Kalau saja dalam kehidupan orang bisa menentukan pilihan secara langsung, pasti Taeyong akan memilih kehidupan normal selayaknya manusia biasa. Punya keluarga yang hangat, bermain, berangkat sekolah, kuliah, bekerja, memiliki teman, menikah, menghabiskan masa tua.
Sebelumnya, tolong jangan salah paham.
Taeyong bukan hantu.
Dia juga bukan monster. Apalagi alien.
Dia hanya ... berbeda.
Tidak ada yang namanya manusia yang hanya bisa dilihat jika dipercayai oleh orang lain.
Tidak ada juga manusia yang kulitnya seputih butiran salju, tangannya setara dinginnya dengan balok es, pula sepasang netranya yang berwarna abu-abu cerah. Bahkan manusia dengan kelainan albino sekalipun masih kalah unik dengannya.
Dan jangan lupakan fakta bahwa ia bisa mengendalikan segala hal yang menyangkut elemen es.
Itulah dia.
Lee Taeyong.
Sang Jack Frost.
Yang masih berat hati menerima tiga takdir yang dibebankan padanya.
Menjadi Jack Frost.
Tak bisa dilihat orang awam.
Lalu yang terakhir.
Keabadian.
Taeyong tak tahu ingin menyalahkan siapa.
Takdir? Tuhan?
Ia bahkan tidak yakin bahwa Tuhan itu ada.
Jika pun ada seseorang yang bisa ia salahkan,
Siapa?
Ratusan tahun Taeyong menunggu jawaban. Menunggu dan tersiksa oleh rasa kesepian.
Sampai kapan?
x
x
x
Inspired by Rise of the Guardians
Ajeng Hyakuya present
x
x
x
The Guardians
Chapter 1
Once Upon A Time
x
x
Main Cast :
Lee Taeyong as Jack Frost
Moon Taeil as Santa Claus
Kim 'Doyoung' Dongyoung as Easter Bunny
Chittaphon 'Ten' Leechaiyapornkul as Fairy Tooth
Lee 'Mark' Minhyung as Sandman
Jung Jaehyun as Pitch Black
Seo 'Johnny' Youngho as Man in the Moon
Yuta Nakamoto as Momotaro(1)
Dong 'Winwin' Sicheng as Fenghuang(2)
Lee 'Haechan' Donghyuck, Huang Renjun, Lee Jeno, Zhong Chenle, Na Jaemin, Park Jisung as City Kids
Side Cast : SM members
Genre : Fantasy, Romance, Friendship, Supernatural, Action, Angst
Rating : T
Warning : Boys Love, Blood and Bold Violence, Typos, Disturbing Content, Implicit Sexual Scene, Bad Humor
Pairs : JaeYong, IlYoung, JohnTen, MarkHyuck, YuWin, ChenSung, NoRen
x
x
x
"Ayo, semuanya semangat!"
Segala jenis beruang, dari anak beruang kutub yang mungil menggemaskan hingga beruang hitam yang besar dan seram, di ruangan megah itu menyahut ucapan semangat dari sang atasan dengan lolongan khas mereka. Menambah keriuhan ruang pabrik milik Santa Claus.
Dari balkon atas, ia—Taeil, tersenyum lebar merasakan atmosfer natal yang sebentar lagi akan menghampiri bumi dalam beberapa minggu. Sebagai Santa Claus, hari natal sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Hari di mana ia mendedikasikan seluruh keringat dan kerja kerasnya.
Otaknya memutar kembali sejauh mana perkembangan yang mereka—dirinya dan bawahannnya, capai hingga bulan ke-11 dalam kalender matahari.
Daftar anak-anak penerima hadiah sudah terseleksi baik atau nakalnya. Produksi kardus-kardus hadiah yang mulanya stabil dalam jumlah rendah, kini diintensifkan dengan kuantitas yang lebih besar menjelang hari H. Para rusa sudah beberapa kali melakukan pemanasan dengan keliling Norwegia hingga Spanyol.
