THE WAY

Harry Potter dan seluruh seluk beluknya adalah milik JK Rowling. Namun fanfiction ini adalah buatan saya. No copy paste, no plagiarism.

Warning : modif canon, femHarry, typho bertebaran, dikhawatirkan penulisan ada yang tidak sesuai dengan kaidah ejaan yang disempurnakan, ada kemungkinan beberapa tokoh mengalami OOC incidental maupun permanen, diusahakan tidak memunculkan OC, dimungkinkan ada beberapa hal yang kurang pas dikarenakan pengetahuan saya mengenai Harry Potter yang masih sangat minim, cerita kurang menarik dan membosankan, dan lain-lain.


Draco terbangun saat hari telah beranjak gelap. Mengumpulkan kesadarannya, pemuda berambut pirang menyala itu berusaha mengingat semua yang telah terjadi sebelumnya, berusaha menyimpulkan apakah dirinya masih hidup atau sudah mati saat ini, mengingat luka cukup dalam yang didapatkannya saat ikut berapparate. Meraba perban yang membalut rapat luka di perutnya, Draco kini yakin bahwa ia masih bernyawa. Pemuda itu kemudian mencoba mendudukkan diri, mengabaikan rasa sakit yang masih berdenyut nyeri di pusat lukanya. Ia berusaha mengenali di manakah ia berada saat ini, tempat yang asing, sama sekali belum pernah terdeteksi indera penglihatannya. Cahaya remang di ruangan itu sedikit membantu. Tapi kini ia juga akan mencoba mengandalkan indera pendengarannya. Mencoba menangkap bunyi apapun di sekitarnya. Selama beberapa saat ia menajamkan telinganya. Namun hasilnya nihil, ia tidak menangkap bunyi apapun. Semua begitu sunyi, terlalu sunyi, hingga otaknya berpikir dan menemukan satu kemungkinan bahwa kamar tempatnya berada telah dimantrai agar kedap suara, mungkin juga mantera agar ia tidak punya kemungkinan untuk melarikan diri dengan segala sisa tenaga yang ia punya.

Draco merasakan kerongkongannya begitu kering. Ia sangat haus, dehidrasi mungkin, mengingat bahwa ia sudah terbaring pingsan cukup lama, otomatis tidak ada suplai makanan maupun minuman selama itu ke dalam tubuhnya, jadi wajar jika ia begitu haus saat ini.

Draco meraba sakunya, mengingat satu botol dittany yang selalu ia bawa ke mana-mana untuk berjaga. Ternyata botol itu raib dari tempatnya. Kembali mengingat, Draco yakin bahwa sebelum pingsan ia sempat meminta rivalnya untuk mengambil obat itu dan berharap ia dapat tertolong karenanya. Nyatanya sekarang ia selamat. Lukanya juga sudah bisa dikatakan jauh membaik untuk ukuran luka yang begitu parah. Jadi sekali lagi otak Draco memproses sebuah konklusi yang mengerucut pada satu kesimpulan, dirinya sudah ditolong oleh Harry Potter. Lagi.

Menghela nafas panjang, Draco merasa menjadi seorang yang begitu menyedihkan. Pengecut dan benar-benar pecundang, sungguh menjijikkan. Apalagi yang bisa dibanggakan dari dirinya saat ini? Jelas-jelas semua yang ada dalam dirinya tak lebih dari hal-hal tidak berguna yang jauh dari kata hebat.

Dulu di tahun pertama dia masuk Hogwarts dan bertemu Potter kecil untuk yang pertama kali, masih begitu banyak hal membanggakan yang dapat membuatnya mengangkat dagu sebagai pewaris penyihir darah murni, mengingat keluarganya masih tergolong bangsawan, aristokrat, konglomerat, ia sendiri berwajah tampan, terdidik, cerdas, dan ambisius. Hingga dia merasa begitu terhina saat gadis itu menolak tawaran persahabatan darinya dan lebih memilih Weasel serta si gadis darah lumpur, dua orang yang hingga saat ini begitu setia berada di samping gadis itu.

Namun hal yang jauh berbeda justru terjadi saat ini. Draco pikir, mungkin saja Harry Potter bisa melihat masa depan hingga membuat keputusan untuk menolak uluran tangannya saat itu. Gadis itu mungkin bisa membaca bahwa di waktu yang akan datang, dirinya tak lebih dari sampah tak berguna bagi dunia sihir. Draco tersenyum getir mengingat semua fakta menyakitkan tersebut.

