"Designer of My Wedding Dress"

..

FanFiction by BaekbeeLu present

..

Main Cast : SEHUN and LUHAN

..

Other Cast : Chanyeol, Baekhyun, Kai, Kyungsoo, and other

..

Genre : Romance, Drama, Angst

..

Rate : T+ / M

..

GS for Uke

..

Leght: Multichapter

..

Warning : Typo, gak sesuai dengan EyD, Genderswith,

Don't like don't Read guys ^^

..

Happy Reading!

CHAPTER 1

..

London, England

Duduk bersantai di bawah pohon dengan beralaskan rumput hijau kering adalah tempat yang menyenangkan untuk sekedar melepaskan penat, belum lagi hembusan angin musim semi yang melambai melewati kulit dengan lembut dan menggerakkan rambut panjangnya yang tergerai indah. Tangan kurus serta jemari mungilnya melukiskan garis demi garis berpola mengagumkan di atas kertas, setiap pergerakan yang dibuatnya terlihat anggun bagi siapa pun yang memandang di sekitar. Earphone kecil yang mengalunkan lagu ballad Korea dari ponselnya ikut membuat suasana hangat di hatinya, hanya saja…..mungkin seperti itu yang terlihat di pandangan orang, mereka tidak mengerti kekosongan apa yang selama ini Ia alami dari waktu ke waktu.

Cantik

Dia memang gadis yang sangat cantik. Pasang mata mana yang akan mengatakan dia tidak cantik bila sudah dihadapkan oleh sepasang mata rusa yang berkilau dengan kulit putih sehalus bayi. Hari ini Ia memakai dress soft blue selutut tanpa lengan dengan parka hoodie kuning cerah yang membaluti kedua lengan kurusnya, kakinya yang jenjang hanya beralas flatshoes dengan warna senada. Seperti yang terlihat, ukiran senyumnya tidak berhenti ketika garis-garis itu menyatu menjadi rancangan yang cantik, semakin manis kala semua yang dilakukannya telah usai hingga membuat hatinya bersorak senang. Tepat di saat yang bersamaan seorang lelaki datang ikut duduk di sebelahnya dan memamerkan senyumannya yang mempesona.

"Sudah selesai ya, apa aku datang terlambat?" lengan kirinya yang kekar mengambil sesuatu dari dalam tasnya, rupanya sekotak susu coklat dingin di berikannya oleh gadis ini

"Terimakasih oppa, kau datang di saat yang tepat 'kok" kata gadis di sebelahnya melihatkan senyumannya yang manis lalu meminum susu coklat miliknya

"Rancanganmu cantik sekali, seperti biasanya. Bagaimana kuliahmu hari ini baby deer?"

"Lancar. Aish, oppa jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan baby lagi" katanya sambil memanyunkan bibirnya imut, sangat menggemaskan hingga lelaki di sebelahnya mencubit gemas pipinya "Aakh! Sakit ugh~"

"Aigooo, mana ada gadis dewasa yang memiliki kelakuan bocah kecil seperti ini hm? Biar umurmu sudah 23 tahun tetap saja wajahmu itu seperti bayi, jadi biarkan aku memanggilmu baby deer atau mau kupanggilkan baby Lu….mungkin?" katanya sedikit tidak yakin pada pilihan keduanya

"Andwae. Panggil Luhan saja oppa, semua itu hanya panggilan kecil dari seseorang yang menyimpannya untukku" Luhan menundukkan kepalanya dengan tersenyum kecut sedikit meremas kotak susu yang sudah habis isinya itu. Ada sebersit perasaan sesak saat Ia mengingat apa yang diucapkannya barusan, seperti perasaan rindu yang membendung memenuhi seluruh isi hatinya hingga sesak di saat pada kenyataannya semua yang di harapkan tidak mungkin dapat Ia raih dengan mudah, semua yang menjadi alasannya mengapa memilih untuk menjadi seorang Designer.

Kepala Luhan, Chanyeol ambil dan menyamankan gadis itu untuk bersandar di bahunya "Aku akan menemanimu sampai kapan pun. Jangan khawatir, dimana kau membutuhkan di sanalah aku akan datang"

Luhan mendecih geli "kata-katamu seperti kau seorang pahlawan saja, oppa. Tidak perlu mencemaskan apapun, aku baik-baik saja" Luhan bangkit dari sandaran yang diberikan Chanyeol pada bahunya"Dan jangan melakukan hal seperti ini di depan umum, kalau banyak yang salah paham tidak enak jadinya"

Chanyeol mengedikkan bahu "Siapa peduli? Semua mahasiswa tau kalau kita memang sangat dekat, Lu. Aku tidak masalah mereka ingin berpikir macam-macam asal itu denganmu" lalu memberikan gadis rusa itu dengan pandangan serius, namun Ia menghindari tatapannya "Aku ingin mengumpulkan rancanganku ini. Aku duluan ya, oppa" Luhan bangkit dari duduknya , membuat Chanyeol mengangguk dengan pasrah ketika Luhan meninggalkannya….lagi

..

Sepasang mata puppy dengan kelopaknya yang bergaris eyeliner tipis berlekuk indah itu mengedarkan pandangan ke seluruh arah yang bisa dicapai penglihatannya, dengan kaki jenjang beralas sneakers putih yang berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, nafasnnya memburu sesuai dengan perasaan yang berkecamuk dirasakannya sesak seperti ingin keluar. Sorot matanya penuh dengan pandangan berbinar ketika tapakan kakinya berhenti menghadap seseorang yang sama kecilnya dengan dia sedang merentangkan tangannya lebar tak lupa senyum serta sambutan hangat yang di perlihatkannya.

"Kyungsoo" teriakkan suara cempreng sedikit memekikkan telinga itu dari gadis bermata puppy tadi, langsung saja Ia berlari dengan lebih menggenggam erat koper besar yang di bawanya

"Baekhyun" Kyungsoo tersenyum dengan pandangan rindu menatap sahabat kecilnya dengan segera Ia memeluk Baekhyun erat ketika sahabatnya itu sudah berada di depannya

"aku merindukanmu Kyungi-ya , aku merindukan kalian semua" Baekhyun melepas pelukan mereka

"Semua merindukanmu Bee, akhirnya kau bisa pindah ke London juga"

"Dimana Lulu? Rusa kecil tidak menjemputku?" tanya Baekhyun dengan sedikit merajuk pada Kyungsoo

"Hmm, hari ini jadwal kuliahnya penuh jadi Luhan tidak bisa ikut. Sebagai permintaan maafnya dia bilang kita akan tidur bersama di Apartementnya. Eotte?"

