Naruto turun dari motornya dengan langkah lebar-lebar. Kedua tangannya mengepal disamping tubuhnya. Ia memandang marah ke suatu titik di depan rumah yang ia datangi sekarang. Beberapa saat kemudian, tanpa babibu, laki-laki itu sudah melayangkan bertubi-tubi bogem mentah pada seorang pria dihadapannya.
"Hei!" pria itu berteriak bingung. "Hei, Naruto! Ada apa?! Kenapa kau––"
"DIAM KAU! DASAR BAJINGAN!"
Naruto memukul pria di depannya tanpa ampun. Mendengar keributan dari arah depan, seorang wanita datang tergesa-gesa dan dengan cepat menarik pria yang dipukuli Naruto tersebut menjauh.
"Naruto!" jeritnya marah. "Apa-apan kau?!"
"Ini tidak ada urusannya denganmu, Anko. Minggir."
"Tentu saja ini urusanku, Naruto! Kau mencoba untuk menghabisi suamiku!" Anko menepis tangan Naruto kasar, lalu memandang Naruto dengan marah. "Apa masalahmu?!"
"Laki-laki ini…" gumam Naruto berapi-api. "Menghamili Sakura!"
Anko merasakan kedua matanya membulat sempurna. "Apa?"
Wanita itu memutar tubuhnya, menatap sang suami yang sekarang tengah sama kagetnya dengan dirinya. "Apa itu benar?"
Ia tidak langsung menjawab. Ia memandang Anko dan Naruto bergantian, lalu menggaruk tengkuknya. "Hah?"
"Aku rasa kau sangat mengenal Sakura sepertiku. Bisa-bisanya kau sebrengsek ini padanya!" geram Naruto marah, tertahan langkahnya saat ia mencoba kembali meraih kerah pria tersebut karena Anko menahannya. "Kau tahu kalau aku menyayangi dia sama seperti adikku sendiri!"
"Apa yang kau katakan Naruto? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicararkan."
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau masih berpura-pura!"
"Naruto, sebentar." Anko menatap Naruto, sembari mengatur nafas Sakura. "Apa kau yakin kalau suamiku yang melakukannya?"
Naruto mengangguk. "Ya. Sakura menyebutkan ciri yang sangat sama dengan suamimu ini. Berkacamata, berambut abu-abu…"
"Aku sama sekali tidak pernah tidur dengannya, demi Tuhan! Kenapa kau menuduhku?!"
"Lalu siapa lagi?!" balas Naruto tidak mau kalah.
"Naruto," panggil Anko lagi. "Aku tidak yakin suamiku yang melakukannya. Kau melupakan satu orang lagi yang berambut abu-abut dan berkacamata."
Naruto mengerutkan keningnya, lalu mengibaskan tangan kuat-kuat. "Siapa lagi yang seperti itu selain Kabuto?"
Mereka bertiga berpikir sebentar, lalu sebuah nama tiba-tiba saja terlintas di benak mereka.
"Kakashi!"
Kabuto memandang Naruto dengan kesal, kemudian memukul kepala pria itu dengan sendal yang sedang dipakainya. "Dasar keponakan kurang ajar! Kau benar-benar bosan hidup, ya?! Beraninya kau memukuliku seperti ini?!"
Naruto masih terdiam ketika nama Kakashi, Kakashi Hatake, secara kompak disebutkan oleh mereka bertiga. Benarkah? Seingatnya, Kakashi, mentornya dulu, hanya datang sebentar untuk minum-minum di bar, lalu sesudahnya menghilang begitu saja dari pesta. Tapi ia memang ingat berpapasan dengan laki-laki itu di lobi hotel…
"Sialan!" geram Naruto kesal.
Anko dan Kabuto memandang Naruto yang terduduk di teras rumah mereka. Dalam sekejap, rasa kesal Kabuto menguap begitu saja. Ia tahu keponakannya ini sedang dirundung dilema yang sangat kuat. Rasa hormat Naruto pada Kakashi bisa dibilang melebihi rasa sayang matahari kepada bumi. Ia pasti merasakan kekecewaan yang amat sangat sekarang.
"Ambilkan teh hangat." Bisik Kabuto pada Anko.