Jika boleh jujur, ia merasa kedua orangtuanya sangat gegabah dengan memilih berada di sisi Dark Lord, bahkan menyeret dirinya serta tanpa pernah meminta pendapat pribadi darinya. Draco tahu seberapa hebat kekuatan pria itu, tapi tetap saja, berada di pihak yang salah membuat dirinya merasa sangat tertekan. Mungkin tadinya dia sedikit menikmati, bagaimana ia mendapat posisi tinggi dan disegani di sisi Dark Lord, tapi semua berubah saat Draco menyadari bahwa resiko bergabung dengan kegelapan itu sebenarnya tidak jauh beda dengan berada di sisi yang berseberangan dengannya. Ia berkali-kali melihat kekejaman Dark Lord yang tidak pandang bulu, semua yang dianggap tidak memuluskan jalannya akan dihabisi. Penyihir yang tidak berada di pihaknya, muggle, bahkan pengikutnya bisa jadi juga akan ia binasakan jika melakukan kesalahan sekecil apapun. Semua itu membuat Draco mempertanyakan kepada dirinya sendiri mengenai eksistensinya berada di antara semua ini, karena sebenarnya ia sudah sangat lelah.

Satu-satunya alasannya untuk tetap berada di sisi kegelapan sebenarnya hanyalah kedua orang tuanya. Seandainya kedua orang tuanya mau melepaskan diri dari jeratan itu, tapi Draco tahu kalau itu sama saja dengan bunuh diri, karena mustahil Dark Lord akan membiarkan mereka meninggalkan sisinya dalam keadaan selamat.

Memikirkan keadaan kedua orang tunya, Draco menjadi berspekulasi tentang apa yang terjadi di kediamannya saat ini. Kegelisahan dan kekhawatiran mulai merayapi hatinya. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, lantaran kegagalan mereka menahan Potter dan kawan-kawannya, bahkan iapun turut lenyap bersama dengan rombongan kecil itu. Draco takut jika ia dicap sudah bersekongkol dengan para penentang kegelapan, dan pastinya akan mengancam keselamatan keluarganya.

Pewaris Malfoy itu menghela nafas dalam, berusaha menepiskan spekulasi negatif yang kian lama kian menguat di benaknya. Ia memotivasi dirinya sendiri bahwa kedua orang tuanya kini dalam kondisi baik-baik saja. Dan sekarang ia hanya perlu memikirkan tentang apa yang harus dilakukannya setelah ini. Ia ingat bahwa ia bahkan tidak punya tongkat lantaran si kacamata sudah merampasnya sebelum mereka semua berapparate. Sekali lagi Draco merasa dia sangat total untuk dapat disebut sebagai pecundang, bahkan tongkatnya sekarang dirampas oleh seorang gadis, sungguh ironi yang menyedihkan bagi dirinya.

Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Sosok yang sangat familiar baginya berdiri di sana, memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi segelas susu, sebotol air putih, dan sepiring bubur gandum. Gadis yang terkenal dengan panggilan Harry Potter itu menaruh nampan yang ia bawa di ranjang yang sama dengan yang Draco tempati.

"Syukurlah kau sudah siuman. Ini makanlah!" ucap Harry singkat.

Suasana hening sesudahnya. Pikiran kedua remaja itu berkecamuk dengan pertanyaan yang berjejalan.

"Potter, kau punya rencana apa sehingga mau susah payah menyelamatkanku?" buka Draco, mengungkapkan pertanyaan yang paling mendesak untuk ia lontarkan saat ini.

Harry tidak serta merta menjawab. Gadis itu memandang Draco dengan sorot tajam, "balas jasa untuk menolongku saat di manormu."

Jawaban Harry dengan nada dingin. Draco membalas menatap iris sewarna zamrud yang tersembunyi di balik kacamata bulat itu dengan pandangan menyelidik.

"Kau sangat perhitungan. Tapi, kenapa tidak membunuhku selagi sempat?" lanjut Draco.

Harry berdecih. Menyiratkan pandangan meremehkan kepada sang pewaris Malfoy.

"Karena kau terlalu pengecut untuk mati," jawab Harry. Draco merasakan dadanya sesak oleh emosi yang mendadak naik dengan drastis. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kalimat menusuk itu dari gadis di hadapannya.

"Aku tidak sepengecut itu," balas Draco, suaranya terdengar bergetar menahan luapan emosinya yang kian menyala.

"Aku tidak bisa menangkap itu dari semua gerak gerik, tindak tanduk, dan pilihan bijakmu bergabung dengan kegelapan. Itu sangat menyedihkan, Malfoy!"

Draco terdiam. Kali ini hati kecilnya membenarkan ucapan Harry. Selama beberapa saat ia memikirkan sebuah kalimat untuk membalas.