Di tengah acara ingat-mengingatnya, hawa dingin familiar menyapa tengkuknya. Taeil pun membalikkan tubuhnya. "Akhirnya kau datang juga," Kalimatnya terhenti sejenak.
"Tuan leader,"
"Aku bukan leader The Guardians, Taeil," elak sang tamu—Taeyong si Jack Frost. "Seharusnya kau yang menjadi leader sebagai yang tertua,"
Taeil tersenyum simpul. "Aku lebih senang menjadi anggota saja,"
Taeyong pun bergumam 'hm' sambil memutar sepasang bola matanya malas. Sedang senyum tipis sang Santa Claus melebar menjadi cengiran ngeles.
"Yang lainnya di mana?"
Garis bibir Taeil mengendur seperti sedia kala. "Oh, kalau Doyoung sudah ke sini duluan tadi. Tapi dia pergi lagi untuk menjemput Ten. Terus, Mark on the way," jelasnya singkat.
Mereka berdua lalu mengalihkan pandangan pada para beruang di bawah yang masih sibuk sedari tadi.
"Sebentar lagi natal, ya?"
"Iya,"
"Pantas kau semangat sekali,"
Senyum Taeil kembali melebar. Nampaknya lebih lebar dari cengirannya barusan. "Uhum,"
Tapi Taeyong tahu. Natal hanya hal kedua yang membuat seorang Moon Taeil begitu bersemangat dan bahagia.
Lalu apa hal yang nomor satu?
Tentu saja bertemu dengan kelinci paskah manisnya.
Diam-diam lelaki bersurai putih itu ikut tersenyum sendiri.
Jangan salah. Begini-begini, meski dikata orang (yang bisa melihatnya) ia nampak dingin, tapi ia sangat peka dengan ekspresi wajah seseorang.
Apalagi wajah orang-orang yang sedang kasmaran.
...
"Jangan makan itu terus, Chittapon Leechaiyapornkul,"
"Nyam, nyam,"
"Tooth Fairy, kok, malah makan yang manis-manis,"
"Nyam, nyam,"
"Kalau kau sakit gigi bagaimana?"
"Nyam, nyam,"
"Mana ada dalam sejarah perdongengan Tooth Fairy bisa sakit gigi,"
"Nyam, nyam,"
"Kau itu harusnya memberi contoh yang baik pada anak buahmu, Ten. Astaga,"
"Iya, iya," balas Ten yang akhirnya buka suara, dengan intonasi setengah tinggi. Sewot mendengar cerocosan coret-kelinci raksasa-coret Kim Doyoung yang kambuh sisi cerewetnya.
Lelaki berpakaian serba hijau layaknya Peter Pan itu pun menaruh makanan ringannya di dalam lemari pribadinya. Ia pun bangkit dari kursi malasnya dan menghampiri rekannya yang sudah berdiri sejak beberapa menit yang lalu.
"Ayo, ada pertemuan. Kalau telat, kita yang repot nanti,"
"Hmmm,"
"Eits! Kita lewat jalur bawah," cegah Doyoung begitu Ten sudah mengambang di udara dengan sayap tipisnya yang mulai mengepak.
"Hah?! Nggak mau, ah! Aku terbang saja," tolak Ten mentah-mentah.
"Ish, sudah. Nurut aja,"
"Nggak mau, Doyoung,"
"Biar cepet,"
"Nggak mau,"
Pada akhirnya sang Fairy Tooth pun pasrah ditarik temannya masuk ke dalam terowongan tanah ajaib buatan sang Easter Bunny yang pengap dan gelap.
Juga yang dibenci Ten tentunya.
...
"Dan mereka hidup bahagia selamanya,"
"Apa saat aku besar nanti aku bisa menjadi seorang putri?"