"Jinjja?! Ah, tentu saja sudah lama juga kita tidak menggila seperti dulu kan? Duh, pokoknya aku merindukan kalian!" Baekhyun terkekeh polos dengan Kyungsoo yang mendesah pasrah setelahnya "Jangan mulai lagi, Baek. Kalian akan merepotkanku"

"Kami akan membantumu, janjji. Oh, kau datang sendiri? Dimana kekasihmu yang mesum itu?"

Kyungsoo sedikit merona mendengarnya "Kai. Dia sudah menunggu kita di mobil sejak tadi"

"Dan membiarkan kau sendirian di sini menungguku?!.."Baekhyun mendesah marah dengan menatap tidak percaya pada Kyungsoo yang hanya nyegir seperti tidak keberatan "Kekasih macam apa dia?! Aish, aku akan mematahkan hidungnya kalau begitu" Baekhyun mengupat geram.

Baru Kyungsoo ingin memberi pembelaan terhadap kekasihnya, Baekhyun dengan segala kelincahan yang dimilikinya berjalan mendahului Kyungsoo masih dengan koper besar yang di genggamnya, gadis itu menghentak-hentakkan kakinya geram berjalan menuju mobil Audy putih yang menampakkan seorang lelaki tampan berkulit tan dengan kacamata hitam bertengger manis di hidungnya.

Kai melambaikan tangannya ceria ke arah Baekhyun yang berjalan dengan jarak masih sepuluh meter di depannya. Seolah Ia hanya biasa saja, namun lima meter kedepan, Kai mengerinyit heran dengan ekspresi tidak bersahabat serta tatapan tajamnya yang menakutkan Baekhyun berikan. Ia merasa tidak enak sekarang, seperti sesuatu akan menimpanya beberapa detik selanjutnya.

Baru saja Kai memilih untuk masuk lagi ke dalam mobil namun malang memang tidak dapat di cegah ketika dengan mulusnya sebuah kaleng minuman soda tak berisi mendarat mulus mengenai puncuk kepalanya.

DUG!

"Akh!" ringis Kai kesakitan dengan tangan refleks memengang kepalanya yang berdenyut nyeri

"Yak! Kim Kai bodoh kenapa kau membiarkan Kyungsoo menunggu sendirian hah?! Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Kau mau bertanggung jawab?! Dasar kekasih tidak berguna kau!" Baekhyun masih terus memberikan Kai sambutan gratis dari kepalan tangannya yang mungil memukul lengan kekar lelaki yang kesakitan di depannya "Baek ampun….Appo Appo Appo….."

"Baek sudah hentikan. Kai tidak salah, aku lah yang memintanya untuk tidak perlu menemaniku menunggumu, untuk itu dia berdiri di sini sejak lima belas menit demi mengawasiku Baek. Kai tidak salah" Kyungsoo datang dengan memisah perkelahian kecil antara Kai dan Baekhyun. Refleks, Kyungsoo mengelus lembut kepala Kai yang terkena lemparan tadi "Kai-ya gwenchanayo?" Kyungsoo hanya menatap iba melihat Kai yang meringis

"Eomma, appo. Sakit sekali….." sebenarnya tidak sesakit itu, apalah berartinya kekuatan Baekhyun yang jauh lebih kecil dari Kai yang memiliki badan lebih besar. Hanya akal-akalan Kai saja, demi mendapat perhatian serta prilaku sayang dari Kyungsoo

Baekhyun? Oh, dia tidak ingin meminta maaf atas apa yang dilakukannya. Malah Ia memandang jengkel dengan segala macam bentuk karangan yang Kai buat, ayolah Baekhyun tahu kekuatannya tidak sebesar itu hingga membuat Kai meringis sok kesakitan.

"Kyungsoo-ya aku ingin cepat bertemu Luhan, kenapa malah beradegan kisah dramatis di sini. Aku mual melihat kalian,okey"

"Bilang saja kau iri! makanya cari pacar kalau kau ingin seperti kami, cantik tapi single. Kau bisa jadi perawan tua, Baek. Belum lagi sikapmu yang suka marah-marah, kulitmu akan mengkriput" ucap Kai mengejek dengan langkah seribu sudah berlindung di belakang Kyungsoo dan memeluk kekasihnya itu erat menghindari segala bentuk protes yang lebih mengerikan mungkin dari Baekhyun

"YAK APA KAU BILANG?! KAU MAU MATI MUDA EOH?! SINI KAU KIM KAI!"

..

Luhan baru saja menyelesaikan acara mandi ratunya dengan berendam dalam bathtube selama tiga puluh menit, rambutnya masih basah karena habis keramas. Luhan mengambil handuk kecil yang tergantung di atas pintu kamar mandi dan menggunakannya untuk mengeringkan rambut, lebih baik begini dari pada Ia harus membuat rambutnya yang sudah harum alami menjadi kembali berbau hangus karena memakai hairdryer. Luhan tidak suka, itu bisa membuat rambutnya kering dan cepat rusak meski setiap minggu Ia akan menempatkan waktunya untuk perawatan di salon SPA langganannya bersama Kyungsoo.

Bicara tentang Kyungsoo, apakah dia sudah kembali seusai menjemput Baekhyun? Seharusnya sudah mengingat kedatangan Baekhyun sendiri pukul lima sore tadi, dan ini sudah pukul tujuh malam. Merasa rambutnya mulai lembab dan tidak terlalu basah, Luhan menghentikan kegiatannya dan memilih duduk di piggir ranjang queen size miliknya dengan mengambil ponselnya yang tergeletak di sana lalu menghubungi Kyungsoo.

"Wae hannie?"

