BLOOD
[Kim Taehyung × Jeon Jungkook]
Fiction | Rate M | Bangtan | VKook | MinYoon
Romance. Drama. Supranatural. Fantasi
Beberapa tambahan OC untuk kesempurnaan cerita.
Sang nyonya besar duduk termenung di meja kerjanya. Pikirannya melayang mengingat apa yang di lihatnya beberapa saat yang lalu, dimana Taehyung membunuh salah satu pelayan dengan begitu mudah tanpa harus meninggalkan jejak.
"Kenapa mereka harus mati?" Sang nyonya besar menatap Taehyung penuh tanya.
Taehyung tak menjawabnya. Ia malah berseringai menatap butiran debu yang terberai di lantai lalu tangan Taehyung beralih menarik rambut belakang Jungkook pelan, bermaksud untuk menghentikan Jungkook yang masih tetap menyesap darahnya secara rakus lalu membawa wajah Jungkook untuk tepat menghadapannya.
Manik merah itu menatap sayu kedalam sorot tajam onyx Taehyung. Sementara sang nyonya besar menatap miris bekas luka karena koyakan putranya—Jungkook di leher Taehyung.
Darah masih terus mengalir dan itu membuat sang nyonya besar merasa ngeri sendiri karena menatapnya. Tetapi itu tak bertahan lama,karena beberapa detik kemudian luka itu secara (ajaib) perlahan menutup dengan sendirinya.
Dan sang nyonya besar menata takjub pada Taehyung. Hebat. Pikirnya.
Taehyung menatap vitur wajah Jungkook yang sangat tampan. Tatapan yang sayu, hidung yang menjulang, dan jangan lupakan bibir merah terbuka dengan lelehan darah di sekitarnya. Oh, ini benar-benar pemandangan yang sangat menggugah gairahnya.
Taehyung menjilat bibirnya sendiri karena lonjakan gairahnya.
Sesaat ia tersenyum melihat manik Jungkook mengikuti gerakan lidahnya.
"Kau mau menyesap lidahku?" Taehyung melemparkan pertanyaan pada Jungkook.
Jungkook tak menjawab. Tetapi manik itu tak lepas dari dua belah bibir Taehyung.
Ia menarik rambut belakang Jungkook dan itu membuat Jungkook menengadah menatap langit-langit rumahnya.
Taehyung menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu rahang tegas Jungkook yang terkena lelehan darahnya dengan perlahan. Sementara tangan kirinya menarik Jungkook untuk lebih merapat padanya. Lidahnya mengulas beberapa kali agar darah itu benar-benar bersih lalu memberikan kecupan ringan setelahnya. Meninggalkan jejak basah yang malah membuat Jungkook terlihat makin menggoda —sexy .
Itu masih terus berlanjut hingga dagu dan belah bibir Jungkook. Beberapa kali lidah Taehyung menjilati belah bibir itu dan memanggutnya, mengulas lalu menjilat lagi. Seakan bibir Jungkook adalah makanan terenak yang sangat disayangkan untuk terlewatkan begitu saja, dan itu memang kenyataan karena bibir Jungkook memang enak menurut Taehyung.
Sang nyonya besar mengeryit menyaksikan kegiatan Taehyung. Bagaimana pun Jungkook adalah putranya. Apalagi mereka berdua adalah laki-laki. Pemandangan ini sungguh tak lazim di benaknya. Bagaimana dua laki-laki saling berpelukan dan bercumbu tepat di hadapannya dan jangan lupakan bagian bawah Taehyung yang bergerak mengesek pada Jungkook. Sang nyonya besar bergidik menyaksikan mereka berdua.
"Nyonya, tuan dan nona Saerin sudah datang" tiba-tiba suara seorang pelayang mengejutkannya.
"Oh!" Sang Nyonya besar pun langsung terkesiap, tersadar dari lamunanya lalu ia menoleh menatap pelayan itu. "Dimana mereka?"
"Nona Saerin langsung masuk ke kamarnya, sedangkan tuan ada di taman belakang, nyonya" sang nyonya besar pun hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia telah mengerti lalu pelayang itu berjalan pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Saerin" lirih sang nyonya besar, sementara pikiranya mengawang, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengatakan dan membuat putri sulungnya itu mengerti tentang rahasia keluarganya ini.
Seperti biasa siang itu Yoongi mengunjungi Jimin di tempat latihan menyanyi setelah jam kuliahnya berakhir. Dan sekarang Yoongi menatap Jimin yang tengah bernyanyi di atas panggung. Sorot matanya menatap Jimin penuh kekaguman.
