flashback~
"Kyu, ada yang ingin aku tanyakan" ujar Sungmin memulai pembicaraan.
Kyuhyun yang baru saja kembali dari sebuah toko minuman itupun menatap sang kekasih bingung. Diulurkan segelas minuman untuk Sungmin.
"Gomawo" ujar Sungmin.
"Tumben sekali kau minum jus? Tidak biasanya" komentar Kyuhyun seraya meminum jusnya.
Sungmin hanya tersenyum sebentar sebelum menjawabnya, "Hanya ingin saja" ujarnya santai.
"Katanya ada yang ingin kau katakan, heum?" tanya Kyuhyun lembut.
Namja tinggi itu menyandarkan kepalanya pada pundak Sungmin, menjadikan pundak Sungmin sebagai bantalnya.
Sungminpun diam, ia bingung harus mengatakannya darimana. Ia harus meyakinkan kekasihnya itu. Ia tidak yakin jika sang kekasih akan menerima apa yang diucapkannya.
"Eum... Itu... " ujar Sungmin gugup.
Duk~
Tiba-tiba saja sebuah bola mengenai kepala Kyuhyun yang tengah nyaman itu. Sontak saja Kyuhyun menegakkan tubuhnya, kemudian berbalik. Diambilnya bola yang mengenai kepalanya itu, kemudian menemukan sang pemilik bola sepertinya.
Disana, dapat ia lihat seorang bocah kira-kira usianya lima tahun tengah berlari kearahnya.
"Ahjussi, Yoonnie mau bola Yoonnie" ujar anak itu.
Tangan kecilnya terulur untuk menggapai bola miliknya.
"Jadi ini bolamu?!" seru Kyuhyun.
Bocah itu mengangguk polos, tangannya masih terulur keatas.
"Kau mau bola ini?" tanya Kyuhyun.
"Ne!" jawab sang bocah mantap.
"Kau tahu jika bola ini sudah mengenai kepalaku?! Dan dengan mudahnya kau memintanya?!" ujar Kyuhyun.
Bocah itu sedikit takut saat dirasanya namja yang membawa bolanya tengah memarahinya. Perlahan, tangan kecilnya turun ke samping tubuhnya, kemudian iapun menunduk takut.
Sungmin yang melihatnya segera berdiri, kemudian mengambil bola yang Kyuhyun pegang dengan mudahnya. Kemudian beralih pada bocah yang masih terdiam itu.
Iapun berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang bocah, "Ini bolamu" ujar Sungmin lembut.
Bocah itupun mendongak, menatap yeoja baik hati di hadapannya. Dengan takut-takut diambilnya bola miliknya, sesekali melihat kearah Kyuhyun yang tengah berdecih itu.
"Gomawo, nuna" ujar anak itu singkat sebelum mengecup dahi Sungmin dan segera berlari menjauh.
"YA! KEMARI KAU! AKAN KUBUAT PERHITUNGAN DENGANMU KARENA SUDAH MENCIUM SUNGMINKU! YA!" teriak Kyuhyun hampir saja mengejar sang bocah sebelum Sungmin menarik lembut lengannya dan menariknya duduk kembali di bangku.
"Berani-beraninya bocah itu! Awas saja kalau aku bertemu dengannya lagi! Tak akan kulepaskan begitu saja!" sungut Kyuhyun kesal.
Sungminpun menatap ragu pada kekasihnya itu, "Sudahlah, Kyu. Bukankah anak-anak memang seperti itu? Menurutku mereka lucu" ujar Sungmin seraya mengelus-elus lengan Kyuhyun.
Kyuhyunpun kembali menyandarkan kepalanya pada pundak Sungmin, "Tapi, aku tak menyukai anak-anak, Minnie. Dari dulu. Mereka seperti pengacau saja" ujar Kyuhyun masih dengan nada kesalnya.
Sungminpun diam, kemudian mengelus rambut Kyuhyun pelan. Ditatapnya nanar kepala kekasihnya yang masih bersandar nyaman di pundaknya.