"Itu bukan urusanmu!"

"Memang itu bukan urusanku, makanya aku tidak ingin tahu."

Harry berbalik menuju pintu, berniat meninggalkan kamar itu saat suara Draco kembali menahannya.

"Kembalikan tongkatku, Potter! " pinta Draco tak disangka. Membuat Harry menghentikan langkahnya sebelum ia benar-benar mencapai pintu keluar.

"Ambillah sendiri jika kau bisa, karena aku tidak akan mengembalikannya kepadamu dengan suka rela," jawab Harry.

"Tanpa itu, aku tidak ada kesempatan menolong mereka, kedua orang tuaku," Harry mendengar nada kekhawatiran dan ketakutan di dalamnya, sehingga dia memutuskan berbalik untuk bertatap muka langsung dengan sang pewaris Malfoy. Harry kembali menatap Draco dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia tengah menganalisis kebohongan apalagi yang akan Draco keluarkan, lantaran Harry hapal betul dengan bagaimana sikap pemuda itu selama ia mengenalnya.

"Aku tidak sedang bercanda, Potter!"

"Aku juga belum berkomentar apapun, Malfoy," Harry mengerutkan dahi mendengar ucapan Draco.

"Pandangan matamu itu, kau menyangsikan ucapanku, bukan? Kau berpikir saat ini aku sedang membuat trik untuk mengerjaimu? Apa kau pikir aku tidak punya hal penting yang harus dikerjakan hingga masih punya waktu luang untuk melakukan itu? Potter, saat ini aku tidak tahu apa yang terjadi pada orang tuaku, karena terus terang aku tadi tidak pikir panjang saat ikut kalian berapparate," keluh Draco panjang.

Harry masih diam, belum mengeluarkan komentar apapun.

"Potter, kau bisa melegilimens pikiranku, aku akan membiarkanmu melakukannya jika kau tetap tidak percaya kepadaku,"

Hening beberapa saat. Harry kembali menelisik keseluruhan diri Draco tanpa kata. Pemuda itu sendiri memutuskan untuk diam setelah kalimat-kalimat panjangnya yang pasti akan membuatnya teringat seumur hidup untuk hal yang sudah merendahkan gengsi tingginya.

"Kali ini aku percaya, Malfoy. Tapi jika aku boleh memberikan nasihat kepadamu, sebaiknya kau tidak berharap banyak aku akan mengembalikan tongkatmu dalam waktu dekat ini. Bagaimanapun juga kau adalah pihak yang berseberangan denganku, menahan tongkatmu adalah satu keuntungan bagiku. Dan juga, pemikiranmu itu, kau harus merubahnya jika ingin menyelamatkan orang-orang yang kau cintai. Jujur saja, sikap pengecutmu itu sudah keterlaluan. Kau selalu mencari orang yang lebih kuat untuk melindungimu dan bersembunyi di baliknya. Bergabung dengan kegelapan dan berharap dapat selamat di belakangnya, itu adalah hal yang sangat bodoh, Malfoy!"

Draco menghela nafas dalam saat mendengarkan komentar panjang dari Harry.

"Normalnya aku akan mengirimkan beberapa kutukan kepadamu, Potter. Tapi kali ini aku justru setuju kepadamu. Selama beberapa waktu bersama Dark Lord, aku menemukan banyak hal yang sangat bertentangan dengan apa yang kupikirkan. Aku banyak merenung dan memikirkan tindakanku serta kedua orang tuaku. Kesalahan besar kami bergabung dengannya, tapi kupikir tidak ada jalan untuk kembali. Semua pintu sudah ia segel. Dan kami akan terkurung di sana selamanya," Draco memandang tanda kegelapan yang ada di tangannya. Wajahnya yang biasanya dingin dan menyebalkan berubah menjadi menjadi sendu dan penuh rasa putus asa.

Harry terenyuh melihat Malfoy yang seperti itu. Ia mulai mencoba berpikir jika seandainya berada pada posisi pemuda itu, dan Harry membuat kesimpulan sementara bahwa hal itu memang cukup berat. Meskipun Harry sangat yakin jika posisinya jauh lebih berat, sebagai sentral dari semua orang yang masih ingin berjuang untuk mengalahkan kegelapan.

"Kuharap kau akan segera menemukan solusi untuk semua kekhawatiran dan kegelisahanmu. Aku masih harus mengerjakan banyak hal, " bersamaan dengan itu Harry kembali berjalan menuju pintu. Gadis itu membuka daun pintu dengan perlahan, namun sebelum ia melangkahkan kaki keluar, kembali ia menoleh ke arah Draco yang hanya terdiam dan menunduk.

