ini"
"Yang kiri"
"Masih keras, kau masih bermain gitar?"
"Iya" ucapku sambil menarik tanganku darinya
"Oh"
Penilaian ujian praktek seni musik sedang berlangsung, tak terasa aku sudah kelas dua. Satu tahun ini aku berada di kelas yang sama dengan Gaara, baru ini kami saling berbincang lagi sejak kami saling menjauhi dulu. Dekat dengan Gaara itu hal yang sangat aku inginkan. Tapi, saat aku sudah merasa nyaman, kejadian di SMP itu kembali terjadi. Banyak dari teman sekelasku yang menggosipkan diriku dengan Gaara, bahkan satu SMA ini.
"Hinata, benarkah?" tanya Ino
"Tidak, kami hanya berteman"
"Tapi, mereka mengiramu dan Gaara sudah berpacaran" ucap Sakura
"Tidak, bukan begitu. Seperti yang kalian ketahui Gaara itu tetanggaku. Wajar kalau kami akrab"
"Tidak, aku baru tahu akhir-akhir ini kalau kau akrab dengannya. Jangan-jangan benar ya? Kalian sudah berpacaran?" Goda Ino
"Hinata, mukamu merah" Goda Sakura
"Kalian, hentikan. Aku dan Gaara sudah berteman sejak kecil. Jadi wajar kan?"
"Wajar? Pegangan tangan di parkiran kemarin itu wajar?" tanya Ino
"Tidak, dia hanya..."
"Apa?" tanya Sakura dengan cengar cengir
Tiba-tiba obrolan kami terhenti karena gebrakan pintu. Para senpai cewek itu mengerumuniku. Apalagi yang membuat mereka bertindak seperti ini? Apa lagi yang salah denganku? Ku lihat teman-teman sekelasku mulai berseliweran keluar kelas. Sepertinya mereka takut dengan kedatangan para senpai ini. Hanya Ino dan Sakura yang tetap setia menemaniku. Meskipun dapat ku lihat rasa takut dari kedua sahabatku ini.
"Kalian berdua, keluarlah!" ucap salah satu dari mereka
"Keluarlah, aku baik-baik saja" ucapku
"Hyuuga, kau tahu? Apa alasanku datang kemari?"
"..." aku hanya menggeleng kepala
"Hey, sopanlah sedikit. Jawab pertanyaanku! Kau tak punya mulut?"
"Apakah kau buta?"
"Kurang ajar"
"Hey kalian, berhentilah mengganggu Hyuuga itu" ucap Lee
Segerombolan senior cewek itu bubar meninggalkan kelasku. Lagi-lagi Lee menyelamatkanku disaat-saat seperti ini. Dia terlalu baik padaku. Mungkin saja ia memperlakukanku dengan baik agar aku mau menerimanya menjadi pacarku. Lee memegang kepalaku dan mengechek mukaku. Pandangan matanya berhenti di mataku sejenak.
"Jangan seperti ini senpai, nanti temanku bisa salah paham"
"Mereka tidak memukulmu atau sebagainya?"
"Tidak Senpai"
"Hinata, kau masih tak mau merubah pikiranmu?"
"Lee senpai, banyak gadis yang menunggumu."
Aku meninggalkan Lee yang terdiam di kelasku. Seperti biasa, aku menghabiskan waktuku di atap sekolah. Hari ini cuacanya berangin. Aku hampir kelilipan karenanya. Nyaman sekali berada di sini. Ku pandang langit yang berwarna biru bersih. Warna yang sangat jernih. Andai ada Gaara disini.
"Kau, juga sering kemari?"
"Gaara?"
"Kenapa mereka membullymu lagi?"
"Tak tahu"
"Mungkin, karena hubunganmu dengan Lee"
"Tidak, aku tidak ada apa-apa dengannya?"
"Honto?"
"Ya, aku sudah menyukai cowok lain"
Aku keceplosan. Kini Gaara berjalan mendekatiku. Aku hanya bisa menunduk. Aku tak berani menatap matanya. Ia membungkuk dan mencoba menangkap arah pandanganku. Hatiku jelas tak karuan. Jantungku berdetak lebih kencang karena Gaara berdiri terlalu dekat dariku. Kami berdiri saling berhadapan.