"Kau dimana? Sudah sampai dan Baekhyun sudah bersamamu kan?" kata Luhan sembari memainkan rambutnya yang panjang

"tentu. Ini kami sudah sampai di halaman basemant Apartementmu, tunggu kami yah"

"Hmm, yasudah kalau begitu kututup telponnya" ucapnya senang setelah mendengar bahwa akan ada satu lagi anggota yang bertambah diantara dia dan Kyungsoo.

Sejak kecil memang hanya Kyungsoo dan Baekhyun sahabat sejati yang Luhan punya, mereka selalu bersama-sama bahkan sulit untuk dipisahkan. Setidaknya dengan kedatangan Baekhyun akan membuat hari Luhan lebih menyenangkan bila Kyungsoo sudah sibuk bersama kekasihnya, gadis itu cerewet dan lincah. Baekhyun akan punya apa saja cerita yang dia miliki dan dengan senang hati membaginya dengan Luhan. Apapun yang Baekhyun miliki Luhan menyukai semuanya, kepribadian gadis itu cukup mempunyai banyak kesamaan seperti Luhan.

Namun, hanya omongannya saja yang membedakan mereka. Jika Luhan adalah tipe gadis yang akan bicara sewajarnya dan menanggapi respon orang dengan hangat, berbalik pada Baekhyun yang suka berbicara asal dan merespon orang dengan berpikir dua kali. Seperti saat ketika masa-masa mereka masih duduk di bangku SHS, bila ada lelaki yang berniat mendekati Luhan secara berlebihan, Ia akan menolak lelaki itu dengan caranya sehalus dan seramah mungkin, dan Baekhyun akan marah bila lelaki itu juga tidak mengerti dengan arti penolakan Luhan. Luhan jadi ingat ketika kalimat yang selalu Baekhyun ucapkan kala ada lelaki seperti itu

"kau tidak cocok jika bersanding dengan Luhan. Sebaiknya kau berkaca, karena seseorang yang memiliki hak jauh lebih tepat untuk Luhan adalah dia yang jauh lebih tampan dan tidak pendek sepertimu. Hal terpenting Luhan mencintainya" dan ketika kalimat itu terucap dari bibir Baekhyun maka lelaki tadi akan berbalik menuju tempatnya dan menangis ketika tahu bahwa memang ada orang lain yang Luhan pertahankan.

Setidaknya seperti itu sampai sesuatu yang tidak di sangka menghancurkan segala angan yang sudah di tata sedemikian baiknya, semua yang tertulis di atas buku diary masa depan. Lalu, buku itu hangus terbakar hingga menjadi abu padahal tidak ada yang menaruh api diatasnya. Angan Luhan yang musnah dan tidak bisa Ia raih kembali pada genggamannya.

Luhan hampir menangis membayangakan semua perasaan yang Ia pertaruhkan selama ini untuk satu orang lelaki, namun air matanya tidak ingin turun membasahi pipi mulusnya ketika dengan bersamaan bel Apartementnya berbunyi.

"Luhan-ie kau dimana?" teriaknya dari lantai satu Apartement Luhan

Oh, penyemangat harinya sudah sampai. Dan Luhan tidak ingin sahabatnya melihat keadaannya yang menyedihkan.

..

Ini lah maksud dari ucapan Kyungsoo sore tadi waktu menyambut Baekhyun di bandara, membuatnya kesusahan dan repot setengah mati ketika melihat semua kekacauan yang diulah oleh si cantik bermata puppy dengan sang pemilik bermata rusa yang menjadi pengikut di dalamnya. Sebenarnya, tidak semua ruangan ini berubah kacau hanya saja dapur Luhan yang awalnya tertata rapi dan bersih berkilau, berubah dalam hitungan 60 menit menjadi seperti tempat kubangan babi. Menjijikkan.

Cairan kuning telur yang mengotori lantai hingga cangkangnnya juga tercecer tidak bersalah di sana, tumpahan adonan kue tidak jadi mengotori dan menyebar kuman di atas meja makan. Serta lelehan coklat, mentega, dan tepung terigu yang mewarnai keramik apartement Luhan yang pada awalnya putih bersih.

"Baek, kau yakin akan membantuku membereskan kekacauan ini?! Kau disuruh menyapu saja tidak mau" Kyungsoo memijit kepalanya yang di rasa berdenyut nyeri, tanpa sadar Ia terkena migran sekarang

"Kyungsoo-ya kau tidak perlu cemas, Baek akan membantumu. Benar kan Bee?" Luhan yang nyatanya menjadi sekutu dari Baekhyun hanya terkikik geli ketika melihat wajah frustasi dari Kyungsoo

"Ah, sedikit lagi sedikit lagi. Yak, hannie bantu aku mengaduk adonannya" tidak menghiraukan bentuk frustasi dari Kyungsoo atau pun pertanyaan Luhan, Baekhyun asik dalam kelas memasaknya sendiri. Oh, mereka sedang membuat cake dengan Baekhyun yang nyatanya tidak ahli dalam hal berbau masakan memimpin proses ini hingga kekacauan yang dibuatnya.

"Kau harus melakukan semuanya sendiri kalau tidak adonannya tidak akan jadi lagi, Bee"

"Oh, Baiklah" ucap Baekhyun sedikit lelah, sebenarnya tidak susah membuat adonan cake kalau Kyungsoo yang turun tangan. Karena, gadis itu ahlinya dalam hal masak memasak apapun, namun karena permintaan Baekhyun sendiri yang ingin mencoba tanpa dibantu oleh Kyungsoo jadilah ini akibatnya. Seandainya, kalau tahu dampaknya akan sekacau ini, Kyungsoo bersumpah tidak akan membiarkan Baekhyun menyentuh dapur lagi bila gadis itu belum menyelesaikan kursus memasaknya.

..

Pada akhirnya memang Kyungsoo yang akan turun tangan ketika adonan yang ke tiga Baekhyun buat semuanya gagal. Melihat sisa bahan kue yang tinggal setengah-setengah, Kyungsoo mencampur semuanya dan membuat segala itu dalam waktu tiga puluh menit, tidak perlu lama hingga memakan waktu satu jam. Dapur juga sudah kembali bersih dan rapi seperti sedia kala dengan paksaan Baekhyun dan Luhan harus ikut di dalamnya. Jadi, disinilah mereka sekarang menghabiskan sisa malam sebelum pergi tidur tepat di atas ranjang Luhan yang bisa memuat lima orang di dalamnya.