Suara merdu dan Aura dominan yang di tampilkan Jimin benar-benar memabukan. Wajar jika banyak orang tergila-gila padanya.
Yoongi tersenyum. Kadang ia berpikir, bagaimana bisa Jimin mencintai pria sepertinya. Jimin populer, Sedangkan ia hanya anak biasa yang selalu menyendiri karena tak menyukai keramaian. Apalagi dengan kemampuan anehnya yang dapat melihat makhluk beda dimensi seperti makhluk supranatural, itu membuat Yoongi benar-benar berbeda dari anak lainnya, karena kadang Yoongi tiba-tiba berubah berbicara aneh dan menjauh, seperti menghindari sesuatu. Jika dipikir lagi, Ia dan Jimin itu, bagai bumi dan langit yang sangat berbeda Jauh.
Yoongi melambaikan tangannya saat jimin melihatnya dan Jimin pun melakukan hal yang sama dengan tersenyum.
"Tunggu aku!" Jimin membuat gerakan bibir Tanpa suara.
Yoongi pun menganggukan kepalanya sementara tangannya memberikan isyarat bahwa ia akan menunggu di bangku penonton paling belakang.
Jimin membuat tanda "Ok" sebagai tanda ia mengerti.
Yoongi memusatkan perhatiannya pada lagu yang dinyanyikan Jimin. Lagunya terasa asing, ia belum pernah mendengar yang tengah dinyanyikan ini. Sepertinya lagu baru.
Yoongi menganggu-anggukan menikmati musiknya. Ini keren. Pikirnya. (Lie —Jimin solo)
Apalagi suara sexy Jimin. Itu membuat Yoongi tak bisa mengalihkan tatapannya dari Jimin.
Tak berapa lama akhirnya Jimin telah menyelesaikan lagu yang di nyanyikannya. Ia langsung bergegas turun menghampiri kekasihnya.
"Bagaimana menurutmu?" Jimin langsung bertanya ketika ia sampai di hadapan kekasihnya —Yoongi .
"Apa?" Yoongi bertanya karena tak tau apa yang di maksud Jimin.
"Lagunya" Jimin menjelaskan.
"Oh, bagus. Suaramu terdengar sexy"
"Sudah kuduga. Aku memang makhluk tuhan paling sexy" ucapnya percaya diri dengan memegang dagunya dan berpose sok keren.
"Sial" umpat Yoongi. Dan Jimin hanya Terkekeh mendengar umpatan itu.
"Apa kita akan menemui, Jungkook?"
"Mmm" Yoongi mengangukan kepalanya sebagai jawaban lalu menyodorkan sebuah botol minuman isotonic yang di belinya tadi sewaktu di perjalanan ke gedung musik.
Jimin menerimanya. "Terima kasih" ia tersenyum lalu memeluk kekasihnya.
"Apa kau akan memberitahunya?" lagi-lagi Yoongi hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.
"Kau yakin dia akan percaya?" Kali ini, Yoongi tak menjawab. Ia tak yakin tentang itu. Tak banyak orang yang percaya tentang hal supranatural. Apalagi ini zaman modern. Dan sekarang ia malah ragu untuk memberitahu Jungkook tentang firasatnya.
"Aku tidak yakin, tapi kita temui saja Jungkook dulu"
"Baiklah" Jimin tersenyum manis sambil mengusap-usap sayang sebelah kiri pipi Yoongi " —tapi aku akan menyelesaikan latihanku dulu. Ok!"
"Ya" Yoongi menganggukan kepalanya sekali lagi.
"Bagaimana menurutmu?" Sambil memberikan sentuhan terakhir berupa polesan lipstik di bibirnya pada teman yang tengah melakukan video call dengannya, gadis itu menunjukan hasil pekerjaanya beberapa menit yang lalu.
"Sial!. Kau makin cantik, Saerin"
Saerin tertawa mendengarnya. Well, seorang Jeon memang selalu cantik ngomong-ngomong. Karena sejak dahulu Setiap Jeon tak ada sejarahnya buruk rupa. Jeon adalah kesempurnaan. Setiap keturunannya selalu cantik dan tampan. Mereka pembawa gen yang baik.
"terima kasih, aku tersanjung mendengar pujianmu" dan temannya pun ikut tertawa.
Hening beberapa saat karena Saerin tengah serius memilih gaun yang akan digunakan nanti malam.
"Dengan siapa kau akan datang malam ini?" Sang teman membuka percakapan kembali.
