We Fight Together, We Win Together
Hetalia x Monster Hunter crossover - (Hunter!Nordics x Hunter!reader)
Warning: Slight gore inside
Note: Chapter kedua dari yang sebelumnya
PREVIOUS SUMMARY:
"Makanannya terlihat enak"
"Eh, kawan-kawan, katanya Kushala Daora dan Fatalis bertarung ya?"
"Oh ya, besok aku, Mathias, dan _ akan berburu jamur di hutan pinus di bawah kaki gunung salju. Kalian mau ikut?"
Di tempat lain, di alam liar terbuka, seekor naga besar berwarna abu-abu terbang menyusuri dataran berbatu-batu di atas bukit-bukit
CHAPTER 2: AN UNEXPECTED INCIDENT
Besoknya, hari yang dinanti pun tiba. Kau, Tino, dan Mathias bersiap untuk pergi berburu jamur. Sedangkan Emil juga bersiap untuk pergi mengantarkan makanan dan pakaian ke desa seberang. Kau memakai armor Rathalos dan sudah siap dengan Sword and Shield milikmu, Mathias memakai armor Khezu dan sudah siap dengan Switch Axe nya, dan Tino pun memakai armor Anteka dan juga sudah siap dengan Light Bowgun nya. Untuk berjaga-jaga apabila ada monster berbahaya yang akan mengganggu acara berburu jamur kalian. Kau, Tino, dan Mathias sudah berada di halaman depan. Emil juga. Sedangkan Lukas dan Berwald berdiri di pintu untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Oke! Sudah siap semua?" Tanya Mathias semangat pada kau dan Tino. "Siap!" Jawabmu juga bersemangat. "Aku juga sudah siap!" Sahut Tino. "Kalau begitu, ayo kita pergi!" Kau, Tino, dan Mathias pun melangkahkan kaki meninggalkan rumah menuju kaki gunung. Emil pun juga pergi. Namun arahnya berbeda. "Semoga berhasil!" Kata Lukas. "Kembalilah dengan selamat." Tambah Berwald. "Pasti!" Kata Tino. "Emil! Hati-hati ya!" Teriakmu padanya. "Ya!" Balasnya sambil pergi menemui 3 rekannya sebelum menuju desa seberang.
Selama perjalanan, banyak orang yang menyapa dan memberi dukungan pada kalian. Karena kalian bertiga beserta Emil, Lukas, dan Berwald adalah kelompok pemburu yang cukup handal. Kau, Tino, dan Berwald merupakan lulusan dari Sekolah Pelatihan dengan skill yang amat baik. Dan menjadi hunter tingkat tinggi. Begitu juga dengan Mathias, Lukas, dan Emil. Karena itulah kalian mulai dikenal oleh penduduk desa.
Namun ada juga orang yang tidak menyukai kalian. Kau sangat mengetahui siapa mereka. Mereka adalah anak-anak perempuan yang sebaya denganmu dan juga merupakan lulusan dari sekolah kalian. Mereka adalah Lyna, Nayda, dan Asha. Sewaktu kau beserta 5 kawanmu yang lain itu menuntut ilmu di Sekolah Pelatihan, mereka bertiga sering membicarakanmu dan 5 sekawanmu. Mereka iri pada kalian dan selalu menghina kalian. Namun kau tidak peduli meski kau sedikit sakit hati mendengarnya.
Waktu kalian bertiga berjalan di dekat toko senjata, kau melihat sekilas 3 orang perempuan itu melihatmu sambil membicarakanmu. Yah, mereka sedang bergosip. Kau sudah tahu itu. Namun kau tetap melanjutkan perjalanan seolah-olah mereka tidak ada. Kau sudah kebal terhadap omongan mereka terhadapmu. Dan kau selalu mengabaikannya. Lagipula sekarang kau dan 2 kawan baikmu akan pergi berburu jamur. Suatu kegiatan yang mengasyikkan. Jadi kau berusaha untuk fokus pada kegiatan tersebut.
Kalian melangkah semakin jauh menyusuri jalan menuju kaki gunung. Posisi kalian sudah berada di pintu keluar desa. Jarak kesana masih agak jauh. Namun itu tidak mematahkan semangat kalian untuk pergi.