"Gurae" gumam Sungmin pelan.
"Ah, tadi ada yang ingin kau katakan bukan? Apa itu?" tanya Kyuhyun penasaran.
Sungminpun tersenyum miris yang tak dapat Kyuhyun lihat, "Bukan hal yang penting, bahkan aku sudah lupa" ujarnya.
Kyuhyunpun memainkan jari-jemari Sungmin yang bebas, mengecupnya sesekali.
"Mianhae karena aku belum bisa menikahimu, aku belum siap" ujar Kyuhyun pelan.
Sungmin hanya mengangguk paham, "Gurae, aku akan selalu menunggumu hingga siap" balasnya.
-
flashback end~
-KYUMIN-
THAT'S OUR SON / KYUMIN / GS / TWOSHOOT / CHAPTER 2 / END
Author : Amilia Marisca Kyumin Shipper
Cast : kyumin, dll
genre : family, romance
warning : maaf kalo pendek,banyak typo, judul tidak singkron dengan cerita, alur cerita bisa ketebak, dll. Maklum masih pemula.
-KYUMIN-
"Hannie, bagaimana kalau kali ini kau yang menjaga Minhyunnie?" ujar Heechul dengan nada sedikit memohon.
Hangeng yang tengah menyuapi Minhyun sarapan itupun menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap heran istrinya.
"Kau tahu sendiri bukan, jika aku ke kantor untuk bekerja, sayang" ujar Hangeng dengan nada memelas.
"Hari ini aku harus ke rumah sakit, ada pemeriksaan bulanan, dan sekalian menjenguk temanku yang sakit. Aku tak tega jika mengajak Minhyunnie kesana" jelas Heechul.
Hangengpun sedikit berfikir. Ia tahu jika istrinya akan menolak mentah-mentah jika ia mengusulkan pembantu untuk menjaga Minhyun. Memang Heechul tak ingin cucunya dijaga orang luar seperti pembantu atau babysitter. Heechul hanya belum percaya saja dengan orang luar. Tapi, Hangeng juga menyetujui ucapan Heechul mengenai rumah sakit.
"Nanti siang aku akan menjemputnya, otte?" tawar Heechul.
"Yaksok?" ujar Hangeng terlihat menyetujui.
Heechulpun mengangguk mantap, kemudian memeluk sayang suaminya itu.
"Haboji, ni mana? Hunnie akut" ujar Minhyun seraya mengeratkan pelukannya pada kemeja kakeknya.
Baru saja Hangeng menapakkan kakinya di kantornya, dan reaksi Minhyun sudah begini.
"Jangan takut, ada Haraboji. Ah, ada appa Hyunnie juga, loh" ujar Hangeng.
"Appa? Mana? Hunnie mu tuyun!" seru Minhyun melepaskan pelukannya dan segera mencoba untuk turun dari gendongan Hangeng.
Hangengpun menurunkan Minhyun, kemudian menggandeng tangan kecil itu. Sedikit susah memang, karena tinggi Minhyun yang bahkan belum mencapai pinggangnya. Jadi, ia harus sedikit membungkuk.
"Nanti dulu, appa masih bekerja" ujar Hangeng memberi penjelasan.
Minhyunpun mendongak, "Appa kelca?" tanyanya lucu.
Hangengpun mengangguk sebagai jawaban, kemudian menuntun Minhyun ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana ruang kerja Hangeng berada.
Hangengpun tak mau ambil pusing para karyawannya yang menatap penasaran pada Minhyun. Toh, mereka tak akan berani padanya.
Setelah sampai di dalam ruangannya, Hangengpun segera mendudukkan Minhyun diatas sofa yang tak jauh dari meja kerjanya.
"Hyunnie main disini dulu, ne? Haraboji mau bekerja dulu" ujar Hangeng.
Dibukanya tas Minhyun yang berisikan mainan-mainan Minhyun, popok, pakaian, susu, dan perlengkapan milik Minhyun lainnya.