"Tentu saja dengan pria tampan". Jawabnya tenang.
"Siapa?"
"Aku belum tau, aku belum mendapatkannya sekarang. Mungkin nanti, aku akan memungutnya di jalan" Saerin tertawa.
"Sial! Seriuslah sedikit! Kau senang sekali mempermainkan, ku".
Tawa mereka meledak lagi.
"Aku ganti baju dulu. nanti aku akan menghubungimu lagi. Sampai jumpa".
"Ok, sampai jumpa, Saerin" setelah itu Saerin memutuskan sambungan telfonnya.
"Saerin" sang ibu memanggilnya saat ia menuruni Tangga.
Ia menoleh pada ibunya dengan tersenyum manis.
Sang ibu memperhatikan Saerin sudah tampil cantik dengan balutan dress hitam panjang. Tubuhnya yang langsing terasa pas sekali dengan gaun itu. Apalagi sepasang heel dengan taburan berlian terpasang dikakinya yang Jenjang makin membuat tubuhnya kian menjulang tinggi bak model.
"Apa kabar, bu?" Sapanya, saat sampai di hadapan ibunya.
"Mau kemana?" Sang ibu mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja, pesta. Kenapa aku harus tampil seperti ini jika tidak berpesta?!" Saerin mencubit gemas pipi ibunya.
"Kau selalu berpesta setiap hari, bagaimana dengan kuliahmu? Jangan lupa! Kau sulung dirumah ini. Kau yang akan meneruskan perusahaan keluarga kita, Saerin"
"Wow.. bu. Aku ini wanita, lagi pula aku punya adik laki-laki. Kenapa harus aku yang akan meneruskan perusahaan keluarga kalau ada penerus laki-laki?" Saerin menjawab ibunya tenang. " —Jungkook suka berbisnis, bu. Dia yang lebih cocok meneruskan perusahaan dari pada aku"
"Kau tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan. Lebih baik kau mulai serius dengan pendidikanmu untuk berjaga-jaga dengan apa yang akan terjadi".
"Ah, ibu ini. Seperti ibu tau masa depan saja." Saerin mencium pipi ibunya. "Aku pergi, bu" ucapnya, lalu melenggang pergi meninggalkan ibunya.
"Aku tau masa depan, Saerin. Aku tau masa depan, Jungkook dan itu sangat tidak mungkin bagi Jungkook untuk meneruskan perusahaan kita di masa depan. Jungkook tidak akan lagi bersama kita" ucap ibu lirih menatap punggung Saerin yang tengah melangkah menjauh menuju pintu keluar.
Nyonya Jeon masih ingat betul waktu ia mengandung, ia hampir jatuh terpleset karena kurang berhati-hati saat berjalan. Tiba-tiba ibunya datang memperingatkan tentang sesuatu yang ia tak mengerti di kehamilannya yang kedua. Yaitu sewaktu dirinya tengah mengandung Jungkook.
"Jaga kehamilan mu!" Sang ibu berkata dengan sorot mata yang tajam penuh peringatan "Bayi itu miliknya" dan nyonya Jeon hanya mengangguk patuh tanpa mengerti siapa yang di maksud dengan —NYA yang ibunya katakan.
Dan ketika ia melahirkan Jungkook barulah ia tau, siapa gerangan yang di maksud —NYA oleh ibunya.
Saat itu, tepat satu bulan setelah ia melahirkan. Nyonya Jeon meninggalkan bayinya sebentar untuk mengantar sang suami berangkat bekerja dan ketika ia kembali maniknya tak sengaja melihat putranya yang tengah terlelap di rengkuh oleh sesosok makhluk bersayap sepekat malam dengan onyx merah menyala.
Ia menutup mulutnya secara reflek, matanya membulat karena terkejut sementara kakinya bergetar tak kuat menopang berat tubuhnya sendiri. Akhirnya pun nyonya Jeon jatuh terduduk di atas dinginya lantai kramik.
"Tolong! Tolong bayiku!" Ia mencoba berteriak tapi hanya suara lirih yang keluar dari pita suaranya.
Sesaat ia melihat onyx merah itu menatapnya, tetapi onyx itu langsung beralih kembali pada putranya yang masih berupa bayi merah. Makhluk itu menatapnya beberapa saat lalu ia mendekatkan Jungkook padanya. Memanggut bibir mungil Jungkook yang masih bayi. Nyonya Jeon nyaris kehilangan kesadarannya karena terlalu terkejut tapi sebuah tangan yang meremas pundaknya mengalihkan atensinya.