Tangan Gaara mulai terangkat. Aku hanya bisa terdiam. Aku hanya bisa menutup mataku rapat-rapat. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Kini, tangan Gaara sudah mendarat di rambutku. Aku rasa ia sedang mengelus rambutku. Aku membuka mataku dan menatapnya untuk mencari jawaban. Dia menatapku dengan senyum di mukanya.
Jadi, Gaara tersenyum setelah aku keceplosan. Apakah tak ada sedikitpun rasa cemburu pada diri Gaara? Benarkah bila Gaara tak mempunyai sedikit saja rasa khusus untukku? Aku sudah memutuskan untuk memendam perasaan ini. Aku menyampaikan perasaanku lewat doa. Jadi, hal seperti itu pasti akan aku rasakan. Aku belajar ikhlas dari ini. Maka dari itu, aku membalas senyumannya dengan senyuman terindahku.
Gaara mendekatkan tubuhnya kearahku. Aku hanya terdiam sejenak saat dia memelukku. Mungkin ini balasan yang setimpal untukku. Aku merelakan hatiku untuk memendam perasaan ini. Sedikit sakit, tapi pelukan ini bisa menyembuhkan sakit ini begitu saja. Aku membalas pelukan Gaara. Yang kini kami lakukan adalah saling mengeratkan pelukan kami. Terasa sangat nyaman. Dapat ku cium aroma tubuh Gaara yang sangat ku kenal. Hangat sekali. Aku merasakan pelukannya sangat hangat meskipun angin terus tertiup kearah kami.
"Hinata..."
"Nani?"
"Teruslah bersamaku"
"Hm"
"Berada di sisiku"
"Hm"
Sorenya, aku menemani Gaara berkunjung ke makam ibunya. Aku membantu Gaara membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar makan ibunya. Sebenarnya Gaara melarangku melakukannya, tapi aku tetap melakukannya. Sudah bersih, Gaara berdiri seraya memandangi makam ibunya. Aku merasa aneh. Biasanya saat berkunjung ke makam kita akan bermonolog. Tapi yang Gaara lakukan hanyalah berdiam diri.
"Gaara?"
"Hm?"
"Kau, tak menyapa ibumu"
"Kaa-san, semoga kau baik-baik saja disana"
"Hanya itu? Kau tak ingin menceritakan keluh kesahmu disini?"
"..."
"Aku akan berjalan-jalan sebentar"
"Kau disini saja"
"Tidak Gaara, ini privasimu"
Aku berjalan menjauhi Gaara. Sebenarnya tak ingin pergi. Tapi, aku tak mau Gaara terkekang karena keberadaanku. Setelah sudah cukup jauh darinya, aku duduk di atas rumput. Tak hanya itu, kini aku tiduran di atas rumput. Aku tak peduli nanti bajuku jadi kotor atau bagaimana. Yang aku pedulikan hanyalah langit sore yang sudah berwarna jingga.
Gaara belum menghampiriku. Aku masih saja menatap kearah langit itu. Aku menoleh kearah Gaara berdiri. Rupanya ia sedang berjalan kearahku. Aku hanya menantinya di tempat. Aku kembali merebahkan tubuhku lagi.
"191"
"Apa?"
"Jumlah awan yang aku hitung"
"Kau menghitung awan yang lewat?"
"Iya"
"Maaf, aku terlalu lama"
"Tidak apa-apa"
"Hinata, bolehkah aku bertanya?"
"Hm?"
"Siapa cowok yang kamu sukai?"
"Gaara, lihatlah langit ini. Apa yang kau lihat?"