Setelah beberapa lama tidak ada obrolan diantara kalian, akhirnya Mathias mulai bicara. "Eh, kawan-kawan, setelah kita mengambil jamur, kita bakar yuk! Pasti enak!" "Wah, iya benar! Kita bakar-bakar jamur! Sudah lama sekali kita tidak bakar-bakar jamur lagi sejak 6 bulan yang lalu." Balas Tino gembira. "Iya ya! Lagipula, bahan makanan yang aku beli tadi juga cuma sedikit. Jadi lumayan buat tambahan makanan di rumah nanti!" Kamu menambahkan. "Ya! Aku jenius! Untung aku memikirkan hal ini sebelumnya! Kalau tidak, mungkin jamurnya sudah kita jual dan tidak ada makanan lain selain yang ada di rumah!" Kata Mathias lagi. "Yeah! Itu bagus!" Balasmu bersemangat. "Kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo kita segera kesana!" Kata Tino. "Yeaaaah!" Jawab kau dan Mathias bebarengan. "Ayo kita petik jamur sebanyak-banyaknya!" Kata Mathias lagi.
Kalian pun mempercepat langkah menuju kaki gunung. Kalian begitu bersemangat. Di kejauhan nampak puncak gunung bersalju yang tinggi dan awan mendung yang menaunginya.
Sementara itu, di daerah puncak gunung, naga besar berwarna abu-abu tengah terbang menyusuri wilayah tersebut. Badai salju pun mengiringinya. Naga tersebut adalah Kushala Daora, naga yang kalah setelah melawan Fatalis, menurut kabar penduduk desa. Dia terbang sambil melihat sekeliling, siapa tahu ada mangsa yang kurang beruntung sedang berkeliaran.
Di kejauhan, nampak seekor Popo yang sedang berjalan-jalan. Daora nampaknya telah menemukan mangsa yang tepat untuk memulihkan tenaganya setelah pertarungan habis-habisan melawan Fatalis. Dia pun terbang rendah untuk menyergap Popo tersebut.
Popo yang sedang berjalan-jalan tersebut tidak mengetahui ada bahaya yang mengancam nyawanya. Popo itu hanya mendengar badai salju yang menderu kencang. Namun begitu Daora semakin dekat, Popo itu baru menyadarinya dari suara kepakan sayapnya dan raungannya. Popo itu mulai berlari menyelamatkan diri.
Namun sayangnya semua sudah terlambat ketika Daora berhasil menangkap tubuhnya dan mempersempit ruang geraknya. Daora membuka mulutnya, bersiap untuk menghabisi nyawa Popo itu. Dengan sekali sentakan, CRAT! Darah segar pun menyembur membasahi mulut dan tubuh Daora. Dia pun akhirnya menyantap mangsanya yang sudah tidak bernyawa itu. Daora memakan secuil demi secuil daging itu dengan lahap. Darah itu merembes hingga ke salju sehingga merubah warnanya dari putih menjadi merah. Tidak hanya daging, beberapa organ tubuh dari Popo tersebut juga dilahap oleh Daora.
Setelah tinggal tulang dan sisa-sisa daging disitu, Daora pun meraung dengan keras. Raungannya menggema diantara suara badai yang menderu. Daora seolah telah terisi kembali. Dia pun siap untuk bertarung lagi. Raungannya cukup panjang dan keras sehingga dapat terdengar hingga jarak beberapa kilometer, termasuk tempat kau, Tino, dan Mathias berada sekarang. Meski kurang jelas.
Kau berhenti sejenak mendengar raungan itu. "Hei, kau dengar?" Tanyamu pada Tino dan Mathias. Mereka diam sejenak, mencoba mendengar suara yang samar-samar yang berasal dari atas gunung salju tersebut. "Ya, suara raungan monster." Kata Mathias. "Dan asalnya dari puncak gunung itu." Tunjuk Tino ke gunung salju yang jaraknya tinggal beberapa kilometer lagi.