"Bukankah, aku sudah mengatakan padamu? Putramu adalah miliknya" sang ibu menatapnya datar tanpa ekspresi "tundukan pandanganmu Jika kau tak sengaja melihatnya! Ini akan sedikit tak baik Jika kau tak bisa merelakan putramu".
"Kau mengorbankan, putraku?!" Nyonya Jeon bertanya dengan nada bergetar karena marah pada sang ibu.
"Aku tidak pernah mengorbankan cucuku. Dia sendiri yang memilihnya dan itu adalah keputusan mutlak. Semua yang menentang akan berakhir mati. Kuharap kau tidak bertindak bodoh dengan menghalanginya memiliki Jungkook. Kaulah satu-satunya yang ibu miliki, iklaskanlah Jungkook!" Ucapnya tegas.
Nyonya Jeon hanya bisa diam menitikan air mata lalu ia beralih melihat makhluk itu menimang putranya dan beberapa detik kemudian makhluk itu menghilang tanpa meninggalkan jejak, membawa Jungkook —putranya.
Ia meraung, menangisi putranya. Bergegas bangun menuju tempat terakhir dimana putranya ia tidurkan tadi. Tetapi Jungkook tetap tidak ada. Ia menghilang.
Dua hari ia menggila karena kehilangan putranya. Tetapi setelah beberapa hari, anehnya ia mulai terbiasa. Sebut saja ia gali, ia lebih mencintai hartanya dari pada putra kandungnya sendiri karena setelah hilangnya Jungkook bahkan belum sampai selama 7 hari, ia telah merelakan putra itu menjadi milik iblis.
Jam menunjukan pukul tiga sore lebih ketika Yoongi dan Jimin menemukan Jungkook tengah berkutat dengan tugas kuliahnya di taman biasanya mereka berkumpul (Jungkook —Yoongi) .
Yoongi melangkah lebih dulu menghampiri Jungkook. Ia menepuk pundaknya dan itu membuat Jungkook sedikit berjenggit karena terkejut.
"Ahh, hyung kau membuatku kaget!" Jungkook menyuarakan protes karena Yoongi membuatnya terkejut.
"Hai, kkook" sapa Jimin.
Jungkook mendongak melihat kedatangan Jimin. "Oh, hai hyung." Jungkook membalas sapaan Jimin lalu beralih lagi pada Yoongi "Tumben kalian kesini bersama-sama, ada apa?"
"Tidak ada, hanya ingin. Tugas apa ini?" Yoongi meraih salah satu buku yang tergeletak di atas meja dan membaca Judulnya.
"Manejemen Bisnis, si dosen killer?!" Yonggi menatap buku tugas Jungkook malas. Ia membenci dosen itu. Tidak benar-benar benci dalam artian benci sebenarnya hanya mungkin sedikit rasa tidak suka yang berlebihan dan ia masih ingat betul apa yang menjadi alasannya.
"Ya dan sinismu masih sama, hyung. Masih belum memaafkan?"
"Sulit. Lagi pula dia belum meminta maaf. Mungkin akan aku pikirkan jika ia meminta maaf lebih dulu padaku."
"Lantas kalau hyung dapat tugas bagaimana?"
"Tentu saja tidak aku kerjakan. Bereskan?" Yoongi menjawabnya santai. Seakan tugas kuliah itu tiada arti baginya. Satu nilai jelek tidak masalah, asal orang tuanya tidak protes.
"Apa hyung tidak merasa kekanakan? Bukankah ini juga akan mempengaruhi IP —mu,hyung?"
"Ya, mungkin berpengaruh. Tapi aku tidak perduli"
Jungkook dan Jimin menggelengkan kepalanya mendengarkan jawaban yang keluar dari bibir tipis Yoongi.
"Jangan berlebihan begitu!" Yoongi memberikan tatapan malas menanggapi reaksi Jungkook dan Jimin.
"Apa kalian sudah dengar? Nanti malam akan ada pesta" jimin mengalihkan pembicaraan.
"Dimana?" Yoongi dan Jungkook melemparkan pertanyaan dengan waktu yang bersamaan.
"Wow... kalian sangat kompak" Jimin terkekeh menatap keduanya.
"Jim!" Yoongi menatap Jimin tajam tak suka. Jimin seperti mengejek ia dan Jungkook sekarang dengan tertawa seperti itu.