Kabuto duduk di samping keponakannya, lalu menyenggol bahu Naruto pelan. "Kau tidak apa-apa?"
Naruto tidak menjawab. Dia terdiam cukup lama. Matanya memandang kosong ke depan, sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Kabuto.
Ketika akhirnya Kabuto bergerak untuk memberikan teh hangat, ia menyadari kalau mata Naruto sudah dipenuhi oleh air. Hanya butuh satu kedipan untuk membuat tanggul laki-laki itu bocor. Bertahun-tahun bertemu lagi dengan keponakannya itu Tokyo, baru kali ini dia melihat Naruto menangis.
"Naruto…"
"Aku tahu Sakura sangat terguncang… Aku tidak tahu bagaimana ia bisa menghadapi semua ini. Apalagi ketika tahu kemungkinan besar Kakashi sensei adalah orang yang menghamilinya, aku benar-benar…"
"Kau harus tenang. Minum ini." Ujar Kabuto, menyerahkan teh tersebut ke arah Naruto. "Kau harus mengajak Sakura berbicara. Apa yang akan ia lakukan setelah ini. Karena, sebagai teman Kakashi, aku dapat mengatakan kalau kemungkinan besar ia tidak akan menerima anak itu. Begitu pula keluarga besarnya. Kau tahu sendiri reputasi dan harga diri Hatake sangatlah tinggi."
Naruto mengangguk. "Aku tahu itu. Sialnya, tidak ada yang bisa kulakukan untuknya."
.
.
"Kakashi…"
Kakashi Hatake membuka matanya yang masih sangat berat. Cahaya matahari menembus masuk, membuatnya harus menutupi wajahnya kembali dengan selimut.
"Kakashi… bangun…"
Sebuah tangan menembus masuk ke dalam selimut, menyentuh perutnya yang tidak terbungkus kain. Kakashi menggenggam tangan itu. Ia menariknya dan menjadikan tangan itu sabuk di sekitar perutnya. Beberapa kali pria itu menggumam tidak jelas, berkata kalau dia tidak mau diganggu dulu tidurnya.
"Kau harus bekerja. Ya ampun, malas sekali pria ini." Keluh Hanare, menarik tangannya dan menggulingkan Kakashi agar terlentang. "Kakashi! Kau––AAAH!"
Hanare terjatuh menimpa dada telanjang Kakashi. Pria itu tersenyum, kedua tangannya yang besar melingkar di pinggang kekasihnya. Ia mengecup bibir Hanare singkat dan kemudian memeluknya erat.
"Lima menit lagi aku akan bangun."
"Tidak ada lima menit lagi, kau berkali-kali berkata seperti itu sejak setengah jam yang lalu!"
"Hanare…"
Kakashi menarik tengkuk gadis itu dan mengecupnya lembut. "Hari ini aku libur saja, ya?"
"Mmhh… nanti kau…"
Pintu kamar terbuka, dan Hanare dengan cepat turun dari atas Kakashi. Gadis itu berbaring di sampingnya, memandang orang tersebut dengan tatapan tidak suka.
"Maaf mengganggu, Tuan, Nona. Nyonya besar meminta Tuan untuk segera turun."
"Apa dia tidak tahu Hanare sedang disini?" tanya Kakashi, turun dari tempat tidur dengan gerakan malas. "Lain kali, ketuk dulu pintu kamarku, Gaara. Kau tidak punya sopan santun sama sekali."
Gaara menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Tuan."
"Kau pulang saja, Hanare. Gaara akan mengantarmu." Ujar Kakashi, mengecup gadis itu sekali lagi sambil memakai kausnya. "Aku harus berbicara dengan Ibu dan Ayah terlebih dahulu. Nanti sore aku akan menjemputmu. Oke?"
"Mmm. Ya." Hanare menanggapi malas, masih terlihat kesal akan kehadiran Gaara.
Kakashi berjalan turun mendahului mereka berdua dan menemui kedua orangtuanya yang sedang tenang duduk di meja makan. Mereka sama sekali tidak mengangkat kepala meskipun mereka tahu akan kehadiran Kakashi. Laki-laki itu duduk di hadapan orangtuanya, menyeruput segelas besar susu dan meraih sendok beserta pisaunya.