"Oh, tentu. Kau harus giat belajar dan tidak bermalas-malasan. Pangeran hanya datang pada perempuan yang rajin dan baik hati,"
"Tapi yang terpenting, kau harus punya hati yang baik,"
"Oke,"
"Selamat malam, sayang,"
"Malam, bu,"
Begitu wanita yang dipanggil ibu menutup pintu, jendela kamar terbuka perlahan tanpa suara.
Setelah memastikan si ibu tidak kembali dan si anak benar-benar tertidur, coret-pencuri-coret Mark mengendap-endap lewat benda persegi itu. Ia pun mengarahkan pasir emasnya yang berkilau menuju anak pemilik kamar itu yang mulai memasuki alam mimpi.
"Spesial mimpi Cinderella seperti dongeng dari ibumu. Selamat mimpi indah, ya,"
Sang Sandman pun menutup kembali pintu jendela. Ia lalu terbang pergi dengan pasir yang membentuk papan selancar. Berselancar mengarungi ombak buatannya menuju satu destinasi.
Tempat Santa Claus.
...
Suasana tempat pertemuan berubah hening setelah semua peserta duduk manis di jajaran kursi yang telah disediakan.
"Kalian semua pasti tahu, kan, alasan diadakannya pertemuan ini?" tanya Taeyong retoris, mengawali pertemuan para Guardians. Ia menoleh ke tuan rumah yang ikut berdiri di sampingnya.
"Taeil,"
Yang dipanggil mengangguk paham. Pria berbalut pakaian dominan merah itu lantas menunjuk beberapa titik yang menghitam pada bola dunia yang dipajang di ruangan utama. Wajah yang biasanya memancarkan kelembutan itu berubah menjadi serius. "Ada aktivitas fearling yang tidak biasa, terutama di Amerika Serikat, China, Kanada, dan Jepang,"
"Dan anehnya. Semua fearling itu berpusat di sini," telunjuknya mengarah pada sebuah semenanjung di timur Benua Asia.
"Korea Selatan,"
"Lebih tepatnya di ibukotanya, Seoul," tambah Taeyong. "Sejauh ini kita belum tahu apa penyebab meningkatnya intensitas fearling-fearling itu,"
"Apa mungkin 'dia'?" terka Doyoung dengan raut skeptis.
Semuanya lantas terperanjat. Meski tak disebutkan namanya secara langsung, kelimanya tahu siapa yang tengah dimaksud.
Makhluk yang begitu licik, kejam, jahat.
Yang bahkan namanya tabu untuk disebut.
Mark pun mulai panik. "Jangan-jangan beneran 'dia'. Gimana kalo pas aku lagi nyebar pasir terus 'dia' muncul, terus anaknya dikasih mimpi buruk, terus anaknya tidurnya nggak nyenyak, terus—"
"Mark. Kalem, Mark. Kalem," tenang Ten seraya menepuk-nepuk pundak yang paling muda. Dalam hati sebenarnya ingin teriak; "jangan berlebihan reaksinya kali, Mark".
"Iya, sorry,"
"Fearling memang selalu berkaitan dengan 'dia', kan?" tanya si Easter Bunny sekali lagi dalam komposisi kalimat yang berbeda, meyakinkan rekan-rekannya mengenai opininya yang tetap sama.
"Tapi Man in the Moon sendiri yang bilang kalau 'dia' masih sangat lemah sejak pertempuran terakhir waktu Golden Age. Dan 'dia' masih tersegel jauh di tempat terdalam Bumi. Segelnya sangat kuat dan butuh jutaan tahun untuk melemah" sanggah Ten panjang lebar.
"Ya kita harus tetap waspada, kan?" celetuk Taeil, mengakhiri debat sebelum memanas.
Mereka semua pun mengangguk setuju.
"Biar aku yang patroli di sekitar Seoul. Kalian fokus saja pada pekerjaan kalian," ujar Taeyong.