"Ok" Jimin langsung menghentikan tawanya. Ia hanya bermaksud menjahili mereka. Tapi Yoongi malah sensitif sekali. Ia tau Yoongi sedang mengkhawatirkan Jungkook dan sedang mencari saat yang tepat untuk mengatakan maksudnya. Ia hanya berusaha mencairkan suasana karena Yoongi terlihat gugup walau berusaha berbicara dengan santai. Tapi sepertinya Jungkook juga tidak menyadari kegugupan Yoongi.
"Jungkook-ah, aku ingin mengatakan sesuatu" Yoongi memulai
Jungkook menoleh mentap Yoongi yang duduk di sampingnya. "Apa?"
"Aku tidak tau kau akan percaya padaku atau tidak, tapi aku ingin mengatakannya padamu. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal" Yoongi tertawa canggung " — Tapi ini sungguh yang aku lihat dalam mimpiku. Ini semacam petunjuk. Firasat".
"Ya" Jungkook mendengarkan Yoongi dengan seksama. Walau ada sedikit kernyitan di dahinya. Tapi sungguh, ia sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan kakak tingkat sekalingus sahabatnya itu.
"Sebenarnya, aku melihat —"
"Jungkook!" Panggilan itu mengintrupsi ketiganya. Mereka menoleh serempak ke arah suara itu berasal.
Itu Taehyung. Ia melangkah menghampiri mereka dengan tenang. Aura dominan menguar di setiap langkah yang ia ambil. Blazer selutut berwarna putih dan kaos hitam turtleneck melengkapi penampilannya kali ini. Seingat Jungkook, Taehyung tadi pagi hanya menggunakan kemeja putih dengan rompi hitam dari bahan wol tipis. Jungkook menarik salah satu sudut bibirnya. "Pesolek!" Ucapnya dalam hati.
Well, kalau saja Jungkook tau apa yang menjadi penyebab Taehyung mengganti pakaiannya, mungkin Jungkook akan berpikir kembali mengatai Taehyung pesolek. Lagi pula siapa yang mau ke kampus dengan pakaian yang berlumuran darah?. Yah, walaupun itu darahnya sendiri. Ia bisa menjadi pusat perhatiankan?.
"Hai" Taehyung menyapa ketiganya dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Hai" hanya Jimin yang membalas. Jungkook menatapnya malas sementara Yoongi menatapnya dengan tatapan aneh.
"Apa kau sudah selesai dengan tugasmu? Aku ingin membicarakan tentang jadwal latihan kita?"
"Sebentar lagi" Jungkook menjawabnya dengan datar lalu beralih pada tugas kuliahnya lagi.
"Baiklah" Taehyung menggangguk-anggukan kepalanya mengerti. Kakinya yang jenjang melangkah medekati meja yang di tempati Jungkook dan kedua temannya.
"Bolehkah aku duduk disini?" Ia bertanya pada Yoongi dan jimin yang masih menatapnya sejak tadi.
"Ya, silahkan!" Jimin yang menyahut. Tangannya terjulur membuat gerakan mempersilahkan pada Taehyung. Taehyung pun langsung mendudukan dirinya di samping Jimin, tepat di hadapan Jungkook.
Suasana hening langsung menyelimuti sejak Taehyung ikut duduk bergabung dengan mereka. Jungkook sibuk dengan tugas kuliahnya, jimin terlihat sedang chat dengan beberapa teman grup musiknya sementara Yoongi terlihat melamun.
Taehyung mengamati Yoongi dalam diam, lalu onixnya mengikuti arah tatapan Yoongi yang terlihat melamun menatap deretan pohon pinus di sisi kiri taman. Ia tersenyum sinis tanpa ketiganya ketahui.
Tiba-tiba terbersit keinginan untuk memperingatkan Min Yoongi. Ia tau Yoongi bukanlah manusia biasa. Yoongi bisa melihat dirinya yang sebenarnya dan akhirnya pun ia melakukannya. Ia tak ingin Jungkook mengetahuinya sekarang.
"Jangan ikut campur Min Yoongi!" Dalam hati Taehyung memperingatkan.
Yoongi yang terkejut langsung menoleh, ia mendengarnya padahal Taehyung tak mengucapkan melalui mulutnya. Tapi Yoongi memang mendengarnya.
Mata Yoongi melebar melihat aura yang mengelilingi Taehyung. Begitu kuat dan dominan lalu aura itu bergerak mendekati Jimin. Membungkus Jimin lalu merasuk kedalam tubuhnya.
Taehyung berseringai menatap Yoongi.
Baru saja Yoongi akan melempar pertanyaan. Tiba-tiba Jimin menggenggam Tangannya. Jimin menampilkan wajah memelas dan menggigit bibir bawahnya. Seperti tersiksa menahan hasrat.
