I give you Sunshine
© Naruto, Masashi Kishimoto, 1999.
Disclaimer : Kemaren, Masashi Kishimoto sms saya, katanya saya boleh memiliki Naruto.(diceburin ke laut sama Masashi Kishimoto. Awww…)
Rating : T cukuplah..
Genre : Romance/Friendship (sepertinya)
Ada seseorang yang berbeda di chap ini nanti di kasih tau kok di A/N yang ada dibawah XD
-I Give You Sunshine-
CHAPTER 2: Pertemuan
" Tak akan ada perpisahan yang abadi kecuali kematian "
Gadis itu semakin mendekatinya dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Sedangkan ia sendiri terpaku. Tak mempercayai apa yang dilihatnya. Ia menunggu, menunggu gadis itu menghampirinya, lalu mengucapkan beberapa kata yang akan membalas kerinduanya. Tapi... gadis itu melewatinya tanpa sedikit pun mengucap beberapa patah kata. Ia malah memperlakukan Sasuke seperti orang yang tak di kenalnya.
Melihat perlakuan gadis itu, Sasuke secara refleks menahan tangan gadis itu agar tidak pergi, dan mereka pun akhirnya saling bertatap muka satu sama lain....
"Siapa kau? Lepaskan tanganku!" Gadis itu berseru.. masih lembut, namun dalam suaranya terpancar nada kesal.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau sudah mati?" balas Sasuke.
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan!" gadis itu menaikkan nada suaranya satu oktaf lebih tinggi.
"Jangan bohong Sakura!! Jangan bilang kau lupa padaku? Dan jangan bilang kau lupa akan janji kita 7 tahun yang lalu!"
"LEPASKAN TANGANKU!" teriak gadis itu dengan marah. Tangannya terkepal kuat.
Mau tak mau Sasuke pun melepaskan pegangan tangannya dari tangan Sakura. Dan ia melihat tangan Sakura menjadi merah karena ulahnya. "Maaf" pintanya sopan.
"Tidak masalah.. Tapi, apa maksudmu dengan perkataanmu? Dan 1 hal lagi, kenapa kau tahu namaku?"
"Apa kau lupa padaku? Aku..." ucapannya terhenti. Ia mengingat masa lalunya yang berbeda dengan dirinya yang sekarang. Ia yakin 100%, ia akan mengenali Sakura, tapi Sakura pasti tidak akan mengenali dirinya.
"Ah... tidak. Kau mirip dengan teman masa kecilku.. Ia pindah dari Konoha ini ke Jepang sekitar 7 tahun yang lalu.", kata Sasuke muram.
"Sayang sekali.. Tapi aku bukan teman masa kecilmu yang baru pindah dari Jepang. Kenalkan, namaku Sakura, Haruna Sakura." Kata Sakura sambil mengulurkan tangan.
"Uchiha, Uchiha Sasuke" Sasuke menjawab sambil menjabat tangan Sakura yang terulur padanya.
"Ahaha! Kebetulan sekali, kalian bertemu di sini! Padahal aku baru saja ingin mencari kalian! Mungkin karena aku terlambat ya?" ucap seseorang berambut abu-abu keperakan yang bernama Hatake Kakashi itu.
"Sensei, kemana saja kau? Aku sengaja datang pagi buta untuk bertemu denganmu karena perintah Anko-Sensei. Tapi kau terlambat 1 jam dari waktu yang kita janjikan!" ucap Sakura yang sudah kesal dengan kelakuan senseinya.
"Ahh.. maaf... maaf Sakura. Tadi saya harus berkunjung ke suatu tempat dulu. Biasa kegiatan rutin.. Eh di tempat itu saya ketiduran karena baca icha-icha tactics.." ucap Kakashi berusaha mengelak.
"Alasan bodoh yang tak dapat diterima!", gerutu Sakura dengan nada kesal. Sedangkan Kakashi yang melihatnya hanya nyengir seperti anak kecil.
Sasuke hanya diam mendengar pembicaraan itu. Ia masih bingung darimana Sakura bisa mengenal Kakashi-sensei.
"Tunggu! Apa maksud kalian berdua? Kenapa cewek beringas ini bisa mengenal anda Kakashi-sensei?" Sasuke bertanya kepada Kakashi dengan nada mengejek Sakura. Sakura yang tidak terima dibilang begitu oleh Sasuke hanya mendelik tajam kearah Sasuke.
"Ah... iya! Aku lupa dengan masalah itu! Ayo kalian berdua ikut ke ruanganku! Ada yang mau kubicarakan.", perintah Kakashi pada mereka berdua, lalu berjalan duluan menuju ruangannya. Meninggalkan Uchiha Sasuke dan Haruna Sakura dibelakang.
Sasuke dan Sakura pun mengikuti langkah Kakashi ke ruang kerjanya dengan tatapan saling tak suka satu sama lain. Lalu ketika mereka sampai di ruangan kerja Kakashi, Kakashi langsung duduk dan memberitahu sesuatu kepada mereka.
"Ada yang ingin kubicarakan kepada kalian berdua.. Sasuke ini adalah Haruna Sakura, murid yang sedang melakukan studi banding dari Iwagakure Unversity. Gurunya alias Anko-sensei meminta saya agar Sakura bisa melihat cara pengajaran dari universitas ini.. Makanya, ia sengaja datang dari tempat yang jauh khusus untuk belajar dari sini. Ya.. anggaplah ini pertukaran pelajar. Karena itu aku memintamu untuk menjadi mentor sekaligus guide Sakura selama ia mengadakan studi banding di sini. Perlihatkan kepadanya hal-hal yang telah kau pelajari, bagian-bagian kampus ini dan lain lain. Bantulah ia bila ia kesulitan dalam mengikuti pelajaran di kampus ini! Karena memang itu tujuan nya dia studi banding ke sini.", ucap Kakashi panjang lebar hanya dalam sekali bernapas.