Sontak empat pasang mata tertuju padanya. Rata-rata dipenuhi kekagetan dan sedikit keengganan akibat pernyataan mengejutkan dari pemimpin mereka.
"Oke," / "Baiklah,"
"Kalau tidak ada yang bertanya, pertemuan sampai di sini dulu. Aku akan langsung ke Seoul," pungkas pria es itu sekaligus mengakhiri pertemuan mereka yang singkat.
"Kalau ada sesuatu, tolong jangan lupa beritahu kami," pinta Doyoung. Wajahnya menampakkan sedikit guratan cemas.
Mark melambai kecil. "Hati-hati,"
Taeyong mengangguk disertai senyuman tipis.
Si Jack Frost pun berbalik dan melesat pergi ke langit luar. Meninggalkan berkas kepingan salju heksagonal yang jatuh dengan apik ke lantai kayu.
"Taeyong selalu saja menanggung beban sendiri," desah Ten maklum.
"Iya,"
Doyoung pun berdiri dari kursinya. "Leader kita ada yang nemenin, gih," usulnya cemas. Ia pun menoleh ke Taeil yang kontan salah tingkah.
"Jangan aku. Kalian tahu, kan, aku sibuk untuk persiapan natal," elak sang Santa Claus.
"Ten, tuh, nggak ada kerjaan. Maaakan terus tiap hari," dumel sang Easter Bunny.
"Aku ngurusin peri-periku, tahu! Kalau nggak ada yang ngasih komando, kacau dong," sergah Ten tak terima dengan tuduhan si kelinci—meski sebenarnya benar, sih. Tapi itu, kan, namanya aib. Nggak boleh sampai bocor.
Taeil kembali bersuara. "Tapi Taeyong sendiri, kan, yang bilang dia ingin pergi sendiri,"
"Ya tapi kalau dia sendirian terus juga kitanya nggak enak," balas Doyoung.
"Terus siapa, nih, jadinya?" tanya Ten.
Diam sejenak, ketiganya kompak menatap satu-satunya yang tidak terlibat pembicaraan sedari tadi.
"Mark,"
Yang disebut namanya pada akhirnya menghela napas pasrah. "Okelah,"
Keadaan canggung itu sudah sering mereka alami sejak dulu.
Meski mereka satu tim sekarang, Taeyong selalu bersikeras untuk melakukan segala sesuatu sendirian. Gelar leader (tidak resmi sebenarnya) yang telah disematkan mereka padanya justru tidak membuat Taeyong terbuka pada mereka. Malah sang Jack Frost semakin tertutup dan merasa tertekan oleh tanggung jawab yang besar.
Tentunya hal itu membuat hubungan mereka berempat dan dia seakan tidak mengalami kemajuan. Sama seperti dulu.
Renggang.
...
Taeyong terbang melintasi cakrawala Seoul yang didominasi oleh warna navy dan hitam. Di akhir bulan november, negara gingseng itu mulai memasuki masa transisi dari musim gugur menuju musim dingin. Ia jelas bisa merasakannya dari suhu udara yang semakin mendekati nol dan melihatnya dari banyaknya daun yang gugur.
Manik abu-abunya menelusuri tiap penjuru kota. Meski waktu baru menginjak petang, ia sudah bisa merasakan hawa gelap kuda-kuda mimpi buruk itu—fearling. Anehnya, indera penglihatannya tak menangkap satupun fearling yang berkeliaran di sudut daerah manapun
Lelah berputar, sang Jack Frost akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah taman yang sepi. Ia sebenarnya tidak lelah dalam hal fisik, tapi lebih ke lelah yang menjurus ke bosan, jenuh. Lagipula, tak ada salahnya berhenti untuk melihat-lihat sekitar permukaan kota.
"Jack Frost ... "
Eh?
Dalam sepersekian detik, Taeyong membalikkan punggungnya penuh antusiasme tak sadar. Mata indahnya berkedip-kedip tak percaya begitu mendapati orang yang telah menyebut namanya.