"Langit yang tertutup awan"
"Itu clue jawabannya"
"Hinata, ayo bergegas" ucapnya sambil menjulurkan tangan
Aku sangat bersyukur karena Kami-sama masih memberikan kesempatan untukku berada di dekat Gaara. Aku sangat bersyukur karena Gaara mau menggandeng tanganku sepanjang jalan ini. Aku tak bisa berharap lebih dan aku memang tak mau mengharapkan Gaara untuk menjadi kekasihku. Aku tak mau merasakan sakit hati seperti saat dulu aku sedang menunggu kepulangan ibuku. Hanya nama ibuku yang pulang.
Aku membuka kaca mobil Gaara agar aku bisa mengamati tumbuhan liar yang tumbuh di pinggir jalan. Warnanya hijau, sangat indah. Aku meminta Gaara untuk memperlambat laju mobilnya. Aku terus menerus mengamati tumbuhan-tumbuhan itu.
Ku rasakan kaca mobil ini bergerak naik. Aku langsung terbangun. Aku tahu persis kalau tanganku sedari tadi menyangga kepalaku. Mungkin saja Gaara yang melakukannya. Aku menoleh kearahnya. Ia menghentikan mobil yang kami tumpangi di pinggir jalan. Aku tahu tempat ini. Rasanya sudah lama aku tak kesini.
"Jangan tidur seperti itu, bahaya!"
"Gaara, bolehkan aku turun sebentar?"
"Dengarkan aku..."
Aku langsung meninggalkan Gaara. Aku berlari keujung ini. Dari bukit ini, aku dapat melihat pemandangan yang sangat indah. Aku dapat melihat pemandangan kota dari bukit ini. Kini, tangan Gaara menggenggam tanganku. Rupanya ia menyusulku.
"Indah"
"Iya, sangat indah Gaara"
"Sudah lama sekali"
"Iya, dulu kita sering kemari"
"Hinata..."
"Nani?"
"Maukah.."
"Hm?"
"Kau berangkat dan pulang sekolah denganku?"
Aku sudah sempat berharap tadi. Sangat menyakitkan. Aku kira ia akan menembakku. Kata 'Maukah' itu yang biasanya digunakan oleh cowok-cowok yang menembakku. Tapi, tak apalah. Itu tawaran yang bagus. Dengan begitu, aku bisa sering bersama Gaara.
"Kau tak mau?"
"Aku belum menjawab"
"Ku mohon. Mereka takkan berani macam-macam denganmu bila kau dekat denganku"
Oh, jadi itu alasannya memintaku untuk selalu dekat dengannya. Bukan Cinta. Aku semakin sakit. Apa yang kau pikirkan Gaara? Ucapanmu selalu membuatku berharap. Tapi, tak apalah. Asal aku bisa sering bersama Gaara. Tapi, dari mana Gaara tahu kalau mereka selalu macam-macam denganku?
"Waktu itu, aku melihatmu sedang mendorong motormu yang bannya kempes"
"Kau mengetahuinya"
"Bagaimana?"
"Hm" jawabku seraya menunduk
"Hinata, A...u"
"Gaara, aku tak mendengarnya jelas karena suara angin yang menderu"
"Ayo, kita pulang"
Wajahnya tersenyum, sangat indah. Pipinya merona merah. Tato 'Ai' dijidatnya seakan mengungkapkan perasaannya padaku. Sudahlah Hinata, berhenti berharap. Aku mengeratkan peganganganku pada tangannya. Pupil matanya melebar saat aku menggenggam tangannya erat. Setelahnya ia tersenyum semakin indah. Gaara, tak sadarkah bila aku mencintaimu? Gadis yang sedang menggenggam tanganmu ini selalu menunggumu. Aku menolak cowok-cowok itu karena pintu hatiku seakan hanya terbuka untukmu. Gaara, aku mencintaimu. Andai aku bisa mengatakan kalimat itu pada Gaara.
Just by saying I love you
"Sudah lama aku tak mendengar kau menyanyikan lagi itu"
"Honto?"
"Lama sekali Hinata"
Setidaknya, aku sudah menyatakan perasaanku padanya lewat lagu yang ku nyanyikan tadi. Kau tak sadar Gaara? Tiga kata itu? Aku selalu menatapmu saat menyenandungkan tiga kata itu.