"Menurut kalian suara monster apa itu?" Tanyamu lagi penasaran. "Kalau aku dengar, itu seperti suara Kushala Daora." Kata Tino. "Hah? Kushala Daora?! Ti-tidak mungkin! Itu benar Kushala Daora?! Jangan menakut-nakuti kita dong!" Seru Mathias ketakutan. "Tidak aku tidak bohong! Aku pernah sekali mendengar raungannya, dan yang itu kira-kira mirip dengan Kushala Daora. Tapi entahlah. Semoga saja bukan dia." "Iiiihh...! Iya! Mungkin saja suara monster lain! Aku tidak mau dia menuju ke desa kita! Aku takut menghadapinya!" Kamu pun membalas dengan ketakutan juga. "Sudahlah kawan-kawan! Jangan mengacaukan suasana perjalanan kita ke hutan! Abaikan saja!" Kata Tino yang nampaknya mulai kesal. "Iya deh! Iya deh! Ayo jalan lagi! Hutan pinus sudah tinggal beberapa kilometer lagi di depan sana. Ayo cepat!" Kata Mathias. "Ya! Ayo!" Balasmu.
Kalian pun berjalan semakin dekat menuju hutan pinus. Awalnya kalian bersemangat untuk mencari jamur. Setelah mendengar raungan tadi kalian sempat was-was kalau itu ternyata Kushala Daora. Tapi memang benar itu Kushala Daora. Namun kalian berusaha mengabaikannya dan menganggap itu suara monster lain.
Beberapa menit kemudian, akhirnya deretan pohon-pohon pinus telah muncul di depan mata, pertanda kalian bertiga telah sampai di hutan pinus. Kau menjerit senang dan berlari kesana, sedangkan Mathias ikut berlari menyusulmu. Tino hanya berjalan santai.
"WAAAAAAAAHH! Hutan pinus! Kita sampaaaaaii! Yeeeeeeee!" Serumu gembira. "Hehehe... Ya! Jamur melimpah disini!" Kata Mathias. "Ada kolam ikan juga lho di sekitar sini. Cuma agak jauh. Kalau kalian mau memancing juga boleh kok!" Tambah Tino. "Benarkah? Asyiiiiik! Tapi... kita kan tidak bawa alat pancing." Katamu. "Buat saja alat pancing dari kayu, lalu tinggal pasang benang dan ikat umpan di ujung benang, jadi deh! Kebetulan aku bawa benang." "Hah? Niat juga kamu bawa benang segala!" Kata Mathias. "Hehehe.. ya tidak penting sih sebenarnya. Cuma kalau kalian memerlukannya aku sudah membawanya."
"Oke, daripada lama-lama menunggu, lebih baik kita langsung saja mencari jamur!" Katamu bersemangat. "Baik. Kita berpencar saja ya. Tapi jangan terlalu jauh nanti tersesat!" Kata Mathias mengingatkan. "Hati-hati juga kalau ada wyvern atau monster lain yang berbahaya!" "Ya!"
Mulailah acara berburu jamur. Kau pergi ke dalam hutan dan mulai memunguti jamur-jamur yang ada disana. Begitu juga Mathias yang memunguti jamur dekat jalan masuk ke hutan. Sedangkan Tino memungut jamur di dekat sungai. Namun kalian tidak asal mengambil jamur. Kalian cukup selektif sebab ada beberapa jenis jamur yang beracun. Untunglah kalian sudah dibekali ilmu yang cukup tentang jamur-jamur yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan sewaktu kalian belajar di Sekolah Pelatihan. Ilmu yang didapat tidak sia-sia. Kalian pun dapat memanfaatkannya untuk berburu dan bertahan hidup di alam liar.
Kau menjelajah area sambil mencari jamur lain yang bisa dimakan. Kau mencari hingga ke tempat yang agak jauh dari tempat Mathias dan Tino berada. Hampir menuju tanjakan berbatu yang menuju ke lereng gunung. Area itu mulai bersalju dibandingkan tempat kalian tiba tadi yang masih berumput. Angin badai yang berasal dari atas pun mulai menerpa. Langitnya pun menjadi agak gelap. Kau sudah jauh dari Mathias dan Tino. Mereka sendiri pun tidak sadar kalau kau sudah meninggalkan mereka.
Sementara itu, Kushala Daora berjalan menyusuri puncak gunung. Mengistirahatkan sayapnya yang kelelahan setelah menempuh jarak jauh dari tempat lain untuk melarikan diri dari Fatalis sekaligus mencari mangsa. Dia hampir keluar dari daerah puncak menuju lereng. Daora terus turun hingga dia melihat sosokmu dari kejauhan.