Seorang pemuda berjaket bomber hijau tua terdiam kaku. Mulutnya setengah terbuka. Wajahnya menampakkan ekspresi tak percaya yang tinggi.
Kenapa lelaki itu terus memperhatikannya? Apa benar dia bisa melihatnya?
"Kau bisa melihatku?" gumam Taeyong bertanya.
Pemuda itu pun mengejang kaget. "Kau benar-benar Jack Frost?!"
"Iya,"
"TEMAN-TEMAN, DIA JACK FROST BENERAN!"
Sontak Taeyong berjengit kaget sampai-sampai harus menutup kedua telinganya begitu anak muda di hadapannya berteriak dengan hebohnya dan lantangnya (dan cemprengnya).
Sementara itu, dari balik pohon besar tak jauh dari keduanya, menyembul kepala-kepala pemuda asing yang sedetik kemudian melesat menghampiri mereka.
Raut wajah Taeyong menjadi campuran antara bingung, senang, dan bingung lagi. Rasa euforia meletup-letup di dalam dadanya. Ia benar-benar tak menyangka bisa bertemu orang yang bisa melihatnya sebanyak ini.
"Masa?!"
"Itu loh! Masa sedekat gini nggak kelihatan,"
"Eh, iya. Beneran!"
"Keren banget,"
"Oh, iya. Belum kenalan," yang berambut brunette dengan poni lalu menjulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan ke arah Taeyong, dibalas dengan jabatan singkat oleh sang Jack Frost. "Haechan,"
Pemuda yang berteriak kencang tadi menyambung dengan semangat. "Chenle!"
"Jaemin,"
"Renjun,"
"Jeno,"
"Jisung,"
"Bentar-bentar. Selfie dulu,"
Keenam pemuda itu berkumpul mengapit Taeyong. Jaemin lalu mengambil smartphone. Sudah ancang-ancang sebelum Jisung menyela. "Tapi dia, kan, cuma bisa kita lihat doang,"
"Yah, nggak jadi, deh," Baru beberapa detik ia merenung, Jaemin pun kembali tersadar oleh sebuah fakta yang terlintas di kepalanya. "Eh, kamera bukannya peka, ya, sama yang kayak Jack Frost?"
"Udah-udah. Buruan. Ini kesempatan sekali seumur hidup," desak Haechan yang nampaknya kebelet luar biasa untuk mengabadikan momen bersama si makhluk langka.
"Oke, oke,"
"Semuanya, say cheese~"
"Cheese~"
Jaemin menurunkan smartphone miliknya setelah berhasil ambil beberapa foto. "Makasih banyak,"
"Iya, sama-sama,"
"Kapan-kapan mampir ke rumahku, ya? Nggak jauh. Cuma lima blok,"
"Udah. Nggak usah promosi, Haechan,"
"Emang sales. Hahahahaha!"
"Hayo Chenle, jangan kumat," tegur Jisung. Dari raut mukanya, tercetak jelas bahwa ia tak nyaman dengan tawa mirip suara lumba-lumba dari Chenle.
"Dikondisikan, le. Dikondisikan,"
"Mohon maaf," gumam Jeno sembari membungkuk sedikit. Malu berat dengan kegajean sohib-sohibnya yang mendadak kambuh. Taeyong sendiri tersenyum maklum dan berbisik "tidak apa-apa".
"Udah?"
Yang lain terdiam dan mengangguk canggung.
"Ya, udah."
"Kami permisi dulu," ucap Renjun seraya membungkukkan badan. Kemudian berjalan menjauh diikuti yang lainnya.
"Dadah!" seru Jaemin dan Haechan bebarengan.
Taeyong tersenyum sembari melambai.
...