"Hyung, bisakah kita pergi sekarang?"
"Ada apa?" Yoongi menatap aneh gelagat Jimin.
Jimin tak menjawabnya, ia meremas tangan Yoongi lembut, sementara maniknya menatap Yoongi penuh harap kalau Yoongi akan menuruti permintaannya meninggalkan Jungkook dan Taehyung sekarang. Ia sudah Tak tahan. Entah mengapa ia sangat ingin melakukan apa yang baru pagi tadi ia lakukan bersama Yoongi di kamarnya.
Yoongi mengalihakan tatapannya pada Taehyung. Ia melihat Taehyung masih berseringai menatapnya.
"Pergilah! Kau tak kasihan pada kekasihmu?" Taehyung memberikan nasihat seolah bukan ia penyebab kelakuan Jimin sekarang. "Aku punya rekomendasi tempat yang aman. Masuklah ke gedung itu! " Taehyung menunjuk gedung yang berada tepat di belakang Jungkook " — Naik kelantai dua, ada sofa disana. Gedung itu dulunya adalah gedung untuk Art Club tapi sekarang mereka sudah tidak menggunakannya lagi, mereka sudah pindah, jadi kalian aman jika melakukannya disana"
"Oh... Thanks" Jimin mengucapkan terima kasih dan lansung menarik tangan Yoongi untuk berdiri.
Jungkook yang sejak tadi fokus pada tugas kuliahnya terkejut karena Yoongi tiba-tiba berdiri. Ia tadi tidak mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan karena terlalu fokus pada tugas kuliahnya.
"Mau kemana kalian?"
"Ada urusan mendesak, Kook. Kau duduklah manis disini bersama taehyung" Jimin langsung menarik Yoongi pergi setelah menjawab pertanyaan Jungkook.
"Mau kemana mereka?" Jungkook menatap penuh Tanya.
"Entahlah" Taehyung hanya mengangkat bahunya singkat.
Satu Jam berlalu sejak ia meninggalkan Jungkook dan Taehyung.
Yoongi berdiri di dekat kaca jendela yang mengarah ketaman dimana tadi mereka duduk bersama.
Penampilannya bisa dikatakan sangat berantakan, rambutnya tak lagi teratur rapi menutupi dahinya, kaosnya kusut, dan tubuhnya menguarkan aroma sex yang kuat.
Sementara Jimin. Ia pun tak Jauh berbeda dari Yoongi. Ia terlelap di atas sofa hanya dengan menggunakan celana Jins yang tak terkancing. Jelas sekali kalau ia pun hanya memakai asal celana itu untuk menutupi bagian privat tubuhnya.
Yoongi mendengus Jengkel. Bagaimana ia begitu mudah jatuh dalam jebakan Taehyung tanpa perlawanan sedikitpun. Seharusnya ia bisa menolak Jimin tadi. tapi mengapa ia juga malah ikut dalam pusaran gairah setelah Jimin menariknya untuk berdiri.
"Brengsek!" Umpatnya.
Yoongi masih menatap Taehyung yang membantu Jungkook merapikan beberapa buku tugasnya.
Dan maniknya melebar. Ia tersadar tentang siapa Taehyung sebenarnya.
"Asmodeus*" lirih Yoongi menatap punggung Taehyung yang mulai melangkah pergi dengan menggandeng tangan Jungkook.
Mobil sport putih itu melaju pelan memasuki gedung apertemen di daerah ceondamdong. Ia memutar mencari tempat parkir yang kosong untuk di tempati mobilnya.
"Aku sudah sampai. Sekarang aku sedang memarkirkan mobilku" gadis itu —Saerin tengah berbicara melalui ponselnya sembari maniknya mencari tempat parkir yang Kosong." —aku akan segera naik" ucapnya sebelum mengakhiri panggilannya.
Maniknya masih terfokus pada ponsel ketika sebuah mobil melaju dan menabrak bagian belakang mobilnya. Tidak cukup kencang tapi itu membuat Saerin kaget dan bagian belakang mobilnya penyok.
"Akhh" Saerin memijat tengkuknya yang tegang. Kepalanya sedikit pening karena terlalu terkejut. Ia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar menghampiri mobil si penabrak.
Saerin mengetuk kaca mobilnya pelan. Dan si penabrak pun membukanya.
Seorang laki-laki. Wajahnya terlihat pucat. Mungkin ia shock karena telah menabrak seseorang. Dan mobil mahal pula yang di tabraknya.