Kau tidak menyadari ada monster yang melihatmu. Kau masih asyik dengan kegiatanmu memungut jamur. Hingga akhirnya Daora meraung dan membuatmu terkejut. Saking terkejutnya, kau menjatuhkan keranjangmu yang sudah penuh dengan jamur. Jamurnya berserakan dimana-mana. Kau mulai panik.
"Ha-ap-apa itu?! Suara monster! Ja-jangan-jangan itu Kushala Daora... Wah, gawat!" Bisikmu ketakutan. "Dan jamurnya berserakan! Padahal aku sudah susah payah memungutnya! Ah, tidak! Bagaimana ini?!" Kau juga mulai panik menyusun jamur-jamurnya. Kau menoleh ke asal suara dan... Kushala Daora pun menampakkan dirinya dari balik angin gunung salju. Kau menganga seakan tidak percaya dengan apa yang kau lihat. Itu benar-benar Kushala Daora.
"AAAAAAAAHH! Wyvern! Kushala Daora!" Kau berteriak ketakutan. Kau pun berlari kembali ke tempat kalian bertiga semula untuk minta tolong. Daora pun ikut mengejarmu.
Namun sayangnya karena kau keasyikan memungut jamur tadi, kau tidak mengetahui arah untuk kembali. Kau tersesat. Dan itu menjadi masalah untukmu. Kau terjebak di lereng yang angin badai saljunya mulai bertambah kencang berhembus. Kau berhenti sejenak karena kedinginan. Tapi kau harus menyelamatkan diri. Kau berlari lagi dan mencari tempat untuk bersembunyi.
Kau tidak menemukan apapun. Hanya hamparan salju dan jarak pandanganmu terbatas karena badai salju, membuatmu hampir tak bisa melihat apapun. Kau meringis karena ketakutan, namun kau tetap berusaha menyelamatkan diri.
Daora semakin mendekat, dan kau berlari semakin cepat. Kau terus berlari meski tidak ada tempat bersembunyi. Hingga akhirnya kau melihat sebuah gua. 'Haaahh... Ada gua! Aku selamat! Sebaiknya aku sembunyi disana.' Pikirmu. Kau berlari menuju gua tersebut dan bersembunyi disana. Kau duduk di balik batu yang cukup besar, yang sekiramu dapat membuat naga angin itu tak dapat menemukanmu. Kau berusaha mengatur pernapasanmu agar tidak terdengar oleh Daora. Karena napasmu yang terengah-engah terdengar cukup jelas di dalam situ.
"Hahh.. capek sekali. Aku copot ah helm dan pelindung tanganku. Gerah sekali!" Ujarmu sambil melepas armor pelindung tanganmu. Lalu dilanjutkan melepas helmmu. Kau nampak berkeringat. Kau mengipas-ngipas dirimu dengan tanganmu karena kegerahan.
Setelah beberapa saat, Daora akhirnya ikut masuk ke dalam gua. Kau dapat mendengar suara langkah kakinya dengan sangat jelas. Juga suara napasnya yang berat. Kau sangat ketakutan. Tapi kau berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Matamu menyapu seluruh isi gua. Tidak ada jalan lain. Hanya ada batu-batu, stalaktit, stalagmit, dan kristal-kristal yang menempel pada lantai, dinding, dan atap gua. Kau kebingungan. Bagaimana jika naga itu menemukanmu? Kau berpikir sambil menunggu Mathias dan Tino. Berharap mereka menemukan dan menyelamatkanmu.
Sementara itu, Mathias baru menyadari kalau salah satu temannya menghilang. Dia terkejut, dan segera berlari menuju Tino. "Hei, _ menghilang!" "Apa katamu?! _ menghilang?!" Balas Tino tidak kalah terkejutnya. "Iya! Aku sudah mengingatkannya untuk tidak pergi jauh-jauh. Tapi dia sepertinya mengabaikannya!" "Bagaimana ini?!" "Kita cari dia sekarang!" Seru Mathias. Dia dan Tino bergegas mencari dirimu. Mereka berdua berlari menuju lereng gunung.
"Bagaimana ya keadaannya sekarang?" Tanya Tino cemas. "Aku tidak tahu. Semoga dia baik-baik saja!" Jawab Mathias. "Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya! Dia hanya membawa Sword and Shield. Dia tidak akan mampu melawan monster besar hanya dengan bersenjatakan itu!" Sahut Tino cemas. "Aku juga khawatir, Tino! Bagaimana kalau ada monster menyerang? Atau mungkin… Kushala Daora?" "Tidak! Jangan Kushala Daora! Kita harus cepat selamatkan dia!"