"Tunggu sensei! Maksudmu apa? Menyuruhku mengajar cewek beringas ini, bukannya masih ada Sai yang lebih pantas menjadi mentor dan guidenya selama ia ada di sini?"
"Hmm.. sayangnya Sai harus mengawasi ospek anak-anak baru, sehingga ia pasti tidak akan mempunyai waktu untuk membantumu.." ujar Kakashi santai.
"Kakashi-sensei, aku tidak sudi kalau dia harus menjadi mentor dan guideku selama aku studi banding disini! Emang apa hebatnya dia? Model rambutnya aja kayak cowok emo begitu! Sok-sok ngikutin Elvis! Ckckckck... Apa kata dunia?" ucap Sakura yang diikuti oleh tatapan jijik Sasuke.
"Kau jangan meremehkannya Sakura.. Begini-begini ia adalah salah satu mahasiswa jenius yang dimiliki oleh kampus ini! Karya-karyanya sudah banyak yang di tampilkan di banyak acara bergengsi seperti Konoha Art Exhibition! Mungkin saat kelulusan nanti, ia akan mendapatkan gelar cumlaude (lulus kuliah dengan IPK lebih dari 3,50), Sakura.", kata Kakashi yang diikuti oleh senyum kemenangan Sasuke.
"Tapi, itu juga kalau ia bisa mengalahkan Sai. Saingan terberatnya untuk kandidat gelar itu." sambung Kakashi yang diikuti pelototan Sasuke.
"Cih, tau gitu, mending aku menolak studi banding ini deh!", keluhnya sambil memalingkan muka.
"Jangan mengeluh gitu Sakura.. Bukannya kau yang meminta Anko untuk mengirimmu ke sini? Karena kau merasa semua pelajaran di Iwagakure telah kau kuasai.. Mungkin saja kau akan mendapat tambahan pelajaran di sini. Bersyukurlah aku menyuruh Sasuke untuk mengawasimu, setidaknya Sasuke masih lebih baik daripada Sai" ucap Kakashi sambil bergidik ngeri.
"Benar sekali Sakura! Berarti mulai sekarang, kau akan menjadi juniorku di sini.. Silahkan memanggilku senpai ya.. Terserah sih, paling kalau kau tidak mau, aku akan memberi sedikit kejutan padamu. Yah, ini kan daerah kekuasaanku..", ucap Sasuke sambil tersenyum licik pada Sakura, yang di balas Sakura dengan tatapan semyuman bak malaikat. Lalu ia pun menghadap ke Kakashi.
"Ehmm, Sensei, kalau cowok ini macam-macam padaku mungkin aku akan bilang pada Anko-sensei kalau aku mengalami perlakuan yang tidak bagus di sini! Yah.. paling ujung-ujungnya sensei bakal kena omel sama Anko sensei. Aku jadi ga bisa bantuin sensei deh..", ucap Sakura dengan nada manis yang mengancam. Udang dibalik batu.
"Ampun Sakura! Ampun! Jangan gitu dong, kita kan friend.. Kan kamu udah janji mau bantuin sensei menghadapi Anko-sensei.. Ehm ehm.. Balik lagi ke permasalahan, sensei janji akan mengatasi hal ini. Aku ingin bicara dengan Sasuke. Yah.. sekarang kau boleh pergi Sakura. Sasuke, kau jangan pergi masih ada yang ingin kubicarakan denganmu.", perintah Kakashi. Sakura melenggang puas keluar dari ruangan.
"Sasuke, ayolah! Kau jangan membuat murid baru di sini jadi ngambek dong.. Kalau kau bertingkah seperti itu, sama saja kau menjatuhkan diriku. Mukaku mau di taruh dimana di depan Jiraiya-sama?"
"Cih! mukakan emang adanya di kepala. Bilang saja sensei mau pe-de-ka-te sama Anko-sensei! Benar kan?" Sasuke berkata dengan nada di atas angin. Kakashi tersenyum miris.
"Ya.. emang bener sih! Tapi bukan cuman saya doank kok yang mau pedekate! Jiraiya-sama juga mau pedekate sama Tsunade-sama, Ups kok saya keceplosan ya? Pokoknya di sini saya tegaskan, kau jangan menggrecoki Sakura! Awas kalau sampai ada keluhan dari dia. Bisa berabe saya.." Kakashi memohon.
"Aku gak peduli dengan perintahmu. Masih bagus aku menerima tugas ini. Jadi, biarkan aku bertindak sesukaku padanya. Kau diam dan melihat saja sensei."
"Oh.. Oke.. Kalau begitu aku akan mengusulkan pada Jiraiya-sama, bagaimana kalau Sai saja yang menjadi calon terkuat cumlaude? Sedangkan posisimu mungkin akan di gantikan oleh Ino. Yah.. Dia cukup berbakat kok.. Apa karena dia pacaran dengan Sai ya?"