"Hhh.. Pantas saja berat, Chullie pikir Minhyun akan pindah? Kenapa membawa sebanyak ini?" gumam Hangeng.
Ia mengeluarkan mainan-mainan Minhyun, dan memberikannya kepada sang pemilik.
Tanpa waktu lama, Minhyunpun sudah tenggelam dalam dunianya sendiri, membuat Hangeng tersenyum saja. Hangengpun berjalan menuju meja kerjanya, kemudian mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Tiga jampun berlalu begitu cepatnya. Minhyun terlihat mulai bosan. Iapun menatap namja yang tengah berbicara dengan kakeknya itu.
Hangengpun berjalan kearah Minhyun, "Haraboji ada rapat sayang, Hyunnie dengan nuna dulu ne" ujar Hangeng memberitahu.
"Nuna? Capa?" tanya Minhyun.
"Nuna-nuna yang berada di ruangan sebelah. Atau Minhyunnie mau main dengan Hyung?" ujar Hangeng.
"Yung? Nuna? Hunnie mu main!" seru Minhyun semangat.
Hangengpun tersenyum, kemudian mengangkat Minhyun dan memberikannya pada sang sekertaris, namja yang tadi berbicara dengannya.
"Katakan pada mereka untuk menjaga baik-baik Minhyunnie, arra!" pesan Hangeng sebelum mengecup pipi chubbi Minhyun dan segera keluar dari ruangannya.
"Jadi namanya Minhyunnie? Aigoo, lucunya!" seru seorang karyawan dengan gemasnya.
"Ne, kalau begitu saya ke ruang rapat dulu" pamit sekertaris Hangeng sebelum beranjak pergi.
Sesaat setelah itu, para karyawan yeoja yang berada disana langsung saja mengerubungi Minhyun. Mereka terlihat begitu gemas akan bocah dua tahun yang tengah memandang mereka bingung itu.
"Hunnie mu cayan-cayan(jalan-jalan)" ujar Minhyun.
"Huh? Hyunnie bicara apa?" tanya salah satu karyawan mewakili pertanyaan karyawan-karyawan lainnya.
Minhyunpun merengut kesal, membuat para karyawan hendak mencubit pipinya jika saja tak ingat jika Minhyun adalah cucu dari direktur mereka.
"Cayan-cayan! Epeti(seperti) ni!" ujar Minhyun.
Iapun segera turun dari kursi, kemudian memperagakan pose berjalan.
"Cayan epeti ni!" serunya.
"Ah, jalan-jalan!" ujar salah satu karyawan.
Minhyunpun tersenyum senang seraya menepukkan tangannya, "Ne! Cayan-cayan!" ujarnya.
Langsung saja orang-orang itu berebut untuk menawarkan diri mereka untuk menemani Minhyun jalan-jalan.
"Ama yung aja!" ujar Minhyun memilih salah satu dari mereka.
Karyawan-karyawan lainnya terlihat kecewa karena tidak dipilih oleh namja lucu itu.
"Pai-pai!" seru Minhyun senang seraya berjalan keluar dengan digandeng seorang namja yang tidak ia kenal.
-KYUMIN-
"Minnie, ada yang ingin menemuimu" ujar Leeteuk.
Sungmin yang baru kembali dari mengantarkan makanan itupun mengerutkan dahinya bingung.
"Siapa, umma?" tanyanya.
"Ibunya Kyuhyun" jawab Leeteuk seraya tersenyum lembut.
Sungminpun membulatkan kedua matanya, seulas senyum terlukis sempurna di wajah manisnya.
"Jinja?!" tanya Sungmin antusias.
Leeteukpun hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Kemudian ia mendorong Sungmin agar segera menemui tamunya.
Sungminpun berjalan cepat kearah tangga menuju lantai dua, dimana ia tinggal. Lantai satu untuk rumah makan kecilnya, sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal.
Disana, di ruang tamu, telah duduk sesosok wanita paruh baya yang tengah duduk manis sambil membolak-balik sebuah majalah.