Sementara itu, di dalam gua, kau masih berharap Mathias dan Tino menemukanmu. Daora yang sedari tadi menyusuri setiap sudut gua akhirnya menuju ke batu tempat dimana kau berada. Kau hendak berdiri untuk melihat situasi, namun kristal tajam di sebelah kirimu menggores tanganmu dan mengeluarkan darah. Goresannya cukup panjang dan dalam, sehingga darahnya keluar banyak.
"Ahhhww...!" Kau berbisik kesakitan dan menutupi luka di tanganmu dengan tangan satunya. Aroma darah menyebar dan menusuk hidung Daora. Dia mengendus dan mendatangi asal bau tersebut. Kau mengambil kembali pelindung tangan dan helmmu lalu merangkak dan pergi keluar gua tanpa sepengetahuan Daora.
Begitu Daora melihat apa yang menyebarkan aroma tersebut, dia tidak menemukan apapun. Sementara kau terus berjalan mengendap-endap keluar gua, sambil tetap memegangi luka di tanganmu. Kau meringis kesakitan. Kau menyadari darahmu menetes sedikit demi sedikit. Jatuh ke salju. Kau melihat ke belakang, dan ternyata tetes darahmu meniggalkan jejak. Kau terkejut dan berjalan lebih cepat.
Kushala Daora mengikuti jejak darah yang kau tinggalkan. Hingga akhirnya dia menemukan sosokmu sedang berlari-lari kecil. Dia pun meraung lagi dan mengejarmu. Kau terkejut dan mulai mempercepat langkahmu.
Kau bersusah payah berlari menghindari kejaran Kushala Daora, sambil tetap berharap kedua temanmu datang menyelamatkanmu.
Namun karena kau sudah kelelahan, kau terjatuh dan tidak sanggup untuk berdiri. Kau menoleh ke belakang. Naga itu semakin dekat dan bersiap melompat untuk menerkammu. Kau menutup mata dan tidak sanggup untuk melihat sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
Tanpa diduga, sebutir peluru yang cukup besar melesat menuju ke arah Daora dan meledak sehingga Daora terpental. Kau terkejut dan membuka matamu. Kau menoleh ke arah darimana peluru itu berasal dan ternyata itu adalah... Tino! Dialah yang menembakkan peluru tersebut dari Light Bowgun miliknya. Ada Mathias di sampingnya yang memegang Switch Axe nya. Mereka datang menyelamatkanmu!
"_! Apa kau baik-baik saja?" Tanya Tino sambil berlari menuju ke arahmu. "Aku tidak apa-apa! Aku hanya terluka sedikit!" Jawabmu. "Bagus! Kalau begitu Tino yang akan mengevakuasimu! Aku akan bertarung dengan Daora!" Kata Mathias. "Ya! Aku akan membawamu ke tempat yang aman! Mathias akan mengusir monster itu pergi! Tenang saja!" Kata Tino lagi. "Mathias, kalau kau sudah selesai, susul kami di tempat kita tiba di hutan pinus tadi, ya?" Sambungnya pada Mathias. "Baiklah. Aku akan susul kalian kesana setelah aku selesai dengan naga ini!" Jawabnya sambil menuju ke arah Daora yang masih berusaha berdiri untuk menghabisinya. Sedangkan Tino membantumu berdiri dan membawamu ke tempat yang aman.
Mathias berlari menerjang Daora. Dia mengangkat kapak besarnya dan bersiap untuk menebas tubuhnya. Namun tanpa diduga Daora mengibaskan ekornya pada tubuh Mathias sehingga dia pun terpental cukup jauh. Kapaknya pun terlepas dari genggamannya dan menancap beberapa meter darinya.
Mathias mendarat di salju cukup keras. Dia berusaha bangkit. Dia melihat kapaknya berada sekitar 10 meter darinya, dia berlari dan mencabutnya, namun Daora melompat untuk menerkamnya.
Mathias menoleh ke arahnya dan segera menangkis. Terjadi hantaman yang cukup keras akibat Daora yang berusaha menerobos pertahanan Mathias. Mathias tetap berusaha menutupi dirinya dengan senjatanya.