"Hannie, apa yang kau pikirkan?" Luhan tersentak ketika Baekhyun datang meneliti wajahnya lekat-lekat, padahal Ia sudah berusaha untuk tidak ketahuan memikirkan orang itu dengan berpura-pura membaca novel romantis di genggaman tangannya

"Ani, aku hanya membaca. Cerita ini menarik sekali" sebuah senyuman manis Luhan berikan demi meyakinkan Baekhyun juga Kyungsoo yang ikut menoleh ke arahnya setelah selesai menerima telpon dari Kai sebagai ucapan selamat tidur yang manis.

Baekhyun mendesah pelan dengan posisinya yang langsung memeluk Luhan "Aku tahu kau berbohong. Kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun, Luhan. Sungguh aku tau semua hal tentang dirimu.." Baekhyun bangkit dan pindah ke sisi disebelahnya "Merindukannya ya? Mungkin sudah waktunya kau harus membuka hatimu untuk orang lain, Lu" lanjutnya

Kyungsoo juga ikut mengambil tempatnya, hingga Luhan sendiri berada di tengah-tengah mereka "Jangan dipaksakan kalau memang tidak bisa. Tapi, Baekhyun benar ada kalanya kau mencoba membuka hatimu untuk yang lain, hannie"

Luhan hanya memandang kedua sahabatnya itu haru, memang Ia tidak memungkiri bahwa teringat dengan lelaki itu lagi. Sekarang, Baekhyun dan Kyungsoo adalah orang yang berharga Luhan punya setelah kedua orang tuanya yang berada di Korea. Walaupun Ia merindukan lelaki itu, Luhan harus kuat. Ia tidak boleh membuat sahabatnya itu khawatir dan mencemaskan dirinya. Yah, biarlah waktu dan Tuhan yang menjawab akan bagaimana takdirnya ke depan.


Langit malam musim semi memang selalu tampak cerah, semuanya terlihat bersih dengan sedikit awan halus berteksktur tipis melintas pelan tertiup angin. Setiap sisinya di hiasi benda angkasa dengan jumlah tak hingga berbagai cahaya kilauan cantik kecil bernama bintang. Mereka terlihat seperti anak dari sebuah bulan yang menjadi ibunya berposisi di tengah. Bulan purnama, terlihat sangat sempurna dan berbagai kekaguman di dalamnya.

Cahayanya yang berbinar terang juga ikut menyapa lantai kamar hotel bernomor 520 itu melalui jendela kamar yang dibiarkan terbuka lebar. Setiap sisi ruangan itu penuh dengan cahayanya, karena keadaan kamar hotel benar-benar mati padam setelah seluruh lampu dimatikan. Bahkan cahaya itu juga melambai dan meraba sisi kulit seorang lelaki berkulit putih dan berbadan tinggi yang berdiri dengan tangan bertompang pada pembatas balkon kamar, matanya terpejam nyaman sambil menikmati keheningan serta kedinginan angin malam yang bisa saja membuatnya masuk angin namun Ia tidak mempedulikannya.

Mata itu terbuka, Ia mengadahkan kepalanya ke atas menatap langit yang berbinar terang, seolah hatinya terasa hangat hanya dengan melihat cahaya itu. Senyumnya terukir ketika cahaya bulan dan bintang bersamaan menyapa penglihatannya. Untuk sesaat, biarlah ia merasa tenang seperti ini sebelum tiba hari esok dimana Ia akan meninggalkan kota dan Negara yang membesarkannya selama enam tahun belakangan. Sungguh, kota ini sudah membuatnya nyaman tapi Ia memiliki tugas lain ketika terpilihnya menjadi mahasiswa pertukaran pelajar di salah satu Universitas terbaik di England hingga kelulusannya menyambut di sana.

Awalnya mungkin bisa saja memilih untuk tidak menerima tawaran itu atau memilih Universitas di Negara lain, namun entah mengapa sesuatu yang mengendalikan seluruh naluri dalam jiwanya membawa pada keputusan Ia yang akan meninggalkan New York. Negara dimana Ia dibesarkan setelah terbangun dari tidurnya yang panjang. Hari barunya akan dimulai esok ketika jam keberangkatannya tiba di pukul 09.00 waktu New York setempat.

Sebuah notif tanda pesan masuk mengganggu sedikit lamunannya yang menikmati suasana angin malam, ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas Ia ambil setelah di rasa sudah cukup berdiri di pembatas balkon dan menutup jendela kamarnya. Lelaki ini duduk dengan kepalanya yang bersandar nyaman di sandaran ranjang, di bantu dengan dua bantal kapuk yang mengganjal tengkuk hingga punggungnya. Pesan itu, Ia buka menampilkan nama seorang teman lama yang menanyakan kepastian kedatangannya esok di England. Dengan sedikit mengukir senyum tipis, Ia membalas pesan itu dulu sebelum mengakhirinya dengan tidur yang nyaman di hari terakhirnya di New York.


"Kau sudah menanyakan kedatangannya, Hyung?" Kai yang baru saja datang setelah menyelesaikan panggilannya dengan sang kekasih, duduk di bangku sofa bersama dengan Chanyeol yang sudah selesai mengerjakan tugas akhir dari kuliahnya

"Hmm" balasnya hanya lewat gumaman

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Hyung?" Kai tahu apa yang kakak sepupunya pikirkan saat ini, pasti sesuatu hal yang membuatnya harus bingung mengekspresikan perasaannya sendiri

"Menurutmu apa? Kurasa tidak ada. Datang atau tidak pun segalanya akan tetap sama. Semua sudah selesai dan aku akan tetap kembali memperjuangkan suatu hal yang sempat ku tunda dulu" Chanyeol bangkit dari tempatnya menuju kamarnya sendiri dengan meninggalkan Kai dengan ekspresi pasrah di tempat

Sampai kapan ini akan berakhir? –batin Kai

Drrrt….Drrttt….