"Kakashi."
Kakashi meletakkan kembali peralatan makannya, dan mengehela nafasnya. "Ya?" tanyanya, memaksakan senyuman.
"Kenapa kau belum berangkat ke kantor?" tanya ayahnya. "Kau tahu ini jam berapa?"
"Aku tahu. Aku baru saja akan mandi saat kalian memanggilku." Gumam Kakashi.
"Lalu, kapan kau dan Hanare akan menentukan tanggal pernikahan?" sang Ibu angkat bicara, membuat gerakan Kakashi kini semakin melambat. "Ibunya pagi ini meneleponku, menanyakan hal tersebut. Aku tidak bisa menjawab apa-apa karena kau juga belum memberikanku informasi apa-apa."
Kakashi tersenyum, menggenggam tangan ibunya. "Secepatnya, Ibu. Minggu depan kami akan mulai mencari baju. Selambat-lambatnya, pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi."
"Aku tetap tidak suka gadis itu keluar masuk rumah ini tanpa kesopanan." Keluh ayah Kakashi. "Untunglah mereka akan cepat menikah."
"Meskipun begitu, kau tahu perusahaan mereka sangat bagus perkembangannya dan hal tersebut bisa semakin mengangkat nama perusahaan. Pernikahan ini, selain karena kedua anaknya memang saling menyukai, juga memberikan benefit besar." Ibu Kakashi berujar tenang. "Jadi tahan dulu rasa tidak sukamu. Setelah menikah, mereka juga akan pindah dari sini."
"Ya. Aku tidak mau serumah dengan orangtuaku setelah memiliki istri." Ujar Kakashi sambil tertawa.
.
.
"Hoek!"
Ino mengusap kedua kelopak matanya ketika mendengar suara Sakura dari dalam kamar mandi. Masih dengan setengah nyawa saja yang terkumpul, gadis itu memutar kenop dan mendapati Sakura tengah berjongkok dengan kepala tertunduk ke lubang closet. Ino berjalan mendekat, menahan rambut panjang temannya agar tidak terkena muntahan. Satu tangannya yang lain mengusap-usap punggung Sakura pelan.
Setelah mengeluarkan isi perutanya selama kurang lebih tiga menit, Sakura terlihat teramat lelah. Ia berjalan sedikit dan berkumur. Dengan satu tangan, dibersihkannya sisa-sisa muntahan disekitar bibir sembari ia terus berkumur.
"Tidak ada kelas?" tanya Ino pelan.
Sakura menggeleng disela-sela kegiatannya menggosok gigi. "Ibiki sensei sedang keluar kota."
"Syukurlah. Kau istirahat saja disini." Gumam Ino, berjalan keluar dari kamar mandi. "Aku akan pergi pukul sembilan nanti. Kau mau sarapan apa?" ujarnya sedikit keras dari luar kamar mandi.
"Bubur. Dan ocha hangat."
"Baiklah. Kau istirahat saja di kamar, nanti akan kuantarkan."
Ino sudah membuatnya berhenti merasa tidak enak dan berterimakasih. Katanya, saat Sakura sekali lagi melakukan hal itu, ia akan melemparnya keluar dari apartment tersebut.
Sakura berjalan ke ruang tengah, duduk di sofa mereka dan menarik selimut yang ada disana untuk membungkus seluruh tubuhnya. Gadis itu menyalakan televisi dan dengan tatapan kosong memandang televisi tersebut, dengan acara yang ada disana, entah apa itu.
"Jangan terlalu dipikirkan, Sakura. Siapa tahu ayahnya adalah seorang selebriti." Ujar Ino dari arah dapur, sementara dirinya mencuci beras. "Siapa tahu ayah bayimu adalah Ken Shuoka. Kau akan mendapatkan bayi yang sangat tampan, jika memang begitu."
Sakura tertawa kecil. "Percayalah, Ino, aku akan sangat mengingatnya jika laki-laki itu Ken Shuoka."