Setelah beradu kekuatan dengan Daora, akhirnya Mathias terjatuh dan dijepit oleh kaki depan Daora. Dia hampir tidak bisa bergerak. Namun dia berusaha melepaskan diri. Daora membuka mulutnya. Bersiap untuk menggigit kepala Mathias. Mathias pun berguling ke samping dan segera berdiri.
Mathias mengambil posisi bertarung dengan Switch Axe nya. Daora pun bersiap untuk menerjang Mathias. Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai. Angin badai salju yang dari tadi berhembus kini semakin menggila, seolah alam menyaksikan pertarungan kedua makhluk tangguh ini.
Daora meraung pertanda pertarungan dimulai. Mathias bersiap dengan kapaknya. Daora maju duluan. Disusul Mathias. Tapi tanpa diduga, Daora mengangkat tubuhnya dan menghembuskan napas angin yang cukup kuat. "AAAAAAHH!" Mathias terkejut namun tak sempat menghindar karena laju anginnya yang cepat. Walhasil, Mahtias pun terpental untuk yang kedua kalinya.
Kali ini Mathias terkena damage akibat napas angin yang dibuat oleh Daora. Dadanya terasa sakit karena tekanan yang cukup kuat. Dari mulutnya pun mulai keluar darah. Namun karena ini baru permulaan, maka dia masih kuat untuk melanjutkan. Dia mengusap darah di mulutnya. Dia kembali berdiri dan memegang kapaknya dengan erat.
Kali ini dia mengganti taktiknya. Dia melemparkan Flash Bomb ke depan muka Daora. Mathias lalu segera berpaling sambil menutup mata. Bom tersebut meledak dan memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Sontak, Daora berhenti mendadak dan terkena efek bom tersebut. Matanya silau dan dia mulai panik. Daora pun kalang kabut dan berlari kesana kemari.
Begitu Daora mengalami kondisi demikian, Mathias segera maju menerjangnya. Dia lalu menekan tombol pada gagang kapaknya untuk menghidupkan aliran listrik yang terdapat pada mata kapaknya. Mathias menancapkan kapaknya pada tubuh Daora dan membiarkan aliran listrik tersebut mengalir ke tubuh Daora.
Daora meraung keras pertanda dia telah mendapat kejutan listrik yang cukup besar dari kapak Mathias. Karena efek listrik itu, tubuh Daora akhirnya mengalami kondisi kaku dan akhirnya tidak dapat bergerak. Dia rebah ke salju. Tubuhnya kejang-kejang.
Setelah merasa cukup mengalirkan listrik ke tubuh Daora, akhirnya Mathias mencabut kembali kapaknya dari Daora. Dia melihat sejenak naga yang sedang kejang tersebut. Dia melihat peluang besar untuk menghabisinya.
Mathias lalu memegang kapaknya dengan erat. Dia bersiap menerjang Daora lagi. Dia pun maju sambil mengangkat kapaknya dan berlari ke arah Daora. Begitu berada di depan tubuh Daora, Mathias memberikan beberapa tebasan kepada naga yang malang tersebut. Cipratan darah mulai membasahi tubuh Mathias dan juga membasahi salju di sekelilingnya. Tubuhnya dan tubuh Daora pun bermandikan darah.
Daora akhirnya mampu bergerak lagi. Dia berdiri lalu secara tiba-tiba dia mencakar Mathias hingga dia terjatuh. Mathias pun terkejut. Darah sekali lagi menciprat ke salju. Tanpa menunggu lawannya bangun, Daora segera berlari menyeruduk Mathias hingga dia terseret beberapa meter. Mathias tak mampu bergerak selama beberapa saat.
Daora lalu merentangkan sayapnya dan bergerak ke atas sebuah bukit batu yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat itu. Sedangkan Mathias berusaha bangun dan memegang kapaknya. Dia melihat sekeliling, Daora sudah tidak ada. Dia melihat ke atas dan dia menemukan Daora sedang berada di atas bukit batu. Dia bersiap menerjang Mathias dari atas. Mathias bersiap untuk menebas tubuh Daora apabila posisinya sudah tepat di depannya.
Daora merentangkan sayapnya. Mathias pun memegang kapaknya dengan erat. Matanya menatap tajam ke arah elder dragon tersebut. Daora melesat ke arah Mathias, dia lalu mengangkat kapaknya dan saat berada tepat di depannya, dia segera menebas tubuh Daora hingga dia kehilangan keseimbangan terbangnya sebelum akhirnya terjatuh.