Lagi-lagi ponsel nya yang sempat mati tadi berdering kembali dan menampakkan nama orang yang sama, Kai tersenyum geli melihatnya

"Masih kangen?" tanya Kai menggoda pada Kyungsoo di tempat Luhan

"Aku tidak bisa tidur. Luhan dan Baekhyun sudah, tapi aku belum"

Kai tahu bahwa sesuatu yang mengganjal dalam diri Kyungsoo telah mengusik pikiran kekasihnya hingga Ia susah untuk beristrihat, seolah memang sudah sangat mengerti kepribadian gadis itu sendiri maka Kai sudah tidak asing lagi untuk menebak

"Memikirkan, Luhan? Jangan khawatir dia pasti baik-baik saja"

"aku tau besok Ia akan datang Kai-ya. Aku hanya takut bagaimana bisa Luhan mengendalikan perasaannya saat bertemu orang itu" Kyungsoo menghela nafas panjang di sana

"Semua akan baik-baik saja, oke. Sekarang kau lebih baik tidur sayang, pikirkan saja aku maka semuanya akan selesai. Kau pasti akan bermimpi dengan indah"

Kyungsoo tersenyum "Hm, aku merindukanmu Kai" katanya manja

Kai terkikik geli mendengar ungkapan sayang dari Kyungsoo, tiba-tiba Ia juga ikut merindukan penguin kecilnya ini "Aigoo, kau tau kalau aku selalu merindukanmu kan? Jjah, cepatlah tidur besok kita bertemu lagi, Ne. Saranghae Kim Kyungsoo"

Kyungsoo mendecih pelan mengingat marga keluarganya yang di ganti Kai asal "Hm. Nado saranghae, Kai"

PIP


Pagi ini aktivitas biasa yang mereka lakukan pun di mulai kembali, setelah libur dan menghabiskan banyak quality time bersama mengelilingi kota London, Baekhyun sudah siap dengan harinya yang baru. Ia adalah mahasiswi pindahan dari Seoul, demi mengikuti kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu menetap dan mengejar pendidikan di kota London, Baekhyun mengurus kepindahannya dari Seoul dan ingin menyelesaikan pendidikannya dengan mendapat gelar sarjana di sini.

Kota impian. Memang, Baekhyun sendiri sudah lama ingin menetap di sini, namun apalah daya kedua orangtuanya yang belum mengizinkan sehingga Baekhyun menghabiskan waktunya dua tahun sendiri tanpa sahabatnya di Korea.

London benar-benar cantik, Baekhyun menyukainya. Udara di sini juga termasuk bersih mengingat kampus tempat mereka mengerjar pendidikan pun di penuhi banyak tanaman hijau di sekitarnya, matanya terus memandang senang pada hal sekitar yang menurutnya baru itu. Tapi, langkah Baekhyun sendiri terhenti ketika dengan tidak sengaja melihat sosok tinggi berparas tampan familiar yang sedang melajukan sepedanya lalu terjatuh ketika tidak sengaja menabrak pohon di depan. Oh, Ia harus menolong lelaki itu.

"Aish, kenapa bisa jatuh sih!" ringis Chanyeol kesakitan ketika terjatuh tadi lututnya sukses menabrak akar pohon yang cukup besar di sebelahnya

"Oppa…"

DEG

Chanyeol membelalakkan matanya lebar ketika mendengar seseorang memanggilnya tidak jauh dari tempatnya terjatuh. Suara itu, suara yang sesungguhnya selalu menghantui pikirannya belakangan ini, suara seorang gadis yang jauh sudah Chanyeol rindukan sejak lama. Suara kecil nyaring namun bernada manja di dalamnya. Seseorang yang sejak lama selalu hadir dalam menemani harinya, gadis yang menjadi penyelamatnya ketika Ia membutuhkan pertolongan. Gadis cantik berperawakan mungil, bermata puppy, dan mempunyai senyuman cantik di dalam wajahnya. Yah, gadis itu Byun Baekhyun.

Tapi….

Tidak. Tidak. Pasti Chanyeol hanya berkhayal, tidak mungkin gadis itu ada di sini. Ia sedang melaksanakan studynya di Seoul dan mana mungkin dalam sekejap gadis itu sudah berada di London. Chanyeol hanya terlalu memikirkannya sehingga berpikir yang tidak-tidak. Yah, Baekhyun tidak ada di sini. Pasti ini hanya delusinya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya cepat berusaha mengeyahkan pemikirannya yang ngelantur, tapi…..bagaimana bisa Ia mengeyahkan hal itu ketika seseorang yang di bayangkannya sekarang berada tepat di depannya. Gadis itu, Baekhyun. Duduk dengan bertumpuh pada kedua lututnya yang bertapak di atas rumput hijau, rambut panjangnya yang tergerai turun bersamaan dengan kondisi badannya yang membungkuk, kedua tangan cekatannya meraba lutut Chanyeol yang sedikit tergores karena lelaki itu memakai celana Jeans sepanjang lutut, bibirnya yang mungil juga ikut meniup-niup kulit Chanyeol yang terluka berusaha menghalau debu yang terlanjur masuk di dalamnya.

Chanyeol membeku di tempatnya, Ia bahkan tidak merasakan lagi bahwa tubuhnya sakit dan pegal-pegal karena terjatuh tadi. Matanya seolah terkunci pada Baekhyun yang memperlihatkan raut khawatir dari kerutan yang muncul di dahinya. Sudah berapa lama ia tidak bertemu gadis manis ini? Chanyeol bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia menghubungi Baekhyun tepat setelah kepergiannya ke London. Gadis itu masih sama, selalu datang di saat Chanyeol membutuhkan pertolongan. Tapi, apa ini sungguh bukan khayalan semata? Sejak kapan gadis itu berada di sini? Dan Chanyeol harus memastikan semuanya.