"Ahjumma!" seru Sungmin seraya berlari dan langsung duduk di samping Heechul, sang tamu.
Heechulpun meletakkan kembali majalah yang ia pegang ke atas meja di depannya. Kemudian memeluk singkat tubuh Sungmin. Ya, Heechul membohongi suaminya tadi, agar bisa menemui Sungmin.
"Aigoo, semakin cantik saja, eoh?" puji Heechul seraya menyingkirkan poni yang menghalangi dahi putih Sungmin.
"Ahjumma bisa saja" ujar Sungmin malu-malu.
"Ah, ahjumma mau minum apa? Biar Minnie siapkan" tambahnya.
"Tidak usah, Minnie disini saja, eoh? Ada yang ingin ahjumma tunjukkan padamu" ujar Heechul.
Wanita itupun meraih tas selempangnya yang berada di atas meja, kemudian mencari sesuatu sebentar, lalu mengeluarkannya.
Heechul menunjukkan sebuah album foto kearah Sungmin, kemudian iapun membuka album itu dari awal.
"Ini... Ini... Minhyunnie?" tanya Sungmin saat melihat foto pertama.
Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan. Sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengelus sebuah foto sesosok bayi yang tengah menatap dengan mata bulatnya yang polos. Tubuh Sungmin bergetar hebat, kedua matanya telah penuh oleh air mata yang sudah siap untuk keluar itu.
"Ne, ini diambil saat umurnya tiga bulan" jelas Heechul.
Heechul merangkul punggung bergetar Sungmin, mencoba memberi kekuatan pada yeoja itu.
Dibaliknya menuju foto kedua, menunjukkan foto bayi yang tengah tengkurap seraya memainkan sebuah boneka kecil di tangannya.
"Sudah bisa tengkurap?" tanya Sungmin.
"Ne, saat ia bisa tengkurap sendiri untuk pertama kalinya" jawab Heechul.
Sungmin tersenyum haru, dan lelehan air mata akhirnya jatuh juga membasahi pipi halusnya. Heechul membantu mengusap air mata Sungmin dengan lembut, sedangkan album fotonya Sungmin yang membawanya.
"Dia sangat menyukai ASI, dan menolak susu formula saat itu" ujar Heechul saat Sungmin membalik halamannya.
Foto Minhyun yang tengah menikmati susunya yang berada dalam botol.
"Jinja?" ujar Sungmin senang.
Walaupun Sungmin tidak dapat berada di samping Minhyun, paling tidak Sungmin sudah memberikan ASInya untuk Minhyun, melalui Heechul tentunya.
"Ne, lihat saja bagaimana lahapnya Minhyunnie" balas Heechul.
Sungminpun mengangguk, pertanda jika ia juga setuju dengan apa yang Heechul katakan.
Dibalik-balik terus album foto itu, mengomentarinya pada setiap foto, kemudian Sungmin hanya diam saja saat menatap satu foto.
"Waeyo, Minnie?" tanya Heechul saat dilihatnya Sungmin diam saja.
Heechulpun sedikit menggoyangkan bahu Sungmin, agar yeoja itu merespon ucapannya.
"Ini Minhyun?" tanya Sungmin terlihat terkejut.
"Ne, memangnya ada apa?" ujar Heechul.
Sungmin jadi mengulang ingatannya kembali, tepat pada kejadian beberapa hari yang lalu, dimana ia bertemu dengan seorang bocah manis di taman.
Ia jadi teringat akan ucapan bocah itu saat menyebut kata 'Hamonie' dan bagaimana ia menyebut namanya sendiri.
"Apa Minhyunnie menyebut namanya 'Hunnie' dan memanggil ahjumma 'Hamonie'?" tanya Sungmin menatap Heechul penuh harap.
"Eum. Bagaimana Minnie tahu?" ujar Heechul heran.
Langsung saja Sungmin meletakkan album foto yang ia pegang diatas meja, kemudian menghambur ke dalam pelukan Heechul. Dan pecahlah tangis yeoja manis itu.