"Arghhh sialan kau sensei! Terserahlah, aku tidak peduli, lebih baik aku pergi sekarang juga daripada mendengar celotehanmu. Oh ya, tindakanmu sangat konyol sensei. Oke..oke.. akan kuusahakan sebisaku aku tidak akan menggrecokinya.. Kecuali ia yang memulai duluan ya.." katanya sambil berbalik marah.
"Hahaha... Trims Sasuke. Baiklah, memang sudah waktunya kau pergi! Sekarang aku mau membaca icha-ichaku yang belum selesai. Sekali lagi, ingat perjanjian kita! Kalau kau bisa menepatinya sampai ia kembali lagi ke Iwa, kurasa gelar cumlaude sudah ada di tanganmu.", kata Kakashi yang dibalas oleh debaman pintu yang di banting Sasuke.
Sasuke pun melangkah ke luar dari ruangan Kakashi. Hendak menuju kantin untuk menemui teman-temannya. Lalu ia menemukan seseorang yang sedang melipatkan tangannya sambil bersandar di dekat dinding ruangan Kakashi. Otomatis itu membuat wajahnya mengeryit.
"Kau lagi Sakura! Sedang apa kau di situ? Sudah puas menguping nya?"
"Tentu saja puas! Bahkan sangat puas! Berarti, sekarang aku tidak perlu memanggilmu dengan sebutan senpai dong.. Iya kan?" kata Sakura sambil tersenyum menang.
"Ooh... Tentu saja tidak usah. Yah.. Setidaknya kalau kau bersikap seperti itu, aku akan melempar jabatan mentor itu ke Sai atau Ino.. Mereka 100X lebih "baik" dariku.. Kau tidak akan memanggil mereka senpai.. Mungkin, tanpa di suruh kau akan memanggil mereka dengan sebutan Sai-san atau Ino-san karena "kebaikan" mereka. Saat itu mungkin saja kau akan sujud sujud padaku untuk memintaku kembali." kata Sasuke sambil tersenyum iblis kepada Sakura lalu melangkah meninggalkannya.
"Aarghhh! Lihat saja kau Uchiha sialan! Aku pasti akan membalasmu! Terima kasih atas bimbingannya, SENPAI!" teriak Sakura tanpa menyusulnya.
Sasuke yang mendengar teriakan itu hanya tersenyum geli. Jam sudah menunjukkan pukul 9.00.. Cukup lama juga ia tadi berbicara dengan Kakashi-sensei dan Haruna Sakura.. Mengingat upacara penerimaannya pasti sudah selesai, ia pun melangkahkan kakinya menuju kafetaria untuk menemui kawan-kawannya. Ia sudah mengetahui kebiasaan teman-temannya yang malas mengikuti upacar konyol seperti itu...
Benar saja, ketika ia sampai di kafetaria, ia melihat meja yang biasa ditempatinya di penuhi oleh orang-orang yang ia kenal dengan baik.. Meskipun ia dan teman-temannya berbeda jurusan mereka pasti menyempatkan waktu untuk tetap bersama.. Yah, setidaknya agar persahabatan yang telah mereka jalin sejak SMA tidak putus begitu saja. Baru saja ia hendak menghampiri teman-temannya, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang memanggil dirinya tentu saja suara itu berasal dari dari meja yang hendak ia tuju..
"SASUKEEE.... Ke sini doong! Udah lama kita gak ketemu.. Hahaha..", teriak seorang perempuan berambut pirang panjang yang Sasuke kenali sebagai Yamanaka Ino.
"Wah.. Ino, sepertinya lebih baik aku menjauh darimu. Teraikanmu yang cempreng itu membuat kupingku terbakar.. Serasa di beri wasabi." ledek Kiba.
"Diam kau, pawang anjing! Lebih baik kau urusi Akamaru-mu itu! Sekalian perhatikan pasangan yaoimu, si Shino." balas Ino yang diikuti tatapan menusuk Shino.
"Aku setuju dengan Kiba. Ino-chan, kurasa kamu napsu sekali memanggilnya. Jangan-jangan, kau sudah tak menyukaiku lagi ya?" goda Sai.
"Ah... Jangan gitu dong darling.. Kamu kalau cemburu imuth deh, kayak mayat, eh, becanda deng! Kayak Brad Pitt kok, jangan ngambek ya sayang..", rayu Ino.
"Ah.. Ino, kamu emang my soulmate… Muahh, honey, sayang.." balas Sai sambil mendaratkan kecupan manis di pipi Ino yang pasti membuat Ino kaget.
Sasuke pun datang, lalu duduk di tempat favoritnya, yaitu di sebelah Shikamaru. Sedangkan Shikamaru sendiri masih terlelap di atas kamus yang ia anggap sebagai bantal. Dan tiba-tiba saja, 3 orang asing mendatangi mereka yang sedang asyik mengobrol.
"Shikamaru… sudah kuduga, kamu ada di sini. Maaf ya.. Aku baru bisa nemenin kamu sekarang.. Yah, abis harus nungguin anal-anak OSPEK yang masih culun-culun." Orang yang tadi berteriak berlari dari gerombolan saudara-saudaranya dan segera duduk di tempat kosong samping Shikamru yang memang masih kosong.
Sedangkan saudara-saudaranya melihat sengit ke arah mereka berdua. Yang satu berambut merah dan yang satu lagi berambut hitam pendek. Mereka adalah Gaara dan Kankurou yang baru saja mengospek mahasiswa-mahasiswa baru. Lalu, mereka duduk di dekat Sasuke.
"Shikamaru sayang.. bangun donk!!" ucap Temari sambil menowel-nowel pipi Shikamaru.