"Bagaimana bisa kau tidak mengingat ayahnya?" tanya Ino bingung. "Maksudku, apakah benar-benar tidak ada sepotong kejadianpun yang tidak kau ingat? Wah, kau kuat minum juga ternyata. Berapa banyak alkohol yang kau minum malam itu?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas aku memang sangat mabuk." Gumam Sakura jujur.
Ino menghela nafasnya, kembali ke arah Sakura dengan segelas ocha hangat di tangan. "Tidak apa-apa. Kita akan menemukannya."
"Aku bingung kenapa kita harus menemukan ayah bayi ini, Ino. Aku…" Sakura terhenti, tidak yakin akan kalimatnya sendiri. "Aku tidak ingin menikah. Aku juga tidak keberatan mengurusnya sendirian."
"Tetap saja, Sakura. Umurmu berapa? Kau pikir mengurus seorang bayi sendirian adalah tugas yang mudah? Bagaimanapun kau butuh seorang suami."
Sakura menghela nafasnya. "Aku bisa melakukannya sendiri."
"Lalu bagaimana dengannya besok?" tanya Ino, duduk di hadapan Sakura. "Aku tidak tahu siapa ayahku, Sakura. Ibuku membesarkanku sendirian. Sampai sekarang, aku mengakui kalau ibuku memang sudah lebih dari cukup dan aku tidak lagi bertanya-tanya siapa ayahku. Tapi orang-orang diluar sana terlalu kejam, Sakura. Mereka suka menilai orang lain tanpa melihat diri mereka sendiri. Kalau kau memang bisa menemukan laki-laki itu, saranku, temui dia."
Sakura tersenyum lemah ke arah Ino. Ia tahu bagaimana perjuangan Ino dulu, bertahan dari segala macam cibiran orang-orang terhadap dirinya. Jujur saja, ada rasa ketakutan dari dirinya jika hal tersebut akan terjadi pada anaknya nanti. Sakura memegang perutnya tanpa sadar. Tapi aku rasa aku tidak membutuhkan suami…
"Aku akan bersiap-siap." Gumam Ino, menepuk pundak Sakura beberapa kali. "Kau jaga diri, ya."
Sakura mengangguk. Ia kembali menyesap ocha-nya, lalu memfokuskan pandangan ke televisi. Drama kesukaannya belum tayang pagi hari seperti ini. Yang ada hanyalah beberapa program memasak, atau pemasaran barang-barang elektronik yang membosankan. Sakura menghela nafasnya, kemudian tersenyum pada Ino yang beberapa saat kemudian keluar dari apartment mereka.
Sakura bangkit setelahnya. Ia sebenarnya sudah berencana untuk pergi menemui dokter kandungan pagi ini. Karena itu, ia segera mandi dan bersiap-siap.
Sakura menaiki bus pertama yang lewat di depan halte apartment-nya dan duduk dalam diam. Ia tidak tahu rumah sakit mana yang harus ia datangi. Faktanya, ia hanya mengikuti jalur bus yang ia naiki ini. Rumah sakit pertama yang terlihatlah yang nanti ia masuki. Karena itu, gadis tersebut menutup mata dengan santainya dan menikmati tidur yang tadi malam tidak bisa dimilikinya.
Setelah kurang lebih satu jam, Sakura terbangun dan mendapati dirinya berada entah dimana. Ketika akhirnya ia melihat sebuah rumah sakit di beberapa menit setelahnya, Sakura menekan tombol berhenti dan turun dari bus tersebut. Di sekelilingnya, ada beberapa orang yang sedang menunggu untuk menyebrang dan Sakura memutuskan untuk berdiri di antara mereka.
"Ayaka… Ayaka, jangan makan itu! Sudah Ibu katakan berapa kali…"
Sakura menoleh dan melihat seorang ibu muda tengah kewalahan––menghentikan puteri kecilnya yang hendak memakan gagang lolipop––. Biasanya ia akan tersenyum melihatnya, namun kali ini ada perasaan takut yang tiba-tiba menyergapnya. Sanggupkah ia sendiri?
Sembari menyebrang, Sakura memikirkan kuliahnya. Apakah ia harus mengambil cuti? Sakura sadar betapa besar harapan orangtuanya yang ikut dikirimikan bersama Sakura saat ia pamit untuk bersekolah di Tokyo tiga tahun silam. Ayahnya selalu percaya kalau ia akan menjadi seorang wanita sukses dengan latar belakang sosial jauh melebihi orangtuanya.