Heechul hanya mengusap punggung bergetar Sungmin, "Ada apa, heum?" tanya Heechul lembut.
Sungminpun semakin terisak dalam pelukan Heechul. Bahkan untuk berbicara sekalipun ia belum sanggup.
Heechul memutuskan untuk menunggu Sungmin kembali tenang. Tangannya masih setia mengusap punggung Sungmin.
Setelah sepuluh menit berlalu, Sungmin baru bisa tenang kembali. Iapun melepaskan pelukannya.
"Beberapa hari yang lalu, Minnie berjumpa dengan Minhyun di taman" cerita Sungmin.
Sungmin jadi merutuki dirinya sendiri karena tidak mengenali Minhyun pada saat itu.
"Apa Minnie yang membelikannya ice cream?" tanya Heechul.
"Eum. Minhyun terlihat sangat menginginkannya, jadi Minnie belikan" jawab Sungmin seraya tersenyum, membayangkan wajah Minhyun.
-KYUMIN-
Minhyun terlihat tengah menarik tangan seorang karyawan kesana kemari, mengelilingi kantor yang lumayan besar itu. Tak jarang ia bertanya ini-itu pada namja yang menemaninya, hal-hal yang membuatnya penasaran.
"Yung, Hunnie mu cucu" ujar Minhyun dengan wajah yang memelas.
"Susu? Apa Hyunnie membawa susu tadi?" tanya sang karyawan.
Minhyunpun mengangkat bahunya, pertanda ia juga tidak tahu, karena yang menyiapkan perlengkapannya adalah neneknya. Ia tak tahu apapun.
Karyawan itupun mengernyit, kemudian sedikit berpikir.
"Hyung tanyakan dulu dengan sekertaris sajangnim, ne?" ujar karyawan itu seraya menuntun Minhyun ke sebuah sofa panjang yang ada di dekat jendela kaca besar.
Minhyun segera naik ke atas sofa, karena ia merasa kakinya pegal karena terlalu banyak berjalan, kemudian duduk diatasnya.
Sedangkan sang karyawan terlihat tengah menghubungi sekertaris direkturnya, menanyakan mengenai susu Minhyun.
"Susu Minhyunnie ada di ruangan sajangnim. Hyunnie mau ikut atau menunggu disini saja, eoh?" ujar karyawan itu setelah sambungan teleponnya terputus.
"Hunnie diini ja. Hunnie apek!" jawab Minhyun.
"Jangan kemana-mana, ne? Tunggu hyung kemari lagi!" pesan karyawan itu sebelum pergi meninggalkan Minhyun.
Sebelumnya, karyawan itu juga menyempatkan diri untuk berpesan pada resepsionis yang berada di dekat sana untuk menjaga Minhyun.
"APPA!" jerit Minhyun saat ia melihat Kyuhyun barusaja masuk ke dalam kantor, mungkin selesai meeting di luar.
Minhyunpun segera turun dari sofa, kemudian berlari kearah ayahnya, melupakan rasa lelahnya. Resepsionis yang tahu jika Minhyun menuju kearah ayahnya, hanya membiarkannya saja.
"APPA! APPA! NI HUNNIE!" teriak Minhyun.
Minhyunpun mempercepat lajunya sebelum Kyuhyun masuk ke dalam lift. Setelah berada di dekat Kyuhyun, Minhyunpun segera memeluk kaki Kyuhyun yang berlapiskan celana kain panjang.
Kyuhyun sebenarnya mendengar teriakan Minhyun, tapi ia memutuskan untuk tidak perduli dan pura-pura tidak mendengar.
Namun saat Minhyun memeluk kakinya, iapun mau tak mau menatap Minhyun kemudian menggendongnya. Ia tak punya pilihan lain karena banyak mata yang tertuju padanya.
Minhyun yang baru kali ini merasakan digendong oleh Kyuhyun itupun segera memeluk leher sang ayah erat, menenggelamkan kepalanya pada pundak Kyuhyun. Merasakan lengan besar sang ayah mendekapnya hangat.