"Ehmmm…ehmm.. Apaan sih? Ini tangannya kayak tangan monyet. Hush.. hush.. Pergi sana, jangan ganggu aku, aku ini seorang pangeran!", lindur Shikamaru yang diikuti oleh tawa keras dari teman-temanya. Sekonyong-konyong muka Temari memerah. Ia menatap marah Shikamaru sedangkan Gaara dan Kankurou sudah bersiap siap untuk menghajar Shikamaru.
"SHIKAMARU TOLOL!! BAKA!! Jangan samakan aku dengan MONYET! Kalau aku monyet, berarti kau adalah pangeran monyet! Makan mimpimu sana, dasar nanas, pemalas, juragan rusa! Cium monyetmu sana! Lihat saja, akan kujodohkan kau di Taman Safari Konoha!" teriak Temari sambil pergi meninggalkan Shikamaru. Lalu Shikamaru pun terbangun dari tidurnya. Ia menatap teman-temannya satu per satu.
"Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi??" ucapnya sambil menguap dan mengorek-ngorek kuping, lalu ia melihat ke arah Temari yang mukanya merah padam.
"Eh Temari kok mukamu merah kayak.. Aww…!" teriak Shikamaru yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Kalimatnya sudah terpotong oleh lemparan kamus tebal yang dilempar Temari. Kamus itu tepat mengenai wajah Shikamaru, sehingga wajah Shikamaru benar-benar seperti nanas rebus sekarang.
"BETHEEEE, AKU NGAMBEK!" teriak Temari sambil pergi meninggalkan Kafetaria.
"Sebenarnya ada apa sih? Dasar singa ganas, seenaknya saja melempar kamus!" gerutu Shikamaru sambil mengusap-usap mukanya yang terkena kamus setebal 1000 halaman.
"Shikamaru, cepat kejar Temari! Atau kau terpakasa harus kami cekek, dan kami buang ke dasar jurang yang terdalam!" ancam Gaara dingin.
"Cih, terserahlah! Aku pergi!" Shikamaru pun berlalu dari kafetaria untuk mengejar Temari yang bete.
Beberapa detik setelah Temari dan Shikamaru pergi...
"HWAHAHAHAHAHHAHAHA!" mereka tertawa bersamaan (AN: penegcualian untuk Gaara, Kankurou, Sasuke, Shino –stay cool mode ON-)
"Bisa kau bayangkan betapa tolonya Shikamaru?" ucap Kiba
"Ia adalah cowok tertolol yang pernah kujumpai! Ckckck.." lanjut Ino.
"Mungkin kau dan Gaara harusnya lebih protektif lagi pada Temari.." goda Sai kepada mereka Kankurou dan Gaara.
"Diam! Kalian kalau tidak ingin di sabaku oleh Gaara kan?" balas Kankurou. Mulutnya manyun seperti bebek.
"Hohoho.. Oke oke.. Kita ganti topik. Oh ya, Sasuke kok kamu telat? Padahal aku dan Sai saja yang biasanya datang telat saja bisa mendahuluimu kali ini.." tanya Ino.
"Mungkin hari ini hari sialku! Tadi aku dipanggil oleh Kakashi-sensei, dan sialnya, sekarang aku harus menjadi guide seseorang yang menyebalkan.", ucap Sasuke sambil manyun.
"Owhh yeah?? Hahaha... Setidaknya kau harus bersyukur, tidak mendapatkan tugas yang merepotkan seerti aku dan Ino! Melayani anak-anak OSPEK yang masih polos", ujar Sai.
"Aku rela memberikan apapun yang kupunya untukmu, asalkan kau bersedia untuk bertukar temapat denganku! Dia orang yang menyebalkan!", Sasuke menggerutu.
"Ngomong-ngomong, anaknya cewek apa cowok? Kan lumayan, kalau cewek bisa dikecengin!" Tanya Kiba sambil menyisir-nyisir rambutnya dengan gaya Elvis Presley.
"Dia cewek, tapi aku tidak cukup yakin melihat dirinnya yang urakan. Rasanya, aku kasihan melihat ibunya! Kira-kira, ibunya ngidam apa ya pas mengandung dia? Sehingga mendapatkan anak yang urakan, bahkan lebih urakan dari Temari! Ooh.. kau jangan melihatku seperti itu gaara! Aku hanya megatakan yang sesungguhnya.", jawab Sasuke santai sambil memesan expresso pada salah satu penjaga kantin.
"Ohh.... Ternyata begitu-begitu kau menyimapan rasa prihatin juga padaku? Bahkan mendalam ke ibuku, karena mempunyai anak yang urakan seperti aku, SENPAI." bisik seseorang di telinga Sasuke. Hingga Sasuke menjadi geli sendiri. Tapi.. Tunggu! Rasanya ia mengenal suara ini. Suara yang tadi pagi ia temui, dan suara yang paling menyebalkan yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
"Diam kau, Sakura! Tidak sopan bersikap kepada senpaimu ini.." desis Sasuke tajam tanpa melirik ke arah Sakura sekalipun.
"Lagipula, apa yang kau lakukan di sini? Bukannya seharusnya kau kembali pulang, dan kembali ke dalam pangkuan ibumu yang sudah menunggumu sambil mengadu 'aku punya senpai yang galak' sambil menangis?" ledek Sasuke yang di sambut oleh tawa teman-temannya.