Lalu apa yang akan mereka pikirkan begitu tahu Sakura ternyata terlalu ceroboh untuk tidur bersama seorang laki-laki dan membiarkan dirinya sendiri hamil?
Sakura berhenti di bagian depan rumah sakit, mengamati peta elektronik yang ada di hadapannya. Telunjuknya meniti satu dmei satu seksi, dan akhirnya berhenti di bagian Bayi dan Kandungan. Ia berjalan menysuri lorong rumah sakit dengan langkah lamban, sembari tidak hentinya mengamati anak kecil dan ibunya yang ia temui sepanjang perjalanan.
Sesampainya di seksi bayi dan kandungan, Sakura berhenti di depan meja resepsionis yang ada disana dan memberikan senyuman tidak enaknya.
"Dokter siapa?"
"Ehm…" Sakura berujar pelan. "Aku belum membuat janji."
Perawat tersebut mengangguk-angguk, lalu tersenyum. "Kalau begitu, silakan isi formulir registrasi di komputer nomor dua. Setelahnya jangan lupa mengambil nomor antrian, ya."
"Terimakasih."
Sakura berjalan ke arah beberapa komputer yang berbaris rapi di bagian kiri ruangan tersebut. Ia duduk di depan komputer nomor dua, menatap formulir yang sudah ada disana dan membacanya baik-baik.
Dengan teliti, ia mengetikkan nama, alamat, nomor ponsel, umur, berat dan tinggi badannya disana. Tangannya sempat terhenti ketika ia bagian Identitas Pasangan *). Ia mengosongkan seluruh bagian tersebut dan mengisi nomor telepon Ino sebagai nomor telepon darurat.
"Keperluan?" gumamnya pelan. "Check up…"
Sakura menyelesaikan formulirnya beberapa menit kemudian dan mengambil nomor antrian setelahnya. Dua orang lagi sebelum dirinya dipanggil. Sakura duduk di ruang tunggu dalam diam, mengamati orang-orang yang berlalu lalang di depannya.
Sepasang suami istri masuk ke dalam ruangan tersebut dengan seorang anak balita gemuk yang sangat lucu. Pipinya merah merona, matanya besar dan bulu matanya lentik. Sakura tersenyum melihatnya. Sang suami membawakan tas besar berisi perlengkapan bayi, dan menggendong anak tersebut sementara isinya mengisi formulir pendaftaran di komputer. Mereka pasti juga baru pertama kali datang kesini karena mereka mengisi formulir pendaftaran.
Sakura mengamati anak itu yang tertawa-tawa senang selama beberapa saat, sampai tidak sadar kalau ternyata namanya sudah dipanggil oleh perawat beberapa kali. Perempuan tersebut tersenyum, bangkit dari duduknya dan mengikuti perawat tersebut untuk masuk ke dalam ruangan dokter.
"Sakura Haruno, umur 21 tahun." Ujar sang perawat kepada dokter laki-laki yang duduk di hadapan Sakura sekarang. "Check up."
"Selamat pagi, Haruno." Dokter tersebut tersenyum ramah, membaca sekilas berkas Sakura dan kembali menatap matanya. "Namaku Shino Aburame. Aku doktermu untuk hari ini, jadi kuminta kau untuk melakukan prosedur pemeriksaan dengan baik, okay?"
Sakura balas tersenyum dan mengangguk. "Baik, dokter."
"Jadi, apa ini pertama kalinya kau memeriksakan diri setelah kau hamil?"
"Ya, aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu." Ujar Sakura menerangkan. "Aku sempat tidak tahu kalau aku hamil… seminggu yang lalu aku merasakan mual-mual di pagi hari, dan menstruasiku juga datang terlambat. Akhirnya aku memutuskan untuk mengeceknya dan…" Sakura tersenyum. "Begitulah."
"Kalau begitu kita akan melakukan prosedur awal dulu, Nona Haruno, bagaimana?" ujar dokter Aburame. "Kita harus memastikan kau dalam keadaan yang baik agar bayi kecil itu tetap sehat dan dalam kondisi baik juga."