"Aigoo, kyeopta" seru seseorang yang berada disamping Kyuhyun, sepertinya rekan kerja Kyuhyun.
"Siapa namanya?" tanya seseorang lainnya yang juga berada di dekat Kyuhyun.
"Cho Minhyun" jawab Kyuhyun singkat.
Minhyun yang mendengar suara Kyuhyun menyebut namanya untuk pertama kalinya begitu senang, dan semakin kuat memeluk ayahnya.
"Ah, aku akan mengajaknya jalan-jalan keluar dulu. Tolong bawakan tasku" ujar Kyuhyun seraya menyerahkan tas yang ia bawa kepada sang sekertaris.
Kemudian Kyuhyunpun melenggang keluar dari kantor, dengan Minhyun yang masih berada di dalam pelukannya.
"Appa, Hunnie ama appa mu cayan-cayan?" tanya Minhyun antusias seraya mengintip wajah Kyuhyun.
Kyuhyunpun hanya menggumam saja sebagai jawabannya.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya merekapun tiba di sebuah taman terdekat. Kyuhyun menurunkan Minhyun dengan paksa, karena Minhyun tak mau melepaskannya.
"Bermainlah! Jangan ganggu aku!" ujar Kyuhyun seraya duduk di bangku taman.
Minhyunpun mengangguk patuh, ia sebenarnya ingin Kyuhyun juga ikut bermain dengannya, tapi ia tak berani memintanya, cukup dengan Kyuhyun yang mau menungguinya saja Minhyun sudah sangat senang.
Minhyun beranjak kearah anak-anak yang tengah bermain, ikut bergabung bersama mereka, dan Minhyunpun sudah bermain dengan senangnya.
Sedangkan Kyuhyun, ia mengeluarkan PSP dari saku celananya. Ia memanfaatkan waktu bekerja untuk bermain. Lumayan menguntungkan juga.
Setelah satu jam bermainpun, Kyuhyun melirik kearah jam yang berada di pergelangan tangannya. Iapun segera memasukkan PSP ke dalam sakunya, kemudian beranjak kembali ke kantor.
Sebenarnya Kyuhyun tak bermaksud meninggalkan Minhyun sendiri di taman itu, tapi ia lupa, benar-benar lupa jika ia tengah membawa Minhyun ke taman itu.
Minhyun yang melihat Kyuhyun beranjak itupun segera berlari menyusulnya. Ia tak mau Kyuhyun meninggalkannya.
"APPA!"
Dan tepat saat Kyuhyun menoleh ke belakang, pemandangan yang dilihatnya benar-benar membuatnya terkejut. Ia segera berlari secepat mungkin. Tanpa ia sadari, air matanya keluar begitu saja.
-KYUMIN-
PRANG~
"Waeyo, Minnie?" tanya Heechul seraya berlari kearah Sungmin yang tengah berkutat di dapur, membuatkannya minuman.
Tubuh Sungmin terlihat kaku. Kakinya seakan tidak bisa ia gerakkan. Tatapan matanya hanya tertuju pada gelas pecah yang berada di bawahnya.
Leeteuk yang kebetulan berada di tangga, segera berlari menuju kearah sumber suara. Ia takut terjadi sesuatu dengan puteri semata wayangnya. Rumah makan kecilnya sudah ia tutup sebelumnya.
"Aigoo, hati-hati. Awas, jangan bergerak. Biar ahjumma bersihkan dulu" ujar Heechul panik seraya membersihkan pecahan gelas di bawah Sungmin.
Setelah itu, Leeteuk dan Heechulpun menuntun Sungmin ke sofa tempat Heechul duduk tadi.
"Ada apa, heum?" tanya Leeteuk lembut.
Tring~
Bunyi ponsel Heechulpun mengalihkan perhatian wanita itu kepada sang ponsel. Iapun mengambilnya dan segera menjawab telepon yang masuk.