Wajar saja muka Sakura saat itu langsung memerah menahan tangis. Tapi, ia tahu menangis hanya akan membuat dirinya semakin di permalukan. Maka, ia pun tersenyum menahan amarahnya sambil menatap teman-teman Sasike satu persatu, Ino yang menegrti perasaan Sakura langsung mengerti dan meminta Sasuke menutup mulutnya, sedangkan Sai terpaku melihat Sakura. Bukan karena ia jatuh cinta, tapi itu mengingatkan nya kepada seseorang yang paling di benci oleh Sasuke.
"Sasuke tutup mulutmu! Nggak sopan tau! Biar begitu dia kan cewek, dan aku pasti akan sangat membencimu kalau kau jadi dia." ujar Ino.
"Kau saja yang terlalu baik padanya, Ino. Jangan liat dari luarnya, tapi lihat sikapnya yang seperti singa liar." ucap Sasuke sambil menyeruput expresso yang ia pesan.
"Owhh.. Kau terlau ganas padanya, pantas saja kau dijuluki ice prince! Lihat kelakuanmu, memperlakukan cewek seperti itu? Bukan kelakuan seorang gentleman Bro.. Kau tidak melihat dia ya? Dia sangat cantik, dan aku yakin mataku tak pernah salah, jadi kamu ya yang bernama Sakura?" omel Kiba pada Sasuke.
Sakura hanya tersenyum kepada Kiba. Otomatis, Kiba langsung mabuk kepayang. "Iya.. Kenalkan, aku Haruna Sakura.. Mulai sekarang aku akan menjadi salah satu murid di sini.. Hehehe.." Saat itu Sai yang sedang menyeruput honey lemonadenya tersedak. Ia benar-benar tak menyangka bahkan sampai namanya mirip..
'Betapa kecilnya dunia ini..' pikir Sai.
"Ohh.. Sudahlah Sakura, jangan diambil hati! Kau duduk saja disini, bersama kita. Banyak yang ingin kita tanyakan, tidak ada yang keberatan kan?" ucap Kiba sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala tanda setuju kepada usulan Kiba. Sedangkan Sasuke hanya diam melihat Sakura duduk di sebelahnya sekarang.
"Jadi namamu Haruna Sakura ya?" tanya Ino yang memulai percakapan.
"Hehe.. Iya, aku akan studi banding disini, jadi mohon bantuannya ya!" ucap Sakura sambil melirik yang lain.
"Aku tidak sudi membantumu" selak Sasuke cepat.
"Diam Sasuke! Tidak ada yang memintamu untuk bicara!" gerutu Ino sambil cemberut.
"Dan kau juga tidak punya hak untuk memerintahku, Ino." balas Sasuke, yang diikuti oleh tatapan sengit dari Ino.
"Sudahlah, jangan berantem disini! Tidak baik untuk Sakuranya juga. Memperburuk citra kita saja.." lerai Shino.
"Baiklah, aku mengalah padamu, Sasuke. Bisa-bisanya kau berkata sekejam itu ke Sakura. Bisa kau lihat kan, betapa manisnya dia? Aku jadi curiga, jangan-jangan, kau sebenarnya itu punya hati sama dia?" keluh Ino, sedangkan Sakura yang dipuji mukanya bersemu merah.
"Sudah Ino-senpai, aku jadi malu kalau kau puji terus seperti itu."
"Ah.. Sakura, tidak apa-apa kok! Kau jangan memanggilku senpai begitu, kita kan seumuran! Aku yakin itu! Hehehe..."
"Hei, kenapa kau begitu mudahnya memanggil dia senpai?" celetuk Sasuke sambil menunjuk ke arah Ino.
"Karena kau tidak pantas dipanggil senpai! Apalagi dengan tingkahmu itu, Sasuke!" ledek Kiba sambil bersiul-siul. "Hei kankurou.. Gaara kan ini bukan tempat untuk belajar? Ini kan waktunya have fun??"
"Hmm... Sepertinya kami berdua harus pergi. Chiyo-baasama harus memeriksa tugas-tugas kami.. Kalau gitu, sampai nanti" pamit Kankurou kepada yang lain.
"Kankuro, Gaara, tunggu! Aku ikut dengan kalian! Aku juga harus menemui Kurenai-sensei. Oke, aku pergi!" kata Shino sambil menyusul Gaara dan Kankurou yang telah menjauh.
"Oke, berarti sekarang tinggal kita berlima. Hei Sakura, kenapa tidak pesan minuman atau makanan?" tanya Ino.
"Ah.. Tidak Ino-senpai. Aku tidak lapar dan haus.. Hehehe.." jawab Sakura dengan ekspresi yang manis..
"Oh.. Sudah kubilang kan Sakura, tak usah memanggilku senpai! Itu terlalu formal", bujuk Ino.
"Loh? Tapi kata Sasuke, kalau kau tidak di panggil senpai kau akan marah padaku?" tanya Sakura dengan bingung.
"Hahaha!! Aku tidak mungkin sesensitif itu Sakura, dan kau! Lagi-lagi kau seenaknya saja menjatuhkan diriku di depannya.", ucap Ino sambil menunujuk Sasuke dengan muka gahar.
"Hei Ino sayang.. Sudah cukup, lebih baik kau tenang.. Ada aku di sini, Sasuke daripada kau sibuk menggrecoki Ino, lebih baik kau melakukan sesuatu yang lebih berguna." perintah Sai.