Sakura mengangguk. "Baiklah."
"Bagus. Tolong ambilkan jarum suntik." Ujar Shino kepada perawat yang sedari tadi berdiri di dekat mereka. "Sekarang, Haruno, aku akan mengukur tekanan darahmu. Tolong letakkan tanganmu di dalam mesin ini, dan kepalkan telapak tanganmu."
Sakura melakukan instruksi dokter Aburame dengan patuh. Beberapa saat kemudian, alat tersebut semakin menyempit di bagian lengan Sakura dan bunyi pip halus terdengar. Sebuah kertas kecil keluar––dokter Aburame membacanya dengan seksama.
"Apa kau punya riwayat penyakit darah rendah?"
"Ya, dokter."
"Kau harus mengatasinya… kacang merah adalah makanan yang baik untuk menambah darah." Ujar dokter Aburame, menuliskan sesuatu di kertasnya. "Sup kacang merah, kue kacang merah… olahan apapun yang kau suka. Sekarang tolong isi ini, dan setelah itu aku akan mengambil darahmu."
.
.
"Ayah dan ibuku terus bertanya tentang tanggal pernikahan."
Hanare menatap Kakashi lewat kacamatanya, lalu tersenyum. "Lalu?"
"Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakan kalau akupun tidak tahu." Gumam Kakashi, sambil menyantap sushi-nya. "Apa kau benar-benar ingin menikah denganku?"
"Astaga. Barusan kau melamarku!" Hanare tertawa kecil.
Kakashi tersenyum masam, tidak menggubris pernyataan tersebut. Entah kenapa ia merasa tidak enak akhir-akhir ini. Menikahi Hanare yang sudah dipacarinya sejak bertahun-tahun lalu tentulah bukan pekerjaan sulit. Ditambah, keuntungan yang akan di dapatkannya beserta keluarganya pasti berkali-kali lipat. Tapi kenapa seakan-akan ada yang menariknya untuk tidak menikah?
"Kita bisa menikah tanggal 12, Kakashi. Lihat. Satu bulan lagi." Ujar Hanare, menunjukkan layar ponselnya. "Tanggal 11 ulangtahunku. Itu bisa menjadi kado yang luar biasa untukku."
Kakashi tersenyum kecil. "Tentu saja."
"Dan aku akan segera menyewa jasa wedding organizer. Semuanya pasti bisa disiapkan dalam satu bulan." Ujar Hanare. "Kita tidak perlu ambil pusing."
Mereka keluar dari restoran tersebut satu jam kemudian. Hanare melingkarkan tangannya di lengan Kakashi, menggandengnya dengan mesra di hadapan semua orang. Ia serasa memenangkan jackpot. Tampan, pintar, kaya––tentu saja––, dan laki-laki itu miliknya. Orang-orang bisa memandangnya iri, Hanare tidak peduli. Gadis itu semakin suka mengumbar kemesraannya dengan Kakashi di depan umum.
"Hari ini kau akan bermalam di apartmentku?"
"Tidak, aku akan pulang ke rumah." Ujar Kakashi, disambut wajah sedih Hanare yang dibuat-buat. "Ada banyak sekali pekerjaan. Aku sudah meninggalkannya tadi, demi makan sushi kesukaanmu itu. Sekarang sudah tidak ada lagi alasan untukku untuk menolaknya.
"Ya, tuan pekerja keras. Aku mengerti." Ujar Hanare. "Kalau begitu aku masuk, ya. Kau langsung pulang saja."
Restoran sushi tersebut memang terletak tepat di seberang gedung apartment Hanare. Kakashi mengangguk, mencium bibir Hanare singkat dan melambaikan tangannya. Ia menunggu sampai gadis itu masuk ke dalam gedung, baru ia kembali menyebrang dan masuk ke halaman parkir restoran sushi untuk menaiki mobilnya.
Baru saja ia akan masuk, teleponnya berdering. Nama Naruto tertera di layar.