Ia tergagap dan langsung membuka pintu mobilnya.
"Anda tidak apa-apa?" Ia bertanya dengan gugup. Tubuhnya yang menjulang terlihat gemetar.
"Ya" Saerin menanggapinya singkat. Maniknya menunjukan tatapan menilai pada laki-laki di hadapanya.
"Ma — maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya" ia membungkuk 90 derajat sebagai bentuk penyesalan yang teramat dalam. tangannya sibuk meraba tubuhnya sendiri mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya ia langsung mengeluarakannya dari dalam saku. Sebuah ponsel. "Apa ada yang sakit? Perlukah kita kerumah sakit?"
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa"
"Mingyu, Nama saya Kim Mingyu" ia menyebutkan namanya dengan cepat.
"Saerin" Saerin menyebutkan namanya sendiri.
Onyxnya menatap mobil Saerin. "Jadi bagaimana dengan mobilnya
"Tak masalah, itu bisa di urus asuransi" Saerin menanggapi santai kepanikan mingyu. Ia malah tertarik dengan paras rupawan pemuda itu. " —tapi jika kau ingin tetap bertanggung jawab, mungkin kau bisa membantu ku di urusan yang lain"
"Iya. Aku akan membantumu" tanpa berpikir terlebih dahulu Mingyu langsung menyetujui karena rasa bersalahnya.
"Apapun itu?"
"Ya, apapun itu"
"Baiklah kau bisa mengikuti aku. Nanti aku akan menjelaskan apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku"
Mingyu pun hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda ia mengerti.
Saerin langsung membalikan tubuhnya dan masuk kembali kedalam mobil untuk memarkirkannya.
Tanpa Saerin sadari Mingyu menyeringai di belakangnya.
Mingyu masih ingat jelas apa yang ketua asosiasinya katakan ketika mengintai gadis itu. "Gadis itu —Saerin adalah inang untuk keturunan Jeon selanjutnya. Kita harus melenyapkannya sebelum sang pengantin kegelapan untuk menghentikan perjanjian itu!. Seluruh keturunan Jeon harus lenyap agar iblis itu Juga lenyap dari dunia ini"
Hari sudah hampir gelap ketika ia sampai di tepi hutan. Sementara kompasnya semakin berputar tak tentu arah dan itu meyakinkannya bahwa ia memang telah sampai di tempat tujuan. Dengan cepat pria itu memasukan kompasnya kedalam saku mantelnya yang berwarna biru tua.
"Well, Semoga mangsa kali ini bagus." Ucapnya sinis lalu melangkah masuk kedalam hutan.
Dereran pohon tinggi dan semak belukar menyapa penglihatannya ketika ia semakin masuk kedalam hutan. Langit jingga yang hampir menghitam tak terlihat lagi di atas kepalanya karena dedaunan pohon terlalu rimbun. Sekitarnya semakin terlihat temaram.
Ia melanjutkan langkahnya dengan hati-hati. Bunyi dedaunan kering yang terinjak menjadi penanda di setiap langkah yang ia ambil. Beberapa jalinan rotan duri menyulitkan langkahnya. Tapi itu bukanlah rintangan yang berarti.
Bibirnya merapalkan mantra. Lalu partikel-partikel kecil mulai berkumpul di sekitarnya tangannya. Tidak sampai 5 detik. Sebuah pedang logam dengan ukiran rumit telah ada dalam genggamannya. Batu Ruby yang terdapat pada gagang pedang itu berpendar dengan kilau biru yang indah.
Bukan pertanda baik. Itu tanda bahwa mangsanya kali ini benar-benar kuat.
Seketika suasana di sekitarnya berubah dingin. Beberapa bulir keringat dingin mengalir menetas dari helain dark brown yang menutupi dahinya. Tanganya membuat gerakan mengusap untuk menghilangkan keringat yang tiba-tiba muncul. Ia menyipitkan kelopak matanya. Mencoba membuat penglihatannya lebih fokus pada sekitarnya.
"Bagus sekali, Tipuan yang unik". Pikirnya. Ini pertama kalinya ada mangsa yang akan ia habisi merasuki pikirannya dengan membuat perasaannya seolah takut.
Ia tertawa geli. Mangsanya mencoba membuatnya berfikir ia sedang takut saat ini. Jika saja ia tak tau bagaimana dirinya sendiri mungkin ia sudah tertipu saat ini. Karena, mungkin hampir tak ada satu hal pun yang bisa membuatnya takut hingga detik ini.
Kehidupan ini membuat ia lupa dengan rasa takut.