"Tidak mau, expressoku belum habis. Tidak mungkin aku meninggalkan expressoku yang enak ini." balas Sasuke sambil menyeruput kembali expressonya. Dan sesaat wajah Sai berubah menjadi sangat dingin. Begitu pula dengan Ino. Mereka berdua sudah cukup kesal dengan tingkah Sasuke. Biasanya Sasuke tidak sedingin ini, dan tidak sekasar ini..
Sedangkan Kiba tiba-tiba saja menghilang. Seingat Sakura, Kiba sedang pergi ke toilet, jadi mau tak mau ia harus turun tangan. Ia tak mau kalau harus membuat persahabatan mereka renggang.. Biarpun baru pertama kali bertemu, Sakura sudah tau kalau mereka bertiga pasti sudah bersahabat sejak lama. Dan tiba-tiba terlintas ide di pikiran Sakura, dan bila ia melakukan ini.. Oh, tidak! Pasti ia akan di benci habis-habisan oleh Sasuke.. Tapi ada baiknya juga, ia pasti akan mendapat simpati dari Ino. Itulah sebabnya kenpa ia benci hari Senin. Selalu saja ada masalah di hari itu, dan yang lebih parah, sekarang masalah itu terjadi di kampus yang baru..
Tapi ia harus turun tangan! Dan saat yang tepat telah tiba.. Ketika Sasuke sedang memegang expressonya, Sakura dengan sengaja menyenggol tangan Sasuke yang mengakibatkan expresso yang panas itu pun membasahi baju Sasuke. Juga membuat Sasuke tersedak karena expresso itu seharusnya diminum dari mulut, tapi ia malah meminumnya dari hidung. Dan otomatis Sasuke meringis kepanasan. Sakura yang iseng sengaja memebantu Sasuke dengen menggunakan air mineral yang diminum Ino. Ia sengaja mengguyur Sasuke agar basah kuyup. Lalu, ia pun dengan polosnya sok memninta maaf
"Maaf ya, Sasuke-SENPAI.. Aku tidak sengaja.." ucap Sakura melas.
Sedangkan Ino dan Sai tertawa terbahak-bahak melihat Sasuke dikerjai oleh Sakura. Biarpun mereka tidak menyadari maksud perbuatan Sakura, mereka pasti hanya menyangka Sakura ingin membalas dendam karena membuatnya susah, dan Kiba yang baru saja kembali dari toilet terheran-heran melihat tingkah teman-temannya.
"Ada apa ini?" tanya Kiba yang masih bingung melihat kondisi di sekitarnya.
"Kau akan kupanggil jenius kalau kau bisa menebaknya, pawang anjing!" ujar Ino sambil terbahak-bahak.
"Hei Ino.. Berhentilah mengejekku, kan kita sudah damai...", ujar Kiba sambil menyerengit.
"Oke oke.. Biar aku yang menjelaskannya saja Ino.. Begini Kiba, tadi, Sakura tidak sengaja menyenggol Sasuke yang sedeng memegang expressonya. Lalu, ya, bisa kau tebak sendiri kan? Dan akhirnya, karena panik, Sakura mengguyur Sasuke dengan air mineral milik Ino.. Dan sepertinya, Sasuke belum sadar akan apa yang terjadi! Lihat saja ekspresinya! Kau bisa lihat sendiri kan Kiba? Hahahahaha..." ujar Sai terputus-putus.. Karena tawa menyelingi kalimatnya.
Dan bisa ditebak, Kiba mengeluarkan reaksi yang sama seperti Ino dan Sai, yaitu, tertawa terbahak-bahak.
"Wahahahahahaha!! Mendengar ceritanya saja aku tertawa terbahak-bahak, apalagi melihat kejadiannya langsung! Wah, aku bisa mati tertawa tuh.." ucap Kiba sambil nyengir.
Sakura pun mau tak mau tertawa, lalu ia meletakkan air mineral milik Ino yang isinya tinggal seperlima ke meja..
"Yah, mungkin seharusnya Sasuke perlu diberi sedikit pelajaran. Lihat tampangnya sekarang, sangat hancur! Kemana sang prince ice kebanggaan Konoha Art University? Hahahaha.." ledek Ino sambil tertawa.
"Seharusnya aku membawa kamera untuk mengabadikan momen bersejarah ini!" ucap Sai sambil sok-sok mengambil gambar dengan kamera imajiner ditangannya.
"Dan yang paling parah, rambut ayammu itu! Benar-benar tak terbentuk.. Wahh.. Sepertinya apabila sekarang aku disejajarkan dengan Sasuke, pasti orang-orang akan bilang aku jauh lebih tampan... Hahahaha..." celetuk Kiba usil.
"Bisakah kalian semua diam? Dan sepertinya, kalian tidak ada yang berniat untuk membantuku ya? Teman macam apa kalian ini? Kerjanya hanya menggrecoki orang?!" gerutu Sasuke sambil berusaha mengeringkan tubuhnya.
"Gimana kami mau membantumu kalau kaunya saja bersikap menyebalkan seperti itu? Kau saja yang terlalu beruntung mempunyai teman sebaik kami." ucap Sai.
"Cih, terserah kalian sajalah.. Aku tak peduli.. Ah... dan kau Sakura, sepertinya aku tadi melihatmu seperti sengaja membuat expressoku jatuh. Apa maksudmu dengan hal itu?" tanya Sasuke tajam..
Saskura mati kutu di tembak pertayaaan yang sengit itu. Dia bingung harus menjawab apa..