"Naruto?" gumamnya, bingung. Ia bertemu Naruto saat Asuma mengajaknya untuk menjadi guru judo di kelas training milikinya beberapa waktu lalu. Kebetulan ia menjadi mentornya. Pertemuan terakhir mereka adalah pada saat ulangtahun Naruto, saat itu ia memang diundang. Sekarang, ada apa tiba-tiba ia menelepon?
"Sensei…" ujar Naruto tidak jelas. "… ada… dimana…?!"
"Naruto? Kau mabuk?" tanya Kakashi semakin bingung. "Ojii Sushi. Ada apa?"
"Sepuluh menit!"
Setelah itu, sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Naruto. Kakashi menatap ponselnya dengan bingung. Ada apa?
Ia memutuskan untuk menunggu. Naruto bukanlah orang yang menyebalkan,
Ternyata Naruto memakan waktu lebih lama dibanding yang dijanjikan. Dua puluh menit kemudian, akhirnya ia muncul dengan langkah sempoyongan. Ia mencari-cari Kakashi dengan tatapan linglung, lalu tersenyum kesal saat melihat orang yang dicarinya muncul dari dalam salah satu mobil yang ada disana.
"Naruto? Ada ap––"
BUGH
Kakashi terjatuh begitu saja di aspal yang dingin karena serangan tanpa peringatan dari Naruto. Pria itu membelalakkan matanya, menatap Naruto dengan bingung dan tidak habis pikir.
"Brengsek!" jerit Naruto kesal. Ia menarik kerah Kakashi dengan gerakan cepat. Kakashi dapat mencium bau anyir darah yang keluar dari sudut bibirnya yang robek. Tidak hanya itu, ia mendapati buku-buku jari Naruto juga berlumuran darah. Sepertinya ia memukul sesuatu yang sangat tajam tadi sampai-sampai ia melukai jarinya sendiri.
"Maksudmu apa,hah?!" tanya Naruto marah. "Bajingan sepertimu––mati saja!"
Satu kali lagi pukulan mematikan Naruto melayang di rahang kanan Kakashi. Pria itu kembali terjatuh, ia meringis kesakitan sementara tiga kali pukulan tepat di tulang pipinya masing-masing dua kali sukses membuat Kakashi berkunang-kunang.
"Kurang ajar! Kurang a––"
Kakashi berhasil menghindar––akibatnya Naruto tersungkur ke tanah. Wajahnya sukses mencium aspal, dan pastinya tergores tidak beraturan.
"Apa masalahmu?!" tanya Kakashi kesal, balas memukul Naruto. Dicengkramnya kerah laki-laki itu, lalu ditariknya Naruto mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti lagi. "Dasar gila! Kenapa kau memukulku?!"
"Pura-pura tidak tahu… aku benci sekali padamu." Desis Naruto, memukul perut Kakashi dengan satu gerakan keras. Pria tersebut terkejut dan darah keluar dari dalam mulutnya. Pukulan tersebut begitu teramat keras sehingga untuk membuka mata saja Kakashi merasa tidak mampu.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA SAKURA, HAH? BRENGSEK! LEBIH BAIK KAU KUBUNUH SEKALIAN!"
Gerakan Naruto tertahan oleh seorang penjaga yang terpancing untuk datang ketika mendengar keributan dari arah tempat parkir. Beberapa orang yang sedang makanpun sampai keluar dari restoran, hanya untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung.
Kakashi tidak dapat mengingat apa yang terjadi selanjutnya karena ia merasakan pandangannya mulai menggelap.
.
.
HAIIIIIIIIIIIII!
Pertama tama gue mau ngasih tau kalo misalnya cerita ini akan menjadi cerita yang suangat puanjanggggggggggggggggggg.
Kedua, cerita ini adalah cerita pertama yang langsung gue post begitu gue udah selesai nulis chapternya. Jadi biasanya, gue bakal ngepost chapter 2 setelah gue selesai nulis chapter 5, gitu gitu, tapi sekarang nggak. Jadi rada nantang juga sih supaya gak males nulis.
Banyak banyak terimakasih buat yang ngereview! Buat yang nggak, semoga kalian menikmati cerita gue dalam diam;)
Jangan lupa ditungguin chapter selanjutnya ya! Yang entah kapan, ehe.