Jujur saja ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat ini. Pun Taeyong tak bisa berhenti tersenyum mengingat kembali soal anak-anak yang ia temui barusan. Sudah lama sekali sejak ada manusia yang bisa melihatnya.
"Taeyong!"
Ia pun menoleh. "Ah, hai, Mark,"
"Masih patroli?"
"Sudah selesai sebenarnya,"
"Oh,"
Keduanya nampak menikmati pemandangan Seoul yang penuh dengan gemerlap lampu dan keramaian di bawah sana. Diselingi dengan Mark yang kembali menjalankan tugasnya sebagai Sandman dengan menyebar pasir-pasir ajaib keemasannya ke penjuru kota.
"Aku bertemu anak-anak yang bisa melihatku tadi," ujar Taeyong.
Mark yang masih menabur pasirnya spontan menoleh. "Eh? Benarkah? Keren!"
"Terima kasih,"
Diam-diam, dirinya melirik curiga pada sang Sandman yang melanjutkan aktivitasnya dengan tersenyum.
Senyuman itu jelas Taeyong kenal. Taeyong sudah terbiasa melihat dan membaca mimik wajah, seperti yang diutarakan dalam hati saat berdua dengan Taeil.
Dan senyuman Mark itu ...
Senyum yang menyembunyikan sesuatu.
...
Seorang gadis tengah terlelap pulas di kamar tidurnya. Di atasnya, pasir emas milik Sandman bergerak-gerak membentuk miniatur peragaan fashion show.
Dari sudut tergelap kamar, keluar pria berparas rupawan dengan setelan jas hitam. Ia melangkah tenang menghampiri sisi ranjang dominan warna pink itu.
"Hai, Lami. Mimpi yang indah, hm?"
"Biar aku perindah mimpimu,"
Lelaki itu menyentuh pasir Sandman. Setitik hitam dari bagian yang disentuhnya merubah seluruh pasir menjadi sehitam jelaga. Pasir yang melambangkan penonton melempar barang-barang ke arah model. Membuat pasir yang menyerupai model merunduk takut dan berlari menjauh dari panggung.
Sementara itu, Lami mengerang tak nyaman. Raut wajah tidurnya yang mulanya tenang dan damai, berubah menjadi takut dan sedih.
Pasir yang telah berwarna hitam arang itu kemudian berubah bentuk menjadi seekor kuda hitam nan besar. Kuda itu bergerak liar dan tak terkendali.
Sang pria misterius menyentuh kepala kuda itu. "Ssshh ... tenanglah,"
"Aku ingin kau menyampaikan sesuatu pada teman lamaku di bulan,"
Kuda itu pun menembus jendela. Terus berderap ke atas langit malam yang disinari ratu malam.
Ia memandang lewat jendela. Dua insan tengah berdiri di atap sebuah gedung tak jauh dari ruangannya berdiri.
Jack Frost dan Sandman.
Bayangan di kamar itu makin menggila begitu sudut bibirnya tertarik menjadi sebuah seringaian kelam.
"Sudah lama aku tak bersenang-senang,"
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Nicemii : IlYoung banyakin? Siap~
ererigado : Sudah lanjut, kok. Ajeng usahakan bakal lanjut terus.
06190131tt : Sudah di-update. Maaf menunggu lama.
Jjoan : Sudah lanjut. Selamat membaca.
NesyaBunga5 : Wah, ada yang menantikan Jack Frost. :)) Makasih semangatnya.
flyhjgh : Terima flying kiss dari Depok. XD Ini udah lanjut. Tenang aja.
Makasih banyak ya, chingu-deul, atas review-nya. Sumpah, Ajeng nggak nyangka kalau fanfic ini banyak yang review, favorite dan follow dalam waktu sebentar. Sekali lagi makasih banyak!
Sedikit cuap-cuap, ya. Tapi kayaknya banyak, deh. #plak
Intinya Ajeng kepikiran bikin fanfic ini gegara liat film kembarannya Taeyong, si Jack Frost, yang kemudian nginspirasi Ajeng buat bikin fanfic ini.