"Ehmm, anu.. Sasuke.. ehm.. itu.. ngg... Tadi ada angin kenceng banget, terus dari pada masuk angin, lebih baik aku minggir sedikit deh, abis hari ini aku ngga bawa cardigan.. Hehehe.." Sakura ngeles, biarpun ia tahu alasan itu tidak masuk akal.
Tapi Sakura memang tidak membawa cardigannya. Ia hanya memakai blouse tipis berwarna hijau emerald yang dipadukan dengan jeans skinny coklat yang membuatnya terlihat seperti tumbuhan berjalan sangat berbeda dengan Ino yang dengan cueknya memakai kaus lengan pendek mango dan celana skinny levi's. Yah.. meski begitu tetap saja Ino pantas memakainya.
"Oh ya?" tanya sambil mengangkat sebelah alis "Sepertinya untuk membuat alasan pun kau masih harus banyak belajar ya? Bukannya kau tahu, kafetaria ini kan pake AC, ngga mungkin ada angin! Bisa-bisa ACnya rusak lagi!"
'Astaga.. Kok aku bisa lupa ya? Kafetarianya kan pake AC! Gimana bisa ada angin sepoi-sepoi! Aduh mati aku! Sial banget sih hari ini' ucap Sakura dalam hati sambil menyesali kebodohannya sendiri.
Ino menyadari perubahan raut muka Sakura yang tiba-tiba saja berubah drastis, dan ia pun bergegas membantu Sakura.
"Oh.. Sudalah Sasuke, masa masalah kecil seperti itu saja diributkan? Aku jadi bertanya-tanya, umurmu tuh berapa sih? Ckckck.. Sakura emang beneran gak sengaja kok. Aku sama Sai saksinya, ya kan?" kata Ino sambil menyikut pelan lengan Sai.
"Iya, aku sama Ino saksinya. Sudah, jangan membuat ia takut apalagi ia masih baru." ucap Sai sambil mengusap-usap lengannya yang tadi disikut oleh Ino. Ternyata, Ino terlalu keras menyikut Sai.
"Oh.. menurutku dia sudah lama berada di sini. Aku sudah menemuinya dari pagi tadi tuh. Menurutku, ia sudah termasuk anak lama di sini, kalau begitu kenapa ia berbohong?" tanya Sasuke sinis.
"Siapa yang gak bakal berbohong kalau ngeliat tatapan yang mirip uler kaya gitu? Apalagi dia cewek, dasar Sasuke payah." bela Ino
"Cih, ya sudahlah. Emang dasarnya urakan sih. Kasian banget aku yang ketiban sial jadi mentor plus guidenya, mimpi apa aku semalam?!" keluh Sasuke sambil memalingkan muka.
Dan ketika Sasuke memalingkan muka, Ino pun menatap Sakura sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Begitu juga dengan Sai. Sakura membalas tatapan mereka dengan tatapan lega dan penuh terima kasih kepada mereka berdua.
"Oke-oke.. Daripada kita berantem terus, lebih baik kau ganti bajumu sebelum orang-orang berdatangan ke sini. Kau sangat beruntung karena di sini masih sepi! Lihat wujudmu sekarang, seperti manusia coklat yang sangat... jelek" ucap Kiba yang sejak tadi tidak membuka mulutnya.
"Yah.. ini cocok untukmu. Sekarang kau tidak perlu repot-repot lagi membeli expresso.. Jilat saja lenganmu, rasanya pasti sama kok. Manusia kafein yah.. Mungkin itu pantas untuk nama barumu di phonebook HP-ku" ejek Sai yang diikuti tawa dari Kiba.
"Oh.. Sudahlah bercandanya, ayo Sasuke, cepat turuti ucapan Kiba! Bukannya kau selalu membawa baju cadangan? Ganti bajumu, jangan mempermalukan kami seperti ini." perintah Ino.
"Oke oke, aku ganti bajuku.. Tapi sepertinya, aku dapat ide baru untuk hari ini.. Daripada aku harus pulang dan bertemu Anikiku yang sangaaaat sangaaaat kucintai dalam tanda petik." Sasuke tersenyum iblis
"Sepertinya aku tadi mendengar bahwa Sakura belum melihat-lihat kampus ini ya? Bagaimana kalau dia ikut bersamaku, sehingga ia tidak tersesat di sini.." dan Sasuke pun tersenyum menang.
"Bukannya lebih bagus kalau Sakura di sini? Dan sepertinya, ia sudah mulai capek. Kasihan dia." bela Ino.
"Tidak ada kata kasihan dalam kamusku! Itu hakku sebagai guidenya. Jadi, tak ada alasan untuk kalian untuk membelanya." ucap Sasuke dengan senyum kemenangan mengembang di bibirnya.
"Oh.. kau sangat meNYEBALkan." ucap ino bete. Dengan penekanan pada kata sebal tentunya.
'Oh no, no, NO! Gila, dia sadis banget! Astaga, aku sial banget dapet guide kayak dia! Tau gitu, aku ngga bakal isengin dia deh! Dan lebih parahnya, dia bakal ngajak berkeliling hari ini!! Siang siang begini!! Mana panas banget!! Kayaknya aku harus siap-siap liat kakiku bakal berkonde!' ucap Sakura dalam hati.
"Ikut aku, Sakura. Kita harus menuntaskan apa yang belum selesai di antara kita!" ucapan Sasuke terputus.
"Oh iya, sebelum nya.." ucapan Sasuke kembali terputus..