"Bee…." Katanya sedikit bergetar dengan firasat tak yakin

"Oppa…kenapa kau bisa terjatuh lagi, sih? Kau ini suka sekali membuatku khawatir. Kenapa diam saja dari tadi, ayo ke UKS. Kita harus mengobati lukamu supaya tidak infeksi, oppa" ucapnya penuh dengan raut kekhawatiran. Baekhyun menatap Chanyeol sekilas lalu memegang kedua lengan lelaki itu untuk membantunya berdiri "Biar kubantu berdiri. Pelan-pelan saja"

"Kau benar-benar, Baekhyun? Sungguh kau Byun Baekhyun?" Chanyeol masih dalam mode terkejutnya

Baekhyun memutar bola matanya malas "Baru tidak melihatku selama dua tahun tapi oppa sudah tidak mengingatku dengan baik? Iya, aku Baekhyun. Masa tidak kenal dengan adik sendiri!"

Chanyeol tersenyum dan Ia langsung memeluk gadis ini erat "Kau benar. Aku tau kalau ini Baekhyun. Adik kecil oppa yang manis, oppa merindukanmu Bee"

"Yak lepas, oppa. Bukan saatnya seperti ini, cepat obati lukamu" sedikit semburat rona merah menggemaskan menghiasi kedua pipi Baekhyun yang berblush on tipis

"Kau tidak merindukan oppa? Bagaimana bisa kau ada di London? Kapan kau sampai dan kenapa tidak memberi tahu oppa?"

"Nanti saja ceritanya atau aku akan meninggalkan oppa sendirian di sini"

"Baik, bantu oppa berdiri…" Baekhyun mengangguk dan memegang kedua bahu Chanyeol "Bee, selalu datang di saat yang tepat kan?" tanya Baekhyun polos

Chanyeol terkekeh gemas "Iya, Bee. Kau selalu datang di saat yang tepat"

..

Aneh

Semua yang kurasakan hanya mimpi dan khayalan. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Mana mungkin orang itu dia ? aku pasti hanya ngelantur dan berpikiran yang tidak-tidak. Yah, dia sudah tidak di sini. Dia meninggalkan segala kenangannya dan… mana mungkin dia kembali lagi. Oh, Tuhan. Ada apa denganku? –Luhan

Sesuatu yang mengganjal memang sedikit mengusik pemikiran seorang Xi Luhan sejak kemarin, bukan karena tentang kuliahnya yang delapan bulan kedepan akan mendapat gelar wisuda dan mewujudkan impiannya menjadi seorang Designer. Tapi…

Orang itu…

Masa lalunya yang sempat melintas dan mengganggu pikirannya jauh sebelum sahabatnya Baekhyun datang ke London, Ia sudah mencoba untuk menghalau nama itu masuk melewati otaknya namun hanya sesaat setelah nama itu muncul lagi. Luhan bertemu dengannya. Tapi, ia merasa tidak yakin dengan penglihatannya sendiri. Semua ini berawal dari liburannya tiga hari lalu, ketika mereka –Luhan Baekhyun Kyungsoo- mengelilingi kota London karena permintaan Baekhyun yang ingin jalan-jalan.

Flashback On

"jadi kita akan libur selama tiga hari?" kata si rusa dengan pandangan berbinar kebahagiaan. Mereka baru selesai melakukan makan malam bersama di hari pertama Baekhyun menginap

"Hm. Begitulah, aku dapat infomarsi dari David –Ketua BEM mereka di kampus- katanya seluruh mahasiswa tingkat akhir diliburkan karena rapat mendadak para dosen di Paris"

"Jinjja? yeay!" Baekhyun bersorak senang "Berarti waktu kuliahku tiga hari lagi dong, ya. Mari kita jalan-jalan dan pergi berbelanja" lalu Ia menatap kedua sahabatnya itu penuh harap dan senyuman yang setia menghiasi wajahnya "Mau kan? kita sudah lama tidak pergi bersama. Dan, Kyungi tidak boleh mengajak Kai. Hanya kita!" Ia menatap khususnya pada Kyungsoo dengan tatapan memberi peringatan

Sebagai member yang paling kecil di antara ketiganya, keinginan Baekhyun memang harus selalu dipenuhi jika tidak ingin berakhir gadis itu akan berdiam diri seharian. Jauh dari kebiasaannya yang suka banyak bicara. Lagi pula, mereka memang tidak pernah lagi pergi bersama. Mungkin hanya Kyungsoo dan Luhan, tapi tidak dengan Baekhyun. Jadi, hal ini murni bukan hanya keinginan Baekhyun namun juga keduanya. Dan, Luhan serta Kyungsoo menyetujui keinginan Baekhyun dengan senang hati.

..

Tempat pertama yang dikunjungi mereka adalah Big Ben. Tempat ini merupakan tempat yang paling terkenal di London. Big Ben sendiri merupakan nama dari sebuah lonceng raksasa, lonceng itu juga memiliki berat yang melebihi dari 13 ton. Keemasannya yang terlihat memang memanjakan mata bagi siapa pun yang memandang. Bagunannya juga memuat gaya arsitektur gothic revival yang semakin memeriahkan keindahan kota London. Selain itu, tempat ini juga dijadikan sebagai pusat perayaan tahun baru oleh penduduk lokal atau turis asing setiap tahunnya.

Baekhyun sendiri sudah tidak henti-hentinya berdecak kagum serta mengabadikan beberapa moment yang menarik melalui kamera paroloidnya. Tidak hanya Baekhyun, begitu juga Luhan dan Kyungsoo yang ikut serta di dalamnya.

Lalu, perjalanan siang mereka berlanjut mengunjungi Tower Bridge setelah usai makan siang di salah satu restaurant berbau Korea di London. Cuaca yang sangat mendukung juga tidak mematahkan semangat ketiganya untuk semakin menjelajahi seluk beluk keindahan London, matahari yang tidak terlalu terik karena kebaikan hati sang pencipta semesta membuat langit di atas sedang diselimuti awan putih bersih yang menggumpal, serta seliran angin musim semi yang menyejukkan juga semakin membuat hari yang seharusnya tidak libur itu menjadi menyenangkan.

Dan ketika malam mulai menjelang, tempat terakhir sebagai kunjungan mereka adalah London Eye. Siapa yang tidak mengenal tempat ini? Sebuah kincir rasaksa yang terletak di Jubilee Garden, berada di antara Westminter Bridge dan Hungerford Bridge. Selain itu, London Eye sendiri terkenal landmarknya dari 'The Private Capsule' yang membuat mereka bisa dengan leluasa memanjakan panca indra penglihatannya dengan suguhan pemandangan malam seluruh kota London. Lagi. Mereka berdecak penuh kekaguman.