Tubuh Daora sempat terguling-guling beberapa meter. Dia kesakitan. Dia tidak mampu bergerak. Hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Mathias berusaha menstabilkan kembali kondisinya. Dia terjatuh. Dia memegangi dadanya yang rasa sakitnya kembali kambuh. Dia juga batuk-batuk dan darah keluar dari mulutnya. Napasnya terengah-engah. Dia berusaha berdiri dengan bertumpu pada gagang kapaknya. Dia lalu berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut sambil memegangi dadanya. Sesekali dia mengerang kesakitan. Namun dia tetap berusaha berjalan.
Sementara itu, kau dan Tino telah tiba di pintu masuk ke hutan pinus sebelumnya. Tino segera menyandarkanmu di bawah sebuah pohon pinus dan mengambil obat-obatan dari dalam tas kecilnya. Dia mengambil sebotol Potion, obat tetes, dan gulungan perban.
Dia memberimu Potion. "Ini, minumlah agar healthmu kembali pulih seperti semula." Ujarnya. "Terima kasih. Aku sangat memerlukannya. Karena aku tidak membawanya." Jawabmu sebelum kau meminumnya sampai habis. Sedangkan Tino memberi beberapa tetes dari obat tadi. "Ini aku beri obat tetes. Mungkin agak sedikit sakit. Tapi ditahan saja ya." Ujarnya lagi. Begitu setetes obat tadi mengenai lukamu, kau meringis kesakitan. Tapi kau mencoba menahannya.
Setelah beberapa tetes dituangkan, Tino lalu membalut lukamu dengan perban. "Nah, selesai juga. Tunggu saja selama beberapa hari. Pasti lukanya akan mengering. Tapi harus sering ganti perban juga." Katanya sambil menaruh kembali peralatan tadi ke dalam tas kecilnya.
"Huhhh.. Terima kasih ya telah menyelamatkanku..." Ujarmu lemas. "Hmm.. tidak apa-apa. Lain kali jangan pergi jauh-jauh. Dan luka ini... apa kau digigit oleh Daora tadi?" "Tidak. Sebenarnya tadi aku memungut jamur terlalu jauh sampai ke lereng gunung. Lalu Daora muncul dan mengejarku. Saat aku lari dari kejaran Daora, aku menemukan sebuah gua. Aku sembunyi disitu. Saat aku akan berdiri untuk melihat situasi, kristal tajam di sebelah kiriku menggores tanganku seperti ini." Jawabmu panjang lebar sambil memegangi tanganmu yang terluka itu. "Ohh.. Syukurlah bukan karena digigit oleh Daora."
"Bagaimana keadaan Mathias ya? Aku cemas..." Ujarmu. "Ayo kita lihat. Semoga dia selamat." Balas Tino sambil membantumu berdiri. Kalian berdua menuju lereng gunung untuk melihat keadaan Mathias.
Begitu kalian baru sampai ke lereng, sesosok figur manusia muncul dibalik angin badai salju, tengah berjalan pelan ke arah kalian. Kalian berhenti sejenak, mengamati sosok itu, bersiap menyerang apabila dia orang jahat. Sosok itu makin mendekat, dan ternyata... itu Mathias.
Kalian menghela napas lega dan segera berlari mendekatinya. Tubuh Mathias penuh darah. Entah itu darahnya sendiri, atau mungkin darah Kushala Daora yang menciprat tubuhnya. Dia kelihatan lesu. "Mathiaaaaaas! Kau selamat!" Kalian berdua berteriak. Namun dia tidak merespon. Dia menjatuhkan senjatanya, dan kemudian dia pingsan.
"Mathiaaaas! Dia pingsan!" Serumu panik. Kalian berdua segera membawa tubuh Mathias keluar dari tempat tersebut. Badai salju masih menerjang.
Sementara itu, di area pertarungan antara Mathias dan Daora sebelumnya, Daora yang sebelumnya tak sadarkan diri akhirnya terbangun dan berdiri perlahan. Dia lalu terbang meninggalkan tempat tersebut.
Chapter 2 end! Kushala Daora akhirnya menuju ke gunung dekat desa kalian! Petualangan seru tetap berlanjut di chapter berikutnya! ^o^
Thanks 4 reading!