Maniknya menyisir sekelilingnya dengan waspsda. Ia sudah tau apa yang akan ia hadapi. "Pengendali pikiran" tebaknya dalam hati.
Biasanya seorang Pengendali Pikiran dapat melakukan pengendalian ini dari jarak yang cukup Jauh, tapi tidak menutup kemungkinan jika ia juga ada di dekatnya sekarang.
Ia menggenggam pedangnya dengan erat. Kewaspadaannya meningkat lebih tinggi. Instingnya mengatakan kalau mangsanya mungkin ada di sekitarnya saat ini. Ia mungkin sedang mengawasi gerak-geriknya.
Ia menampilkan seringainya.
Well, tak banyak mangsa kuat seperti ini, bahkan sangat jarang. Apalagi ini sudah lama dari perburuannya yang terakhir.
Sekelebat bayangan tiba-tiba melintas dari samping kirinya. Ia reflek menoleh. Tapi bayangan itu sudah tidak ada. Bayangan itu menghilang dengan cepat.
Ia menarik bibirnya keatas, membuat seringai yang khas sekali lagi.
semua akan mengasyikkan jika mangsanya memberikan perlawanan yang sama kuatnya. Jadi ia menguatkan kuda-kudanya untuk menghadapi serangan selanjutnya. Dan benar saja, tidak berapa lama ia mendapatkan serangan bertubi-tubi. Ayunan pedang membabibuta terus terarah kepadanya.
"Akkkhh" ia mengerang. Melangkah mundur dengan cepat untuk menghindari serangan yang terus terarah kepadanya.
Merekapun menghentikan pertarungan untuk tatap dan menguatkan kuda-kuda untuk serangan selanjutnya.
Tapi si surai dark brown diam terpaku, obisidannya melebar menatap mangsanya kali ini.
"Hai" sang mangsa menyapanya akrap. Sementara si surai dark brown yang terkejut menudingkan jari telunjuknya.
"Kau —"
makhluk itu menyeringai menatapnya.
"Ya, ini aku. Lama tak bertemu J - HOPE"
"Bagus sekali. Dengan begini kita bisa menuntaskan dendam lama" J-hope pun balas berseringai.
Lalu pertarungan sengitpun terjadi lagi, saling tebas. Saling serang untuk melukai lawan mereka. Meneruskan pertarungan mereka yang tertunda 300 tahun yang lalu.
To Be Continue.
Hai... hai... hai.. ketemu lagi.. maaf ya lama. Petama-tama saya mau ngucapin Terimakasih untuk yang pada respon kemarin. Semua repiu udah saya baca dan Saya senang ternyata ada yang baca juga tulisan jelek saya. Ini pertama kali aku dapet respon baik untuk ff saya. Saya senang sekali. Sekali lagi terimakasih sudah membaca. Maaf tak bisa membalas review kalian satu-satu tapi saya suka membacanya. Give me some review untuk semangat nulis next chap ya guys. I love you my reader. Tebar Kiss/peluk atu-atu
Dan saya juga mau ngucapin selamat ulang tahun buat my ayang TaeTae tercinta. Walaupu terlambat tapi aku tetep mau bilang "I lopyu pul mphii.
Diriku cinta mati sama kamu nak. Teruslah berkarya dan makin terkenal ya... bahagiamu bahagiaku juga" /eeeeaaaakk hahahaha.
Diriku juga minta maaf ya karena kemaren bilangnya mau update tanggal 30 tapi apalah daya Rencana tinggal rencana. Semua tuhan yang menentukan. Karena beberapa kendala jadi baru bisa update hari ini. Maaf /sungkem.
Dan gua mau ngucapin
HAPPY NEW YEAR GUYS
1 JANUARI 2017
NOTE:
* Asmodeus adalah Iblis Penguasa Nafsu Birahi. Asmodeus atau dalam bahasa Ibrani biasa dikenal dengan nama'Ashmedai'. Asmodeus termasuk salah satu dari Raja Kegelapan Asmodeus sendiri juga merupakan salah satu'7 Deadly Sins',yang menjadi lambang simbol nafsu birahi.
Maaf untuk kesalahan yang sebelumnya... sebenarnya ketikan sebelum saya menggunakan bintang. Tapi bintangnya nggak muncul... hiks :'( /huwaaaaaa T_T /saya pundung. Maaf baru bisa benerin. Biasa cah kangker jadi onlinenya baru bisa lewat tengah malem dan terima kasih sudah ngasih tau. Thanks guys :* :* :*