Bagian paling sulit selama ngerancang The Guardians itu adalah posisi cast-nya sendiri. Sempat pusing tujuh keliling nentuin mana yang cocok, kecuali Taeyong of course. Dan akhirnya fix main cast seperti yang bisa kalian lihat di awal chapter. Jadi :
Semua anak NCT U jadi Guardians. Mumpung pas. #plak
Jaehyun entah kenapa kepikiran aja buat jadi Pitch. Apalagi dia ada aura-aura antagonisnya. #plak Maaf banget ya kalau nanti Jaehyunnya jadi jahat banget. Tapi sama gebetannya nggak jahat-jahat, kok. #plak
Johnny aku pilih jadi Man in the Moon (alias MiM) berhubung dia salah satu sohibnya Jaehyun merangkap rival kalau di dunia per-fanfic-an. Selain itu, MiM ini sendiri dulunya punya masa lalu yang terhubung dengan si Pitch dan juga keduanya rival abadi. Jadi sekalian.
Anak-anak Dream ibaratnya Jamie cs di film Rise of The Guardians yang asli. Tapi kalau mau dipasangin siapa mirip siapa, Ajeng nggak kepikiran sampai sejauh itu.
Khusus untuk Yuta dan Winwin, berhubung mereka kena nasib sial nggak masuk posisi cast asli yang cocok, pada akhirnya Ajeng mutusin buat bikin konsep karakter mereka ori dari Ajeng sendiri. Di mana keduanya ini tokoh dongeng yang punya kemampuan untuk beradaptasi dengan dunia manusia.
(1) Momotaro = Tokoh dongeng yakni seorang anak laki-laki yang ditemukan di dalam buah persik. Anak laki-laki ini kemudian berkelana untuk mengalahkan raksasa jahat. Dongeng ini cukup populer di Jepang, yang notabene negara asal Yuta.
(2) Fenghuang = Phoenix versi China. Bedanya kalau phoenix yang ini nggak berkaitan dengan konsep immortal atau rebirth. Ini emang rada nggak nyambungin. Tapi waktu Ajeng cari-cari fakta soal Winwin dan nemu kalau julukannya itu anak ayam, eh tiba-tiba kepikiran Phoenix. Sekalian aja. X))
Beberapa hal yang Ajeng bikin beda dari aslinya = Anak buahnya Santa Claus aka North kalau di RoTG, kan, bangsa elf dan yeti. Kalau Taeil anak buahnya beruang. Soalnya pernah denger dia dapet julukan Teddy Bear. #plak Terus bajunya Ten lebih mirip ke Peter Pan daripada Fairy Tooth yang asli. Taeyong nggak bawa tongkat kayak Jack Frost, jadi kekuatannya nggak bergantung sama tongkat. Mark sebagai Sandman bisa ngomong, beda sama Sandman yang lebih sering pakai bahasa isyarat. Lokasi cerita ini di Kota Seoul. Beda sama RoTG yang di wilayah sekitar Amerika.
Yang menantikan Johnny, Yuta, Winwin, sabar ya. Soalnya baru munculnya chapter depan.
Jangan lupa review, ya. Silahkan yang mau bertanya. Ajeng juga menerima kritik, saran dan komentar apapun.
Sekian dulu.
Ajeng Hyakuya pamit.
Annyeong!
A.N. 1: Btw, ada yang udah nonton NCT Yearbook#1? Sumpah itu videonya bener-bener nguji iman banget. Mana udah pada topless, gayanya ngundang hasrat lagi. Kuatkan hamba, gusti. #plak
A.N. 2 : Jangan lupa dukung NCT buat comeback mereka nanti ya, chingu-deul! Jujur Ajeng bener-bener excited dan penasaran sama proyek mereka nanti bulan maret. X)) Ayo, dukung NCT!