"NE?!" pekiknya keras, dan air matanyapun jatuh begitu saja.
Iapun hanya mendengar penjelasan dari sang penelpon, kemudian meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya setelah sambungan terputus.
Heechul menatap sedih kearah Sungmin, kemudian menggenggam erat telapak tangan Sungmin.
"Minhyunnie..." lirih Heechul sebelum Sungmin sempat bertanya.
Jantung Sungminpun berdetak dengan sangat cepat. Ia takut jika apa yang akan dikatakan Heechul adalah berita buruk. Bahkan ia baru bertemu dengan Minhyun sekali saja setelah ia lahir.
"Kecelakaan" lanjutnya lirih.
Dan setelah itu Sungmin tiba-tiba saja lemas dan pingsan. Leeteuk dan Heechul sontak saja panik dan segera membawa Sungmin yang tengah pingsan ke bawah, ke mobil Heechul, mereka akan membawanya ke rumah sakit.
Baru kali ini Leeteuk merutuki rumahnya yang berada di lantai dua, menyulitkannya untuk kali ini.
-KYUMIN-
Bugh~
"APA YANG KAU LAKUKAN, EOH?!" teriak Hangeng setelah memukul wajah Kyuhyun keras.
Kyuhyun hanya diam saja, ia tak mengelak dari pukulan sang ayah. Ia mengakui jika ia salah kali ini. Jadi, tak ada alasan untuk membantah.
"Mianhae" lirihnya pelan.
Bugh~
Hangeng kini kembali memukul wajah Kyuhyun, di sisi yang berbeda. Ia marah, benar-benar marah saat ini.
"KAU MENINGGALKANNYA SENDIRI, LALU UNTUK APA KAU MENGAJAKNYA KELUAR!" marah Hangeng.
Mereka kini tengah berada di depan ruang UGD, menunggu kabar dari dokter yang berada di dalam.
Sebelum Hangeng kembali memukul sang buah hati, Heechul yang baru datang itupun segera menghentikannya. Menyuruh suaminya untuk duduk saja. Sekarang ia ingin memaki-maki anak kurang ajar di hadapannya ini.
PLAK~
Satu tamparan berhasil melukai wajah Kyuhyun yang memang sudah berdenyut sakit itu.
"Umma membiarkan jika selama ini kau tak mau menyentuh Minhyun, tak mau menyebut namanya, tak mau memenuhi permintaannya. Tapi, kenapa sekarang kau membuatnya berada di ruangan dingin itu sendirian?! Berjuang melawan rasa sakitnya sendiri! Ia bahkan masih terlalu kecil untuk merasakannya Cho Kyuhyun!" ujar Heechul sedikit meninggikan suaranya.
"Mianhae" ujar Kyuhyun lirih.
"Ah, pasti kau masih belum mengakuinya sebagai anakmu. Kau bodoh atau apa! Itu jelas-jelas anakmu, Cho Kyuhun!" ujar Heechul kini berteriak.
Heechul berusaha meredam kemarahannya, ia sadar jika ia berada di rumah sakit. Ia harus tenang.
"Sungmin. Lee Sungmin adalah ibu Minhyun. Dan Cho Kyuhyun adalah ayahnya" ujar Heechul pelan dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Kyuhyun langsung saja lemas, tubuhnya merosot dengan sendirinya di lantai rumah sakit yang dingin itu. Air matanya kembali keluar tanpa ia perintah.
Kini ia menyesal.
Sangat menyesal.
Baru mengetahui jika Minhyun benar-benar anak kandungnya.
-KYUMIN-
END~
Kyuhyunnya udah tahu kalo itu anaknya. #elusdada
Sesuai tulisan diatas, hanya TWOSHOOT. ;-)
Semoga enggak mengecewakan.
Ini ngetiknya baru tadi pagi, tanpa edit, soalnya males aja. :-D Mian jika banyak typo, dan ceritanya terkesan terburu-buru
Makasih banget sama RnRnya...
Ditunggu RnRnya lagi~