Dan tanpa di sangka-sangka, Sasuke membuka kausnya di depan umum. Memperlihatkan otot-otot nya yang 6 pack, ramping dan putih. Astagaaa, mimpi apa Sakura semalam? Sakura hanya bengong dengan mulut terbuka seperti orang idiot, sedangakan Ino langsung menutup matanya, takut Sai cemburu.
Sakura pun kembali sadar dari kekagumannya setelah ia kesakitan karena Sasuke melempar tas selempangnya ke arah Sakura. Ia masih belum pulih dari kekagetannya. Dan tanpa sadar, ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah..
"Apa-apaan nih?" tanya Sakura sambil berusaha marah, walaupun ia tahu pasti mukanya sangat merah sekarang.
"Bukan apa-apa kok. Cuman tas doang, bawain ampe aku ganti baju! Kau liat kan, badanku bisa lecet bawa tas kayak itu!!" Sasuke menunjuk tas selempangnya yang memang terbuat dari bahan yang cukup kasar, namun keren.. Lalu, Sasuke berjalan keluar kafetaria..
"Tapi kan berat..." keluh Sakura sambil mengernyit.
"Deritamu. Itu belum seberapa, dasar cengeng, singa pemalas." ejek Sasuke tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sakura yang masih belum berjalan di belakangnya.
Kontan saja telinga Sakura panas mendengar ejekan Sasuke, dan Sakura pun mengikuti langkah Sasuke sambil memakinya...
"Semoga saja Sakura selamat dari Sasuke. Anak itu kan sadis." ucap Sai sambil sok-sok berdoa kepada tuhan..
"Sial, Sakura cakep banget sih! Tapi kenapa ia harus dapet mentor kayak si Sasuke itu." gerutu Kiba. Tapi, pada saat itu pula, pikirannya kembali ke masa lalu.. Ia berusaha mengingat hal itu... dan tiba-tiba saja, ia teringat sesuatu yang ia sembunyikan.. Sesuatu yang akan membuatnya sengsara apabila hal itu terungkap, merupakan masa lalunya yang paling kelam dan saat itu seketika mukanya pucat..
"Kau kenapa Kiba? Kok tumben nggak banyak omong?" tanya Ino yang penasaran..
Kiba yang saat itu masih teremenung tiba-tiba saja tersadar dari lamunannya.. Mukanya pucat seketika..
"Hei, kau kenapa? Mukamu pucat begitu!" ujar Ino. Sai juga mengekspresikan rasa khawatirnya.
"Ehm...ehm... Nggak papa kok.. Hehehe... Aku balik dulu ke kampus, ada urusan ma Shino! Ada yang mau aku tanyakan ba.. ba.. baru ingat sekarang." jawab Kiba gagap dan tergesa-gesa. Mukanya masih pucat karena tiba-tiba teringat dengan sesuatu, yang sebenarnya tak ingin ia ingat, lalu ia menyelempangkan tasnya..
"Dahh Ino cantik" ucap Kiba sambil menegcup sekilas pipi Ino. Jelas saja saat itu muka Ino memerah. Ia berusaha memarahi Kiba. Sayangnya, ketika ia berbalik, Kiba telah menghilang dari pandangan....
"Tidak mungkin ia kembali ke sini.. Tidak, tidak mungkin bukannya ia... Arghh!! Aku harus menjauh darinya! Tidak tidak, kenapa aku teringat dia lagi? Astaga... Ya tuhan, ampuni aku ini, aku sudah melakukan hal buruk untuk menyelamatkan diriku... Astaga, semoga ia bukan..." bisiknya dalam hati sambil berlari menuju ke dalam kampus.
"Kibaaaa, kau aneh!!" gerutu Ino. Lalu ia berpaling ke arah Sai, "Sayang jangan marah ya... Sama yang tadi, Kiba emang gitu kalo liat orang cakep dikit.. Padahal udah ada yang punya!" bisiknya pada Sai.
Tapi, keheningan yang melanda Sai sangat berpengaruh. Sai tidak membalas apa-apa.. Pikiran nya masih terhanyut akan sesuatu dalam pikirannya.. Bahkan, ia tidak sadar kalau Kiba melakukan sesuatu yang seharusnya tak boleh dilakukannya ke Ino.. Sepertinya ia tahu alasan Sasuke begitu membenci Sakura.. Karena itu juga mengingatkan dia kepada seseorang yang paling di benci Sasuke...
"Sai, kau jahat sama aku! Kamu ngga peduli sama aku, kamu lagi mikirin apa sih, sampe bikin ga menyimak omongan ku...? Sai jahat, aku kesel.. Udah ah! Percuma ngomong sama mayat hidup!" maki Ino sambil bergegas meninggalkan Sai.
Sai tiba-tiba tersadar dari pikirannya, dan ia sudah melihat Ino menjauh.. Sai pun bergegas mengejarnya....
'Sial! Jadi bikin Ino marah! Emang ngga ada untungnya mikirin dia atau Sasuke, bawaannya sial mulu! Ckckck...' makinya dalam hati, lalu berlari mengejar Ino yang telah keluar dari kafetaria.
"Inoooo, tunggu, maafin akuuuuu!!!" teriak Sai dari kejauhan.
'Tapi, good luck Sasuke.. Semoga kau beruntung' ucap Sai dalam hati....
TBC
Kenapa namanya Haruna Sakura? Hahaha itu gak salah ketik kok, tapi emang ada maksud yang sebenarnya yang jelas Sakura di cerita tadi mukanya sama kayak Haruno Sakura di Naruto, jadi anggep aja dia Sakura yang biasa....