"Setelah ini bagaimana kalau makan malam di Apartement saja? Tubuhku sudah pegal dan belanjaan yang kita beli dari Mall tadi tidak sedikit banyaknya" Kyungsoo mengeluh lelah. Biasanya kalau jalan-jalan dan membawa belanjaan seperti ini pasti kekasihnya yang tampan itu akan setia membawakannya agar Kyungsoo tidak mengeluh lelah. Tapi, sekarang pun mereka hanya bertiga dan tidak ada pihak lelaki yang ikut untuk bersedia membawakan kantung belanja mereka kan?. Sungguh, Kyungsoo rasa badannya mulai remuk.

"Kyungi benar, Bee. Lebih baik kita pulang dan memasak di Apartement. Lagian sudah puas kan menjelajahi London? Aku juga lelah" keluh Luhan sambil menenteng lima kantung belanja di kanan kiri tangannya

"Hm, Baiklah. Ayo kita pulang" mereka semua berjalan dengan beriringan

Malam ini London Eye sangat banyak pengunjung. Memang, tempat indah seperti ini pasti selalu ramai bahkan jarang untuk dikatakan sepi. Kerumunan orang yang berlalu lalang juga terkadang sedikit mengganggu aktivitas berjalan mereka untuk menuju ke halte Bus yang akan mengantarkan ketiganya pulang. Tapi, Luhan merasa malam ini jauh lebih ramai dari sebelumnya, sehingga di kondisi tubuhnya yang kecil juga bawaannya yang cukup banyak kadang membuat Ia tertinggal cukup jauh dari Kyungsoo dan Baekhyun yang berjalan lebih dulu di depan. Luhan terus menggumamkan kalimat 'maaf' atau 'permisi' jika Ia ingin meminta di beri sedikit ruang jalan, cukup jauh Ia tertinggal. Dan, kerepotannya pun terjadi di kala seseorang yang berlari dengan cukup tergesa-gesa membelah kerumunan manusia di sana sedikit kasar dan menabrak bahu mereka. Tidak terkecuali, Luhan. Ia tidak sempat menghindar di saat orang itu mulai berlalu menuju ke arahnya. Dan, di saat rasa bahu kecilnya yang di tabrak secara kasar oleh orang itu, Luhan kehilangan keseimbangannya sehingga membuat tubuhnya oleng dan siap terjatuh dengan fakta tubuh mungilnya akan menampar tanah dengan sakit. Luhan siap menerima kosekuensinya.

Tapi….

GREP

Tunggu. Tunggu. Apa ini? Luhan merasa tubuhnya tidak menampar tanah melainkan Ia seperti berada di dalam kukungan hangat. Tempat kepalanya bersandar pun terasa menyenangkan dan tidak sakit sama sekali. Apa ini mimpi? Apa Luhan baru saja berkhayal ada orang yang memeluknya sehingga membuatnya tidak terjatuh karena di tabrak tadi? Kantung belanjaanya pun Luhan merasa tidak lagi ada di genggamannya. Apa dia pingsan terus bermimpi? Cuman kalau ini benar-benar mimpi, kenapa Luhan masih bisa merasakan kedua kakinya yang menanjak di tanah? Kenapa Ia merasa hangat hingga terasa nyaman yang menjalar ke seluruh syaraf di tubuhnya? Kenapa indra penciumannya menangkap wangi maskulin seorang lelaki?

Apa?! Lelaki?!

Siapa lelaki yang kurang ajar itu hingga dengan lancangnya memeluk dirinya? Dan kenapa bisa tangan laki-laki itu melingkari pinggangnya tanpa permisi kepada Luhan?. Bedebah kurang ajar. Luhan mengupat dalam hati namja yang lancang memeluknya itu. Tapi, tunggu dulu. Lelaki ini bukan lancang melainkan secara baik hati malah memberikannya pertolongan agar Ia tidak terjatuh. Luhan harus menyelesaikan ini!

Secara perlahan Ia membuka matanya dan langsung di suguhkan oleh pemandangan dada bidang berkotak yang sangat gagah. Wangi maskulinnya juga seperti menghipnotis pernafasan Luhan hingga terasa lebih menyenangkan dari pada menghirup oksigen. Astaga. Luhan merona dibuatnya. Pikiran anehnya mulai ngelantur tak tentu arah.

"Ma-maaf. Bisa anda lepaskan saya?" kata Luhan dengan hati-hati dan sesopan mungkin

"O-oh. Tentu" dengan perlahan lelaki itu melepaskan pelukannya "Hampir saja anda terjatuh tadi, dan…maafkan saya yang sudah lancang memeluk anda" katanya

Suara ini…..

Tidak mungkin….

Semula Luhan hanya menunduk demi menyembunyikan rona merah di pipinya, Ia juga sudah menyempatkan diri untuk lekas mengambil kembali kantung belanjanya yang tercecer di tanah. Namun, ketika mendengar lelaki yang memeluknya tadi berbicara…..Luhan jadi teringat satu orang….

Dengan hati gemetar dan jantungnya yang secara mendadak memompa dua kali lebih cepat, Luhan mengadahkan kepalanya hanya ingin memastikan opininya salah. Dan, dalam hitungan detik ketiga. Luhan menengang di tempatnya berpijak.

Laki-laki itu…..lelaki masa lalunya yang sekarang berada di depannya dengan memamerkan senyumnya yang sangat menawan kelewat tampan. Tidak, ini tidak mungkin. Tuhan pasti hanya bercanda dengan cara mempermainkan kerinduan hatinya pada sosok itu. Luhan pasti berhalusinasi…..lagi.

"Ti-tidak…" gumam Luhan dengan tubuh bergetar dan melangkah mundur ketakutan

Lelaki itu seketika mulai panik melihatnya "Anda tidak apa-apa?" Ia berniat menyentuh Luhan dengan pandangannya yang mulai gelisah

"TIDAK!" teriak Luhan kencang dan Ia langsung bergegas meninggalkan lelaki tadi

Flashback off

..