"Kusarankan sebaiknya kau menyantap makan malammu. Jangan bandingkan dengan makanan yang ada di manormu. Di sini hanya ada makanan sederhana. Kau sendiri tahu bukan, perang ini juga sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi dan peredaran pangan," kali ini Harry benar-benar meninggalkan kamar yang Draco tempati. Meninggalkan Draco yang sedikit merasa tersanjung akan perhatian yang tidak pernah ia sangka akan didapatkannya.

Sepeninggal Harry, Draco segera meraih gelas susu dan meneguknya cepat. Setelah itu ia memakan bubur gandumnya dan diakhiri dengan menghabiskan air putih di dalam botol.

Usai mengisi perut dan menghilangkan dahaga, Draco kembali merebahkan diri di atas ranjang, memandang langit-langit kamar itu dengan pandangan kosong.

'Apa yang harus kulakukan?' bathinnya penuh kebimbangan.

'Aku sekarang terkurung di markas Potter, tongkatku dirampas, aku tidak punya apapun untuk berjuang. Berjuang? Berjuang di sisi siapa?' kembali Draco bermonolog dalam hati, mengutarakan kegalauan batinnya.

CTAR

"Draco Malfoy..."

Draco sedikit terkaget mendapati sesosok peri rumah yang wajahnya tidak asing dengannya tiba-tiba muncul di samping ranjang. Peri rumah itu, mantan peri rumahnya di Malfoy Manor, tersenyum sambil memandang prihatin kepada mantan majikannya yang masih melongo melihat penampakan tiba-tiba darinya.

"Dobby, bagaimana kalau ada yang tahu kau menengokku? Lagipula, bagaimana kau bisa berapparate? Bukankah ruangan ini dimantrai pelindung yang kuat?" bisik Draco sambil menghampiri Dobby yang malah tersenyum semakin lebar.

"Dobby sudah menceritakan semuanya. Kedekatan Draco Malfoy dan Dobby, semua yang ada di tempat ini sudah tahu. Dan juga, apa Draco Malfoy lupa bahwa kaum peri mempunyai kelebihan soal apparate?" ucap Dobby, dan ekspresi Draco menunjukkan bahwa ia sangat terkejut mengetahui hal itu.

Selama beberapa detik kemudian Dobby sudah berbicara panjang dan bercerita mengenai kronologi yang terjadi kepada mereka setelah meninggalkan Malfoy Manor. Sementara Draco hanya tercengang-cengang mendengar semua itu. Sesekali ia menyentuh luka berbalut perban di lengan Dobby yang terlihat mulai membaik, sama seperti luka di perutnya.

"Aku bersyukur kau baik-baik saja, Dobby!" senyum tulus di bibir Draco kemudian jeda sejenak saat kerutan di dahi Draco mulai terbentuk kembali. Dobby hanya mengangguk samar sambil menyunggingkan senyum.

"Dan aku di sini karena ide Potter?" tanya Draco sekali lagi untuk memastikan. Dobby mengangguk kembali dengan terlalu pelan.

"Terkadang aku tidak memahami pemikiran Potter, Dobby. Orang itu punya pemikiran yang sangat aneh," sambung Draco dengan ekspresi yang tidak jauh berubah dari sebelumnya.

"Tapi yang jelas, Harry Potter adalah seorang yang sangat baik hati," Dobby kembali tersenyum saat mengucapkan kalimat yang menurut peri rumah itu sangat membanggakannya. Sementara Draco tidak berkomentar apapun, nemun jelas jika air mukanya berubah saat mendengarkan kalimat terakhir dari Dobby.

"Kau bisa berada di sini sepanjang malam ini, Dobby? Mungkin aku membutuhkan bantuan darimu nanti," ujar Draco sekonyong-konyong.

"Tentu saja, Draco Malfoy!" jawab Dobby sangat yakin dengan keputusannya.

Malam semakin larut. Draco sangat mengantuk dan memutuskan untuk tidur. Tapi dia berpesan agar dibangunkan sebelum matahari terbit. Dan sekali lagi peri rumah itu menyanggupi permintaan mantan masternya, serta dengan setia menunggui pemuda itu mengarungi mimpi yang mungkin tidak terlalu indah.


Bersambung


Terima kasih untuk anda yang sudah memberikan review, memfavoritkan, dan memfollow fanfic kurang berkualitas ini. Semoga tidak kecewa dengan contentnya yang masih banyak kekurangan di sana sini.


Mohon review lagi.

Thank you.

See you.