"Tenang, Luhan. Tenang. Haha bukan dia yang menolongmu" Luhan tertawa hambar dengan menyakinkan hatinya sendiri

"Oke, Lupakan apa yang terjadi tadi malam. Lebih baik aku segera ke perpustakaan sekarang, Kyungi pasti sudah menunggu" Luhan menganggukkan kepalanya dan mulai melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda tadi

Sepi

Hanya itu yang bisa Luhan lihat ketika Ia sudah berada di depan pintu perpustakaan. Bahkan, tempat yang damai dan biasanya cukup ramai oleh para Mahasiswa yang ingin membaca itu tampak sepi tidak ada orang. Luhan mengerinyit dalam memandang kesekitarnya. Tumben sekali perpustakaan sebesar ini sepi? Dengan penasaran Luhan tetap masuk kedalamnya berniat untuk mencari Kyungsoo.

"Kyungi-ya, kau dimana?" suara nya yang pelan itu bahkan terdengar cukup nyaring di ruangan tak berpenghuni itu

"Do Kyungsoo…kau di dalam?" Luhan mulai mengitari perpustakaan dengan memeriksa setiap lorong rak-rak buku itu satu per satu

Hah. Ia menghela nafas jengah, pasti Kyungsoo melupakan janjinya untuk bertemu dirinya di sini dan lebih memilih bersama dengan Kai kekasihnya.

Dengan sangat terpaksa, Luhan mengambil buku yang menjadi tujuan pencariannya kemari. Ia masuk di deretan rak buku yang memuat berbagai buku ilmu pengetahuan tentang mata kuliahnya. Luhan masuk ke rak itu dan melihat-lihat nama buku yang berjejer rapi di sana.

"Sial! Kenapa tinggi sekali, sih" gerutunya kesal setelah berusaha untuk berjinjit menggapai buku yang di incarnya, buku itu berada di ketinggian yang cukup jauh dari jangkauan tangannya meski Ia sudah berusaha dengan berjinjit.

Luhan melirik ke sebelahnya mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya menggapai buku itu, Ia tersenyum ketika mata rusanya berhasil melihat satu bangku yang menganggur di pojok ruangan. Bangku itu, Luhan ambil. Dan Ia mulai memposisikannya tepat di bawah bukunya, dengan tanpa keraguan dan ketakutan Luhan naik ke atasnya.

Lalu…..

Oh, sepertinya ada yang salah. Luhan tidak memeriksakan kondisi awal mengapa saat ia mulai berpijak di atasnya, bangku ini malah bergoyang. Ia masih terus berusaha menggapai bukunya, hingga saat bukunya sudah Ia ambil. Salah satu dari kaki bangku itu patah dan otomatis membuat Luhan yang di atasnya akan terjatuh.

"KYAAA" teriaknya kalut ketika kakinya sudah mulai oleng, belum lagi buku kuliah yang di genggamnya sangat tebal dan berat

Tapi, lagi. Lagi. Hup!

"Fiuh~ hampir saja" Luhan berada di dalam gendongan seorang namja yang menangkapnya

"Oh?! Kau yang hampir terjatuh saat di London Eye kemarin kan?" tanya namja itu lagi

Luhan membelalakkan matanya lebar dengan tatapan penuh dengan keterkejutan, tubuhnya kembali tegang dan Ia menahan nafas saat melihat lelaki ini…lagi. Jantungnya pun kembali berpacu gila-gilaan, Luhan mendadak merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Hanya satu orang. Hanya satu orang yang punya wajah dan suara familiar seperti ini. Hanya satu lelaki dan dia adalah salah satu orang di masa lalunya. Orang yang paling Ia rindukan selama ini. Lelaki yang sudah Luhan sangat tunggu-tunggu kehadirannya kembali. Lelaki yang dulunya mengunci segala perasaannya hingga terjaga sampai saat ini.

Dengan tangisannya yang mendadak datang, dan bibirnya yang bergetar. Serta tatapannya yang penuh hasrat akan kerinduan, Luhan menyeruhkan satu nama yang sangat Ia hapal dan selalu dalam ungkapan penuh harapan doanya pada Tuhan sepanjang waktu.

"Se-Sehun….." ucapnya lirih

..

..

..

..

..

..

To Be Countinue

..


Yang menantikan Chapter satu angkat kaki eeh angkat tangannya hehe

Alhamdulillah, cerita FanFiction karangan Nad ini akan di mulai dari sekarang. Banyak yang baper ya sama prolognya? Kan udah di bilangin jangan baper dulu. *Ngeyel xD*

Duh, terimakasih untuk yang udah review, favorit, follow, dan semacamnya. Lumayan banyak yang antusias, semoga nambah terus deh. Amin.

Enggak usah takut ya sama konfliknya nanti, kan ini bukan FF horor /plak/

Mianhaeyo, aku enggak balas review kalian atu-atu. Aku ambil inti dari uneg-unegnya aja dan di jawab langsung di sini ne~

*puppy eyes Baek*

..

Jadi siapa Sehun sebenarnya? Mungkinkah dia orang yang menyatakan perasaannya dulu kepada Luhan? Mungkinkah dia lelaki yang merancang gaun pengantin untuk Luhan di masa lalu?

Jangan yakin dulu ya! Itu bisa aja jebakan dari authornim

*smirk*

Lalu, bagaimana dengan ucapan Chanyeol dengan Kai itu? Apa ada hubungannya juga?

Nanti juga akan terjawab kok seiring berjalannya waktu.

Aku mungkin akan UP seminggu sekali ya. Doakan saja enggak di tunda-tunda atau malah di percepat lebih bagus.

Cukup memakan waktu satu jam lebih hanya untuk mengedit satu Chapter ini. Semoga typonya berkurang deh, hehe

Oke, sekian dulu untuk semuanyaaa yang ku sayangi :') /ehem/

Tolong Reviewnya yah says, karena Review sangat mempengaruhi moodku dalam menulis.

semakin banyak maka semakin cepat juga Updatenya

*Jika tidak berhalangan*

..

..

Gumawo Chingudeul

..

HHS JJANG! HHS FOREVER! WE LOVE HHS!

..

BaekbeeLu

hhsbee947_